CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Tiga Cerita Satu Akhir
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5edc96c882d49554c13174c0/tiga-cerita-satu-akhir

Tiga Cerita Satu Akhir

BAB I - Pernikahan

“Tin... Tin... Tin...” berkali-kali Gadis itu membunyikan klakson mobilnya. Tapi mobil didepannya tidak bergerak sama sekali. Kondisi Hujan deras dan macet yang diakibatkan oleh banjir membuat pengendara di bagian depan memperlambat lajunya. Hal tersebut berdampak pada penumpukan kendaran dibagian belakang dan itulah yang sedang ia rasakan sekarang. Entah kapan ia akan sampai cafe tempat ia akan bertemu dengan tunangannya.

“Tin.. Tin..” Suara klakson membuyarkan lamunannya.

“Ada genangan air disekitar perempatan gedung perepustakaan daerah, genangan tersebut mengakibatkan kemacetan sepanjang 1km. Dihimbau kepada pengendara untuk bersabar atau mencari jalur lain sementara waktu” suara radio memperjelas bahwa butuh waktu lebih lama lagi buat Gadis itu untuk sampai cafe tersebut.

“Drrttt... Drtttt..” Handphone nya bergetar.

“Kamu sampe mana? Lama banget sih? Mau sampe kapan aku nungguin disini.”

“Apaan sih? Ini aku lagi dijalan” Jawabnya

“Dari tadi kagak nyampe-nyampe. Aku udah nungguin kamu dari tadi loh!”

“Kamu sendiri yang ngajak ketemuan dicafe itu, udah tau jam segini macet-macetnya, mana banjir lagi.” Tutupnya

Mobil yang dikendarai Gadis itu berhenti disebuah persimpangan lampu merah. Terlihat jelas cafe yang akan dituju olehnya terletak diujung seberang jalan tersebut. Namun sayang, jalan tersebut hanya dikhususkan untuk satu arah, akibatnya dia harus menempuh jalur memutar. Kalau saja bisa langsung lurus ke jalan depan, mungkin hanya membutuhkan kurang dari 5 menit untuk sampai cafe tersebut.

Dari kejauhan Gadis itu memandangi cafe tersebut berharap agar segera sampai. Pandangannya teralihkan oleh seorang wanita yang sedang membagikan selebaran kepada para pejalan kaki. Selebaran yang nampak bertumpuk itu tak henti-hentinya ia bagikan. Pakaian yang lusuh seolah melengkapi raut wajah lelah yang terlihat dari wanita paruh baya tersebut. Ada lagi seorang remaja laki-laki yang sedang terdiam ditengah penyeberangan dengan kondisi basah kuyup. Pandangan kosong menatap kejauhan dan segenggam gawai yang melekat ditelinganya membuat waktu seolah berhenti disekitarnya. Sejenak Gadis itu terdiam, mungkin masalah yang ia dapatkan sekarang bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan orang lain. “Cuma macet kok, bentar lagi juga nyampe” batinnya menenangkan diri sendiri.

15 menit kemudian mobil yang ia kendarai sampai dicafe tersebut. Terjadi perdebatan antara mereka berdua. Perdebatan yang diawali dari kata telambat akhirnya merembet ke permasalahan-permasalahan lainnya. Segala unek-unek yang selama ini mereka simpan guna melancarkan hubungan mereka akhirnya terbuka semua. Hingga akhirnya sebuah kata yang sangat tidak diharapkan oleh gadis itu pun terucap. “Udahlah, aku ga bisa lagi lanjutin pertunangan kita, mending kita akhiri disini sebelum terlalu jauh.” Ucap tunangan gadis itu seraya pergi meninggalkannya sendiri.

BAB II - Ulang Tahun

“Selamat ya bu.. Anak pertama ibu, perempuan, lahir dengan kodisi sehat.”

Tangisan bayi mungil tersebut memecah keheningan malam. Keluarga dari bayi tersebut pun hanya bisa tersenyum memandangi kejahuan. Ada rasa takut untuk mendekat apa lagi harus memegang. Maklumlah bayi tersebut adalah anak pertama dari keluarga itu setelah harus menunggu bertahun-tahun. “Semoga kamu sehat terus ya sayang.. Mama janji bakal selalu jagain kamu” ucap sang ibu daribayi tersebut.

17 tahun berlalu, hujan deras membasahi bagian bawah tubuh seorang wanita paruh baya. Pakaian lusuh, celana basah kuyup, dan payung hitam yang ia pegang melengkapi beberapa lembar kertas yang sedang ia bagikan disebuah persimpangan jalan. Selembar kertas yang sebagian sudah basah karena hujan itu terus menerus ia bagikan tanpa memandang siapa penerimanya. “Tolong bantu temukan anak saya..” ucapnya lirih kepada setiap orang.

*****

“Maksud kamu apa? Mama ga setuju klo kamu kuliah musik, kamu kuliah kedokteran aja kayak papa”

“Tapi aku ga mau mah, aku ga mau jadi dokter kayak papa”

“Mama tetep ga setuju, mau jadi apa kamu klo kuliah musik?”

“Tapi mah, aku pengen ambil beasiswa itu, ga semua orang bisa dapet itu”

“Enggak! Mama ga ijinin kamu, ga boleh”

“Aku pengen ambil beasiswa itu mah, dari kecil sampe sekarang aku selalu nurutin mama”
“Sekarang, sekali aja mama dengerin aku, aku punya mimpi dan aku pengen ngejar itu mah..” lanjut sang anak

“Pokoknya ga boleh. Sekali ga boleh ya ga boleh” pungkas mamanya

Adalah hal yang wajar jika seorang ibu berharap yang terbaik untuk anaknya. Seperti yang diketahui bahwa jabatan dan kekayaan dapat diperoleh dari segi akademis. Semakin bagus nilai akademis seseorang maka semakin bagus pula derajat yang ia peroleh dari masyarakat. Hal itulah yang membuat sebagian besar orang tua seakan memaksakan mimpi serta masa depan terhadap putra-putrinya. Hal itu pula yang menjadi pegangan hidup wanita paruh baya tersebut. Wanita tersebut berpatokan bahwa satu-satunya putri yang ia besarkan haruslah bahagia sejalan dengan gelar dan jabatan.

Sudah hampir 2 bulan putri yang ia sayang, gadis kecil yang ia besarkan, satu-satunya keluarga yang ia miliki pergi meninggalkannya. Sifat egoisnya telah merusak hidup kedua belah pihak. Kalau saja ia tidak memaksakan jalan hidup kepada putri semata wayangnya tersebut, kalau saja ia mau mendengarkan pendapat putrinya tersebut, mungkin semuanya tak perlu terjadi. Wanita paruh baya itu terduduk disamping jalan, tumpukan kertas yang ia bawa telah ia bagikan semua. Tangannya seolah tak mampu lagi menopang payung yang ia bawa. Payung tersebut terjatuh, tersapu angin entah kemana. Wanita tersebut menangis dengan kondisi tubuh yang terselimuti hujan. “Maafin mama...” ucapnya.

BAB III – Kesibukan

“Kerja disini aja loh le, jangan jauh-jauh”

“Tapi bu, klo disini aku kerja apa” “Apa aja le, sawah ibu kan bisa kamu yang ngerjain”

“Aku pengen kayak temen-temen bu, pulang dari kota bawa duit banyak, punya kendaraan sendiri, bagusin rumah.”
“Ibu ga pengen punya rumah bagus?” tanya remaja tersebut

Sudah hampir 2 tahun remaja tersebut pergi meninggalkan ibunya sendiri dikampung untuk mencari pekerjaan dikota. Bukan berarti tega, tapi tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan kecuali mencari pekerjaan layak dikota agar kehidupannya sedikit berubah. Ada rasa bersalah ketika harus meninggalkan ibunya hidup seorang diri. “Nanti kalau aku udah mampu, aku akan kembali ke desa, dan hidup bersama lagi” itulah yang diharapkannya.

*****

“Bu, Selamat ulang tahun ya bu.. Maafin anak ibu yang ga bisa pulang..” Ucap remaja laki-laki tersebut.

“Ga apa-apa kok le.. kamu kan sibuk. Kamu udah makan siang le?”

“Udah bu, tadi makan dikantin kantor”

“Ibu udah makan kan? Jangan sampe lupa makan bu..” lanjutnya

“Ini ibu mau makan kok”

“Yaudah nanti aku telepon lagi ya bu..” tutupnya

Setiap hari, 3 hari sekali, 1 minggu sekali hingga seadanya waktu, remaja tersebut menghubungi ibunya sekedar bertanya kabar. Semakin lama semakin banyak kegiatan yang harus ia lakukan. Sebagai orang tua yang sudah berumur tentu bukan harta yang diinginkan melainkan seringnya berkumpul dengan sang buah hatilah yang mereka harapkan. Canda gurau seperti masa lalulah yang selalu ia inginkan. Hidup sendiri didesa, tanpa adanya seseorang yang menemani tentulah sangat berat, sangat menyesakkan bagi wanita tua tersebut.

“Drrtt.. Drrtt..”
“Maaf bu, aku lagi sibuk, nanti aku telepon” jawabnya

*****
“Drrtt.. Drrtt..”
“Aku lagi dijalan bu, ada janji mau kumpul sama temen-temen, nanti aku telepon” jawabnya

*****
“Udah makan le?”
“Ibu sakit? Kok suara ibu serak gini”
“Ibu ga apa-apa kok le”
“Ibu ke puskesmas aja klo sakit, aku jadi ga bisa fokus kerja klo ibu sakit” pungkasnya

*****
“Kamu kapan pulang le, sehari aja le kamu pulang, ibu kangen” pesan dari ibunya

Beberapa hari berlalu, ia semakin di sibukkan dengan pekerjaannya. Pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya harus ia lakukan ditambah lagi kegiatan yang dilakukan bersama teman-temannya membuatnya semakin jarang untuk menghubungi ibunya.

Pukul 16.00 Hujan deras dan angin kencang mengiringinya melangkah keluar kantor. Hari yang melelahkan itu yang ia rasakan. Dengan payung ditangannya ia segera menuju ke sebuah cafe yang berada tepat diseberang perempatan. Lampu masih merah tanda ia harus berhenti terlebih dahulu sebelum menyeberang. Dari kejahuhan ia melihat seorang wanita paruh baya sedang membagikan selebaran. Wanita tersebut mengingatkannya pada sang ibu. “Ibu lagi ngapain ya?” pikirnya. Lampu hijau menyala, menandakan pejalan kaki diperbolehkan menyeberang.

“Drrttt... Drttt..” sebuah pesan masuk ke handphonenya

“Buruan woy, gw udah disini sama anak-anak” isi pesan dari temannya
Selain pesan dari temannya, terdapat pula beberapa panggilan tak terjawab dari sang ibu. Dan beberapa pesan yang ibunya kirim beberapa jam yang lalu.

*07.30* “Kamu udah sarapan le?”

*11.00* “Kamu kapan pulang?”

*13.00* “Ibu kangen sama kamu”

*14.25* “Kamu pulang sekarang. ibumu sakit, daritadi nyariin kamu”

*15.30* “Kamu pulang sekarang”

“Drrtt.. Drrtt..” getar handphonenya

“Halo bu? Ibu ga apa-apa kan bu?”

“Sabar ya le, ibumu udah ga ada, kamu pulang sekarang ya le” sahut seseorang

“. . . . . . . . . . . .” “Udah le gapapa, kamu pulang sekarang, biar sementara kita yang jagain ibumu” lanjut orang tersebut.

Remaja tersebut terdiam, dia tidak tau apa yang harus diucapkan. Payung yang sedari tadi lekat ditangannya sudah terjatuh. Semua kenangan saat masih bersama ibunya seakan melintas dihadapannya. Semua memori tersebut membuatnya tak bisa melangkahkan kaki. Dia tertahan ditengah penyeberangan tak bergerak, pandangannya kosong, hujan yang membasahinya menyamarkan air mata yang tak tertahan. Kalau saja ia tidak ke kota mungkin ia bisa menjaga ibunya. Kalau saja ia bisa pulang sebentar saja, mungkin semuanya bisa berubah. Kalau saja dari awal ia mendengarkan kata ibunya mungkin semua ini tidak akan terjadi.

BAB IV – Kalau Saja..

Setelah pertengkaran yang terjadi dicafe tersebut, tunangan dari Gadis tersebut memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka berdua. Hubungan yang tinggal selangkah lagi menuju pernikahan itu akhirnya kandas. Hubungan yang selama ini ia jaga dan berharap langgeng itu akhirnya harus ia relakan. Didalam mobil perjalanan pulang, Gadis itu terdiam, dia berusaha mencerna apa yang barusan terjadi. Sesuatu yang berusaha ia hindari justru terjadi. Kalau saja ia lebih teliti dalam mengerjakan pekerjaan kantor tadi, kalau saja jalan itu tidak khusus satu arah, kalau saja ia.. kalau saja... mungkin ia bisa sampai cafe lebih cepat. Kalau saja ia bisa sedikit mengalah dan mengakui bahwa ia salah mungkin perdebatan tersebut tidak perlu terjadi.

Apakah ini yang disebut penyesalan? Apakah seperti ini rasanya? Sakit, semakin sakit jika kita menyadari bahwa kita sebenarnya bisa mencegah hal itu terjadi. Sakit, karena kita seolah membiarkan semua terjadi tanpa adanya usaha untuk memperbaiki. Memang benar penyesalan selalu datang terlambat dan menyesakkan karena kita sadar bahwa semua ini terjadi bukan karena orang lain, tapi semuanya terjadi karena kebodohan dan keegoisan kita sendiri.

Kalau saja semua bisa diulang, apakah kita bisa mencegah semuanya berakhir sebagaimana mestinya. Ataukah semuanya akan berakhir sama, sekalipun kita berusaha memperbaikinya. Mungkin kita akan mengambil jalan yang berbeda dengan sebelumnya, resiko yang berbeda dan akhir yang memungkinkan untuk berbeda. Tapi semua baru bisa berubah jika kita mau mengurangi sifat egois kita, lebih terbuka dengan pendapat orang dan tidak pernah memaksakan kehendak yang justru akan membuat segalanya berakhir seperti sedia kala.

“Tin.. Tin..” Suara klakson membuyarkan lamunan Gadis tersebut.

“Ada genangan air disekitar perempatan gedung perepustakaan daerah, genangan tersebut mengakibatkan kemacetan . . . . . . .”

“Drrttt... Drtttt..”

“Kamu sampe mana? Lama banget sih? Mau sampe kapan aku nungguin disini.”

Sejenak Gadis itu terdiam . . .

“Sabar yaa.. Bentar lagi nyampe kok” jawabnya

Hujan deras itu akhirnya perlahan berhenti, terbitlah matahari senja yang mengintip disela-sela awan hitam. Secercah cahaya menerangi perempatan tempat mobil Gadis itu berhenti. Dari kejauhan ia memandangi cafe tersebut berharap agar segera sampai. Pandangannya teralihkan oleh seorang wanita paruh baya yang sedang menikmati senja ditemani tetesan gerimis hujan bersama putrinya. Ada lagi seorang remaja laki-laki yang sedang terburu-buru berlari menuju cafe diseberang jalan dengan gawai menempel ditelinganya serta senyum yang menghiasi wajahnya.

--TAMAT--
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Pupilsxone dan 2 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di