CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Chapter 4: Paper, 2020 (A story from one heart)
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebcd27ab41d304d3f190136/chapter-4-paper-2020-a-story-from-one-heart

Chapter 4: Paper, 2020 (A story from one heart)

Chapter 4: We Got Our Problems

"I Need A Moment To Think About Nothing At All"


( Etham - 12.45)

“Kita kan udah putus, jadi ga perlu ada penjelasan apapun”.

Adhi hanya mampu mencengkram kuat stir yang ada didepannya saat ucapan Dyas tiba-tiba terlintas dibenaknya. Ibu yang menyadari gelagat aneh Adhi sejak pulang dari rumah sakit tadi, dengan segera mengelus pundak putra sulungnya.

“Maaf, bukan maksud Ibu”, ucap Ibu sendu. Dari awal hubungan Adhi dan Dyas, Ibu sebenarnya tidak terlalu menyukai tingkah Dyas yang terkesan terlalu bebas sebagai seorang anak gadis. Entahlah, Ibu malas untuk membeberkannya sekarang, ia lebih memilih fokus untuk mengembalikan moodAdhi yang tengah kacau.

“Bu, Adhi boleh keluar? Anak-anak ngajak kumpul soalnya”. Adhi terpaksa berbohong, padahal ia hanya ingin menyendiri sebentar.

“Boleh, jangan pulang terlalu malam ya Mas”, Ibu pun tahu padahal Adhi tengah berbohong. Namun, membiarkan Adhi sendiri untuk saat ini adalah langkah yang tepat. Perihal Adhi dan Dyas, tidak sesederhana itu. Ini menyangkut psikis yang mungkin bisa saja berujung pada depresi. Ibu hanya tak habis fikir, mengapa dulu Adhi memilih Dyas? Apa sih yang Adhi liat dari Dyas? Cantik? Iya Dyas memang memiliki paras yang cantik, namun sayang tabiatnya tidak secantik paras wajahnya.

“Kenapa bu?”, tanya Arka kebingungan saat melihat Ibu yang berdiri didepan pagar rumah.

“Kamu belum berangkat les?”, Bukannya menjawab, Ibu malah bertanya balik pada Arka.

“Prei Bu. Soal Mas Adhi ya? Mba Dyas ya? Bu, Arka kasih tau jujur ya. Mba Dyas itu sebenernya baik lho Bu, jadi Ibu ga perlu khawatir kalo nanti Mas Adhi balik lagi sama Mba Dyas”, jelas Arka panjang lebar. Selain pintar matematika, ternyata Arka juga pintar menggosip. Bahkan, yang pertama kali tahu perihal berakhirnya hubungan Adhi dan Dyas adalah Arka.

“Hush! Sudah ndak perlu bahas Dyas lagi.”, tegas Ibu lalu menuntun Arka untuk kembali masuk ke rumah. Ibu tahu segalanya, bahkan melebihi rasa tahu Arka tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Adhi dan Dyas.

****                                                                                                                         

Sore ini, cuaca Magelang cerah dan cenderung panas. Jadi, Aretha memutuskan untuk berdiam diri di kamarnya sembari menonton film  dan makan salad buah buatannya. Meskipun terkesan sederhana, namun sangat membantu untuk menghilangkan stress yang Retha alami belakangan ini. Tepatnya stress karena tugas kuliah yang tiada ujungnya. Namun tiba-tiba saja, Aretha mengernyit kebingungan lantaran ia melihat satu notifikasi email di layar laptopnya.

Alandra A. Syailendra

Ia, ini Alandra. Gua tau email lo dari akun youtube. Lo udah mendingan belum? Kalo udah mendingan bisa temenin gua keluar gak? Gua pengen cerita dan butuh temen.

Thanks before,

Al

Aretha A. Alivia

Hi Al, gua udah mendingan kok. Lo mau kemana?

Alandra A. Syailendra

Ke Tuin Van Java sih niatnya. Mau nemenin ngga?

Aretha A. Alivia

Boleh, sekarang?

Alandra A. Syailendra

Iya, btw boleh minta whatsapp? Biar lebih simple chat nya

Aretha A. Alivia

Boleh, 08**********

Alandra A. Syailendra

Gua chat pake whatsapp ya

Tak lama kemudian, muncul notifikasi whatsapp di layar Hp Aretha yang isinya sebuah pesan dari Al. Ternyata, Al sudah dalam perjalanan menuju rumahnya, jadi dengan segera retha bersiap-siap dan mengganti piyamanya.

***********

Tuin Van Java - 16.40 WIB

Tuin Van Java bisa dikategorikan food court paling terkenal di magelang. Selain tempatnya yang strategis, berada di alun-alun Magelang, makanan disini juga patut diacungi jempol. Meski harganya masih tergolong sangat bersahabat, namun cita rasa makanan disini tidak kalah dari tempat makan legend diluaran sana.

Al memesan seporsi Mie Ayam yang antrinya tergolong cukup lama. Mie Ayam ditempat ini adalah Mie Ayam favoritnya, jadi tidak masalah bagi Al untuk mengantri lama. Sementara, Aretha memesan seporsi Sate Kambing dan juga Kebab. Sama halnya dengan Al, Aretha pun harus rela mengantri lama, jadi untuk mengurangi rasa bosannya ia memesan segelas Es Cendol.

“Btw lo mau cerita apa?”, tanya Aretha sembari mengaduk Es Cendolnya dengan gula merah.

“Minta pendapat boleh?”, tanya Al penasaran.

“Oh, jadi ceritanya gua jadi Narasumber ya? Ga bisa deh, gua kan biasanya yang nanya, bukan yang jawab”, tolak Aretha.

“Gua mau nanya tentang pendapat lo tentang LDR”, tanya Al tiba-tiba.

“Sebenernya gua ga suka ditanya, tapi oke kali ini gua bakal jawab. LDR? Hmmmm, LDR is really suck si menurut gua. Bayangin, kadang kita sering kejebak sama kekhawatiran kita sendiri sama pasangan kita. Ya, kadang khawatir itu ga wajar, tapi kalo misal ga khawatir, sebenernya lo masih sayang ga si sama pasangan lo? Khawatir itu kan tanda bahwa lo peduli dan sayang sama pasangan lo. Jadi, kesimpulan gua si, lebih baik ga usah LDR, kalo bisa. Tapi, kalo emang situasinya maksa kita buat LDR, ya secukupnya aja si. Secukupnya dalam hal mencintai, dan jangan dulu main perasaan terlalu berlebihan, karena semakin lo sayang sama pasangan lo, maka semakin lo bergantung sama dia. Takdir kan gada yang tau, hubungan kalian mau sampe sejauh mana. Takutnya, imbasnya nanti pas udah putus malah susah move on. Gitu si menurut pandangan gua”

“Trus, pandangan lo tentang move on gimana?”

“Move on bukan hanya sekedar sukses ngelupain kenangan doang si menurut gua. Move on juga mencakup hal tentang gimana lo memutuskan buat belajar. Belajar nerima yang udah terjadi, belajar buat lebih sayang sama diri lo juga, dan satu lagi belajar buat ngebuka hati buat yang lain. Gitu si”, meski Aretha sudah sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Al, namun tetap ia tidak mau bertanya. Al hanya butuh pendapatnya untuk saat ini.

“Makasih ya buat jawabannya. Pemikiran lo oke”

“Hah? Masa sih? But, thanks ya Al hehe”

“Gua yang bayar oke? Itung-itung terima kasih juga karena lo mau nemenin gua keluar”

Aretha hanya mengangguk dan langsung fokus ke makanannya. Ini bisa dibilang kali pertama Al nemuin cewek kaya Aretha. Biasanya kebanyakan kalo diajak jalan sama Al paling ujung-ujungnya bikin insta story yang spam pangkat kuadrat. Nah, Aretha ini beda. Dia suka berpendapat dan selalu fokus pada Al saat Al berbicara dengannya. Sejak tadi, ia bahkan tidak membuka Hp nya. Dia punya karakter kalem, tapi terkadang bisa cerewet juga. Dia juga keliatan judes dan apatis, tapi sebenernya orangnya easy going dan bisa jadi pendengar yang baik.

Al jadi inget wejangan dari kakeknya. Dulu, kakeknya sempat menasehati Al tentang kebiasaan Al yang sering gonta-ganti pacar. Kata kakek Al, witing tresno jalaran saka kulino. Maknanya, cinta itu datang karena terbiasa. Jadi, kakek berpesan agar Al fokus saja pada kuliahnya. Urusan tentang pasangan, itu bisa ditemukan tanpa kita sadari.

“Mas, kalo nanti kamu bertemu teman wanita yang buat kamu nyaman, dan buat kamu seolah bergantung padanya, jangan buat dia jauh dari kamu ya Mas. Buat dia nyaman dan percaya sama kamu Mas”.

Al hanya tersenyum tipis. Aretha ini baru ia temui kemarin, namun ia sepertinya punya ruang tersendiri di fikiran Al. Buktinya, kenapa Al lebih memilih bercerita pada Retha daripada ke teman dekatnya? Bohong rasanya jika Al tidak memiliki teman dekat disekitar rumahnya. Al memiliki relasi banyak, entah teman dari komunitas volunteer ataupun teman dari kenalan ayahnya. Entahlah, terlalu banyak sugesti jika Al membicarakan soal hati dengan gadis di depannya ini.

“Al, gua harus ngerjain konten travelling  nih buat media. Ada saran nggak?”, tanya Retha tiba-tiba.

“Lo libur nyampe kapan? Kalo ada waktu sih bagusnya explore wisata sama bikin review daerah sekitar sini aja biar gampang”, jawab Al sembari memandang wajah kebingungan Aretha. Sepertinya hal ini akan menjadi favoritnya.

“Jatah libur gua tinggal 5 hari lagi si, kayanya cukup deh buat nyari bahan. Tapi gua bingung tempat, trus gua nyari bahan sama siapa ya?”, tanya retha kembali

“Kalo gua ajak keliling magelang, main ke jogja, mau gak? Sekalian bantuin tugas lo”, tawar Al, namun Aretha hanya diam.

Aretha masih sadar waktu baru menunjukkan pukul 17.00 WIB. Ini bukan jam 9 malam, jadi ia masih memiliki banyak waktu untuk berada diluar rumah. Seharusnya ia merasa biasa saja, lagi pula orang tuanya tidak akan marah jika ia telat pulang pun. Tapi, suasana hatinya tiba-tiba mendadak tidak tenang tatkala ia melihat seseorang di masa lalunya datang bersama sekumpulan anak geng motor yang biasa lewat di dekat rumahnya.

“Lo kenapa?”, tanya Al kebingungan saat melihat wajah Retha yang sudah pucat pasi.

“Al kita pulang……..”, belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tangan kanannya tiba-tiba saja ditarik oleh seorang lelaki hingga ia berdiri dan reflek mendorong lelaki itu.

“Wow, this lil’ girl ready to fight. Nice to see you again sweetie”, ucap lelaki itu dengan tersenyum puas.

“Danu please, kita lagi ditempat umum. Jangan buat masalah”, mohon Aretha dengan air mata yang sudah menggenang dipipinya.

“Lo siapa? Ada masalah apa sama retha?”, tanya Al lalu menarik Retha ke belakang tubuh tegapnya. Tangan Retha bergetar dan Al bisa merasakan bagaimana ketakutan gadis itu saat ini.

“Ini yang baru Re? Ini alesan Lo lebih milih kuliah di Sunda daripada di Jawa?”

“Lo siapa?”, tanya Al sekali lagi. Genggamannya semakin kuat pada kelima jari Aretha saat ia merasakan gadis itu tengah terisak.

“Her ex, Rhandra Danuarta”, ucap Danu sambil tersenyum puas.

“Santai Re, gua ga bakal ngapa-ngapain. Ga usah nangis”.

“Kita pulang”, ucap Retha tiba-tiba lalu menarik tangan Al untuk pergi. Namun baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba saja sebuah pisau berhasil melukai tangan kirinya. Al tidak sempat menghentikan hal itu, dan ia sekarang fokus pada Danu yang sedang tertawa puas.

“Maksud Lo apa HAH???!!!”, Marah Al sembari mencengkram kuat kerah kemeja yang dikenakan Danu. Tak kunjung mendapatkan jawaban, Al pun melayangkan satu pukulan tepat di wajah Danu hingga Danu tersungkur. Bibir Danu terluka, namun lagi-lagi Danu hanya tersenyum miring.

“Lo anak karate? Hebat juga”, ucap Danu lalu menyeka darah disudut bibirnya.

Al hanya mengepalkan kedua tangannya, namun dengan segera ia menoleh pada Aretha yang sibuk mengusap darah di tangan kirinya. Gadis itu masih sesenggukan dengan air mata yang terus mengalir dikedua matanya.

“Gua minta mulai sekarang lo jauhin Retha”, ucap Al final lalu mengajak Retha pergi.

Di mobil, Retha hanya diam dan terus menyeka darah yang keluar dengan tissue. Alandra pun sama, ia hanya fokus mengemudikan mobilnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Terlalu banyak yang ingin ditanyakan namun sayangnya mereka sadar posisi masing-masing, mereka hanya sebatas teman bukan?

To be continue……
profile-picture
profile-picture
profile-picture
arifbws208e dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh miss.autumn
hmmmm Blum Update yaaaak ?
Lihat 2 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di