CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
H-3 | Cerpen ( H Min Tiga)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5edaf836a72768635106ddf0/h-3--cerpen--h-min-tiga

H-3 | Cerpen ( H Min Tiga)

Album berisi foto-foto *pre-wedding* terlihat sangat menarik di mata Sinar. Setiap latar yang digunakan seolah-olah ingin dijajal oleh perempuan berumur 27 tahun tersebut. Tak jarang, pujian dilontarkan tiap kali membuka lembar selanjutnya.
Memang, *Queen's Bridal and Wedding Organizer* menjadi salah satu penyelenggara pesta pernikahan terbaik di kotanya. Oleh karena itu, ketika keinginan untuk melepas masa lajang akhirnya datang, Sinar segera menambatkan pilihan pada penyedia jasa tersebut.
H-3 | Cerpen ( H Min Tiga)
"Yang ini aja gimana?" kata Sinar pada Nanda, sang calon suami. Jemarinya menunjuk pada satu foto dengan tema koboi.
Nanda menaikkan sebelah alis. Bibir lelaki yang usianya genap tiga puluh tahun minggu lalu itu mengatup.
"Kamu yakin mau pose kayak gitu?" tanyanya.
"Iya, dong. Seingatku belum ada yang pakai ini di tempatku." Sinar menjawab dengan semangat.
Helaan napas panjang dikeluarkan Nanda. Ia mengamati foto sejoli yang tersenyum bahagia dalam album tersebut.
"Naik kuda, lho. Bisa?"
"Nanti pasti ada pawangnya. Iya, 'kan, Mas?" Sinar bersikukuh. Pandangannya teralih dari Nanda kepada dua pegawai *Queen's* yang telah memberikan penjelasan dua jam lalu.
"Nanti ada *pekatiknya*, kok, Mas. Sudah ratusan pasangan yang milih itu dan selama ini enggak ada masalah." Salah satu dari pegawai *Queen's* menjelaskan.
Nanda manggut-manggut. "Kenapa enggak yang tradisional aja? Kan, bagus. Lebih ada unsur sakralnya."
"Udah biasa itu. Aku mau yang agak beda dari yang lain."
"Kalau enggak mau pakai baju seperti yang di foto, bisa diganti dengan pakaian tradisional. Ada, kok, yang pakai kebaya sementara nanti pengantin laki-lakinya memakai baju lurik atau beskap. Jadi, nanti kita ubah tema kayak tempo dulu," jelas salah seorang pegawai *Queen's* seraya mencarikan potret dari penjelasan yang dimaksud.
H-3 | Cerpen ( H Min Tiga)
Mendengar itu, Sinar menggeleng cepat. Wajahnya sarat ketidaksukaan. Sementara Nanda tak bisa lagi membujuk. Ia akhirnya mengikuti kemauan sang calon istri.
"Kalau begitu, tim kami akan melakukan kontak dengan vendornya lebih dulu, ya, Mbak Sinar. Setelah *deal*, baru pemotretan dapat dilakukan."
"Kira-kira kapan, ya, Mas?" Nanda bertanya.
"Biasanya hanya menunggu tiga hari, tetapi kami beri batas waktu hingga seminggu. Lebih dari itu, akan kami konfirmasikan kepada Mbak Sinar dan Mas Nanda. Nanti kami usahakan mengambil waktu pas *weekend*, jadi enggak ganggu jadwal kerja Mbak dan Mas."
Nanda manggut-manggut. "Oke."
Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya pertemuan ke sekian itu selesai. Dua pegawai *Queen's* segera undur diri untuk menemui pasangan lain, sementara Sinar dan Nanda masih anteng di kafe tempat mereka berjanji.
"Mas," panggil Sinar.
Nanda menoleh. Tangan kanannya masih memegang sedotan untuk mengaduk-aduk minuman.
"Makasih, ya." Sinar melanjutkan.
Nanda sempat terdiam, tetapi wajah dengan senyum lembut itu akhirnya mempengaruhi. Lelaki itu pun mengangguk sembari membelai kepala gadis yang akan dinikahinya bulan depan.
.
.
H-20
Skuter matik itu terparkir di halaman yang diteduhi pohon mangga. Sinar turun dari motor lalu melepas helmnya. Ia langsung menduduki sofa ruang tamu dengan wajah lesu.
"Tumben pulang malam."
Sapaan dari sang ibu dibalas dengkusan dari Sinar.
"Tadi ada masalah di kantor," jawabnya.
"Masalah apa?"
"Selisih tadi, lebih dari satu juta."
Handayani, ibu Sinar, menghela napas. Ia pun mengambil tempat di sebelah sang putri.
"Ketemu?"
Gelengan dari Sinar membuat perempuan berusia lima puluhan itu menatap prihatin. Ia elus lengan putrinya yang berwajah masam.
"Ya, sudah. Ikhlasin aja. Insya Allah ada gantinya. Lagian kerjaan sebagai kasir emang gitu, 'kan? Dulu juga kamu cerita kalau pernah selisih."
Sinar bergeming. Ia baru membalas sesaat kemudian.
"Iya, sih. Tapi dulu ketemu. Toh, Sinar jarang dapet selisih segede ini. Paling mentok enggak lebih dari seratus ribu. Lagian itu para sales pada enggak ngaku."
Handayani berdecak.
"Eh, enggak boleh menuduh seperti itu. Siapa tahu emang kesalahannya ada sama kamu yang kurang teliti."
Sinar memberengut. "Sinar kan jarang banget keliru, Bu. Makanya dipilih jadi kasir."
Melihat sang putri belum reda kesalnya, Handayani tersenyum.
"Iya, Ibu tahu. Anggap aja ujian menjelang pernikahan, biar lancar pas hari H dan langgeng."
Sinar menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Dijelaskan seperti itu membuatnya sedikit terhibur. Ia mengamini ucapan Handayani.
Ia menyadari, pekerjaannya sebagai kasir di salah satu distributor bahan pangan memang tergolong riskan. Jika tidak teliti, selisih berapa pun akan menjadi tanggungan. Hal yang sebenarnya setimpal dengan gajinya per bulan.
Sinar berusaha melupakan kejadian itu. Ia melepas kaos kaki yang belum sempat dijamah.
"Sin," panggil sang ibu yang membuatnya seketika menoleh. "Soal hari H nanti, Ibu merasa itu acaranya terlalu meriah. Kamu yakin mau ambil paket yang itu?"
"Yakin, Bu. Kan udah siap semuanya, masa mau di-*cancel*? Rugi uang muka, dong."
Handayani menghela napas. Ia menatap ke lantai. Melihat adanya perubahan air muka pada sang ibu, Sinar segera paham. Ia pun memeluk tubuh Handayani yang makin berisi.
"Bu, Sinar pengin pernikahan sekali seumur hidup ini jadi momen enggak terlupakan. Sinar sering lihat acara nikah temen-temen yang lebih heboh dari yang Sinar pilih. Lagian itu kan bagus buat kenang-kenangan nanti."
Handayani mengusap lengan sang putri yang mengalung di lehernya.
"Iya, Ibu tahu. Tapi, pernikahan itu bukan sekadar acaranya, namun juga kehidupan setelahnya. Apa enggak *eman-eman* itu uang tabungan kamu selama ini? Kan, lebih baik digunakan buat keperluan kamu di masa depan."
"Sinar paham, kok, Bu. Kan, Ibu selalu ngingetin. Tapi, Sinar punya pandangan sendiri sama pesta pernikahan. Justru karena cuma sehari semalam, Sinar pengin ngerasain kasih sayang yang penuh dari orang-orang tercinta. Karena di hari itu, semua orang akan berbagi kebahagiaan. Para tamu akan memberikan doa, sementara Sinar akan menjamu mereka dengan pelayanan maksimal. Di hari itu, Sinar pengin semuanya bersuka cita."
"Iya, deh, iya. Ibu mengalah. Toh, semua pakai uang kamu."
Sinar yang tadinya menyandarkan kepala pada bahu empuk sang ibu seketika beranjak.
"Ih, Ibu ini, ah. Ngeledek, ya? Nanti aku aduin Mas Nanda yang enggak diakuin perannya."
Handayani tertawa sementara Sinar hanya bisa memasang wajah kesal.
.
.
H-3
Sinar melambaikan tangan pada Nanda. Lelaki itu pun segera mengemudikan mobil putihnya. Ketika Sinar berbalik, didapatinya seorang tetangga yang baru saja keluar dari rumah disusul sang ibu.
"Haduh, ini calon manten masih aja ketemuan. *Ndak elok*, lho, sebenarnya, Sin. Nanti batal kimpoi. Kan kamu lagi dipingit."
Sinar tersenyum simpul.
"Iya, Bude."
Hanya itu tanggapannya. Sinar tak ingin menambah gondok di hati. Ia malas menjelaskan alasannya bertemu dengan Nanda. Mana mungkin orang lain akan mengerti kalau perusahaan tempatnya bekerja baru mengijinkannya cuti sehari sebelum hari H? Ditambah kesialan hari ini dengan motornya yang mogok. Belum lagi kejadian hampir terserempet bus diikuti omelan sang atasan tentang laporan akhir bulannya.
Sinar memilih diam.
.
.
Hari H
Ruang dalam masjid itu penuh wajah-wajah cemas. Beberapa tampak berbisik-bisik, membicarakan sang pengantin pria yang tak kunjung datang.
"Makanya kubilang juga apa, pantang ketemuan sama calon laki pas dipingit. Dianya ngeyel."
Satu suara itu didengar oleh Sinar. Walau tak menyimak dengan benar, hatinya sudah cukup tertusuk.
"Ponsel Mas Nanda enggak aktif, Tante. Coba saya hubungi rekan saya lagi."
Bisikan dari pegawai *Queen's* yang menjadi penanggung jawab acara kepada Handayani menambah kalut benak Sinar. Ia bahkan tak merasa jika air matanya telah menetes.
"Bagaimana Pak Surya, Bu Handayani? Ini sudah lewat satu jam lebih dari perjanjian awal. Saya harus mengijabkan pasangan lain."
Teguran dari seorang penghulu membuat wajah Handayani dan suaminya menjadi pucat.
"Apa tidak bisa menunggu sedikit lagi, Pak?" Surya mencoba membujuk.
"Maaf, Pak Surya. Saya rasa ini terlalu lama. Kasihan sama pasangan lain yang sudah menunggu." Penghulu itu pun bangkit dari duduknya lalu menyalami Surya dan Handayani. "Kalau pengantin prianya sudah datang, saya siap setelah bakda Zuhur nanti. Permisi."
Kepergian sang penghulu menambah pedih hati Sinar. Gadis itu telah terisak-isak. Kasak-kusuk tentang si pengantin yang batal nikah terdengar dari beberapa kerabat dan tetangga turut serta menambah suram.
Tak ada angin, tak ada hujan. Nanda malah menghilang tepat di hari pernikahan. Rasanya Sinar tak percaya. Ia yakin semuanya hanya mimpi. Padahal semalam mereka masih saling mengucap cinta lewat gawai. Nanda bahkan berkata akan menyiapkan kejutan.
Inikah kejutan yang ia maksud?
Sinar masih ingin mengingkari ketakutannya, tetapi perih di hati membuatnya sadar. Semua ini nyata dan sedang terjadi.
Ketika hatinya sudah carut-marut, satu pemberitahuan datang dari Handayani.
"Sin, ini ada telepon dari saudaranya Nak Nanda, dia bilang--
Sinar tak mengizinkan ibunya meneruskan kalimat. Ia segera menyambar ponsel yang disodorkan, berharap ada titik terang untuk menyelamatkan masa depannya yang terancam hancur.
[Halo, Mbak Sinar? Mbak, maaf....]
Sinar menutup mulut. Rasanya ia ingin tuli saat itu juga. Informasi yang disampaikan tersebut ingin membuatnya berteriak.
***
H-3 | Cerpen ( H Min Tiga)
Foto *pre-wedding* itu seolah mampu menampakkan aura kebahagiaan dari sejoli yang terpotret. Si gadis yang memakai kostum ala koboi terlihat sangat cantik di atas kuda, sementara sang pria yang berpose menuntun si hewan tunggangan tampak gagah dengan pakaian serupa.
Potret dalam pigura besar tersebut terpampang di depan sebuah gedung sebagai penanda. Sementara, dalam gedung serba guna yang telah disulap menjadi pesta pernikahan yang indah, para tamu undangan terlihat gembira. *Live music* sebagai hiburan menambah meriah. Wajah-wajah semringah tercetak pada tiap yang hadir. Itu adalah hal yang diidamkan Sinar di hari pernikahannya.
Gadis itu kini duduk di panggung pengantin, bersama laki-laki yang selama ini selalu menemani. Acara pernikahannya memang tak sesuai rencana, mundur hingga hampir lima jam karena sang mempelai pria mengalami kecelakaan sewaktu menunggang kuda.
Nanda memang berencana memberikan kejutan dengan datang bak pangeran berkuda putih seperti yang biasanya ada dalam dongeng. Akan tetapi, kejutan itu malah berujung celaka ketika tiba-tiba si hewan tunggangan mengamuk. Ia malah harus mengganti biaya berobat pegawai *Queen's* yang turut menjadi korban selain dirinya sendiri. Beruntung, pegawai yang menjadi pengiring pengantin pria tersebut hanya pingsan dengan sedikit memar, tidak menderita luka parah.
Sinar menoleh kepada Nanda. Senyumannya dibalas laki-laki yang kini sah menjadi suami. Ketakutannya kini berubah kebahagiaan tak terkira. Tangannya lantas menggenggam erat di lengan Nanda hingga membuat senyum suaminya tersebut berubah menjadi erangan.
"Aduh, maaf, Mas, maaf. Aku lupa."
Sinar memasang wajah menyesal sedangkan Nanda hanya bisa meringis sembari menahan sakit pada lengan kirinya yang diperban. Lelaki itu bersyukur hanya lengannya yang menjadi korban, bukan bagian lain.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
amaliasyifa dan 2 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di