CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Dua Dokter Surabaya Meninggal karena Corona, IDI Beri Catatan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec61f8e7414f53b2d5b5621/dua-dokter-surabaya-meninggal-karena-corona-idi-beri-catatan

Dua Dokter Surabaya Meninggal karena Corona, IDI Beri Catatan

Dua Dokter Surabaya Meninggal karena Corona, IDI Beri CatatanSurabaya, CNN Indonesia -- Gugurnya dr Boedhi Harsono menambah panjang catatan duka tenaga medis yang meninggal akibat virus corona (Covid-19) di Surabaya. Berdasarkan catatan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, hingga kini sudah ada dua dokter di Kota Pahlawan yang menjadi korban virus tersebut.

Ketua IDI Surabaya dr Brahmana Askandar menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kejadian itu. Ia pun memberikan sejumlah catatan khusus agar peristiwa memilukan tersebut tak kembali terulang.

Ia meminta agar pemerintah terus meningkatkan kapasitas rapid test dan tes swab, dengan mempermudah prosedur masyarakat untuk menjalaninya. Hal itu kata dia, berguna untuk mengidentifikasi pasien Covid-19.

"Harus diperluas, screening diperbaiki, kemudian tes dipermudah sehingga kita bisa membedakan dengan pasti mana yang Covid-19 mana yang bukan," kata Brahmana, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/5).

Jika tes telah dilakukan secara masif, maka kerja tenaga medis bisa terbantu, sebab pasien yang telah terindikasi Covid-19 dan yang bukan akan terdeteksi dengan mudah saat konsultasi. Dengan demikian tenaga medis bisa langsung menentukan antisipasi yang harus dilakukan.

Hal itu, kata Brahmana lantaran ditemukan banyaknya pasien positif Covid-19 yang bahkan tak mengalami gejala klinis apapun, seperti batuk, sesak nafas ataupun demam.

"Yang Covid-19 bisa segera isolasi atau karantina mandiri. Tapi di kala kita masih kesulitan membedakan itu bisa berbaur antara yang Covid-19 dengan yang tidak. Apa lagi ada OTG (orang tanpa gejala) itu justru lebih banyak," ujarnya.

Sebab, jika hal tak dilakukan, maka akan makin sulit memetakan mana pasien Covid-19 dan mana yang bukan, hal itu akan menyebabkan risiko penularan terhadap tenaga medis akan makin besar.

Brahmana mengatakan, dokter bisa tertular dari mana saja, bahkan tak bertugas di ruang isolasi atau ruang perawatan insentif sekalipun. Bisa jadi, ia tak sengaja tertular saat berpapasan dengan orang tanpa gejala, di ruang tunggu rumah sakit, toilet atau tempat umum lainnya.

"Artinya ketularan bisa kemana pun kalau dokter, dari pasien bisa, penunggu pasien bisa, dari pengantar pasien bisa, mungkin pasien OTG mungkin sehat, yang nunggu di RS. Eksposnya banyak kalau tenaga medis," ujarnya.

Ia mencontohkan, salah satunya yang dialami oleh mendiang dr Boedhi Harsono. Brahmana mengatakan sebelum meninggal dr Boedhi diketahui sudah tak aktif lagi melakukan praktik, namun nyatanya ia dinyatakan positif Covid-19.

"Dokter Boedhi itu tidak bertugas di ruang isolasi dan di ruang intensif, tapi beliau positif Covid-19," katanya.

Sementara itu, selama sepekan terakhir, setidaknya ada tiga orang tenaga medis yang meninggal akibat infeksi Covid-19, satu di antaranya adalah dokter, dan dua lainnya merupakan perawat.

Yang pertama adalah seorang perawat Rumah Sakit (RS) Royal Surabaya, bernama Ari Puspita Sari, yang dinyatakan telah meninggal dunia pada Senin (18/5). Hal itu makin memilukan karena Ari wafat dalam keadaan mengandung.

Yang kedua adalah dr Boedhi Harsono, ia dikabarkan meninggal dunia akibat virus corona pada Senin (18/5) malam. Selain menderita Covid-19, Boedhi juga menderita penyakit sertaan lain.

Dan yang ketiga adalah, Suhartatik, seorang perawat di RSUD dr M Soewandhie. Ia meninggal karena Covid-19 pada Rabu (20/5) dini hari saat mendapatkan perawatan di RS Husada Utama, Surabaya.

Jauh sebelum itu, terdapat pula seorang dokter RSUD dr Soewandhie, dr Berkatnu Indrawan Jangkuk yang meninggal setelah terpapar virus corona. Ia meninggal pada 18 April lalu, setelah tertular corona dari pasien positif yang sempat tidak jujur saat diperiksa.

Kemudian ada juga perawat Rumah Sakit Siloam, Surabaya, Hastuti Yulistiorini. Ia wafat akibat terjangkit virus corona, Kamis (16/4) pagi. Padahal ia tak bertugas di ruang isolasi ataupun intensif.

https://m.cnnindonesia.com/nasional/...i-beri-catatan

Saran ane tuk seluruh rakyat Indonesia.
Ketika kita sakit,anggap saja diri kita kemungkinan terinfeksi virus co19 saat di rumah maupun saat berobat.
Dengan pola pikir seperti itu maka kita akan lebih berhati2 diri dengan pikiran entar menulari.
Jangan anggap ini tuk menjatuhkan mental diri tapi anggap ini tuk kebaikan semuanya termasuk diri sendiri.
Walaupun endingnya ternyata tidak,toh kita telah berbuat yg terbaik yg kita bisa lakukan tuk bangsa ini.
Ingat ribuan positip sudah sembuh di Indonesia.emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
devilkillms dan 11 lainnya memberi reputasi
hmmmmm turut berdukacitaemoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan pertotperbaik memberi reputasi
Diubah oleh gembalaonta212
Ane cm salut dg yg pertama.
Krn dia bertugas utk corona

Sedang dokter kedua ini, istrinya buka praktek di rumah sendiri

Kalo perawatmya, semua kasihan
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan pertotperbaik memberi reputasi
Diubah oleh antek.rakyat
harusnya pemerintah pusat memberikan santunan kepada keluarga para Nakes yang wafat dalam penaganan pasien Covid19, nggak cuma pernyataan terima kasih dan bunga doang.

minim minim santunan untuk keluarga Nakes tersebut RP 2M diberikan oleh pemerintah pusat.
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan betadine memberi reputasi
kita akan sengsara kalo terlalu lama isolasi tapi kalo akhirnya nyebar keluar malah bisa memperburuk dampak pandemi. jadinya dilema...
profile-picture
profile-picture
jeffm12 dan extreme78 memberi reputasi
Dokter banyak mati karena rata2 ga pernah mematuhi aturan keamanan dan keselamatan penanganan covid. Coba bandingkan dengan perawat yg notabene adalah orang pertama yg menangani pasien sebelum ke dokter.

Karena merasa sok inilah makanya banyak yg matik. Sekelas dokter aja tuh mereka ga takut sm covid, mereka cuma takut sm pasien yg positif covid emoticon-Busaemoticon-Angkat Beeremoticon-Ngacir
profile-picture
profile-picture
jeffm12 dan extreme78 memberi reputasi
Diubah oleh kakob007
Lihat 2 balasan
Setuju sama ts. Kita harus memposisikan diri kita positif covid. Ada virus di tubuh kita. Jadi bisa lebih ati2 biar gak nularin orang.

Masalahnya, orang2 yg egois tetep keluyuran itu bisa gak mikir demikian? emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
extreme78 dan 2 lainnya memberi reputasi
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Makan nya jangan nyalahin jokowi aja, mampus kau.
profile-picture
profile-picture
ac235287 dan extreme78 memberi reputasi
gile mahal uang sekolahnya itu udah resign aja praktek swasta
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Kasian nakes mau sampe kapan kl corona mau didamaiin sama pemerintah?,jd nakes covid lbh sengsara drpd nakes yang bukan covid
profile-picture
extreme78 memberi reputasi
Lihat 3 balasan
faktor meninggalnya dokter ini karena efek kelelahan juga, di forsir untuk ngerawat pasien yang tiap hari datang sedangkan dokter spesialis yg buat tos2an sedikit
pemerintah ga kasian dgn tenaga medis sering mencla mencle ga tegas
Diubah oleh daroi
Update!

Spesimen 219975
ODP yang sedang dipantau 50187
PDP yang masih diawasi 11066
+ 973 kasus
+ 263 sembuh
+ 36 meninggal
Totalnya jadi 20162 kasus, 4838 sembuh, 1278 meninggal
Tenaga kesehatan yg pake masker dan APD standar medis aja SDH banyak yang tumbang... Apalagi rakyat yg hanya mengandalkan masker kain, jauh dari istilah aman, relaksasi, berdamai maupun hidup berdampingan dgn Corona... bahaya Terpapar positip corona dan atau kematian menyertai kita
profile-picture
mphycx memberi reputasi
Mantap masuk banget gan 👌, kita harus merubah pola pikir kita sekarang agar dapat membantu pemerintah dan tenaga medis 🙏


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di