CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Dalan Liyane - Part Of Janji Janin
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5edcec8c68cc952c8464b3e3/dalan-liyane---part-of-janji-janin

Dalan Liyane - Part Of Janji Janin

Malam GanSis, seperti biasa mau lanjut cerita Janji Janin.

jangan lupa emoticon-Toast emoticon-Rate 5 Star ya minimal Comeng, sukur sukur di share, xixixixixi.


ok tanpa basa basi selamat membaca GanSis.


Dalan Liyane - Part Of Janji Janin

Setiap alam gaib memiliki dimensi nya sendiri, satu sama lain saling menceritakan kisah nya. Masih terlihat jelas bagaimana aku dibantai oleh makhluk mengerikan itu,namun takdir masih belum mengatakan ajal telah memanggil.

 

Tok.. tok.. tok..

Suara ketukan pintu menjadi jalan penuntun diriku kembali ke kamar itu.

 

Rin, rina.. 

Samar samar ku mendengar seseorang memangil nama ku, suara itu tampak tak asing, seperti suara pak le.Ku dapati diri ku sadar tanpa berkekurangan sedikit pun, selain keringat yang hampir membasahi seluruh tubuh ku.

 

Aneh terasa untuk semua yg terjadi, dan raga kembali di kamar ini, tapi itu mungkin lebih baik dari pada aku mati mengenaskan di tangan iblis itu. Ku coba menapak tilas ingatan akan fatomorgana yang ku lihat dari setiap lorong dimensi yang tak akan bisa ku jelaskan dengan logika akal sehat manusia mana pun.

 

Tok .. tok...

Rin, buka pintu nya.

 

Suara itu terdengar semakin intens,memangil ku dari sisi lain pintu ini, ku tenangkan diri ini dan mencoba beranjak dari kasur. Untuk membuka pintu itu, mungkin ada yg ingin disampaikan pak le pikir ku.

 

Ku berjalan ke arah pintu itu, seiring suara ketukan dan panggilan yang tiada berhenti, dan tangan ku mencoba membuka kunci pintu kamar, sebelum suara lainmenghentikan ku. 

 

Ibu yo ngrungoke ndok,

Ning luwih apik nek kowe ora buka

Nggo keselamatanmu

 

(Ibu juga mendegarnya rin,

Tapi alangkah baik nya kamu tidak membuka nya.

Untuk kebaikan mu).

 

Aku sangat mengenal suara itu, “Ibu” itulah yang terlintas pertama dibenak ku. Ku balikan badan ku, terlihat ibu duduk dikasur itu, mungkin aku benar benar wanita cengeng, tak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain menangis untuk semua kejadian yang aku sendiri tidak mengetahui mana kisah yang nyata dan semu.

 

Belum lagi kakek tua yg mengaku mbah ku, secara ajaib ada disamping ku, dan kini sedang memegang tangan ku, seolah menjaga agar aku tidak membuka pintu itu.

 

Entah mana yg harus kupercaya saat ini.

 

Disisilain pintu itu terus diketok, panggilan itu terlihat jelas memangil nama ku.

 

Percoyoo karo ibumu, saiki sabaro ndisik

(Percaya pada ibu mu, bersabarlah untuk semua ini).

 

Kakek tua itu berkata mencoba menenangkan ku.

 

Mengapa aku harus mempercayai kalian tanya ku.

 

Kakek itu hanya tersenyum sembari mengarahkan ku menujuke kasur, seolah memberikan kode untuk menghindar dari pintu itu.

 

Dia kembali berkata kepada ku.

 

Ben ibumu sing nerangke, bab kuwi udu wewenangku sejatine aku bapake lan kowe putuku

(Biar ibu mu yang menjelaskan, aku tidak mempunyai ranah untuk hal itu, sekalipun aku merupakan ayah dari ibu mu, dan engkau adalah cucu ku).

 

Kini diri ku menatap tajam ke arah ibu, tiada rasa takut dalam diriku, sekalipun ku dapati tampilan ibu layak nya kuntilanak bila dianatomikan pada saat itu. Dia menggunakan baju putih yang usang dan kotar, wajah nya terlihat tersiksa oleh rantai yang melingkar, aku merasa sedih melihatnya mengapa akhir hayat dari orang yang ku sayang harus berakhir seperti ini. Disisi lain entah kenapa pak le seperti tidak kenal lelah dari balik pintu itu terus mengetuk dan memangil nama ku.

 

Tanpa basa basi aku langsung menanyakan pokok masalah,

 

Apa yg sebenar nya terjadi bu? Kenapa ibu jadi begini? Ucapku kepada sosok astral yang entah itu ibu ku atau hanya iblis yang menyerupai ibu.Ibu tampak merenung, lama ia membalas, sebelum sebuah ucapan terbesit dari bibir nya.

 

Ibu njaluk ngapuro nok

Maafkan ibu nak

 

Hanya itu kata yg dilontarkan nya kepada ku.

 

Perbincangan itu terasa alot, tidak ada cerita atau perkataan hanya suara isak tangis dari diriku yang menjadi menu utama pada saat itu. Air mata itu seperti tidak kenal lelah, terus mengalir membasahi wajah ku,  dan tanpa kusadari tangan ibu memegang wajah ku, sembari menghapus air mata ku, dan ia juga turut menangis, dengan perkataan yang sama, yaitu kata maaf.

 

Biar rina buka pintu ya buk, dan sampaikan pada pakle akan semua ini, 

 

Jangan gegabah rin, kakek tua itu ikut dalam pembicaraan kali ini,

 

Kamu jangan keluar dari kamar ini, apalagi membuka pintu itu, sedari awal sudah mbah katakan jangan ikut campur urusan alam lain, tapi mengapa kamu kehilangan tata krama mu. 

 

Aku hanya terdiam mendengar perkataan kakek itu. kurasakan keadaan diruangan itu sangat hangat walau penuh dengan emosi, hangat akan rasa kekeluargaan, cukup aneh, apalagi ibu memeluk ku dari samping, dan ku biarkan kepala ini berebah dipelukannya, tiada rasa takut, hanya rasa rindu mendalam hadir dalam diri ku.

Kakek tua itu masih terdengar berceramah layaknya panglima yang berpidato didepan prajuritnya, sementara pintu sialan itu masih terus terketuk dengan suara panggilan kepada ku yang tak kunjung berhenti.

 

Rasa nyaman ini sungguh melelahkan tubuhku, hinggamata ini kembali terpejam, terlelap dalam rasa kantuk yang teramat sangat. Tidak ku perdulikan lagi kakek tua itu maupun suara pintu itu, yang ku mau hanya melepaskan rindu, dan tertidur dipelukan ibu seperti dulu kala.

 

Setidak nya sampai kudapati cahaya yang sangat terang menghujani mata ini. Ku kembali tersadar dan mendapati raga ini kembali ke dunia fatamorgana untuk kesekian kali nya itulah hal pertama yang terbesit didalam pikiran ku.

 

Pagi ini terlihat cerah aku berada di depan rumah mbah,tampak kakek tua itu keluar dari rumah sembari membawa tentengan putih, ibu dan abah tampak ada di belakangnya, ibu dalam keadaan mengandung,  sesaat kemudian kakek itu melangkah kearah ku, aku mencoba menghindar sebelum ku sadari kakek itu menembus diriku, .

 

Cerita nya Lanjut Kolom Komentar GanSis

 

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nona212 dan 2 lainnya memberi reputasi
Sesaat setelah kakek itu pergi aku tidak lagi melihat ibu dan abah, pintu tampak terkunci, ku langkah kaki menuju masuk kembali ke rumah itu, untuk mencari segala jawaban atas segala penak yang bersarang di kepala.

Ku buka pintu dan melihat keadaan kosong, tidak seperti sebelumnya dimana aku bisa melihat kilasan perjalanan yang turut menghantui ku, namun tidak berapa lama, salah satu pintu kamar terbuka, tampak ibu keluar, dan bertengkar hebat seraya memaki seseorang yang ada di kamar. Kenapa ibu memarahi abah pikir ku, ibu tampak beranjak membanting pintu kamar sebelum mengarah keluar rumah.

Aku penasaran tentang siapa sosok yang ada dikamar itu, ku tapaki jalan menuju pintu itu, namun bukan abah yang ku temukan, melainkan kakek tua atau mbah ku entahlah (aku tidak tau harus menyebut dia dengan panggilan apa)., Tampak kakek itu tersungkur dengan pisau menancap di perut nya, bungkusan putih itu ada disampingnya, masih terbungkus rapi, kakek itu seperti sedang menanti sakaratul maut nya. Ku coba menepiskan rasa sedih ku dan sejuta pertanyaan, mengingat apa yang pernah terjadi saat ku berusaha ikut campur di dunia fatamorgana ini.

Ku tutup kembali pintu itu, kali ini terdengar suara orang berpamitan, salah satu hal yang membuat aku shock berat. Ku dapati seorang wanita yang mengendong anak nya dan pria yg mungkin suaminya, sosok yg pernah ku jumpai diangkot dan rumah sakit ketika aku berada di Jakarta, mereka berpamitan dengan mbah, bulek dan pakle, dan konyol nya kenapa bule memangil nya dengan sebutan yang sama dengan nama ibu dan abah.

Apa yang terjadi dengan kedua wajah orang tua ku?

Belum sempat semua terjawab, terdengar suara ketukan yang sangat kencang dari pintu belakang, dan seketika itu, momen sebelumnya hilang dari hadap ku, kini ku berjalan menuju ke arah suara itu, dan kudapati suara itu berasal dari arah dapur. Kisah ini seperti nya tidak jauh dari zaman ku, ku dapati ramai beberapa tukang sedang beraktifitas, sepertinya mereka sedang membangun dapur, dan seingat ku dapur di rumah mbah baru dibangun, di karenakan beberapa bulan lalu bulek sempat meminjam dana untuk renovasi rumah kepada Ibu.

Tapi untuk apa moment ini ada pikir ku,

Sesaat kemudian seseorang dari arah timur tampak berteriak.

Iki opo om,
sambil mengangkat bungkusan putih yang ditemukanya di bawah galian pohon beringin di samping rumah. Pria itu tampak membuka bungkusan itu sebelum tangan pakle dengan sigap merebut bungkusan itu.

Ojo berbahaya,
Terdengar suara pakle seoalah marah, namun raut wajah pakle tampak senang. Ia mengarah kepada ku sambil menenteng bungkusan itu membawa masuk ke dalam rumah. Ku ikuti diri nya, ku dapati ia masuk ke kamar bagian depan dan dia juga sigap menutup pintu itu.

Dan disaat akan ku buka pintu itu, lagi lagi kakek itu muncul dan selalu mengagetkan ku. Mengapa kakek ini lebih sering mengagetkan ku dibanding iblis telanjang yang menyeramkan itu pikir ku.

Keadaan hening sejenak sebelum perkataan nya memecah kebuntuan pada saat itu

Ndok, sedelo meneh kowe bali ning alam mu, temokno barang kuwi terus bakaren, ben kabeh perjanjian iki rampung, tapi inget yo ndok ojo pisan-pisan tok buka lan delok bungkusan kuwi..
(Ndok sebentar lagi kamu akan kembali ke alam mu, temukan benda itu, dan bakar, maka segala perjanjian ini akan berakhir, dan ingat jangan sekali kali kamu coba untuk melihat isi dari bungkusan itu).

Setelah perkataan itu semua menjadi gelap, aku berdiri dilorong panjang, dengan suara pangilan yang memangil namaku diujung sana.

----------------------------------------------
Hujan gerimis turun dimalam itu, keadaan rumah tampak sedikit lebih ramai dari pada biasanya, terlihat orang orang sedang memimpin doa untuk kesembuhan orang yg berada di ranjang,

Samar terdengar ucapan ucapan miring beberapa orang yang hadir pada saat itu.

Rini ki koyo disantet,
Ojo ngawur nek ngomong, ra apik
Lah wong seminggu ro sadar ki pie

(Rina itu kayak kenak santet,
Jangan ngomong sembarang kamu, ga baik.
Lah semingu bisa ga sadar sadar gitu)

Hmmmmm....

Eh pak Darto.

Bagaimana Pak Man tanya pakle kepada salah satu dari mereka, (Pak Man merupakan seorang kuncen, yang terkenal akan kesaktiannya dan jua orang yang dituakan di kampung itu).

Kulo naming saget berusaha sing paling apik nggo manggil sukmane rini bali, tapi niki nggih rodo susah rini wis seminggu koyo ngene gek iki yo koyone didelike jin
(Saya usahakan yang terbaik untuk memangil sukma rina kembali, tapi memang seperti nya memang ada Jin yang coba menyembunyikan jiwanya.
Hanya saja ini sulit, mengingat sudan seminggu keadaan rina dibiarkan begini).

Jawab Pak Man seraya menatap tajam dan penuh kecurigaan ke arah pakle.

Opo rini duwe dendam po kekeliruan iso mbok critake ning aku, opo malah almarhumah ibune ben aku iso bantu..
(Mungkin bila ada dendam atau kesalahan rina maupun almarhumah ibu nya boleh diceritakan ke saya, kali saya dapat membantu).

Lanjut omongnya kepada pak le

Pak le hanya terdiam, dan tidak berkata sepatahpun, lama mereka saling melempar tatapan.

Sampai pak le berkata.
Kulo mboten ngertos nopo-nopo pak (Saya tidak tau apa apa pak). Seraya meninggalka orang orang itu.

Semua orang merasa aneh dengan tingkah pak le, namun tiada yg berani menguluarkan suara.

Nek bengi iki sukmane rini ora bali, ayo do di ikhlaske lan macakae surat ben dalane lancar lan jiwane ora dingo wong buka ilmu hitam ning kampung iki.
Bila saja malam ini sukma nya tidak kembali, kita harus mengikhlas kan nyawa dengan (membukakan jalan kematiannya secepat mungkin, agar jiwa nya tidak dijadikan pembukaan ilmu hitam di kampung ini).
Omong pria yang dipanggil Pak Man tu kepada warga yang hadir disana.

Pak Man kemudian memulai ritual pemangilan sukma, dia mengambil posisi duduk nya sebelum melepaskan sukma nya menuju alam lain.

----------------------------------

Rina masih berjalan menelusuri ujung lorong yang diharapkannya akan membawa dirinya kembali ke dunia nyata. Arah cahaya itu semakin terang, terdengar juga suara yang memangil namanya semakin jelas, namun terasa berbeda, karna kali ini suara itu jemuk, seperti panggilan beberapa orang.

Lama berjalan akhirnya rina sampai diujung lorong itu, langkah nya terhenti, seiring penglihatan nya akan iblis telajang diujung lorong, iblis itu tampak serius berbicara dengan nada bicara yang sepertinya penuh kemarahan, sementara seorang lagi, merupakan seorang pria separuh baya, ia tampak tenang menghadapi iblis itu. Aku hanya terdiam terpatung, tanpa berani melangkahkan kembali kaki ini. Ku amati setiap gerak gerik mereka yang seperti asyik dengan perdebatannya.

Sebelum akhirnya mereka berdua menyadari keberadaan ku,.

Seketika pembicaraan mereka terhenti, dan pandangan mereka tertuju kepada ku, terlebih lagi iblis itu meraung hebat sembari berlari menuju kearah ku. Iblis itu kembali membentangkan rantainya dan seolah ingin mencambuk diri ku kembali. Ditengah rasa panik ku, rantai itu tampak tertahan dan tidak menyentuh tubuh ku, ku sadari pria itu menolong ku, dengan sigap pria itu menahan hentakan rantai yang dicambuk oleh sang Iblis, pria itu juga memengangi rantai itu dari tarikan setan itu.

Dalam duel yang sangat sengit, pria itu berteriak kearah ku,

Mlayuo ning Lorong kuwi ndok, mengko tak susul
(Lari keujung lorong itu nak, nanti saya akan menyusul).
Teriak nya kepada ku.

Akupun berlari sesuai arahan pria paruh baya itu, Iblis itu kembali meraung, seperti marah akan perlakuan pria itu. Berkali kali iblis itu mencoba mengapai ku, namun pria itu selalu menghalangi nya. Pria itu seperti membukakan jalan kepada ku.

Aku tiba di ujung lorong itu, Sebelum aku memasuki cahaya yang terang diujung lorong itu, ku sempatkan memalingkan pandangan menatap ke arah pria itu, ku dapati pria itu masih bertarung sengit melawan sang Iblis. Namun aku terkaget, karna kini ada seorang pria lagi disana, pria itu adalah pakle, Dia tampak menyerang pria itu, seolah memberi tau dimana pihak dia berdiri.

Pak le menatap ku
Kabeh ki arep mati, termasuk kowe, ojo mlayu Djancuk
(Semua akan mati pada akhirnya, Termasuk kamu, jangan lari kamu jalang).

Teriak nya kepada ku.

Seketika bulu kuduk ku terbangun, tidak ada rasa takut yang paling mengerikan selain teriakan pak le barusan kepada ku, ku berlari menembus cahaya itu dengan rasa takut yang teramat sangat. Suara bentakan pakle seolah masih terasa dan terngiang dalam kepala ku, masih dapat ku ingat raut amarah yang teramat sangat dari dirinya kepada ku.

Seiring dengan ku buka kembali mata ku, ku dapati diri ini terbangun kembali dikamar, dengan beberapa orang lain yang ada di dalam nya, dan tampak pria paruh baya itu ada disalah satu sudut, seperti sedang bersemedi, Baju putih tampak ternoda oleh tumpahan darah yang mengalir dari mulut nya, dan beberapa kali kulihat mulut itu menyemprotkan darah.
Ku pandangi semua orang, dan tak ku dapati keberadaan pak le.

Apakah pria itu masih bertarung melawan iblis dan pak le di dunia lain ????
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abiimanyunn dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
gan usul klu bisa update setiap hari. biar cepat tamat nya
profile-picture
profile-picture
Calyaaje dan smart70again memberi reputasi
Lihat 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di