CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke IV Memastikan Kebenaran 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec7547da72768408961c142/penyewekan-pengasih-bagian-ke-iv-memastikan-kebenaran-2

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke IV Memastikan Kebenaran 2

       Odik menatapku dengan wajah yang penuh keringat, aku sekarang yakin ini bukan lagi sekedar Penyewekan (pengasih) kelas jimat bungkusan kain, ini sudah masuk kategori Gunan (guna-guna), dengan ada Bebai (mahluk halus kiriman, biasanya untuk mencelakai dengan masuk ke badan yang dituju) nya lagi.

        Yang seperti ini hanya orang2 yang bener2 ahli Usadha (Pengobatan tradisional Bali), mending aku mundur saja. 

         Sekarang yang aku harus lakukan adalah meyakinkan bapaknya Mira bahwa orang Indonesia sudah bisa bikin satelit.

                Tapi bagaimana caranya aku bingung menjelaskan yang gini2 sama orang skeptis kecuali seperti Odik yang mengalaminya sendiri. Aku tarik nafas panjang dan menghembuskannya.

                “Pak, ibu, bisa bantu saya?, tolong dudukin Mira nya sebentar, ini posisi rebahanya tidak bagus kasian pinggangnya tidak lurus bisa pegel nanti kalo lama begini”, mungkin karena memang benar posisi tidurnya Mira agak miring bapaknya nurut saja, di papah Mira perlahan mendudukan badanya , sementara ibunya meluruskan kaki Mira, di saat yang bersamaan ku dekati Mira, jari telunjuk dan jari tengahku luruskan sementara yang lain aku kepalkan.

                “Mudah2an ini bisa membantu, kalo memang ada yang tinggal dalam badan ini tolong tunjukanlah”. Sebuah doa singkat aku panjatkan dalam hati, kemudian kedua jariku aku tekankan ke ulu hati Mira.

                Seketika badan Mira tersentak bagai kesetrum listrik, disusul kemudain tangannya Mira melipat didadanya bebrapa saat badan Mira yang tadinya lemas perlahan menjadi kaku seperti patung.

                “HAHAHAHAHA....!!!” Mira mulai tertawa nyaring, semua orang di kamar kembali terkejut melihat perubahan Mira termasuk bapaknya yang dijadikan sandaran, cuma bisa bengong menatap anaknya yang kini terus tertawa tanpa henti dan semakin keras Cumiakan telinga.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke IV Memastikan Kebenaran 2
gambar ilustrasi lose control

                “Om Suastiastu” aku coba mengucapkan salam, tapi tak Mira masih sibuk ketawa, aku bingung harus apa, dan ahirnya teringat sesuatu, aku segera mengusap telinga Mira dari pinggir ranjang.

                “Dingeh!, dingeh!, dingeh! (dengar)”, kataku sambil beberapa kali mengusap lembut bergantian telinga Mira.

                “Om suastiastu” ucapku lagi layaknya orang yang mepengarah (menyampaikan pengumuman) masuk kerumah-rumah warga. Perlahan Mira mulai berhenti tertawa 

                “Om Suiastiastu”, jawab Mira berbisik dengan suara mendesis, bagus lah pastinya ini perbuatan orang lokal, setidaknya ilmu yang dia pake bisa dianalisa, kalo luar pulau aku tidak tau, pikirku.

                “Mangde nenten iwang (supaya tidak salah), jerone niki, Dewa, Manusa, napi Kala?. (anda ini, Dewa, manusia, atau Kala/mahluk astral?)”, tanyaku pada siapapun yang kini ada dalam tubuh Mira. Kalau Dewa sih tidak mungkin, tapi biar lengkap aja sorohan (jenis)-nya.

                “Manusa (manusia)” jawab sosok dalam badan Mira dengan lirih. Pikiranku langsung kacau, ini kalau dilawan bisa2 balas dendam padaku, karena manusia punya ego dan dendam, sementara Kala atau mahluk astral cuma punya nafsu, tinggal diberikan sesajen apa yang dia inginkan maka Kala akan senang dan tidak menganggu lagi, Nyomia bhuta kala (Menjamu Mahluk Astral) istilah daerahnya.

                “HAHAHAHA..!!WEHHH HEHEHEHE!!!”, Mira kembali tertawa dan menjerit-jerit begitu menakutkan, suaranya bukan lagi terdengar seperti dirinya, tapi lebih mirib suara nenek2 yang serak mengerikan.


                “Weee!!!”,  Mira membentak, “Kengudiang cai ke ngudiang?!! (kamu mau ngapain?!!)” sebuah kalimat kasar terucap oleh sosok didalam tubuh Mira, seisi kamar mendadak terdiam, susana pun berubah hening seketika.

               Aku hanya bisa menelan ludah, tak aku sangka yang aku lakukan bakal sampai sejauh ini, dalam benaku bercampur aduk harus ngomomong apa, tapi intinya simpel, ajak ngomong, cari tau, buat bapaknya percaya, lalu pulang dan tidur dirumah, itu rencanaku.

                “Cai dot ngubadin?!, (kamu mau mengobati?!), jangan coba2 kamu tidak akan bisa!” kata sosok dari tubuh Mira yang duduk terpejam.

                “Jero (jero/Jro : panggilan hormat untuk orang yang belum dikenal, mirib kata tuan atau nyonya mungkin), saya tidak ingin mengobatinya, saya cuma mau bertanya, sudi kiranya jero menjawab”, ucapku tegang agak terbata-bata

                “Apa buin kel takonang cai hah??!!, (Apa lagi yang mau kamu tanyakan??!!)”, bentak Mira dengan nada tinggi.

               Sosok dalam tubuh Mira ini sepertinya susah diajak diskusi, tapi akan aku rayu sampai paling tidak tau apa yang digunakan menyakiti Mira, jenisnya apa, Serana-nya apa. Supaya nanti kalau Mira diajak berobat ke Balian (orang pintar) gampang menyelesaikannya.

                Aku kemudian meminta ijin ke bapaknya Mira, “Pak boleh saya duduk disini?”, kataku sambil menunjuk atas kasur dihadapan Mira, bapaknya hanya menatapku berkeringat sembari memeluk anaknya, sudahlah aku anggap saja boleh. 

Segera aku naik dan duduk bersila berhadapan dengan Mira yang masih merem dengan nafas mendengus-dengus kencang seperti banteng mau ngamuk.

                “Puniki (begini) jero, hmm saya hanya ingin tau, kenapa anda menyakiti teman saya?” tayaku dengan bahasa halus dan sopan, mudah2an sosok dalam raga Mira ini mau melunak.

                “Jeg megenep dot tawang cai!, (semua kamu ingin tau!), kamu urus saja urusan kamu!, kalo kamu mau ikut campur urusanku sini lawan aku!!, de liunan munyi cai mai dini edengang kawisesan caine!, (jangan banyak omong kamu sini tunjukan kesaktianmu!)” bentak sosok dalam tubuh Mira, mata Mira mendelik kearahku dengan amarah yang begitu sangar.

                Badanku sudah putih dingin seperti es balok, tak aku sangka ini yang bakal aku terima, aku lirik Odik di sebelah ranjang menatapku dengan wajah tercengang kemudian perlahan menggeleng kearahku,  aku mengerti dan balas mengangguk. Ini cukup meyakinkan semuanya, sekarang sosok ini  harus disuruh tidur lagi dalam tubuh Mira.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke IV Memastikan Kebenaran 2
gambar ilustrasi ada jiwa sosok dalam tubuh seseorang

            Aku kembali menarik nafas panjang, aku tatap mata Mira yang masih melotot kearahku, belum sempat aku berkata-kata tangan ibu Mira menepuk bahuku dari samping, aku tengok disebelahku ibunya Mira bercucuran air mata.

                “Tolong bantu Miranya!, pedalem ibu melingang, uling cenik sanget sayangang kanti kelih, (kasihan, dari ibu mengandungnya,dari masih kecil ibu sangat sayangi sampai besar), ibu sekolahkan dia sampai sarjana, ibu pingin cita2nya anak ibu ini tercapai”.

           “Tolong sembuhkan Mira, kalu tidak bisa sembuh penyakitnya, sini pindahin ke ibu, tidak apa biar ibu saja yang sakit, baang panak ibue seger (biar anak ibu sehat)” ucap ibu Mira sig-sigan (sesengukan) sembari menepuk nepuk dadanya sendiri. Aku cuma terdiam mendengarnya, betapa besar rasa sayang seorang ibu sampai berani berkorban untuk anaknya.

             Kembali aku lirik si Odik yang ternyata ikut2an terharu melepas kaca dan mengusap matanya, “Pret..!!, Odik lemet gati! (lemah sekali!)” gumamku, sekarang Odik malah manggut2 sambil mengusap matanya. Susah ternyata tak semulus dalam bayanganku.

            “Ampura banget (maaf) jero, sampunang duka,(jangan marah), saya cuma mau tau saja sudi kiranya anda mengungkapkan alasan sebenarnya, supaya kami tau apa salah anak ini kepada Jero?, agar kami bisa menebus kesalahannya” dengan lembut aku ber-diplomasi berharap sosok didalam tubuh Mira mau mengatakan  alasan sebenarnya ia menyakiti Mira.

          “Jangan sampai anak ini mati tanpa tau kesalahannya!”, Odik ikut nimbrug dalam diskusiku

            “Ehh!!!, cang sing lakar ngematiang nake ne!, cai mekejang ne dini lakar mati!!, mai edengang kesaktian caine!!, cang ba nawang cai jeleme belog jak makejangan!!”

          “Ehh!!!, aku tidak bakal membunuh anak ini!, justru kalian semua disini yang akan mati!!, sini tunjukan kesaktianmu!!, aku tau kalian tak berilmu semuanya!!”, 

            Sontak aku merinding ngeri mendengar ucapan Mira, begitu juga dengan yang lain, dan sekarang aku bisa liat ekspresi bapaknya Mira sudah benar2 takut dan cemas, kalau sudah begini satelit Amerika mungkin tidak bisa membantu.

Bersambung....
profile-picture
profile-picture
mastercasino88 dan Richy211 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di