CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Malaikat Penyelamat | Cerpen
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5edddba268cc9514fe705852/malaikat-penyelamat--cerpen

Malaikat Penyelamat | Cerpen

Aku mengintip dari balik gorden, sesaat setelah mendengar suara mesin kendaraan yang dimatikan. Dua iringan mobil yang sengaja disewa untuk keperluan mengunjungi kediaman Hendra—calon suamiku—berhenti tepat di depan rumah.
Jantungku berdegup kencang. Tak sabar rasanya mendengar cerita tentang proses 'batimbang tando' atau kata lainnya pinangan yang dilakukan oleh keluarga besarku pada keluarga Hendra sebagaMalaikat Penyelamat | Cerpeni calon mempelai laki-laki.

Aku menyongsong keluar menyambut kedatangan mereka. Ibu dan Ayah membuka pagar diikuti oleh beberapa kerabat lainnya. Wajah mereka terlihat muram. Perasaan tidak enak langsung menyeruak. Harusnya wajah mereka berbahagia, bukan seperti sedang berduka.
"Gimana prosesnya, Bu?" Aku bertanya pada Ibu yang melangkah kian mendekat, sementara Ayah masih berdiri di dekat pagar sambil mengisap rokoknya.
Ibu menghela napas panjang. "Maafin ibu, Nhay. Ayo kita bicarakan di dalam." Ibu menuntunku masuk ke rumah.
Aku, Ibu, dan beberapa orang kerabat duduk di kursi tamu. Suasana terasa hening. Beberapa kali kulihat mereka saling bertukar pandang. Namun, tak ada satu pun yang membuka mulut menjawab rasa penasaranku.
"Nggak ada yang mau cerita, nih!" sentakku mulai kesal.
Tek Yus, salah satu adik perempuan Ayah angkat bicara. "Begini, Nhay. Tadi itu ada pembicaraan mengenai 'uang japuik'. Jumlahnya sangat memberatkan Ibu dan ayahmu. Tidak tanggung-tanggung lho, Nhay. Keluarga Hendra minta seratus juta!" Wajah Tek Yus terlihat emosional.
Aku menutup mulut dengan kedua tanganku. Rasanya sulit mempercayai keluarga Hendra tega-teganya meminta 'uang japuik' sedemikian besar nominalnya. Keluarga Hendra memang berasal dari daerah Pariaman yang masih memegang teguh tradisi itu. Namun, tetap saja jumlahnya tidak masuk akal.
"Kau kan tau, Nhay. Kita orang tidak punya. Untuk hidup sehari-hari juga masih pas-pasan. Uang pensiun ayahmu juga tidak seberapa, Nak. Dari mana ibu sama Ayah cari uang sebanyak itu!" Ibu mulai tersedu sedan.
"Alasan mereka karena si Hendra sarjana dan sudah jadi PNS, jadi menurut mereka jumlah segitu wajar. Nantinya, kata mereka uang segitu juga balik lagi samamu, Nhay. Yang jadi masalah, Ibu sama ayahmu dapat dari mana uang segitu banyak?" Wajah Tek Yus kentara tampak kesal.
Air mata mulai menetes tanpa bisa kutahan. Untuk sesaat, impian indah untuk berumah tangga perlahan mulai menjauh. Hubunganku dengan Hendra yang sudah berlangsung dua tahun lamanya, terasa sia-sia. Walau keluarga kami sudah saling mengenal baik, ternyata itu bukan jaminan proses menuju pelaminan berjalan lancar.
Aku beringsut masuk ke kamar dengan perasaan hancur. Hanya Hendra satu-satunya tumpuan harapanku saat ini. Aku berharap lelaki itu bisa mengubah keputusan keluarganya mengenai nominal 'uang japuik'.
Sesampai di kamar, aku mencoba menghubungi nomor Hendra, tetapi tidak kunjung diangkat. Setelah lelah menelepon untuk ke sekian kalinya, aku mencoba untuk mengirimkan sebuah pesan singkat.
Malaikat Penyelamat | Cerpen
Aku merebahkan tubuh yang mendadak terasa lemas di ranjang. Teringat kembali raut wajah kecewa dari Ibu dan ayahku. Mereka tentu tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Tidak pernah ada tanda-tanda sebelumnya, bahwa keluarga Hendra akan terlalu berhitung soal materi, walau menyangkut suatu tradisi adat sekalipun.
Bunyi denting yang menandakan ada pesan masuk mengusik lamunanku. Aku menerka bahwa itu adalah balasan dari pesan yang kukirim barusan kepada Hendra. Memang benar. Aku lalu dengan seksama membaca deretan kalimat yang tertera di layar handphone.
Benda pipih itu terlepas begitu saja dari genggaman tanganku. Aku duduk terhenyak di lantai. Pesan yang dikirimkan Hendra bagai petir yang menyambar di siang bolong.
[Maaf, Nhay. Aku tidak bisa merubah keputusan keluarga besarku. Mereka tetap pada pendirian mereka. Aku harap keluargamu bisa mengerti. Sekali lagi, maafkan aku. Jika memang tidak ada titik temu, mungkin di sinilah hubungan kita berakhir.]
Pupus sudah semua harapanku bahwa Hendra akan mati-matian memperjuangkan hubungan kami. Ia menyerah begitu saja. Hanya dalam hitungan jam, hubungan yang terjalin manis selama dua tahun seolah terhapus tanpa makna.
Jika sudah begini, apa gunanya aku hidup? Kemana perginya semua janji manis yang pernah ia ucapkan, bahwa kami akan selalu bersama untuk selamanya?
Aku bangkit dan melangkah gontai menuju lemari di sudut kamar. Tanganku yang gemetar, membuka deretan laci yang menyimpan berbagai macam pernak pernik. Aku meraih sebuah benda tajam, yang biasanya kugunakan untuk memotong kertas.
Aku kembali duduk di lantai dan memejamkan mata sejenak. Tanpa keraguan sedikit pun, aku langsung menorehkan benda tersebut bergantian di kedua pergelangan tanganku.
Selamat tinggal, Hendra!
___________

Suara statis yang terdengar asing menyerbu pendengaranku. Aku membuka netra dengan perlahan, tetapi penglihatan ini terasa samar. Aku mengedipkan mata beberapa kali dan mencoba menyatukan kembali ingatan yang tercecer.
Aku di mana?
"Alhamdulillah, Nhay. Kamu sudah sadar, Nak!"
Aku menoleh pada suara yang terdengar gemetar dan seperti menahan tangis. Ibu berdiri di sampingku. Wajah wanita terkasih itu terlihat cekung dan lelah. Rasa bersalah dan penyesalan datang menyergap. Aku telah membuat Ibu susah dengan perbuatanku.
Bibirku terbata mengucapkan kata maaf. Ibu langsung memelukku sambil tersedu sedan.
"Ibu kira kamu nggak akan bangun, Nhay. Sudah dua hari kamu nggak sadarkan diri. Kamu sudah kehilangan terlalu banyak darah. Jangan diulangi lagi ya, Nak. Ingatlah yang kamu lakukan itu dosa besar!"
Aku tergugu dalam pelukan Ibu. Penyesalan bercampur rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk bernapas menjalari hati ini. Memang tidak seharusnya aku menempuh jalan itu. Bisikan setan membuatku menciptakan derita baru bagi Ayah dan ibuku.
"Bu ... Hendra datang lihat Nhay nggak, Bu?" Aku bertanya sedikit berharap.
Ibu menatapku. Pandangan itu terlihat iba. Ibu lalu mengelus rambutku penuh rasa sayang.
"Hari itu dia datang sebentar, Nhay. Sampai hari ini, dia belum ke sini lagi. Nggak apa-apa ya, Nak. Ikhlaskan. Anggap kalo dia memang bukan jodohmu. Tuhan punya seribu satu cara untuk memberitahukan umat-NYA perihal ketentuan-NYA."
Aku mengangguk perlahan. Walau bagaimanapun juga, perasaan sakit karena patah hati tetap menusuk jantungku. Namun, Ibu benar. Kalau ia jodohku, tentu ia akan mati-matian mempertahankan hubungan kami walau bagaimanapun caranya.
Tak lama Bapak masuk ke ruangan tempat aku dirawat. Wajahnya terlihat bahagia mengetahui jika aku sudah sadar dan membuka mata. Lelaki terkasih itu memelukku dengan erat, sambil membisikkan kata-kata penuh penguatan.
Seorang dokter muda berparas tampan mendekati kami. Sekilas, kami bersirobok pandang. Muncul desir halus dalam hatiku saat mata kami saling bertatapan. Ah, apa-apaan ini! Aku segera memalingkan wajah.
Dokter itu melakukan pemeriksaan dengan seksama. Saat menyentuh luka di kedua tanganku, tiba-tiba ia berkata sambil menatapku dengan lembut. "Jangan sampai ini terjadi lagi ya, Nhay. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan jalan pintas seperti itu. Jadilah pemberani, jangan pengecut. Hadapi semua masalahmu, jangan lari dari kenyataan."
Aku terpana mendengar semua ucapannya. Pasti Ibu dan Ayah sudah menceritakan semuanya pada dokter itu. Kalimat dokter tampan itu terus terngiang, walau ia sudah meninggalkan ruangan tempat aku di rawat.
Ia benar! Aku tak boleh jadi pengecut. Kandasnya rencana pernikahanku dengan Hendra, tidak lantas menjadikanku seorang pecundang, yang harus mati konyol hanya karena cinta.
Terima kasih, Dokter!
____________
Suasana meriah pesta terasa di kediamanku. Dua tenda besar dan deretan kursi telah dipersiapkan untuk menampung kedatangan para kerabat dan tamu undangan. Sebuah pelaminan megah berdiri kokoh di depan rumah. Aku dan seorang lelaki yang sudah sah menjadi suamiku, duduk berdampingan dengan perasaan bahagia.
Setahun sudah berlalu sejak peristiwa kelam yang hampir merenggut nyawaku. Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat, yang tidak hanya menyelamatkan nyawaku, tetapi juga hatiku.
Bagas, nama dokter muda itu, sekarang sudah resmi menjadi imam, pasangan hidup, dan panutanku. Tak pernah kusangka, aku harus berdekatan dengan maut untuk akhirnya menemukan jodoh yang telah ditetapkan oleh Tuhan untukku.
Ah, hidup memang penuh misteri. Tak ada satu orang manusia pun yang bisa menebak semua ketentuan-NYA. Aku berharap, pernikahan ini untuk kali pertama dan terakhir, hingga maut memisahkan kami berdua.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
amaliasyifa dan 7 lainnya memberi reputasi
Post ini telah dihapus oleh KS06
emoticon-Cendol Gan
profile-picture
caurboy memberi reputasi
hii klo gw mah takut seandai tau gebetan gw ( belom jadi pacar) pernah mau bunuh diri mah, mending gw balik kanan maju jalan dah, daripada nantinya ribut dikit terus doi gantung diri..
gak lama doi jadi setan, trus nyekek gw .. hii gak deh emoticon-Mewek
Lihat 2 balasan
nais story gan,
mengnspirasi
Malaikat Penyelamat | CerpenMalaikat Penyelamat | CerpenMalaikat Penyelamat | CerpenMalaikat Penyelamat | CerpenMalaikat Penyelamat | Cerpen
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi
Lihat 1 balasan
keren
profile-picture
ondapriatna memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di