CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Flashback: Pengakuan Pelaku Penjarahan Kerusuhan Mei 98
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eb90945c342bb71b80fc5dc/flashback-pengakuan-pelaku-penjarahan-kerusuhan-mei-98

Flashback: Pengakuan Pelaku Penjarahan Kerusuhan Mei 98


Flashback: Pengakuan Pelaku Penjarahan Kerusuhan Mei 98




Quote:



Salah satu warga yang menjarah Roxy, Yogya Mal Klender, ataupun Plaza Orion. Semua membenarkan ada segelintir massa provokator sebelum pertokoan Tionghoa dijarah. Data TPGF menguatkan dugaan keterlibatan militer dalam tragedi itu. 

Mulyadi, yang kala itu masih berumur 16 tahun, ikut berjalan bersamaan dengan ratusan orang lainnya menuju salah satu pusat perbelanjaan yang terletak di Tomang, Jakarta Barat. 14 Mei 1998, tengah hari dengan matahari yang cukup terik, ia rela berjalan menerobos panasnya Jakarta bersama penjarah lainnya, hanya karena mendengar adanya kabar banyak barang yang berhasil dibawa pulang oleh penjarah lainnya. Berjalan sejauh 3 kilometer, akhirnya ia sampai di Roxy Mas dan Topas ( saat ini bernama Roxy Square ).

Hingga sekarang, Mulyadi masih belum bisa membahasakan pengalamannya menjarah Roxy. Ia mengatakan bahwa pekan tersebut adalah pekan paling "kacau". Mereka yang menjarah toko-toko etnis Tionghua menyebutnya sebagai "Hari Kebebasan". Dari tanggal 13 - 15 Mei 1998, hampir seluruh pertokoan etnis Tionghua disikat habis. Bisa dibilang, Jakarta sedang mengalami intensitas penjarahan terparah sepanjang masa, miris ? Ya !



Flashback: Pengakuan Pelaku Penjarahan Kerusuhan Mei 98

"Namanya Hari Kebebasan, mungkin karena semuanya bebas masuk sana sini, ambil barang disana sini, emang lagi rusuh rusuhnya pas Mei itu," ucap Mulyadi yang dijumpai oleh staff kami di salah satu warung kopi yang adai di Grogol, Jakarta Barat.


Ketika Mulyadi tiba di Roxy Mas, seingatnya situasi masih tenang. Hanya ada beberapa aparat berjaga. Namun rombongan Mulyadi tidak seberuntung massa sebelumnya. Mereka tidak bisa masuk. Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang. Mereka gigih mengajak massa lain menjarah toko-toko yang konon milik pengusaha Tionghoa. Segelintir orang itulah yang mulai melempar kaca pertokoan dengan batu. Massa ikut beringas, dan mulai merangsek masuk. Sebagian terpaksa mundur kembali karena ada serangan balik aparat yang menembakkan peluru karet sambil sesekali menghujani calon penjarah dengan gas air mata.


"Kalau saya lihat memang ada unsur provokasi. Awalnya belum terjadi apa-apa, tau-tau kaca pecah dilempar batu, akhirnya semua jebol, ada yang masuk dari basement juga, pas didalem ditembak pakai gas air mata juga," terang Mulyadi.


Menariknya, polisi yang harusnya menghalangi massa untuk masuk, justru ada yang mempersilahkan masuk dan mengatakan boleh saja untuk mengambil barang, asal jangan banyak-banyak. Sebuah realita yang cukup menyedihkan, dimana aparat penegak hukum justru mempersilahkan adanya tindakan kejahatan untuk dilakukan.


Mulyadi termasuk orang yang berhadapan dengan aparat yang "ramah". Sayangnya keberuntungan Mulyadi hanya sampai situ saja, pasalnya saat ia mengambil barang keluar, ia dihadang oleh aparat dengan rambut cepak sembari menodongkan senjata laras panjang. Namun Mulyadi tidak serta merta pulang tanpa membawa apa-apa, ia mencoba masuk ke Topas bersama anak ingusan lainnya, menerobos gas air mata, lantai yang penuh kaca, serta penjagaan aparat yang lebih minim, namun naas, hanya sekaleng biskuit saja yang berhasil ia ambil.


"Waktu itu ramai, jadi ya spontan aja ikutan. Kita kan pribumi, jadi ga bakal diapa-apain, soalnya kan yang dijarah punya Cina," ungkap Mulyadi.


Ketika kerusuhan pecah di jantung perdagangan Glodok, Jakarta Barat, pertengahan Mei 1998, Junaedi dan kelima kawannya yang belum tamat Sekolah Menengah Atas bergegas mendekati sumber keributan. Situasi jalanan kala itu sepi, tak ada mobil lalu lalang di jalanan yang biasanya sibuk, hanya tank dan mobil aparat siap berjaga. Asap mengepul dari belakang gedung pusat perbelanjaan elektronik Plaza Orion dan Harco Glodok sesekali diselingi letupan peluru karet dari kejauhan, banyak orang berlarian. Bukannya kabur, Junaedi yang baru 17 tahun saat itu mendekat ke Plaza Orion yang jendelanya sudah hancur berserakan.


"Cuma setahun sekali nih, ambil aja, cuma setahun sekali....," ungkap seseorang yang berpapasan dengan Junaedi.



Semua tidak saling kenal, namun orang-orang menyuruh Junaedi untuk menjarah barang yang ada di Orion Plaza. Namun nurani Junaedi tidaklah sejahat itu, ia mengaku bimbang.


"Ambil, jangan ambil, begitu terus yang ada di hati saya. Bimbang. Barang pada dilemparin keluar dari dalem Orion," lanjut Junaedi.


Flashback: Pengakuan Pelaku Penjarahan Kerusuhan Mei 98

Saat itu, ada puluhan orang yang masuk kedalam Orion. Semua dioper-oper, mulai dari TV berukuran 32 inch sampai barang-barang kecil seperti Walkman juga turut disikat. Banyak orang yang meyakinkan Junaedi untuk mengambil barang yang mereka jarah.


"Waktu itu sih ada yang suruh ambil, cuma ya gitu, saya ga kenal sama orangnya. Orang sekitaran situ juga diam saja," terang Junaedi.


Pada saat itu Junaedi hanya membawa pulang sebuah walkman kecil. Ia mengaku tidak berani menerobos kedalam Orion. Namun ketika berjalan pulang, ada yang memberikannya TV 14 inch serta sebuah speaker aktif.


"Ada bapak-bapak bilang gini ke saya 'ini tv, satu orang satu, loe satu gue satu', kalau baju-baju gitu juga banyak, ada konveksi soalnya, bajunya lusinan dibuang-buang."


Sudah 20 tahun lebih kejadian itu terjadi. Junaedi saat ini, di tempat yang sama sedang duduk sembari menghisap rokok kreteknya. Menikmati ketenangan kota Jakarta. Tidak ada lagi kerusuhan yang terjadi, tidak ada lagi kobaran api, tidak ada lagi tembak menembak dan baku hantam dengan aparat. Sembari bersantai, ia mengenang sebuah tragedi, sebuah luka lama, sebuah lembaran hitam dari apa yang pernah dialami Republik Indonesia.


Junaedi juga mengaku dirinya menyesal pernah melakukan hal tersebut. Ia sadar, tindakan penjarahan toko etnis Tionghua bukanlah hal yang benar.


"Kalau dibilang nyesal, pasti nyesal. Jangan sampai deh yang beginian terjadi lagi," tutup Junaedi dengan senyuman kecil di bibirnya.


Selama momen menjelang tumbangnya Orde Baru, situasi di Klender Jakarta Timur tak kalah kacau. Terbakarnya Yogya Plaza Klender menyebabkan lebih dari 400 orang tewas. Beberapa saksi mata mengaku ada sekelompok orang terlatih yang memprovokasi massa atau warga menjarah barang di dalam gedung. Samsul Hilal, saat itu berusia 33 tahun, ada di dalam gedung Yogya Klender mencari ponakan dan tetangganya yang diduga masuk ke gedung Yogya Plaza Klender.


Tidak bisa dipungkiri, jika melihat kilas balik kerusuhan Mei 1998, bisa dibilang kisah tersebut adalah fragment sejarah paling brutal, paling buruk, dan paling mengerikan yang pernah dialami bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. 


Saat itu nilai tukar Rupiah anjlok hingga titik nadir, mencapai 16 ribuan per 1 USD. Di waktu yang sama pula hutang Indonesia semakin besar karena tidak mampu membayar. PDB anjlok 13,5%, BBM naik hingga 70%, pemutusan kontrak kerja juga terjadi dimana-mana. Rezim Orde Baru mengkambinghitamkan etnis Tionghua atas semua yang sudah terjadi. Kala itu pemerkosaan terjadi dimana-mana, penculikan aktivis, bahkan kekerasan dan pemukulan terjadi hampir disetiap sudut kota. 


Kerusuhan Mei 1998 awalnya dimulai dari sekitaran kampus Trisakti, tepatnya di tanggal 13 Mei. Keesokan harinya kerusuhan menyebar ke seantero Jakarta hanya dalam waktu dua jam saja. Mall dan pertokoan semua dijarah habis dan dibakar. Dalam waktu tiga hari saja tercatat ada 1.188 orang dilaporkan tewas, itu yang dilaporkan, bagaimana dengan yang tidak tercatat ? Jelas jauh lebih banyak ! Mengerikan.


Sandyawan Sumardi, salah satu anggota TGPF, menyatakan pada awalnya timnya dibentuk pemerintah sebagai formalitas agar seakan-akan Indonesia sudah menangani kejahatan terhadap kemanusiaan. Seiring berjalannya waktu, investigasi dan laporan TGPF menjadi lebih luas dari tugas awal.



Sayangnya, setelah laporan TGPF dirilis pada 1999, tidak pernah ada aktor intelektual yang diseret ke pengadilan untuk bertanggungjawab.


“Tragedi Mei, pada dasarnya adalah operasi militer, bukan karena [konflik] rasial, bukan juga karena krisis ekonomi yang jadi penyebab utama. Nah ini publik salah besar dalam menilai. Apalagi kalau ini dinilai sebagai masalah konflik dengan orang keturunan Cina. Itu terlalu bodoh menurut saya, karena kita digiring pada problem superfisial,” ungkap Sandyawan ketika ditemui VICE di kantornya. “Tragedi Mei, dibuktikan oleh TGPF totally operasi militer. Konflik itu digunakan untuk mencapai tujuannya supaya pemerintahan [Orde Baru] berkuasa kembali.”


Sandyawan mengatakan bahwa TGPF berhasil membuktikan adanya pola yang dipersiapkan oleh aktor intelektual untuk menciptakan kerusuhan. Misalnya adanya sejenis “pelatihan”, tiga bulan sebelum Tragedi Mei. Pelatihan ternyata tidak hanya diikuti personel militer tapi juga dilakukan masyarakat sipil seperti organisasi masyarakat dan paramiliter yang kelak disebut “pasukan siluman.”


“Pertama ditiupkan isu besar bahwa ‘ini saatnya kalian yang sudah begitu lama ditindas dan begitu lama menjadi korban miskin, mengambil alih hak kalian. Jadi barang-barang besar di toko elektronik seperti TV silahkan ambil,' Balas dendam publik [dihembuskan oleh] intelijen kepada masyarakat,” ungkap Sandyawan.


“Isu itu ditebarkan begitu luas. Ketika masyarakat mulai bergerak, ada yang memimpin yang disebut orang-orang sipil berbadan tegap, plontos, betul-betul militeristik.”


Mulyadi, Junaedi, dan Samsul masih bisa pulang dengan selamat selama kerusuhan terjadi. Lain cerita dengan Muhammad Saparudin, biasa disebut Endin. Sore 14 Mei, kakak Endin, Siti Prihati sempat melarangnya mendekati Yogya Plaza Klender karena situasi kacau. Tapi Endin berkeras, dengan alasan bukan menjarah melainkan pergi ke rumah kawannya. Itulah momen terakhir kalinya Siti melihat Endin yang belum genap 17 tahun. Siti tak pernah sekalipun punya kesempatan menguburkan jasad adiknya—kalau benar ia turut jadi korban kebakaran mal. Selain kehilangan Endin, keluarga Siti harus rela seumur hidup diberi cap “keluarga penjarah”.


“Ada yang berhasil itu bolak-balik bawa [barang], tapi adik saya mah enggak. Enggak pernah pulang. Enggak kelihatan jasadnya, ya kita mau gimana lagi? Mau nyari ke mana?” ujar Siti. “Kita ikhlaskan saja, kalau enggak ikhlas juga kasihan.”


Feri Kusuma, selaku Deputi Bidang Strategi dan Mobilisasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), terlibat dalam rehabilitasi keluarga korban Tragedi Mei 1998. Fokus utama yang dia dampingi adalah mereka yang meninggal dalam “kerusuhan", baik etnis Tionghoa maupun korban kebakaran saat momen penjarahan terjadi. Menurut Feri, hal terberat yang mesti dihadapi adalah stigma yang melekat pada korban dan keluarganya.


Flashback: Pengakuan Pelaku Penjarahan Kerusuhan Mei 98

“Sampai hari ini stigma itu masih melekat pada para korban dan keluarganya ketika mereka dinamai ‘para penjarah’ atau ‘keluarga penjarah’,” kata Feri saat diwawancarai VICE di bilangan Cikini, Jakarta Pusat. “Sehingga, hal itu menegasikan substansi dari peristiwa itu. Peristiwa ini kan sebetulnya pelanggaran HAM berat dan dibuat secara sistematis oleh aktor-aktor Orde Baru untuk menciptakan sebuah situasi yang chaos.”


Feri memandang bahwa pada situasi kacau saat itu tidak mudah bagi warga biasa yang kebanyakan remaja dan anak-anak untuk berani melakukan “penjarahan” dalam jumlah massa yang besar. Kebanyakan pasti takut pada aparat yang berjaga seperti tentara atau polisi yang berjaga.


“Mengapa dalam situasi itu mereka berani? Kalau saya lihat polanya begini, mereka dijebak untuk melakukan penjarahan lalu dibakar. Mereka jadilah korban penjarahan, sehingga [dianggap] wajar mereka dibakar atau dibantai karena mereka penjarah. Itu logika yang selama ini banyak diterima,” kata Feri.


Mulyadi, Junaedi, dan Samsul hanyalah sebagian kecil orang yang kala itu terprovokasi masuk ke dalam pusaran politik Mei 1998. Setelah diwawancarai VICE, mereka semua mengaku menyesal ikut mengambil barang elektronik, berkarung-karung baju, atau sekaleng biskuit, yang bukan haknya.


Setelah 20 tahun berselang, aktor intelektual kerusuhan massal dan penjarahan tak pernah ketahuan rimbanya sampai sekarang.


“Enggak mungkin ada kejadian penjarahan masif, terorganisir kalau enggak ada kekuatan politik yang mendorong mereka,” kata Feri. “Dalam kasus 13-15 Mei [memang] ada orang-orang yang kelihatannya ‘menjarah’. Pertanyaannya, apakah benar itu semua karena kesalahan mereka?”


Sumber: Vice, Google, Opini, Kompas, BBC




Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eddiesangadjie dan 201 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kikirakaki
Halaman 1 dari 11
Pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta tahun 1999, liburan baru lulus SMP.
Bekas pusat perbelanjaan yang terbakar masih banyak terlihat.

Ramayana Cengkareng,
Hwi Lindeteves,
Harco Glodok,
Yogya Daan Mogot,
Komplek Nila Alam di Kalideres,
Sabar-Subur Moh. Toha (Tangerang),

Masih banyak bekas gosong yang belum diperbaiki.
emoticon-Takut

Roxy dan Roxy Mas gak keliatan bekas nya, mungkin sudah diperbaiki.

Padahal di berita, tidak sebrutal itu.
Cuma semua toko di kota kelahiran gw, dipasang tulisan:
MILIK PRIBUMI


Ternyata kenyataannya jauh lebih brutal dan sadis.
Gw yang baru beranjak gede aja merinding membayangkan kejadian nya dari bekas gedung yang pada terbakar itu.
emoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 35 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh junaedi1982new
Lihat 8 balasan
Masih aja gan tahun 98 dibahas emoticon-Frown jadi sedih keinget waktu itu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 20 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
dipertamxin ama junaedi juga emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 17 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Quote:

ia gan .. sebagai reminder kalau Indonesia pernah melewati sejarah kelam meski sudah merdeka

Quote:


Bener juga gan emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 14 lainnya memberi reputasi
Dan sampai hari ini pun, masih ada idiot yang gak belajar dari masa lalu, masih berusaha menggunakan isu sara untuk kepentingan sendiri.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 29 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
dan skrng mall mall baru pisat perdagangan etis tionghoa juga yg punya sebagian pribumi masih mlarat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 17 lainnya memberi reputasi
Provokasi Di Yogya Mall Klender bener tuh, bapa gw liat sdr.

Temen2 gw dulu malah bangga pamer barang jarahan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 21 lainnya memberi reputasi
Gara gara mei 98 .. ateis cina melampiaskan kebencian mereka ke muslim di kaskus dengan mennghina hina islam ..


Karena mereka pikir penjarah itu adalah muslim yg benar ..


Padahal para penjarah itu muslim ktp .. seperti yg berita di trit ini ..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 29 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan


Provokator nya siapa yg disalahin siapa..

Memang bangsa ini yg paling gampang diadu domba..

emoticon-Cape deeehh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 20 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
cuma bisa kita pelajari jangan sampai terulang lagi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 12 lainnya memberi reputasi
Dan sebagian orang pun masih mempunyai pandangan buruk terhadap etnis cina. Bahkan pernah temen saya pesan ojek online sebelum berangkat ditanya "Kamu cina ya?" Terus ama drivernya suruh cancel. Emang kenapa si?? Kan sama sama manusia. Atau yang benci jangan jangan bukan manusia. Ups emoticon-Shutup
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 22 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
gw kelas 5 SD, lagi pada mau renang eh tiba tiba ada kerusuhan ini, pada ngejarah toko-toko, di deket SD gw, semua abis itu toko yg punya g tau kmna, tmn gw dpt ngejarah di mol jogja klender dpt jersey MU asli di jual ke gw 😊
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 17 lainnya memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Quote:

yah begitulah gan
Quote:

Siapa lagi dong yg harus disalahin ?
Quote:

Yup ane kkfban juga gan

Quote:

yup islam itu ga jahat, yg jahat mah oknum doang
Quote:

namanya juga endonesah
Quote:

Ane jg bngung, salah etnis tionghua itu apa ? sama2 WNI padahal
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 16 lainnya memberi reputasi
Hahaha itu polisinya segaja kalik, "Pokoknya elu masuk ambillah sesukamu agar diriku ada alasan menembakmu" 😘
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 13 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
sedih kalo inget tahun itu gan, pertokoan sekitar rumah udah dibakar dan dijarah abis abisan, mencekam banget suasananya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 10 lainnya memberi reputasi
Yang jelas gara2 peristiwa itu umat muslim disalahkan. Padahal, siapa coba yang pinjamin sajadah ke org2 Tionghoa buat dijemur di pagar biar mereka aman? Siapa yg ikut ngejagain mereka dari ancaman orang luar yang mau bikin rusuh? Ya tetangga2nya yg muslim.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 26 lainnya memberi reputasi
Lihat 6 balasan
kalo gw malah tau2 ada penjarahan pas udh lewat 2 hari pedal gw deket mall.. 😁
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 10 lainnya memberi reputasi
Ane masih jaga-jaga juga ini Indonesia kalau perekonomiannya anjlok lagi mungkin bakal rusuh lagi mirip tahun 98 bahkan lebih brutal lagi


emoticon-Cape deeehh


Ane takut tuh bapak ane kerja di Jakarta waktu itu pas banget bapak ane bawa motor honda GL100 pas pulang ngos-ngosan hampir di jarah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 17 lainnya memberi reputasi
Selalu seru ya kalo baca sejarah dan pengakuan peristiwa tahun 98 ini, penasaran dulu kondisi sebenernya gimana
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 13 lainnya memberi reputasi
anjir, kaka gw peenah cerita klo dulu 2bulan abis kerusuhan pas die lagi makan di emperan pernah di tawarin bocah "kalkulator" ditawarin dari harga 50rb (jaman 98, 50rb gede nilainya) ditolak ama kaka ane sampe tu harga yg ditawarin turun jd 20rb.

Kasian juga juga ama tu bocah akhirnya kaka ane minta liat "kalkulator" nya dan ketika di tunjukin ternyata laptop emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Dah kaka ane ga ambil tu barang takut karma dan tu bocah dikasih uang aja bwt jajan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tafakoer dan 22 lainnya memberi reputasi
Lihat 5 balasan
Halaman 1 dari 11


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di