CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / REGIONAL / All / ... / Madura /
Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebdbfdf8d9b177f103f9e76/budaya-desaku-saat-10-hari-terakhir-bulan-ramadhan

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan
emoticon-Maaf Agan emoticon-Bedug emoticon-Maaf Aganwati

Terdapat tradisi yang unik, mengesankan, dan agak sulit kita temukan di tempat selain di Madura atau paling tidak di masyarakat Madura. Tradisi tersebut adalah budaya Ater-ater. Ater-ater ini adalah sebentuk tradisi masyarakat Madura terutama di pedalaman dan grass root yang paling banyak ditemui ketika ada hajatan, selametan dalam segala macamnya, hari raya keagamaan, tasyakuran, dan lain sebaginya. Hari keagamaan disini berupa hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, hari raya Ketupat, Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’Mi;raj, Sa’banan (tanggal 15 bulan Sa’ban), malam 21 dan 27 pada bulan Ramadhan, dan peringatan hari-hari tertentu orang yang telah meninggal (malam ke 3, 7, 40 hari, 100 hari, tahunan, dan 1000 hari). Sedangkan mengenai macam-macam hajatan atau selamatan itu sendiri berupa acara pernikahan, acara lamaran, tasyakuran hasil panen, selamatan wanita yang baru hamil pertama kali (ketika umur 7 bulan), Asyuroan (biasanya masyarakat Madura ketika masuk bulan Asyuro mengadakan selamatan dengan membuat bubur khas Madura), selamatan bulan Safar (masyarakat Madura mengadakan selamatan dengan membuat bubur merah), dan banyak lagi yang lainnya. Bahkan, ada pula yang rutin setiap minggu pada malam Jum’at. Hanya saja biasanya banyak dilakukan kepada guru ngaji dan sebagainya.

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Kegiatan ater-ater ini diaplikasikan dengan menghantarkan barang (terutama makanan) pada sanak keluarga atau tetangga yang ada di sekitar. Namun tidak jarang tradisi ini juga dilakukan dan tujukan pada sanak saudara yang jauh.

Bagi kalangan masyarakat Madura, ater-ater merupakan tradisi yang telah turun-temurun. Hal ini dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturrahmi antar keluarga atau tetangga. Budaya tersebut sudah turun temurun warisan dari nenek moyang yang sampai saat ini tetap dilestarikan oleh generasi muda. Ter-Ater itu yakni saling tukar atau mengantarkan nasi lebaran ke sanak famili atau kepada tetangga baik yang dekat maupun yang jauh yang diyakini akan memperlancar rejeki serta memperpanjang usia dan di jauhkan dari mara bahaya.

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Budaya Ter-Ater nasi lebaran yang diantarkan lengkap dengan ikan dan lauk serta kuahnya. Budaya itu di lakukan saat menyambut lebaran Idul Fitri yang menandakan ke akraban sesama tetangga dan famili untuk saling bersilaturahmi, serta tanda syukur telah dapat menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Adat istiadat tersebut selain tanda syukur sudah mejalankan puasa satu bulan penuh, juga diyakini memperpanjang usia dan akan memperlancar rejeki hingga bulan puasa tiba kembali. Kepercayaan orang Madura perlunya melestarikan budaya itu, karena akan memperlancar rejeki dan akan panjang usia.

Barang yang dibawa sebagai oleh-oleh bagi yang dikunjungi berupa makanan yang siap saji, seperti nasi putih berserta lauk daging sapi, kambing, ayam, lengkap dengan kue dengan berbagai macam jenisnya. Jajanan, nasi, dan lauk pauk tersebut disimpan dalam wadah khusus, semacam termos untuk piknik. Lalu dijinjing dibawa ke tempat saudara atau tetangga yang akan dikun jungi.

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Makanan siap saji dan tidak tahan lama tersebut biasa dibawa pada saudara atau tetangga dekat. Jika yang hendak dikunjungi atau diater-ater adalah keluarga yang letaknya jauh, barang bawaannya biasanya barang yang tidak mudah basi tapi unik. Hanya bisa didapat di tempat-tempat tertentu.

Budaya atau tradisi ater-ater ini dikalangan masyarakat Madura juga dikenal dengan istilah Rebba. Dan ini tidak hanya dilakukan kepada para kerabat, dan sanak famili saja, tapi juga kepada sesepuh desa, guru ngaji dan pengasuh pondok pesantren atau kyai.

Budaya Desaku Saat 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Ter-ater untuk kyai pengasuh pondok pesantren, bukan hanya berupa makanan, tapi bisa juga berupa hasil bumi. Seperti jagung, padi, ketela pohon, dan berbagai jenis buah-buahan yang menjadi hasil pertanian mereka. Setiap panen, baik panen jagung ataupun padi, pasti disisihkan khusus untuk kyai dan guru ngaji anak-anak dari masyarakat itu sendiri

Di bulan suci Ramadhan, tradisi saling mengantar makanan, atau ter-ater biasanya pada malam pertama puasa dan pertengahan bulan puasa, yakni mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri.

Pada malam pertama Ramadhan dimaksudkan sebagai bentuk ungkapan dalam menyambut datangnya bulan yang penuh berkah dan ampunan Allah. Sedang pada tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri diharapkan akan mendapat berkah malam lailatur-qodar, dimana sebagian ulama mempercayai bahwa malam lailatul-qodar mulai tanggal 17 Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri pada malam ganjil. Seperti malam tanggal 17, 19, 21, tanggal 23, 25, 27 hingga 29 Ramadan.

Sebagai salah satu dari elemen budaya masyarakat Madura, ater-ater dapat dijadikan sebuah teropong atau sekeping cermin yang dapat menggambarkan identitas dan karakter masya rakat Madura.Namun tradisi ini sering luput dari perhatian para peneliti. Mungkin saja tradisi ini dianggap cukup sepele dan biasa-biasa saja. Padahal, ater -ater ini adalah salah satu kegiatan atau ritual budaya yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang ramah, dermawan, komunikatif, baik hati, dan memiliki solidaritas yang tinggi pada sesama.

Pada momen hari raya keagamaan seperti lebaran, ater-ater  ini menemukan momennya yang cukup signifikan. Hampir setiap orang masyarakat Madura melakukannya. Mereka tidak sekedar pergi bertamu untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Mereka tidak lupa membawa sesuatu yang mereka makan di rumahnya.

Pada momen lebaran, ater-ater  biasanya didominasi oleh mereka yang sedang bertunangan. Rasanya tidak pas jika ater-ater pada sanak saudara di hari raya, jika tidak bersama-sama tunangan. Tidak jarang, budaya ater-ater ini dijadikan wahana bagi seseorang untuk memperkenalkan tunangannya pada tetangga atau keluarganya yang lain. Selain itu kebanyakan para pasangan suami istri muda yang baru nikah juga memanfaatkan momen-momen tertentu atau hari-hari tertentu tersebut di atas untuk memperkenalkan sekaligus mempamerkan pasangannya dengan cara ater-ater makanan atau jajanan kue kepada para sanak keluarganya baik yang dekat maupun yang jauh.


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makbus dan 16 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di