CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5edb1c2c4601cf4128297696/abidah

Abidah

Cerita Bersambung (Cerbung Nibrasulhaq)

Abidah


#Part 1

#Abidah

#Rasa yang Hadir


Gelisah, sebuah kata yang membuat Abidah kesulitan untuk memejamkan mata sayunya warisan dari sang ibu malam itu. 

Lelaki teman masa kecilnya enam bulan terakhir telah mengisi hari-harinya, malam itu nekad  menyatakan isi hatinya.

“Maukah kau menjadi wanita yang mendampingiku hingga menua?” tanya Fahri penuh harap.

Antara rasa bahagia, cemas dan khawatir menghantui batinnya malam itu. Bahagia? Tentu ia bahagia, karena keinginannya segera menikah akan segera terwujud.

Cemas? Wanita itu cemas, akankah kedua orang tuanya merestui hubungannya hingga jenjang pernikahan.

Kedua orang tua Abidah selama ini belum mengetahui sejauh mana hubungan putrinya dengan Fahri seorang duda cerai beranak satu itu. Ayah dan ibu Abidah tahunya dulu mereka hanya teman bermain di masa kecil. 

Abidah adalah gadis kecil yang selalu saja manja kepada Fahri, dan menganggap Fahri sebagai kakak.

Karena dahulu tidak jarang Fahri selalu menjadi pelindung Abidah ketika ada teman-teman sepermainan mengganggunya. Fahri pun dengan bangganya menjadi sosok pahlawan bagi Abidah.

“Dek, dek …,” panggil Fahri sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Abidah.

Abidah yang tengah melamun menerawang mengingat masa kanak-kanaknya tergagap mendengar panggilan lelaki diseberang mejanya, “i-i-i iya kak, bagaimana? Tadi bilang apa?”

“Melamun apa sih dek?” tanya Fahri penasaran.

“Kak, kakak ingat tidak dahulu waktu Samsul anak yang gemuk itu mengejar adek dengan membawa cicak untuk menakut-nakuti adek?” tanya Abidah kepada Fahri dengan riang.

“Hemmm, ingat lah dek, dan gadis cantik itu akhirnya berlari-lari memanggil nama Fahri, kemudian berlindung di belakang tubuh Fahri yang jangkung kan?” jawab Fahri penuh rasa bangga dan bahkan ada nada sombong tersirat dalam kalimatnya.

Abidah dan Fahri pun akhirnya terkekeh bersama mengingat kenangan masa kanak-kanaknya, sambil menyedot es jeruk yang semakin dingin disamping semangkuk bakso.

Semangkuk bakso beranak yang aroma kuahnya membuat saliva berontak ingin segera menyantapnya, menjadikan pertemuan mereka semakin hangat.

“Dek, kok enggak dijawab sih pertanyaan akak?” Fahri kembali menanyakan niatannya berjumpa kali ini.

“Jangan membuatku penasaran dong dek,” lanjut Fahri.

“Waduh kak, tadi tanya apa ya?” Abidah menanyakan ulang apa yang tadi ditanyakan.

Abidah bukan tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Fahri sebelum bakso yang dipesannya disajikan.

Namun Abidah hanya antara percaya dan tidak percaya akan pertanyaan Fahri kepadanya. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa pernyataan Fahri tadi bukanlah main-main.


Apa jawaban Abidah kepada Fahri?

TBC ya ....

Tulisan: Nibrasulhaq
Sumber gbr: Pinterest



pejwan
pejwan
amankan

Abidah (Jawaban)

Bismillah.

Abidah

Part 2

Abidah bukan tidak mendengar apa yang ditanyakan Fahri sebelum semangkuk bakso yang ia pesan tersaji di hadapan.

Namun Abidah hanya antara percaya dan tidak percaya akan pertanyaan Fahri kepadanya. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa pernyataan Fahri tadi bukanlah main-main.

“Dik, mau tidak jadi istriku?” tanya Fahri dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

Selain bertanya dengan suara lebih keras, Fahri juga menarik mangkuk bakso yang berada di hadapan Abidah.

Seketika itu juga mulut Abidah yang tengah penuh bakso hampir saja menyembur karena kaget. Mata Abidah yang sayu terpaksa melotot karena tersedak makanan yang sebagian berada di mulutnya.

Dengan sigap, Fahri pun menyodorkan es jeruk yang berada di samping Abidah.

Setelah meneguk es jeruk yang disodorkan Fahri, tiba-tiba keduanya saling menatap meski hanya sekitar dua detik. Abidah segera menundukkan pandangannya, karena degupan jantungnya semakin kencang.

Ia tidak mengira jika Fahri harus mengulang pertanyaannya. Itu artinya, Fahri sungguh-sungguh dengan pertanyaannya kali ini.

“Abidah, aku tidak main-main ini, tolonglah serius menanggapi!” tegas Fahri.

“Aku memang pernah gagal dalam berumah tangga, tapi kali ini Aku akan belajar untuk tidak mengulang kesalahan itu,” jelas lelaki berhidung mancung itu.

“I-iya Kak, bukannya Adik enggak mau serius menanggapi atau main-main dengan hubungan kita ini,” jawab wanita berjilbab tosca itu sambil menunduk.

Abidah sedang berfikir keras menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaan lelaki berwajah lancip itu.

Wanita berusia 26 tahun itu tidak ingin jika jawaban dan kata-katanya melukai lelaki yang tengah duduk di hadapannya.

“Adik juga ingin serius Kak, tapi …,” Kalimat Abidah menggantung.

“Tapi apa?” tanya Fahri tegas.

“Bapak sama ibu Abidah, Kak …,” jawab Abidah kembali dengan kalimat menggantung.

“Kenapa dengan bapak dan ibu, Adek? Tidak setuju? Karena aku duda?” cecar Fahri.

“Bukan begitu Kak,” timpal Abidah dengan suara sedikit bergetar.

“Selama ini Adek enggak pernah cerita tentang hubungan kita.”

“Kakak tahu sendirilah bagaimana masyarakat kita memandang seseorang yang pernah gagal dalam pernikahan,” Abidah memberikan penjelasan, meski kepalanya masih saja menunduk dengan mengaduk-aduk bakso yang tersisa.

Mangkuk yang tadi sempat jauh darinya, ia tarik kembali lebih dekat dengannya.

“Kalau begitu, kamu sendiri bagaimana terhadapku?” tanya Fahri meminta kepastian wanita di hadapannya kali ini.

“Kalau aku … aku …,” Abidah lagi-lagi menggantung kata-katanya.

“Apa?” tanya Fahri semakin penasaran dengan wanita berkulit kuning Langsat ini.

“Hemmm, begini Kak, beri aku waktu satu pekan, biar aku istikharah terlebih dahulu, dan tolong Kakak juga demikian, bagaimana?”

“Begitu?” sahut Fahri.

“Baiklah, kalau itu maumu,” lanjut lelaki beralis tebal itu.

“In sya Allah Kak, do'akan saja, semoga segera dapat jawaban,” jawab Abidah.

Setelah percakapan keduanya menemukan kata sepakat, untuk rencana sementara setelah ini, suasana menjadi sedikit tegang dan hening. Masing-masing dari mereka sibuk dengan apa yang ada di pikirannya.

TBC ya ....


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di