CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jangan Ikuti Aku (Based On True Story)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec6b085337f933a246fce21/jangan-ikuti-aku-based-on-true-story

Jangan Ikuti Aku (Based On True Story)

Jangan Ikuti Aku (Based On True Story)


Quote:


Ojik, panggilan akrabnya. Anak pertama keluarga pak Ahmad, umur 10 tahun. Baru awal bulan ini keluarga pak Ahmad pindah di jawa timur, karena urusan pekerjaan. Pak Ahmad adalah seorang guru honorer yang sedang dipindah tugaskan, dengan terpaksa harus memboyong satu keluarganya. Bu Ahmad istrinya, seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai guru ngaji. Sedangkan Ojik anaknya, anak pertama dan satu-satunya. Masih sangat muda untuk mengenal hal-hal mistis. Seseorang yang pendiam, sulit bergaul, dan suka mengigau. Tapi, kedua orangtuanya sampai saat ini belum sadar jika anaknya, sematawayang, punya keistimewaan.

Hidup sebagai seseorang aneh menurutnya, sangatlah susah. Teman-teman astralnya lebih menguasai pergaulan daripada teman nyatanya. Namun, itu hanya berlaku saat masih ada di kampungnya yang lama, jawa tengah. Seminggu ini dia merasa kehilangan kemampuan istimewa yang sudah dia emban sejak umur 5 tahun. Tak ada lagi teman astral, tak ada lagi gangguan, dan tak ada lagi mengigau. Semua kembali normal.

Mulailah ada perbaikan demi perbaikan. Bergaul, tertawa bersama, berbagi bahagia, menghafal nama, teman nyata. Bukan astral. Seminggu ini cukup bagi Ojik mendapatkan itu semua, tak terkecuali kedua orang tua yang mendapatkan berbagai bantuan dari tetangga-tetangga. Jauh terbalik sebanyak 180 derajat dari kehidupannya yang lama. Krisis finansial, dirundung penyakit malaria, satu keluarga, hingga kebakaran rumah yang memaksa mereka tidur di pinggiran kota. Dengan semangat yang di ujung tanduk, ayah dan ibu Ojik tetap menjaga keberlangsungan hidup. Meskipun, hanya dengan hasil dari guru honorer dan guru ngaji. Sampai akhirnya, mereka semua sampai di tanah jawa bagian yang lainnya, timur.

Namun, semua tak bertahan lama. Sejak seminggu dari bangkitnya keterpurukan pribadi Ojik, kemampuannya kembali. Namun, pun tidak sepenuhnya. Kini hanya ada rasa yang bisa dia tangkap, bukan lagi penglihatan atau percakapan sesama penglihat (astral).

Tiap kali bermain bersama kawan sepermainan, selalu saja dia sebutkan hal-hal yang tak bisa dinalar. Seperti menunjukkan ada firasat bahwa temannya yang 5 detik lagi akan terjungkal, gara-gara menyandung sebuah rumah makhluk (astral) hingga tak terima. Mencium bau anyir padahal sedang ada di rumah makan ketika sedang berbuka. Dan parahnya, hari itu....

Bersambung....


Sambungan :
1. Bisikkan
2. Berbuka Dengan Siapa
3. Kepala Gelinding


Image :
1. Lapangan
2. Pertigaan Masjid
profile-picture
profile-picture
profile-picture
SimonSnow dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh putramelankolis
Halaman 1 dari 2
Bismillah,
Assalamu'alaikum warrokhmatullohi wabarokatuh, seperti biasa, true or real story namun ada sedikit tambahan di latar setting dan beberapa aspek. Diadaptasi dari pengalaman ane punya temen (yang agak aneh) atau punya keistimewaan. Namanya mas ojik. Selamat meminyak....
profile-picture
profile-picture
bumibulat123 dan aan1984 memberi reputasi
mantap gan... lanjutkan lg... saya suka ma ceritanya
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan putramelankolis memberi reputasi
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan putramelankolis memberi reputasi
Quote:


Quote:


Mwehehehe, siap gan. Ntar malem diupdate :v pantengin
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan aan1984 memberi reputasi
Taro sendal dulu ya ganbro emoticon-Salam Kenal
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan putramelankolis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
lanjuttttttt gan...mantabbb iki...ojo kentang pokkokke
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan putramelankolis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Quote:


Oke" siap agan" kuh
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
bacanya kalo udah tamat aja ah Gan.. nitip bakyak dulu aja dah.. jgn di gadein... emoticon-Hammer2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 11 balasan
yang lancar update nya ya bossemoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan putramelankolis memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 1

Tiap kali bermain bersama kawan sepermainan, selalu saja dia sebutkan hal-hal yang tak bisa dinalar. Seperti menunjukkan ada firasat bahwa temannya yang 5 detik lagi akan terjungkal, gara-gara menyandung sebuah rumah makhluk (astral) hingga tak terima. Mencium bau anyir padahal sedang ada di rumah makan ketika sedang berbuka. Dan parahnya, hari itu....

Seusai sholat ashar Ojik bersama kawan-kawan berkumpul di lapangan. Seperti biasanya, Ojik selalu menjadi korban. Harus menjadi penjaga permainan petak umpet. Baik di awal maupun di akhir. Tak pernah bergilir. Selaku menjadi anak pindahan, dia terima tanpa sebuah protes yang disampaikan.

Hitungan Ojik menggema seantero lapangan, menghitung dengan perlahan. Hingga akhirnya ia selesai dengan hitungan, membuka tangan yang menutupi penglihatan. Dan... Hening senyap suasana di sekitaran.
Dari bawah kedua pohon talok yang membentuk gawang, ia mulai perjalanan menyusuri lapangan, yang tandus, hanya berisikan ornamen ban-ban bekas sisa potongan pabrik.

Lapangan itu terletak di perbatasan antar rukun tetangga. Menjadi penghubung antar daerah. Terdapat sebuah pabrik pembuatan ban, yang selalu kosong apabil sore datang. Siang hari sudah ditutup pintu gerbang. Tersisa satu karyawan yang menyapu di akhir pekerjaan. Setelah usai semua urusan langsung tancap gass menuju kampung halaman. Jadi, tersisa Ojik seorang.

Aturan permainan sangat mudah, hanya perlu menjaga tempat mula dan menunjuk beberapa kawan yang dilihatnya. Namun, tidak dengan Ojik. Dengan tanda keistimewaan yang berangsur datang, menyusuri sebuah wilayah sendirian adalah perkara yang sangat menakutkan. Dan bisa jadi saat dirinya mencari kawan, bukan sosok nyata yang ia temukan, makhluk astral gentayangan. Itulah hal utama yang menjadi sebab kenapa ia menjadi seorang korban, permainan.

*Diaaa ada disaaannhaaaahhh (bisikan pelan)
*Satu lagi adaa disaanaaaahhh (bisiknya berulang)

Tubuh bongsor yang mengendap sembari mengamat, tetiba bergidik seakan melihat seekor ular derik. Gemetar, beberpencar (pikiran). Masih dengan usahanya untuk tidak terhasut, bisikan itu...

*Diiaaaaaa diisaaanaaaahh (bisikannya mulai menemu ketegasan)

Entah kenapa, dia terpaksa menuruti bisikan yang datang kepadanya. Berlari kecil, sebentar. Tak pernah Ojik merasa seberani dan selincah ini, seperti ada sebuah semangat yang menguasai diri dengan pasti. Tetap dengan lari kecilnya, berhati-hati agar kawan tak mengetahui kehadirannya.

*Iyyaaaaa beeennaaarrrr diiii ssiittuhhhhh (bisikannya semakin pasti)

Betul saja, tanpa berekspresi mengagetkan, Ojik menunjuk salah satu kawan. Baru kali pertama setelah beberapa hari menjadi korban, Ojik dapat menemukan kawannya. Biasanya permainan berakhir dengan waktu mendekati berbuka dan dipertanda teriak dari mulut yang mengatakan *keluarrrr! Aku menyerah!!!* . Jika beruntung, kawan-kawannya akan perlahan menampakkan batang hidungnya, jika tidak.... Ia berakhir sampai waktu berbuka dan dihampiri oleh ibunya, lantaran ditinggal kawan.

Terasa begitu mudah, satu per satu kawan mulai ditemukan. Mungkin saja hari itu adalah hari keberuntungannya, dan mungkin saja bisikkan entah dari mana menjadi sebab akibat. Merasa sudah semua kawan ia temukan, Ojik menghitung urut dari sebelah kanan. Mereka berkumpul di bawah pepohonan, talok. Lengkap, tak ada yang tertinggal. Tapi, kenapa semua kawannya berdiam diri saja. Tanpa bicara dan mengumpat seperti biasanya, ketika tak terima Ojik menemukan mereka. Mungkin terlampau gusar, karena sudah menyebar tapi Ojik tak melewatkan satupun hari itu.

Adzan maghrib pertanda waktu berbuka berkumandang, tak terasa sudah sekian jam terlewati. Ojik tersenyum puas tak menghiraukan wajah masam kawan-kawannya. Sangat hebat, satupun tak terlewat, pikirnya waktu itu. Selang beberapa menit sang ibu pun menjemput.

"Kok masih di sini nak? Ditinggal temen-temen lagi ya?" tanya ibunya

"Nggak kok buk, mereka udah aku temuin semua tuh di situ semua tuh." menunjuk beberapa kawannya yang berkumpul di kedua pohon talok, berdiam-diaman.

"Eummm udah kumpul? Mana sih nak? Ibuk gak lihat temen-temen kamu." ibunya celingukan mencari teman-temannya Ojik.

"Tapi, ada..." jawabnya ragu
"Oh iya, tadi temen-temen udah pamit pulang." cengengesnya spontan

"Oh gitu?" tanya ibunya kebingungan

"Iya buk, aku lupa. Soalnya aku seneng banget hari ini, berhasil nemuin mereka semua, temen-temenku. Padahal nih ya, mereka ngumpetnya nyebar loh." jelasnya semangat terbalut ragu

"Yaudah deh, senengnya lanjut di rumah aja ya. Kita belum buka puasa nih." tegas ibunya

"Iya buk, ayok pulang."

Di dalam perjalanan, Ojik menceritakan kisah hari itu, secara detail. Mulai dara kawannya yang pertama hingga yang akhir ia temukan. Ibunya hanya mengangguk pasti mencoba menghargai perasaan anak sematawayang, mampu akrab dengan kawan-kawan barunya. Di sisi terdalam Ojik muncul satu pertanyaan yang belum menuai jawaban.

"Ibu benar-benar nggak lihat mereka? Temen-temenku yang kumpul di bawah pohon." simpannya dalam hati

Ketika hampir saja mereka sampai di rumah, berkelok di perempatan gang terakhir...

"Tante, Ojik dari mana?" tanya Robet, kawan yang pertama kali berhasil ia temukan saat bermain di lapangan.

"Eh robet, bukannya tadi kamu maen sama si Ojik? tanya ibu Ojik sembari menghentikan langkah

"Nggak ta..." lanjut Robet

"Aaanuu buk, kita belum buka loh, aku udah laper." potong Ojik seraya menarik tangan ibunya

"Eeehhh iya iya. Tante duluan ya Robet. Daaa. Assalamu'alaikum."

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bumibulat123 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh putramelankolis
Sorry ya gan sist, saya update dikit". Supaya horornya legit, hehe.
profile-picture
adorazoelev memberi reputasi
kerenn banget nih ceritanyaa,di tunggu cerita selanjutnya gan
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan putramelankolis memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 2

Mumpung mood horornya dapet, hehe



Ketika hampir saja mereka sampai di rumah, berkelok di perempatan gang terakhir...

"Tante, Ojik dari mana?" tanya Robet, kawan yang pertama kali berhasil ia temukan saat bermain di lapangan.

"Eh robet, bukannya tadi kamu maen sama si Ojik? tanya ibu Ojik sembari menghentikan langkah

"Nggak ta..." lanjut Robet

"Aaanuu buk, kita belum buka loh, aku udah laper." potong Ojik seraya menarik tangan ibunya

"Eeehhh iya iya. Tante duluan ya Robet. Daaa."

Sebisa mungkin Ojik menyembunyikan kejadiaan sore tadi rapat-rapat, baik dari ibu maupun teman-temannya. Dia ingin memastikan, apakah ini nyata atau ilusi semata. Mengingat ia merasa kemampuan istimewa yang berangsur singgah, ia tak berani untuk membuka mulut. Tentang kawan diamnya.

Menu berbuka sudah tersedia, salah satu dari sekian adalah menu favoritnya, sayur sup. Menikmati dengan lahap sembari berlamun ria mereka ulang kejadian sore tadi. Tetap dengan sebuah tanda tanya besar, siapa yang berbisik, siapa kawan diam yang di bawah pohon tadi. Bukankah hitung dan eja nama sudah benar. Lalu, kenapa Robet bisa menyapanya lebih dulu, sedangkan baru saja ia temukan di lapangan, kapan ia lalu lalang mendahuluinya pulang. Jangan jangan...

"Nak, dihabisin ya. Jangan sampai nggak." pinta ibunya sembari menyendokkan kuah ke arah piringnya.

"Eeh iya buk, aku habisin kok. Ini enak banget, kayak biasanya." sadarnya dari lamunan

"Eumm, buk. Tadi betul si Robet kan? Temen aku?" lanjutnya bertanya

"Iya betul, tadi si Robet. Ada apa nak? Bukannya tadi maen sama kamu di lapangan?" tanya ibunya sedikit curiga

"I-i-iyaa iya kok, tadi maen bareng. Hehe." cengengesnya mencairkan suasana

Setelah menghabiskan satu mangkuk sup miliknya, Ojik bergegas menuju kamar mandi, berwudhu.

"Bismillah, nawaithu...." ucapnya lirih sembari memutar kran
"Astaghfirullah!" teriaknya kaget

"Nak! Ada apa??!!" tanya ibunya dari ruang makan

"Gpp kok buk! Ini, aku hampir kepleset." teriaknya ragu

"Wealah, hati-hati nak licin." balas ibunya

Ada yang tidak beres, serasa tangannya tidak sedang memegang gagang kran, lebih seperti tangan dingin seseorang. Tidak bertekstur, lembut, namun sangat dingin. Ojik hanya bisa menerka-nerka, dengan lilin sebagai penerang di kamar mandi. Tak ingin mengalami hal yang tidak tidak, lanjutnya berwudhu dan bergegas pergi. Baru saja ia berbalik dan melangkah... Benda berbentuk bulat menggelinding di depannya.

"Astaghfirullah, tikus!" gumamnya mencoba untuk berpikiran positif, meskipun tikus tak berbau sangat anyir

Berlalu meninggalkan kamar mandi, beralih menuju ruang sholat.

Selesainya sholat maghrib ia sambung dengan mengaji. Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, terlebih karena ibu yang notabene sebagai guru mengaji pastinya mengomel tak karuan jika hal itu tak ia jalani. Dan, terlebih, lagi-lagi kemampuan istimewanya. Sekadar membentengi meskipun tak banyak berarti, karena belum paham pasti tentang amalan-amalan apa yang harus dijalani, supaya terjauh dari hal-hal seperti tadi (gangguan).

"Loh iya, kemarin kan aku nggak ada janji sama kawan-kawan. Selesai tarawih kan cuma jajan, habis itu pulang. Berarti bener dong tadi itu..."

*iiiiyyyyyaaaaa beeenaaarrrr (bisikan lirih)

*gluundduungg *gluundduungg *gluundduungg

"Buk, buk!" teriaknya panik

"Iya? Ada apa?" jawab datar dari kejauhan

"Yasudah buk, gpp kok!" balasnya lantang

Selesai dengan beberapa rukuk yang ia baca di alquran, merapikan tempat sholat dan berjalan mengarah ke ruang tamu.

"Buk, buk!" teriak memanggil ibunya

"Ibuk mana ya? Perasaan tadi bukannya jawab ya?" gumamnya dari hati sambil garuk-garuk badan karena belum mandi

*tok tok tok
"Assalamu'alaikum." salam ibunya dari pintu depan

"Wa'alai.... "
Salam terhenti

"Nak, salam ibuk kok nggak dijawab?" mengelus kepalanya

"Wa'alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh." jawabnya lengkap dan sigap

"Habis dari mana buk? Kapan keluarnya?" bertanya penasaran

"Loh, kan tadi sore setelah sholat ashar waktu kamu mau pergi ke lapangan kan ibuk udah bilang."

"Nak, habis ashar ibuk ke rumahnya bu RT ya. Nanti ibuk pulangnya agak telat, tapi ibuk sempetin masak supaya waktu kamu pulang dan ibuk nggak ada, kamu bisa buka sendiri." tirunya seperti tadi sore

"I-i-iya sih buk, trus yang tadi?" tunjuknya dari arah suara

"Tadi siapa? tanya ibunya kebingungan

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
wah horor nih. true story? 👍👍👍lanjutkan gan!
profile-picture
putramelankolis memberi reputasi
Lihat 3 balasan
lanjut gannn
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan putramelankolis memberi reputasi
Seru nihblanjut gan...emoticon-Big Grin
profile-picture
putramelankolis memberi reputasi
Selesai dengan beberapa rukuk yang ia baca di alquran, merapikan tempat sholat dan berjalan mengarah ke ruang tamu.

"Buk, buk!" teriak memanggil ibunya

"Ibuk mana ya? Perasaan tadi bukannya jawab ya?" gumamnya dari hati sambil garuk-garuk badan karena belum mandi

*tok tok tok
"Assalamu'alaikum." salam ibunya dari pintu depan

"Wa'alai.... "
Salam terhenti

"Nak, salam ibuk kok nggak dijawab?" mengelus kepalanya

"Wa'alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh." jawabnya lengkap dan sigap

"Habis dari mana buk? Kapan keluarnya?" bertanya penasaran

"Loh, kan tadi sore setelah sholat ashar waktu kamu mau pergi ke lapangan kan ibuk udah bilang."

"Nak, habis ashar ibuk ke rumahnya bu RT ya. Nanti ibuk pulangnya agak telat, tapi ibuk sempetin masak supaya waktu kamu pulang dan ibuk nggak ada, kamu bisa buka sendiri." tirunya seperti tadi sore

"I-i-iya sih buk, trus yang tadi?" tunjuknya dari arah suara

"Tadi siapa? tanya ibunya kebingungan

"Eumm, oh iya buk. Masakannya enak banget, seperti biasanya. Hehe." tawa renyah si Ojik

Tetap dengan segala kesembunyian ketakutannya menyampaikan, alasannya hanya 1, tak ingin kedua orang tuanya tahu.

"Bapak kemana ya buk?" tanya Ojik celingukan

"Tadi ibuk disms bapak, katanya pulang telat, masih ada urusan di sekolah."

"Owh, yaudah deh kalau gitu aku ke masjid dulu ya buk. Main sama temen sekalian nunggu sholat isya dan tarawih." pamit meraih tangan ibunya

"Iya nak, hati-hati ya, nanti ibuk nyusul."

"Oke buk, Assalamu'alaikum." perginya sambil melambai

"Wa'alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh, hati-hati!"

Di masjid,

"Jik, nanti ikutan bangunin orang waktu sahur yuk." ajak salah satu temannya

"Eummm. Aku minta izin dulu ya sama ibuk bapak." jawabnya ragu

"Oke deh, nanti kalau dibolehin langsung kumpul di sini aja ya."

"Oke!" jawabnya girang

Malam itu berakhir dengan cepat. Setelah sholat tarawih, Ojik dan teman-temannya tidak melanjutkan kegiatan rutinnya. Bermain bersama. Karena mereka sudah membuat perjanjian akan hadir di acara tekturan (membangunkan orang ketika waktu sahur). Alhasil, mereka harus segera pulang dan tidur lebih awal.

Sekitar pukul 03.00, ayam berkokok sangat kencang di dekat rumah Ojik. Rumah Ojik dikelilingi tembok rumah warga di sisi kanan, belakang, dan kiri. Setelah dibangunkan oleh ibunya, Ojik gegas bermapitan.

Ketika sampai di teras rumah. Ojik terkejut melihat ayam yang tadinya berkokok sangat kencang. Sempat ia dengar. Ada yang aneh dalam perawakan dari ayam itu. Mata. Dia tidak menemukan adanya mata. Berlumuran darah dan berbackground hitam. Tanpa banyak kompromi, Ojik langsung berlari meninggalkan rumah.

Dengan nafas yang tersengal-sengal, sampai dengan cepat di titik kumpul.

"Jik, kamu kenapa?" tanya kawan yang mengajaknya tadi malam

"Gpp kok, aku latihan lari, olahraga kecil-kecilan." jawabnya masih dengan nafas yang terengah-engah

"Oh."

"Kok masih sepi, yang lainnya mana?" tanya Ojik kebingungan

"Masih ambil alat di belakang masjid." tunjuk kawannya ke arah belakang masjid

"Kamu tunggu di sana ya, aku susul mereka." tunjuk temannya itu mengarah ke rumah takmir masjid

Ada sebuah rumah, yang di dalamnya dihuni seorang saja, takmir masjid atau pengurus masjid. Dan, terdapat sebuah lincak (kursi panjang yang terbuat dari bambu). Menunggulah ia di sana.

Dengan penuh rasa takut yang akud. Ojik memaksa diri untuk berani menanti kawannya. Biasanya, takmir masjid sudah siap sedia bersuara di masjid membangunkan warga. Tapi yang ia dapati hanya keheningan. Sebenarnya Ojik bisa saja mengetuk pintu dan merekrut kawan penantian. Karena tidak enak hati, dia lagi-lagi memaksa diri.

10 menit berlalu, kawannya tak kembali. Sekadar merehatkan badan dan menahan dinginnya pagi, ia tiduran. Tak disangka, lama-kelamaan ia terlelap.

Kemudian Ojik terbangun karena goyangan tangan yang ia rasakan. Seorang takmir masjid membangunkannya.

"Loh, Ojik? Kok di sini sendirian?" tanya takmir masjid

"Iya pak. Saya nungguin temen saya yang ambil alat tektur di belakang masjid." jawabnya sambil mengucek mata

"Oh. Tapi, saya tadi dengar sepertinya teman-teman kamu sudah pada berangkat tekturan."

"Loh, iya to pak? berarti saya ditinggalin." jawabnya sambil memulihkan badan

"Iya mungkin mereka kasihan kamu masih ngantuk, akhirnya daripada ganggu kamu, mereka biarin." jawab takmir masjid menenangkan

"Iya juga ya pak."

"Yasudah pak, saya pamit mau sahur dulu. Assalamu'alaikum." pamitnya pergi

"Wa'alaikumsalam warrokhmatullohi wabarokatuh." menjawab dengan rasa heran dan pikiran kok bisa Ojik berani sendirian

Dengan menahan rasa kecewa dan sedikit merasa acuh karena terbiasa. Ojik pulang ke rumah. Sampainya di pertigaan gang masjid, ia keluar

*gelunddungggg
*gelunddungggg
*gelunddungggg

"Allahuakbar!" teriaknya spontan

Tanpa menamatkan sosok benda yang menggelinding tersebut. Ojik lari. Dengan diikuti bayangan sosok benda bulat menyerupai kepala dengan ekspresi tertawa.

Bersambung...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh putramelankolis
gelundung pringis pasti,emoticon-Ngakak

Lanjut gan, keren ceritanyaemoticon-Shakehand2
profile-picture
putramelankolis memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Amit amit, jangan sampe lah gan,emoticon-Ngakak cma prnah dnger cerieanya za
profile-picture
putramelankolis memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di