CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Agama, Pandemi dan Masa Depan Politik Indonesia
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec53fc768cc950a903aa011/agama-pandemi-dan-masa-depan-politik-indonesia

Agama, Pandemi dan Masa Depan Politik Indonesia

JAKARTA - Indonesia belum akan mampu terlepas dari isu agama dalam berbagai persoalan yang membelitnya. Begitu pula terkait pandemi virus corona yang saat ini terjadi.

Upaya pendekatan berdasar sains yang dilakukan pemerintah berhadapan dengan kepercayaan sebagian warga terhadap ajaran agama. Sejumlah pakar berpendapat, pemerintah harus memperkuat peran tokoh agama dan masyarakat, menghadapi pandemi maupun masa sesudahnya.

Alissa Wahid, putri almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, adalah salah satu yang menggagaskan itu. Ia menilai, kelompok agama yang mengutamakan ritual akan mengalami kesulitan terkait hal in dan hanya mereka yang memahami konsep menghindari keburukan lebih utama dari mencari kebaikan, yang bisa menempatkan isu pandemi dalam kerangka tepat. Untuk menyelaraskan pemahaman sains dan agama itu, kata Alissa, peran tokoh agama harus dikedepankan.

“Saya melihat salah satu kegagapan pemerintah saat ini, kita tahu saat ini publik banyak protes kepada pemerintah karena inkonsistensi, karena ketidakjelasan, karena data yang ditutupi, karena manajemen krisis yang tidak baik, saya melihat salah satunya karena tidak selesainya pelibatan tokoh-tokoh masyarakatnya,” kata Alissa.

Masyarakat Indonesia, lanjut Alissa, adalah masyarakat sosiosentris. Mereka mendahulukan kepentingan kelompok dibanding pribadi. Tokoh masyarakat berperan dalam pilihan sikap seperti itu. Di sisi lain, sesuai riset 93 persen masyarakat Indonesia meyakini agama berperan sangat penting dalam kehidupan mereka. Keyakinan semacam ini penting diperhatikan pemerintah dalam merancang strategi menahan laju pandemi.

Tantangan Manfaatkan Peluang

Kecenderungan sosiosentris masyarakat Indonesia akan menentukan posisi agama dalam sistem politik Indonesia ke depan. Jika melalui pandemi ini, agama berhasil dijadikan kekuatan sosial, maka ada kesempatan ke depan untuk dipraktikkan dalam kehidupan politik. Namun jika gagal, agama akan kembali dijadikan alat politik untuk mengarahkan sentimen pemilih ke pihak tertentu.

“Apakah Indonesia akan mengkapitalisasi “sosiosentrisme” dan agama sebagai kekuatan berpengaruh untuk kepentingan bersama? Atau masih mau seperti kemarin, ketika agama dijadikan sebagai pratical politic capital, karena tahu bahwa sentimen agama adalah yang paling laku dan paling mudah menggerakkan publik,” kata Alissa yang juga koordinator Jaringan Gusdurian.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera, M Nasir Djamil menyitir pendapat seorang kawannya di Aceh yang menyebut, dalam masa pandemi ini, agama seolah-olah hilang.

“Dalam situasi seperti ini, agama seolah-olah bubar. Jadi orang tidak lagi bisa berjabat tangan, orang tidak bisa lagi ke masjid, orang tidak bisa lagi ke gereja, orang tidak bisa lagi ke kuil. Perayaan-perayaan agama sudah tidak ada lagi, lalu kemudian kita disuruh untuk mencari Tuhan dalam keterisolasian kita,” kata Nasir.

Keterisolasian itu, lanjut Nasir, memberi kesempatan kepada umat beragama untuk merenung dan bersikap sabar. Bukan sebuah kesabaran untuk menerima begitu saja keadaan, tetapi tetap bergerak, terutama karena kondisi sosial yang kian memprihatinkan. Karena itulah, partai politik di Indonesia, termasuk PKS, menurutnya, memiliki banyak kegiatan sosial yang membantu masyarakat terdampak.

Dalam perenungan umat beragama menyikapi pandemi, muncul kesadaran bahwa sains hanya memiliki satu pisau untuk mengupas hal-hal yang terlihat. Ada sisi yang hanya dapat dipahami dengan peran agama di dalamnya, dan karena itulah di Indonesia agama juga berperan untuk menjawab berbagai hal terkait virus corona.

Ada sebagian kalangan umat beragama, dalam agama manapun, yang mendekati pandemi ini dalam kacamata takdir. Karena itulah, sikap sebagian umat beragama memunculkan narasi yang seolah-olah tidak sesuai dengan sains. Pada satu sisi, tindakan umat beragama ini tidak sesuai dengan upaya pemerintah menekan laju penyebaran.

Tetapi ada cukup banyak hoaks tersebar di kalangan umat beragama yang mendukung tindakan itu. PKS, sebagai partai politik, kata Nasir, tentu saja tidak setuju dengan penyebaran wacana berisi hoaks semacam ini.

Inkonsistensi Jadi Masalah

Tetapi di satu pihak, inkonsistensi kebijakan pemerintah pusat dalam penanganan pandemi juga menjadi alasan umat beragama untuk mengambil sikap berseberangan. Menurut anggota Komisi III DPR RI ini, ada semacam pembangkangan publik, karena penerapan kebijakan yang berubah-ubah oleh pemerintah.

“Ada inkonsistensi penguasa dalam menyikapi pandemi ini. Mereka pun berusaha untuk membebaskan diri dari peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah, dengan mengajukan argumen-argumen bahwa semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan,” kata Nasir.

Firliana Purwanti dari DPP Partai Demokrat menyebut dua sebab yang menjadi tantangan besar dalam penanganan pandemi virus corona di Indonesia. Kedua hal itu adalah tidak konsistennya kebijakan yang diterapkan pemerintah, dan tekanan ekonomi yang membelit masyarakat.

Sejauh ini, partai Demokrat berkonsentrasi memberikan bantuan ekonomi bagi masyarakat. Firliana menyebut, kelompok marjinal seperti pekerja sektor informal dan perempuan memperoleh prioritas mereka. Selain itu, kelompok masyarakat yang luput dari program pemerintah, seperti kartu Prakerja juga menjadi salah satu sasaran utama.

“Sebetulnya dampak ini bisa dihindari kalau saja pemerintah bisa lebih cepat menjaga daya beli masyarakat dengan segera mengeluarkan Bantuan Langsung Tunai,” kata Firliana.

Upaya di sektor ekonomi ini penting, lanjut Firliana, karena terbukti bahwa masyarakat miskin rentan dibujuk dalam politisasi agama.

Politik Sektarian Menurun

Sementara Andy Budiman, juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menilai ada keuntungan yang bisa diperoleh dari pandemi, terkait praktik politik sektarian di Indonesia. Di masa pandemi ini, masyarakat mau tidak mau diajak untuk berpikir rasional. Mereka juga terbiasa belajar dan mendengar uraian para ahli melalui media, termasuk upaya melakukan verifikasi. Dalam masyarakat yang kritis semacam itu, praktik politik sektarian ke depan akan bisa dikikis.

“Jadi pada pandemi ini sebetulnya kita sedang menyaksikan atau secara tidak sadar kita melihat bahwa suara-suara politik identitas atau politik sektarianisme ini menurun. Masih ada tentu saja orang yang mencoba mengobarkan politik identitas pada masa seperti ini, tapi secara umum suara-suara itu bisa dibilang menurun. Orang yang biasanya mengobarkan sentimen sektarian ini tidak punya ruang,” ujar Andy.

Andy mengapreasiasi peran tokoh agama di Indonesia yang justru ikut menyebarluaskan pemahaman mengenai virus corona dari sudut pandang ilmiah. Pilihan sikap semacam ini akan membangun solidaritas sosial yang lebih, dan akan terus membesar di masa depan.

Kehidupan relijius masyarakat juga akan berubah, dari tindakan yang lebih ditujukan sebagai pamer di masa lalu, menjadi sisi relijius lebih ke dalam, kepada diri sendiri. Kondisi ini, diyakini Andy akan mendukung hilangnya politik identitas di Indonesia masa depan.

https://www.voaindonesia.com/a/agama...a/5426149.html

Indonesia harus tiru amerika, bagaimana amerika bisa menerima presiden berkulit hitam pertama, obama. Sampe sekarang kalau dipikir pikir, saya merasa mimpi amerika bisa dipimpin oleh keturunan kulit hitam.

berasa kebolak balik aja, biasanya kulit putih yang jadi boss, ini malah kulit hitam yang jadi boss..

kalau saya lihat video di youtube, bagaimana obama dijaga ketat oleh pasukan elit secret service, berbadan tegap berkulit putih, kok rasanya aneh ya emoticon-Big Grin masih ga percaya saya obama bisa menang.

obama itu double minority lho, agamanya ga jelas, hitam lagi emoticon-Big Grin

nah, apakah Indonesia siap untuk menerima, jika suatu saat nanti Indonesia akan dipimpin oleh non islam dan non jawa? Semoga saja bisa emoticon-Smilie

ohya, ada film semi dokumenter tentang bagaimana begitu kuatnya pengaruh Agama Kristen di perpolitikan amerika. Judulnya the family, sangat layak tonton. Tentang gerakan Kristen konservatif yg mengontrol pemerintah amerika. Orang orang penting di Amerika, mayoritas seorang Kristen yg sangat taat.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jokovvi dan 12 lainnya memberi reputasi
saat boomer & millenial udah koit semua, sisa zoomer baru deh bisa emoticon-Embarrassment
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wen12691 dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Amerika nunggu 200 tahun baru bisa kulit hitam jadi presiden.... Seenggaknya di sini bisa 500 tahun lagi emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
areszzjay dan nasgorbabi memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Mau sosiosentris kek

Mau kentut kek

Mau berak kek

Mau jembhut kek

Intinya untuk mengatur manusia manusia blangsak di saat pandemi ini paling bener yah menggunakan senjata

Melanggar psbb? Tangkep, penjarain
Protes? Tembak
Protes lagi? Tembak lagi
Protes lagi? Tembakin lagi

Emang mau gimana lagi? Lu mau berharap mereka bakal nurut sama elu hanya dengan himbauan sambil elu elus elus palkonnya???

Sadari dulu, yg sedang kita hadapi ini makhluk seperti apa......
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wen12691 dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Quote:


Zoomer? Maksudnya Gen Z generasi copas dan rebahan itu?

Nice satire. emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
decodeca dan areszzjay memberi reputasi
Lihat 1 balasan
udahlah kiamat aja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
decodeca dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
negara kaya
giliran ade wabah gelagapan ga bisa ngambil kebijakan karena sudah bnyk hasil yg disetorkan
profile-picture
profile-picture
decodeca dan nasgorbabi memberi reputasi
Lihat 2 balasan
mau kek amerika? pilihannya cuman 2
lu pindah ke amerika atau rakyat indon ganti sama bule

dijamin 30 tahun dah maju ini negara emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wen12691 dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
GOBLOK Obama agamanya kristen agama mayoritas biasanya yang jadi pemimpin dimana2 sama saja, indonesia ada megawati presiden wanita pertama RI. klo elu merasa minoritas terima aja ga digebukin uda beruntung dimana2 sama, jaga mulut aja biar gak kena tendang itu congor lalu merasa didzolimi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
decodeca dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Alah diimbau jangan solat berjamaah aja ada yg kelenjotan
Jangan sok bijak dimasa pandemi ini, cari pembenaranemoticon-Cape d...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
decodeca dan 3 lainnya memberi reputasi
Virus Corona adalah salah satu cara alam untuk menyeleksi makhluk hidup, termasuk manusia.
Manusia yang mampu beradaptasi maka akan bertahan hidup.
Yang merasa kebal, ya sudah akan banyak yang mati.

Yang bisa patuh, maka akan bertahan.
Tapi apakah bisa berlangsung selamanya?
Orang yang kena virus mild, lalu sembuh, maka akan memperoleh kekebalan, meskipun belum ada evidence yang kuat.

Tapi satu yang pasti. Doa 100x sehari dengan tidak berdoa sama sekali, kemungkinan kamu kena virus sama besarnya, ga berkurang atau bertambah sedikitpun, ceteris paribus.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
decodeca dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Post ini telah dihapus oleh KS06
Lihat 3 balasan
Bangsa champa yg penuh seni
Kena pengaruh budaya impor ala kadrun
Selalu cari musuh
Sayangnya musuh yg mrk hadapi adl bangsa yg solid
Akhirnya terusir dr negerinya
Dan kemanakah keturunan2 mereka membawa warisan budaya dan cara pandang impor baru itu
Kita semua tau lah emoticon-Big Grin



profile-picture
profile-picture
decodeca dan areszzjay memberi reputasi
Lucu juga kalau akhirnya banyak yang murtad.
Gara-gara si anu, anu, anu, dan anu.

emoticon-Shutup
profile-picture
decodeca memberi reputasi
Yang gue tau pembatasan ini pecah telor gara-gara sebagian kelompok ngotot melaksanakan hari besar agamanya.

bukti bencana bagi semesta apalagi yang kau cari wahai manusia

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wen12691 dan 3 lainnya memberi reputasi
Melibatkan tokoh agama dan adat? What about scientist? Mereka yg harusnya dilibatkan dalam penanganan wabah dan riset vaksin untuk indonesia bukan mlh diketawain dan budget dipangkas
profile-picture
profile-picture
decodeca dan nasgorbabi memberi reputasi
yang ketakutan setengah mati oleh covid itu cuma islam indonesia aja, agama lain mah woles aja.
ketakutan karena mereka paling fragile dibandingkan agama lain
kenapa ane bilang islam indonesia? karena islam di negara lain woles aja tuh, nurut apa kata pemerintah
islam di indonesia sudah dikotori banyak kepentingan politik
mereka takut kehilangan pengaruh jika menuruti anjuran pemerintah utk dirumah saja
diam dirumahsaja akan memaksa mereka merenungkan kembali kebenaran ajaran yg mereka anut selama ini
dengan disuguhi tontonan banyaknya orang bodoh mengabaikan social distancing, suka tidak suka, umat islam di indonesia akan merenungkan kembali kebenaran agama mereka sendiri, yg mengiring pada opini jika agama ini menyesatkan, orang bodoh diluaran sana buktinya
anda akan dipaksa berpikir jika islam tidak sejalan dengan science
indonesiaterserah dengan mudah bisa diubah menjadi islamterserah di benak mereka yg kritis
dan itu bahaya, bisa banyak muncul orang murtad karenanya, dan islam indonesia takut itu, takut kehilangan pengikut, dan pada akhirnya, kehilangan pengaruh di dunia politik indonesia
karena bagi islam indonesia, masjid adalah pemersatu mereka, tanpa masjid, mereka fragile
agar lebih solid, mereka selal menyisipkan ancaman masuk neraka dalam setiap kesempatan
situasi kek gini sudah di kondisikan sejak dahulu, dan hasilnya, islam berhasil masuk dunia politik indonesia
namun hal itu harus di bayar mahal. masyarakat menjadi kurang kritis, karena sudah dikondisikan menyerahkan unsolved cases mereka kepada kekuatan supranatural, sebuah jawaban instan di kala masalah pelik dunia terasa sulit di selesaikan
mereka sudah di ajari kayak gitu sejak dulu
akibatnya, saat covid tiba, lagi2 mereka berpaling kepada kekuatan supranatural itu tadi, padahal solusi2 ilmiah nya sudah ada (vaksin, lockdown, PSBB, PKM, dll)
mereka lebih takut masuk neraka ketimbang menghadapi covid dgn cara ilmiah
ini sebuah ciri pemahaman sesat, menjerumuskan pengikutnya pada kematian, kayak sekte sekte sesat d luaran sana yg berhasil menyuruh pengikutnya minum racun, menebar gas beracun, dan pembantaian massal lainnya
itulah sebabnya komunis melarang agama dilibatkan dalam politik, karena bahaya nya seperti inilah

pemerintah menjadi inkonsisten karena islam sudah masuk ke dunia politik
ada pertentangan kepentingan disini
pemerintah pro science, tapi orang2 pentolan islam didalam pemerintahan pro islam
tidak sejalan jadinya, demi mengakomodir semua kepentingan itu, makanya jadi inkonsistensi (tarik ulur kepentingan)
semua itu jadi tontonan publik, akhirnya publik terpecah jadi 2 kubu, yang nurut diamdirumahaja, dan mereka yg bandel membangkang dgn alasan lebih takut Tuhan daripada covid.
BST dan bansos itu solusi ekonomi, tapi bukan solusi utk masalah diatas (agama vs science)
kuncinya adalah kecerdasan kehidupan bermasyarakat (kritis)
dan itu artinya pemerintah kudu gelontorkan dana lebih besar utk dunia pendidikan, dengan begitu kaum sektarian bisa di babat habis
semakin banyak orang bodoh, semakin leluasa agama mencampuri politik
sebenarnya bagi pemerintah, covid adalah kesempatan membasmi para kadrun2 yg nyusahin negara selama ini
sekarang mereka dalam keadaan terdesak, karena terbukti ketaatan beragama bukan solusi atasi covid, dan itu terbaca jelas oleh mereka yg kritis
covid memaksa kaum sektarian (fanatik agama) utk berpikir rasional
jadi ada bagusnya juga jika dibilang covid akan lama bersama kita, karena emang butuh waktu lama utk menghabisi para kadrun se Indonesia yg jumlahnya ratusan juta orang itu
menghabisi disini maksudnya pola pikir kolot nya itu loh

Spoiler for musuh bersama:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wen12691 dan 2 lainnya memberi reputasi
pandemi bakal terus ada, dari flu spanyol, flu burung, ebola, corona, nanti next ada lagi. perspektif agama dan perspektif pemerintah ga kompak. yang satu bilang jangan yang lain bilang boleh. kalo minoritas rata2 pada nurut aja. tapi kalo urusan rumah sakit dan meninggal kaum yang bilang boleh pada ngumpet. akhirnya yang bilang jangan juga yg ngurusin. trus yang begini mau nentuin politik? ke depannya indo bakal banyak penduduk milenials usia produktif, yang ga banyak mikirin agama, lebih pake logika. tantangan agama buat exist dan dominan sih bakal berat ke depannya. di dempet sana sini termasuk di culasin sama politik. sejak kapan politik peduli sama agama?
profile-picture
wen12691 memberi reputasi
Diubah oleh decodeca
Lihat 1 balasan
banyak komen bagusnya di trit ini


Benarkan? kalo nastaik yg ngomong ujung2nya salah agama

Kalian2 itu yg ngerasa lebih punya IPTEK , open minded, lebih pintar, daripada tiap detik ngegosip dan ngeledek keyakinan orang lain, mending bantu deh ilmuan sono , sapa tau vaksin ketemu lebih cepet .

Kalo cuman gosip aja mah kerjaan emak emak,

Toh kalian2 ini tak lebih baik daripada yg kalian ledek, malah bikin tambah kisruh suasana, soal covid ini semua ngerasain, negara yg katanya paling canggih dan maju pun korbannya banyak.

Coba kalo ada yg bilang pangkal masalahnya dari cina, nastaik langsung kelojotan, gak boleh nyari2 kesalahan orang, padahal hampir semua negara juga menyalahkan cina. Tapi anehnya nastaik selalu mencari2 kesalahan orang lain dalam hal ini agama.

nastaik atheis lokal di sini selalu ngerasa lebih pinter, anehnya kerjaannya cuma bisa ngeledek dan ngegosipin agama,
palingan kalo beneran bahas IPTEK langsung meleduk otaknya, orang cuma seuprit


emoticon-Traveller

berantakan bre,politik kebencin via buzzer penyebar hoax dan pemecah belah ga bakal bisa bersatu lg lah apalagi pilpres kyk gt,padahal kalo udah kebelah gt asal pilpres jujur yakin ane pada nerima dan bersatu lg karena fair play..lah harus diakui secara transparan byk yg ga bener bahkan rekan ane dibeberapa negara nanya kok bisa dibiarin aja? ane ga bisa jawab dah 🤣
Diubah oleh hard_dick


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di