CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Food & Travel / ... / Selera Nusantara (Indonesian Food) /
Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5edbbecf68cc957bba646504/jarangking-impun-warisan-kuliner-yang-makin-tenggelam-dimakan-zaman

Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman

Kuliner Warisan Leluhur

Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Baik dari segi budaya benda dan tak benda. Setiap suku mempunyai kearifan lokal dalam mengolah dan melestarikan alam. Banyak warisan budaya yang sekarang sudah hampir punah. Hanya tersisa di beberapa wilayah saja. Contohnya pada masakan ini.

Suku-suku yang berada di wilayah pesisir pantai banyak sekali memiliki keanekaragaman citarasa dan kuliner. Contoh yang sudah dikenal. Terasi dari cirebon yang asal usulnya dari kata cai rebon yang artinya air perasan udang. Atau dari daerah sumatra ada bekasam yang berupa teknik pengawetan ikan dalam suatu wadah tertutup setelah diberikan garam.

Nah, kali ini ane akan bahas satu warisan kuliner Sunda dari pesisir pantai selatan Jawa Barat yang mungkin belum dikenal khalayak ramai, bahkan mulai pudar di daerah sendiri. jarangking, apa itu jarangking? Baru denger ane, apa itu nama hewan sejenis kalajengkingemoticon-Bingung

Kalo masih bingung, yuk simak penjelasannya.


Jarangking impun adalah teknik pengawetan ikan impun/teri kecil yang bermigrasi dari laut ke hulu sungai. Biasanya pada penanggalan hijriyah tanggal 25. Orang Sunda akan berbondong-bondong menuju muara sungai untuk mengambil ikan impun yang disebut nyalawena. Salawe sama dengan hari ke-25. Konon, jika impun yang diambil setelah hari ke-25 akan kurang nikmat rasanya. Dan ukurannya sudah lebih besar.

Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman
Gambar ikan impun: dokumen pribadi

Ikan impun diambil dengan menggunakan jaring yang pori-porinya sangat kecil. Atau bisa menggunakan kelambu bekas yang diikatkan ke-4 buah palang bambu lalu ujung atas keempat bambu itu diikat oleh tali. Cara mengambilnya cukup disimpan dalam air sungai/muara. Biarkan sesaat sampai impun melewatinya. Lalu kita angkat dan kumpulkan dalam korang/wadah ikan dari bambu. Ini menyiasati agar impun tidak membusuk dan memiliki citarasa yang gurih.

Ikan teri impun secara langsung bisa dimasak menjadi pindang impun, dan pepes impun.

Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman
Ngala impun/megat impun: dok. Pribadi

Impun yang sudah dikumpulkan dalam wadah dibersihkan dari sampah yang ikut terbawa. Setelah itu siapkan bumbu-bumbu. Sebenarnya teknik ini sama dengan membuat dendeng pada daging atau ikan. Di Sunda ada istilah dendeng yang berbeda:

1. Kere=> dendeng dari ikan misal kere nila, kere mujair
2. Deeng=> dendeng dari daging misal dendeng sapi
3. Jarangking: dendeng khusus ikan teri impun

Proses pembuatan jarangking

Bahan: ikan impun

Bumbu:
Garam
Merica
Ketumbar halus
Gula merah yang sudah diiris
Laos yang sudah diparut

Untuk takaran diperkirakan sesuai banyaknya jumlah ikan.

Bumbu dicampur dengan ikan impun. Diamkan selama satu jam.

Siapkan daun jati dan alasnya berupa ayakan dari bambu atau tampah. Cetak bulat pipihkan hingga tipis dan merata di atas daun jati.

Jemur jarangking basah hingga kering. Angkat dan masukan kantong kedap udara atau stoples.

Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman
Adonan jarangking siap dicetak


Penyajian:

Opsi pertama:

Jarangking kering digoreng dalam minyak yang sudah panas. Gunakan api kecil. Goreng sebentar dan balikkan. Angkat, sajikan bersama sambal tomat dan lalapan segar. Dijamin rasa manis gurihnya langsung lumer di mulut. Jangan harap nasi akan bersisa ya, gan, sis.

Jarangking Impun, Warisan Kuliner Yang Makin Tenggelam Dimakan Zaman
Goreng jarangking: Dokumen Facebook

Opsi kedua;

Dipepes/dipais(bahasa sunda), ambil jarangking. Masukan irisan bawang merah, bawang daun dan daun salam, masukan juga serai dan daun selasih. Bungkus dengan daun pisang. Kukus selama setengah jam. Angkat dan sajikan dengan nasi hangat, sambal plus lalapan. Ini pun tak kalah menggiurkan.

Jarangking masih banyak ditemukan di daerah Pelabuhan ratu, Tegalbuleud (Sukabumi). Agrabinta, Sindangbarang dan Cidaun (Cianjur Selatan), daerah Rancabuaya dan pantai Garut. Sekarang bahkan sudah dijual secara online. So, kalo belum mencicipi pasti kalian penasaran, loh!

Sekian dulu thread ane kali ini, jangan lupa kasih cendol, dan komen ya gan, sis🥰

emoticon-Cendol Gan

emoticon-Add Friend (S)

Salam santun,

#cintai_kuliner_nusantara

Sumber: Opini pribadi
Gambar: Dokumen pribadi dan Facebook
Referensi : klik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bejosegerwaras dan 30 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh zatilmutie
Halaman 1 dari 3
sundul gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 9 lainnya memberi reputasi
pejwan🥰
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 9 lainnya memberi reputasi
Seperti banyak ditemukan di pesisir pantai..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
kitain jarangking yang terbuat dari nasi yang dikeringkan, ternyata ikan teri. Aneh ini, baru tahu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
wah baru tau gimana rasanya? pengen nyoba
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Jarangking tuh demit yg datang tak dijemput pulang tak diantar itu yah emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
pernah coba, rasanya cuma asin doang, buat bibir gatel juga.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
semacam jenis ikan teri medan ya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Jadi pengen coba
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
baru tau jenis makanan spt ini, kalo berkunjung ke sana ane pengen nyobain
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
warisan budaya termasuk kuliner kalo mau bertahan ya harus berkembang sesuai zaman. kalo gak berkembang ya bakal tergerus.

contoh sushi sama pizza. sushi jaman dulu monoton, kalo skarang sudah sangat variatif. sementara pizza dulunya identik dengan makanan orang miskin dan dijual di pinggir jalan (tanpa keju) kalo sekarang mah jangan ditanya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh megatron21
Lihat 1 balasan
seumur umur belum pernah makan ini ikan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
kok mirip peyek teri ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
belom pernah makan kayaknya enak tuh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ikan teri bukan? Sepertinya enak, boleh dong dimasakin
🤭🤭🤭
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:

Kalo beli di online ongkir mahal, kalau buat gk bisaemoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Oh dendeng teri ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
kabita euy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ahay pantainya ane kenal, itu pantai bayah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ouh ini ikann ya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di