CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Suka Duka anak Rantau ketika Pandemi COVID19
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ebc3de7a727682ce643e830/suka-duka-anak-rantau-ketika-pandemi-covid19

Suka Duka anak Rantau ketika Pandemi COVID19

       Selamat Malam buat para pembaca, saya ingin berbagi cerita selama pandemi corona. Mohon maaf sebelumnya disini saya tidak ingin menyinggung pihak manapun.  namun ijinkan saya untuk sekedar berbagi cerita selama pandemi ini. Saya rasa tidak cuma saya yang mengalami hal semacam ini. Pasti banyak perantau yang merasakan hal ini. Oke kita langsung saja pada inti cerita yang akan saya sampaikan.


       Sebelum adanya corona saya merasa baik-baik saja di kota sekaligus provinsi yang ada di indonesia ini. Bekerja seperti orang pada umumnya, merasakan kemacetan ketika pergi dan pulang kerja. Walau saya bekerja hanya sebatas part time dengan gaji tidak lebih dari 1 juta perbulan. Hitungan gaji saya 25 ribu dan bekerja 8 jam perhari.

       Sebenarnya saya adalah mahasiswa akhir yang dalam masa pemutihan karena sudah hampir melebihi batas sebagai mahasiswa yang akan di D.O. karena itulah saya mencari kerja seperti yang saya sebut tadi. Kenapa saya tidak menyelesaikan tugas akhir agar bisa lulus ? pasti kalian akan menanyakan hal itu. Sebenarnya saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikannya, namun dosen pembimbing hampir tidak pernah menyetujui judul yang saya ajukan. Pernah sekali disetujui dan sudah sampai bab 3, malah di suru ganti total beserta judul baru. Saat itulah rasa putus asa mulai menghampiri, coba kalian bayangkan 3 semester saya habiskan untuk mengajukan judul dan di tolak semua.

       Oke seperti itu penjelasan singkat sebelum saya memulai cerita yang sesuai dengan judul yang saya buat. Tahun 2020 mungkin akan menjadi puncak keputus asa-an saya. Kemunculan COVID19 ini, menambah beban bagi saya karena ketika adanya aturan pembatasan sosial dan beberapa pelaku usaha harus menutup usaha mereka. Karena beberapa pelaku usaha terpaksa untuk menutup usahanya, saya pun terkena imbasnya. Yap, saya diberhentikan bekerja. Tepatnya pada awal bulan april kemaren. Padahal pekerjaan part time itu adalah satu-satunya pemasukan dan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Kalian pasti bertanya, “kenapa tidak meminta kiriman dari orang tua ?”

      Perlu kalian tau orang tua saya, bukanlah dari golongan berada. Orang tua saya itu pas-pasan hidupnya dengan gaji yang tidak menentu. Apalagi ketika tau pada lebaran taun lalu. Mereka memiliki hutang gara-gara berusaha untuk menyekolahkan saya sampai saat ini.
Jika kalian menjadi saya. “Apa kalian tega untuk meminta uang pada mereka ?”
Tapi, beberapa hari lalu tepatnya tanggal 1 mei 2020, saya sangat terpaksa meminta uang kepada mereka karena uang tabungan saya sudah tersisa seribu rupiah. Dan ternyata ortu pun mengirimi saya uang sejumlah 150 ribu.

      Coba kalian bayangkan. Kira-kira dari mana orang tua ku mendapat uang itu ? padahal saya yakin mereka sedang kesusahan juga selama pandemi COVID ini. Mungkin mereka mengirim sebesar 150 ribu karena hanya sebatas itulah uang yang mampu mereka berikan. Melihat hal tersebut sakit dada ini. emoticon-Sorry
saya hanya menjadi beban bagi mereka.

      Sejak tgl 1 mei, setiap malam saya susah untuk tidur. Terus kepikiran jika uang yang mereka beri sudah habis. Sedangkan saya tidak bisa untuk pulang kampung. Pilihannya ada 2 yaitu MATI emoticon-Turut Berdukaatau ada keajaiban dari yang maha kuasa.

        Sampai saat ini uang itu baru terpakai sekitar 40 ribu. “Bagaimana bisa selama 13 hari hanya habis 40 ribu ? makan apa tiap harinya ? mie instan?” Boro-boro mie instan yang harga 3000 per bungkus di kota ini. Saya bisa menghemat sejauh ini dengan cara membeli beras 1 kg seharga 11 ribu sama kecap botol seharga 8000. Beras dan kecap sebotol itu mampu untuk bertahan selama seminggu. 

     Selama 13 hari ini saya hanya makan nasi sama kecap. Dan itu pun makan sehari sekali. Pas puasa gini, saya makan setiap jam 12 malam. Untuk sahur dan buka puasa hanya minum air.
“Emangnya enak makan sama kecap doank ?”emoticon-Bingung

      Karena tidak ada cara lain untuk bertahan dalam kondisi sekarang ya enakin aja hehe. Walau sejak 2 hari kemaren mulai terasa aneh di perut. Rasanya panas dan mual, kadang pas bangun tidur kepala pusing. Mungkin karena kekurangan gizi kali ya hahaha. Yang penting sekarang saya masih bisa bertahan dan masih bisa menghirup udara yang di berikan oleh tuhan. Jadi syukuri selama kalian bisa menikmati karunia tuhan.

      Sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan berbagai bantuan, namun apa daya mahasiswa tua skaligus anak rantau seperti saya masih luput dari dana bantuan seperti itu.
Kalian pasti akan mengatakan “ kenapa gak cari kerja lagi ?”

      Saya sudah berkali-kali melamar namun belum ada panggilan dari tempat yang saya lamar.
Oh ya, seperti yang kita ketahui juga bahwa ada larangan mudik. Dalam lubuk hati pengen sekali berada di dekat orang tua. Bukan karena pengen mudik lebaran namun setidaknya saya ingin bertahan hidup bersama keluarga. Karena saya rasa jika hidup seperti saat ini lambat laun kemungkinan malaikat maut akan mampir ke kamar saya. emoticon-Cape d...

      Dengan sisa uang sekitar 110 ribu saya masih mampu bertahan 6 minggu jika lancar.
Alasan utama saya ingin berkumpul dengan keluarga, setidaknya jika ajal datang ada yang tau dan ada yang akan merawat mayat saya. Semoga para pembaca, berada di lindungan yang maha kuasa dan sehat-sehat saja. Jangan lupa bersyukur atas nikmat yang telah kita terima selama ini.

     Oh ya lupa masih berkaitan dengan larangan mudik. Saya sedikit terhibur dengan semboyan di beberapa media sosial yang saya baca. Diantaranya sebagai berikut :

Quote:



      Melihat kata-kata diatas saya lumayan terhibur. Walau kata-kata tersebut tidak mewakili keadaan saya saat ini. Setidaknya kita hargai kata-kata atau himbauan tersebut. Padahal di balik himbauan tersebut saya merasa terpukul. Bagaimana tidak, kondisi seperti ini masih tetap hidup sendiri di perantauan. Secara tidak langsung saya hanya menanti ajal. Pilihan untuk mati saat ini adalah mati karena covid atau mati karena tidak makan.

      Oke kita kesampingkan dulu mengenai ajal dan lain sebagainya. Seperti yang saya katakan tadi, mungkin saya masih mampu bertahan selama 6 minggu lagi namun sisa kost saya hanya tersisa sampai akhir bulan. Setelah itu entah mau kemana lagi jika larangan mudik masih diberlakukan.

     coba kita bayangkan semua orang sudah di perbolehkan mudik. Apa iya saya bisa mudik ? uang makan saja masih kayak gitu. Gimana mau mudik coba.
Cari kerja? lebaran sisa beberapa hari lagi. Apa cukup waktunya ? apa ada pekerjaan yang masih akan berjalan ketika kondisi seperti sekarang ? pasti ada kok. Jujur aja ini membuat saya putus asa.

Saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca karena telah meluangkan waktunya untuk membaca sedikit cerita atau unek-unek saya.

Semoga cobaan ini segera berakhir. Untuk yang sehat semoga tetap sehat, untuk yang sakit semoga di beri kesembuhan.

Bagi kalian yang bernasib lebih beruntung dari kondisi saya sekarang syukurilah dan terus berjuang.

Untuk yang senasib, ayo kita berjuang jika mau pasti ada jalan
Untuk yang bernasib lebih buruk dari saya. Jangan menyerah kawan

Bagi pemerintah. Saya harap yang terbaik dari kalian, semoga dalam menerapkan peraturan dan memberi bantuan selama pandemi ini sudah sesuai sasaran. Karena masih ada banyak kondisinya yang seperti saya atau bahkan lebih buruk.

Oke saya rasa sekian, mungkin jika kalian berkomentar saya tidak bisa membalas komentar kalian, karena ini adalah kuota internet hari terakhir saya. Jika harus membeli kuota lagi saya harus berpikir panjang dulu hehe.

Semoga jika kondisi terburuk terjadi pada saya. Tidak dikatakan disebabkan oleh covid. Jika memang ingin mengkonfirmasi tolong lakukan pengecekan secara medis, demi ketenangan saya jika sudah pergi.

Yok semangat, tetap berusaha jangan lupa tersenyum
emoticon-Shakehand2

profile-picture
profile-picture
anon009 dan bangthur memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di