CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / Heart to Heart /
[CERPEN Creepy/Horor] Gara-Gara Terlambat
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ecf9d1ac0cad7453c03f8ae/cerpen-creepy-horor-gara-gara-terlambat

[CERPEN Creepy/Horor] Gara-Gara Terlambat

WARNING!!! Yang penakut jangan baca sendirian!

[CERPEN Creepy/Horor] Gara-Gara Terlambat

Gara-Gara Terlambat
Oleh: Silvie Wiska


Ah, bangun kesorean lagi. Alamat telat sampai di kampus. Buru-buru aku menghambur ke kamar mandi, kemudian segera menunaikan salat Asar.

Entah Ibu kemana, biasanya ia paling rajin membangunkanku untuk bersiap berangkat kuliah. Oh, barangkali karena ini Kamis sore, ada kegiatan mengaji rutin di masjid komplek.

Selepas magrib ini aku ada kelas mata kuliah Neraca Massa dan Energi. Berhubung jumlah SKS-nya tiga, mau tak mau harus ikut serta. Lumayan menutupi kekurangan di mata kuliah lain yang nilainya agak kurang.

Sekolah sambil bekerja memang lumayan berat. Apalagi lokasi kerjaku yang berada di luar kota, memaksaku untuk sering meninggalkan jam kuliah. Mungkin dalam seminggu, bisa dua sampai tiga kali aku absen masuk kampus. Tapi, aku bangga di saat teman-teman seumuran kuliah dengan biaya orang tua, aku bisa membiayai kuliahku sendiri.

Sebelum menyalakan mesin motor, aku sempatkan membuka ponsel. Ada beberapa pesan di sana.

[Ben, ke kampus gak malam ini?] Sebuah pesan via WA dari Robi teman sekelasku.

[Yoi, tungguin yak, depan perpus. Sejam lagi aku sampai.] Langsung aku kirim balasan.

Kulihat jam sudah pukul 17.00, perkiraan sampai kampus sekitar pukul 18.00, karena jalanan sore lumayan macet. Jam pulang kerja.

Sampai di kampus, aku tidak langsung menuju ke perpustakaan sesuai isi WA-ku pada Robi tadi, tapi aku sempatkan ke musala dulu. Di perjalanan tadi kudengar azan magrib berkumandang. Jadi, kuputuskan untuk salat dulu.

Saat berwudu, ponsel di dalam kantong celana tadi bergetar-getar. Mungkin WA dari Robi atau teman-teman lain di grup WA.

Aku abaikan saja semua pesan itu, tanpa mencoba membuka ponsel. Paling-paling teman-teman kampus sedang berbalas candaan di grup WA.

Keluar dari musala, kulihat jam di tangan menunjukkan pukul 18.30. Sekitar sepuluh menit lagi Pak Reynald, dosen killer itu akan masuk kelas. Namun, anehnya di musala tadi aku tak bertemu satu pun teman sekelas. Yang ada hanya mahasiswa dari jurusan lain, sekitar dua atau tiga orang saja. Itu pun mereka sudah selesai jam kuliahnya.

Biasanya sebelum masuk jam Pak Reynald, teman-teman sekelasku itu masih berkumpul di depan musala sekedar berbincang-bincang, atau kadang malah tidur-tiduran di saf belakang. Tapi, malam ini kenapa sepi.

Aku langkahkan kaki ke perpustakaan. Berharap Robi masih di sana menunggu. Melewati pelataran ruang-ruang kelas yang sepi tak berpenghuni, yang biasanya ramai di hari-hari tertentu. Tapi, tidak malam ini.

Beberapa langkah lagi menuju perpustakaan. Tak kulihat tanda-tanda kehidupan di sana. Robi tak terlihat batang hidungnya. Kulihat ke arah kelas di sebelah kanan ruang perpustakaan ini juga belum ada yang datang. Kosong.

Mereka harus melewati ruangan perpustakaan ini dulu sebelum masuk ke ruang kelas. Termasuk Pak Reynald, pasti dia juga akan lewat di sini, di depan bangku kayu panjang yang kududuki ini.

Melihat situasi yang mulai tak mengenakkan, segera aku arahkan tangan kananku ke kantong celana hendak mengambil ponsel. Tiba-tiba kudengar suara langkah kaki sedikit berlari dari arah kiri. Ah, Imel dan Dani rupanya.

Sepertinya pasangan telat ini cemas takut terlambat lagi. Lega, ternyata aku tak sendirian.

“Ben, kok sendirian? Yang lain kemana?” Imel yang masih ngos-ngosan karena tadi terburu-buru bertanya.

“Tau, nih. Pada kemana tuh bocah-bocah? Tadi aku janjian di sini nih sama Robi, gak kelihatan juga.” Aku pun menimpali.

“Eh, coba kita cek grup kali aja ada kabar apa gitu? Jangan-jangan Pak Reynald gak masuk lagi.” Dani mulai angkat suara.

Dari tadi masuk musala, keluar musala dan akhirnya sampai di depan perpustakaan ini tadi, aku belum membuka sedikit pun ponselku. Karena tadi terburu-buru takut dosen sudah datang duluan.

Belum sempat kami membuka ponsel masing-masing, tiba-tiba terdengar suara berat menyapa.

“Selamat malam.”

Perasaan tadi aku tidak mendengar suara langkah kaki bersepatu dari kejauhan. Kok, tiba-tiba sudah ada Pak Reynald di depan kami. Ia berjalan memasuki ruang kelas. Spontan kami bertiga mengikuti langkahnya dan mengambil posisi duduk masing-masing. Seperti biasa aku mengambil tempat mepet tembok dekat jendela, dekat pintu pula. Kulihat Imel dan Dani di kursi agak ke tengah.

Gedung perkuliahan ini memang sudah tua. Ada pilar-pilar tinggi besar yang menandai usianya yang mungkin telah hampir satu abad. Semua ruang kelas ber-AC, termasuk kelasku sekarang ini. Apa AC di kelasku baru saja diservis? Aku sampai merinding-rinding sejak masuk kelas tadi karena dinginnya. Mungkin juga karena bawaan mendung dari sore tadi, jadi udara lebih sejuk.

Aku lihat kedua temanku yang lain, Imel dan Dani sedang membuka-buka buku materi kuliah. Entah benar-benar serius atau sedang grogi karena takut tiba-tiba disuruh maju ke depan kelas oleh Pak Reynald.

Memang biasanya hampir setiap tatap muka, Pak Reynald yang terkenal merupakan dosen killer ini hobi sekali menyuruh mahasiswa memyelesaikan tugas soal di papan tulis. Namun, dia juga tak segan memberikan nilai paling istimewa, jika jawaban yang diberikan memuaskan.

Aneh … dosen bertampang garang dengan jambang lebat di kedua pipi hingga ke leher ini biasanya tak sediam ini. Hingga sepuluh menit di dalam kelas ia hanya terlihat terpekur duduk di belakang meja sambil menulis-nulis sesuatu.

Sampai akhirnya Pak Reynald berdehem, membuat kami bertiga seketika melemparkan pandangan ke depan. Aku lihat wajahnya pucat. Apa dia sedang sakit? pikirku.

Dia berdiri sambil mengambil spidol, ingin menuliskan sesuatu di papan tulis. Tapi, sepertinya isi spidol kering hingga tak keluar tulisannya. Aku pun berinisiatif hendak membantu,

“Pak, biar saya ambilkan spidol baru di ruang TU.”

Ruang kelasku saat ini adalah yang paling pojok. Harus berjalan lumayan jauh bila harus ke ruang TU, tapi sekali-sekali tak apalah jadi mahasiswa sok baik.

“Emm … tidak usah, biar saya ke TU, sekalian ada yang mau saya ambil. Sebentar ya….”

Aku pun mengangguk. Imel dan Dani mulai beringsut ke arahku.

“Ben, kok aneh, ya. Pak Reynald gak galak kayak biasa. Lihat gak tadi mukanya pucat banget.” Imel berujar dengan sedikit berbisik.

“Eh ... Pak Reynald pake parfum apaan sih? Kok tadi dia lewat depan kita kayak bau melati gitu?” Dani pun menimpali.

“Ih … kok horor gini sih … yang lain pada kemana lagi, kok belum pada datang udah jam segini juga.” Imel mulai keliatan gelisah.

“Udah … gak usah mikir aneh-aneh deh. Malam Jumat, nih.”

Aku sengaja membuat Imel makin kalut. Lucu aja lihat ekspresinya yang makin culun karena ketakutan.

Seketika aku teringat untuk mengecek ponselku. Dari tadi tak henti-hentinya bergetar. Entah apa yang diobrolkan di grup dari tadi sore hingga notifikasinya terus-terusan berdenting.

Mulai kubuka menu WA, sekitar lima puluh pesan belum terbaca. Dua pesan utama, chat dari Robi dan chat dari grup.

Chat dari grup kubuka sekilas, pesan terakhir bertuliskan,

[Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un …]

Ada beberapa orang temanku yang menyebutkan isi pesan yang sama di chat grup. Semuanya pesan duka-cita. Belum sempat kubuka WA dari Robi …

Tiba-tiba Imel berucap,

“Siapa sih yang meninggal? Di grup rame amat. Puluhan pesan gini, susah mau lompat ke atas.”

TOK TOK TOK …

Suara pintu kelas diketuk, dan …

“Mas, Mbak … maap ini kok pada di sini?”

Ternyata Pak Tarman, karyawan honor kampus yang biasa bertugas sebagai penjaga keamanan. Ia kelihatan heran melihat kami bertiga masih berada di ruang kelas.

“Ya, Pak. Ada kelasnya Pak Reynald.” Dani menjawab.

“Hooh Pak. Barusan Pak Reynald keluar, sebentar katanya mau ambil sesuatu di ruang TU. Tapi belum balik-balik lagi, nih.” Imel mulai gelisah lagi.

“Ya Allah, Mbak. Pak Reynald kan sudah meninggal ….”

“Tadi sore kena serangan jantung, waktu mau berangkat ke kampus. Makanya ini satu jurusan diliburkan. Dosen-dosen pada takziah….” Pak Tarman menjelaskan.

“Haaaaahh?! Ya Allah … Astaghgfirullah … jadi yang kita lihat tadi di kelas ini siapa, Gaes?”

Dengkulku terasa mau copot, bulu kuduk spontan berdiri setegak-tegaknya. Segera kami bertiga memghambur keluar setengah berlari meninggalkan Pak Tarman yang terbengong-bengong melihat kami yang lari terbirit-birit.

TAMAT

Jogja, 7 Oktober 2018
(Telah direvisi oleh saya sendiri pada 28 Mei 2020)

***

Gan Sist, ada yang punya pengalaman creepy di sekitar kampus? Bolehlah sharing di sini, walau bukan malam Jumat.emoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Wakaka


Eh, ternyata ini malam jumat yaa. lupaemoticon-Ngakakemoticon-Cape d...emoticon-Takut


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di