CARI
KATEGORI
KATEGORI
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ec1605e337f93501b71b039/horor-story--angkernya-tegal-salahan

HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN

HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN

Hai agan dan sista penghuni jagad kaskus tercinta dimanapun berada, ijinkan ane yang masih newbie ini kembali berbagi sedikit cerita, semoga berkenan di hati agan dan sista semua.

Di kesempatan ini ane akan coba menceritakan kejadian kejadian yang pernah terjadi di desa ane, saat ane masih kecil dan tinggal di desa. Sebut saja desa Kedhungjati, sebuah desa terpencil yang masih sarat dengan adat istiadat dan kepercayaan yang berbau sakral dan mistis.

Banyak tempat tempat yang masih dianggap sakral dan angker, salah satunya tempat bernama Tegal Salahan. Kawasan ini merupakan jalan desa yang menghubungkan desa ane dengan desa Kedhungsono, yang berada di sebelah selatan desa ane.

Jalan berbatu yang dari arah desa ane menurun tajam, lalu menanjak terjal saat mendekati desa Kedhungsono. Di kiri kanan jalan diapit oleh area persawahan dan tanah tegalan milik para penduduk setempat. Dan ditengah tanjakan dan turunan itu ada jembatan kecil atau biasa disebut bok, tempat dimana mengalir sebuah sungai kecil yang mengalir dari arah barat ke timur.

Di jembatan atau bok inilah yang dipercaya menjadi pusat sarangnya segala macam lelembut, meski di area persawahan, tanah tegalan, dan sungai kecil juga tak kalah angker.

Sudah tak terhitung warga desa ane ataupun desa desa yang lain menjadi korban keisengan makhluk makhluk penghuni tempat tersebut, dari yang sekedar ditakut takutin bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa.

Dan kisah kisah itulah yang akan ane coba ceritakan disini. Berhubung ini merupakan kejadian nyata dan menyangkut privacy banyak orang, maka semua nama dan tempat kejadian akan ane samarkan.

Ane juga mohon maaf kalau ada pihak pihak yang merasa tersinggung dengan thread yang ane buat ini. Disini ane murni ingin berbagi cerita, bukan bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.

Terakhir, berhubung ane masih newbie, dan update menggunakan perangkat yang sangat sangat sederhana, ane mohon maaf kalau dalam penulisan, penyusunan kalimat, dan penyampaian cerita yang masih berantakan dan banyak kekurangan. Ane juga belum bisa menyusun indeks cerita, jadi kisah kisah selanjutnya akan ane lanjutkan di kolom komentar, part demi part, karena ceritanya lumayan banyak dan panjang. Jadi mohon dimaklumi.

OK, tanpa banyak basa basi lagi mari kita simak bersama kisahnya.

INDEX:

Part 1 :Glundhung Pringis njaluk Gendhong

Part 2 :Jenglot njaluk Tumbal

Part 3 :Yatmiiiiiiiiiii Balekno Matane Anakku

Part 4 :Wewe Gombel

Part 5 :Nonton Wayang

Part 6 :Dikeloni Wewe Gombel

Sedikit sisipan:Asal Mula Nama Salahan

Part 7 :Watu Jaran

Part 8 :Sang Pertapa

Part 9 :Mbah Boghing

Part 10 :Wedhon

Part 11 :Ronda Malam dan Macan Nggendhong Mayit

Part 12 :Maling Bingung

Part 13 :Si Temon

Part 14 :Thethek'an

Part 15 :Kemamang dan Perempuan Gantung Diri

Part 16 :Tumbal Pembangunan Jalan Desa

Penutup
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 41 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
42
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 13
pertamax diamanken
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi

Part 1 : Glundhung Pringis Njaluk Gendhong

Spoiler for glundhung pringis:
Kejadian ini dialami oleh tetangga ane, sebut saja keluarga Kang Bejo dan Yu Darmi, sepasang suami istri yang punya tanah garapan di area Tegal Salahan. Saat itu penghujung musim kemarau, mendekati musim penghujan.

Seperti biasa sebagai seorang petani, pada musim musim ini mulai menyiapkan tanah garapannya agar siap ditanami saat musim penghujan tiba. Begitu juga dengan Kang Bejo, mulai sibuk mencangkul dan membersihkan ladangnya yang berada di area Tegal Salahan.

Kang Bejo ini termasuk seorang petani yang rajin. Pagi pagi buta sudah berangkat ke ladang, siang hari pulang untuk makan dan istirahat sebentar, lalu kembali ke ladang sampai senja baru pulang. Kadang Yu Darmi juga membantu.

Seperti siang itu, matahari baru saja sedikit bergeser ke arah barat, tapi Kang Bejo sudah siap dengan cangkul dan sabitnya. Juga caping anyaman bambu yang bertengger di atas kepala, siap melindunginya dari sengatan matahari yang terik. Tak lupa ceret berisi air putih untuk persediaan minum jika haus di ladang. Juga bungkusan plastik kumal berisi tembakau rokok tingwe tak lupa diselipkan di kantong celana komprangnya.

Dengan langkah yang gagah, Kang Bejo pun berangkat, bersama beberapa tetangga yang lain menuju ke ladang masing masing. Sesekali mereka bersendau gurau dan mengobrol di sepanjang perjalanan.

Yu Darmi sendiri tidak ikut ke ladang. Perempuan hitam manis itu sibuk mengurus gaplek yang di jemur di halaman rumahnya yang luas. Hari memang panas dan terik. Tapi di arah selatan sana mulai tampak mendung hitam menyelimuti puncak bukit seribu. Sepertinya musim penghujan memang akan segera tiba.

Yu Darmi memilih milih gaplek yang sudah kering untuk dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung. Sudah lumayan banyak yang kering, siap untuk dijual besok ke pasar.

Yu Darmi Tersenyum, membayangkan uang yang akan dia dapat dari hasil penjualan gaplek, namun senyumnya hilang seketika, saat melihat awan hitam dari selatan bergulung gulung bergerak mendekat, disertai kilatan cahaya petir dan suara guruh menggelegar. Sepertinya hujan akan benar benar turun.

Yu Darmi berteriak memanggil Danang, anaknya, untuk membantunya membereskan gaplek yang dijemur agar tidak kehujanan.

Dan benar saja, belum selesai emak dan anak itu dengan pekerjaannya, hujanpun turun. Awalnya gerimis rintik rintik, lalu berubah menjadi hujan lebat, disertai kilatan petir menyambar nyambar dan angin yang bertiup kencang,. Hujan badai.

Yu Darmi resah, bukan karena gapleknya yang sebagian tak terselamatkan dan kembali basah tersiram hujan. Tapi mencemaskan sang suami yang tak kunjung pulang.

Berbahaya berada di ladang di tengah hujan badai begini. Meski di ladang ada gubuk yang memang sengaja dibuat untuk istirahat saat lelah bekerja di ladang, tapi di tengah hujan badai petir dan angin kencang begini, gubuk itu tak bisa jadi tempat berlindung.

Lima menit, sepuluh menit, sampai limabelas menit menunggu, sang suami tak kunjung pulang juga. Yu Darmi semakin resah.

Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk menyusul sang suami. Dengan membawa dua buah payung, perempuan itu berjalan menerobos derasnya hujan. Rasa khawatirnya akan keselamatan sang suami, mengalahkan rasa takutnya melintasi tempat angker Tegal Salahan di tengah derasnya hujan.

Duapuluh menit sebelumnya di tengah ladang, Kang Bejo menghentikan sejenak kesibukannya. Siang yang terik berubah menjadi redup. Awan hitam bergulung seolah menelan keangkuhan panasnya mentari. Lalu gerimispun turun.

Laki laki itupun membereskan peralatannya, memanggil Kang Sardi yang bekerja tak jauh dari ladangnya, dan mengajaknya pulang.

Benar saja, hujan semakin deras, disertai petir dan angin kencang. Tak ada pilihan lagi, Kang Bejo pun ikut singgah di rumah Kang Sardi untuk berteduh. Kebetulan rumah Kang Sardi lebih dekat dari ladang, tepat di atas tanjakan jalan salahan.

Nasib baik, selain bisa numpang berteduh, juga mendapatkan hidangan kopi panas kental yang disediakan oleh istri Kang Sardi. Jadilah kedua petani itu menikmati kopi panas dan rokok tingwe di tengah hujan lebat, tanpa menyadari bahwa seseorang sedang terancam bahaya di Tegal Salahan.

Yu Darmi, nasibnya tak sebaik sang suami. Sampai di ladang ia tak menemukan sosok yang ia cari. Sudah dikelilinginya seluruh sudut ladang sambil berteriak teriak memanggil sang suami, tapi tak ada sahutan. Gubuk di tengah ladang juga kosong melompong.

Ah, mungkin Kang Bejo sudah pulang, dan berselisih jalan dengannya, hingga tak bertemu di tengah perjalanan tadi. Atau mungkin numpang berteduh di rumah orang.

Yu Darmipun memutuskan untuk kembali pulang. Hujan semakin deras. Angin semakin kencang. Kilat dan petir menyambar nyambar. Yu Darmi gemetar, kedinginan, juga ketakutan. Daster yang dipakainya basah kuyup. Payung yang ia bawa tak cukup melindungi dari derasnya hujan dan kencangnya angin.

Mendekati jembatan kecil atau bok di antara tanjakan dan turunan jalan, Yu Darmi semakin menggigil, kali ini lebih karena ketakutan. Teringan cerita orang orang tentang keangkeran tempat itu.

Benar saja, sampai di tengah tengah bok, angin kencang menghempas dan menerbangkan payungnya. Yu Darmi terpekik kaget. Payung satu lagi yang ia pegang, yang sengaja di siapkan untuk sang suami, terjatuh dari genggaman.

Perempuan naas itu mulai menangis, lututnya bergetar hebat, tak kuasa melanjutkan langkahnya. Tak ada penampakan seram yang menakutinya. Tapi ia merasa ada sesuatu yang menggelayut di punggungnya, berat dan panas.

Yu Darmi berteriak, berharap ada yang mendengar dan menolongnya. Tapi suaranya hilang begitu saja ditelan derasnya hujan. Tapi perempuan itu tak mau menyerah. Ia tak mau mati konyol di tempat itu.

Dengan sisa sisa kekuatan dan kesadaranya, ia mencoba berdiri. Namun sesuatu yang menggelayut di punggungnya terasa begitu berat, membuatnya kembali jatuh terduduk.

Arrrrrgggghhhh, Yu Darmi mengerang, mencoba merangkak setapak demi setapak, menaiki jalan berbatu menanjak ke arah desa. Rasa perih di lutut dan telapak tangan karena tergores batu jalan yang tajam tak dirasakannya.


Ia terus merangkak, sambil mulutnya tak henti berteriak minta tolong, meski dengan suara yang mulai serak dan melemah. Sementara makhluk tak kasat mata yang menggelayut di punggungnya terasa semakin berat dan panas, membuat punggungnya serasa terbakar meski ditimpa derasnya hujan.

Sementara itu di rumah Kang Sardi, Kang Bejo masih asyik menikmati secangkir kopi sambil ngobrol ngalor ngidul dengan sang tuan rumah. Sampai akhirnya obrolan mereka terhenti manakala terdengar sayup sayup suara perempuan menangis dan menjerit lirih.

Kedua laki laki itu terhenyak dan saling pandang. Mereka sadar suara itu berasal dari arah selatan, Tegal Salahan. Kang Sardi bergidik, Kang Bejo mengusap tengkuknya yang merinding. Kedua laki laki itu punya pemikiran yang sama, suara perempuan dari arah Tegal Salahan di tengah hujan badai begini, suara siapa lagi kalau bukan............., "KUN.....KUN.....KUNTILANAAAAAKKKKK"

Seperti dikomando keduanya berteriak dan lari masuk ke dalam rumah, mengunci pintu, tanpa memperdulian kopi yang masih setengah dan rokok tingwe yang masih menyala di asbak di atas meja teras.

Namun selain rasa takut, kedua lelaki itu juga punya rasa penasaran. Dengan lutut gemetar dan wajah pucat mereka mengintip dari kaca jendela, memandang lurus ke arah jalan tanjakam Salahan.

Kang Sardi semakin gemetar, lamat lamat di tengah derasnya hujan nampak sosok menyeramkan berwujud perempuan dengan rambut panjang acak acakan merangkak menaiki jalan tanjakan Salahan. Tak salah lagi, kuntilanak menuju ke arah desa. Dan itu berarti bahaya, mengingat rumahnya yang paling dekat dengan jalan tanjakan itu.

Lain Kang Sukir, Lain lagi yang ada di pikiran Kang Bejo. Ia memang melihat sosok yang sama, sosok menyeramkan merangkak menaiki tanjakan jalan salahan. Sedetik Kang Bejo terhenyak, sedetik kemudian ia sadar dan panik, membuka pintu dengan kasar, menyambar tangan Kang Sardi dan menyeretnya keluar berlari menerobos derasnya hujan.

Ya, Kang Bejo memang tak begitu jelas melihat sosok menyeramkan itu, karena terhalang derasnya hujan. Tapi ia jelas jelas mengenali daster yang dikenakan oleh sosok yang semula ia sangka kuntilanak itu. Daster putih kembang kembang merah yang seminggu lalu ia beli untuk istrinya.

Malam harinya, rumah Kang Bejo terang benderang. Suara ayat ayat suci berkumandang, dilantunkan oleh hampir semua warga desa yang hadir di situ, di pimpin oleh Pak Modin.

Kang Bejo sendiri masih syok, duduk bersandar tiang rumah dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Di sampingnya Kang Sardi juga dalam posisi dan kondisi yang sama.

Namun semua bersyukur, Yu Darmi masih bisa terselamatkan, berkat daster putih kembang kembang merah, berkat usaha mati matian dua lelaki penakut yang menggotongnya pulang, dan berkat doa doa dari Pak Modin dan semua warga desa. Kini perempuan hitam manis istri Kang Bejo itu telah lelap tertidur berselimut kain tebal.

Selesai pembacaan doa, mereka semua yang hadir tidak langsung pulang. Masih ada satu hal yang ditunggu tunggu. Bukan hangatnya kopi atau singkong goreng yang memang sudah disediakan, tapi cerita dan penjelasan dari Pak Modin tentang apa sebenarnya yang menimpa Yu Darmi sore tadi.

Pak Modin pun tanggap dengan semua rasa penasaran itu. Dan tanpa diminta dari mulutnya pun meluncurlah kata kata yang ditunggu tunggu oleh segenap orang yang hadir disitu.

Usut punya usut biang dari semua ini adalah glundhung pringis, sejenis hantu atau makhluk halus yang berwujud kepala tanpa badan yang suka menggelinding seperti bola dan meringis. Makhluk ini tertarik dengan Yu Darmi karena kebetulan saat itu Yu Darmi sedang datang bulan. Mangkanya ia nemplok dan minta gendhong di punggung Yu Darmi.

Konon makhluk makhluk seperti itu memang suka dengan wanita yang datang bulan, entah apa sebabnya. Karena itu Pak Modin mewanti wanti agar kalau perempuan sedang datang bulan, jangan pernah sekali kali datang atau lewat di Tegal Salahan.****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 14 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
15
Lihat 2 balasan
Quote:


Siap, makasih gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
Nitip sendal di pejwan gan..emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
mantap.. lanjut gan emoticon-thumbsup
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan indrag057 memberi reputasi
Quote:


Monggo, silahkan gan
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
gelar tiker ahhh
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan indrag057 memberi reputasi
Quote:


Siap mbah
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Mbahjoyo911 memberi reputasi
Quote:


Silahkan gan, makasih dah mampir
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi

Part 2 : Jenglot Njaluk Tumbal

Kang Warno, siapa yang tak kenal laki laki nyentrik yang satu ini. Laki laki pengangguran yang selalu berpenampilan necis ini memang sangat terkenal di seantero desa Kedhungjati, bahkan sampai ke desa desa tetangga.

Kerjanya sehari hari cuma petentang petenteng keliling kampung, nongkrong sana nongkrong sini, ngobrol ngalor ngidul dengan semua orang yang ia temui. Meski kebanyakan orang malas menanggapi, karena memang sudah hafal dengan tabiatnya.

Gayanya memang nyentrik, dandanan necis, pinter ngomong, sok hebat dan sok pinter. Mangkanya banyak orang yang kurang suka denganya.

Satu lagi, dia punya hoby yang unik, mengumpulkan barang barang aneh seperti batu akik, keris, dan benda benda aneh lainnya. Meski kebanyakan koleksinya hanya barang barang imitasi, tapi ia bangga. Sering memamerkan koleksinya ke orang orang dengan segudang promosi bahwa benda benda itu asli, bertuah, atau sakti. Dan ujung ujungya bsa ditebak, menawarkan agar orang mau membeli barang barang koleksinya dengan harga selangit.

Warga desa Kedhungjati tentu saja sudah hafal, dan tak pernah percaya dengan ocehan kang warno. Tapi kadang ada juga warga desa lain yang termakan bujuk rayunya. Terutama orang orang yang masih percaya dengan benda benda yang dianggap bertuah. Dan tak sedikit pula yang rela mengeluarkan uang yang nggak sedikit untuk membeli barang yang sebenarnya imitasi itu.

Hingga suatu ketika Kang Warno pun kena batunya. Berawal saat dia menemukan sebuah boneka kecil aneh berwajah seram di area Tegal Salahan. Benda itupun segera dipamerkan kepada semua orang yang ditemuinya, dengan dibumbui cerita bahwa benda itu keramat, ia dapat dengan bertirakat dan bertarung dengan jin sakti penjaga benda itu.

Orang orang hanya mencibir, karena tahu bahwa Kang Warno menemukanya secara tak sengaja saat sedang mencari kayu bakar. Semua juga tak yakin kalau itu benda keramat, karena hanya sebuah boneka kayu kecil yang meski berbentuk menyeramkan, tapi bagi mereka boneka teteplah boneka. Bisa saja cuma boneka bekas mainan anak anak yang dibuang dan hanyut di sungai Tegal Salahan.

Hingga suatu ketika saat Kang Warno memamerkan benda itu kepada Pak Modin, Pak Modin justru menyarankan agar Kang Warno mengembalikan benda itu ke tempat dimana Kang Warno menemukannya.

Pak Modin yang memang sedikit mengerti dengan hal hal gaib atau semacamnya. Dan beliau melihat bahwa boneka itu memang bukan boneka biasa, dan juga berbahaya. Kang Warno bisa celaka kalau tetap menyimpan benda itu, apalagi sampai menjualnya.

Tapi dasar Kang Warno, nasehat dari Pak Modin cuma dianggap angin lalu. Justru karena Pak Modin yang dianggap tau tentang hal hal gaib itu bilang kalau itu bukan boneka biasa, membuat Kang Warno berniat untuk menjualnya.

Dengan bantuan anaknya yang bekerja di kota, akhirnya Kang Warno bisa berkenalan dengan seorang kolektor benda antik dari kota. Dan di luar dugaan, sang kolektor itu berani membeli boneka itu dengan harga yang sangat mahal.

Seperti kejatuhan durian runtuh, Kang Warno seolah mrnjelma menjadi orang kaya baru. Gaya tengilnyapun semakin menjadi jadi. Memborong perabotan rumah yang baru, pakaian pakaian mahal, perhiasan emas untuk istrinya, dan banyak lagi yang ia beli.

Tapi hal itu tak berlangsung lama. Karena seminggu setelah Kang Warno menjual boneka aneh itu, terorpun dimulai.

Yu Sumi, istri Kang Warno, diteror mimpi mimpi aneh dan menyeramkan selama beberapa hari. Dalam mimpi itu ia seolah olah dikejar kejar oleh seorang kakek kakek berwajah seram dan diancam akan dibunuh.

Selain itu rumah Kang Warno juga tak luput dari teror. Setiap malam, pintu yang diketok ketok namun saat dibuka tak ada orang, suara langkah kaki yang berjalan mengelilingi rumah, namun saat di cek ternyata juga nggak ada orang. Kang Warno juga sering mendengar suara kakek kakek memanggil namanya dengan suara serak dan lirih, tapi saat keluar rumah juga tak ada orang. Bahkan anak bungsunya sering menangis tanpa sebab setiap malam.

Hingga akhirnya Kang Warnopun jatuh sakit. Awalnya cuma masuk angin biasa, tapi makin lama makin parah. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi tak kunjung sembuh juga.

Sampai sebulan kemudian, Kang Warno hanya bisa tergolek di atas tempat tidur tanpa daya. Jangankan untuk duduk atau berdiri, bicarapun sudah tak mampu.

Segala upaya telah ditempuh, dari dokter, orang pintar, kiai, sampai dukun telah mencoba mengobati. Tapi hasilnya tetep nihil. Hingga akhirnya Kang Warnopun menghembuskan nafas terakhirnya.

Kabar dukapun menyebar. Semua warga Kedhungjati berbondong bondong ke rumah duka. Yach, meski semasa hidupnya almarhum merupakan orang yang menyebalkan, tapi di saat ditimpa kemalangan begitu orang orang segera lupa dengan sifat tengilnya.

Ada cerita aneh saat acara pemakaman. Beberapa orang konon katanya melihat seorang kakek kakek misrerius berwajah seram dan berambut putih panjang berdiri agak jauh dari liang lahat sambil menatap tajam ke arah peti mati yang akan diturunkan ke liang lahat.

Tak semua orang melihat kakek itu. Hanya beberapa orang, dan tak ada satupun yang mengenali si kakek. Tapi orang orang yang melihat punya cerita yang sama. Si kakek menimang boneka kecil aneh berwajah seram di tangannya.

Banyak desas desus menyebar. Ada yang bilang Kang Warno mati tak wajar, menjadi tumbal dari boneka aneh yang ditemukannya. Banyak juga yang bilang bahwa boneka itu sebenarnya adalah jenglot yang memang sengaja menampakkan diri agar ditemulan oleh orang yang mau mengambilnya, dan menjadikan orang itu sebagai tumbal. Karena makhluk yang bernama jenglot ini memang dikenal sebagai makhluk ganas yang haus darah.

Entahlah, ane yang waktu itu masih kecil kurang begitu mengerti. Bahkan ane juga ga tau seperti apa sebenarnya bentuk dan rupa boneka aneh itu. Apapun itu, semoga Almarhum Kang Warno mendapat tempat yang layak di alam sana, diampuni segala dosa dosanya, dan diterima semua amal ibadahnya. Amiiiiiiinnnnnnn........!!!!!!!!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh indrag057
14
Nemu thread bagus, semoga lancar jaya. emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
dwikusumad dan indrag057 memberi reputasi
Quote:


Amiiinnnnn, thank's gan dah mampir
profile-picture
Mbahjoyo911 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Siap 86emoticon-Jempol
profile-picture
Mbahjoyo911 memberi reputasi
Kang Warno tidak berobat ke Pak modin?
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan indrag057 memberi reputasi
Quote:


Masih sist, tapi dah ga seseram dulu. Jalan'y sekarang juga udah di cor mulus, bkn jalan berbatu lg
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
Quote:


Siap sist, makasih dah mampir
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
Quote:


Kayaknya dulu enggak deh, tapi ane jg kurang tau. Yang ane tau malah pernah manggil orang pintar dari desa lain yang lebih ampuh gtu katanya
profile-picture
Puspita1973 memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 3 : Yatmiiiiiiiiiii........, Balekno Matane Anakku!!!!!!!!

Bapak ane juga punya tanah garapan di area Tegal Salahan ini gansist, tapi letaknya agak jauh dari jalan Salahan, kira kira 200 meteran gtu ke arah timur jalan. Meski begitu ga kalah angker dari jalan Salahan.

Sebenarnya lahan itu bukan milik bapak ane gansist, tapi milik tetangga. Bapak ane hanya menggarapnya, nanti kalau panen hasilnya dibagi dua gitu. Praktek praktek menggarap lahan orang dengan sistem bagi hasil begini sudah menjadi hal yang wajar di desa ane. Dan bapak ane meski tidak memiliki sawah atau ladang sendiri, tapi memiliki beberapa lahan garapan milik orang lain. Lumayanlah, meski tak memiliki lahan sendiri tapi masih bisa mendapat penghasilan dari menggarap lahan orang.

Ane sendiri, sebagai anak yang baik dan berbakti kepada orang tua, meski masih kecil tapi suka membantu bapak kerja di ladang itu, meski sebenarnya lebih banyak ngerecokin sih daripada membantu. Yach, namanya juga anak kecil, bisa dimaklumin lah.

Di tepi ladang yang digarap bapak ane ada sebuah batu hitam besar yang kata orang angker, ada penunggunya. Tapi ane percaya ga percaya sih. Cz ane sendiri sering bermain main di batu itu. Memanjatnya naik dan tiduran di atasnya, dinaungi rindangnya pohon akasia di siang yang panas, kan jadi sejuk tuh. Dan ane juga ga pernah diganggu tuh sama penunggu batu itu.

Tapi lain lagi yang dialami mBak Yatmi. Dia ini anaknya Lik Parmin, pemilik lahan yang digarap bapak ane. Mbak Yatmi pernah mengalami kejadian yang mungkin nggak akan pernah dilupakan selama hidupnya. Kejadian yang hampir merenggut nyawa anaknya.

Jadi ceritanya begini gansist, mBak Yatmi ini sudah lama merantau ke Jakarta, bersama suami dan anaknya. Saat itu masih dalam suasana lebaran, lebaran lewat beberapa hari gitu. Seperti para perantau pada umumnya, mBak Yatmi dan keluarga pun juga mudik ke desa.

Saat itu bersamaan dengan musimya panen kacang tanah. Jadi meski masih dalam suasana lebaran, bapak, emak, dan ane sudah sibuk di ladang memanen kacang. Orang tua mBak Yatmi juga ikut membantu.

Mbak Yatmi sendiri juga ikut ke ladang bersama anak dan suaminya. Bukan ikut membantu bekerja sih. Tau sendiri lah orang dari kota. Sibuk lihat lihat pemandangan, foto sana foto sini, main air di kali, aneh menurut ane.

Ya maklum lah ane yang masih kecil dan belum mengenal kota, wajar kalau merasa aneh. Masa pergi ke ladang pake baju bagus, sendal bagus, dah gitu pake kacamata item lagi. Lihat sawah dan sungai juga kayanya seneng banget, kaya orang nggak pernah lihat sawah dan sungai saja. Terus ngapain juga orang lagi kerja di ladang difoto foto gitu. Kaya penganten saja di foto. Ane taunya yang suka di foto tuh ya orang yang jadi penganten. Maklum gansist, zaman itu kamera foto masih merupakan barang yang sangat langka dan mewah.

Mungkin karena capek berkeliling melihat lihat, mBak Yatmi beserta anak dan suaminya istirahat berteduh di bawah pohon akasia di dekat batu angker itu. Ane sedikit kesal juga waktu itu. Orang pada sibuk kerja kok malah pada asyik asyik nyantai begitu.

Singkat cerita, sore pun datang. Kamipun bersiap siap untuk pulang. Pekerjaan yang belum selesai akan dilanjutkan besok. Saat berjalan pulang mBak Yatmi sempat memuji ane gansist, masih kecil tapi sudah rajin membantu orang tua bekerja. Ane juga dikasih duit limaribu perak. Wah, ane seneng banget tuh. Zaman itu duit limaribu sangatlah banyak. Uang jajan ane za kalau ga salah cuma duaratus perak sehari. Sangking senangnya ane jadi lupa tuh ma rasa kesal ane pas mBak Yatmi nyantai nyantai ga bantuin kerja tadi.

Besoknya kami lanjut kerja lagi memanen kacang gansist. Tapi kali ini mBak Yatmi ga ikut. Ane juga lihat Lik Parmin menaruh pencok bakal*) dan membakar dupa di dekat batu besar itu gansist. Ane jadi mikir, pasti ada apa apa nih, ada yang digangguin sama penunggu batu itu. Tapi ane ga mikir jauh lagi. Pikiran ane beralih ke pencok bakal yang ditaruh di dekat batu itu. Begitu Lik Parmin selesai bakar kemenyan dan baca mantra, langsung saja pencok bakalnya ane sikat. Lumayan, isinya ada telor ayam ma duit seratus perak. Telor ma duitnya yang ane ambil gansist, isi yang lainya seperti kembang setaman, daun sirih, sejimpit beras kuning, seiris kunyit, dll ane buang.

Tapi ane masih penasaran gansist, kenapa Lik Parmin sampai ngguwak'i*) di batu itu. Anepun diam diam nguping obrolan bapak ane dengan Lik Parmin. Ternyata benar, ada yang gangguin mBak Yatmi. Siapa lagi kalau bukan penghuni batu besar itu.

Jadi semenjak kemaren sore sepulang dari ladang mBak Yatmi tuh merasa selalu ada yang ngikutin. Kemana mana di ikutin, tapi saat di tengok ga ada siapa siapa. Sampai malam pun mBak Yatmi selalu gelisah dan ga bisa tidur. Sampai saat tertidur, mBak Yatmi mimpi aneh. Dia mimpi dia lagi tidur gitu, trus di samping tempat tidurnya ada perempuan yang duduk sambil ngeliatin dia tidur. Cuma ngeliatin doang, tapi dengan tatapan yang aneh gitu. Mbak Yatmi juga ga kenal siapa perempuan itu.

Besokmya lagi, saat kembali bekerja, ternyata Lik Parmin masih ngguwak'i lagi di batu besar itu. Wah, berarti makin parah nih, pikir ane. Tapi ane senang, dapet telor ayam ma duit seratus perak lagi.

Lagi lagi ane kepo dan nguping obrolan bapak ma Lik Parmin. Ternyata mBak Yatmi masih digangguin. Semalem, mBak Yatmi mimpi lagi didatangi perempuan yang sama dengan yang di mimpi kemaren malam. Namun kali ini bukan cuma ngeliatin, tapi sudah berani mencengkeram tangan mBak Yatmi sambil bilang, "Baleknooooo.......... Baleknooooooo" (" Kembalikaaaannnn....... Kembalikaaaaaannnn...."), begitu berulang ulang. Mbak Yatmi bingung. Ia tidak merasa mengambil apa apa saat di ladang, cuma melihat lihat dan berfoto ria. Apa yang harus di krmbalikan? Mbak juga masih merasa ada yang mengikuti kemanapun ia pergi. Bahkan saat mandi pun ia merasa ada yang memperhatikannya.

Dan malamnya, menjadi puncak dari teror tersebut. Anak mBak Yatmi kesurupan. Selesai sholat isya' di mushala, Pak Modin pun mengajak beberapa warga untuk ke rumah Lik Parmin. Ane dan teman teman yang penasaran pun diam diam mengikuti.

Sampai di rumah Lik Parmin suasana sudah kacau.Alya, Anak mBak Yatmi yang kesurupan mengamuk. Matanya melotot, rambut dan pakaianya sudah acak acakan, mulutnya mengoceh nggak jelas. Perabotan di rumah itu juga berantakan di acak acak. Orang orang yang mencoba menolongpun kewalahan. Ane sedikit takut juga, anak perempuan kecil berusia sepuluh tahun mampu membanting laki laki dewasa yang tubuhnya tinggi besar.

Pak Modin yang datang segera mendekati Alya sambil baca baca doa. Alya menggeram dan melompat ke atas meja, matanya melotot seolah menantang Pak Modin.

"Assalamualaikum, sampeyan sinten, nopo lupute bocah niki kok sampeyan ganggu"(Assalamualaikum, kamu siapa? Apa salah anak ini sampai kamu ganggu?)" Pak Modin mencoba berinteraksi dengan makhluk itu.

"Hiiiiiikhiiiiiikhiiiiikhiiiiiii........." Alya tertawa melengking, suaranya serak dan berat seperti suara nenek nenek. Lalu bocah itu mengibaskan kepalanya, tatapanya beralih ke arah mBak Yatmi yang meringkuk ketakutan di sudut rumah.

"Heh, menungso elek, menungso kurang ajar, menungso murangtata, balekno matane anakku!!!!" ("Heh, manusia jelek, manusia kurang ajar, manusia tak tau aturan, kembalikan mata anakku") Alya membentak ke arah mBak Yatmi.

"Heh iblis elek, kowe sing kurang ajar. Wani wanine kowe ganggu gawe anake turunne menungso. Saiki ugo baliyo menyang alammu, yen ora bakal tak obong kowe nganggo ayat suci!!"("Heh iblis jelek, kamu yang kurang ajar. Berani beraninya kamu mengganggu anak keturunan manusia. Sekarang juga kembalilah ke alammu. Kalau tidak akan kubakar kamu dengan ayat suci!!!") gantian Pak Modin yang membentak ke arah Alya.

Alya kembali tertawa mengikik, masih dengan suara nenek nenek yang serak, "Wong tuwa elek, aku ra duwe urusan karo kowe. Ojo melu melu. Wong wedok elek kuwi wes gawe matane anakku wuta, disabet nganggo godhong alang alang. Aku njaluk matane anakku dibalekne waras kaya wingi wingi. Yen o ra, bocah iki bakal tak tawa, tak dadekne tumbal,!!("Orang tua jelek, aku tidak punya urusan denganmu. Jangan ikut campur. Perempuan jelek itu membuat mata anakku buta, di sabet dengan daun alang alang. Aku minta mata anakku dikembalikan seperti sedia kala. Kalau tidak anak ini akan aku bawa, aku jadikan tumbal,!")

"Oooo, koyo mengkno. Yo aku sing bakal nyaguhi nambani anakmu. Saiki baliyo. Ojo ganggu gawe maneh marang bocah iki"(Oooo, seperti itu. Baiklah kalau begitu, aku yang akan menyanggupi untuk menyembuhkan mata anakmu. Sekarang pulanglah. Jangan pernah mengganggu anak ini lagi")

Akhirnya, dengan bantuan Pak Modin, jin itu dapat diusir. Semua merasa lega. Tinggal mBak Yatmi yang kini diiterogasi oleh Pak Modin. Setelah mengingat ingat agak lama, akhirnya mBak Yatmi bercerita bahwa benar, saat beristirahat di dekat batu besar itu, ia sempat merenggut daun alang alang. Cuma sekedar iseng saja sih sebenarnya, daun alang alang dibuat main mainan gtu. Dan sempat juga disabetkan ke arah batu besar yang angker itu, tanpa ia sadari bahwa daun alang alang itu mengenai mata anak jin penunggu batu itu.

Keesokan harinya, seperti anjuran dari Pak Modin, Lik Parmin mengadakan selamatan di batu besar itu. Membawa nasi tumpeng dan ayam panggang, dan membaca doa doa di pimpin langsung oleh Pak Modin. Dan lagi lagi ane gansist yang merasa diuntungkan. Kapan lagi bisa makan nasi tumpeng dan ayam panggang yang lezat dan gurih ini.****


Spoiler for sedikit info::
profile-picture
profile-picture
profile-picture
chisaa dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Lihat 3 balasan
Quote:


Iya x sist, malu juga x ma pak modin, cz ga mau dengerin saran pak modin jg
akhirnyaaaa... nemu juga yg horor2..
emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
profile-picture
manusiakelam dan 2 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 13
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di