CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Arus Balik-Euforia Usai Pengumuman Anies Dinilai Bikin Corona Pecah Rekor
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee095c810d29545c36f4b81/arus-balik-euforia-usai-pengumuman-anies-dinilai-bikin-corona-pecah-rekor

Arus Balik-Euforia Usai Pengumuman Anies Dinilai Bikin Corona Pecah Rekor

Arus Balik-Euforia Usai Pengumuman Anies Dinilai Bikin Corona Pecah Rekor Jakarta - 
Kasus baru COVID-19 di Jakarta memecahkan rekor sejak awal merebaknya wabah Corona di Ibu Kota. Epidemiolog dari Universitas Indonesia menganalisis, lonjakan itu disebabkan karena efek aktivitas lebaran hingga euforia yang timbul akibat pengumuman Gubernur Anies Baswedan.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Tri Yunis Miko Wahyono, menjelaskan soal rekor 239 kasus baru Corona di Jakarta yang terjadi pada Selasa (9/6) kemarin. Pertama, ini karena aktivitas warga Jakarta yang keluar rumah dan berinteraksi saat momen Lebaran. Hari Raya di bulan Syawal itu jatuh pada 23 dan 24 Mei lalu.

"Saat dua hari masa Lebaran, banyak orang di Jakarta keluar rumah," kata Tri kepada detikcom, Rabu (10/6/2020).

Baca juga:Bertambah 239, Kasus Baru Corona di Jakarta Pecah Rekor Tertinggi

Kedua, ada arus balik pemudik yang meninggalkan Jakarta sebelum Lebaran tiba. Arus balik ini membawa virus Corona masuk ke Jakarta. Pengendalian Pemprov DKI berupa syarat Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang wajib dikantongi warga untuk masuk Jakarta dinilai tidak bisa membendung masuknya virus.

"Karena pulang mudik Lebaran, mau pakai SIKM atau mau tidak pakai SIKM, ya sama sajau kalau kembali ke Jakarta," kata Tri.

Baca juga:Kasus Baru Corona DKI Pecah Rekor, Pemprov Beralasan Ada Pending Sample

Ketiga, Tri menyoroti pengumuman Gubernur Anies Baswedan pada 4 Juni lalu. Saat itu, Anies mengumumkan angka reproduksi efektif kasus Corona di Jakarta sudah turun hingga 0,99. Anies kemudian memutuskan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi PSBB transisi.

"Saat itu Gubernur DKI mengumumkan akan dilakukan masa transisi, dan mengumumkan akan memberlakukan transisi mengarah ke new normal di Jakarta. Baru akan transisi new normal saja, tapi orang sudah lebih bebas," kata Tri.





Tri memprediksi, pelonggaran PSBB akan berakibat pada naiknya angka Rt yang semula sudah turun ke 0,99. Peningkatan kasus Corona juga terjadi karena orang-orang bingung dengan PSBB transisi.

"Kalau istilah PSBB digabung bersama 'transisi' maka itu membingungkan semua orang, baik orang menengah ke atas maupun menengah ke bawah," kata dia.

Baca juga:PDIP soal Corona di DKI Pecah Rekor: Tak Ada Upaya Maksimal dari Pemprov

Efeknya, masyarakat menjadi terlalu bergembira usai pergerakannya dibatasi. Orang-orang mulai beraktivitas. Padahal, angka Rt sebesar 0,99 itu belumlah aman.

"Euforia waktu itu, karena saat itu diumumkan Rt 0,99 dan berhasil menurunkan. Iya lah, baru menurun sedikit," kata dia.

Tri menggunakan ukuran hitung-hitungan rata-rata kasus dengan rentang waktu per minggu. Soalnya, masa inkubasi virus Corona adalah 3 hingga 10 hari. Pada puncaknya, rata-rata kasus Corona di Jakarta adalah 700 kasus per minggu. Seminggu sebelum Anies mengumumkan penurunan Rt ke publik, kasusnya turun menjadi rata-rata sekitar 400 kasus per minggu. Tri menilai itu belum aman.

"Kalau mau aman betul, seharusnya 0 kasus baru. Tapi kalau mau menentukan angka aman relatif, marilah tentukan terlebih dahulu batas aman relatif tersebut. Kalau 400-an kasus per minggu, menurut saya itu belum aman," kata Tri.

Baca juga:Kasus Baru COVID di DKI Pecah Rekor, NasDem Minta Anies Serius Edukasi Warga

Batas aman relatif menurutnya harus di bawah angka rata-rata 100 kasus per minggu. Misalnya, rata-rata 80 kasus per minggu.

"Kalau naik menjadi rata-rata 1.000 kasus per minggu, akan tambah repot, DKI akan kewalahan, seluruh rumah sakit akan menyerah, banyak dokter yang terkena, banyak perawat yang terkena. Jakarta akan kewalahan," kata Tri.

Anies Umumkan PSBB Transisi, Tetap Minta Warga Disiplin

Anies mengumumkan angka reproduksi efektif Corona di DKI Jakarta pada 4 Juni lalu, saat pengumuman perpanjangan PSBB menjadi PSBB masa transisi. Angka reproduksi efektif COVID-19 turun berkat warga Jakarta menjalankan PSBB.

"Pada 18 Mei kita masih 1,09 bergerak terus sampai sekitar 1,03. Lalu pada 31 Mei angka kita 1, lalu 1 Juni (skor) 0,9, (tanggal) 2 Juni (skor) 0,9, dan 3 Juni (skor)0,9," kata Anies saat itu, disiarkan oleh kanal YouTube Pemprov DKI Jakarta.

Baca juga:Pernyataan Lengkap Gubernur Anies soal Perpanjangan PSBB Jakarta

Anies memutuskan PSBB transisi berjalan. Saat itu, Anies mewanti-wanti agar warga tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Dia mengimbau warga tetap disiplin menjaga jarak, tidak keluar rumah bila tidak diperlukan, hingga mematuhi pembatasan aktivitas di masa transisi, seperti pembukaan aktivitas tempat usaha maksimal 50% saja.

"Sekarang kita masuk masa transisi, jangan ini berulang, Jangan sampai kita kembali lagi, bila kita tidak disiplin, bila pusat pembelanjaan dibuka secara bebas tanpa protokol kesehatan, jika restoran dibuat penuh karena ingin mengejar keuntungan, jika perkantoran memaksakan untuk semua orang masuk bersamaan mengejar target, bila ibadah massal dilakukan secara masif terjadi kerumunan tanpa jarak aman, maka konsekuensinya kita bisa menyaksikan lonjakan kasus seakan kita kembali ke bulan-bulan sebelumnya," tutur Anies saat itu.

Bila nantinya penularan COVID-19 kembali ke taraf yang mengkhawatirkan, maka Anies akan menginjak rem darurat. Pembatasan sosial akan kembali diketatkan.


Respons Pemprov DKI atas rekor kasus baru

Soal rekor 239 kasus baru, Pemprov DKI menyampaikan angka kasus tersebut karena ada keterlambatan sampel pemeriksaan laboratorium.

"Penambahan jumlah kasus positif ini karena adanya pending sampel dari beberapa laboratorium swasta, yang mana pada Sabtu dan Minggu libur, karena itu pengerjaan spesimen dilakukan pada hari Senin, sehingga hasil tes sering meningkat pesat pada pelaporan hari Selasa," ucap Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ani Ruspitawati dalam keterangannya, tadi pagi.

Dengan penambahan 239 tersebut, kasus Corona di DKI Jakarta menjadi 8.276 kasus positif. Dari kasus tersebut, jumlah orang yang sembuh sebanyak 3.369 orang, dan meninggal sebanyak 547 orang.

Baca jugaemoticon-Big GrinKI Tak Masuk Zona Kuning tapi Menuju New Normal, Pemerintah Imbau Hati-hati

Diketahui, selain angka kasus baru COVID-19 secara nasional yang mencatat rekor baru, ternyata angka kasus baru COVID-19 di Jakarta juga memecahkan rekor. Per hari ini, Pemprov DKI Jakarta mencatat ada 239 kasus baru di Ibu Kota.

Data ini dipampang di situs corona.jakarta.go.id, Selasa (9/6). Dengan penambahan 239 kasus baru, maka total kasus COVID-19 secara akumulatif di Jakarta mencapai 8.279 kasus hingga saat ini. Catatan 239 kasus baru mengalahkan catatan tertinggi sebelumnya, yakni pada 16 April silam dengan 223 kasus baru

https://m.detik.com/news/berita/d-50...-pecah-rekor/2

Gmn drunemoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
calon.pedopil dan 3 lainnya memberi reputasi
astajim emoticon-Kagets
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
dulu kalo sgtu lgsng ditutup
skrg mau lbh dr tu jgn ditutup
dananya ngga ada
Katanya bakal dihalangi klo keluar Jakarta? Ini kayaknya pada balik jkt emoticon-Big Grin
bersuka cita dan bergembira ria...

terima kasih pak gubernur...

euforia yey...


emoticon-Ultah
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan ilnero memberi reputasi
Diubah oleh botol.mijon
Quote:


Biar cpt menghadap allah ganemoticon-Ngacir2
Lonjakan ini gak semata-mata karena pending sample, tapi memang sebenarnya sebarannya makin banyak. PSBB kita kan sama sekali gak ketat. Saat bulan puasa kemarin, menjelang berbuka sore harinya itu ramai banget orang keluar ngabuburit. Setelahnya saat lebaran juga rame orang keluar berkegiatan. Kemudian setelah beres hari lebaran sebelum pengumuman PSBB transisi, gw perhatikan orang-orang sudah mulai berkegiatan seperti biasa, terutama yang kota-kota satelit seperti Bekasi, Bogor, Tangerang. Sudah ramai orang di jalanan. Begitu masuk PSBB transisi, jadi lebih ramai lagi. Keramaian tercipta dimana-mana.

Satu hal yang agak "menolong" kita dari segi statistik yang tercatat adalah sedikitnya jumlah pengambilan sample kita berbanding jumlah penduduk jika dibandingkan dengan negara lain. Dengan kondisi seperti itu lonjakan kasus kita gak akan gede-gede banget. Makin sedikit sample yang masuk utk diuji ya makin sedikit juga konfirmasi kasus positif atau negatifnya. Makin banyak sample yang diambil dan diuji maka akan semakin banyak juga sample yang bisa dikonfirmasi positif atau negatifnya.
walau ane ga milih pak anis, ya jangan nyalahin dia juga semuanya.. toh emang warganya yang bandel kebelet pulkam dan waktu malam takbiran rame2..
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan nn2106 memberi reputasi
Data Pergerakan Ponsel Penduduk Jakarta selama PSBB


emoticon-DP

"Katanya" warga gabener paling taat peraturan PSBB, "katanya" "katanya"

emoticon-Blue Guy Bata (L)emoticon-Blue Guy Bata (L)emoticon-Blue Guy Bata (L)
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Arus Balik-Euforia Usai Pengumuman Anies Dinilai Bikin Corona Pecah Rekor

tetes mata dulu cuy... biar gak salah angka seperti tunjangan guru. emoticon-Motret
profile-picture
extreme78 memberi reputasi


Jakarta sama Surabaya itu sama aja

Sama manusianya, sama2 ga tertib
Sama pimpinannya, sama2 suka drama

_____________________________________

But, kalau mau sdikit objective, selain faktor di atas yg emang faktor bebal manusianya

Juga ada faktor pemerintah pusat yg sama bebalnya

Adanya pembebasan transportasi massa itu juga jadi pemicu.

Sekarang orang di Jakarta n Surabaya itu sudah ga bisa diketahui tertular dari mana?

Beda dengan kota lain yg kasusnya masih minim, masih mudah di tracing, misal tertular dari saudara yg habis pergi ke zona merah, tertular dari teman kerja, dari mall, dsb

Tp di Jakrta n Surabaya udh blank, ga tau.
Krna ada pembebasan transportasi. Naik pesawat di Soekarno Hatta beberapa waktu lalu sempat viral kerumunan penumpang dalam jumlah besar. Dan itu terjadi ga cuma 1x 2x
Stelah viral baru ada tindak lanjut

Beberapa hari ini juga ada antrian berjubel orang mau naik KRL, stasiun2 penuh semua pas jam-jam tertentu.

Di dalam gerbong juga orang saling bersenggolan saat memilih kursi & mau turun dari kereta.

Blum di tempat2 keramaian yg sudah mulai dilonggarkan.


Intinya :

Wis lah, ora urus. Saya ngurus kluarga sendiri aja


profile-picture
profile-picture
profile-picture
ambarawan dan 2 lainnya memberi reputasi
kebanggaan kadrun langsung di cashback ama koronak padahal abis ngomong di seminar bahwa jakarta udah melewati masa puncaknya di bulan mei.emoticon-Ngakak
Transisi/peralihan dari sehat menjadi sakit karena covid-19emoticon-Leh Uga
Ya jakarta sama aja mau psbb mau new normal, lah kontrolnya pas psbb juga ga ada, pembagiaan bantuan aja ga jelas, budget berapa realita berapa. .
Jadi ya menurut gw sama aja mau psbb mau new normal. .
Orang wan abud cuma bikin kebijakan ikut dari negara lain kok, negara lain lockdown, wan abud ngajuin, ga boleh lock down akhirnya psbb, itu juga cuma keluarin peraturan doank a b c d e, tapi kontrolnya ga ada, itu juga selama psbb wan abud ga ada keliatan sama sekali, tah dia WFH juga kali ya, tapi ya dia mau WFH mau enggak sama aja ga kerja juga. .
Lihat 2 balasan
Raja bong & genk melakukan apa untuk pencegahan ???
profile-picture
rakabrock memberi reputasi
Apanya gmana...New Normalkan.Artinya dikendorin.Ketat aja jebol new normal lebih lagi.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di