CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ece12a4a2d1951e2255da01/penyewekan-pengasih-bagian-ke-vi-part-2-jebakan-gaib

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib

         Sebuah stagen kuno tergulung dengan tanah yang masih basah menempel membuat stagen berwarna hijau gelap itu malah nampak seperti coklat gelap, tanpa pikir panjang aku coba uraikan di atas tanah,  terdapat sebuah benda di tengah gulungan sabuk kain panjang yang bisanya diguunakan bersama dengan kamben dan kebaya itu.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib
ilustrasi stagen (jaman sekarang jarang dugunakan untuk mengikat kamben di pinggang karena sudah ada longtorso)

          “Belahan telebingkah Yon??!!, (pecahan tembikar tanah liat Yon??!!)”,Odik terperajat memegang benda itu, kemudian mengusap gumpalan tanah yang menempel. sementara aku yang melihat merasa heran melihat potongan pecahan kendi tanah liat seukuran 2 jari tangan yang penuh dengan ukiran aksara bali yang susah aku baca.

                “Sepertinya benda ini yang mempengaruhi pola pikir Mira, mungkin sempat dilangkahi!”, Odik mencoba menerka kegunaan benda itu, memang bernar ucapan Odik, kalo sengaja dibuat menjadi ranjau untuk Mira pastinya harus dilangkahi terlebih dulu oleh sasarannya.

                Entah kenapa aku terdiam sesaat mencoba berfikir, kalo memang sengaja agar dilangkahi oleh Mira kenapa harus dikubur di pojok gerbang, gila rasanya andai kata membayangkan Mira masuk rumah merayap kayak tokek ditembok.

             “Kenapa tidak dikubur tepat dibawah gerbang saja?”, sebuah argumen yang menyisakan pertanyaan namun aku memilih memendamnya tidak ingin  membuat debat yang bakal memperlambat urusanku.

                Segera aku yang berjongkok mengambil stagen dan isinya kemudian aku bungkus dengan koran dan kumasukan kedalam kantung plastik hitam yang diberikan ibunya Mira setelah aku minta tadi, dengan cekatan pula Odik mengambil 1 sisir pisang emas yang aku taruh dimotor, pisang itu aku kubur dimana lubang stagen itu berada.

                “Ini anggap saja sebagai penggantui sementara, nanti ibu tanyakan apa yang sepantasnya dilakukan kepada orang yang lebih pintar”. Ucapanku disambut anggukan kepala ibunya Mira.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib
ilustrasi pisang emas

                “Yon sanggahe!, (sanggah : Pura kecil kusus keluarga di pekarangan)”, Odik menepuk bahu mengingatkanku ketika berdiri dari jongkok yang mebuat lututku kesemutan.

                “Oh aja!, (oh bener!), hampir aku lupa!, tapi disebelah mananya?, dan apa itu?”, aku mencoba memecahkan kode yang diberikan ibunya Wahyu tadi.

                “Pasti serane to!.. Taneme pasti pasing ada ne nepukin Yon!, (pasti sesuatu, yang pasti dikubur agar tidak ada yang melihat Yon!)”, Odik memberikan tanggapan yang menurutku ada benarnya juga,

               “Tapi bagaimana Odik bisa tau ya?, artikel apa yang dia baca?”, aku bergumam heran melihat kemajuan otak temanku yang semakin klenik ini.

               Aku pandangi bapaknya Mira yang ngos2an jongkok memegang linggis beberapa saat kemudian aku palingkan mukaku dari dia, entah kenapa aku malas ngomong sama orang kepala sapu lidi ini, ya beneran orang ini pola pikirnya makin tua makin kaku dan pendek ketika semakin sering digunakan.

                      “Ibu maaf boleh saya ke sanggah ?, sebentar saja untuk mengecek!”, Odik bertanya pada ibunya Mira yang mengangguk saja. 

                Ternya Odik sepemikiran denganku mengenai kepala keluarga di karang (rumah) ini yang agak menyebalkan, mungkin karena Odik sering kesini dan sudah pengalaman menghadapi selahnya.

                  Tanpa banyak tanya dan ijin tak ijinnya si bapak aku dan Odik melangkah menuju sanggah  di bucu kaja-kangin (pojok timur laut) sekitar 10 meter dari tempat kami berdiri.

                 “Kreokk”, pintu kayu yang sudah sedikit lapuk itu digeser oleh ibunnya Mira membari menyalakan saklar lampu yang menempel di candi bentar (gapura masuk), bangunan suci milik keluarganya Mira itu.

                 Aku dan Odik beranjak masuk membuntuti ibunya Mira yang menunjukan arah kepada kami, bisa aku lihat berjejer Pelinggih (bangunan menyerupai tugu kusus untuk sembahyang, maaf membahasa indonesia-kan secara sederhananya susah sekali, lihat ilustrasi saja).

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib
ilustrasi sanggah Pelinggih  Taksu (kiri) dan pelinggih Batara Hyang Guru (kanan berpintu 3), gambar hanya ilustrasi diperoleh dari internet, samasekali tidak memiliki sangkut paut dalam cerita.

                Tidak ada yang aneh dari sanggah ini semuanya nampak normal dengan pohon bungan jepun (kamboja) yang telah ada bahkan sebelum aku sering kesini dulu. Bangunan disana megah dan indah dengan cat Prada (cat emas) 
dipadupadankan warna merah, sungguh indah banguanan sanggah ini.

              Hanya saja keindahan itu sedikit tergangggu dengan rumput liar yang agak tinggi tumbuh berserakan dengan daun pohon berguguran yang menumpuk.

              “Ledangang (mohon dimaklumi) ibu belum sempat mereresik (besih2)”, ibu Mira terlihat agak malu mengetahui aku memperhatikan rerumputan disana, kemudian dia  kembali menyalakan lampu penerangan yang berdiri menujulang ditengah2 pekarangan sanggah layaknya mercury tepi jalan.

            Semuanya nampak terang, di belakang pelinggih itu banyak pohon andong merah dan tebu, juga menjalar rimbun pohon bunga alamanda kuning menutupi tembok penyengker (tembok pembatas) dengan jalan aspal.

             Odik menatap sekeliling kemudian menunduk mengelilingi tugu pelinggih layaknya anjing pelacak dengan seksama Odik mencoba mencari sesuatu yang kemungkinan dikubur disekitar sana.

            “Yon keweh kayakne!, (Yon kayaknya susah!)” Odik sepertinya mulai menyerah karena tidak menemukan kemungkinan ada benda2 aneh yang sengaja dikubur sebagai penjebak manusia yang melangkahinya.

               Aku ikut menyusuri langkah yang dilalui Odik sebelumnya, “Engkenag sing keweh!! (gimana gak susah!!), aku  berseru ketika menyadari kendala yang Odik alami,  hampir semua yang aku pijak adalah paving segilima yang menutupi pekarangan sanggah ini.

            “Kel kenkenang jani?!, makejang kal seluh ne?!, (bagaimana sekarang?!, semua mau dicongkel?!) bapaknya Mira berkata ketus ketika datang menenteng linggis dari jaba (pekarangan rumah).

Aku terdiam sesaat mencoba berfikir mendengar kata2 dari Bapaknya Mira yang kemudian ditenangkan oleh konselor terbaik, istrinya sendiri. “Pak sing dadi keto, (Bapak tidak boleh begitu). Ini syukur sudah mau dibantu kita sama Gus-nya”, ibunya Mira berbisik pelan agar aku dan Odik tidak mendengar keruibutan suami istri di sebelah kami, tentu saja aku tidak tuli sehingga bisa mengetik kalimat yang dia ucapkan sekarang.

             “Engken ne jani Yon?, (gimana sekarang Yon?)”, Odik menggaruk kepala. pastinya dia sudah menyerah sehinga meminta pendapatku.

           Aku berjalan menjauhi Odik dan duduk di Piyasan (salahsatu bangunan sanggah) mengusap wajahku yang berkeringat Ongkeb (sumpek), aku lihat sekeliling semuanya paving dengan rumput liar yang tumbuh diselah2nya, gila rasanya untuk nyongkel semua. siapapun yang mengubur pepasangan (jebakan gaib) itu pasti telah meikirkan ini dengan matang2.

              “Ne masang pasti nawang sukeh yen ngalihin (yang memasang pasti tau susah kalau dicariin)”, Odik berjalan mendekat berdiri dihadapanku, “Yang mana kira2 dia congkel saat menguburnya?,kok bisa rapi sekali?!”, sambungnya lagi.

                 Aku melihat memang sangat rapi susunan paving itu, mataku terbelak ketika imajinasi di kepla muncul bola lampu menyala entah dari mana.

             “Dik linggis!”, aku berdiri menunjuk batangan besi disalah satu tangan bapaknya Mira yang dijadikan tongkat sementara tangan satunya berkecak pinggang memasang eksprsei  kecut. Odik merebutnya dengan agak kencang sembari menatap wajah si pemiliknya, pasti dia agak kesal mendengar ucapan bapaknya Mira tadi.

              “Terlalu gila untuk mencongkel paving disini, semua tau itu!, termasuk yang mengubur benda itu, karenanya pasti... ”, aku berhenti bicara den mengangkat kaki menginjak pipa paralon yang menyembul sejengkal dari sela2 paving merah yang pastinya tertancab tembus sampai tanah, tempat biasanya, tedung (payung kain), dan umbul2, atribut saat upacara agama ditancapkan disana.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib
gambar ilustrasi pipa dan paving (gambar random di mesin pencari)

            Odik tersenyum dan segera dia hujamkan linggis kedalam lobang pipa berdiameter 15 cm sampai tanah2nya  Odik aduk dengan semangat.

           “De ampete dik! (jangan dipaksakan dik!), masih kamu kira semudah itu?” kataku sambil menunjuk ada hampir belasan pipa yang terancap.

          Odik berdiri dari jongkoknya ketika sadar pipa pertama yang dia flas HP tidak menunjukan isi apaun selain tanah, tidak menyerah Odik melakukan hal yang sama berkali2 hingga linggis itu diserahkan padaku dengan ngos2an sembari menujuk sisa 5 pipa yang belum diuji keberuntungannya.

          Aku melangkah cepat menghujam lubang dengan linggis, “hmm, kayaknya coba lagi nih!”, gumamku ketika hp milik Odik ditanganku sinarnya tidak memantulkan benda apapun terkecuali tanah.

           Begitu seterusnya hanya , “coba lagi dan anda belum beruntung” yang aku terima. Sampai aku mendekati sisa paralon tepat di Pelinggih Batara Guru Rong Telu (tugu tempat berstananya Batara Guru dengan 3 buah pintu), aku yakin ini pasti ada isinya entah kenapa perasaan itu muncul ditengah pegal lenganku menghujamkan linggis beberapa kali tadi tapi zoonk.

            “Jeg suud deh!, (sudah lah!), kalian mau nyari apa lagi?!, udah sampai berntakan gini tanahnya tidak nemu apa juga, palingan bogbogine nyak masi ngugu (dibohongi mau juga percaya)”, bapaknya Mira menujuk bekas galian Odik yang belepotan tanah mengotori paving disekitarnya. Aku menatap bapaknya Mira yang berkacak pinggang disampinng istrinya yang terusan ngoceh “Sabar pak, sabar, sing dadi keto, (tidak boleh begitu)”.

           “PLUKK!”, suara linggis menghujam tanah didalam pipa, Odik menatapku aku palingkan muka dan mencabut linggis itu keluar lubang, Sepertinya Odik mengerti wajahnya berubah menjadi kecewa.

          “Krinting..Krinting..Krinting..” suara linggis yang aku tarik bergesekan dengan paving menuju candi bentar berpalang pintu kayu untuk keluar sanggah, Odik didepanku melangkah gontai.

             Sementara dibelakangku bapaknya Mira bersungut2 kesal “Sanggah uug apa sing bakat (Sanggah rusak gak dapet apa2)!”, disebelahnya sang istri beberapa kali mendesis 
         
           “Sssstttt!!.... bapak siep engken neh!!, (bapak diam aja!!)”, kelihatannya ibunya Mira merasa tidak enak dengan kami.

          “Coba ibu pikir, ne aget sing onyang kelasang pavinge si ludih ye!, munyin ne smar tuutin asilne samar masi!, (ini untung tidak semua pavingnya dilepas kan repot!, omongan yang gak jelas diikutin hasilnya dah pasti gak jelas juga!)”, ucap bapaknya Mira kepada istrinya dengan nada jengkel, tentunya ditunjukan padaku dan Odik.

        Dering gesekan besi dan paving itu terhenti bersamaan dengan langkahku saat mendengar kalimat itu, linggis yang dadinya aku paid (tarik) dengan kananku, kini aku pikul di pundak sementara kepala aku tundukan sambil memejamkan mata.

          Dua orang dibelakangkku terhenti karena jalan mereka tertutup olehku. Begitu juga Odik yang kurasa diam menyadari aku yang tak melangkah. Aku bisa raksakan gengaman tangan kanaku di batangan besi sepanjang 1meter yang semakin erat, Aku menarik nafas panjang dan ku hembuskan perlahan.

         “Pl*t*n...... (sialan)”, dengan pelan sebuah kata kasar yang seharusknya tidak aku ucapkan ditenmpat persembahyangan keluarga ini mendayu keluar, cukup membuat yang mendengarnya tertegun termasuk bapaknya Mira yang pastinya terpancing emosi.

          Aku berbalik badan kupandangi bapak dan ibunya Mira yang terkejut melihat ekspresiku, dengan cepat aku melangkah menuju mereka, ibunya Mira memegang lengan suaminya melangkah mundur sementara ayahnya Mira memaksa maju mencegatku, tapi diseret paksa istrinya.

         “Yon kleng de emosi cai kleng!!. (Yon jangan emosi kamu!!)” Odik melangkah mengejarku.

          Mungkin bapaknya Mira ingin mengadu seberapa keras kepalanya dengan linggis ini, sejujurnya aku ingin tau hal itu juga, tapi tidak akan akan kulakukan, palingan mungkin tidak sekarang.

           Aku berjalan menerobos melalui mereka berdua ,“IYAAHHH!!!!”, dengan sekuat tenaga aku tebas pipa paralon bagai bola Polo kuda di samping pelinggih rong telu yang tadi terakhir aku gali “PLAKKK!!” hingga mental membentur tembok.

         Segera aku berjongkok menghujamkan dan mencongkel beberapa paving disekirtarnya membabibuta sapai copot dan rusak.

           “Nyen orahang cai ngugu ne maya hah?!!, (Siapa kamu bilang percaya sama yang gak jelas?!!)” batinku menggerutu kesal sembari merogoh kain putih lusuh yang menyembul di antara tanah yang kemudian aku tarik paksa dan aku banting ke tanah.

         Orang2 yang tadi aku tinggalkan kini sudah ada dihadapanku melongo melihat benda yang aku temukan.

       “Wah!!.. ini kan?” Odik berjongkok memandangi kagum lantas memengang patahan Alu (penumbuk lesung)  sebesar lengan tangan yang terbungkus kain penuh rerajahan.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-VI part 2 Jebakan Gaib
gambar ilustrasi alu dan lesung penumbuk beras (jaman sekarang tidak banyak yang tau)

         “Grubug Karang Suung”, jawabku menatap datar kearah bakanya Mira yang kini mulai celingukan segan denganku.

            Bersambung...

profile-picture
profile-picture
nona212 dan nomorelies memberi reputasi
kerennn ceritanya bli


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di