CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Akankah Pandemi Korona Memicu Depresi (Ekonomi) Besar?
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ede57b8b84088160e48ddac/akankah-pandemi-korona-memicu-depresi-ekonomi-besar

Akankah Pandemi Korona Memicu Depresi (Ekonomi) Besar?

Akankah Pandemi Korona Memicu Depresi (Ekonomi) Besar?

Pada dua yang disebut terakhir, bursa saham ambruk 50 persen atau lebih; pasar kredit membeku, lalu menyusul kebangkrutan massal perusahaan-perusahaan, pengangguran melonjak di atas 10 persen, PDB tahunan berkontraksi 10 persen atau lebih.

Tapi semua itu butuh tiga tahun baru terlihat. Namun, dalam krisis sekarang ini, kondisi makro-ekonomi dan sektor keuangan yang sama-sama mengerikannya langsung nampak dalam hitungan tiga minggu.

Awal bulan ini, hanya dalam hitungan 15 hari pasar saham Amerika Serikat (AS) terjerembab dalam “zona beruang/bear territory” (sebuah kondisi di mana harga saham jatuh 20 persen dari puncaknya)—penurunan tercepat yang pernah ada dalam sejarah.

Sekarang, pasar jatuh 30 persen, pasar kredit dibekukan, dan penyebaran kredit (seperti obligasi sampah) melonjak hampir menyamai kondisi 2008. Bahkan, raksasa keuangan seperti Goldman Sachs, JP Morgan dan Morgan Stanley memperkirakan PDB tahunan AS akan jatuh 6 persen di kuartal pertama, kemudian 20-30 persen di kuartal kedua.

Menteri Keuangan AS,  Steve Mnuchin, sudah memperingatkan, tingkat pengangguran bisa meroket di atas 20 persen (dua kali lipat dari puncak krisis keuangan 2008).

Dengan kata lain, hampir semua komponen dari permintaan aggregate—konsumsi, belanja modal, dan ekspor—terjun bebas pada titik yang belum terjadi sebelumnya. Sementara banyak pengamat mencoba menghibur diri dengan prediksi penurunan menyerupai gelombang V—ada penurunan tajam di kuartal pertama, tetapi setelah itu pelan-pelan menaik lagi. Faktanya, Covid-19 ini tampak beda sama sekali.

Kontraksi yang terjadi sekarang bukanlah gelombang menyerupai huruf V (V-shaped), juga bukan U, bahkan bukan L (penurunan tajam yang diikuti oleh stagnasi panjang). Sebaliknya, yang kelihatannya terjadi justru menyerupai huruf I (garis vertikal yang mewakili pasar keuangan dan ekonomi riil yang terjun bebas).

 Dahulu, di masa depresi besar 1920-an dan perang dunia kedua, hampir semua aktivitas ekonomi terhenti, menyerupai Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa hari ini.  Skenario terbaik (dari yang terburuk) adalah penurunan yang lebih parah dibanding krisis keuangan 2008 (dalam pengertian: mengurami secara kumulatif output global), tapi tidak berlangsung lama, sehingga memungkinkan pertumbuhan positif pada kuartal keempat tahun ini. Dalam hal ini, pasar akan mulai pulih jika sudah melihat cahaya di ujung terowongan.

Namun, skenario terbaik yang dimaksud di atas hanya memungkinkan bila ada kondisi berikut. Pertama, AS, Eropa, negara lain yang paling terdampak berhasil menghentikan penyebaran covid-19 dengan tes, pelacakan, pengobatan, karantina, hingga lockdown skala penuh seperti yang diterapkan oleh Tiongkok. Dan karena butuh 18 bulan untuk mengembangkan vaksin dan memproduksinya secara massal, maka untuk sementara antiviral dan bentuk pengobatan lainnya harus dimassifkan.

Kedua, pengambil kebijakan moneter—yang hanya diberi waktu kurang dari sebulan dibanding waktu tiga tahun ketika menghadapi krisis keuangan 2008—harus menggunakan segala pendekatan yang tidak konvensional dalam situasi krisis. Itu berarti kebijakan suku bunga nol atau negatif; meningkatkan forward guidance (Bank Sentral harus mengkomunikasikan kebijakan yang akan diambil ke depan); pelonggaran kuantitatif (seperangkat kebijakan moneter/bank sentral untuk mendorong perekonomian ketika tingkat suku bunga sudah nol persen, dengan cara membeli obligasi pemerintah atau bank-bank komersil); dan credit easing/pelonggaran kredit  (bentuknya pembelian aset pribadi) untuk bank back-stop  (dana pencadangan yang hanya dialirkan jika resiko terjadi), lembaga keuangan non-bank, reksa dana pasar uang, dan perusahaan besar (surat-surat berharga dan fasilitas obligasi).

Federal Reserve (Bank Sentral AS) memperluas kebijakan “Swap Lines” (pengaturan mata uang timbal-balik antar bank sentral untuk menjaga pasokan mata uang) lintas-batas untuk mengatasi kekurangan likuiditas dollar di pasar global, tetapi kita sekarang membutuhkan lebih banyak fasilitas untuk mendorong bank memberi pinjaman kepada usaha kecil dan menengah yang sebetulnya likuiditasnya sudah tidak sehat (illiquid) tetapi masih punya uang/aset untuk membayar utang-utangnya yang jatuh tempo.

Ketiga, pemerintah perlu mengerahkan stimulus fiskal besar-besaran, termasuk melalui “uang helicopter” (istilah dari si ekonom Milton Friedman, yang mengacu pada strategi stimulus fiskal) dalam bentuk pembayaran/transfer langsung ke rumah tangga.

Mengingat tingkat kedalaman dan keparahan dari guncangan ekonomi ini, maka defisit fiskal di negara-negara ekonomi maju akan meningkat dari 2-3 persen dari PDB menjadi 10 persen atau lebih. Hanya negara dengan neraca besar dan kuat yang sanggup mencegah kolapsnya sektor swasta.

Namun, intervensi yang dibiayai dengan defisit ini harus sepenuhnya dimonetesisasi. Jika mereka dibiayai lewat standar utang pemerintah, suku bunga akan naik tajam, dan proses pemulihan akan berjalan sangat lambat. Dalam situasi begini, intervensi jangka panjang yang diusulkan kaum kiri di Modern Monetary Theory school, juga teori “uang helicopter”, akan menjadi mainstream.

Sayangnya, terkait scenario terbaik ini (yang dijelaskan di atas), respon sistem kesehatan publik di negara ekonomi paling maju terlalu lambat dan tak sesuai harapan untuk mengatasi pandemik, sehingga paket kebijakan fiskal yang sekarang ini lagi diperdebatkan tidak cukup kuat dan cepat untuk menciptakan kondisi pemulihan ekonomi. Dengan demikian, resiko sebuah depresi besar baru, yang bahkan lebih buruk kondisinya dibanding depresi besar 1920-an, sangat mungkin terjadi hari ini.

Jika pandemik tak terhentikan, maka ekonomi dan pasar di seluruh dunia akan terus terjun bebas. Bahkan, jika pandemi ini bisa dikendalikan sedikit, pertumbuhan belum akan pulih hingga akhir 2020. Setelah semua itu, pada saat itu, musim virus lain akan memulai mutasi baru: intervensi berbagai bentuk pengobatan yang selama ini diandalkan mungkin akan berubah kurang efektif seperti diharapkan. Jadi, ekonomi akan mengalami kontraksi lagi dan pasar akan jatuh lagi.

Selain itu, respon fiskal juga akan menghantam tembok, jika kebijakan monetisasi defisit besar-besaran akan memicu inflasi yang tinggi, terutama jika efek dari virus korona ini mengguncang rantai pasokan produksi global, sehingga berpotensi menurunkan pertumbuhan. Dan banyak negara tidak bisa dengan gampang melakukan pinjaman dalam mata uang mereka sendiri. Siapa yang akan mem-bail-out (menalangi) pemerintah, korporasi, bank, dan rumah tangga di pasar negara berkembang?

Bahkan, jika pandemi ini dan kejatuhan ekonomi bisa dikendalikan, ekonomi global belum bisa terbebas dari bayang-bayang “angsa putih” (istilah Roubini tentang krisis ekonomi).

Menjelang Pilpres AS, krisis Covid-19 akan membuka jalan untuk memperbarui konflik antara barat dengan setidaknya empat kekuatan revisionis: Tiongkok, Rusia, Iran dan Korea Utara, yang semuanya menggunakan strategi perang siber asimetris untuk melemahkan AS dari dalam. Serangan siber yang tak terelakkan mungkin akan memperkeruh hasil akhir, dengan munculnya tuduhan “kecurangan” dan kemukinan kekerasan langsung dan kekacauan sipil.

Demikian pula, seperti yang sudah kuulas sebelumnya, pasar yang terlalu meremehkan resiko perang AS-Iran tahun ini, memburuknya hubungan sino-amerika (Tiongkok-Amerika), akan semakin mendorong kedua kubu saling menyalahkan seiring dengan meluasnya pandemi korona ini.

Krisis sekarang cenderung mempercepat balkanisasi dan mencabik-cabik ekonomi global dalam beberapa bulan atau tahun ke depan.

Trifecta resiko ini—pandemi yang tak tertangani, kebijakan ekonomi yang tak efektif, dan geopolitik “angsa putih”—cukup mungkin mendorong ekonomi global dalam depresi yang terus-menerus dan kehancuran pasar keuangan. Setelah krisis 2008, sebuah respon yang kuat (meskipun agak telat) berhasil menarik kembali ekonomi dari dalam jurang. Kita mungkin tidak beruntung hari ini.

NOURIEL ROUBINI, Profesor Ekonomi di NYU Stern School of Business. Dia juga bekerja untuk Dana Moneter Internasional (IMF), Federal Reserve, dan Bank Dunia


profile-picture
nona212 memberi reputasi
Akankah Pandemi Korona Memicu Depresi (Ekonomi) Besar?
bitcoin pas pandemi justru naik, mending berpikir outside the box aja deh, kalau zoom dan facebook bisa cuan pas pandemik berarti persetan dengan ekonomi dunia mau gimana yang penting kita bisa untung


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di