CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Teror Politik & Mayat Oleh Anies di Tengah Wabah COVID-19 Rendahkan Rakyat Indonesia
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebca833c8208403d86e0b6b/teror-politik-amp-mayat-oleh-anies-di-tengah-wabah-covid-19-rendahkan-rakyat-indonesia

Teror Politik & Mayat Oleh Anies di Tengah Wabah COVID-19 Rendahkan Rakyat Indonesia

JAKARTA

Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Azas Tigor Nainggolan mengkritik Gubernur DKI Anies Baswedan. Dia menyebut pendemi Covid-19 ini rupanya sangat disenangi Anies Baswedan menjadi panggung politiknya dan media melakukan teror politik. Awal pandemi di Indonesia Anies memprovokasi agar Pemerintah Pusat membuat kebijakan lockdown (karantina wilayah) untuk mencoreng Jokowi. 

Provokasi ini tidak berhasil dan Presiden Jokowi membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selanjutnya Anies gunakan lagi pandemi Covid-19 ini sebagai ajang pencitraan yakni memperbanyak jumlah warga miskin terdampak wabah Covid-19 yang akan dibiayai oleh APBD Jakarta.

BACA JUGA

Jerit Pilu Trinity di Ruang Operasi RS Sun Yat Sen China di Tengah Wabah Covid-19Selamat Jalan Mentan GiawaNostalgia Cengengesan Berlinang Air Mata di Mcd Sarinah, Orang Bebal Bodoh

Belakangan akhirnya terbukti justru Anies melempar tanggung jawab membiayai bantuan bagi 1,1 juta warga miskin Jakarta. Anies dengan entengnya mengatakan tidak mau membiayai 1,1 juta warga miskin Jakarta dan melemparkannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.

Upaya melempar tanggung jawab ini dilakukan oleh Anies, lagi-lagi menjadi "jebakan betman" bagi Jokowi. Jika Jokowi menolak maka Anies akan mudah memprovokasi dan sebat fitnah bahwa Presiden Jokowi gagal serta tidak mau tangani warga miskin terdampak Covid-19.

Cara provokasi ini pun dilakukan oleh Anies dengan menyebar teror bahwa data kasus positif Corona atau Covid-19 di Jakarta jauh lebih besar dari yang disampaikan oleh Pemerintah Pusat melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Pada tanggal 25 Maret 2020 Anies menyatakan pada media massa bahwa dalam 2 pekan ke depan akan ada 6000 kasus penderita Covid 19.

Saat itu pun Anies meneror bahwa jumlah positif Covid-19 dan meninggal dunia akibat Covid-19 di Jakarta angka faktanya jauh lebih besar.

Fakta angka lebih besar itu didasari dari angka kematian dan pemakaman yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan pemakaman Pemprov Jakarta.

Sebenarnya Anies mau mengatakan bahwa Pemerintah Pusat telah berbohong tentang data uang disampaikan ke publik dengan fakta lapangan.

Teror antara data dan fakta lapangan ini kembali dimainkan Anies sebagai teror politik untuk menaikan citra dirinya.

Kepada beberapa media nasional dan media asing Anies mengatakan lagi bahwa terjadi kebohongan data kasus positif Covid-19 oleh pemerintah pusat. Anies pada 12 Mei 2020 di beberapa media mengatakan bahwa jumlah Covid-19 di Indonesia mencapai 40.000 hingga 80.000 kasus. 

Sementara berdasarkan data yang masuk di Pemerintah Pusat  hingga Selasa (12/5/2020) pukul 12.00 WIB, ada penambahan 484 kasus Covid-19 dan kini secara akumulatif ada 14.749 kasus Covid-19 di Indonesia, terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020.

Teror melalui informasi bengkak jumlah kasus positif Covid-19 ini juga disampaikan Anies melalui media nasional serta media asing.

Jelas cara Anies ini untuk membuat masyarakat Indonesia juga internasional  ketakutan dan tidak percaya pada kinerja  pemerintahan Presiden Jokowi dalam menangani masalah pandemi Covid-19.

Anies memang tekun menggunakan dan menjadikan pandemi Covid-19 menjadi  panggung politik bagi dirinya menunju Pilpres 2024. Pandemi Covid 19 ini jadi moment kuat bagi diri Anies membangun citra positif dirinya agar bisa menang dalam pilpres 2024 mendatang.

Kejam dan bodoh Anies memilih cara dalam membangun citra dirinya. Sangat kejam karena Anies menggunakan dan menebar teror pandemi Covid-19.

Sangat bodoh karena Anies menjatuhkan Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan presiden Jokowi.

Padahal dalam Pilpres 2024 itu Jokowi sudah tidak ikut lagi dalam kontestasi pilpres karena sekarang Jokowi menjadi presiden periode kedua.

Justru dalam situasi sekaranglah Anies berusaha menunjukan bisa menjadi pemimpin dan bisa bekerja sama dengan pemerintah  dan bekerja sama menolong rakyat bukannya meneror rakyat.

Bodohnya lagi Anies menggunakan perdebatan antara data dan fakta lapangan kasus positif Covid-19 tidak sama dasarnya.

Anies mengkritik data yang disampaikan pemerintah berdasarkan fakta lapangan di jumlah pemakaman  tanah kubur pemakaman selama masa pendemi Covid-19.

Sementara Pemerintah Pusat menggunakan data kasus positif Covid-19 berdasarkan data masuk dengan hasil pemeriksaan laboratorium.

Jadi teror Covid-19 yang dilakukan Anies Baswedan tidak nyambung atau tidak "Apple to Apple". Dalam hal ini , Anies Baswedan telah salah memilih cara dan merendahkan rakyat Indonesia dengan  menganggap rakyat Indonesia  itu bodoh bisa diteror dengan fakta lapangan tanah kubur.

Atau bodoh kali media massa dan publik yang mau percaya data dan informasi kasus Covid-19 yang disampaikan oleh Anies Baswedan.

Seharusnya media massa mendalami informasi itu pada Anies Baswedan dan jangan mau diam saja serta  tanpa mau klarifikasi pada data resmi Pemerintah Pusat yang didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium resmi.

https://www.netralnews.com/opini/rea...kyat-indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 30 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 2
Pecat wan abud. Angkat ahok menjadi gubernur emoticon-Belgia

ayo lastcar emoticon-Belgia
tapi gak ada yg takut tuh..
tetep pada ke sarinah jagain lilin..
profile-picture
areszzjay memberi reputasi
Suka atau tidak suka,
Disaat pemerintah pusat kelabakan dan seperti kebingungan saat menghadapi wabah corona,

Anies adalah gubernur yang paling siap dalam menghadapi pandemi korona. Sudah sering cuci tangan soalnya doi dari jauh2 hari.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anak manis dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
azas tigor pengurus gereja ..pendukung berat mahok laknat..ya wajar lah bikin statement kaya gitu....demo pake lilin ya tigor...
profile-picture
indomerahputih memberi reputasi
Lihat 2 balasan
entar mayatnya ga di solatin lohemoticon-Ngakak
profile-picture
rgenpeninsula memberi reputasi
Diubah oleh yeytothesouz
Lihat 1 balasan
cebong, masih aja nyerang Anies, betul betul gagal mup-on akibat kekalahan telak nyungsep abis di pilkada.

udah lah bong, akui aja keterlambatan pemerintah pusat dalam bereaksi terhadap kopit, kalo dulu pempusnya cepet bereaksi, kopitnya nggak akan kayak gini, sekarang udah jadi gini, jangan tambahin kesalahan lagi, tapi pikirkan cara gimana ngatasin kopit dan masalah ekonomi.

udah salah, ngaku aja salah, bukan cari pembenaran yang bukan bukan, apa lagi menuduh orang laen manfaatin keadaan, akuin aja salah, baikin kesalahan, kalo nggak sanggup baikin kesalahan, akuin aja, mndur lebih baik sebagai jiwa ksatria sejati, biarkan orang lain membaiki kesalahan yang elu bikin.
Lihat 9 balasan
si Kejut mah asal bertentangan pusat + kesempatan panggung = bakal diambillah.
profile-picture
profile-picture
snoopze dan pheeroni memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Sampai ketemu di 2024 emoticon-Ngakak
WAN ABUD PAKE EFEK KEJUT
PAKDHE PINOKIO PAKE EFEK PRANK
LAGIAN TLOL
SEKARANG LAGI WABAH MASIH AJA BAWA" POLITIK AMPE MAYAT SEGALA INI KAUM BABI NGUIKK
DARI RESPON PUN AWAL" CORONA SI WAN ABUD YG GERCEP
PEMERINTAH PUSAT NGAPAIN?
SIBUK NGURUS NASI KUCING, EMPON" AMPE JAMU SEKALIAN DISKON TIKET PESAWAT?
LU BELA BOLEH LAHHH SI PINOKIO INI TAPI GBLGNYA JGN AMPE KE BOOL" LAHHH emoticon-Wkwkwk emoticon-Wkwkwk emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indomerahputih dan 2 lainnya memberi reputasi
sebenarnya sih gak sepenuhnya salah pak anies
pak jokowi sendiri yang buka celah
pak jokowi sedari februari dan awal maret tidak tegas, kurang gerak cepat sehingga korban positif korona jadi 15 ribu lebih (itu dalam waktu 74-75 hari sejak 2 maret, dan itu juga belum tentu jumlah sebenarnya dan juga belum tentu puncaknya)
Suruh menteri dalam negeri untuk mengekang di kandang.
kotoran babi
Kasus monas jadi berhenti gara2 covid. Selamat bud
Teror politik bagi cecebs? saya sukak emoticon-Blue Guy Cendol (S)
anies dilawan..
Kesian Doi serba salah
APAPUN AKAN KULAKUKAN UNTUK MENDAPATKAN KURSI PRESIDEN
andaikan, ya ane berandai-andai aja. andaikan ternyata mereka memang bekerja secara tulus baik pak jokowi maupun anis, dan pemilihan keputusan juga berdasarkan opini pribadi namun juga berdasarkan pertimbangan di lapangan.

terus kenapa kita berkobar2 pada hal yang belum pasti kaya gini sih, seriusan ane capek gan liat warga indonesia saling serang begini. Ya emang sih dari dulu jaman majapahit juga paling cepet bikin kita hancur itu ya adu domba dan provokasi sih.

sudah selayaknya masyarakat bisa lebih buka mata terkait situasi di sekitar kita, jangan mau terprovokasi agan2. kalau kita kelahi yang sakit kita juga, yang rugi kita juga, yang mati kita juga. yang tukang provokasi cuman ngerokok di wc sambil berak mantengin kondisi perkelahian kita

ane galfok sama sumbernya netralnews tapi seakan isi berita berat sebelah emoticon-Malu
profile-picture
Abc..Z memberi reputasi
Lihat 3 balasan
andaikan, ya ane berandai-andai aja. andaikan ternyata mereka memang bekerja secara tulus baik pak jokowi maupun anis, dan pemilihan keputusan juga berdasarkan opini pribadi namun juga berdasarkan pertimbangan di lapangan.

terus kenapa kita berkobar2 pada hal yang belum pasti kaya gini sih, seriusan ane capek gan liat warga indonesia saling serang begini. Ya emang sih dari dulu jaman majapahit juga paling cepet bikin kita hancur itu ya adu domba dan provokasi sih.

sudah selayaknya masyarakat bisa lebih buka mata terkait situasi di sekitar kita, jangan mau terprovokasi agan2. kalau kita kelahi yang sakit kita juga, yang rugi kita juga, yang mati kita juga. yang tukang provokasi cuman ngerokok di wc sambil berak mantengin kondisi perkelahian kita

ane galfok sama sumbernya netralnews tapi seakan isi berita berat sebelah emoticon-Malu
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di