CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
The New Normal Menonton Sepakbola di Stadion
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ecb570d365c4f5b9246f0e1/the-new-normal-menonton-sepakbola-di-stadion

The New Normal Menonton Sepakbola di Stadion

Rasa-rasanya ane yang pertama membahas ini di sosial media. Semoga ya, biar ane bisa congkak sedikit. Hehe.

Gara-gara Twit @BleacherReport ini, ane jadi bayangin bagaimana nasib penonton sepakbola di masa datang. Tentu saja dengan asumsi COVID 19 tidak pernah benar-benar menghilang dari muka bumi.






Kita menyebutnya dengan the new normal yang bisa diartkan sebagai sebuah kebiasaan baru sebagai bentuk adaptasi manusia terhadap adanya Virus Corona. Pastinya the new normal berlaku di semua aspek kehidupan, tidak cuma sepakbola atau olahraga. Kita juga akan menghadapi kebiasaan baru dalam pendidikan, olahraga, pekerjaan, transportasi, dll dll.

Yang saat ini ingin ane bahas adalah the normal menonton sepakbola di stadion, yang rasanya akan diterapkan juga di semua pertandingan olahraga.

Baru-baru ini, klub asal Jerman, Borussia Monchengladbach, meletakkan 13.000 papan berbentuk wajah dan badan penonton di bangku stadion, sehingga stadion sekilas tampak ramai dipenuhi suporter. Atas dasar inilah ane membayangkan, the new normal stadion olahraga.

The New Normal Menonton Sepakbola di StadionThe New Normal Menonton Sepakbola di StadionThe New Normal Menonton Sepakbola di StadionThe New Normal Menonton Sepakbola di Stadion
Foto diambil dari kicauan akun @BleacherReport

Menurut ane, ke depan mungkin tidak hanya diisi papan berwajah penonton, tapi benar-benar bisa menghadirkan penonton virtual. Maksudnya, di masing-masing papan tersebut terdapat layar yang menghubungkan penonton di rumah dengan suasana stadion. 

Jadi semacam kita video call saja, komunikasi 2 arah. Si penonton dari rumah masing-masing akan mendapat tayangan pertandingan dari sudut pandang bangku stadion,  sementara stadion akan mendapat gambar wajah penonton dan suara mereka dari rumah masing-masing. Jadi tidak hanya sebatas gambar wajah saja. 

Penonton tetap membeli tiket seperti biasa, lalu memilih bangku sesuai kategori yang tersedia. Akan tetapi nontonnya dari rumah masing-masing.

Lalu di mana letak pembeda dengan menonton sepakbola di TV seperti yang biasanya?

Yang jadi pembeda, bagi penonton yang membeli tiket, layar TV di rumah hanya mendapat sudut pandang kamera dari posisi tempat duduk yang kita pesan. Tidak seperti selama ini kita menonton sepakbola yang kameranya di tengah lapangan.

Loh, kalau begitu bukannya lebih enak nonton TV seperti yang saja, yang kameranya di tengah lapangan?

Ya tentu saja akan menghadirkan experience-nya berbeda. 

Bagi yang membeli tiket, akan berasa menonton sepakbola di stadion. Gambarnya 3 dimensi, jadi kita seperti duduk di bangku stadion. Lalu audio yang dirasakan pun bukan suara komentator TV, melainkan bising suara penonton di kiri kanan. Bahkan memungkinkan juga untuk berkomunikasi dengan penonton di kiri kanan selayaknya video call. 2 arah.

Karena layarnya menghadirkan komunikasi 2 arah, berarti suara kita dari rumah juga akan terdengar di stadion. Jadi para pemain di lapangan akan mendengarkan sorak sorai kita dari rumah masing-masing. Dan kita pun bisa berkomunikasi dengan penonton virtual lainnya yang ada di stadion.

Win-win solution. Penonton mendapat atmosfer stadion, dan para pemain terasa seperti bermain di hadapan penonton asli.

Bagaimana?

Menurut ane, ini bisa banget diterapin. Ya tentunya tidak perlu seluruh bangku stadion diisi penonton virtual. Bisa selang seling dengan penonton asli agar ada phisical distancing.

Kurang lebih seperti ini penggambarannya. 

The New Normal Menonton Sepakbola di Stadion
The New Normal Menonton Sepakbola di Stadion

Fotonya  bukan punya ane. Ane ambil dari web Daily Nation (([url]https://tinyurl.com/y86b2zsn) dan[/url] New York Post ([url]https://tinyurl.com/ycmgksl9 )[/url]

Lalu ane tambahin gambar robot itu. Haha. Ceritanya itu penonton virtualnya.

Jadi kita nonton dari rumah masing-masing tapi serasa hadir di stadion. Yang di stadion pun akan merasakan kehadiran kita melalui gambar wajah dan suara kita. Ide ini bisa diterapkan di semua pertandingan olahraga.

Sehingga penonton terhindar dari bahaya COVID 19 dan industri olaharaga terhindari dari kebangkrutan. Pertandingan olahraga tetap membutuhkan penghasilan dari penjualan tiket.

Gimana, apakah ane yang kasih ide ini pertama kali?

-----------------

Sebelumnya ane menulis 2 hot thread, yaitu.

Gue Keturunan Prabu Brawijaya (Raja Majapahit)  
Standar Kerja Rendah Pembuatan Video Pemerintah  

Ane juga menginisiasi kegiatan
Membagikan 425 botol Hand Sanitizer dan 110 Nasi Bungkus Gratis 



Sehari-hari ane berjualan balon di Instagram @nf.nellafantasia. Dan dagangan ane pernah masuk Prambors







Ane juga rutin nulis di blog pribadi www.cekinggita.com
profile-picture
profile-picture
nona212 dan Isda555 memberi reputasi
Diubah oleh Anggara Gita
Hmm... Menarik juga idenya Agan.
Bagi penonton yang ingin menonton langsung, seat yang dijual bisa jadi akan menggunakan skenario ganjil-genap di tiap tribun.
Dan untuk antisipasi ada yang duduk berdekatan, bisa mengganti seat nya dengan LCD plus kamera bagi penonton yang beli tiket seat virtual.
Secara cost memang akan tinggi investasinya, tapi pelan2 pasti akan muncul pilot project seperti itu di stadion2 tertentu.
Tandain dulu gan pengen nyari angin dulu
bagus sih inovasinya, tapi lebih greget nonton langsung sebenernya hiks
menurut ane gak efisien. kebayang berapa investasinya pasang layar, kamera, speaker, belum lagi harus dibikin anti hujan/salju/terik matahari, jaringan internet harus stabil dan hi speed, on-site technicians kl ada perangkat yang bermasalah, konsumsi listrik di stadion untuk alat2 tsb. Blm lagi kl alat ketendang bola nyasar, kl dipasang jaring ya mengganggu pandangan, dan masih banyak lagi. Udah invest all out gitu eh besoknya ketemu obat penyakitnya.
Paling ideal seriusin cari obat dan penangkal penyakitnya sesegera mungkin.


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di