CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
MUI Sebut Ada Pertentangan Sikap Pemerintah dalam Penanganan Covid-19
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec1767068cc951b75651a82/mui-sebut-ada-pertentangan-sikap-pemerintah-dalam-penanganan-covid-19

MUI Sebut Ada Pertentangan Sikap Pemerintah dalam Penanganan Covid-19

MUI Sebut Ada Pertentangan Sikap Pemerintah dalam Penanganan Covid-19

MUI Sebut Ada Pertentangan Sikap Pemerintah dalam Penanganan Covid-19

JAKARTA, KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai adanya ambivalensi atau pertentangan sikap pemerintah dalam penanganan wabah Covid-19.

Di satu sisi, pemerintah dengan tegas mencegah orang untuk berkumpul di masjid melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah.

Tetapi, di sisi lain, pemerintah tidak mengambil tindakan tegas untuk menghadapi masyarakat yang berkumpul di pasar, pusat perbelanjaan, hingga bandara.

"Yang menjadi pertanyaan mengapa pemerintah hanya tegas melarang orang untuk berkumpul di masjid, tapi tidak tegas dan tidak keras dalam menghadapi orang-orang yang berkumpul di pasar, mal, bandara, kantor dan pabrik?" kata Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Minggu (17/5/2020).

Anwar menuturkan, di beberapa daerah para petugas memakai pengeras suara, mengingatkan masyarakat supaya tidak berkumpul di masjid untuk shalat Jumat, shalat jamaah ataupun tarawih.

Tetapi, tidak ada petugas yang menggunakan pengeras suara mengimbau masyarakat di tempat umum, kantor dan pabrik, untuk menjauhi kerumunan.

Menurut Anwar, sikap pemerintah itu menjadi ironi yang sulit diterima akal sehat.

"Hal demikian tentu saja telah mengundang tanda tanya di kalangan umat apalagi melihat pihak pemerintah dan petugas tahunya hanya melarang dan itu mereka dasarkan kepada fatwa MUI," ujarnya.

Situasi inilah, kata Anwar, yang menyebabkan masyarakat kerap kali adu mulut dengan petugas perihal beribadah di masjid.

Padahal, jika pemerintah mampu bersikap tegas dengan tidak hanya melarang shalat di masjid tetapi juga kegiatan lain yang menimbulkan kerumunan, Anwar yakin masyarakat bisa menerima.

Anwar pun meminta pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan yang mereka terapkan selama pandemi Covid-19, serta dengan tegas menegakkan aturan.

"Pemerintah harus bisa mengevaluasi kebijakan dan tindakannya yang ada selama ini, kemudian membuat aturan yang jelas serta memberikan perlakuan yang sama untuk semuanya," ujar Anwar.

"Sehingga semua elemen masyarat dapat dengan ikhlas menerimanya, benar-benar hormat serta tunduk dan patuh kepada ketentuan yang ada dengan sebaik-baiknya," tutur dia.

Seperti diketahui, pekan lalu pemerintah resmi mengizinkan transportasi umum kembali beroperasi.

Kebijakan kembali beroperasinya transportasi umum ini dengan mempertimbangkan keberlanjutan perekonomian nasional.

Kelonggaran terhadap moda transportasi tersebut berlaku bagi warga dengan kriteria yang ditetapkan pemerintah.

Namun, kenyataan di lapangan, terjadi antrean panjang calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta.
sumber

******

Perasaan TS, cuma ummat muslim yang selalu protes dengan apa yang diputus oleh pemerintah, terutama mengenai pembatasan beribadah dalam masa pandemi ini. Meskipun TS muslim, tapi TS justru merasa tak terwakili dan diwakili oleh MUI dalam setiap pernyataannya, apalagi oleh Tengku Zul yang selalu mengeluarkan komentar provokatif tak pantas sebagai seorang Ulama yang duduk di MUI.

Indonesia ini mengakui agama bukan hanya Islam. Tetapi hanya ummat Islam yang seolah membuat segalanya menjadi rumit.

Berapa kali ummat Hindu, Budha, Kristen, dan Konghucu beribadah dalam seminggu di tempat ibadahnya? Berapa kali ummat Islam beribadah dalam 1 hari di tempat ibadah seperti masjid dan mushala? Tak sebanding. Dan seharusnya ini saja sudah membuka nalar dan logika bahwa ancaman virus corona akan lebih cepat menyebar pada ummat muslim andai tempat ibadah dibiarkan terbuka, sebab tak ada batasan bagi siapapun juga yang ingin berjamaah, dari mana saja, siapa saja.

Andai bisa dibalik logikanya, justru pemerintah ingin menjaga ummat muslim agar tidak rentan terkena wabah mematikan ini.

Toh sudah dijelaskan, pembatasan beribadah ini bukan keputusan permanen yang akan terus dilakukan tanpa batas waktu. Semua ada batasnya. Apa batasnya? Jika kondisi sudah stabil dan aman dari wabah. Tak bisakah kalian bersabar?

Jangan justru pola pikir seperti anak kecil dipakai dalam hal ini. Iri pada sesuatu yang lain. Yang lain boleh, kenapa aku tidak? Lantas kalau boleh, apa jalian akan menanggung akibatnya sendiri? Jelas tidak. Tetap ujungnya pemerintah juga yang repot. Dan tetap pemerintah juga yang akan dipersalahkan.

MUI adalah lembaga tempat berkumpulnya Ulama. Dan pemerintah adalah Umara. Seharusnya Ulama dan Umara bersinergi dalam segala hal demi kemaslahatan ummat, bukan justru MUI dipakai untuk membenturkan ummat dengan Umara. Ini salah besar!

Sebuah keputusan pasti tak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. Sebuah keputusan pasti mempunyai cela jika dinilai dari berbagai sisi. Ini lumrah. Keputusan pemerintah bukan Firman Allah. Dan keputusan MUI juga bukan Sabda Rasul. Semua pasti punya plus dan minusnya, karena sama-sama dibuat oleh manusia biasa.

Pemerintah membuat aturan pokok, dan hal itu diatur lagi dalam sebuah peraturan gubernur. Jika ada pelanggaran dalam PSBB, maka tanyakanlah kepada gubernur sebuah wilayah, kenapa hal itu terjadi. Apakah tak punya konsekwensi hukum? Atau memang tak ada konsekwensi hukum?

Jika pemerintah terkesan ambigu dalam membuat sebuah kebijakan yang kelihatan bertolak belakang, pasti alasan terbesarnya adalah roda ekonomi. Dan tak semua bisa dilakukan dirumah atau hanya berdiam diri saja.

Coba pikir sekarang. Ada sebuah ormas agama yang selalu saja melihat pemerintah pusat salah. Wajar, sebab sejak awal ormas agama ini berpolitik praktis dan menjadi bagian dari pendukung sebuah kontestan pilkada dan pilpres. Ketika pemerintah membatasi ibadah, mereka protes. Giliran pembatasan ibadah dilonggarkan, mereka protes juga. Artinya? Jelas kalau mereka tak memakai hati dan nalar mereka, tetapi hanya berdasarkan dendam kesumat saja.

Sudahlah.
Habis kata jika membahas hal ini. Berputar-putar saja disana macam komedi putar.

Terserah lu.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
trimusketeers dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh i.am.legend.
Halaman 1 dari 2
umat dan agama lain ga ada yang komplen cemgini bre?emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gembaladomba666 dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kelazcorro
Lihat 2 balasan
Kalo yg kayak gitu (zul) disebut ulama, mending murtad lu pada
profile-picture
profile-picture
profile-picture
servesiwi dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Kenapa umat ini protes?
Untuk menciptakan kesan mereka terdzolimi, terintimidasi.

Tujuannya?
Biar punya alasan untuk melawan semua kebijakan pemerintah.

Kenapa umat lain gak protes?
Karena memang sebenarnya tidak ada masalah, semua demi kepentingan bersama.

Kenapa justru para pemuka agama ikut protes, bukan memberikan penjelasan?
Karena mereka sadar, umat nya ngeyel.
Dengan tampil di depan memprotes, mereka akan dianggap pahlawan oleh para ngeyel-ers
profile-picture
profile-picture
profile-picture
servesiwi dan 5 lainnya memberi reputasi
Sebisa mungkin taati peraturan pemerintah yaa gaess..
Tapi ya pemerintah jg hrs tegas,pembatasan sosial hrs di semua lini. Kalo hanya tempat ibadah yg dilarang sementara pasar,terminal,bandara n mol tetap ramai ya aneh juga sih..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Abc..Z dan 2 lainnya memberi reputasi
Di MUI mah kebanyakan ulama gadungan emoticon-Cape d... (S)
profile-picture
profile-picture
Abc..Z dan AndiniRahma memberi reputasi
Penjoliman umat islam lagi emoticon-Wakaka

Sadar diri lah knp mall, pasar atau bandara gak ada larangan. Krn itu menyangkut hajat hidup org byk. Beda sama masjid yg cuma buat kepentingan org islam
profile-picture
profile-picture
profile-picture
AndiniRahma dan 3 lainnya memberi reputasi
Daerah aye masih ijo
Jd msh bisa tarawihan dll emoticon-Cool





Daerah lain harus banyak2 makan nasi kucing sblm terlambat emoticon-Wkwkwk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 2 lainnya memberi reputasi
Jadi intinya pasar vs masjid nih, menurut MUI?

Pertanyaan ane simple aja.

Di lingkup yang kecil aja deh..
Dalam lingkup satu kelurahan atau satu desa,
lebih banyak pasar atau lebih banyak masjid? emoticon-Smilie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
servesiwi dan 4 lainnya memberi reputasi
Quote:

Pasar tradisional, mungkin untuk 2 desa/kelurahan ada 1.

Mushola, tiap dusun ada.
Satu desa mungkin bisa 6-10 mushola.
Kalo di kota, mungkin bisa 2-3x lipatnya, dan kayaknya tiap gang ada mushola nya.

Masjid, 1 desa 1 masjid.
Kali di kota, mungkin 2-4 masjid tiap kelurahan.
Wong tiap komplek perumahan juga punya masjid sendiri.

tapi kan pasar lebih rame?

Orang paling ke pasar 1-2 kali seminggu,
Lebih sering ke warung kecil dekat rumah kalo buat masak harian.

Sedangkan orang ke mesjid paling gak 2x sehari (Maghrib-isya).
Kalo bulan puasa gini, malah banyak yang sampai tidur di mesjid.

Kesimpulannya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 2 lainnya memberi reputasi
Sekelas MUI, ngebandingin mesjid ma fasilitas umum cem pasar? Gmana bisa orang cem ini bisa jadi MUI yah?
Klo head2head ma gereja, pura vihara masih masuk logika.
Guobloooghhhhh.. emoticon-Ngamuk
profile-picture
profile-picture
chisaa dan AndiniRahma memberi reputasi
Covid tu makin lama aja krn pada egois
profile-picture
AndiniRahma memberi reputasi
Karena dalam situasi darurat, ibadah di rumah masih boleh.. Sholat, mengaji, dengar ceramah juga bisa karena banyak mesjid punya tv menyiarkan langsung di yutube

Sedangkan pasar gak mungkin dipindah ke rumah. Harus orang yg ke pasar. Kalo pasar ditutup roda ekonomi berhenti nanti rusuh.
Kalo udah rusuh, rumah kau dibakar, gak bisa kau sholat, mengaji ibadah di rumah.. Pindah kau ke pengungsian
profile-picture
profile-picture
profile-picture
greengeckoijo1 dan 2 lainnya memberi reputasi
biarin ajalah mereka beribadah
mereka ini yg kena nanti ane tinggal ketawain kebodohan merekaemoticon-Leh Uga

sudah 17ribu kasus lohemoticon-Big Grin

tentara udah menyerang negara berflower +62
profile-picture
profile-picture
profile-picture
AndiniRahma dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ushirota
Kenapa kalo orang berkerumun di pasar, kantor, pabrik, bandara dilonggarkan oleh pemerintah?

JELAS KARENA URUSAN PERUT (EKONOMI) LEBIH PENTING DARIPADA URUSAN AKHERAT (AGAMA)

Kalo orang dilarang ke pasar kantor pabrik bandara, bagi banyak orang artinya gak bisa dapat nafkah gak bisa makan...

Kalo orang dilarang ke masjid , bagi banyak orang itu tidak terlalu berpengaruh aecara jasmani, tidak sholat berjemaah selama berbulan bulan tidak apa apa kan tidak buat perut keroncongan, paling merasa bersalah sama Tuhan doang, itu pun kalo pemikiran ente tentang kemurahan Tuhan dangkal.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
AndiniRahma dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh balado.jengkol
Lihat 2 balasan
udah di bilangin

tunda pembayaran tagihan, cicilan bank
kasih rakyat per ktp 1 juta perbulan

di jamin kagak protes

ibadah bisa di mana aja
di mana kamu berdoa, di situlah ada tuhanmu
profile-picture
profile-picture
ushirota dan pannotia.server memberi reputasi
Diubah oleh chisaa
Post ini telah dihapus oleh KS06
Post ini telah dihapus oleh KS06
intinya ada pertentangan sikap enggak

benci MUI boleh goblok jangan emoticon-Ngakak
Bukan pertentangan pemerintah. Elunya yang selalu menentang. Disuruh salat sementara di rumah jangan di masjid malah pada marah2 bawa nama allah dan mui malah jadi provokator. Yang bikin pertentangan adalah mui. Bukan pemerintah.
Pokoknya kemana-mana pake masker

profile-picture
pertotperbaik memberi reputasi
Diubah oleh saya.kira
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di