CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Education /
Bersiap Sekolah Lagi di Tengah Pandemi
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebe336628c99123cb116346/bersiap-sekolah-lagi-di-tengah-pandemi

Bersiap Sekolah Lagi di Tengah Pandemi

BERSIAP SEKOLAH LAGI DI TENGAH PANDEMI
------
Beberapa saran untuk sekolah pada masa wabah.
Bersiap Sekolah Lagi di Tengah Pandemi


Sudah berbulan-bulan sejak pandemi COVID-19 bermula. Berbagai negara melakukan karantina/lockdown untuk mencoba menghambat penyebaran SARS-COV2, coronavirus penyebab COVID-19 dengan menutup berbagai tempat dan kegiatan, di antaranya sekolah. Ratusan juta anak sekolah di seluruh dunia pindah menjalani kegiatan belajar di rumah.

Cara utama yang dilakukan adalah menggunakan internet: Guru mengajar dan memberi tugas secara online, murid menonton pelajaran dan mengirim balik tugas lewat internet. Sistem modern seperti ini mudah diterapkan di negara maju*1. Di Indonesia, sekolah dengan lokasi perkotaan dan demografi murid dari kalangan menengah sampai atas tidak kesulitan menerapkannya*2, namun sekolah lain di lokasi lebih terpencil dan demografi murid dari kalangan menengah ke bawah sampai bawah mengalami berbagai kesulitan*3. Selain itu, pembelajaran lewat internet mau tidak mau membuat anak lebih sering (dan punya alasan) menggunakan berbagai gadget, dengan segala dampak negatifnya. Selain itu, beberapa kebiasaan yang diajarkan dengan temu muka di kelas, seperti aktif dalam kelompok, tertib, tenang ketika mendengarkan, bisa hilang.

Kemendikbud mengevaluasi segala masalah itu*4 dan seiring berjalannya waktu, kini (Mei 2020) menghadapi masalah akan berakhirnya tahun ajaran 2019-2020 dan tahun ajaran berikutnya. Meski ada usul menggeser awal tahun ajaran baru sampai awal 2021 dari Federasi Serikat Guru Indonesia*5, saat ini Kemendikbud masih menyatakan tidak akan mengundurkan tahun ajaran, dan tahun ajaran 2020-2021 akan dimulai pada Juli 2020*6.

KONDISI PANDEMI
Wabah COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda akan mereda, jumlah kasus positif yang ditemukan setiap hari mencapai ratusan, dan rata-rata pasien meninggal adalah belasan orang per hari*7. Kasus COVID-19 tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia, sebagian besar di provinsi-provinsi Jawa dengan konsentrasi terbesar di Jabodetabek, namun belum ditemukan di sebagian Sumatra bagian utara, sebagian NTT, sebagian Maluku, dan sebagian Papua (mungkin karena belum testing).*8 Di Tangerang Selatan tempat saya tinggal, ada 155 kasus positif dengan 24 yang sudah sembuh dan 19 meninggal. Di kompleks saya sendiri sempat ada 4 kasus positif; 1 sudah sembuh dan 1 meninggal.

Dengan demikian, diperkirakan wabah COVID-19 di Indonesia belum akan selesai dalam waktu dekat. World Health Organization bahkan menyatakan SARS-COV2 mungkin tidak akan hilang lagi meski telah ada vaksin*9, sehingga cepat atau lambat, umat manusia harus belajar untuk hidup bersamanya.

Terkait anak, data sejauh ini masih menunjukkan bahwa kalau mempertimbangkan semua pasien, jumlah kasus positif COVID-19 di kelompok umur anak lebih sedikit daripada kelompok umur lain. Data KawalCOVID-19*7 tanggal 15 Mei 2020 (tidak lengkap) menunjukkan di Indonesia, pasien positif COVID-19 berumur 19 tahun ke bawah adalah 65 orang (22 berumur di bawah 10 dan 43 berumur 10-19), 3,4% dari seluruh pasien tercatat. Di tulisan saya 30 Maret 2020, "Umur Pasien Meninggal Karena COVID-19", data Tiongkok, Italia, Spanyol, dan Korea Selatan menunjukkan dari 3.836 pasien COVID-19 meninggal di keempat negara pada waktu itu, hanya 2 (0,1%) yang berumur 10-19, dan tidak ada korban tewas berumur di bawah 9 tahun*10. Sayangnya sampai sekarang saya belum menemukan data lengkap terbaru pasien anak yang meninggal karena COVID-19 di Indonesia. Data terakhir yang saya ketahui adalah laporan KemenPPPA 22 April 2020 yang menyatakan sudah ada 6 anak meninggal karena coronavirus di Indonesia*11.

Mempertimbangkan data itu, sebenarnya sampai sekarang kita masih bisa mengatakan bahwa kelompok umur anak tetap bukan yang terancam bahaya terbesar akibat COVID-19, dibanding misalnya, kelompok umur 50 tahun ke atas yang menjadi 90% korban tewas COVID-19. Artikel tinjauan mengenai infeksi coronavirus di anak oleh Zimmermann et al. di Pediatric Infectious Disease Journal (Mei 2020)*12 menyebutkan bahwa sebagian besar anak yang kena COVID-19 hanya mengalami gejala ringan, paling sering demam dan batuk, yang sebagian besarnya sembuh 1-2 minggu sesudah awal gejala. Selain itu, sebagian besar anak tertular dari anggota keluarga serumah yang terinfeksi lebih dulu, bukan dari luar rumah. Satu laporan di Australia*13 menemukan bahwa dari 9 murid dan 9 guru yang positif terinfeksi COVID-19 di 15 sekolah (high school & primary, di antara seribuan murid lain dan belasan guru), hanya 2 murid (1 HS, 1 primary) yang didapati terinfeksi di sekolah. Tidak ada kasus murid menulari guru; 1 murid HS tertular dari sesama murid HS, 1 murid primary tertular dari guru. Penelitian itu juga menyebutkan penularan SARS-COV2 di sekolah lebih rendah daripada influenza.

MENYIAPKAN SEKOLAH
Itu semua bisa jadi pertimbangan kita ketika menyusun rencana membuka lagi sekolah dan memulai kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka langsung di sekolah. Pelaksanaan KBM seperti sebelum wabah, meski ada kemungkinan berisiko rendah, tentunya tidak diharapkan; selain masih ada peluang penularan, efek psikologisnya juga bisa negatif di mata masyarakat dan orangtua murid yang khawatir. Beberapa saran yang bisa dilakukan bagi sekolah untuk menjalankan KBM dalam kondisi wabah (dari beberapa sumber)*14:

1. Membiasakan murid dengan semua saran higiene umum yang efektif mencegah penularan SARS-COV2, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, sering mencuci tangan, tidak menyentuh wajah, dan tidak ke sekolah kalau sakit.

2. Mengurangi pengumpulan orang dalam kondisi padat. Biasanya pengumpulan orang terbesar dan terpanjang waktunya di sekolah adalah pada waktu belajar di kelas. Jumlah maksimal murid per kelas saat ini di SMA adalah 36, SMP 32, SD 28 menurut peraturan Kemendikbud. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah membuat kelas-kelas lebih kecil (misalnya daripada 1 kelas 36 orang, dibagi 3 kelas 12 orang), menggeser jadwal (misalnya kelas 1, 2, 3 masuk lebih siang daripada kelas 4, 5, 6), dan jika memungkinkan, menata tempat duduk di kelas agar lebih berjarak (misalnya murid tidak lagi duduk berdua-dua semeja). Sekolah yang memiliki lahan dan ruang luas bisa lebih mudah melakukan cara-cara ini. Berbagai acara lain di sekolah yang melibatkan banyak orang juga perlu dipikirkan kembali.

3. Screening awal. Bagi sekolah yang mampu, bisa saja pada awal tahun ajaran dan secara berkala mengadakan rapid test antibodi untuk semua guru dan murid sebagai bagian pemantauan infeksi. Beberapa tempat memeriksa orang yang datang dengan termometer; saya anggap itu cara yang kurang efektif karena cek suhu tidak bisa mendeteksi pasien positif tanpa gejala, jadi mubazir dilakukan; lagipula orang bersuhu tubuh tinggi (demam) kecil kemungkinannya aktif bepergian di luar.

4. Menambah kegiatan belajar di luar ruang. Satu penelitian (belum ditinjau) di Tiongkok mendapati bahwa sebagian besar penularan SARS-COV2 terjadi di dalam ruangan, misalnya di rumah, sebaliknya penularan di luar ruang jauh lebih jarang*14. Mungkin ini berkaitan dengan sirkulasi udara yang lebih lancar di luar ruang. Selain itu, pembelajaran di luar kelas punya berbagai manfaat langsung, misalnya lebih sering praktik dibanding teori. Beberapa jenis sekolah, terutama *sekolah alam*, bisa menerapkan ini dengan lebih mudah. Sekolah lain dengan keterbatasan fisik (misalnya tidak punya halaman) mungkin bisa memperbaiki ventilasi di ruang kelas atau mencoba pembelajaran di luar sekolah.

5. Mengajak murid makin terlibat dalam menjaga kebersihan sekolah. Selain teori, murid diajari untuk praktik menjaga kebersihan sekolah demi kesehatan bersama. Misalnya dengan menyeka meja menggunakan pembersih sebelum belajar, mengepel kelas, merapikan peralatan, dan lain-lain. Sekalian memperkuat kebiasaan murid untuk hidup bersih dan teratur.

6. Keluwesan absen, kehadiran dan pembelajaran. Ada kemungkinan sejumlah orangtua tetap enggan menyuruh anaknya masuk sekolah karena khawatir ketularan. Satu cara untuk menampung kekhawatiran ini adalah dengan memperbolehkan murid dengan orangtua yang demikian untuk melanjutkan belajar di rumah, dengan cara menyiarkan KBM di kelas. Tentu si murid jadi tidak bisa mengikuti beberapa kegiatan dengan sempurna, tapi setidaknya itu bisa menjawab kekhawatiran orangtua.

PENUTUP
Menghadapi pembatasan besar demi melindungi diri dari COVID-19 tidak mudah, bagi negara, masyarakat, maupun anak. Dan kita mesti bersiap hidup berdampingan dengan virus itu, karena kecil kemungkinan SARS-COV2 akan bisa dimusnahkan total. Pendidikan harus berlanjut. Kita boleh khawatir mengenai kesehatan diri kita sendiri, tapi kita juga tidak boleh merusak masa depan anak-anak dengan terlalu lama mengganggu pendidikan. Lagipula, yang akan menyiapkan mereka menghadapi segala tantangan masa depan adalah pendidikan.

Sekolah mendapat tantangan untuk beradaptasi dengan kondisi baru. Wabah ini bisa jadi kesempatan baik untuk memikirkan ulang cara kita merancang dan menjalankan sekolah. Sebagian sekolah akan sukar berubah karena keterbatasan sumber daya atau lainnya. Namun bagi sekolah yang bisa dan mau beradaptasi, terbuka lebar kesempatan merancang ulang dan membangun citra baru, menjadi "Sekolah Tanggap Corona" yang bisa menawarkan pendidikan bermutu sekaligus menjaga kesehatan murid dan menjawab kekhawatiran orangtua.

*1 Adiputri, Ratih D. "Sekolah pada Saat Krisis Virus Korona: Cerita dari Finlandia", Siapabilang.com, 1 April 2020. https://siapabilang.com/blog/111/sek...ari-finlandia/
*2 Misalnya: Sekolah Cikal, "Model Pembelajaran Aktif Saat Home Learning, Sekolah Cikal Undang Dokter untuk Berinteraksi Langsung dengan Murid", April 2020, https://www.cikal.co.id/news?id=mode...-dengan-murid; "Pendidikan Online di Tengah Corona Beri Tantangan Guru agar Lebih Kreatif" Sindonews.com, 15 April 2020, https://nasional.sindonews.com/read/...tif-1586930676
*3 "KPAI: Banyak Siswa Kesulitan Belajar di Rumah", Liputan6.com, 28 April 2020, https://www.liputan6.com/news/read/4...lajar-di-rumah
*4 "Kemendikbud Terus Lakukan Evaluasi Pendidikan Jarak Jauh" Detik.com, 2 Mei 2020, https://news.detik.com/berita/d-5000...kan-jarak-jauh
*5 "Tiga Skenario Tahun Ajaran Baru Di Tengah COVID-19", Republika.co.id, 26 April 2020 https://republika.co.id/berita/q9e79...tengah-covid19
*6 "Tahun Ajaran Baru Dipastikan Tak Diundur, Kemungkinan Sekolah Mulai Buka Juli 2020", 14 Mei 2020, Tribunnews.com, https://www.tribunnews.com/nasional/...uka-juli-2020.
*7 Statistik Harian KawalCOVID-19, https://kawalcovid19.blob.core.windo...ik_harian.html
*8 Peta kasus COVID-19 di Indonesia KawalCOVID-10, https://datawrapper.dwcdn.net/MwHOx/37/
*9 WHO Peringatkan, Virus Corona Tidak Akan Hilang Meski Ada Vaksin, Kompas.com, 14 Mei 2020, https://www.kompas.com/sains/read/20...ki-ada-vaksin.
*10 "Umur Pasien Meninggal Karena COVID-19", 30 Maret 2020, https://www.facebook.com/andya.prima...75605945791375
*11 "Menteri PPPA Sebut 41 Perempuan dan 6 Anak Meninggal Karena Virus Corona", Tribunnews.com, 24 April 2020, https://aceh.tribunnews.com/2020/04/...-virus-corona.
*12 Zimmermann, Petra, et al. "Coronavirus Infections in Children Including COVID-19" The Pediatric Infectious Disease Journal, 39(5): 355-368, https://journals.lww.com/pidj/Fullte...cluding.1.aspx
*13 NCIRS, "COVID-19 in schools – the experience in NSW", 22 April 2020, https://www.documentcloud.org/docume...ml#document/p1
*14 "COVID-19: Countries around the world are reopening their schools. This is what it looks like", World Economic Forum, 2 Mei 2020, https://www.weforum.org/agenda/2020/...en-classroom/; "9 Ways Schools Will Look Different When (And If) They Reopen", NPR, 24 April 2020, https://www.npr.org/2020/04/24/84252...reopen-schools
*15 Hua Qian et al. "Indoor transmission of SARS-CoV-2", 7 April 2020, https://www.medrxiv.org/content/10.1....04.20053058v1
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eddiesangadjie dan 150 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh InRealLife
Halaman 1 dari 7
waduuhhh kebayang anak2 yang udah kelamaan nyantai dirumah harus kembali ke sekolah dan pakai masker emoticon-Matabelo
semoga cepet ngilan dah covid nya, segalanya susah jadinya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gta007 dan 17 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fellgrey
Lihat 5 balasan
alhamdulillah, anak2 ane bisa sekolah lagi....
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
waduh kalo buat anak SD ke atas mgkn udah ngerti ya buat ga megang mata hidung mulut. lah kalo anak TK gimana tuh. masih suka pegang sembarangan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akubebe dan 15 lainnya memberi reputasi
Lihat 8 balasan
Rencana juli ya mulai masuk sekolah.. Gimana tuh ya kelamaan di rumah hehe
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akubebe dan 12 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
iya kasian si liat anak anak yg rindu sekolah, rindu kumpul sama temen sekelas, rindu liatin gebetan nya pas sekalah, kasian lah kalok gak sekolah-sekolah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
akubebe dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Jangan lah
Kasian gurunya emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 13 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh giacartone
Lihat 1 balasan
semoga pandemi ini segera berakhir,kasian adik2 saya sudah pengen sekolah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 11 lainnya memberi reputasi
lebih baij potong tahun ajaran 1/2 tahun dr pada buka sekolah. apalagi sekolah dasar karena prosesnya drpergi sekolah sampai jemput pasti melibatkan org tua. atau sekolah di permudah saja. seminggu gantian. krn kalau pagi siang resiko yg sekolah siang ketularan, kalau seminggu gantian ada sabtu dan minggu sehingga virus mati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Berdamai dengan corona
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 15 lainnya memberi reputasi
Apa itu sekolah?

emoticon-Confused
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Iya ngebayangin imun mereka yg masih rentan bgt. Ga ada corona aja udah sering sakit batuk pilek sgala macem. Gimana ada corona gini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dhikapradana dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 15 balasan
Nice trit gan.. ulasan dan sumbernya jelas
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 11 lainnya memberi reputasi
dilema juga nih sekolah di saat masig kek gini
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 12 lainnya memberi reputasi
gapapalah memang seperti itu seharusnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 9 lainnya memberi reputasi
udeh mateng jadi kaum rebahan..
susah mup on nye lagi nih..
emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 9 lainnya memberi reputasi
Ini abstrak jurnal ilmiah ceritanya ya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 9 lainnya memberi reputasi
mereka yg sekolah formal dan masih bisa dibantu oleh kemudahan internet bisa dibilang masih beruntung,
coba anak anak jalanan yg informal yg sekolah di luar ruangan gmana?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 9 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Ini ngeri2 sedap sih gan menurut gw, pemerintah kaya lagi gambling. Kalau lu menang lu selamat, kalau kalah lu kena. Dan parahnya anak2 ini bisa jadi carier baru. Siap2 aja angka positif dan kematian akan membludak.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 12 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
setelah PSBB, kini waktunya PPDB emoticon-Ngacir
emoticon-Bookmark (S): setelah PPDB, berharap ada PSPB lagi emoticon-Stick Out Tongue
profile-picture
profile-picture
profile-picture
darmawati040 dan 9 lainnya memberi reputasi
kasian anak anak yg gak punya hp, apalagi guru honor yg kdg gak nentu dana bos cair kpn?
klw yg pns mau gak mau harus siap apalagi yg berlagak seperti guru paling senior
profile-picture
profile-picture
profile-picture
smarthardwork dan 10 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di