CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebe9d25facb955e2426f68b/cerita-kita-untuk-selamanya-3--cataphiles-on-going

Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]

Quote:


TENANG, CERITA KITA, APAPUN UJUNGNYA, AKAN DIKENANG SELAMANYA.

SELAMAT DATANG DI CERITA KITA UNTUK SELAMANYA SERIES.

Quote:




Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]


Sinopsis:
Ditahun 2025 terjadi kekacauan besar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pandemi virus yang semakin memburuk, serangan teror, unjuk rasa, banyak orang harus kehilangan keluarga dan mata pencarian, sampai akhirnya pemerintah menetapkan status darurat nasional untuk menghentikan semua aktifitas yang dapat membahayakan warga. Ditengah kekacauan ini, Rendy dan Bianca bertemu dengan Mr.Klaus yang akan merubah hidup mereka dan membawa mereka pada petualangan baru di Desa Praijing, Sumba. Siapakah yang akan memperbaiki keadaan tersebut? Apakah kekacauan tersebut bisa diselesaikan? Siapakah sebenernya Mr.Klaus?


Note: Ceritanya mengandung unsur kekerasan dan adegan dewasa jadi mohon pengertiannya gaiz
emoticon-Betty emoticon-Betty emoticon-Betty

---------------------------------------------------------------------------------------------------


Pembukanya gak usah panjang-panjang. sebelum baca series ketiga ini gue rekomendasikan untuk baca dulu dua series sebelumnya ya biar gak bingung dan gak banyak nanya lagi. Tapi kalau mau lanjut kesini aja juga boleh. langsung aja, enjoy the story hehe.

Cerita Kita Untuk Selamanya versi FULL SERIES :



Penampakan rendy: CEKemoticon-Cool
Penampakan bibi: CEK emoticon-Takut (S)




When i was young i listen to the radio
Waiting for my favorite song
When they played i sing along
Its make me smile


The Carpenters - Yesterday Once More
Official Soundtrack



“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Sapardi Djoko Darmono - Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Quote:

--------------------------------------------------------------------------------------------


CERITA KITA UNTUK SELAMANYA 3 : CATAPHILES
PROLOG
Tahun 2026
Disebuah negeri entah berantah.


“Bi..? ini beneran kamu?”

Gue buka mata gue perlahan sambil menegakkan tubuh gue yang serasa rontok disemua bagian. Tangan kiri gue berasa perih dan samar-samar terlihat aliran darah beku menghitam diarea pergelangannya. Bibir atas dan lutut kaki sebelah kanan gue juga menimbulkan sensasi sakit luar biasa tiap kali gue mencoba untuk menggerakkan tubuh. Samar-samar terlihat bayangan bibi ketika pertama kali gue membuka mata tadi. Sekarang setelah sepenuhnya sadar, gue makin bingung dengan keadaan yang tejadi karena gak cuma ada Bibi disini. Ada seorang wanita lain terlihat sedang membalut luka ditungkai kaki seorang pria yang terlihat mengeluarkan darah cukup banyak.

“Iya, Rendy. Ini aku” Bibi menjawab sambil mengulurkan beberapa obat penghilang rasa sakit dan penambah darah untuk gue minum. “Minum nih kalau masih kerasa sakit, untung aja gak apa-apa kan.”

“Gak apa-apa apanya sih bi?” gue mengambil obat dari tangan bibi dan segera meminum obat tersebut dengan beberapa teguk air yang ada digelas di sisi lain tubuh gue. “Emang kita dimana? Kenapa ada mereka juga?”

Gue dan Bibi sekarang ada disebuah pondok kayu kecil berukuran 3x4 m dengan satu jendela persegi kecil bertirai kain hitam lusuh jadi tempat lewat mentari pagi berada disisi belakang tubuh bibi. Sang wanita asing yang tadi sedang sibuk memperban seorang laki-laki sekarang terlihat menatap Bibi dari kejauhan. Luka yang sedang diperban dari tungkai cowok tersebut pun terlihat sudah berhenti mengalirkan darah. Ruangan kumuh ini lembab dengan hanya satu alas tidur jadi tempat beristirahat lelaki dengan perban didaerah tungkai. Samar gue lihat kalau laki-laki ini terlihat familiar dengan rambut ikal panjangnya.

“hufft” bibi menjawab sambil menghela nafas panjang dan membereskan beberapa peralatan yang sebelumnya dipakai untuk mengobati gue. “dugaan aku bener kan, kamu bakal lupa semuanya setelah semalam kepala kamu kebentur. Untung ada mereka yang nolongin”

Terlihat sang wanita tersenyum tipis sambil melambaikan tangan kearah gue.

“Mereka siapa be?” gue bertanya pelan kearah bibi sambil meringis.

“Astaga Rendy kamu beneran gak inget apa-apa ya. Yang cewek namanya Sydney dan yang cowok namanya Will” Bibi menjawab. “Kita disini bareng-bareng karena harus ngumpulin informasi tentang apapun yang berhubungan sama organisasi Cataphiles, seenggaknya itu perintah yang dikasih atasan kemaren. Tapi karena kecerobohan kamu rencana kita gagal semalem dan harus sembunyi ditempat ini sekarang.”

Will? Sydney? Organisasi Cataphiles? Perintah atasan? Semua hal yang bibi bicarakan terdengar imajinatif karena seinget gue semalem sebelum tidur gue masih ada dikosan, ngobrol sama mas kosan tentang kemungkinan gue untuk pindah kerja. Gue dan bibipun udah lama gak ketemu dan sekarang tiba-tiba kita berdua sedang berada di tempat antah berantah sama dua orang asing dan katanya sedang menjalani sebuah misi.

“Bentar-bentar” gue mencoba menelaah perkataan bibi. “kamu bisa ceritain dari awal? Dari awal banget?”

“Dari awal kita ketemu?” bibi menjawab. “apa dari awal kita ada ditempat ini? by the way, kita sekarang lagi di perbatasan sisi timur kota Paris”

“Dari awal terbentuk galaksi bimasakti juga boleh aku dengerin” gue menjawab perkataan bibi sambil membenarkan posisi lutut kanan gue yang telihat lebam membiru dengan ukuran cukup besar. “semalem aku tidur masih dikosan kok tiba-tiba ada disini ya wajar dong bingung. Bentar, kamu bilang PARIS?”

“hah? Tidur dikosan?” bibi menjawab sambil mengernyitkan dahi.”bener-bener makin goblok setelah kepalanya terbentur nih orang. ya udah sini diceritain dari awal...”

Dan bibi mulai bercerita tentang kejadian awal kenapa semua jadi seperti ini. Di kejauhan gue liat sydney terlihat tersenyum karena obrolan gue dan bibi barusan.

--------------------------------------

Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles (Wattpad)




Cerita Kita Untuk Selamanya versi FULL SERIES :



BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK SUPAYA KITA BISA SALING KENAL

Quote:


Quote:


emoticon-Keep Posting Gan emoticon-Keep Posting Gan emoticon-Keep Posting Gan


Quote:


Follow Cerita Kita Untuk Selamanya

di Instagram:
@ceritaselamanya

dan Twitter:
@ceritaselamanya




Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]
Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]

Polling
29 Suara
lebih enak baca di kaskus atau wattpad? 
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fandyanto dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rendyprasetyyo
Halaman 1 dari 10
Ane pertamaxin boleh..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
taksaka8 dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
Cerita dimulai, Gan!
Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]


Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]
profile-picture
profile-picture
profile-picture
amikurnia dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rendyprasetyyo
CHAPTER 1
Setahun sebelumnya.
Bandung, Maret 2025.


“Terjadi bentrokan antara aparat kepolisian dan warga yang menolak aksi isolasi diri akibat penyebaran virus yang telah terjadi selama 4 tahun terakhir. Warga yang menolak keputusan isolasi ini berkumpul didepan Istana Kepresidenan untuk menuntut ketegasan Presiden terhadap dampak negatif akibat aksi isolasi. Warga berpendapat bahwa keputusan isolasi diri hanya mendatangkan dampak buruk bagi kehidupan mereka dan ingin presiden segara mengeluarkan keputusan untuk mengakhiri masa isolasi ini.”

“udah bentrok dimana-mana”

gue bergumam sambil mengecilkan volume televisi. Iya, sejak 4 tahun yang lalu virus ini menyebar, keputusan isolasi diri langsung dikeluarkan presiden dengan tujuan untuk melindungi warga. Tapi alih-alih mengurangi jumlah korban, keputusan ini malah membuat masyarakat tidak bisa beraktifitas dengan wajar dan membuat kemampuan ekonomi warga menurun. Situasi pun diperburuk dengan jumlah korban yang terus meningkat dengan total lebih dari 15 juta warga terinfeksi dalam 4 tahun terakhir. Fasilitas kesehatan yang tidak cukup melayani korban membuat hampir 30% pasien harus meninggal dunia.


Memusnahkan virus memang bukan perkara mudah. Satu-satunya cara untuk memutus rantai penyebaran virus ini adalah dengan memvaksinasi seluruh penduduk dunia dengan vaksin yang katanya telah selesai diteliti tahun ini dan pastinya proses ini gak makan waktu sedikit. Virus yang sedang menyebarpun bukan virus main-main. Virus ini punya kecepatan menyebar seperti virus flu tapi punya tingkat kematian berkali-kali lipat lebih besar.

“Lagi dimana? Mau nitip gak?” Pesan dari Ibu gue terima.

Pesan dari Ibu gue terima setelah mengoleskan selai nanas ke sepotong roti tawar yang gue beli dijam makan siang tadi. Gak banyak pilihan makanan yang bisa dimakan selama beberapa tahun terakhir karena banyak toko harus tutup karena kebijakan isolasi. Gak cuma toko bahan makanan, industri-industri, bandara, terminal, dan stasiun semua mengurangi aktifitas demi memutus rantai penyebaran virus. Dampaknya bagi kehidupan gue udah jelas, gue harus mengurung diri sebanyak mungkin, mengurangi interaksi fisik sebisanya, dan ini jelas membuat beberapa manusia merasakan serangan cemas lebih banyak dari biasanya. Seperti pesan sebelumnya, pesan Ibu kali ini sepertinya harus dibalas dengan kata “Gak” lagi karena pasti bakal bikin ibu makin repot harus mampir kesana kemari disaat semua orang sedang mengurung diri.

“Cataphiles, jangan lupa”

Satu pesan lagi gue terima setelah gue meneguk segelas air putih didapur. Pesan anonim ini lah yang biasa gue terima dalam beberapa tahun terakhir semenjak keputusan isolasi dibuat. Gue yang berkerja sebagai seorang analis di perusahaan swasta ini harus rela bekerja berjam-jam didepan laptop cuma untuk mengorek informasi tentang isu-isu yang berpotensi mengancam keamanan negara yang ditulis pada pesan-pesan ini. Gue putuskan untuk duduk dan kembali menonton tayangan televisi. Satu persatu tayangan televisi menayangkan berita terkini dari penyebaran virus yang selama 4 tahun terakhir tidak menunjukkan perbaikan kearah positif.

“Organisasi Hitam bernama Cataphiles mengancam akan mengganggu proses pendistribusian vaksin yang dikabarkan telah selesai diproduksi. Organisasi ini mengklaim kalau mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau lewat video yang beredar di dunia maya beberapa hari terakhir. Belum ada respon resmi dari pemerintah Indonesia, dan badan kesehatan dunia, terhadap ancaman organisasi hitam tersebut.”

“Cataphiles lagi, cataphiles lagi” gue bergumam dalam hati. Setelah bosan dengan berita yang ditayangkan televisi, gue putuskan untuk keluar beranda kamar gue yang letaknya dilantai 21 sebuah apartemen untuk menyalakan rokok sambil menghirup udara sore dari ketinggian. Langit makin terlihat cerah beberapa tahun terakhir akibat berkurangnya jumlah kendaraan bermotor yang lalu-lalang dijalanan. Seperti semua hal didunia ini, dalam hal pembagian vaksin nanti akan selalu ada satu pihak jahat yang bakal menghalangi prosesnya. Gue sedikit banyak tau organisasi ini sejak beberapa hari yang lalu atasan gue memerintahkan gue untuk mencari tahu apakah organisasi ini ada hubungannya dengan perusahaan farmasi yang sedang memproduksi vaksin. Tugas sederhana yang menurut gue gak bakal bisa selesai dengan sempurna kalau cuma mengandalkan info dari Internet.
“Ibu belum bisa mampir hari ini karena harus pulang. Besok ibu dan ayah akan kesana, sore”

Pesan ibu untuk kedua kalinya masuk. Gue udah tahu kalau gak dititipin ibu gak bakal mampir kesini, apartemen kecil dan berantakan, karena beliau akan selalu ngedumel tanpa henti untuk nyuruh gue supaya rajin bersih-bersih kamar dan proses ini ibu bilang menghabiskan banyak energi dengan percuma. Ya gue sih seneng kalau ibu gak mampir sekarang, se-enggaknya gue bisa menikmati matahari sore dengan lebih tenang.

Matahari sore semakin jelas terlihat, garis kekuningan semakin membesar dilangit menggantikan dominasi warna biru dan putih. Senja kota ini, Bandung, memang menyejukkan. Waktu demi waktu berlalu sampai akhirnya gue mendengar suara ledakan di kejauhan.

“Duarr”

Tiba-tiba gue dikagetkan dengan suara ledakan yang diikuti dengan kepulan asap besar yang gue perkirakan terjadi didaerah sekitar stasiun kereta. Samar-samar suara sirine terdengar beberapa menit setelahnya.

“Duar”

Suara ledakan pertama langsung diikuti dengan suara ledakan lain yang timbul secara serentak dibeberapa tempat. Dalam hitungan menit langit sore yang gue barusan lihat berubah warna menjadi kehitaman akibat asap yang timbul dibeberapa tempat di kota ini, Bandung. Semua proses terjadi terlalu cepat sampai otak gue gak bisa mencerna semuanya. Menjadi saksi bisu terjadinya ledakan dibeberapa tempat membuat gue bergeming gak bergerak. Gimana nasib ibu yang sedang diperjalanan?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
brina313 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rendyprasetyyo
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 2 balasan
Booking page one dulu
Bacanya ntar ya gan..
profile-picture
profile-picture
amikurnia dan rendyprasetyyo memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 1 balasan
update setelah pejwan penuh whehehe
profile-picture
amikurnia memberi reputasi
CHAPTER 2

“Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi”

Setelah bunyi ledakan terdengar, gue secepat kilat mencoba untuk menghubungi ibu dan seperti dugaan gue nomer ibu sedang tidak aktif. Tanpa banyak fikir gue ambil kunci mobil dan segera bergegas untuk pulang kerumah. Perjalanan ini memakan banyak waktu walaupun jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh karena jalanan tampak ramai. Sepanjang jalan banyak warga panik berlarian untuk menyelamatkan diri dijalanan. Pihak kepolisian bahkan belum terlihat untuk mengamankan lokasi karena mungkin mereka kewalahan akibat banyaknya titik ledakan dan banyaknya kasus kerusuhan yang harus ditangani sekarang.

Setelah mencapai area stasiun, gue parkirkan mobil seadanya untuk turun dan melihat keadaan sekitar. Bener dugaan gue, ledakan pertama terjadi diarea stasiun kereta. Kepulan asap hitam masih terlihat membumbung ke langit dari bangunan tua yang dijadikan stasiun oleh pemerintah daerah. Jasad-jasad hitam legam terlihat berhamburan ditanah. Korban-korban selamat terlihat menderita luka serius dan diberi pertolongan seadanya oleh warga sekitar. Ruang tunggu stasiun, monumen gerbong pertama di Indonesia, beberapa gerbong kereta terlihat hancur berantakan.

“Tolong telfon ambulan, anak saya butuh bantuan” Tidak beberapa jauh dari tempat gue berdiri terlihat seorang wanita paruh baya berteriak sambil menangis ke kerumunan orang. Didekapannya terlihat seorang anak kecil bersimbah darah tidak sadarkan diri. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan wanita ini karena setiap orang sibuk dengan urusan masing-masing. Sang Ibu terus menangis sambil memeluk anaknya yang sedang berjuang melawan maut sampai akhirnya ada beberapa warga yang bersedia menolong dengan menelfon nomer telfon darurat untuk ambulan.

“Siapapun tolong bapak ini, dia pendarahan” seorang pemuda jangkung tidak jauh dari posisi si ibu juga berteriak meminta pertolongan ke orang-orang yang sedang panik berlarian. Suasana benar-benar mencekam, sepanjang indera penglihatan gue berkerja yang terlihat hanyalah ketakutan, tangisan, dan darah berceceran dimana-mana.

Suara sirine yang tiba-tiba terdengar mungkin memberi sedikit perasaan lega untuk korban yang membutuhkan pertolongan. Beberapa mobil ambulan dari kejauhan tampak sudah mulai berdatangan diiringi dengan kesibukan gue membantu para korban sementara aparat kepolisian belum menampakkan batang hidungnya satu orang pun. Para petugas medis yang datang segera mengevakuasi para korban satu-persatu. Gue gak tahu pasti berapa jumlah warga yang jadi korban diledakan ini, tapi dari dampak kejadian di lokasi yang hancur lebur, gue perkirakan kalau korban dari ledakan ini gak sedikit. Melihat kondisi para korban membuat gue lupa tujuan awal gue datang ketempat ini, untuk pulang kerumah mencari tahu keadaan Ibu.

Pikiran gue kacau, setelah menolong beberapa korban untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat, gue berlari secepat yang gue bisa untuk menuju ke rumah gue yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi stasiun berada. Beberapa kali gue kembali mendengar suara ledakan dikejauhan. Sekarang matahari telah sepenuhnya mengalihkan tugasnya ke bulan untuk menyinari bumi, malam telah tiba. Semakin jauh gue berlari, semakin gue sadar kalau lampu-lampu jalanan yang biasanya terang menyinari sudut-sudut kota sekarang tampak padam tidak bernyawa. Suara teriakan terdengar diseluruh penjuru kota dalam suasana gelap mencekamnya malam

Setelah melewati gerbang perumahan yang disinari satu-satunya lampu neon putih redup, dengan nafas terengah-engah gue mulai melihat cahaya kecil dari rumah sederhana yang gue tempati sejak kecil. Rumah gue tampak sepi. Ayah, ibu, dan Ina kemungkinan besar sekarang tidak dirumah. Pagar rumah besi bercat merahmarun setinggi satu setengah meter mulai terlihat samar dengan semakin cepatnya langkah kaki gue berjalan. Jantung gue berdegup semakin cepat seiring dengan semakin dekatnya posisi gue dengan rumah, Gimana kalau ibu dan yang lain benar-benar tidak ada dirumah?

Setelah menapaki kebun halaman depan yang biasa ibu gunakan untuk merawat beberapa tanaman bunga, gue coba untuk mengetuk pintu kayu coklat berukiran sederhana beberapa kali berharap seseorang akan membukakan pintu tersebut. Setelah beberapa menit mencoba mengetuk, gue harus sadar kalau usaha gue sia-sia. Dengan sangat terpaksa gue harus membuka pintu rumah dengan kunci pegangan yang diberikan Ayah beberapa tahun yang lalu. Dan ya, dirumah tidak ada siapa-siapa.

Rumah gue sepi, gue coba melawan kekecawaan gue dengan menghidupkan lampu ruang tengah agar suasana hati gue membaik. Foto-foto ibu dan ayah sewaktu muda, foto keluarga gue dan Ina sewaktu kecil, foto Ina dan Bibi sewaktu kita bertiga melewati liburan akhir tahun sederhana bersama, semua tampak memiliki ekspresi berbeda dengan keadaan yang terjadi malam ini.

“Harusnya ibu dan yang lain sudah dirumah sekarang”

Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi isi kepala gue. Hati gue terasa terjerembab kosong memikirkan kemungkinan apa yang terjadi pada ibu dan yang lain sekarang. Semua terlalu cepat terjadi dan otak gue gak sanggup untuk mencerna semuanya. Dan akhirnya mata gue terasa berat dan semua menjadi gelap.
profile-picture
amikurnia memberi reputasi
Diubah oleh rendyprasetyyo
CHAPTER 3

“Sejumlah ledakan terjadi di beberapa kota besar pada Jumat malam kemarin. Terlihat beberapa tempat di pusat kota mengalami kerusakan akibat ledakan tersebut. Belum diketahui berapa jumlah korban yang jatuh akibat kejadian ini. Sampai saat ini pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait peristiwa ledakan tersebut.”

Gue terbangun pagi harinya setelah hampir semalaman tertidur disofa ruang tamu sendiri. Pagi ini, setelah membersihkan wajah seadanya, gue kembali menghidupkan televisi untuk mengetahui situasi terkini akibat ledakan kemarin malam. Ledakannya ternyata tidak hanya terjadi di Bandung, tapi juga beberapa kota lain termasuk Jakarta yang artinya disuatu tempat di luar sana Bibi pasti juga mengalami hal yang sama. Kenyataan ini membuat kepala gue serasa mau pecah karena sekarang gue gak cuma mengkhawatirkan ayah dan ibu tapi juga Bibi.

Bibi, partner seperjuangan gue selama 7 tahun terakhir, sekarang berada di Jakarta dan sedang berkerja disana sebagai salah satu analis strategi kementerian kesehatan. Kemampuan bibi mencari informasi dan menganalisa kemungkinan-kemungkinan terburuk dari sistem kesehatan negara ini sangat dihandalkan dalam beberapa kesempatan ditengah maraknya penyebaran virus selama 5 tahun terakhir. Beberapa update perkembangan berita tentang penyebaran virus juga gue dapet dari Bibi karena gue sulit untuk mempercayai berita yang disebar oleh media TV.

“Breaking News, Pemerintah resmi menetapkan keadaan darurat nasional setelah peristiwa beberapa ledakan Jumat Malam membuat lumpuh aktifitas beberapa kota besar di Indonesia. Diperkirakan hampir 5000 jiwa menjadi korban atas peristiwa ledakan masif tersebut. Sementara itu para demonstran masih melakukan aksi penolakan terhadap kebijakan isolasi yang telah berlangsung selama 4 tahun. Belum ada pihak yang secara resmi bertanggung jawab atas peristiwa ini.”

“kring.. kring”
Mendadak handphone gue berdering dan nama Bibi tertulis disana.

“Halo Bi, kamu dimana?” gue menjawab panggilan telfon dari Bibi. “kamu gak apa-apa kan?”

“Ren...” suara bibi terdengar merintih. “kamu dimana?”

“Aku dirumah, bi” gue menjawab. “kamu gak apa-apa?”

“aku gak apa-apa” bibi menjawab cepat. “aku kerumah kamu sekarang”

Dan setelahnya telfon langsung ditutup. Jelas terjadi sesuatu pada Bibi. Suasana bener-bener diluar kendali sekarang. Pandemi virus, serangan teror, gue kehilangan kabar keluarga gue, bibi dalam keadaan shock, terus apalagi selanjutnya? Meteor jatuh dari langit bikin tsunami setinggi 30 meter biar musnah sekalian penghuni bumi, iya?

Negara dalam keadaan darurat nasional sekarang. Semua aktifitas bakal dihentikan sampai keadaan membaik. Tapi sampai kapan keadaan baru akan membaik? Siapa yang bakal memperbaiki keadaan ditengah kacaunya situasi seperti saat sekarang?
profile-picture
profile-picture
maresad dan amikurnia memberi reputasi

Cover Uploaded

Cerita Kita Untuk Selamanya 3 : Cataphiles [ON GOING]
Diubah oleh rendyprasetyyo
Judul baru yeyeyeye makasih momod @radheka
lajutkan bang renemoticon-Sundul
Auto bookmark
profile-picture
rendyprasetyyo memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 5 balasan
CHAPTER 4

"Bi... bangun" Gue coba mengetuk pintu kamar Ina yang dijadikan tempat tidur sementara oleh Bibi semalam. Ayah, Ibu, dan Ina masih belum diketahui keberadaannya sementara Bibi sampai dirumah gue jam 10.00 malam dan langsung mengurung diri dikamar tanpa keluar satu katapun sebelumnya. Sekilas dia terlihat shock, capek, sedih, berduka, ah ntahlah. Gue berniat untuk mengkonfirmasi hal ini sambil bawa coklat panas. "Udah pagi, Bi"

"Bi.. Ini aku bawain coklat panas" Gue ulangi mengetuk pintu kamar Ina, masih belum ada jawaban. Setelah berbulan-bulan tidak bertatap muka akibat kebijakan isolasi, hari ini akhirnya gue ketemu bibi lagi. "Bi...'

"Masuk aja.." Suara Bibi tiba-tiba terdengar berteriak dengan nada agak sedikit serak.

Gue membuka pintu kamar secara perlahan dan masuk ke kamar Ina yang masih dalam kondisi gelap. Tirai berwarna biru tua yang menutupi jendela masih menahan laju mentari pagi agar tidak masuk menyinari kamar yang sedang ditempati Bibi ini. Sticker Winnie the Pooh berukuran super besar menempel di dinding seberang tempat tidur dikelilingi oleh beberapa lembar cetak foto Ina bersama teman-temannya, foto ini pun masih terlihat remang. Bibi masih tertidur memunggungi pintu masuk diatas tempat tidur yang dibalut seprai dengan motif bunga batik berwarna merah tua. Gue putuskan untuk menekan stop kontak yang letaknya disebelah kiri sisi kasur tepat setelah pintu masuk dan dekat dengan jangkauan tangan gue agar lampu kamar menyala.

"Bi.. bangun" Gue panggil nama Bibi sekali lagi setelah menyalakan lampu. Terlihat bibi belum berganti pakaian sedikitpun. "Udah pagi udah jam 10. Ini aku udah bikinin coklat panas"

"Aku gak mau coklat panas" bibi menjawab lemah. "Iya nanti bangun. Udah kamu pergi sana"

"Kamu maunya apa bianca?" gue putuskan untuk duduk disisi tempat tidur bersebelahan dengan punggung bibi. "Kamu dari semalem belum ngomong apa-apa, ya kali aku peramal bisa baca pikiran orang. Kalaupun ada peramal yang bisa baca pikiran orang belum tentu peramal itu bisa baca pikiran kamu kalau kamu gak ngomong apa-apa kayak gini."

"Gak ada yang perlu diomongin. Aku juga gak mau apa-apa" bibi menjawab dengan nada lemah. "Siapa juga yang butuh temen ngobrol."

"Huft." gue menghela nafas panjang. "kamu gak mau tau kabar Ayah, Ibu, Ina?"

"Kamu yang gak mau tau kabar aku". Bibi menjawab singkat.

"Aku tadi udah nanya kamu yang gak mau jawab" gue menjawab cepat. "Aku berasa ngobrol sama tiang listrik."

"Kamu baru mau nanya kabar aku sekarang? Sebelumnya kemana aja?" Bibi tiba-tiba membalikkan tubuh, ekspresi lemahnya terlihat marah sekarang. "tiang listrik? TIANG LISTRIK AJA GAK MAU NGOBROL SAMA KAMU APALAGI AKU "

Bibi menjawab marah sambil mendorong gue menjauh dari kasur.

"Ya kan tiang listrik emang gak bisa ngomong." gue menjawab singkat. "kalau tiang listrik bisa ngomong mereka bakal minta gak jadi tiang listrik kali. Gak enak gak bisa kemana-mana"

"Mana coklat panas?" bibi tiba-tiba mengubah alur pembicaraan. "kamu katanya tadi bawa coklat panas? Mana?"

"Itu dimeja sebelah kasur, Bianca. Dih katanya gak mau." Gue menjawab sambil menunjuk gelas yang berisi coklat panas yang sebelumnya gue bawa kesini. "tirainya aku buka boleh?"

"Gak boleh" bibi menjawab sambil mengambil ancang-ancang untuk minum coklat panas yang sudah gue bawa sebelumnya. "nanti aku aja yang buka sendiri"

"Tirai nomer dua aja kalau gitu? Boleh?" gue menjawab kembali perkataan bibi. "aku sih pengennya tirai nomer satu, lebih keliatan...."

Belum selesai gue menjawab tiba-tiba gue mendengar suara batuk dari bibi yang tersedak.

"Masih aja sih bercanda?" bibi menjawab sambil mengambil tisu dan meletakkan gelas kembali ke meja coklat kecil disebelah tempat tidur. "kalau kata aku jangan dibuka ya jangan dibuka, susah banget sih"

"Bi.. denger..." gue menjawab sambil mendekati bibi dan duduk disebelahnya. "kamu boleh sedih atau ngerasa kehilangan atau apapun itu, tapi jangan kelamaan kayak gini. Ceritain ke aku kamu kenapa siapa tahu aku bisa bantu.. Aku gak bisa bantu kalau kamu gak cerita dan diem aja kayak gini."

Bibi diam setelah mengelap mulutnya dengan tisu, tatapannya kosong kedepan sekarang. Gue bangkit kembali dan memutuskan untuk membuka tirai kamar yang sebelumnya menghalangi jalan arah cahaya. Sekarang kamar terlihat terang disinari cahaya matahari pagi. Gue buka sedikit jendela kamar supaya udara pagi bandung bisa masuk kedalam kamar. Bibi masih terlihat diam memaku ditempat tidur. Setelah kamar dipenuhi cahaya matahari, gue kembali ke posisi Bibi dan mematikan lampu kamar yang sebelumnya gue nyalakan.

"Gak ada yang bisa bantu, Rendy" bibi menjawab singkat. "Gak ada yang bisa kita lakuin sekarang selain nunggu disini sampai semua membaik."

"Dari 3 tahun yang lalu juga kan pemerintah nyuruhnya supaya kita nunggu sampai semua membaik" gue menjawab. "dari zaman kamu baru pindah kerja dan baru kenal Ina sampai sekarang Ina gak ada kabar mereka juga mintanya kita nunggu. Tapi apa yang terjadi sekarang bi? Semua malah makin kacau. Ya kali rakyat mau disuruh nunggu sekarang"

"Denger ya.." bibi kembali menjawab. "kejadian ini gak terjadi di negara kita aja. Hampir sebagian besar negara lain mengalami hal yang sama. Ini urusannya bukan tentang satu dua orang aja tapi urusan negara. Kamu gak liat presiden langsung mengeluarkan status darurat pagi setelah peristiwa ledakan? Semua udah benerbener kacau. Aku liat sendiri dijalan kesini kalau kondisi diluar sana udah gak bener. Gak ada yang bisa dilakuin orang biasa kayak kita rendy"

"Nah bener mending dari sana" gue memberi usul kepada bibi. "mending kamu coba cerita darisana, kenapa tiba-tiba kamu kesini bela-belain dari Jakarta sendiri terus ceritain juga apa aja yang kamu liat dijalan. Polisi? Teroris?"

"Aku bingung mau mulai cerita darimana. Cerita darisana aja gak cukup. Kamu harus denger cerita yang sebenernya terjadi beberapa bulan terakhir selain yang aku kirimin lewat chat kalau mau ngeliat gimana situasi yang sebenernya secara keseluruhan" tiba-tiba bibi menjawab sambil menyenderkan kepalanya kebahu gue. Dari nada suaranya terdengar kalau dia mulai nangis sekarang. "semua terlalu ribet"

Gue mengambil nafas panjang. Selama beberapa tahun terakhir belum pernah gue liat ekspresi Bibi se-sedih ini. Cuma ada beberapa hal yang bibi pedulikan di dunia ini. Dan kalau ada hal yang paling mungkin yang bisa bikin dia kehilangan minat hidup kayak sekarang pasti alasannya berhubungan sama Ben, adik satu-satunya yang tinggal bareng disebuah apartemen dijakarta. Sesuatu terjadi pada Ben, pasti.

"Bi kamu udah kenal aku berapa tahun sih?" gue menjawab bibi pelan. "Dari zaman kita masih kerja bareng, dari zaman kamu ngilang terus aku ke khatmandu, dari zaman kita ketemu lagi dan kamu mulai kenal keluarga aku, sampai sekarang kamu punya pekerjaan mapan pun aku gak pernah berubah, aku bakal tetep dengerin kamu sepanjang apapun kamu mau cerita, ya ketiduran dikit mungkin sih tapi kamu tinggal bangunin aku aja dan aku siap buat dengerin lagi."

"Dulu kondisi gak sekacau ini" bibi menjawab masih dengan nada lirih. "sekarang aku udah gak punya siapa-siapa, kamu udah gak punya siapa-siapa dan gak ada yang bisa kita lakuin rendy, gak ada"

"Bi, kamu masih punya aku" gue menjawab singkat. "kamu masih punya temen-temen kantor. Kamu gak punya ben lagi? Maksudnya? Bi cerita ya. Supaya kita bisa cari jalan keluar bareng-bareng"

"Gak ada yang bisa dipercaya sekarang" bibi menjawab dan jelas terdengar kalau dia menangis sekarang. "aku capek"

"Ya udah kalau kamu maunya kayak gitu" gue menjawab. "aku cuma mau ngasih tahu kalau keluarga aku udah 2 hari gak ada kabar sejak ledakan bi. Aku bingung mau cari mereka kemana karena memang udah gak bisa kemana-mana lagi sejak wabah virus ini merebak. Tapi aku seneng masih punya kamu"

Bibi diam.

"kamu istirahat dulu aja sekarang" gue melanjutkan sambil menegakkan tubuh bibi dari bahu gue dan menempatkan posisinya ditempat tidur agar dia bisa istirahat. "kamu punya semua disini, mandi tinggal mandi, ada baju Ina yang bisa dipake. Nanti siangan aku bawain makanan. Kalau kamu udah siap buat cerita baru kita ngobrol lagi"

Bibi diam.

"Aku standby kok" gue melanjutkan sambil berjalan kearah pintu. "sekarang aku mau keluar dulu sebentar ngambil mobil yang aku tinggalin distasiun terus keliling rumah sakit buat cari info. Sebelum jam makan siang aku pulang. Jangan bukain pintu buat siapapun bi, siapapun jangan pokoknya"

Bibi diam, gue prediksi kalau dia tidur sekarang.

"istirahat dulu aja" gue menutup pintu kamar dan bersiap untuk mengambil mobil yang gue tinggalkan diarea stasiun hari Jumat kemaren.
profile-picture
maresad memberi reputasi
Diubah oleh rendyprasetyyo
CHAPTER 5

Hari minggu ini jalanan dikota Bandung terlihat sepi, sangat sepi. Minggu pagi merupakan hari dimana Car Free Day selalu diadakan 5 tahun yang lalu, disepanjang jalan dago tepatnya, sebelum akhirnya pemerintah memutuskan untuk menghentikan kegiatan tersebut setelah wabah virus merebak. Setelahnya otomatis minggu pagi warga Bandung tidak seramai biasanya. Semuanya berubah sepi, tapi se-sepinya beberapa tahun yang lalu, sekarang bahkan kondisi sepi-nya menjadi lebih parah. Kondisi sekarang setelah peristiwa ledakan bahkan lebih sepi daripada kondisi isolasi biasanya. Beberapa orang dan kendaraan masih terlihat melintas dijalanan dalam beberapa tahun terakhir, tapi sekarang jalanan benar-benar kosong. Bandung seperti kota mati. Gue sampai dititik dimana gue ragu diantara beberapa rumah yang gue lewati masih ada penghuni yang tinggal didalamnya.

Area stasiun mulai tampak dikejauhan. Beberapa mobil dan kendaraan bermotor lain tampak terbengkalai diantara serpihan-serpihan sisa ledakan. Mobil gue masih terparkir ditempat yang sama sejak terakhir kali gue kesini untuk membantu korban ledakan yang terjadi di stasiun hari Jumat lalu. Stasiun sekarang telah diberi garis polisi tapi puing-puing bangunan dan sampah sisa ledakan masih dibiarkan berserakan dimana-mana. Bekas-bekas noda darah masih terlihat di beberapa permukaan tanah. Stasiun sama seperti jalanan yang gue lewati tadi, tampak mati akan tanda kehidupan. Hanya ada beberapa orang di area sekitar stasiun sekarang. Satu orang pemulung tanpa mengenakan masker sedang sibuk mencari-cari barang yang masih bisa dipakai setelah peristiwa ledakan, Salah satu pedagang asongan dipinggir stasiun sedang duduk didepan warung kecilnya yang rusak sambil merokok dengan pandangan kosong kedepan diikuti dengan beberapa pedagang asongan lain yang keluar dari bilik warung kecil sederhana mereka yang saling berjejer dan semuanya sama terlihat sudah tidak bisa dipakai. Juga ada satu orang laki-laki dengan setelan serba hitam sedang berjalan menuju stasiun menggunakan masker dan topi dengan perawakan seperti seorang tentara.

Semua terlihat berantakan, semua terlihat kacau, sesuai perkataan bibi. Gak ada yang bisa dilakukan oleh orang biasa yang gak punya wewenang apapun kayak gue untuk memperbaiki semua kekacauan ini. Prioritas yang bisa gue lakukan sekarang adalah mencari tahu keberadaan keluarga gue secepat mungkin. Cuma hal ini yang bisa gue lakuin sekarang. Gue coba mencari serpihan-serpihan barang yang mungkin bisa menjadi tanda keberadaan ibu di stasiun ini sebelumnya tapi semua berakhir nihil. Dengan cepat gue masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin untuk berangkat menuju rumah sakit terdekat. Gue harap gue bisa dapat petunjuk dimana orang tua gue sekarang dari rumah sakit nanti.

Rumah sakit pertama yang gue datangi adalah sebuah rumah sakit swasta yang biasanya dijadikan pusat rujukan korban-korban yang terdampak bencana yang terjadi di Bandung. Gue punya beberapa kenalan ditempat ini tapi mengontek mereka disaat seperti ini bukan ide bagus. Setelah berhasil menemukan spot parkir yang tersedia di halaman samping rumah sakit, gue langsung bergegas menuju ruang tunggu untuk mencari informasi pada meja pusat informasi.Sesaat rumah sakit ini terlihat sepi, tapi ketika gue masuk kedalam ruang tunggu, keadaan berubah riuh. Banyak keluarga pasien yang juga mencari keberadaan sanak saudara mereka yang hilang akibat peristiwa ledakan 2 hari yang lalu. Kebijakan isolasi diri dari pemerintah seakan tidak ada harganya ditempat ini.

Perawat dan tenaga kesehatan dirumah sakit ini tampak kerepotan melayani keinginan semua orang yang datang mencari tahu keberadaan sanak keluarganya akibat peristiwa peledakan. Beberapa menangis, beberapa berteriak, dan tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pihak rumah sakit karena mereka juga harus menyembuhkan pasien-pasien terinfeksi virus yang setiap hari kasusnya semakin bertambah hingga ribuan orang. Krisis dunia kesehatan sudah terjadi sejak pertama kali virus ini merebak. Tidak sedikit para tenaga kesehatan yang harus berkorban nyawa akibat keganasan virus ini.

Melihat suasana yang tidak kondusif ini, gue membatalkan niat untuk menambah daftar kericuhan yang akan membebani tenaga medis dirumah sakit ini. Gue gak bisa mencari info dirumah sakit, itu kesimpulan yang bisa gue ambil sekarang. Gue harus keluar, seenggaknya berkeliling ke setiap spot terjadi ledakan untuk melihat tanda apapun tentang keberadaan ayah dan ibu.

Setelah mobil keluar parkiran rumah sakit, gue arahkan mobil untuk melaju mengelilingi kota Bandung. Braga, Jembatan Pasopati, Dago, Gasibu, semua tampak tanpa tanda kehidupan. Semua puing-puing sisa ledakan masih belum dibersihkan sama sekali. Tempat-tempat penuh kenangan bersama Ibu, Ayah, dan Ina gue lewati dengan hati yang lirih.

Beberapa tahun ini kehidupan keluarga gue sedang harmonis.
Beberapa tahun ini akhirnya gue bisa deket sama Ina
Beberapa tahun ini akhirnya gue bisa bikin Ina dan Bibi saling kenal
Tapi semua berubah hanya dalam hitungan detik.

Kebijakan isolasi, walau penuh pro dan kontra, seenggaknya bisa membuat gue bisa deket sama keluarga gue setelah beberapa tahun sebelumnya gue hilang arah tinggal di Jakarta. Kebijakan isolasi membuat gue bisa meluangkan lebih banyak waktu bertemu ibu dibandingkan bertemu orang lain dikehidupan gue. Kebijakan isolasi membuat gue bisa ngobrol banyak hal berdua ayah tentang masa depan, tapi sekarang kebijakan isolasi juga lah yang memicu serangkaian bentuk teror dan memisahkan gue dengan orang yang paling berharga dalam kehidupan gue.


Ditempat terjadinya ledakan terakhir, di Area Pasteur, gue berhenti dan akhirnya menemukan tanda-tanda keberadaan ibu. Sebuah mobil sedan hitam yang biasa ayah pakai berdua ibu tampak hancur lebur bersama beberapa mobil lain diarea parkir sebuah restoran. Kondisi restoran tampak hancur tidak bersisa bersamaan dengan hancurnya perasaan gue mengetahui kalau keluarga gue menjadi salah satu korban peristiwa teror ledakan tersebut. Gue kehilangan tenaga bahkan untuk mengendarai mobil untuk kembali kerumah dan menemui Bibi.

Hati gue hancur. Kehidupan gue hancur. Semua hancur sekarang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
qoetzalcolt dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh rendyprasetyyo
bonus satu chapter lagi sebelum tidur.
emoticon-Sundul
profile-picture
profile-picture
qoetzalcolt dan rendyprasetyyo memberi reputasi
emoticon-I Love Indonesia
I love bianca. Booking lapak dulu
profile-picture
rendyprasetyyo memberi reputasi
Chapter 6

Gue mencoba untuk bangun dan kembali ke mobil untuk pulang kerumah menemui Bibi, tapi gue kehilangan tenaga. Mobil sedan ayah, yang digunakan bersama Ibu dan Ina, terlihat hancur berantakan. Hampir tidak ada kemungkinan selamat untuk siapapun yang berada di area sekitar restoran yang sekarang gue hampiri. Gak banyak orang yang bisa gue jadikan tempat untuk mengkonfirmasi keberadaan ibu dan ayah saat peledakan terjadi di tempat ini. Tapi bukti mobil ini sudah cukup kuat. Gak mungkin ada orang lain yang mengendarai mobil ini selain ayah. Teror peledakan ini benar-benar keterlaluan. Keterlaluan.

Suasana hati gue hancur. Dari semua hal yang gue punya di dunia ini, keluarga adalah satu-satunya milik gue yang benar-benar gue pertahankan selama ini. Family is complicated, kata orang. Ibu memang suka memberi perintah yang gak masuk akal buat gue jalankan, ayah memang selalu bertindak dingin terhadap apapun prestasi dan kemajuan yang gue capai selama hidup gue, dan ina memang kadang terlalu menyebalkan untuk bisa gue kasih perhatian sebagai seorang kakak. Tapi dibalik itu semua, dibalik semua yang terjadi, merekalah satu-satunya tempat kembali disaat gue hilang arah atas tujuan hidup gue. Mereka lah satu-satunya tempat yang gue jadikan sebagai sumber kenyamanan disaat dunia selalu memberi gue masalah yang bertubi-tubi. Mereka lah yang selalu mendukung gue, dengan cara mereka sendiri, dimomen senang dan sedih yang gue jalanin selama hidup gue. Tapi sekarang mereka semua pergi. Gue sekarang resmi menyandang status sebagai seorang yatim piatu.

Teror ini bener-bener keterlaluan. Benar-benar keterlaluan. Atas dasar apapun para teroris itu gak berhak untuk mengambil nyawa orang yang gak bersalah seenaknya. Gue marah, marah yang mungkin gak bisa terbendung lagi.

“Biadab” gue berkata sambil menangis dan menundukkan kepala gue di sisa-sisa badan mobil yang nampak terbakar dibeberapa bagian.

“Gue bakal bales, gue bakal bales” gue meninju-ninju badan mobil dengan emosi yang tidak terbendung yang belum pernah gue rasain sebelumnya.

Gue buka pintu mobil untuk mengambil beberapa sisa barang-barang Ibu, Ayah, dan Ina yang tidak terkena dampak ledakan. Gantungan kunci rumah berbentuk huruf C berukiran emas, boneka winnie the pooh kecil kesayangan Ina yang selalu ditaro dimobil agar bisa menemani dia saat melakukan perjalanan, dan tas kecil berwarna hitam milik ibu yang dijadikan sebagai tempat menyimpan berbagai struk pembelian yang telah ibu lakukan sebelumnya, semua masih selamat bersama dengan beberapa plastik barang belanjaan mingguan milik ibu yang terlihat sudah usang setelah 2 hari. Setelah mengambil barang yang masih tersisa, gue bergegas menuju mobil gue dan kembali kerumah.

Gue sadar, sekarang gak ada pilihan lain yang bisa gue lakuin selain kembali kerumah dan menceritakan semuanya ke bibi. Bibi satu-satunya hal yang berharga dalam hidup gue sekarang. Kondisi jalan yang kosong membuat gue menginjak pedal gas sekeras yang gue bisa supaya gue bisa cepat sampai kembali kerumah.

Hari beranjak sore sekarang dan gue lupa kalau gue janji harus pulang sebelum jam makan siang ke bibi sebelum gue berangkat tadi. Semua kegiatan mencari tahu keberadaan ibu membuat gue lupa waktu. Sekarang ketika semuanya menemui titik terang, gue gak tahu kemana gue harus membawa arah perasaan gue, sedih karena kehilangan keluarga atau senang karena akhirnya gue punya petunjuk tentang keberadaan mereka.

Langit sore hari mulai berubah warna kemerahan. Senja, satu-satunya hal yang gue puja-puja selama tinggal sendiri di Jakarta, kini seakan mengingatkan gue kembali akan momen-momen yang terjadi beberapa tahun yang lalu tersebut. Momen dimana gue ketemu Bibi, momen dimana gue harus meluangkan semua waktu gue sendiri untuk duduk di Monas, Kali adem, dan kawasan Thamrin, momen dimana gue menuliskan cerita pertama untuk bibi, semua seakan kembali mengingatkan gue kalau pada akhirnya gue bakal kembali ke masa-masa sendiri lagi.

Gak, gue gak sendiri sekarang, gue punya Bibi. Gue putuskan untuk menginjak pedal gas lebih keras untuk bisa menemui bibi lebih cepat.
profile-picture
profile-picture
qoetzalcolt dan amikurnia memberi reputasi
Chapter 7

Setelah sampai, gue parkirkan mobil gue disebelah mobil bibi dihalaman samping rumah. Sambil membawa barang-barang ibu, ayah, dan ina yang masih selamat, sekilas gue liat kalau mobil bibi penuh goresan-goresan berukuran besar dan penyot dibagian sen kanan belakang.

Sekarang mungkin sudah jam 7 malam, kemungkinan bibi sudah selesai makan malam tanpa harus menunggu gue pulang untuk mengantarkan makan siang sesuai janji gue.

“bi” gue coba untuk mengetuk pintu rumah.

Tidak lama berselang, bibi membukakan pintu, dia terlihat lebih baik sekarang dengan menggunakan daster milik Ina yang punya ukuran tubuh hampir sama dengan bibi. Rambut panjangnya dalam beberapa tahun terakhir dan poni yang dihilangkan membuat bibi terlihat lebih dewasa. Bibi terlihat makin cantik.

“Kamu baru pulang?” bibi bertanya. “Gimana dapet petunjuknya?”

“Iya bi” gue menjawab pelan sambil menjulurkan beberapa barang selamat yang sebelumnya gue ambil dari sisa mobil Ayah. “cuma ini yang aku temuin. Sisanya hancur berantakan bi. Gak mungkin mereka selamat dan gak mungkin ke-identifikasi karena rumah sakit lagi krisis banget sekarang.”

“Ren..” bibi menjawab sambil mengambil barang yang gue berikan. “ya udah kamu sekarang mandi dulu nanti aku siapin buat makan malam ya. Aku bisa gorengin telur dan tadi aku udah masak nasi”

“Iya bi” gue menjawab sambil memeluk bibi. “aku gak punya apa-apa lagi. Kamu tahu aku gak banyak deket sama orang. Aku cuma punya kamu sekarang”

“Iya aku tahu” bibi menjawab sambil memeluk gue, hangat. “mandi dulu sana, kamu bau”

“iya” gue lepas pelukan bibi dan berjalan menuju kamar milik gue yang letaknya berhadapan dengan kamar ina persis disebelah dapur. Samar gue denger suara bibi menutup dan mengunci pintu depan.

Kamar gue dan Ina punya kamar mandi masing-masing walaupun ukurannya tidak sebesar kamar mandi utama yang disediakan bath tube yang jarang dipakai kecuali oleh Ina disaat dia senggang dari aktifitas kuliah. Memori-memori tentang ibu dan ayah sangat terasa dirumah. Bagaimana ayah merenovasi rumah beberapa tahun setelah gue lulus kuliah, bagaimana Ibu selalu membangunkan gue sahur disaat gue pulang untuk berpuasa dirumah setelah melewati masa kuliah, semuanya berkeliaran dipikiran gue, memenuhi otak gue dengan emosi sedih dan marah secara bersamaan.

Foto-foto gue sewaktu menjalani masa kuliah dengan rapi disusun ibu didinding-dinding kamar gue walaupun kamar ini jarang gue tempatin ketika gue kerja di Jakarta. Foto gue sewaktu dibelikan sepeda roda tiga oleh ayah masih tergantung rapi berjejer diantara foto-foto masa kecil lain ketika gue, ayah, ibu, dan ina berlibur kepantai sewaktu gue masih berumur 5 tahun. Gue gak bisa buat gak menangis disaat-saat seperti ini.

Dengan berat hati gue langkahkan kaki gue menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh setelah seharian mengelilingi bandung untuk mencari keberadaan ibu dan ayah. Dalam waktu 5 menit, proses mandi inipun gue selesaikan tanpa mengulur banyak waktu karena gue butuh bibi disaat seperti ini.

Tepat setelah gue keluar kamar, aroma telur ceplok memenuhi ruangan dapur yang letaknya tidak jauh dari kamar gue. Dari jauh gue lihat kalau meja makan kaca berwarna hitam dengan 4 kursi sandar didapur sudah berisi beberapa telur dan kecap yang bibi siapkan.

“yuk makan dulu” bibi berkata sambil mengambil piring dan membuka rice cooker untuk mengambilkan nasi untuk gue. “gimana udah mendingan?”

“Iya bi, udah” gue menjawab sambil duduk disalah satu kursi meja makan. “kamu udah mendingan, tadi siang makan apa?”

“Aku? Aku gak apa-apa” bibi menjawab sambil meletakkan piring yang sudah berisi nasi dihadapan gue. “tuh ibu udah nyiapin banyak roti jadi aku makan aja rotinya tadi siang” bibi menambahkan sambil menunjuk beberapa tumpukan roti yang letaknya didekat rak piring bersebelahan dengan wastafel.

“iya, gak bakal ada yang makan selain kita” gue menjawab pelan. “Maaf kalau kamu marah sama aku karena gak mau nanya kabar, semua karena isolasi ini bi, kalau bukan karena ini mungkin aku...”

“Udah” bibi memotong pembicaraan gue. “makan dulu aja sekarang. Kamu dari siang belum makan kan?”

“Belum” gue menjawab singkat sambil menyuapkan beberapa suap nasi dan potongan telur ceplok. “bener kata kamu bi semua kacau”

“Gak semua kacau” bibi menjawab sambil menyuapkan beberapa suap nasi. “Disini buat sementara waktu kayaknya kita aman”

“Kamu semenjak aku tinggal tadi siang keliatan lebih dewasa pemikirannya” gue menjawab dengan nada curiga menatap bibi yang duduknya berhadapan dengan gue dimeja makan. “kamu salah makan? Roti yang kamu makan udah kadaluarsa kayaknya”

“Gak ren” bibi menjawab penuh percaya diri. “Aku sehat walafiat. 100% sehat”

“Alhamdulilah kalau gitu” gue menjawab sambil menyelesaikan proses makan dan meminum segelas air yang juga sudah disediakan bibi. “aku pengen tidur bi sekarang, capek”

“yuk” bibi menjawab singkat sambil membereskan sisa makan malam.

“Maksudnya yuk?” gue bertanya cepat.

“iya hayu” bibi menjawab sambil menaruh beberapa piring kotor diwastafel. “hayu tidur”

“bareng?” gue bertanya dengan nada heran. “tidur bareng?”

“Iya” bibi menjawab sambil mengulurkan tangan kegue dan berjalan menuju kamar gue. “aku pengen tidur bareng kamu rendy”

Gue gak bisa berkata apa-apa melihat bibi masuk kekamar gue. Malam ini gue tidur bareng bibi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
qoetzalcolt dan 2 lainnya memberi reputasi
Mulus tidur barengnya dong ren
profile-picture
profile-picture
brina313 dan rendyprasetyyo memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 4 balasan
Bianca, jagain bang Rendy. nanti aku comotloh ewkkww
profile-picture
profile-picture
rendyprasetyyo dan qoetzalcolt memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
Menampilkan 1 - 0 dari 9 balasan
Halaman 1 dari 10


GDP Network
© 2021 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di