CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec29e3f4601cf2485049a5d/skandal-tante-siwi

Skandal Tante Siwi (Based on True Story)

Bab 1

"Riinn, tolong bentar beliin cabai ya... Tante lupa tadi. Cepet ya, Tante mau masak untuk Ommu."

Rini, remaja berusia 14 tahun yang kini terpaksa tinggal menumpang di rumah Tantenya hanya menghela napas. Sudah biasa Tante Siwi bersikap seperti itu. Suruh ini itu tanpa henti sepanjang hari. Baru saja masuk rumah setelah membelikannya bawang, sudah disuruh lagi beli cabai.

Ibunya Rini adalah kakak kandung Tante Siwi. Rini terpaksa tinggal di rumah Tante Siwi setelah Ibunya meninggal. Karena bapak Rini bersikap acuh setelah ibunya meninggal.

Tante Siwi berusia 30 tahun, sudah menikah dan mempunyai 2 orang putri. Suaminya jarang pulang karena sering tugas keluar kota.

"Ini Tante, cabainya..."
"Makasih ya Rin...tolong temenin adik-adikmu dulu ya. Tante mau masak untuk sarapan Ommu."

Rini menuju ke ruang keluarga, dimana adik-adik sepupunya sedang bermain. Rini sempat berpapasan dengan Bibik yang lalu saling melempar senyum penuh arti.

"Kamu masak apa nih Rin?" tanya Om Gusti saat Rini masuk ruang keluarga. Rupanya Lala dan Rara sedang bermain dengan Om Gusti.

"Tante yang masak. Nggak tau masak apaan."

"Tumben..."

Rini hanya mengedikkan bahu lalu tertawa bersama Om Gusti.

"Pada ngetawain apa hayo? Ayo Pa, sarapan dulu. Terus berangkat kerja kan? Lala sama Rara biar dijagain Rini aja dulu. Rini sih gampang, nanti aja sarapannya. Ya kan Rin?"

Rini mengangguk acuh tak acuh. Sikap Tante Siwi dari dulu memang seperti itu. Udah nggak heran.

Rini memandang Om Gusti dengan pandangan iba. Om Gusti sosok seorang suami yang baik, setia, taat ibadah, bertanggung jawab dan tampan. Namun sayangnya, Tante Siwi selalu bisa membohonginya dengan berbagai alasan. Bahkan tega menyelingkuhinya.

Selingkuhan Tante Siwi pun nggak cukup satu. Rini hampir selalu menjadi korban kambing hitam untuk menutupi kesalahan dan kebohongan Tante Siwi.

"Rin, Om berangkat kerja ya. Nitip adik-adikmu." Suara Om Gusti membuyarkan lamunan Rini.

"Eh iya Om... Hati-hati di jalan ya Om..." Rini bergegas menggendong Rara dan menggandeng Lala mendekati Om Gusti dan mengantarnya sampai depan rumah. Kebetulan Rini yang masih duduk di kelas 3 SMP memang sedang libur, karena kakak kelas sedang ujian nasional.

Tante Siwi entah kemana. Dia memang selalu sok sibuk. Padahal ada 3 pembantu plus Rini yang kadang diperlakukan seperti pembantu juga.

Baru setengah jam Om Gusti berangkat, Tante Siwi sudah berdandan rapi. Seperti biasa, Om Gusti berangkat kerja, Tante Siwi pun berangkat entah kemana. Apalagi kalau Om Gusti dinas luar kota. Bisa dipastikan, Tante Siwi di rumah hanya untuk menumpang tidur. Itupun hanya dari jam 3 dini hari sampai jam 9 pagi. Bangun, mandi, sarapan lalu pergi dengan teman-temannya. Alasan meeting sana sini padahal hanya haha-hihi dengan anak buahnya. Ngakunya punya event organizer, namun semua proyeknya tidak ada yang mendulang sukses. Ya, semua usaha yang dia jalankan hanya sebagai alasan untuk bisa keluar rumah. Lepas tanggung jawab urus anak dan rumah.

"Rin, nitip adik-adikmu ya... Telpon rumah ku cabut biar nanti Om Gusti nggak bisa telepon ke rumah. Nanti Tante sms Om Gusti kalau telepon rumah rusak lagi."

"Ada urusan lagi Te?"

"Iya... Kamu tau kan gaji Om seberapa sih? Mana cukup untuk bayar pembantu 2, belum lagi makan dan lain-lain..."

Rini diam, meneruskan bermain dengan Rara dan Lala. Padahal dengan jabatan yang sekarang, gaji Om Gusti sebenarnya cukup. Asal Tante Siwi bisa mengaturnya. Rini melihat Tante Siwi masuk ke mobilnya. Lalu Mazda 626 putih yang dikendarai Tante Siwi perlahan pergi entah kemana dan dengan siapa lagi hari ini Tante Siwi berselingkuh.



profile-picture
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Rara1405
Halaman 1 dari 3

Bab 2

Siwi mengendarai mobilnya membelah keramaian jalanan ibukota. Alunan lagu milik Rio Febrian mengalun pelan menemani perjalanannya. Tangan kanan sibuk memegang setir, sementara tangan kirinya memegang handphone keluaran terbaru yang dibelikan suaminya.

"Hallo yank, aku udah hampir deket kantormu nih... Gimana jadinya? Aku langsung ke apartemenmu aja po?"

"Oke...tunggu aja di apartemen dulu ya... Nanti aku kesana..."

Siwi membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah apartemen mewah.

Siwi menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang apartemen milik kekasihnya. Tangannya sibuk memencet sebuah nomor.

"Hallo Pa, Mama lagi mau meeting ini. Nanti paling maghrib baru pulang. Tapi tadi anak-anak sebelum Mama berangkat udah Mama mandiin, suapin, siapin semuanya. Telepon rumah rusak kena petir, Pa... Ya udah ya, Pa..."

Siwi segera mematikan panggilan di gawainya.

***

Sementara di kantornya, Gusti hanya bisa menggelengkan kepalanya. Berusaha memaklumi kelakuan istri tercintanya.
Sebenarnya Gusti ingin Siwi di rumah saja. Mengurus anak-anak yang masih batita. Namun Siwi selalu beralasan bahwa gaji Gusti tidak mencukupi. Padahal jika Siwi di rumah, hanya dengan bantuan tenaga 1 pembantu saja pasti gaji Gusti cukup. Tapi saat ini Siwi mempekerjakan 3 pembantu dan gaya hidup yang luar biasa boros. Hampir setiap hari mentraktir teman-temannya. Mengajak teman-temannya kesana kemari dengan alasan kerja yang tidak jelas. Gaji Gusti yang saat itu lumayan pun jadi selalu habis di hari ketiga setelah terima gaji. Untung saja Gusti tidak hanya memiliki gaji pokok, ada pemasukan lainnya juga.

Gusti tersadar dari lamunannya. Bergegas mengambil wudhu karena sudah memasuki dzuhur. Gusti bukan tidak tau kelakuan Siwi di luar sana, hanya dia selalu berharap suatu saat Siwi bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Semua Gusti serahkan pada Allah lewat doa yang ia panjatkan.

***

"Maaf lama ya Yank..." Lutvi mencium Siwi yang tertidur.

"Hmm... Sibuk ya?" Siwi mengalungkan lengannya ke leher Lutvi.

"Enggak, udah nggak sibuk. Aku kangen kamu..." Lutvi membenamkan wajahnya di dada Siwi.

Sementara Siwi dan Lutvi sibuk dengan aktivitasnya, di tempat lain, Gusti sibuk mencari nafkah untuk Siwi dan kedua anak mereka.

Sejam kemudian, Lutvi mengakhiri permainan mereka. Keduanya tampak kelelahan. Pendingin ruangan tak sanggup meredam keringat mereka.

"Makasih sayang..." bisik Lutvi pada Siwi.

Tanpa membuka matanya, Siwi tersenyum, memeluk Lutvi. Mereka terlelap dalam kenikmatan sesaat.

***
Tergesa Siwi mengenakan pakaiannya. Sudah jam lima sore. Siwi harus segera pergi.

"Yank, aku pergi dulu ya... Kasian anak-anak di rumah. Mereka pasti nyariin aku. Tau sendiri kan gimana deketnya aku sama anak-anak."

"Hmm... Iya Yank... Kamu emang istri dan ibu yang baik. Beruntung banget Gusti punya istri kayak kamu."

"Iyalah. Dengan gaji yang cuma segitu, aku masih harus nyari uang sendiri. Ya udah aku pulang dulu ya Yank..."

Lutvi beranjak dari kasur. Mengambil dompet dari saku celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan pada Siwi.

"Ini ya untuk beli susu anak-anak."

"Makasih ya Yank..."

Siwi mencium bibir Lutvi dengan lembut. Lalu segera berlalu dari hadapan Lutvi dengan senyum merekah.

Langit ibukota mulai gelap namun jalanan tetap padat. Seolah tak pernah terlelap, selalu ada aktivitas yang menggeliat di tiap sudutnya.

Siwi, seorang wanita jawa. Yang seharusnya menjaga dan menjunjung tinggi nilai kehormatan, justru merendahkan harga dirinya. Menghempaskan jauh ke dalam jurang lembah nista. Perselingkuhan, penipuan, itu yang sekarang erat dengan hidupnya. Entah sampai kapan ia kan mengakhirinya.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Rara1405
ditunggu lanjutannya
Lihat 1 balasan

Part 3

"Rin, tantemu belum pulang ya?"
Gusti bertanya pada Rini yang sedang menemani Lala bermain di depan televisi.

"Belum Om... Tadi katanya ada urusan kerjaan. Om udah makan? Itu Bibi tadi masak sayur asem. Makan dulu aja Om."

"Kamu udah makan? Makan bareng aja yuk? Temenin Om. Masa Om selalu makan sendiri. Lala biar sama Bibi atau sama Teteh aja..."

Setelah menitipkan Lala pada Bibi, Rini menyusul Gusti di ruang makan. Rini segera menyiapkan nasi, sayur dan lauk untuk Gusti.

"Makasih ya Rin. Tantemu tuh sibuk terus. Kalah deh artis. Hahaha..."

Rini ikut tertawa mendengar kelakar Gusti. Ingin rasanya memintakan maaf atas kelakuan Siwi. Namun Rini hanya diam. Walau masih remaja, Rini tahu bahwa apa yang Siwi lakukan adalah perbuatan dosa. Beberapa kali Rini berusaha menceritakan kepada keluarga besarnya, tapi justru Rini yang dianggap tidak tahu terimakasih, menjelek-jelekkan Siwi. Jadi, Rini memilih diam. Seolah tidak tahu apa yang terjadi, walau semua tampak jelas di depan matanya.

***
Jam 8 malam, bel rumah berbunyi. Rini bergegas membukakan pintu. Ternyata Siwi pulang.

"Ommu mana?"

"Tuh di depan tv sama adik-adik..."

"Pulang jam berapa dia? Tadi nanya apa aja? Kamu ngobrol nggak?"

"Ya biasa kan jam setengah 4 udah sampai rumah... Cuma nanya tante kemana, kujawab aja pergi urusan kerjaan. Udah gitu aja, nggak ngobrol apa-apa lagi..."

Setelah interogasi singkat, Siwi menemui Gusti dan anak-anaknya. Akting sebagai istri dan ibu yang peduli pada keluarga pun dimulai.

"Macet banget tadi, Pa... Lala sama Rara pasti kangen banget ya? Maaf ya sayang. Papa udah makan belum? Mama masakin kesukaan Papa ya?"

"Emang apa kesukaan Papa?"

"Udang goreng tepung..."

"Hahaha... Papa suka sayur asem, tahu tempe goreng, ikan asin sama sambal. Tuh udah dimasakin Bibi... Udah Mama mandi aja sana terus anak-anak dikelonin aja dulu. Nanti makan bareng-bareng setelah anak-anak tidur..."

Siwi segera mandi, menghilangkan keringat dan aroma tubuh Lutvi yang tertinggal.

Selesai mandi ternyata Rara dan Lala sudah tidur. Gusti, Rini, Bibi, Teteh dan Simbok sudah menunggu untuk makan bersama. Dengan sigap, Siwi mengambilkan nasi beserta sayur dan lauknya di piring Gusti. Malam itu, Siwi yang mendominasi pembicaraan. Kebohongan demi kebohongan mengalir lancar tanpa hambatan dari bibir tipisnya. Gusti menyimak dengan serius. Sementara Rini, dan ketiga pembantunya hanya tersenyum penuh arti. Memang benar kata orang, sekali berbohong seterusnya akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Dan Siwi tampak sangat lihai sekali melakukannya.

***
Malam sudah semakin larut. Namun Rini belum dapat memejamkan matanya. Banyak hal yang mengganjal dan ingin dia ungkapkan tapi pasti mendapat penyangkalan dari pihak keluarga atau dari Gusti sendiri.

"Kok belum tidur kamu Rin?"

Bibi yang terbangun untuk ke kamar mandi, masuk ke kamar Rini yang masih terbuka pintu dan jendelanya.

"Tante kok lancar banget ya bohongnya. Nggak takut apa ya bohongin suami. Padahal tadi paling dia kan pergi ketemu sama selingkuhannya."

"Ah udahlah biarin aja. Yang penting kamu jangan pernah niru. Besok kalau udah jadi istri, yang patuh sama suami. Suami kerja ya kamu di rumah aja, kecuali kamu juga kerja. Atau kalau mau pergi ya pamitan dulu tapi harus jujur..."

"Aku kangen Mama, Bi... Kukira, aku tinggal disini tuh bakal dapetin kasih sayang kayak dari Mama dulu. Ternyata malah nutupin aib-aibnya Tante, sesekali juga jadi kambing hitam..."

"Eh udah ah jangan sedih. Kan ada Bibi. Sini Bibi elus-elus sampai kamu tidur. Tutup dulu jendelanya, nanti masuk angin kamu."

Rini terlelap dalam pelukan Bibi. Sedikit mengobati akan kerinduannya pada Mamanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan 5 lainnya memberi reputasi
endingnya gusti nikah sama rini nih
Lihat 1 balasan

Part 4

"Ma, besok Papa ke luarkota selama tiga hari. Tolong disiapin pakaian ya Ma?"

"Luarkota lagi Pa?"

"Iya, seneng kan Ma, bisa pergi-pergi terus dong. Hahaha... "

"Apa sih Pa? Mama pergi tuh kalau bukan urusan mendesak juga nggak akan pergi. Lagipula maghrib pasti Mama udah di rumah, tau sendiri gimana deketnya anak-anak ke Mama. Papa tuh harusnya bersyukur banget lho menikah sama Mama. Bisa bantuin cari uang, pinter masak, urusin rumah juga bisa. Nggak kayak istri-istri teman Papa. Mereka rata-rata kalau kerja ya nggak megang anak."

"Iya iya. Tapi apa Mama nggak pengen di rumah aja. Nyari uang dari rumah. Bikin kue atau masakan, nanti dijual deh di kantor Papa. Kan Mama katanya pinter masak, pasti laku dijual dong."

"Ah Papa, passion Mama bukan disitu. Lagian usaha Mama yang sekarang kan event organizer uangnya jauh lebih besar. Lebih bisa membantu Papa untuk membiayai rumah tangga kita."

"Emang gaji Papa nggak cukup, Ma? Mungkin kalau Mama sedikit hemat, cukup lho Ma. Pembantu cukup satu saja, nggak perlulah sampai tiga pembantu. Orang rumah aja nggak besar-besar banget."

"Mama tuh kasian sama mereka, Pa. Bukan karena Mama nggak bisa handle sendiri. Mama udah irit banget lho Pa. Tapi kan memang biaya kita tinggi. Apalagi biaya sekolah sama les Rini juga."

"Lho, Rini bukannya masih ditanggung Papanya?"

"Enggak... Mana peduli dia sama Rini. Makanya Pa, Mama tuh tetep harus lanjutin usaha Event Organizer ini."

"Tapi kayaknya nggak pernah kedengeran ya event yang Mama tangani tuh apa aja?"

"Banyak, Pa. Papa aja yang nggak tau. Udah yuk sarapan dulu aja. Nanti Papa telat kerjanya."

***
Seperti biasa, maksimal dua jam setelah Gusti berangkat kerja, Siwi pun berangkat entah kemana. Hari ini Siwi ada janji makan siang dengan mantan kekasihnya yang dulu. Usianya sudah 42 tahun, secara finansial sudah mapan.

Siwi bergegas mandi dan dandan. Tadi dia sudah ijin pergi pada Gusti. Gusti memang selalu mengijinkan Siwi pergi kemanapun.

Jalanan sudah mulai ramai walau belum macet. Mendekati restoran tempat mereka janjian, Siwi segera menelpon Rudi.

"Hallo Rud, aku udah deket resto nih... Kamu jangan lama-lama ya? Aku pesenin makan dulu? Kesukaanmu ya? Masih hafal dong..."

Hampir sejam Siwi menunggu, Rudi datang.

"Sory ya lama nunggu..."

"Santai aja Rud..."

"Wah kamu masih ingat kesukaanku..." Rudi mengecup dahi Siwi.

"Anak-anak sehat kan sayang?"

"Sehat, Rud... Tapi ya sering kutinggal-tinggal kerja. Ya gimana, gaji suami nggak mencukupi. Aku biayai sekolah sama les Rini, ada tiga pembantu juga di rumah, belum lagi keluarga suami juga aku yang biayai..."

"Sabar ya sayang... Nanti aku nitip sedikit rejeki untuk anak-anak ya..."

"Makasih banyak ya, Rud..."

"Kamu kalau butuh apa-apa jangan sungkan..."

"Makasih banyak, Rud... Aku jadi ngrepotin kan..."

Rudi mencium lembut punggung tangan Siwi. Mereka asyik mengobrol, sesekali diselingi candaan ringan dan ciuman mesra layaknya remaja kasmaran.


***

Triiing...

Sebuah pesan bergambar masuk ke gawai Gusti.

"Istrimu kan? Masih mau belain dia?"

"Nanti kutanyakan langsung di rumah..."

Gusti terpaku melihat gambar di gawainya. Kening istrinya sedang dikecup oleh lelaki lain. Beberapa kali Gusti mendapat laporan, Siwi berselingkuh. Bahkan pernah ada yang mencurigai bahwa si sulung Lala bukanlah anak Gusti. Tapi Gusti selalu menampiknya. Gusti tetap yakin Siwi adalah istri dan ibu yang baik. Namun kali ini keyakinan Gusti mulai goyah, melihat foto yang ia terima.

Ada sedikit sesal menyeruak di hati Gusti, karena dulu tidak mendengarkan omongan Ibunya tentang Siwi. Tapi sekarang Siwi adalah tanggungjawabnya. Baik buruknya Siwi harus dia terima. Tugasnyalah yang harus mendidik Siwi. Semoga belum terlambat, karena pandai berbohong sudah dilakoni Siwi sejak masih muda.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Rara1405
lanjutkan gan
semangat yo
Lihat 1 balasan
semangat update ya sist
Lihat 1 balasan
semangat ya updatenya, seperti semangat kalau dapat selingkuhan baru gitu lho
lanjuuttttt
Ini real story bukan sih?
lanjutkan....
lanjutkan....
Quote:

Wkwkwk... Yang dapet selingkuhan kan Siwi..

Quote:

Siaapp gan

Quote:

Based on true story... Terinspirasi dari kisah nyata, sedikit diubah...

Quote:

Siaaapp gan...
profile-picture
awanpeteng memberi reputasi
lanjuttttt
Lihat 1 balasan

Part 5

"Tantemu belum pulang, Rin?" tanya Gusti dengan wajah kacau sepulang kerja.

"Belum, Om. Om nggak sms tante po?"

"Males. Ya udah Om mau bersih-bersih dulu."

"Aku bikinin teh ya Om? Sama tadi aku bikin pisang goreng, mau Om?"

"Boleh deh. Tolong siapin di teras belakang aja. Om pengen duduk disana sambil liatin ikan."

Gusti segera membersihkan diri. Sementara Rini beranjak ke dapur.

"Bapak udah pulang, Rin?" tanya Simbok yang sedang memotong sayuran.

"Udah, Mbok..."

"Tadi nanyain Ibu ya, Rin? Muka Bapak kucel banget... Si Ibu berulah lagi deh..." Bibi yang sedang mencuci piring ikut bertanya.

"Kasian ya si Om. Aku bingung, pengen ngasih tau tapi gimana ya Bi, Mbok?"

"Udahlah. Kamu jawab seperlunya aja. Kasian kamu, masih SMP udah liat perselingkuhan tantemu. Kamu rajin belajar ya, biar besok jadi orang sukses ya..."

"Aamiin. Makasih ya Bi..."

***

Gusti menikmati teh hangat dan pisang goreng buatan Rini. Senja hampir berganti malam, Siwi belum sampai rumah. Entah alasan apalagi yang akan Siwi sampaikan pada Gusti. Sebenarnya sudah beberapa kali Gusti juga mencurigai Siwi, tapi Siwi selalu bisa meyakinkannya. Seperti ada sesuatu pada mata dan setiap ucapan Siwi yang membuat Gusti selalu lemah di hadapannya. Mengiyakan setiap ucapan dan permintaannya.

"Papa, bacain buku..." suara cadel Lala membuyarkan lamunan Gusti.

"Anak Papa udah ngantuk ya? Emang sekarang jam berapa?"

"Jam tujuh Pa. Lala ngantuk..."

"Lala maunya dibacain Bapak, susunya lagi dibuatin Bibi, Pak... Rini lagi gendong Rara, agak rewel..." Simbok menyusul Lala ke teras belakang.

"Ibu belum pulang, Mbok?"

"Belum, Pak..." jawab Simbok menunduk.

Gusti menggendong Lala menuju kamarnya. Membacakan cerita sebelum tidur hingga Lala terlelap. Gusti mencium kening Lala.

Suara bel rumah berbunyi beberapa kali. Gusti keluar dari kamar, membukakan pintu rumah.

"Dari mana aja Ma? Ini jam berapa?"

"Tadi meeting tuh selesai jam lima-an, Pa. Tapi si Rini nangis katanya ribut sama pacarnya, minta tolong Mama bantu selesaiin. Biasa lah Pa, urusan anak muda. Ya Mama bantu menengahi. Tadi selesai ngobrol jam tujuh, pulangnya kena macet deh."

"Ya itu udah tau urusan anak muda, ngapain diurusin. Mama urusin rumah sama anak-anak aja. Ohya tadi meeting dimana? Sama siapa? Berapa orang?"

"Rini itu kan amanat dari kakakku, Pa. Dia sekarang jadi anak kita juga. Mama sayang banget sama Rini. Mama tadi meeting berlima di kantornya temen Mama. Papa tuh kenapa sih? Mama pulang langsung diinterogasi gini. Mama boleh masuk rumah nggak nih?"

Gusti menggeser tubuhnya yang sedari tadi menghalangi pintu masuk.

"Duduk dulu, Papa pengen ngobrol..."

"Ngobrol apalagi sih, Pa? Papa curigain Mama? Mama tuh kerja, Pa..."

"Ini, ada yang liat Mama berduaan sama lelaki. Dia cium kening Mama juga. Bisa jelaskan apa maksudnya?" Gusti menunjukkan foto yang ada di gawainya.

"Siapa ini Pa yang kirim? Ini salah paham. Mama menolak kok. Emang dia orangnya iseng gitu. Beneran deh, Pa, Mama nggak macem-macem."

Siwi menatap mata Gusti dalam, sebuah penyempurnaan akting agar Gusti percaya, Siwi tidak berbohong. Dan lagi-lagi, Gusti selalu luluh saat menatap mata Siwi. Semua kebohongan dan kata-kata Siwi yang sebenarnya tidak masuk akalpun, dia percayai begitu saja.

***
"Rin, bangun bentar..." Siwi mengetuk pintu kamar Rini.

"Apa sih? Nggak dikunci juga, masuk aja..."

Siwi langsung masuk dan duduk di kasur Rini.

"Kenapa lagi, Tante?"

"Nanti kalau ditanyain Ommu, bilang aja kamu punya pacar ya... Tadi aku bilang, aku bantu kamu selesaiin masalah sama pacarmu makanya pulang kemaleman..."

"Dih nggak masuk akal banget sih alesannya. Aku lagi, dibawa-bawa."

"Ah udahlah, udah terlanjur ini. Pokoknya gitu ya Rin?"

"Hmmm... Udah ah, aku mau tidur."

"Eh nih, buat isi dompet kamu."

"Makasih."

Siwi memasukkan uang dua puluh ribu ke dompet Rini yang tergeletak di atas meja belajar, lalu bergegas keluar kamar Rini. Takut Gusti curiga.

Siwi memang selalu begitu. Semua yang ia bawa masuk dalam kebohongannya, selalu dia beri uang tutup mulut. Bagi Siwi, uang bisa menyelesaikan segalanya dengan mudah.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
nunuahmad dan 4 lainnya memberi reputasi
ini tante siwi pramugari garuda itu kah??emoticon-Leh Uga
Lihat 1 balasan
sepertinya seru
ijin gabung gan
Lihat 1 balasan
gass gan
kisah nyata yaa
jadi mkin penasaran ama cerita selanjutnya

apakah kisah perselingkuhan nya akan terbongkar, atau tetap aman
Quote:

siaapp gan

Quote:


Based on true story..kuubah dikit 😅

profile-picture
nunuahmad memberi reputasi
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di