CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eb93b6868cc9521fd2a7ae0/anies-akui-ke-media-asing-januari-sempat-dilarang-lakukan-tes-covid-19

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Suara.com - Kepada media Australia, The Sydney Morning Herald, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku sempat dipersulit pemerintah pusat dalam pencegahan wabah virus corona covid-19.

Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan, disebut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, sempat tak mengizinkan Pemprov DKI Jakarta melakukan tes covid-19 pada Januari lalu.

Padahal, kata Anies, Pemprov DKI Jakarta telah mendeteksi keberadaan wabah virus corona di Indonesia sejak Januari atau dua bulan sebelum Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus infeksi pertama pada 2 Maret 2020.

"Ketika jumlahnya mulai naik terus, pada waktu itu kami tidak diizinkan melakukan pengujian. Jadi, setiap kali kami memiliki kasus, kami mengirimkan sampel ke lab nasional (yang dikendalikan pemerintah)," kata Anies dikutip dari The Sydney Morning Herald, Jumat (8/5/2020).

"Dan kemudian lab nasional akan menginformasikan, positif atau negatif. Pada akhir Februari, kami bertanya-tanya mengapa semuanya (sampel tes) dikatakan negatif?" tambahnya.

Dalam prosesnya, usaha Pemprov DKI Jakarta dalam menangani wabah virus Corona memang kerap tak sejalan dengan pemerintah pusat.

Permintaan Anies Baswedan untuk memberlakukan karantina wilayah di Jabodetabek pada akhir Maret lalu bahkan ditolak mentah-mentah oleh Istana Negara.

Sebagai gantinya, Presiden Joko Widodo justru memilih menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang secara aturan tak seketat karantina wilayah alias lockdown.

Kekinian, pemerintah pusat menyampaikan narasi-narasi optimistik bahwa curva infeksi virus Corona di Indonesia mulai mengalami penurunan.

Gugus tugas COVID-19 Indonesia juga memprediksi masyarakat bisa kembali kekehidupan normal pada Juni atau Juli kendati waktunya disebut-sebut kembali mundur hingga Agustus.

Hal itu kemudian dibantah oleh Anies. Menurutnya, dari data yang pihaknya himpun, belum ada tanda-tanda curva infeksi Covid-19 di Tanah Air akan segera melandai.

Anies juga menyindir pemerintah pusat yang dinilainya kurang menganggap penting ilmu pengetahuan dan hasil penelitian sebagai dasar kebijakan memerangi Covid-19.

"Mengapa saya tidak ingin membuat prediksi? Karena saya melihat data, itu tidak mencerminkan sesuatu yang akan segera berakhir," jelas Anies.

"Itulah yang dikatakan oleh para ahli epidemiologi. Ini adalah waktu di mana para pembuat kebijakan perlu mempercayai ilmu pengetahuan."


Lebih jauh, Anies juga mengaku frustrasi dengan tidak kompaknya kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Kemenkes disebutnya tak transparan soal data.

"Dari pihak kami, bersikap transparan dan memberi tahu (orang) apa yang harus dilakukan adalah memberikan rasa aman. Tetapi Kementerian Kesehatan merasakan sebaliknya, bahwa transparansi akan membuat panik. Itu bukan pandangan kami," ungkap Anies.

Demi mendukung klaimnya, Anies mengungkapkan bahwa Jakarta memiliki lebih banyak kasus dari angka resmi pemerintah yakni 4.770 infeksi dan 414 kematian.

Tingginya angka kematian akibat Covid-19 di Jakarta disebut Anies dapat terungkap dari lonjakan jumlah pemakaman yang begitu masif dalam beberapa bulan terakhir.

Pada paruh kedua Maret, jumlah pemakanan di DKI Jakarta mencapai 4.300 layanan, sementara pada April 4.590.


Sebelum wabah virus Corona, rata-rata jumlah pemakaman di Jakarta adalah 3 rbu layanan. Hal ini menunjukan kenaikan sebanyak rata-rata 1.500 kematian perbulannya.

"Kelebihan kematian ini adalah kasus COVID probabilitas tinggi, dan kemudian jika kita mengatakan lima hingga 10 persen (angka kematian), mungkin di luar sana, ada 15 hingga 30.000 infeksi [di Jakarta]," ungkap Anies.

"Kami pikir jumlah (kematian dan infeksi) jauh lebih tinggi dari apa yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan," tandasnya.
sumber

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Banyak juga ya yang harus di bold dari pernyataan Anies.
Baik, sekarang waktunya buka-bukaan, untuk menilai sejauh mana Anies jujur, berkata sesuai data dan logika, atau hanya mencari sensasi demi pembenaran semua langkahnya?

Pertama-tama, Anies menyatakan bahwa ia telah mendeteksi keberadaan wabah virus corona di Indonesia sejak Januari 2020. Lalu berdasar keterangannya di surat kabar lain, Anies memerintahkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengeluarkan pers release tanggal 22 Januari 2020. Apakah benar?

Jawabannya benar, ada disini. Saat itu penamaan Covid-19 masih nCoV atau Novel Coronavirus.

Lalu, Anies juga mengatakan bahwa dia juga telah melakukan rapat dengan jajaran pimpinan dinas mengenai penanganan virus Corona ini tanggal 29 Januari 2020. Apakah ini benar juga?

Jawabannya benar. Video mengenai hal itu dimuat disini

Dan dibawah ini adalah langkah yang diklaim Anies dalam menghadapi wabah Corona dari bernama nCoV hingga Covid-19 :

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Nah, sekarang kita masuk pada pembahasan mengenai keselarasan antara ucapan dengan kerja. Apakah klaim Anies mengenai pemantauan berbanding lurus dengan pembuktian dilapangan?

Kita ketahui bersama, bahwa setiap kematian dalam masa wabah ini, jika ada pasien wafat, entah serangan jantung, ispa, ginjal, ashma, dan lain-lain, maka SOP Covid-19 jelas diberlakukan. Dan semua jenazah ditangani dengan pemakaman langsung oleh pihak RS dan Gugus Tugas Covid-19, tak boleh dibawa pulang keluarga. Alhasil statistik pemakaman pasti akan bertambah, karena semuanya masuk 1 pintu datanya. Dan jika pasien wafat di wilayah DKI Jakarta, pasti dimakamkan di wilayah DKI Jakarta juga. Berbeda dengan masa sebelum pandemi, pasien dimakamkan oleh pihak keluarga, dan itu bisa saja dibawa ke kampung halaman, bisa juga dimakamkan di pemakaman wakaf yang tak masuk statistik pemakaman milik Pemprov DKI Jakarta. Artinya? Jelas klaim Anies mengenai bertambahnya tingkat kematian dan pemakaman bukan berarti mereka positif Corona. Dan seharusnya Anies paham akan hal ini. Masa sekelas gubernur tidak paham?

Lalu, meskipun Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah mengeluarkan pers release tanggal 22 Januari 2020, bukan berarti hal itu dilaksanakan oleh mereka. Buktinya aktifitas masyarakat masih normal. Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan di gerbang masuk Jakarta? Dimana? Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta saja, petugas pemeriksa hanya menggunakan thermometer ketek dan petugasnya pun terbatas. Bahkan nakes di Puskesmas-puskesmas bekerja seperti biasa. Sampai bulan April mereka masih memakai jas hujan. Meskipun tanggal 29 Januari Anies melakukan rapim mengenai Corona,sejak tanggal 22 Januari, Anies justru rapim membahas mengenai banjir, TIM, dan lain-lain. Sampai bulan Februari pun Anies masih bernafsu mengadakan Formula E. Buktinya uang jaminan event ratusan milyar dibayar Anies dibulan Februari.

Klaim Anies bahwa dia dilarang melakukan test Corona juga patut dipertanyakan. Dia melakukan dengan memakai apa? Rapid tes tidak ada. Alat PCR tidak ada. Dan diawal wabah Corona, pemerintah memang melalukan test dengan sistem 1 pintu, dan itu berlaku buat semua Pemprov, bukan hanya Jakarta.

Anies jelas berbohong. Bahkan nafsunya meminta lockdown cuma prestisius tanpa kemampuan memadai. Hanya PSBB saja Anies kelimpungan. Penerapannya amburadul. Semua peraturan hanya berisi himbauan tanpa penegakan hukum. Bahkan hingga hari ini. Rumah ibadah masih ramai. Apa Anies picek? Budeg?

Yang namanya melakukan pemantauan sejak awal, pastinya wilayah yang dipimpinnya tak akan menjadi episentrum pandemi. Nyatanya? Jadi gak usah ribut soal data. Kalau dia heran mengenai semua yang ODP hasilnya negatif setelah dites oleh Kementerian Kesehatan, apakah yang ODP diawal laporan Anies ada yang akhirnya positif dan mati? Nyatanya tidak.

Omongan Anies gak bisa dipegang. Dari soal Bansos, soal lab level 3, semuanya omdo. Anies cuma nyari panggung ditengah wabah Corona. Dan itu menjijikan.

Dari semua pemimpin wilayah, cuma Anies yang sibuk konferensi pers. Bahkan sampai Jakarta punya Wakil Gubernur pun, Anies enggan membagi tugas dengan Wakilnya. Kenapa? Mungkin dia tak mau jatah dana operasionalnya yang 0,10 persen dibagi 2. Atau dia menganggap bahwa dia mampu berjalan sendirian.

Anies bawa-bawa ilmu pengetahuan?
Jelas-jelas dia penganut Sunatullah. Koq sekarang sok bicara soal ilmu pengetahuan.

Dan sekelas The Sidney Morning Herald bisa kena prank Anies? Bodoh sekali. Belum tau Anies dia.
Hehehe...

profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 171 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh i.am.legend.
Halaman 1 dari 8
Gak salah anies gak makan emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 23 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Seharusnya Anies melakukan cara apapun agar bisa test. Seperti ini

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Ternyata

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh saya.kira
Lihat 19 balasan
Sekarang dah boleh?

Dah brapa yang dites?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 20 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Udah lah Nies cerita masa lalu biarlah berlalu,sekarang saatnya kerjain apa yang ada didepan mata emoticon-Big Grin
Didepan mata ada masalah baru bukan diselesaikan,malah mundur lagi kecerita lamaemoticon-Najis


Bat@!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
playerbaru dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Mak lambe pernah posting tuh kenapa aboed getol banget minta lokdon. Serem juga sih kalo beneran apa kata mak lambe.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 24 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
penganut sunatullah... waw emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 21 lainnya memberi reputasi
Lihat 7 balasan
Di komen gw, gw berusaha adil.
Gw benarkan klaim Anies soal pers release dari Dinkes DKI Jakarta tanggal 22 Januari 2020.
Gw benarkan juga soal Anies rapim tanggal 29 Januari 2020.

Dan sayangnya, gw cuma bisa membenarkan 2 hal itu.

Fakta lain membuktikan kalau Anies cuma klaim untuk hal yang lain.
Jadi kalau ada pendukung Anies yang mau menyanggah atau membantah, bantah komen gw, dengan data juga, jangan oot.

Jangan bangga pamer kegoblokan disini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 45 lainnya memberi reputasi
Lihat 14 balasan
wagub dki kemana ya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 19 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan
nah buka2an aja biar rame...

kami suka keributann...

emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 19 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
astajim, Tes dari Hongkong, wong gabener wan abud bulan januari masih sibuk berenang2 di DKI emoticon-cystg





Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19

Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh mahoICEheart
Lihat 2 balasan
Tanggal 29 rapim apaan, dibilangnya apaan

Udahlah tong, januari itu anies goblog lagi sibuk banjir dan formula eeq

emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga
Anies Akui ke Media Asing: Januari, Sempat Dilarang Lakukan Tes Covid-19
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 19 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh converti
Lihat 8 balasan
enjoy jekardahemoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 14 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
ya wajar awalnya itu test covid kan terpusat di laboratorium Kemenkes. buka dilakukan daerah sendiri.

sesuai aturan juga kan

Melihat rekam jejak Puslitbangkes dalam menjalankan perannya untuk mendeteksi virus corona, hal ini telah sesuai dengan Permenkes Nomor 658 tahun 2009. Di sana tertera bahwa Puslitbangkes sebagai rujukan nasional untuk penyakit new emerging dan re-emerging.

https://m.kumparan.com/kumparansains/lab-biosafety-2-tempat-kemenkes-lakukan-prosedur-diagnostik-virus-corona-1svVo9etbEg
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 23 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
muka tebel + fans ga tau diri,

udah complete gan emoticon-Wow
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 18 lainnya memberi reputasi
TS nya idiot. Jangan tanya alasannya kenapa. Pokoknya idiot.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 23 lainnya memberi reputasi
Lihat 9 balasan
Anis yg disalahkan yaaa
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 11 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Salah Joko baswedan emoticon-Wakaka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 12 lainnya memberi reputasi
Perhatiin deh, dari kemarin Pak Anies beritanya berkiblat ke media asing, media asing, media asing melulu?
Mulai dari langkah2 yang diambil, perbandingan dengan gubernur lain, frustrasi terhadap menteri, sekarang mengeluh dilarang & dipersulit oleh pemerintah pusat.

Besok apa lagi beritanya Sidney Morning Herald...?

Ada apa ini... urusan dalam negeri kok diumbar ke negara asing.

Kalau saya, ada masalah di rumah, tidak diumbar ke tetangga kan.

Malu.

emoticon-norose
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 29 lainnya memberi reputasi
Lihat 13 balasan
Tes pakai apa pak?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 11 lainnya memberi reputasi
Pesan moralnya pemerintah daerah DKI n pemerintah pusat ga ada yg siap hadapi corona..emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 24 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan
Halaman 1 dari 8


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di