CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec291f510d2954822392bd0/balas-dendam

BALAS DENDAM

BALAS DENDAM

1. Malam



Malam ini terasa panas
Suara denting jam dinding mengahalu sepinya malam ini
Aku terduduk menunggu

'kling kling'

pintu depan terbuka
masuk seorang pria tegap dengan wajah yang kusam

"hai, kamu, dimana letak minuman dingin?" seru pria itu kepadaku

"di barisan ke dua sebelah kanan pak, untuk minuman dingin ada di counter lemari pendingin di belakang"

"kamu jangan tunjuk tunjuk aja, bisa anter saya ke sana ?" jawab pria itu dengan nada lantang

"baik, mari ikut saya pak" jawabku sambil tersenyum kecut

Aku mengantar pria itu menuju minuman dingin. Pria itu mengikuti ku dari belakang. Kulitnya hitam. Tingginya kira kira setinggi diriku. Perutnya buncit, kantung mata hitam, dengan mimik wajah cemberut.

'brak' tak sengaja pria itu menabrak aku dari belakang

"ADUH, kamu kalau berhenti bilang bilang dong, jadi kena kan kaki saya"

"maaf pak, saya tidak sengaja"

"maaf maaf, sudah kamu kembali sana, biar saya ambil sendiri" sahut bapak itu dengan berteriak

"baik pak" jawab saya dengan nada datar

Aku pun kembali ke meja kasir dengan perlahan sambil sesekali melihat ke belakang. Ingin rasa berteriak, namun masih aku tahan. Aku teringat aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.

"ini belanjaan saya, tolong cepat ya, saya buru buru" bapak itu sampai ke kasir

"baik pak"

saya pun mengambil belanjaannya, mie instan goreng lima, satu botol besar minuman soda

"totalnya 48.000 rupiah pak, ada kartu pelanggannya ?"

"ini" jawab bapak itu sambil menydorkan kartu pelanggan dan uang lima puluh ribu rupiah

"bapak Amri yah, sisa poin bapak ada 4200 poin pak"

kemudian aku memeriksa uang sambil hendak memberikan kembalian, namun uang yang diberikan bapak itu ada sobek sedikit di bagian atasnya

"maaf pak, untuk uangnya ada sobek di sini, apakah ada uang yang lain" kataku sambil menunjukkan lokasi sobek pada uang tersebut

"HAH, gak mungkin, saya lihat tadi tidak ada, kamu pasti yang buat itu sobek, saya tidak ada uang yang lain" jawab Amri dengan nada melengking

"tidak pak, ini memang sudah sobek dari sebelumnya"

"tidak mungkin, kamu sudah saya perhatikan, kerja tidak becus, kamu bagusnya memang dipecat !! Mana manajer kamu ?"

"bapak bicara tolong yang sopan ya" jawab aku dengan nada menantang

"apa kamu bilang, kamu jangan melunjak yah !"

"bapak mau apa memang ?"

"dasar kamu !!!"

'PAKKK' tiba tiba hantaman keras terkena menuju wajahku, aku terdorong ke belakang, punggungku menghantam rak, aku terjatuh, pandangan ku kabur, hanya suara samar samar ku dengar

"rasain, itu yang cocok buat orang kaya kamu, saya tidak jadi beli"

'akhh..' seketika pandanganku menjadi gelap

..

..

..

"Pak Pak, halo pak bangun pak"

Mata ku terbuka, aku terbangun dari pingsan ku, kepalaku pusing, aku mencoba untuk berdiri namun masih terasa lemas, mata kiriku terasa sangat sakit.

"aduhhhhh....."

"kenapa pak, abis kerampokan ?" tanya suara samar samar yang membangunkanku dari samping

'arghhh' aku pun berdiri perlahan, bertumpu pada meja kasir

"tidak pak, terimakasih sudah membangunkan saya, sekarang sudah jam berapa ya ?"

"sudah jam lima pagi pak" jawab bapak itu

" hah sudah jam lima !?, maaf pak, saya permisi ke kamar mandi"

"bisa sendiri pak ?"

aku menggangguk

Aku pun beranjak ke kamar mandi, ku tatap wajahku di cermin, mata kiri ku bengkak, memar kemerahan, ada sedikit darah di sekitar hidungku, dan pelipisku ada luka sobek

'siall'

'Amri... Amri Hasan ... siall, SIALLL KAUU !! ' aku berteriak sambil memukul washtafel
profile-picture
bukhorigan memberi reputasi
Diubah oleh NiceMilk
2. Pagi


sinar matahari masuk dari jendela kamarku

'duh silau'

aku pun terbangun, mataku terasa sakit, pandanganku sedikit kabur, dan kepalaku terasa pusing. aku langsung beranjak ke cermin. sial, mataku merah, apa yang terjadi ? aku pun mengambil obat dari rak di dekat cermin dan segera meminumnya.

"akhh sakittt !!" teriakku sambil memegang mata sebelah kiri ku

'ah iya, si Amri sial itu'

Aku terduduk di kasur, tangan ku gemetar, geram, marah mengingat kejadian kemarin malam. Emosiku meluap, ku ambil botol minuman di sampingku, kulempar ke dinding kamar.

'oekk, aaa, oekkk'
terdengar suara bayi dari dinding samping kamar

'arghh, lagi lagi bayi itu menangis lagi, setiap pagi, setiap malam, selalu ribut, mengganggu saja'

"diaaaamm oii" teriakku sambil memukul mukul dinding kamar

Aku mengambil jaket hitamku dan segera pergi keluar untuk mencari udara segar. Aku berjalan menuju ke taman samping kontrakan. Ku nyalakan sebatang rokok sambil mengingat kembali kejadian semalam.

'aku tidak bisa tenang jika seperti ini' seruku dalam hati seraya duduk di bangku taman

'siapa dia, seenaknya saja memukulku'

'belum tau dia siapa aku'

'apa harus ku beri dia pelajaran' tanya ku dalam hati sambil menghisap rokok dalam dalam

'huff...' perasaan ku jauh lebih tenang setelah menghisap sebatang rokok ini

Aku mengambil batang ke dua dari kantong dan berjalan kembali ke rumah. Sesampai di kamar, aku membuka laptopku, aku melakukan pencarian

... Amri ... Hasan ... 'click'

Keluar hasil pencarian

1. Facebuk Amri Hasan Suseno Profil

2. Amri Hasan (@amrihasan) Twitor

3. Onegoodnews - seorang pria pelaku kekerasan amri ..

4. Berita Jabar - pria di daerah jawa melakukan tindakan kekerasan...

'hah apa ini banyak sekali nama orang ini di berita berita surat kabar elektronik'

Aku pun memilih headline berita yang menarik dan hendak untuk membacanya

tiba tiba handphone ku berbunyi

'KRING KRING'

"ah, iya halo Rud"

"hoiiii, Ja, mana kau, aku sudah mau pulang ini kok gak datang datang" teriak Rudi di balik handphone

"hah memang sudah jam berapa ini ?" tanya ku ke Rudi

"SUDAH JAM TIGA OI, shift ku sudah selesai sejak tadi kau belum datang datang !" suara Rudi semakin tinggi di handphone

"waduh, oke pak, saya tidak sadar, segera meluncur bos!"

"woii dasaaar masii di -- tut tut" aku langsung mematikan handphone

aku segera mematikan laptop, mengganti baju dan menuju ke toko
3. Sakit


"ahh sori Rud, aku gak sadar tadi sudah jam tiga" aku meminta maaf kepada Rudi sambil terengah engah

"hahhh.... ... .., ya sudah lah Ja, ini total uang di kasir, aku input ke komputer ya" jawab Rudi sambil menghela nafas

Aku segera masuk ke kamar ganti karyawan. ku letakkan tas ku, mengganti baju, dan memakai topi seragam toko.

"aduhhhh !!!" teriakku dari dalam kamar ketika tanganku tidak sengaja mengenai mataku yang masih bengkak

"hoi, kenapa kau ja ?" tiba tiba Rudi berlari masuk ke depan pintu kamar

"ga pa pa rud, tanganku gak sengaja kena kemataku, lagi sakit bengkak" jawabku sambil tersenyum

Rudi hanya menatapku terdiam

"... hah .. oh iya cepat ganti bajumu, aku sudah ditunggu di rumah ni" sambung Rudi

"okee sudah kok ini" jawab ku

"kamu gapapa kan sendiri sampai besok nih Ja ? si Toni kan belum bisa masuk soalnya malam ini lagi sakit" tanya Rudi sembari kita keluar ke arah kasir

"seloow za, gpp kok, terkondisikan" jawab ku sambil tertawa

"ya udah, aku duluan ya ja, yoow" seru Rudi sambil keluar dari pintu depan

Aku pun kembali sendiri untuk hari ini. Malam hari pun tiba. Pengunjung seperti biasa sepi. Aku habiskan waktu dengan menata kembali produk produk, membersihkan meja kasir dan lantai toko

'kling kling kling'

suara pengunjung masuk

"halooooo ada orang di siniii ? saya mau belanja" tanya orang itu dengan suara keras

"oh iya pak" saya segera menuju ke depan

"silahh..." lidahku membeku, ternyata orang itu adalah orang yang kemarin malam datang. orang yang telah membuat mata ku bengkak.

"hohh jadi kamu lagi yang di sini malam ini yah ! ayo ambilkan saya rokok cepat !"

'sial orang ini, berani beraninya datang ke sini lagi' umpat ku dalam hati

aku hanya terdiam, menatap tajam ke mata orang itu

"kenapa kamu liat lihat saya ?"

aku masih terdiam. terus menatap ke mata orang itu

"heh kamu, diam saja cepat sana ambil rokoknya !"

masih terdiam. aku tidak perduli, aku hanya terus menatap mata orang itu

'PAKKK !!!'

tiba tiba orang itu memukul aku di kepala

aku tidak terjatuh. aku masih berdiri. aku masih menatap mata orang itu

"AMRIIIII dasar kau bajing@nnnnn !!!" teriak aku memecah keheningan malam itu

Amri nampak tekejut, dia melompat sedikit ke belakang, matanya melotot, tangannya bersiap untuk kembali memukul kepalaku

"Ku bunuuuhh kau AMRII!!" seru ku sambil melompat ke depan menerjang tubuhnya

Kami pun terlempar ke depan, menabrak rak tempat roti. Punggungnya terbentur ujung rak, sementara kepalaku terhantam ke lantai. aku segera bangkit dari lantai. Amri pun mencoba untuk berdiri. Ku ambil ancang ancang ingin menendang kepalanya.

Tiba tiba amri langsung menangkap kakiku. dipegangnya erat. dia pun terbangun. mendorong aku terjatuh. di tendangnya punggungku hingga aku terlempar. Menghantam rak di belakang. Tumpukan kotak makanan terjatuh di kepalaku.

"dasar anak gila, mampus kau ku buat, makan ini !!!" teriak amri sambil menendang punggungku

"ahh, aduhhh!!, ampun ampuunn" aku berteriak kesakitan

"tidak ada ampun bagimu dasar anak setan !!" teriak Amri

Sungguh sakit rasanya punggungku, pandanganku mulai kaburr, gelapp, dan semakin gelap ...
4. Persiapan

"ja.. bangun.. oi jaa"

Tiba tiba ada suara membangunkan ku. Mataku terbuka. Nampak bayangan Rudi di depanku.

"arghh.. aduh .." erangku sambil mencoba untuk duduk

"kenapa ini Ja, kok berantakan semua barang barang ?" tanya Rudi kepadaku

"ada orang menyerangku semalam Rud, kami sempat berkelahi di sini" jawabku sambil memegang kepalaku

Rudi terdiam, melihat ke sekeliling, kemudian mengulurkan tangannya kepadaku, mencoba untuk membantuku berdiri.

"hati hati lain kali Ja"

"kamu istirahat dulu saja di rumah minggu ini, tenangkan pikiranmu, tidak perlu teralu dipikirkan, biar aku yang bersihkan semua ini" seru Rudi sambil memapah aku untuk duduk di kursi dekat kasir

"tapi Rud .. " jawab ku merasa tidak enak kepadanya

"sudah tidak apa apa, nanti aku kasi tau ke Toni, katanya sih dia sudah enakan Ja" Rudi memotong pembicaraanku

"oke baiklah Rud, makasi yah"

"iya sudah, pulang dulu istirahat, aku pesankan kendaraan yah"

"makasi Rud" jawabku lemas

Aku pun kembali ke kontrakanku. Terduduk di atas tempat tidur. Memikirkan kejadian yang terjadi tadi malam. Bagaimana bisa orang itu datang kembali malam itu. Mengacaukan isi toko. Apakah orang ini ada masalah pribadi denganku ? Siapa sebenarnya orang ini ?

Aku pun berdiri ke arah laptop mencoba untuk mencari tahu lebih mengenai identitas orang tersebut

Banyak berita berita muncul di halaman pencarian. Aku pun memilih untuk membuka halaman sosial medianya. Terlihat fotonya bersama seorang istri dan dua orang anak, yang satu masih bayi dan satunya lagi sudah dewasa, namun foto mereka tampak buram. Aku coba masuk ke halaman info lebih orang ini. Lahir tahun 1972. Pekerjaan sebagai pengusaha. Tinggal di daerah lorry

'gotcha, aku bisa mendapatkan alamat tempat tinggal orang sialan ini' seru ku dalam hati sambil memukul meja.

'Jalan Lorry 5 nomor 125'

"hmm, lumayan jauh ternyata tempatnya, bisa bisa 5 jam perjalanan ke sana"

Setelah mendapatkan alamat orang itu, emosiku semakin menggebu gebu. Muncul niat niat jahat ke permukaan pikiranku. Balas dendam, ya balas dendam, aku harus membalas semua perbuatan yang sudah ia lakukan kepadaku.

Aku pun segera mengambil kertas dan obat pil di dalam rak di bawah cermin. Aku print foro Amri. Aku tuliskan 'LORRY 5 no 125". kemudian aku tempelkan foto Amri dan tulisan itu di dinding kamar.

'lihat saja kau amri, lihat saja kau' seruku dalam hati sambil meminum obat

Aku segera mengrimkan pesan ke Rudi

'Rud, kira kira bisa aku pinjam mobilmu, aku ingin berobat, rasanya pusing sekali kepalaku'

'Kapan Ja ? mobilku ada di rumah, hari ini aku naik motor, apa perlu di temani berobatnya ?' jawab Rudi

'tidak usah Rud, aku bisa sendiri, bisa aku ambil hari ini ?'

'yakin bisa sendirian ? nanti kenapa kenapa ?'

'iya, 100% yakin, aku tidak ingin merepotkan mu lebih lagi'

'baiklah, nanti siang kau ambil ya, saat aku kembali ke rumah'

'oke Rud, makasi banyak ya'

'awas kembalikan penuh, jangan rodanya aja yang balik !'

'iyaaaa, tenang bosku' jawab ku kepada Rudi

Rudi dan aku memang sudah beteman lama. Sejak TK kami sudah saling mengenal. Namun saat itu Rudi harus pindah rumah, sehingga kami berpisah saat aku SMA. Keluarga Rudi sering membantuku, terutama saat papa meninggal. Papa meninggal saat aku SMP. Menurut keterangan dokter akibat penyakit jantungnya. Papa memang perokok kuat, setiap hari habis 2 - 3 bungkus. Akhirnya papa meninggalkanku dan mama berdua.

Aku pun bersiap siap untuk pergi ke tempat Rudi. Kaos, jaket, celana panjang, perlengkapan mandi, dan tas punggung. Aku sudah siap untuk perjalanan jauh. Aku harus berbohong kepada Rudi, mau tidak mau. Aku akan meminjam mobilnya. Mungkin sampai 5 hari hari.

Pembalasan dendam ini harus dituntaskan.

profile-picture
ariefdias memberi reputasi
lanjuttt boss
5. Bohong


"kau yakin tidak apa apa ja ?" tanya rudi kepadaku saat ingin mengambil mobil di rumahnya

"iya aku tidak apa apa rud, hanya pusing sedikit saja" jawabku mencoba membuat Rudi tenang

"mau masuk dulu gak ? ada makanan kecil sama teh nih ?"

"tidak usah rud, tidak perlu repot repot"

"sudaaah, ayo ayo masuk dulu" Rudi langsung menarik tanganku untuk masuk ke dalam

Aku pun masuk ke dalam rumah Rudi. Rumah sederhana dengan cat berwana putih. di ruang tamu nya terpajang foto foto keluarga. Foto Rudi saat masih balita, foto dia bersama adik adiknya sewaktu SMP, fotonya saat wisuda, dan foto keluarga mereka. Aku segera duduk di sofa sambil mengamati foto foto tersebut.

"ayo ini diminum dulu ja teh nya" kata rudi sambil membawa dua cangkir teh dari belakang

"okee makasi ya rud" jawabku sambil masih melihat foto keluarga mereka

"kau nanti mau periksa ke mana ja ?" tanya rudi kepadaku

"ah.. em.. kayanya yang dekat bundaran kuda di sebrang rud" jawabku bingung

"obat pusingmu sudah kau minum kan ja ?"

"oh iya sudah rud, pasti aku minum"

"nanti jangan lupa di tunjukin ke dokter kalau sudah minum itu ya" seru rudi kepadaku sambil membuka kotak kue di meja

"ayo dimakan jaa kuenya, enak loh ini" rudi memotong kue itu dan meletakkannya di atas piring

"makasih rud, itu foto masih ada aja ya" jawab ku sambil menunjuk foto kami saat masih kecil

"ya iya lah, masih ingat gak, itu kita abis lari lari gara gara kau nekad nyolong mangga bapak bapak rumah depan" kata Rudi sambil teriak

Kami pun berbincang selama tiga puluh menit. Membahas mengenai keseruan keseruan masa lalu. Saat kami berkelana dengan sepeda, ngerjain anak tetangga, bermain sepakbola sampai malam, dan masih banyak lagi.

"wah sudah jam segini nih rud, aku harus segera pergi" seru ku kepada Rudi sambil melihat jam dinding

"wah iya iya, oke deh, ini kuncinya ya, mohon dengan sangat dikembalikan utuh utuh hahahaha" jawab Rudi kepadaku dengan tertawa sambil memberikan kunci mobilnya kepadaku

"siap pak, saya terima kunci mobilnya dengan sah!" canda ku sambil mengambil kunci mobil dengan sungkeman

Aku pun segera pergi ke mobil Rudi. Mobil kijang kapsul lama berwarna merah. si Rudi sih menamainya si Kancil. Saat duduk di mobil tiba tiba Rudi berlari keluar dari rumah

"Oiiii, ja tas mu ketinggalan nih di samping sofa" teriak rudi di depan rumah sambil membawa tasku

"ohh iya Rud, makasi ya" jawabku sambil keluar mobil untuk mengambil tas tersebut

"duh berat amat sih ini tas, bawa batu yah kau" kata rudi sambil tertawa

"enggak enggak, cuma botol minum sama jaket kok" jawab ku nyengir

Aku pun segera mengambil tas ku dan meletakkannya di belakang mobil. Rudi tidak boleh tahu barang apa saja yang sudah aku beli dari pasar sebelum aku datang ke sini. Bisa bisa dia curiga jika melihat barang barang yang sudah aku beli.

'sial hampir saja' seru ku dalam hati sambil masuk ke dalam mobil

"aku pergi dulu yah rud, makasi banyak yah" seru ku kepada Rudi

"okee hari hari ya ja !" jawab rudi kepadaku sambil melambaikan tangan

Kancil bergerak maju, menuju arah utara. Semburan angin dingin dari ac mobil tidak bisa menurup keringat dingin yang mengucur di tepi bola mataku. Mataku melirik ke spion mobil, memastikan Rudi sudah masuk ke dalam, kemudian menatap ke depan. Perjalanan ini akan menjadi perjalanan panjang


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di