CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / Supranatural /
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec3696ec82084247852f5cc/penyewekan-pengasih-bagian-ke-ii

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II

      Tujuh tahun sudah aku berpacaran dengan Mira, kejadian di parkiran sekolah ketika aku tidak sengaja menyenggol HP milik seseorang yang ahirnya jatuh dan rusak. Tapi dengan kemampuanku dibidang elektronik untung aku bisa memperbaikinya dan bahkan HP jadul itu bisa aku otak-atik sehingga tidak sering macet lagi dan kameranya bisa lebih jernih. Pemilik HP itu sangat senang, tak lagi ada raut kekesalan diwajahnya yang terlihat hanyalah senyum manis yang menawan hati, dialah Mira.

      Waktu terus berjalan Mira begitu dekat denganku, selain karena dia memang senang dengan teknologi informasi, aku juga senang karena dia sering mengajariku menari Bali. Bukan karena aku hobi menari tapi karena merupakan salah satu mata pelajaran wajib jadi mau tak mau harus bisa. Disaat pulang sekolah biasanya anak2 berkumpul dan latihan menari dikelas, sementara aku akan sibuk memainkan Game di laptopku sambil menunggu giliran dilatih oleh Mira.

                Aku tidak begitu suka bergaul dengan teman sebaya bukan karena aku Agoraphobia tapi karena aku merasa malas bergaul dengan Geng cowok2 di kelasku yang aneh2, ada geng play boy yang suka caper ke cewek2, ada geng yang kerjaannya main petak umpet saja dari bel keluar sampai bel pulang, dan yang paling parah adalah geng teman satu desaku di sekolah yang kerjaanya nonton film horor dan film dewasa, bikin malu nama desa saja kalo dipikir harus sekelas dengan kawanku kolektor aneh itu.

                Kenapa aku bisa jadian sama Mira sebenarnya simpel saja, disaat kami sudah semakin akrab dan dekat Mira sering meminjam HP ku, awalnya aku agak risih tapi karena jaringan HP ku yang paling bagus untuk buka Facebook jadi aku biarkan saja. Sampai suatu ketika di hari sabtu karena jam pelajaran banyak yang kosong jadi anak2 banyak yang main HP. Jaman itu kami harus sembunyi2 agar tidak disita pihak sekolah, temenku yang kerjaanya nonton film itu sebut saja Si Gendut meminjam HP ku katanya mau nonton sesuatu.

                “Dik silih HP anggo mukak video penampakan Leak di FB nah!, (Dik pinjam HP buat buka video penampakan Leak di FB ya!)”, ujar Si Gendut dengan senyum kalo ada maunya. Dengan perasaan kesal aku berikan HP ku meskipun ogah memberikan tapi tak enak rasanya terlebih teman satu kampung nanti Si Gendut bisa nge-gosip yang aneh2 tentangku kalo gak dikasi.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
ilustrasi video penampakan ramai diperbincangkan dulu belum terkenal istilah 'viral'

                “Neh!, melahang nganggo, awas mukak b**ep cai !, (nih!, bagusin makek, awas buka b**ep kamu!). Jaman gini masih aja percaya sama yang begituan!, Amerika aja sudah bikin satelit, harusnya kamu bikin satelit!”, ujarku ketus sambil melangkah ke kantin meninggalkan kawanku yang cengegesan mojok rame2 di kelas.

                Sekembalinya dari kantin aku lihat Si Gendut ngobrol sama geng nya di bangku belakang dan aku lihat HP-ku di meja tempatku duduk, disebelah HP-ku ada HP-nya Si Gendut, 

                “Kampret!, pasti dia download film biru lagi dan sekarang dikirim lewat Bluethoot ke HP-nya”, gumamku. 

                  Segera aku duduk di bangku dan membuka laptop, disaat sibuk bermain Game sekelibat ku lihat HP ku diambil seseorang, “Ndut tuh filmnya dah kekirim semua...”, aku tengok kesampingku ternyata Mira yang bengong menatap layar HP ku.

                Tiba2 aku baru tersadar, ketika kulihat Mira begitu kesal meletakan HP di mejaku dan beranjak pergi tanpa berkata apapun, aku yang kebingungan tanpa tau harus ngomong segera aku kejar Mira dan kuraih tangannya di depan kelas, diapun berhenti dan berbalik menatapku dan balik aku juga menatap matanya, tak bisa kubayangkan wajahnya yang penuh kekecewaan saat itu. 

                Karena bingung mau ngomong apa dan harus ngapain, entah angin dari mana yang merasuki sehingga tanpa pikir2 langsung saja aku peluk si Mira didepan kelas dihadapan semua teman2ku yang kemudian bersorak meriah seperti nonton pertandingan bola.
 
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
gambar ilustrasi pelukan 'hangat' (hanya ilustrasi diperoleh dari mesin pencari)

                “Ciee!!, Cieee!!, Oh My God!!, ohh sweet banget nok!!” aku lihat Si Gendut paling semangat menyoraki dari bangku belakang, ingin rasanya aku lempar kursi guru ke arahnya saat itu.

                Begitulah kisah aku dan Mira dari saat itu kami resmi pacaran. Suka duka kami lalui bersama, mulai dari egoisnya sifat kekanak-kanakan cinta monyet masa SMP, masa pencarian jati diri anak SMA, hingga masa memilih jalan hidup dengan kuliah. Aku kuliah jurusan Desain sementata Mira kuliah seni tari, untungnya kampus kami berdekatan sehingga tidak ada kata LDR di hubungan kami.  Kisah ku berjalan begitu mulus untuk restu orang tua dengan mudah aku dapatkan karena baik ortu mitra sudah akrab denganku begitu juga sebaliknya.

                Setelah wisuda aku memutuskan bekerja sebagai seorang perancang sistem, sementara Mira melanjutkan pendidikan ke jenjang S2, kami berdua sama2 sibuk dengan urusan masing2, aku sibuk dengan pekerjaanku, Mira selain sibuk kuliah juga mengajar tari di sekolah tempat aku dan dia ketemu dulu. Meski jarang ketemu tapi aku selalu sempat Chat dengan Mira dan sesekali dalam 2 minggu aku ngapel ke rumahnya saat Weekend.

             Semua berjalan lancar seperti biasa sampai pelan2 aku merasa ada perubahan dari tingkah laku pacarku, ketika semakin hari Chat yang ku kirim semakin lama direspon, dan kalau dibalas pun singkat2 dan jutek, dan ketika aku menelfonnya dia menjawab dengan kata2 kasar padaku.

           “Kamu ini gak pernah ngerti aku!!, kamu sibuk aja ngurusin kerjaan!!, sana urus dah itu dulu!, kalo kamu nelfon cuma sekedar nanyain kabar gak usah dah!, aku bisa juga sibuk kayak kamu!..”, terdengar suara itu di seberang sana, membuat badanku lemes melayang...

           Ketika kemudaian aku datang kerumahnya, Mira malah mengurung diri di kamar. Sementara aku duduk bersandar di tiang rumah depan kamarnya menunggu, bahkan Ortu Mira sampai malu padaku.

           “Gus Odik, mungkin Mira-nya lagi stres, jangan tersinggung ya nanti ibu yang bujuk” kata Ibu-nya Mira mengiringi langkahku keluar dari pekarangan rumahnya.
Karena penasaran ahirnya aku selidiki ke tempatnya mengajar, ku temui teman2 kerjanya juga guru2 ku disana menanyakan gelagat dari pacarku, sampai ahirnya kecurigaanku tertuju pada sebuah nama. Wahyu, pemuda satu desa dengan Mira, ku dapat info dia sering datang saat jam istirahat menjemput Mira.

           Dengan info yang ku dapat aku mencoba menyelidiki kebenarannya dengan sengaja menunggu di gerbang belakang sekolah. Benar saja saat jam istirahan sekolah berbunyi aku bisa melihat Mira keluar dari gerbang dan beberapa saat seorang laki2 naik motor modif dengan kenalpot bising mendekatinya. Dialah Wahyu, tidak ada yang menarik dari penampilan pemuda pengangguran itu selain badanya yang tinggi besar tegap serta tato-tato menghiasi lengan yang sengaja ia tunjukan dengan memakai baju kaos oblong kekecilan.

            Mira nampak senang bertemu Wahyu, dari kejauhan aku bisa melihat Mira naik ke motor Wahyu dan memeluknya mesra kemudian motor itu melaju membawa mereka entah kemana. Mungkin kebanyakan laki2 akan mengejar dan melabrak mereka, tapi aku bukan orang yang seperti itu. Aku tidak bisa memisahkan dua insan yang sedang jatuh cinta, meski aku tau yang dikorbankan atas bersatunya cinta mereka adalah diriku sendiri. 

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
ilustrasi terbaik yang pernah saya temukan di mesin pencari

         Pemandangan drama yang aku saksikan cukup membuat lemas seluruh badanku, bagaimana mungkin 7thn kebersamaanku dengan Mira dia lupakan begitu saja, aku ingin menanyakan itu langsung ke Mira, biar aku tau keputusnnya. Segera malamnya aku menuju rumah Mira untuk bertemu dengannya tapi yang aku jumpai hanya Bapak dan Ibunya Mira yang terlihat panik menelfon sanak saudaranya. Aku heran kenapa, sebuah jawaban jelas aku dengar dari ibunya. Mira hilang tidak ada kabar.

         Aku terdiam mendengarnya, hanya satu nama yang aku yakini sebagai penyebab semua ini Wahyu, dan benar saja 3 hari kemudian Mira ditemukan dirumah pemuda itu. Betapa gilanya, bagaimana mungkin Mira mau melakukan hal seperti itu, aku yang  7 tahun bersamanya saja tidak pernah sampai berfikiran begitu, jangankan menyuruhnya menginap, paling kalau kerumahku Mira cuma bantu ibuku metanding (membut sesajen) trus pulang.

       Dan yang paling parah ketika Mira dijemput dari rumah Wahyu dan kemudian di bawa kerumahnya, Mira malah menangis sejadinya memaksa ingin segera dinikahkan sama si Wahyu, sementara aku menabung sedikit2 untuk bekal memadik (melamar) Si Mira hanya bias bengong menyaksikan semua ini.

       “Wi Odik, Gek ba sing sayang jak wik buin, wik to terlalu egois mentingin gaen dibanding tunangan wike, jani ensapang gen ba makejang, Astungkara wik bahagia ngidaang fokus jak gaen wike, tanpa Gek buin!” 

      “Kak Odik, aku sudah gak sayang sama kakak lagi, kakak itu terlalu egois mentingin kerjaan dibanding pacarnya kakak, sekarang lupain dah semuanya, semoga kakak bagagia bisa fokus sama peekerjaan kakak tanpa aku lagi”, ucapnya ketus berdiri didepan pintu kamarnya yang “Blar!!” kemudian dia banting pintu sekeras-kerasnya, sementara aku yang terduduk nyandar di tiang rumah cuma bisa bengong dan beranjak pamit pada orang tua yang punya rumah.

        Sampai rumah segera aku buka laptopku, semua akun medsos Mira aku retas untuk mendapatkan info, hingga aku bisa melihat Chat di WhatApp-nya, Chat-nya dengan Wahyu
Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
gambar ilustrasi chat di WA

Wahyu   : ”Hay boleh kenalan gak?”
Mira       : (tidak merespon)
Wahyu   :”sombong sekali”
Mira       :”maaf bli saya sudah punya pacar”
Wahyu   :”sombong ajaan kamu nok, awas nguberin nah!!
                (sombong banget kamu, awas ngejar2 aku nanti!!)
3 hari kemudian
Mira        : P
Mira        : Maaf kasar waktu ini

              Dan Chat pun berlanjut juga ada beberapa chat yang dihapus entah apa begitu banyak tapi semuanya mengalir lancar seperti sudah lama saling mengenal, “B***ke!!! Gimana mungkin??!!” ku tatap kaca di dinding kamarku “Kalah apa aku coba?, kalo penampilan gak mungkin!. Perhatian?, Apa kurangnya 7 tahun pengabdianku?, kalo harta jelas Mira tidak mungkin berfikiran seburuk itu, dia bukan cewek matre!!!”, kataku pada cermin, “Lalu apa??!!!”, segera aku searching di internet apa sebenarnya kesalahanku, dan apa yang sebenarnya terjadi pada pacarku Mira. Banyak artikel yang ku buka tapi tidak satupun yang aku temui sesuai dengan kisahku, kecuali jawaban paling gila ‘Pacarku kena Pelet’, “Jawaban macam apa ini!!”, aku baca2 artikel itu sekedarnya takut otaku dicucui kegilaan ini, sampai ahirnya ada artikel yang mendekati dan akan aku buktikan kebenarannya.

                Hari itu pas kajang kliwon sesuai dengan yang diartikel, aku coba malamnya membuntuti si Wahyu aku lihat tidak ada yang aneh dari gerak-geriknya, dianya cuma nongkrong minum2 di perempatan, lalu naik motor pulang dan tetapa aku ikutin dari jauh. 
             Wahyu ternyata lewat jalan rumah Mira dan berhenti di seberang rumahnya, aku pun ikut berhenti dan merhatiin dari jarak yang cukup jauh, terlihat Wahyu mengendap ke depan rumah Mira yang lampu rumahnya semua mati menandakan penghuninya semua sudah tidur, begitu sampai di depan gerbang dorong yang tertutup.

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
gambar ilustrasi gerbang (hanya ilustrasi diperoleh dari mesin pencari internet tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita)

            Wahyu segera berjongkok, perlahan dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang ternyata selembar kain, kemudian dia seolah menaburkan sesuatu ke tanah pojokan gapura rumah Mira tepat disebelah pintu. Setelah beberapa menit jongkok disana ahirnya Wahyu kembali ke motornya dan berlalu pergi.

                Ketika Wahyu sudah tak terlihat lagi, aku memberanikan diri mendekat ke rumah Mira. Aku parkirkan motorku agak jauh dan aku memilih berjalan menuju rumah Mira supaya tidak berisik, takut membangunkan orang bisa digebukin dikira maling. Aku mencoba mengendap untuk melihat apa yang ditaburkan oleh si Wahyu, begitu mau mendekat tiba2 suasana malam yang tadinya hening mendadak berubah.

           “Auuuung!!...Auuuuung!!” sayup2 aku dengar di kejauhan suara lolongan anjing begitu menyayat hati, entah kenapa aku merasa seluruh bulu badanku merinding hebat, aku bisa merasa tiupan angin malam begitu lembut layaknya jari-jari tangan dingin yang mengusap kulitku.

         “Ahh!!.. kok jadi pengecut begini!” gumamku dalam hati, kuhapus segala pikiran macam2ku, aku coba menguatkan logika ku.

            Aku mendekat ke gerbang rumah yang begitu gelap perlahan aku berjongkok berusaha mengecek apa yang dilakukan oleh si wahyu tadi, aku berjongkok meraba-raba tanah disana sembari ku betulkan posisi kacamataku supaya bisa melihat jelas apa yang ada disana, sampai ahirnya tak satupun benda yang ku temukan hanya tanah saja,

           “Apa jangan2 meresap ya?” pikirku, tanganku berhenti meraba-raba ketika secara tak sengaja menyenggol sesuatu.

           Gelapnya malam membuatku tidak bisa melihat apa itu, ketika aku menengok dan sadar disampingku adalah sebuah kaki. Kaki kriput yang terlihat dekil dengan kuku2 kaki yang panjang terpampang jelas disebelahku dan parahnya adalah, kaki itu melayang!.


Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
ilustrasi dari salah satu adegan dalam film horor 

          Tiba2 rasa takut mulai menjalar di seluruh badanku, jantungku berdetak keras seperti mau copot dari badanku, sebab baru pertama akali aku mengalami kejadian diluar nalar ini, perlahan aku pandangi kaki itu dari bawah, naik, naik, dan naik.

        “Aduhh!!, Ratu Bhatara!!”, bertahun2 aku tidak pernah menyebut nama Tuhan, tapi kali ini kata itu keluar ketika kepalaku sudah mendongak keatas melihat sepenuhnya, sosok wanita agak tua bertelanjang dada, dengan kamben pendek dari kain putih yang sudah dekil kecoklatan dan lusuh melingkar di pinganggnya.

          Aku bisa melihat dadanya menggelantung sampai di perut, kulitnya terlihat menghitam kering retak2, kedua tangan sosok itu melipat didepan perutnya, aku bisa lihat  jari tanganya begitu besar kriput dan panjang  serta kuku jarinya yang panjang juga. Sosok itu menunduk perlahan menyaksikanku berjongkok dibawahnya, wajah sosok itu yang bengkak2 seperti habis di sengat lebah, tak jelas mana mata dan mana mulutnya, Cuma kelihatan muka rata tebal semua, dengan rambut panjang lusuh beruban yang tumbuh jarang2 di kepalanya.

         Aku terhipnotis tak bisa bergerak, perlahan aku kembali menudukan kepala dan melirik kembali kaki sosok menyeramkan itu masih melayang sejengkal di atas tanah berjarak 60 cm di sebelah pundak kananku. 

            Aku memejamkan mata sambil memastikan halusinasi ini dengan menarik dan menghembuskan nafas panjang 3x, perlahan aku buka mata kembali, ku lihat di sebelahku kaki itu sudah tidak ada disana,

            ”Ahh... cuma halusinasi” gumamku segera aku menegok memastikan halusinasiku hilang dan ternyata sosok itu sudah bersandar di di tembok rumah tepat disebelah kiriku dengan jarak 3 langkah dariku yang berjongkok.

Sosok itu menguap keras membuka mulutnya dan kemudian lidahnya menjulur panjang sampai menyentuh ke perutnya 
 
         “Wahhhemmm..!!! Heemm!!!..Hmm!!” suara menggeram yang dikeluarkan sosok itu begitu berat dan mendengus serak, ya! ini bukan halusinasi dan aku tidak gila!, tanpa pikir apa lagi segera aku kumpulkan tenaga dan meloncat sekencang-kencangnya kayak katak “Bukan Prank!” pikirku,

Penyewekan [Pengasih] Bagian ke-II
ilustrasi lidah panjang

          Segera aku menaiki motorku dan melaju kencang tanpa peduli apa yang ada didepanku, untungnya sosok menyeramkan itu tidak ada disana, di tembok masuk rumah. Tapi sayangnya lagi dia sudah ada di belakang motorku. Berdiri dengan kedua tangan terkebang seperti mau menangkapku.

           Aku pacu motorku secepat kilat, berharap dia tak mengejar. Tapi rasanya percuma secepat kilat apapun melaju ternyata Sosok mahluk itu sudah berdiri diatas jok belakangku dengan begitu seimbang bebrapa kali aku mecoba belok kencang tapi dia terpaku tidak jatuh.

           “Ratu Betara tulungin tiang!!, (Tuhan tolong aku!!)” jeritku di jalan histeris sambil Ngebut mengendarai motor, dan ketika aku sapai di perempatan besar yang mana berdiri patung ditengah perempatan sosok itu melompat dan hilang seketika.

          Esoknya berita menyebar didesaku, bukan tentang mahluk itu, tapi tentang Mira yang hilang 3 hari dan di temukan di rumah cowok, beritanya yang sengaja di sensor ternyata perlahan menyebar ke desaku juga membuat keluarga dan kerabatku syok seakan tak percaya Mira yang melakukan itu, sepupu-sepupu dan kerabat banyak yang bilang kena Penyewekan (Pengasih), aku hanya bisa terdiam.

        Ortu ku melarang aku berhubungan lagi dengan Mira, mereka beranggapan nama Mira sudah jelek di masyarakat, kembali aku hanya terdiam pasrah mendengar wejangan mereka. Tapi dibalik kepasrahanku ini aku masih belum bisa menerima sepenuhnya, sudah tidak satupun usahaku berhasil mengungkap semua ini, tidak satupun juga yang mendukungku lagi untuk menyelesaikan masalahku dengan Mira, teman aku tak punya, saudara dan kerabat tidak ada yang mau membantu.

        Malam pun tiba begitu cepat, aku lajukan motorku menembus dinginnya angin malam yang diperburuk oleh rintik hujan, dalam hati yang sudah hancur ini tak lepas aku berdoa memohon agar ditunjukan jalan keluar dari masalahku yang rumit ini, sampai tak terasa rintik hujan semakin deras. Terpaksa aku hentikan motorku didepan bar tempat nongkrong pemuda desaku, sebenarnya aku risih berteduh disini karena bagiku ini tempat yang paling berisik.

         Tapi kali ini nampak sepi yang aku lihat hanya seorang yang duduk di kursi bar. Seseorang yang baru aku sadari adalah orang yang paling berjasa menorehkan sejarah kisaku dan Mira tapi tak pernah aku membalas jasanya itu. “Ini jawabanya!, Suksema Hyang Widhi ! (Terimakasi Tuhan)” ujarku penuh rasa syukur. Aku berjalan mendekat ke orang itu yang tak lain adalah si Gendut, teman sekelasku waktu SMP.

Bersambung........

profile-picture
profile-picture
mastercasino88 dan midnighttalk memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di