CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Wanita Penunggu di Kampung Sawit Angker
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ee03f830577a90cdd3421b2/wanita-penunggu-di-kampung-sawit-angker

Wanita Penunggu di Kampung Sawit Angker

Wanita Penunggu di Kampung Sawit Angker
Aku, kalian dapat memanggilku Nina. Aku masih ingat betul kala pertama ayah dan ibu pindah ke rumah di salah satu kampung di pedalaman Kalimantan. Terletak di antara kota Sanggau - Sintang, perumahan ini berada di kampung sawit dan pada malam hari kampung kami begitu sunyi dan sepi. Herannya, ayah dan ibu betah sekali lantaran hanya rumah ini yang terjangkau dengan keuangan mereka dan mereka dapat membuka usaha transportasi disitu. Aku ingat kalau itu tahun 1996. Aku masih duduk di bangku 2 SMP, sekarang dibilangnya kelas 8, dan harus meninggalkan sekolahku di Jakarta untuk pindah ke Borneo ini.

Komplek yang menurutku sangat menyebalkan. Gak punya tetangga, dong! Ada sih tapi hanya beberapa rumah saja dan letaknya yang berjauhan. Namanya komplek, perumahan di kampung. Melihat dari bangunannya, dinding rumahku bisa dipretelin dengan amat mudahnya kalau kita punya kuku panjang. Waktu aku kecil,  aku sering menggerutu, kenapa harus di sini sih? Aku sering protes kepada orang tua ku.

Tapi itu awalnya. Sampai akhirnya aku yang doyan eksplorasi tempat baru akhirnya menemukan lapangan yang asyik banget untuk beraktivitas ala-ala mountain bike. Tanahnya merah dan ada bebatuannya. Wuih, pokoknya asyik deh. Jadi, komplek perumahan ini memiliki bukit yang letaknya menanjak. Sumpah enak banget ke sana, hanya sekitar 15 menit dari rumahku dengan bersepeda. Auto habis sekolah bakalan betah banget di tempat itu.

Dan, kerjaanku tiap hari memang bersepeda keliling komplek juga, lalu ke tanah lapang, lalu komplek perumahan lagi. Senyum-senyum tipis sama tetangga. Aku dikenal ceriwis alias sering banget basa-basi dengan mereka. Calon emak-emak ye, kan. Tapi hanya ada satu tetangga yang tak pernah kulihat. Tetangga di rumah nomor 13, yang letaknya persis di belakang rumahku.

Yang kudengar rumah itu dihuni seorang wanita yang memang tak pernah keluar rumah. 

Pertama kali pindah, merantau, naik kapal, dan hidup di tengah hutan sawit. Asli hutan, di sekeliling pagar kawat di samping rumah ku ada tanaman sagu dan leban, selain ruang untuk pembinaan dan permainan out door. Kawasan hutan juga terdapat rawa-rawa, kalau pas air pasang paling tinggi, selutut air.

Antar ruang dan sampai ke dermaga pemuatan pupuk dan cargo semua memakai gertak, jembatan kalau orang Jawa akan memahami. Semua jalan adalah kayu belian, ulin, selebar tiga perempat hingga satu meter. Kalau tidak ada itu, pas air pasang atau penghujan mana bisa jalan. Asli pengalaman baru. Jalan ada ular itu sangat biasa.

Batas tanah itu parit dan itu juga air, dan ular kentir, menghanyutkan diri itu biasa. Ada pula sebidang tanah yang ditanami karet, sebidang lain ilalang setinggi manusia dewasa. Suara burung hantu dan burung hantuya jelas sangat biasa di sana.

Awal-awal keluarga kami tinggal tidak ada yang aneh, biasa saja. Entah kapan dimulainya, yang jelas pada waktu itu sore hari, hujan rintik dan awan gelap di langit, di kawasan itu aku sendirian, bersama anjing kampung peliharaanku. Ada satu pejantan dan itu adalah pemimpinnya, di samping aku.

Pas waktu itu aku dibelikan kamera baru, kamera poket, aku suka sekali memotret gambar sana sini, anggrek ini dan itu, tiba-tiba ada sorot hitam seperti terlempar dan masuk ke dalam areal pohon karet. Dan si anjing jelas melolong sangat keras dan berlari ke arah sebaliknya dari arah bayangan hitam itu.

Si anjing ini dulu pernah pernah anaknya masuk kolam dan aku berlari melompat sungai untuk bantu ambil, jadi sangat jinak dan ke mana-mana selalu menemani, tidak pernah berjarak lebih dari sepuluh meter. Pegawai lama pun tidak ada yang lebih dekat dengan si hitam itu.

Ternyata tidak lama si hitam mati tidak jelas. Tidak makan dua minggu, dan selama itu hanya mau makan satu ekor ikan goreng utuh dengan langsung aku suapi. Dan mati, sangat berat mau mengubur tidak kuat sampai aku seret. 

Bayangan hitam dan si hitam mati terlupakan. Liburan Natal, asli sepi banget kawasan hutan sawit ini. Ada satu teman anak kampung sebelah yang juga bekerja, toh dia pulang ke rumah juga.

Siang itu hari kerja terakhir,  tiba-tiba di telepon kampung ada panggilan. Di seberang terdengar ada suara anak seperti bergumam tidak jelas, aku langsung membanting telepon tersebut.

Selang beberapa waktu kejadian itu sudah terlupakan olehku, hingga suatu hari ada keanehan yang terjadi kembali. Entah begitu banyak hal yang aneh datang usai liburan pada waktu itu itu. Kali ini libur Paskah, sendirian, untuk kesibukan membuat acara untuk permainan TK, sambil mendengar musik instrumen dari kaset di radio, tiba tiba malah lagunya jadi lagu Misa Requiem, Misa Arwah dalam Gereja Katolik. 
Di tengah kondisi rumah yang sepi, orang tua ku sedang bekerja membuat ku bergidik sendiri, dan ruangan rumah tiba tiba beraroma melati. Sontak aku berlari keluar rumah pada waktu itu.

Dan pernah disuatu ketika selepas Magrib, saat bapak hendak pergi ke toko, selalu ada keanehan terjadi pada motor yang dia pakai. Motor sudah posisi on, tinggal distarter tangan. Mesin tidak lah mau hidup. Bahkan hingga percobaan ketiga. Begitu pula saat mencoba starter kaki. Gagal hingga percobaan ketiga pula.
Akhirnya motor kembali dalam posisi off. Kemudian dinyalakan kembali dengan starter tangan. Ajaibnya kali ini berhasil. Bapak hanya bingung. Dan peristiwa ini berlanjut dari bulan keempat hingga keenam.
Jika Bapak diisengi saat Magrib, gangguan yang sebenarnya akan terjadi selepas Magrib. Kadang ada ketukan tak jelas di langit-langit, tapi gangguan lain lebih banyak terjadi di area pagar. Kejadian paling mencengangkan terjadi saat menjelang tidur.

Aku selalu terbangun di jam jam 12, saat itu aku selalu mendengar ada nya ketukan di pintu sebanyak tiga kali. Awalnya tidak pernah aku hiraukan. Kembali diketuk tiga kali. Aku mulai menangis, bukannya berhenti, malah ketukan nya bertambah hingga menjadi lima kali... Rumah itu bertingkat 2 dan aku tidur di tingkat ke 2 di kamar sendirian. Aku mulai menangis dan berlari ke kamar orang tua ku, dan mereka menenangkan aku dan bilang mungkin itu hanya mimpi..
Esoknya, giliran Bapak yang mengalami kejadian serupa. Bapak melihat Ibu sedang duduk santai di ruang tamu dengan mengenakan gaun hitam. Saat dipanggil, Ibu bukannya menoleh tapi lebih memilih keluar rumah. Lantas, Bapak pun mengikuti langkah Ibu. Saat menuju halaman, terdengar suara Ibu memanggil Bapak dari dapur.
Karena terkejut, Bapak menoleh ke belakang dan menjawab panggilan Ibu. Namun, sepersekian detik Bapak berpikir. Kalau dari belakang suara Ibu, maka di depan Bapak itu siapa? Saat kembali menoleh ke depan, dia sudah tak ada. Hilang. Lenyap tak berbekas. Bapak hanya terdiam dan berdoa.
Di kali lain. Ibu mengalami peristiwa tidak biasanya. Saat menjelang tidur, Ibu memperhatikan ruang tamu. Ternyata ada "dia". Lampu dimatikan. Ia duduk sembari menundukkan kepala dengan rambut terjuntai hingga menjalar ke mana-mana. Lampu dinyalakan, ia menghilang. Lampu dimatikan kembali. Kali ini ia berdiri di pojokan sembari kepalanya menghadap tembok.
Tapi dari sekian malam, hanya malam Jumat Kliwon yang paling menakutkan. Bapak pulang dari toko saat Magrib. Tak ada yang berani keluar selepas Magrib.

Tak ada yang aneh saat memasuki gerbang perumahan. Namun, sesampainya di lapangan sepak bola, ada yang menggelendoti Bapak. Saat melihat spion, tak ada wajah. Namun, saat sekelebat wajah Bapak menoleh ke belakang, ada peti yang terangkut. Peti kosong. Entah maksudnya apa..
Puncaknya adalah, di suatu sore saat magrib, tiba-tiba ada suara wanita menangis di halaman. Aku serta Ibu hanya duduk di ruang keluarga sembari berdoa. Saat Bapak menuju halaman, suara tersebut pindah ke kamar mandi. Dikejar lagi, suara pindah ke kamar tamu. Dikejar kembali, kali ini suara tersebut pindah ke dapur.
Bapak berjalan pelan menuju dapur. Sesampainya di sana, suara tersebut menghilang. Sekitar lima menit kemudian, suara tersebut muncul di halaman belakang. Lebih tepatnya berada di pohon mangga di belakang halaman rumah. Bapak mengajak Ibu bergegas ke pohon mangga. Sedangkan aku dititipkan ke pembantu kami.

Setelah beberapa lama, Bapak dan ibu masuk ke dalam dan terburu buru memanggil pastor lewat telepon tetangga dan tidaklah beberapa lama, pastor tiba dan ber 3 mereka berdoa di dalam rumah dan berkeliling sepanjang halaman..
Setelah selesai, pastor itu mengajak kami sekeluarga untuk duduk di ruang tamu. Pastor menceritakan deskripsi dari makhluk halus tersebut, Katanya muka nya hancur. Darah bersimbah di mana-mana. Dan posisinya yang cukup mengerikan. Ia tampak tergantung seperti orang bunuh diri... dan sepertinya menurut pastor ia tertarik kepada ku, karena mempunya "kemampuan". Entah apa yang dimaksud oleh pastor tetapi ibu dan bapak keliatan sangatlah cemas...
Selepas peristiwa yang mencengangkan tersebut kami sepakat memutuskan untuk mengadakan misa di rumah kontrakan tersebut.
Kami pun hidup normal beberapa waktu lamanya. Namun, beberapa bulan setelah itu peristiwa aneh mulai terjadi kembali,.....
Saat itu aku tidur di kamar ku sendirian, jam menunjukan pukul 11 malam dan aku tiba tiba terbangun dari tidur ku.
Sepi dan gelap, tidak ada suara apa pun baik semilir angin ataupun bunyi jangkrik, tapi terdengar di telingaku seakan diluar jendela ada gerombolan burung gagak yang terbang riuh rendah sambil berkaok-kaok, aku bisa mendengarkan detak jantung ku dan napas ku yang menderu, tiba tiba telinga ku berdenging "ngiinnnnng", suara nya cukup mendenging di telinga dan tiba tiba mataku terpaku di pojok kamar ku, suatu pemandangan yang mencekam.
Sosok yang diceritakan beberapa bulan lalu di rumah itu oleh Pastor "muka nya hancur. Darah bersimbah di mana-mana. Dan posisinya yang cukup mengerikan. Ia tampak tergantung seperti orang bunuh diri." sekarang berdiri dihadapan ku, menatap ku dengan mata nya yang merah dan gelap!!
Wanita Penunggu di Kampung Sawit Angker
Spoiler for penutup:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
gang60487900 dan 3 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di