CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-IX Beralih Hujud
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ed5bf4526377238b13e51f5/penyewekan-pengasih-bagian-ke-ix-beralih-hujud

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-IX Beralih Hujud

              Badan tegap berdiri mematung didalam kompleks kuburan itu, angin malam seakan tidak mampu menebus kulitnya yang digambar dengan tinta, terbukti dia hanya memakai  singlet hitam dan celana jeans pendek, dengan tas kecil melintang didepan dadanya.

                “Ban***t!!, Wahyu!”, Odik berbisik lagi, aku merayap dengan kedua tanganku layaknya pasukan Ciung Wanara berusaha mencari sudut yang bagus agar bisa melihat gerak-gerik si kampret yang menjadi sumber kerepotanku ini.

                Untungnya kompleks kuburan bayi ini posisinya lebih tinggi dari kuburan biasa yang ada bawahnya hampir 4 meteran, mungkin karena kuburan milik anak2 yang dosanya lebih sedikit dari orang dewasa makanya tidak masalah lahanya agak tinggi.

               Sekitaran kuburan bayi ini juga lebih rimbun agaknya jarang dibersihkan oleh warga desa, menunujukan angka kematian bayi dan anak2 di desa ini tidak banyak, “Kadang analisaku keluar disaat yang tidak tepat!”, aku bergumam sambil tanganku bergerak memberi syarat Odik menyusulku merayap mendekat, kami sudah seperti penembak jitu sungguhan.

                Wahyu terlihat panik tengok sana sini, seolah mencari sesuatu yang benar2 sangat ia butuhkan, Ia pun beranjak melangkahkan kaki perlahan agak gugup menuju jalan setapak penuh patung ke dalam kompleks kuburan yang aku lalui tadi.

                Meskipun dengan jarak 20 meter antara tempatku dan Wahyu tapi aku masih bisa melihat jelas ada ekspresi ketakutan yang amat sangat tergambar dari wajahnya yang seharusnya anti takut itu.

                “Apa je alihe mai Yon?!, (Apa yang dia cari kesini Yon?!)”, Odik berbisik pelan membuatku menengok kearahnya.

                “Ndepang iban ci!, (Diem kamu!), pasti ini ada hubungannya dengan kejadian yang tadi!”, aku menjawab kemudian kembali memalingkan wajah fokus pada target yang terlihat berjalan melintasi batu nisan.

                Dengan langkah gemetar dipandu cahaya korek gas yang ada lampu kecilnya, wahu menyusuri jalan melalui para Cikrabala yang seakan hidup memandanginya, sesaat langkahnya berhenti, Wahyu celingukan dan menarik nafas dalam kemudian melanjutkan kembali langkahnya.

                “Nyelaang margi, (Permisi)”, Wahyu nampak terus mengucapkan kalimat itu saat berpapasann dengan nisan dan patung yang menjaga jalan.
 
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-IX Beralih Hujud
patung dalam bahasa derahnya togog, sang suartma (kiri menulis, bertugas mencatat dosa semasa orang hidup), sang jogormanik (kanan membawa gada, bertugas menghukum sesuai dengan karma dan dosa yang dicatat semasa hidupnya) ilustrasi diperoleh dari internet, btw pahatanya bagus.

                Sampai ahirnya suara semak bergoyang tertimpa ranting kering beringin yang terjatuh membuat Wahyu terperajat, segera tangannya gemetar kecacungan (kelabakan) membuka tas selmpang didadanya merogoh sesuatu, aku memicingkan mata, kalau saja mahluk mengerikan muncul dari balik semak aku akan lari kencang meninggalkan orang disebelahku yang terus melotot memegangi kaca matanya.

                “Nas Bedag!!, (sialan!!, *sebenarnya terjemahanya tidak begitu cuma maknanya gitu)”, aku mengumpat sembari memukul lantai tanah dan rumput dengan kepalan taganku, Odik menyenggolku menyadari suaraku agaknya sedikit keras.

                “Cara miong belog cang not!, (kayak kucing bego aku!)”, bisikku pada Odik yang melongo juga, pribahasa kucing bego gak bisa membedakan mana ikan asin mana ayam geprek, semua omongan orang aku makan dan beri harapan untuk percaya, dan ternyata.

                “Wahyu cai mula jelema (wahyu kamu memag orang) *#@*$@*!”, Odik berbisik mengumpat dengan begitu kesal.

                “Ampunang gugule tiang ampunang gugule! (jangan ganggu saya jangan diganggu!)”, Wahyu meringis memejamkan mata tangan kirinya menerangi semak dengan cahaya senter sementara tangan kanannya mengacungkan Pengutik (pisau belati) kearah semak itu.

                Pengutik indah sama berkilaunya dengan yang sosok mengerikan diatas atap Gedong rumah Mira beberapa saat lalu yang aku dan Odik hadapi.

                “Ternyata anak dan ibu kerja sama Yon!”, suara desah pelan menembus telingaku, aku terus memandangi Wahyu yang kelihatan berjalan pelan melewati semak tadi, keringat membasahi tubuhnya.

                Begitu juga dengan diriku yang mulai berkeringat ditengah malam ditempat yang seharusnya belum menjadi tujuanku, perlahan aku menyeka keringat dikeningku, ku lirik sahabatku disebelah yang ngejengit (menujukan gigi) emosi.

                Langkah Wahyu tertuju pada sebuah gundukan tanah persegi yang dibingkai dari undag (tangga) beton kemudian dia naiki 3 anak tangga yang sudah mencapai ujung tempat itu, tempat pembakaran mayat, sama dengan yang ada dibelakang tempatku bersemunyi cuma lebih besar ukurannya.

                “Apa kel gae ci buin Yu?! (Kamu mau ngapain lagi Yu?!)”, aku bergumam dalam hati mencoba mencari tau apa yang akan pemuda itu lakukan saat ia mengambil bungkus tas kresek hitam dari dalam tas selempangnya. ia balikan kresek merah itu menuangkan segala isi didalamnya ke atas gundukan tanah yang ditutupi abu hitam.

                “Tanah Setra (kuburan)!”, Odik menepuk bahuku meyakinkan apa yang matanya lihat sama dengan yang aku lihat. Benar saja gumpalan tanah basah yang sudah menyatu menggumpal keluar dari kresek itu. Dugaan Odik selama ini benar bahwa Wahyu ikut bermain dalam kekalutan ini.

                Wahyu kemudian turun menuju sebuah patok paling diujung dari semua pusaran, Wahyu berjalan mendekatinya, pusaran dimana aku dan Odik tadi bersimpuh disana.

                “Ngudiang ye sik dadongne Mira? (ngapain dia ke kuburan neneknya Mira?)”, Odik penuh kecurigaan membisikan suara yang masuk dari telinga kananku.

                Wahyu berdiri disebelah pusaran itu, cahaya senternya menerpa batu paras berukir nama, tanggal lahir dan tanggal wafat, Wahyu jongkok disebelahnya cahaya senter menyapu gundukan tanah ditumbuhi rumput yang telah dipangkas tapi

                “Stagen e ija (dimana)?” aku berbisik kemudian beberapa kali mengucek mata dan menampar pipiku sendiri, saat menyadari cahaya senter tidak menunjukan kain panjang yang tadi aku gerai disana. Bagaimana bisa hilang dan siapa yang mengambil, setauku cuma aku dan Odik yang ada disini tadi tidak ada manusia tidak ada hewan yang mungkin mengambilnya.

            Odik menggeleng kearahku, nyamuk di kaki seolah puas berpesta menyedot beberapa liter darahku dan Odik, kamben in seakan mudah saja ditembus, aku mengusap kulit kakiku, sambil berusaha melupakan stagen itu, sampai aku tersadar kembali dibelakangku gundukan tanah kecil membuat bulu kakiku merinding terlebih lagi tadi aku merasa sentuhan2 menggelitik telapak kakiku, yang sengaja aku tidak respon karena takut melihat sesuatu yang mungkin saja merangkak dibelakangku.


                Mataku kembali terfokus kearah saingan si Odik yang kini berjalan cepat  ingin segera keluar, tapi tiba2 aku melihat Wahyu melambatkan langkahnya dan celingkukan lagi, keringatnya membasahi singlet hitam mengucur deras diwajah yang kembudian diusap dengan tangannya.

                “Aruh!!” suara itu yang keluar dari mulutnya, serta hembusan nafas berat menunjukan kegerahanya, perlahan Wahyu melangkahkan kaki, tangannya tidak lepas menggaruk rambutnya, korek dan pengutik dia masukan kembali ke dalam tas.

                Begitu sampai gapura untuk keluar, entah kenapa Wahyu semakin Inguh (supek), keringatnya semakin deras membasahi sekujur tubuhnya, matanya berkeliling melihat kesana kemari, sampai matanya tertuju pada sebuah patung yang dibawahnya terdapat keran berlumut meneteskan air.

                Aku memang sedikit kepanasan rasanya akan berfikir seribu empat ratus delapan puluh delapan kali kalau mencuci muka disana, tapi Wahyu kehilangan jiwa pengecutnya yang tadi, saat perlahan tas selempang diletakan di atas jalan setapak, baju singlet basah keringat itu dia buka dan perlahan celana jeans bersabuk kulit akan dibuka juga.

                “Apa gae jeleme to! (itu orang mau ngapain!)”, Odik keheranan, begitu juga aku yang mengerutkan dahi menyaksikannya.

                Sabuk kulit yang aku lihat di pos kambiling itu melilit di pinggang Wahyu, berkali2 dia paksa untuk terlepas tapi macet tidak mau, ahirnya sedikit emosi dirogoh kembali pisau tadi di tas dan kain celana yang merupakan tempat sabuk Wahyu potong.

                Celana itu pun melorot sementara sabuknya tetap melingkar di pinggang, aku benar2 pingin ketawa menyaksikan itu didepanku, apa sejatinya yang Wahyu pikirkan sampai kegerahan dan membuka pakaian larut malam dan parahnya di tengah kuburan begini.

                Tersisa celana dalam saja yang menututpi badannya Wahyu, dia nampak kembali celingukan liahat sana-sini dan ahirnya melorotkan semuanya sampai ia benar2 telanjang bulat hanya menyisakan sabuk melingkar di pinganggnya.

                “What the f***??!”, antara geli bercampur heran aku menyaksikan pemandangan manusia telanjang tengangah malam di area kuburan, “Ini orang kenapa?!”, aku nepok jidat berkali2 melihatnya.

                “Kricik Kricik Kricik”, Wahyu memutar keran hingga air mengucur menimpa batu dibawahnya, dia segera membasuh wajahnya yang kelihatan merah padam kepanasan, kemudian mengusapkan air segar ke tangan dan kakinya sampai ahirnya dia jongkok membiarkan air mengalir membasahi ujung rambut sampai ujung kaki, aku lihat dia begitu bersemangat menggaruk rambutnya yang basah oleh air, entah kenapa rasa takut yang dimilikinya saat pertama menginjakan kaki dikuburan ini sirna, dan sekarang begitu Enjoy laksana mandi di rumah sendiri.

                Dengan ogah aku hanya memandangi Wahyu sesaat saja, entah kenapa aku merasa tidak enak menelan ludahku sendiri, sampai aku menemukan sebuah hipotesis dari melihat si Wahyu yang dengan segarnya menggosokan badannya dengan air.

                “Dik!”, aku berbisik kepada kawan disebelahku yang kemudian menoleh penasaran, “Asanange minab cang nawang (kayaknya aku mungkin tau), kenapa Mira degeng (nyaman) sama Wahyu”, sambungku.

                “Engken lane? (emang kenapa?)”, dia berbisik kepadaku, aku memalingkan wajah kembali pada si Wahyu yang jongkok dibawah cucuran air, begitu juga Odik yang ikut memandanginya.

                Kemudian kembali wajahku menatap si Odik dan diikutinya sampai kami saling berhadapan, aku naikan alis beberapa kali meski dibalas dengan ekspresi wajah tidak pahamnya Odik, sampai beberapa detik tepukan dibahuku mendandakan dia paham.

                “Kleng! (sialan!)”, segera Odik menutup mulutnya yang kekencengan ngomomng. “Ssttt!”,telunjuk dibibirku menyuruh Odik memelankan suara.

                “Kondisi gini sempet aja kamu meboya (bercanda) Yon!”, ucapnya dengan serius sepertinya hipotesisku ditolaknya mentah2. 

                “Nyen nawang masalah ukuran nyen (siapa tau masalah ‘Ukuran’ mungkin)”, bisiku, namanya kemungkinan kan siapa yang mengetahui, Odik memalingkan pandangannya pada patung bertaring yang ada keran dikakinya, tidak memperdulikanku yang garuk kaki sana sini.

                “Hummmmm!!”, Odik melotot membekap mulutnya sendiri menahan teriakan yang hampir saja keluar, aku yang baru selesai membunuh beberapa ekor nyamuk menatap wajahnya kemudian mengikuti arah hitam bola matanya.

                “hah..hah..hah”, nafasku sesak dan badanku mendadak terasa membeku melihat sesuatu yang benar2 tidak mungkin terjadi.

                Patung berlumut itu yang tadinya menatap lurus seakan hidup dan entah sejak kapan kepalanya bisa sedikit merunduk kebawah melihat siapa yang mandi dibawahnya, dan yang paling parah adalah aku bisa melihat Wahyu tidak ada lagi disana yang ada hanyalah,

                Sosok mahluk berbulu lebat yang jongkok menggosok badannya dibawah cucuran air keran disana, jelas sekali itu adalah Bojog (monyet) tapi besar banget untuk ukuran normal di alam,mungkin lebih mendekati orang utan untuk ukuran, bulunya kehitaman terlihat basah diusap dengan kedua tangan berjari panjang, taring juga mencuat saat mahluk itu berkumur.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-IX Beralih Hujud
gambar ilustrasi berbulu dan menyeramkan

                “Apa to (itu) Yon?!”, Odik gemetar menampar pipiku beberapa kali, sabuk kulit satu2nya yang melingkar di pinggangnya Wahyu sebagai tanda sudah tidak ada di tubuh monyet besar itu kini hanya gulungan ekornya yang melilit disana.

                Beberapa detik entah kenapa mataku seperti kalah cepat saat melirik kesa kemari sosok mahluk berbulu itu telah hilang disana, hanya ada pakean dan sendal milik si Wahyu terlipat.

                “Kleng kija to?! (sial kemana dia?!)”, aku berbisik pada Odik yang ternyata sama kehilangansosok moyet raksasa itu dari pandangannya.

                Dalam posisi tiarap dan dikerubuni semut dan nyamuk aku dan Odik seperti pemburu yang kehilangan buruan, tengok sana sini tidak juga ada tanda keberadaannya, yang paling aku takuti kalau saja Wahyu bersekongkol dengan ibunya, kemungkinan saja mengangkang dibelakangku dan langsung menikam kami dengan pisaunya.

                “Cang (aku) ada ide Yon!, Odik berbisik lalu menyeret tubuhnya perlahan ke pojok pembakaran mayat, entah apa yang dia gebur (bongkar) ditumpukan sampah bekas upacara penguburan yang setengahnya sudah menjadi abu itu, aku memalingkan wajah fokus pada kompleks kuburan dibawahku menjaga kemungkinan sosok itu nongol lagi.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-IX Beralih Hujud
gambar ilustrasi tempat pembakaran mayat berundag seperti gambar (hanya ilustrasi bukan bagian dari cerita)

                Beberapa saat Odik kembali merayap, dan kali ini berhenti disemak yang kanan kirinya terdapat pusaran bayi, kaca matanya dia letakan diatas patok bambu segar menunjukan dibawahnya baru diisi, perlahan dengan pososi merunduk Odik duduk bersila sesekali ia mengintip dibalik rerimbunan.

                “Ggudiang cai lengeh?! (ngapain kamu begok?!)”, aku malah jadi geregetan melihat dia melakukan hal aneh yang bisa memancing bojog itu mengetahui keberadaan kami.

                Setelah duduk agak merunduk, Odik ahirnya mengambil seseuatu disebelahnya, sebuah kukusan nasi dari ayaman bambu kerucut yang telah hangus sebagian dan compang-caming bekas dia ambil di tanah tinggi dibelakangku tadi.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-IX Beralih Hujud
ilustrasi kukusan bambu diambil secara acak dari internet

                “Ratu sesunan ring Pura Prajapati icen tiang nyingaken sane tan sida kacingakin damuh Ida, (Tuhan yang bersetana/tempat di pura kuburan mohon ijinkan hamba melihat yang tidak bisa hamba lihat *terjemahannya susah maaf jika salah*)”, sebuah doa singkat terlantun dari bisikan si Odik yang merem, perlahan kukusan itu tiangkat kekepalanya, aku melotot mengacungkan tanganku dan berbisik dengan jelas padanya.

                “Jangan!!!!”, terlambat kukusan itu bagai topi ualang tahun dikepa si Odik dan ketika matanya Odik dibuka, seketika dia melotot dan langsung kejang2, aku menerkam Odik

               “Nguiiing!!”, telingaku berdenging sama seperti saat dirumah Mira ketika badanku bersentuhan denga Odik yang mau teriak tapi keburu aku bekap.

                Aku bertarung seperti pegulat UFC melawan Odik yang sekan meronta melepaskan dirinya dari kuncian tangan dan kakiku entah Bojog (monyet) besar itu mingkin tertawa seandainya melihat pergumulan kami, aku merasa seperti baru bangun pagi, perasaan kantuk lemas dan pusing bercampur jadi satu.

              Suara jangkrik dan serangga malam lainya perlahan sirna kini yang aku dengar hanyalah suara jeritan dan tangisan bayi jelas sekali, sangat selas ketika terasa tubuhku berat ditindih oleh seseuatu yang tidak bisa aku lihat tapi terasa dan terdengar anak2 kecil tertawa.

                 Kuburan ini seakan dipenuhi suara2 ada suara tangis menjerit mita tolong ada juga suara tawa yang begitu gembira, kuburan ini tidak sepi tapi begitu ramai, Odik masih meronta, jelas badanku kalah dibanding dia yang lebih jangkung dariku.
Berikutnya aku mendengar suara gambelan dan gemuruh langkah kaki banyak orang tapi tidak ada apapun yang aku lihat hinga ahirnya suara

               Bersambung....



profile-picture
mastercasino88 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di