CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Part 01] I WANT LET YOU GO
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ecf9656af7e936586669b59/part-01-i-want-let-you-go

[Part 01] I WON'T LET YOU GO

[Part 01] I WANT LET YOU GO
"Gue benci banget sama dia. Tapi gue lebih benci sama diri gue sendiri..." "...karena meskipun dia udah nyakitin gue, rasa sayang gue ke dia bahkan ngga bisa ilang."


____________________________________


"Dijodohin?!"

"Iya." Dengan kalem seorang pria paruh baya menjawab teriakan anak gadisnya.

"Anna ngga mau dijodohin, Pa."

"Coba dulu aja sih, Na." Bujuk wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.

Anna menghela nafas kasar, "tapi Ma, Anna ngga se desperate itu sampe harus dijodohin segala. Anna masih bisa cari jodoh sendiri." Katanya frustasi.

"Papa ngga akan izinin kamu cari calon suami sendiri setelah kejadian kemarin." Tolak Papa nya tegas.

Ingatannya kembali pada kejadian beberapa minggu yang lalu. Dengan teganya sang kekasih memutuskan hubungan di saat tanggal pertunangan mereka sudah dekat. Tanpa kejelasan dia ditinggalkan begitu saja.

"Udah terima aja sih, Kak." Celetukan Ella yang sedari tadi menyimak membuat perhatiannya teralih.

Ditatapnya sang adik dengan tajam, "Anak kecil mending diem aja deh!"

"Orang dikasih tahu malah sewot." Anna memilih diam mendengar gerutuan Ella yang dapat memancing emosinya jika terus diladeni.

Usapan lembut Mama di bahunya membuat hatinya sedikit melunak, "Anna, Mama sama Papa mau yang terbaik buat kamu. Kami ngga mau kejadian kemarin terulang lagi."

Aku juga ngga mau kali, Ma. Cukup sekali dah ngerasain sakitnya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya.

"Kamu coba temui dia dulu ya, Na. Dia itu lebih ganteng daripada Dino, mantan kamu itu."

Wajah Anna seketika berubah keruh mendengar nama pelaku yang membuatnya sakit hati disebut, "Ngga usah sebut merek juga kali, Pa!"

Dengan kaki yang dihentakan Anna berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Tubuhnya terasa lengket karena keringat setelah seharian berjibaku dengan kemacetan. Dia butuh mandi dan istirahat.

Anna baru saja pulang dari kampus saat kedua orang tuanya menunggu di ruang tamu. Betapa terkejutnya ia setelah mengetahui alasan mereka menunggu kepulangannya adalah untuk memberitahu perihal perjodohan.

Dia dijodohkan!

DIJODOHKAN!!

Gue dijodohin!

Tak pernah sedikit pun terlintas di pikiran Anna akan dijodohkan oleh orang tuanya.

Dikira zaman Siti Nurbaya pake jodoh-jodohan segala.

Apalagi disaat sekarang, saat hatinya masih terasa amat sakit. Pengkhianatan yang dilakukan Doni membuat kepercayaannya terhadap kaum adam menghilang. Kecuali kepada Papa dan Abangnya tentu saja.

Anna berjalan ke arah pintu setelah mendengar suara ketukan beberapa kali. Tangannya masih aktif mengusak rambutnya yang basah setelah keramas menggunakan handuk.

"Kenapa, Bang?"

Setelah pintu terbuka, senyum lima jari khas Hesta menjadi pemandangan pertama yang Anna lihat.

"Abis mandi?"

Anna memutar bola matanya malas, "Ngga! Abis maen bola!"

"Nge gas mulu lo, awas ntar nabrak."

"Lo mau apa sih, Bang? Gue capek baru pulang kuliah dan sekarang mau ngerjain tugas."

"Gue juga capek baru pulang kerja."

Cukup sudah. Stok kesabaran Anna sudah mulai menipis.

"Gue tutup, nih!"

Gerakan tangannya masih kalah cepat dengan gerakan kaki Hesta yang menahan pintu agar tidak tertutup.

"Yaelah, bentaran aja ngapa sih?" Ujar Hesta sambil berjalan masuk meninggalkan Anna yang masih berdiri di depan pintu.

"Barusan gue denger dari Mama kalo lo mau dijodohin?" Imbuhnya setelah duduk nyaman di kasur sang adik.

Anna menutup pintu, lalu duduk di kursi yang sebelumnya ia tarik dari meja belajarnya, "Iya, tapi gue ngga mau."

"Kenapa ngga mau?"

"Ya siapa sih yang mau di atur-atur masalah jodoh? Ini udah bukan zaman siti nurbaya, Bang."

"Lo masih suka sama Dino?" Tanya Hesta dengan tatapan menyelidik.

Yaelah, nih orang ngapain bahas si mahkluk saurus itu sih.

"Iya tapi engga." Jawabnya malas.

HAH?!

Hesta cengo mendengar jawaban aneh Anna. Tangannya menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.

"Gimana, sih?"

"Bohong kalo gue bilang gue ngga terluka. Gue benci banget sama dia. Tapi gue lebih benci sama diri gue sendiri..."

Anna menunduk menyembunyikan raut sedihnya dari Hesta.

"...karena meskipun dia udah nyakitin gue, rasa sayang gue ke dia bahkan ngga bisa ilang."

Hati Hesta serasa seperti diremas melihat kondisi adiknya. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Anna kepada Dino. Dino adalah cinta pertama yang menjadi pacar pertama, bahkan hampir menjadi tunangan. Dan kini, Dino juga lah orang pertama yang membuat Anna merasakan patah hati.

Pasti susah buat move on ya, Dek.

"Lo tahu alesan kenapa dia ninggalin lo?"

Gelengan kepala Anna menjadi jawaban atas pertanyaan Hesta.

Bahu Anna bergetar dan air mata yang sedari tadi ia tahan mulai meluruh saat sepasang lengan kekar kakaknya memeluk erat tubuhnya. Hesta tidak marah saat Anna menenggelamkan wajah di dadanya, membuat kemeja yang dipakainya basah dengan air mata.

Cukup lama mereka saling berpelukan. Sampai akhirnya Hesta melonggarkan dekapannya saat dirasa Anna sudah mulai tenang.

"Na, gue ngga pernah berada di posisi kayak lo, tapi gue tau kalo itu semua ngga gampang. Lo boleh nangis, lo boleh marah, lo boleh kecewa. Tapi, lo ngga boleh berlarut-larut dalam kesedihan."

Dengan ibu jarinya, Hesta mengusap air mata Anna yang masih terus mengalir.

"Satu hal yang harus lo inget. Gue, Hesta Dewantara, Abang lo akan selalu siap jadi sandaran saat lo rapuh. Gue akan selalu ada buat adik-adik gue."

Hati Anna menghangat melihat senyum teduh kakaknya. Dia merasa sangat beruntung memiliki Hesta dalam hidupnya. Siapa pun gadis yang akan menjadi pendamping Hesta kelak, dia pasti lah gadis yang istimewa.

"Kalo gitu, lo mau kan bantuin gue?" Tanya Anna penuh harap.

"Bantu apa dulu, nih? Kalo nguntungin ya gue bantu, kalo ngga ya mending lo cari orang lain aja."

Secepat kilat tangan Anna mendarat di lengan Hesta. Menimbulkan sensasi panas dan perih secara bersamaan.

"Kok lo main kasar, sih!" Protes laki-laki bertubuh tegap itu sambil mengusap lengan yang dia yakini meninggalkan bekas merah.

"Tadi bilangnya siap jadi sandaran buat adik-adiknya."

Sebuah cengiran terbit di wajah Hesta.

"Gue ngomong gitu kan biar lo ngga nangis terus."

Anna melotot tak percaya mendengar jawaban Hesta.

Ya Tuhan, Abang gue kok gini amat, ya.

"Ngga mau tau, pokoknya lo harus pake banget bantuin gue!"

"Gue ngga mau dijodohin, Bang." Rengeknya sambil mengguncang lengan Hesta.

"Kenapa sih? Gue rasa Aksa seribu kali lebih baik daripada Dinosaurus mantan lo itu."

"Jadi namanya Aksa? Kok lo bisa tau?"

Hesta bangkit dari duduknya, lalu mengusap rambut Anna dengan sayang.

"Lo coba jalani dulu aja. Aksa itu temen gue, jadi gue tau persis gimana itu orang. Kalo emang nantinya kalian ngerasa ngga cocok, kita bisa omongin baik-baik." Katanya sambil berlalu pergi.

Anna hanya bisa memandang siluet tubuh kakaknya yang menghilang di balik pintu. Mungkin benar kata Hesta. Toh tidak ada salahnya mencoba.

Dia tidak mau terus hidup dalam rasa sakit yang Dino ciptakan. Kalau mantannya bisa menjalani hidup seperti biasa, kenapa ia tidak?

***
Diubah oleh br.onzz


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di