CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eb8f7f88d9b17074f25a750/hidup-itu-sruput-kopi

Hidup itu Sruput Kopi

profile-picture
profile-picture
profile-picture
mahyu7997 dan 17 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiocatra919

Hidup itu Sruput Kopi 1

"TOLONG RUDI OM !!!" 01

Siang itu jam dua an tiba tiba masuk telp dari seberang, seorang perempuan umur 25 taunan seperti gupuh menahan rasa bingung yang dalam dan kekalutan situasi....

"asalamualaikum om, ini dewi om "
"waalaikumsalam, iya ?"
"ini dewi om , Juleha om, alias dewi ?"
"oh, iya..mbak dewi queen ya ?"
"iya om, tolong dewi om "
"ada apa ?"
"ini om, Rudi om "
"iya, knapa Rudi ?" kemudian ku sambung "tolong gimana ?"
"Rudi sakit om, kmaren pulang kerja dari Jakarta mengeluh pusing trus aku kerok. Trus aku bawa ke puskesmas malah tambah sakit parah om, kayak nggak sadar om, kayak kesurupan om. tolong om... " kata dewi menjelaskan situasi secara singkat, dia terlihat gupuh, seperti menahan rasa galau nan sangat, suaminya si Rudi sakit keras tanpa sebab....

Aku kenal dewi dari media sosial FB , juga telah bertahun tapi ternyata juga tak seperti yang aku sangka kupikir dia mengamalkan tareqat seperti aku , selidik punya selidik ya "Fans Berat" aja....

Kemudian sering komen komenan di FB dan pernah mengunjungi murid Kyai Guru di Banten, ternyata dia asli Banten sana, daerah yang terkenal mistis seputaran Jayanti...

Suaminya si Rudi, asli Grobogan Timur bernama Kradenan. Sebelah Timur Stasiun kereta api...

Kembali ke cerita...
"lha saya bisa bantu apa ?" kataku sambil ketularan bingung di seberang, kudengar suara mengaduh aduh dan teriak kesakitan menggelora sesekali seperti backsound sebuah film...

"lha sekarang posisi dimana ? "
"di rumah om ?"
"lha kenapa nggak dibawa ke rumah sakit ?"
"jauuh om, mana dewi sama emak dan si kecil.. Aduh om tolong om " kata dewi dari seberang....
"pas priksa kata dokter kmaren apa ?"
"sakit biasa om. Pusing biasa om... Dewi takut om Rudi kayak kesurupan, matanya merah !!!"
"ya udah Nama Rudi lengkapnya siapa dan bin siapa ya nanti saya bantu..."
" bin maksudnya ?"
" ya nama bapak Rudi siapa ? Tulis sms atau di BBM ya " kataku, jaman itu belum nonggol aplikasi WA...
profile-picture
profile-picture
bat4k0 dan cos44rm memberi reputasi
Diubah oleh kiocatra919

Hidup itu Sruput Kopi 2

"TOLONG RUDI OM !!!" 02

Kemudian Kiriman BBM masuk dan aku bantu doa setelah sholat dhuhur. Selepas dzikir pondasi dan mulailah ku doakan dengan doa khusus yang diajarkan kepada kami para muridnya....

Dan selepas itu telp masuk lagi, dari seberang...
"asalamualaiakum om "
"wa'alaikumsalam . Bagaimana Rudi ?" tanyaku...
" lumayan om. Rudi dah mendingan nggak kesakitan lagi...nggak teriak teriak lagi kayak tadi ...."
" sebenarnya kejadian awalnya kayak apa ?"
"kan Rudi kerja di bekas majikan aku om. Itu bantu bangun bangun rumahnya, trus pas pulang di kos kok sakit pusing , trus ijin ke rumah ya saya kerok..."
"ooohh gitu "
" lho bukannya mbak dewi dulu kerja katanya ?"
"iya om. Aku bosen di desa pengen sama emak disini (dibanten) Sempet sih kerja di restoran di jakarta itu trus ya gitu, aku keluar tapi hubungan kami baik jadi sekarang Si Rudi yang disuruh bantu kerja disitu " jeda sejenak "itu om bangun rumahnya disana. Eh pas pulang dapat hari ke dua satu belum nyampe Rudi sakit kayak gini om..."
Tiba tiba obrolan by phone keputus, si Rudi teriak teriak kesakitan dipengangi tetangga. dan ibu mertua...
Beberapa saat aku doa lagi pakai doa yang diajarkan guruku dan sreeet aku coba tarik dari jauh penyakit atau apa ini...
Masuk lagi telp dari seberang..."om tolong om...aku sakit sekali ini, ini tadi mantri datang ngecek sakitku..aduh..aduuuh sakit...arrrrggh...arrrgah..."kata Rudi....
"om gimana ini om....?.. " tanya Dewi
"lha gimana aku tak tau juga ?" jawabku..
"enggak kalo menurut om. Sakitnya Rudi itu apa ?"
" ya bentar bentar... Hem sebentar jangan ditutup..."

Kucoba membayangkan situasi disana seperti apa. Dan hem ada racun ditubuhnya...
Tapi, kayaknya....
Tapi aku ragu ragu...
Ini apa ya ?
Kok aneh ?
Siapa yang salah kalo gini ?
Walah kayak benang kusut ini....
"hallo om ? Maaf om ..."
"iya mbak , udah bawa ke Rumah Sakit Aja !!" kataku "nanti disana dapat pertolongan pertama "
" sakit apa sih om ?"
"ya sakit medis, ada non medis, tapi cenderung medis "
" sekarang posisi dimana ?"
"dirumah Banten om "
"paling deket sama siapa ?"
"ke Kang Aceng om ? "
" ya udah ke Kang Aceng. Ditelp dia sudah selesai kholwat palingan "
" ya om"
Kemudian aku menunggu dirumah, jadi nggak bisa balik ke tempat kerjaku....
Aku menunggu saja apa yang terjadi selepas ashar jam empatan kurang dikit telp masuk....
profile-picture
profile-picture
bat4k0 dan cos44rm memberi reputasi

Hidup itu Sruput Kopi 3

"TOLONG RUDI OM !!!" 03

"hallo ?" kataku sambil angkat telpun dari seberang, lagi mau salam tabrakan ucapkan salam....
"asalmualaikum om, ini kang aceng dah datang dan dah mriksa Rudi om " kemudian "tadi om sebelum kang aceng datang emak manggil orang pintar disini , ya kayak ustadz lah om di doa doain " terang dewi gupuh
"trus kata ustadz itu apa ?" tanyaku...
"ya katanya Rudi sakitnya nggak wajar, gitu om ?"
"coba Kang Aceng mana, om mau bicara "
"asalamualaikum kang "
" walaikum salam kang wahyu "
" piye itu si Rudi ? Sakit apa ?" (bagaimana Rudi)
"lha kepriwek yo kang , kayane larane kayak kue, kaya ana non medise barang kayane, menurut kang wahyu gimana kie ?" kata kang aceng pakai logat jawa Serang Banten dicampur aduk...
(lha bagaimana ? Sakitnya seperti itu spt ada medisnya tapi kok ada non medisnya)
"lho kok tanya aku ? Kang aceng yang disana gimana . Kesimpulannya aku manut aja, gitu " kataku dan kemudian " lha kata orang pinter sebelum sampeyan datang kayak gimana ?"
" ya sama kira kiranya " jawab Kang Aceng..
"kang kalo dibawa ke jayanti jauh kagak ?"
"jauh kang, ini palingan deket ke aku, jayanti mah 2.5 jam, itu pun anak anak kalo ada, kalo nggak kepriwek ?"
"kalo rumah sakit ?" tanyaku ikutan bingung...
"ya sama kang 3 jam-an lah, pakai mobile siapa kang ?" kata Kang Aceng malah balik tanya makin aku bludreg !!! Kamu tau bludreg ? Kepala pusing karena banyak pikiran....

Kejadian sudah lama dan bergeser banyak yang keluar masuk dalam tareqat , dan itu biasa bagi kami , meskipun sekarang hanya tinggal aku dan kang aceng, dan beberapa lainnya, jayanti biarlah hilang dan biarlah yang tersisa, kapan hari pas dzikir kliwon ketemu Kang Aceng... "lho kang, kapan datang ?" kataku pas ketemu didepan dapur majlis, "wingi kang " tiba tiba dari dalam nyletuk " Kang Aceng diperintah kyai megang dapur " dialah Mas Andre, tapi tanpa pakai stinky....

Karena lamanya kejadian ini. Semua telah bergeser posisi tapi tetap sesuatu yang patut diceritakan dan diambil sebuah hikmah....

"jika engkau ingin mengetahui jalan para Arifin, maka tempulah jalan yang telah mereka lalui. Jika engkau tidak menempuh jalannya, mustahil engkau mengetahuinya, meskipun engkau seorang Ulama. Karena yang demikian itu ada di balik akalmu".

Sejalan dengan hal ini sehingga Syeikh Abu Yazid Al-Busthami pernah berkata:

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَاِمَامُهُ الشيْطَانُ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْخُ فَاالسيْطَانُ شَيْخَهُ
Artinya: "Siapa saja yang tidak memiliki seorang Guru, maka syaitan adalah pemimpinnya. Dan siapa saja yang tidak memiliki Syeikh Mursyd, maka Syaitan adalah Syeikhnya".

Siapa saja yang menjadikan kertas sebagai gurunya, layaknya seorang yang menyimpan kita tabib di rumahnya. Jika giliran ia sakit, ia lalu tidak mampu mengobati dirinya.

Dalam hal ini, penghulu segala wali, Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali juga berkata:

مَنْ لَكُمْ لَهُ نَصِيْبٌ مِنْ عِلْمِ الْبَاطِنِ يُخَافُ عَلَيْهِ سَوْءُ الْخَاتِمَةِ
Artinya: "Siapa saja yang tidak mengambil bahagian dari ilmu batin, di khawatirkan akan su'ul khatimah di akhir hayatnya".
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan cos44rm memberi reputasi
Diubah oleh kiocatra919

Hidup itu Sruput Kopi 4

"TOLONG RUDI OM !!!" 04

Kembali ke track cerita...
Rudi terdengar melenguh dan memgaduh terus....
"kang Aceng bawa air dzikiran ?" tanyaku
"bawa kang "
"udah dioain dah dikasihkan ke Rudi nyak ?" kataku ketularan logat Serang...
"udah kang "
" coba dibalurkan, suruh Dewi lakukan " kataku ngasih instruksi...
Kulihat disana dialog seperti yang aku instruksikan...
"kang udahan dulu nyak. Aku tak bantu si Rudi ?"
"iya makasih Kang Aceng, asalamualaikum "
"waalaikumsalam " dan komunikasi putus...

Eh....setengah delapan malam lebih dikit hape bunyi lagi...
"aslamulamualaikum om "
" waalaikumsalam "
"om maaf ya om ngrepoti, ini bapak Rudi mau bawa Rudi pulang ke jawa "...
"lhah kondisi parah gitu kok dibawa pulang, jauh jawa itu, nanti kalo kesehatan Rudi drop gimana ?" kataku ikut waswas...
" aku mah nurut om. Masalahnya dah keputusan om, udah dibawa ke Purwodadi aja. Nanti deket ke om Wahyu. Kalo ada apa apa gampang. Gitu om ?"
Mendengar kata itu , hatiku langsung mak clesss ....
Kempes....
Nyaliku langsung down...
Aku ini siapa ?
Ini orang orang kok ngasih tanggung jawab ke aku...
Aku ini dukun ya bukan....
Ahli pengobatan ya enggak....
Apalagi dokter spesialis juga jauh dari bukan
Punya klinik kesehatan bukan
Punya pondok juga kagak....
Ahli spiritual ya ora...
" brarti bawa ambulans kan ?" kataku menentramkan hatiku...
"bukan om , ini tadi dah brangkat om, sampai daerah Gubug mau ke arah Semarang..." jelas Dewi...
"maksud om , naik mobil apa ?"
" naik Kijang om "
"Kijang inova ya ?"
" enggak om. Kijang itu kijang super milik omnya si Rudi, yang nyopir omnya sama ponakan dan bapaknya Rudi ikut "
"nanti yang ikut brarti hanya Rudi dan dibawa ke jawa kan ? Mbak Dewi tetep disitu dulu kan ?" tanyaku sambil ngitung bangku mobil pakai batin...
"enggak om aku sama si kecil juga ikut " jelas Dewi dengan lugunya...

Ya Allah , ini apalagi ini....
Mobil segitu bawa orang sakit...
Lokasi jauh...
Mobil dah tua...
Apa nggak empet empetan ...
Apa nggak malah si sakit tambah sakit...
Lagi enak enaknya mikir pakai batin, eh pecah...
"om...om ?"
"eh. Iya..ya.."
"Dewi ama Rudi gangguin om terus ya ?"
,"enggak papa. Nggak papa..." jawabku terbata
" jadi keputusannya keluarga Rudi nanti dirawat di Rumah sakit Purwodadi, agar gampang minta bantuan om kalo ada apa apa om, soalnya sakit si Rudi aneh e om...." jelas Dewi mulai halus....

Aku malah megang kepala karena kunang kunang....
Ini kalo mati gimana ni anak...
Ini kalo bayar Rumah Sakit siapa yang nanggung...
Ini kok pakai pendapat orang pinter, ustadz katanya aku yang bisa nolong...
Semua pada lari ....
Kang aceng tadi ternyata juga langsung pamit pulang nggak nunggu respon si Rudi yang sakit...
Ya Allah, aku mohon ampuuunnnn....
Aku menggigil ketakutan...
Perkiraan keadaan si Rudi....
" kalo mati piye iki bocah ???" (kalo mati bagaimana ?)
Aku seperti memegang tombak cabang tiga, seperti menghakimi takdir dengan otakku....
Aku bener bener tersudut....
Ini kalo istriku tau, malah baratayudha di rumah...
Cenut cenut tingkat dewa...
Aku seperti kunci takdir. Padahal ngurus takdirku dewe aja kesulitan blingsatan nggak kruan...
tapi mungkin bagiku inilah ujian ikhlas itu sendiri...

Tiada yang bisa melampoi takdir dan batas batasnya, tapi kita tak tau sama sekali tentang rel takdir yang harus di lewati makanya, Tetaplah senantiasa ridha ikhlas kepada Allah tentang apa saja yang menimpa kita dan yang terjadi sebab tak ada manusia itu tau akan menjadi apa dan siapa nantinya, sebab Allah itu bersifat baik, dzat yang bersifat baik tak akan mungkin berbuat jahat, ingat baik dalam keadaan bahagia atau sengsara, miskin atau kaya, susah atau senang, sehat atau sakit, buruk atau baik, ketika memperoleh yang engkau kehendaki atau tidak. Aku tidak tahu obat apa yang sesuai, selain daripada menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang haq itu sepahamku. Janganlah benci kepadaNya, serta jangan pula menjauhkan diri dari padaNya. Karena semua yang terjadi itu adalah ujian dan cobaan. Allah pasti menukar kegelisahan dengan ketenangan dan jiwa akan menjadi tenang, tentram jika selalu berusaha bernaung di atas naungan kasih sayangNya, sebab tak ada yang melampoi Allah atas penguasaan terhadap apa saja. Iblis saja meminta ijin Allah untuk menggoda anak cucu adam, karena iblis tau tanpa adanya ijin dari Allah, maka sia sialah daya upaya (,,Sang kyai,,)
profile-picture
profile-picture
Bgssusanto88 dan cos44rm memberi reputasi

Hidup itu Sruput Kopi 5

" TOLONG RUDI OM !!! " 05

Malam itu aku putuskan tidur awal aja, jam dua belas bangun , mandi dan sholat taubat kemudian dzikir istiqfar banyak banyak.....
Dan ngantuk, sekitar jam 2 an pagi kupakai tidur tiduran, bles tidur beneran eh....mau subuh bangun kubuka hape blackbery jadulku....
Klunting....
Notifikasi tlah masuk....
"asalamualaikum om, rudi dah di rumah sakit PB Purwodadi "
Aku tak membalasnya, abis subuhan aku tidur....

Pagi setengah tujuh aku bangun dan kemas kemas ngantar anak sekolah, semua seperti tradisi saja...
Kami sekeluarga brangkat jam setengah tujuh jika sekolah....

Tiba tiba hapeku kulihat ada notifikasi masuk...
" pagi om, Rudi di sal nomor 7B ruang sisi selatan, maksudnya bangsal selatan, bangsal arjuna..."
"ya nanti setelah antar anak sekolah aku maen kesitu, sabar ya ?"
"iya om "

Jam 07.30 aku telp Mbak Dewi, tanya situasi
"om, maaf aku lagi keluar di Indomaret, gimana om ?"
"itu aku mau kesana "
"lagi nggak boleh keluar om, bangsal lagi dibersihkan "
" kalo gitu, kesini aja, ini ada air dzikiran bisa dibawa "
"iya om "

Selang sepuluhan menit dia datang sama di kecil...
"asalamualaikum om "
"waalaikumsalam "
"bulik, ini maaf ngrepoti " kata mbak dewi pas istri keluar....
"gimana mas Rudi mbak ?"
"ya gitu om, masih kayak kmaren "
"lha ciri cirinya gimana ?"
"maksudnya ?"
" ciri ciri fisiknya ?"
"ya gitu om, nggak bisa tidur, matanya merah "
"kulitnya kekuningan ?" tanyaku
"maksudnya om ?"
"itu dtelapak tangannya biasanya kekuningan" jelasku singkat
" enggak tuh om, eh iya om... "
" kalo kata dokter apa ?"
" belum tau om "
"kamu bawa ini air dzikir ya, diminumkan dan dibuat campuran kalo pas mandi, kan mandinya diatas kasur to ?"
"enggak boleh mandiin om, ada petugasnya "
"ya minta ijin dituang di air sibinnya to..."
"om, dewi pamit ya, kasihan Rudi sendirian, emak baru dijalan mau datang "
"iya, mbak "
"bulik, saya langsungan ya, maaf dewi merepotkan om dan bulik terus , asalamualaikum... Airnya dewi bawa ya om...
"waalaikumsalam, iya "
Kataku sambil mengulurkan tangan buta sikecil...

Diapun berlalu bersama anaknya yang masih dua taun belum genap, aku membatin saja, tadi dia genggam uang pecahan dan uang sepuluh ribuan, berat sekali hidupmu disaat suamimu sakit...

Kita tak pernah tau, hidup itu seperti apa dan bagaimana, tapi aku malah tenang, si Rudi telah di Rumah Sakit....

Ada Bapak dan Ibunya dan anak istri, Rumah Sakit PM adalah Rumah Sakit Swasta dekat rumahku. Hanya paling 300 atau 500 meter dari rumahku....
"Ya Allah, tolonglah kami ini, hamba yang lemah "

Tiba tiba lamunanku pecah, dari dalam rumah istriku mengingatkan "yah, brangkat kerja. Dah setengah delapan lebih, mepet lho ini..."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bat4k0 dan 2 lainnya memberi reputasi
alhamdulillah dilanjut maneh mas
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bat4k0 dan 2 lainnya memberi reputasi

Hidup itu Sruput Kopi 6

" TOLONG RUDI OM !!! " 06

Aku ditempat kerja pun malah resah, semua pada urusan di Semarang, hanya aku dan honorer seorang...
Aku ini staff sepesialis jaga kandang. Kamu tau bosen ? Nah itu......

Jam setengah tiga aku pamit pulang kerumah, pengen sholat ashar dirumah sebelum ke Rumah sakit jenguk Rudi di bangsalnya...

Selepas sholat ashar aku dzikir pondasi dulu. Kemudian aku ambil air dzikiran botol besar dan satu kecil, aku bacakan doa yang diajarkan guruku dan kututup setelahnya aku bawa ke Rumah Sakit, ya kali ini jalan kaki saja, deket kok, tak lupa buah tangan kecil kecilan...

Sampai disitu aku melihat banyaknya rumah sakit ini pengunjungnya, ramai sekali. Seolah orang sakit adalah rekreasi bagi orang orang penjenguknya, ya harap maklum, ini desa setengah kota....

Aku masuk ke ruangan itu dan kulihat Rudi tergeletak di ranjang, dibawah si dewi dan si kecil lagi maen, dan mertua perempuannya...

"om...." kata Rudi dah melihat aku...
"ya Rud, masih sakit ?" tanyaku. Pertanyaan paling bodoh, udah tau sakit masih juga tanya.....
" iya om"
Semua bersalaman, kulihat orang tua Rudi malah agak bingung, ini omnya si Dewi ? Atau apanya? Suhunya ? dukunnya ? Paranormal ? ... Ah aku suudzon aja itu, ke GR an poolll....

Aku duduk di kursi plastik, sementara anak mereka dibawa keluar oleh neneknya...
" apane Rud sing lara ?" (apanya Rud yang sakit ?)
"ya pusing, ya semua om, aku nggak tau kenapa"
"coba diinget inget pas kerja ada kejadian aneh apa ?"
"enggak ada om, hanya pas motong pohon mangga itu aja aku mrinding "
"ah, itu mah karena kamu penakut aja "
"jal Rud, tak bantu doa... Kamu ikut baca doa semampumu, dah tiduran aja kalo duduk tambah pusing ntar "
Aku pegang bagian perutnya dan kucoba getarkan semua Jin siluman ditubuhnya siapa tau penyebabnya mereka ini....

Setelah beberapa lama, kuislamkan jin Qorinnya, trus kutata semua bagian tubuhnya dengan doa yang diajarkan guruku" kemudian aku tutup dengan menulis ba ' dipunggungnya....

Setelahnya aku beri air dzikiran dari majlis, kataku
" jika ada apa apa kabari saja, wong rumah ya deket aja kok, nggak jauh, dan kalo kamu hasil lab nya apa nanti kan tau perkembangannya "

Kemudian aku pulang ke rumah, selepas isya anak anak dah tidur, istri setelah ngobrol sebentar juga ikutan tidur, tinggal aku sendiri....

Aku ambil sajadah, ambil wudlu....
Duduk sila dan buat pagar ghaib, kemudian menarik apa sih yang menjadi sebab sakitnya si Rudi ini...

Ternyata banyak hal, dari pola hidup sampai kerjaan
1. Jarang sholat
2. Minum alkhohol
3. Makan dan minum sembarangan
4. Ada unsur ghaib yang ngganggu....

Antara satu sampai tiga nanti kalo ketemu di nasehati
Dan yang trakhir memang dituntaskan dahulu...

Sebagai manusia yang belajar bagiku ini hanya belajar menjadi baik saja, trus belajar tanpa kenal lulus dan dapat ijasah : thoreqoh itu tazqiyanunnafsi, usaha menjalankan ikhsan, memperbagus ibadah, lahir batinnya ibadah, ketika makin dekat dengan Allah, maka dengan sendirinya makin jadi musuh setan, dan antek anteknya iblis semua, itu kan sudah perjanjian iblis, kalau akan memusuhi anak cucu adam dan yang dimusuhi ya orang yang beriman....
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan Bgssusanto88 memberi reputasi

Hidup itu Sruput Kopi 7

" TOLONG RUDI OM !!! " 07

Selepas itu aku diam dan kebingungan saja, aku belum jelas arah kemana, dalam diam aku baca baca kisah di blog guruku....
Ah, pikiranku jadi ingat ketika hidup di Tuban dahulu, rasa lelah sebagai pengembara, ingin rasanya kaya raya, tinggal di daerah dingin bisa sebagai tempat wisata, air jernih mengalir, tanah hitam nan lembab, ikan mas di kolam tanah, sayuran nan subur tanam sendiri, semua serba sendiri....
Ha, melamun lagi aku, khayalku terlalu tinggi, Allah itu maha mengabulkan, dan aku yakin tak ingin goyah....
Sambil jari telunjuk membuka tab galaxy two, barang baru jaman dulu, barang jadul sekarang....
Scroll kebawah nemu kisah awal aku mencari guru Ruhani, sebuah kisah yang siapa membacanya akan ikut menangis sedih. Tapi siapa yang tau bahwa Allah berkendak langsung kun fa ya kun....
Sumi sumi, hidupmu mengharu biru hatiku....

cerita ini adalah awal saya mencari dan ketemu kyai nur guruku...
entah mengapa baru tadi terbuka dan kisahnya menginspirasiku saat itu, rumah kontrakanku itu 150 meter kearah timur dari bravo lokasi si sumi ketemu ulin......

ceritanya mengharu biru dan menginspirasi, seorang yang calon masuk neraka pun punya hak yang sama untuk masuk surga...
subhanallah....

MATAHARI DARI LUMPUR

“Kurung.!,benjutin aja.!,tangkap lalu telanjangi, tukang zinah biar kapok.” suara itu terdengar dari beberapa pemuda, mungkin sekitar 30 pemuda berlarian ke arah satu arah yaitu lapangan penggilingan padi Desa Sendang Leres. Diantara pemuda itu ada yang membawa golok, celurit, pentungan, dan macam-macam alat perkelahian, ternyata mereka tengah mengepung seorang pemuda. Yang berdiri di tengah kepungan dengan tenang, pemuda berkulit sawo watang, wajahnya putih bersih, tubuhnya sedang, tak kurus amat juga tak gemuk, rambutnya panjang sepunggung namun di ikat dengan rapi, nama pemuda itu adalah IZUDIN, “ayo maju.” kata pemuda itu di tengah kepungan para pemuda yang napasnya memburu, suaranya tenang, seakan tak takut walau telah di kepung sedemikian rupa. Membuat para pengepungnya sontak berhenti, semua diam. Sampai ada suara di belakang para pengepung, “jangan takut.!, biar sakti juga kalau di keroyok ramai-ramai pasti keok..!”.
Suara itu seakan-akan sebuah cemeti yang di sentakkan, dan membuat kuda-kuda berlarian para pengepung segera menyerbu, mengayunkan apa saja yang di bawa, menyerang membabi buta. Sementara di pinggir arena seorang gadis berjilbab menangis sesenggukan dan memandang kawatir terhadap Izzudin. Nampaknya malam ini akan menjadi malam yang berdarah. Tapi entah bagaimana tiba-tiba 3 pengepung terjengkang. Bergulingan, dan golok, celurit, serta pisau lipat telah berpindah ke tangan Izzudin yang segera dibuang ketanah, yang lain segera mundur, tapi terdengar komando lagi,
“Yang lain serang atas dan yang lain lagi serang bawah.” Maka seperti di komandoi para pengepung maju lagi dan yang maju dahulu segera terlempar mengaduh 2 orang lagi roboh.
“hentikan..!” tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar. Membuat semua orang terpaku di tempat dan terdiam. Nampak berjalan melenggang pemuda dipanggil kang Agus, pelatih perguruan Setia Hati cabang Sendangleres.
“Ada apa ini?” tanya kang Agus. “Ini kang maksiat zinah di desa kita.” jawab salah seorang sambil tanganya menuding le arah Izzudin.“oo, kamu rupanya zu? Apa benar begitu?” kata Agus sambil pandangannya menatap Zahra gadis berjilbab yang masih berdiri di pinggir arena.“ah enggaklah kang.”
“enggak gimana, kan udah jelas kamu tertangkap di sini, kamu mau mungkir..!”
“tapi apa buktinya kang?, wong aku disini cuma ngobrol sama Zahra.”
“o terangnya kamu ini gak mau di tangkap.?” “gini aja kang, aku mau di tangkap kalau kang Agus mengalahkan aku, tapi kalau kang Agus kalah biarkan aku dan Zahra pergi dari sini.” pancing Izzudin, karena hanya itu peluangnya untuk lepas dari situ, dan Agus yang jagoan pencak silat Setia Hati pasti akan merasa panas kalau di tantang, dan pasti dia merasa akan menang.
“oo, kau menantangku?” “aku ndak berani kang, tapi hanya itu jalanku.”
“baik kepegang janjimu.” kata Agus mulai memasang kuda-kuda, karena menurutnya hanya dengan beberapa gebrakan akan bisa mengalahkan Izzudin, Agus segera menyerang dengan jurus-jurusnya. Pertempuran seru terjadi saling pukul, saling tangkis, saling tendang, keduanya saling ingin menjatuhkan, namun keduanya berimbang, sudah sampai 50 jurus, namun tak ada tanda-tanda mana yang lebih unggul, pada jurus ke 70 Agus membentak dan meningkatkan serangannya serta melambari pukulannya dengan tenaga sakti, sehingga Izudin pun bertahan sambil mundur karena setiap pukulan Agus yang di elakkannya terasa angin panas menyambar, Izzudin pun merubah jurusnya, dia memakai ilmu jari ajaib. Sehingga tangannya meliuk-liuk di antara gempuran tangan Agus, jari-jarinya menusuk menjadi ribuan banyaknya, menotok semua bagian tubuh Agus. Tiba-tiba terdengar jerit Agus ketika pinggang dan pundaknya kena sentuh jari Izzudin, dia terjajar dua meter kebelakang.
Tubuh Agus bagai tersengat listrik, tubuhnya kaku tak bisa di gerakkan, tapi dia harus mengakui kekalahannya, maka dia mempersilahkan Izzudin pergi menggandeng Zahra, para pengepung segera memberi jalan. Malam makin larut, dan saat itu terpaksa Agus pulang di gotong rame-rame karena tubuhnya kaku tak bisa lepas dari totokan. Sementara Izzudin mengantar Zahra pulang. Kehidupan pemuda di desa-desa memang penuh warna warni, bentrok antar kampung sering juga terjadi, tak jarang cuma masalah sepele, nyawa melayang. Tak jarang juga ilmu teluh dan santet di gunakan, untuk menunjukkan kepengecutan sejati. Mungkin desa-desa di lereng-lereng gunung kapur Tuban ini, juga desa-desa yang lain membutuhkan matahari, yang akan menyinari tanpa membedakan yang akan memberi energi tanpa mesti menyakitkan sinarnya yang terik adalah sinar jantan.
Sebenarnya benarkah apa yang di tuduhkan kepada Izzudin? Siapakah Izzudin. Pada tahun 1976. Komplec lokalisasi pelacuran di bakar massa, semua pelacur di usir, termasuk Sumi yang hamil tua. Sumi terlunta2-lunta tanpa arah tujuan, membawa kandungannya yang membesar. Dia berjalan tanpa arah, mengapa Yang berkuasa tak juga mencabut penderitaanya, atau kenapa tak sejak kecil mencabut nyawanya, saat kedua orang tuanya mati di serang kolera. Sumi menangis di bawah pohon mahoni, terbayang betapa saat umurnya 6 tahun telah di tinggal mati Bapak Ibunya. Betapa saat itu tak ada sanak saudara. Sumi sendirian, tak ada yang perduli, jika perutnya lapar Sumi pun tak tau harus makan apa, nasi itu dibuat dari apa Sumi tak tau. Kalau lapar Sumi mencari capung, cecak, kecoak, atau bahkan lumpur, karena rasanya lembut seperti bubur buatan ibunya. Sumi kecil tubuhnya kurus kering, perutnya membuncit, rambut riap-riapan, tak pernah mandi, sehingga baunya menyerupai bau bangkai, orang tak akan kuat bila dekat dengan tubuh dekil Sumi, karena baunya seperti katak mati, mungkin karena yang di makan Sumi sembarangan.
Siang itu matahari terik, membakar kepala, kemarau panjang telah mencapai puncaknya, orang-orang yang pergi ke sawah memilih berteduh di bawah pohon yang tak ada lagi daunnya, cabang-cabangnya mencuat. Seperti jari-jari yang berdoa meminta hujan, sungguh kekeringan selalu terasa panjang, tanah pecah-pecah meradang, semua air telah hilang menguap, seakan di minum oleh mentari yang dahaga, debu berhamburan ketika angin berlari dan menapak tanah dengan kakinya, berapapun air yang di teguk seakan tak bisa mengusir dahaga, Sumi menelusuri tepian jalan, tangannya kadang menyibak rumput kering, siapa tau menemukan belalang atau katak yang mungkin bisa di makannya, sungguh dari pagi perutnya belum diisi, bibirnya telah kering pecah-pecah, berulang kali dia mencoba menelan air liurnya sendiri, namun tak ada air liur yang keluar, kecuali makin membuat tenggorokannya tercekik. Keringatnya membanjir, kepalanya terasa pening, tubuhnya limbung, dan Sumi pun pingsan, tergeletak di pinggir jalan.
Sebuah delman berjalan terbanting-banting, sekali waktu doyong kekanan sekali waktu doyong kekiri, roda kayunya berderak ketika harus melewati lubang yang dalam dari jalan desa yang rusak berbatu, sang kusir sekali waktu berdecak decak untuk menenangkan kudanya, dan sekali waktu terdengar suara his his untuk memberi semangat pada kudanya. Debu mengepul saat delman itu lewat, penumpangnya seorang perempuan setengah tua dandanannya teramat mencolok, terlihat bedak yang di pakainya teramat tebal, sangking tebalnya mungkin kalau ada orang iseng mencubit perempuaan itu pastilah jari tangannya akan keseleo, sebenarnya bedak yang di pakainya untuk menutupi kerutan di wajahnya yang tetap saja tampak, lipstiknya juga merah menyala seperti orang habis makan saos pedas tapi tidak di bersihkan, matanya cekung ke dalam, menunjukkan dia sering begadang, di kepalanya bertengger konde buatan yang teramat besar, jika tak di lepas, kalau mau tidur, pastilah konde itu bisa di pakai pengganti bantalnya, pakaian perempuan itu seperti pakaian jawa, tapi mencolok hijau bercahaya sungguh kalau di pandang riasan yang seperti itu, keringat yang bercucuran karena panas, sehingga bedaknya bopeng-bopeng dan sanggul yang sudah tidak pada tempatnya karena goncangan delman, sungguh tanpa niat memuja, ingat dengan ondel-ondel Betawi. “Hei kusir. Berhenti!” kata perempuan itu sembari menepuk pundak kusir itu dari belakang. “Ada apa nyi?” tanya kusir seraya menarik kekang kudanya.
“Coba kau lihat di sana itu seperti ada tubuh tergeletak.” tangannya menunjuk ke tepi jalan yang di lewati.Kusir segera turun dan menuju tempat yang di tunjuk penumpangnya. Dan dia segera kembali sambil memondong bocah kecil yang tak lain adalah Sumi. Kelihatan kusir memondong bocah itu, sambil memencet hidungnya.
”Bau nyai.”apa sudah mati?”
“belum, tapi bau banget, napasnya sih masih ada.”
“sudah taruh di belakang sini, biar tak terlalu bau, kasihan, mungkin kelaparan dan kehausan. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Sungguh malang Sumi kecil, jika waktu itu perempuan ini tak menolongnya mungkin nasibnya tak seburuk ini, hidup tiap hari hanya untuk menumpuk dosa, siapakah yang salah? Namun begitulah Tuhan mengatur kehidupan, dengan segala rahasia, dan setiap kejadian hidup, kalau kita pandai menyikapinya tentu akan banyak hikmah terkandung di dalamnya. Siapakah perempuan yang menolong Sumi itu, perempuan itu bernama nyai Gembuk, itu nama asli atau julukan, tak ada yang tau pasti, yang jelas semua orang yang pernah datang ke Kaliireng tempat pelacuran ini, pastilah mengenal nyai Gembuk sebagai germo tunggalnya. Oh sial sekali nasib Sumi kecil, sejak itu dia mengikuti nyai Gembuk. Sebenarnya apa maksud Tuhan memberikan takdir hidup yang teramat memilukan, disinilah kedewasaan berpikir kita sebagai manusia teruji, untuk menemukan hikmah sebagai pembelajaran, bertambahnya iman dalam hati, bahwa Tuhan menciptakan perjalanan hidup manusia bukannya tanpa perencanaan, tapi telah dirancang sedemikian rupa, untuk mengaduk nafsu, rasa, karsa, akal, nurani, mata hati, nantinya menjadi dewasa, atau kerdil bahkan mati sementara manusianya masih doyan nasi liwet. Ah dunia, betapa beraneka warna tipu daya. Sumi menjalani hidup yang benar-benar berat, tubuhnya yang kecil di paksa nyai Gembuk untuk bekerja berat, mencuci, mengepel semua tempat pelacuran Kaliireng, harus siap disuruh apa-apa oleh para pelacur yang suaranya genit-genit seperti kambing yang sedang birahi. Tapi paling tidak Sumi bisa makan, untuk dirinya dan untuk cacing dalam perutnya. Waktu berjalan bagai roda raksasa yang di gelindingkan, yang tak perduli pada siapa saja, hidup tanpa ilmu dan pengetahuan berarti siap di gilas menerima kesengsaraan lahir dan batin.
Begitu gambaran yang di alami Sumi, Sumi yang tak bisa baca tulis, tak ada ilmu yang pernah ia pelajari, menambah lengkap penderitaanya, yang ia jadikan pelajaran adalah kepedihan dan penderitaannya. Di umur dua belas tahun, Sumi telah di paksa nyai Gembuk untuk menjual diri, saat itu Sumi menangis, ingin menuntut keadilan tapi tak tau menuntut pada siapa, nyai Gembuk hanya tertawa cekikikan melihat Sumi menangis.
Seiring perjalanan waktu, Sumi telah menjadi penghuni komplek pelacuran Kali ireng yang paling terkenal karena kecantikannya, tapi juga di masyarakat terkenal karena kepelacurannya, di jalan, di pasar di mana saja Sumi di cemooh, di hina, tapi Sumi telah kebal akan hinaan dan cercaan.
Suatu hari Sumi merenung, perjalanan hidupnya yang pahit ini sewajarnyakah? Pasti ada yang mengatur hidup, tapi siapa? Ada pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tapi dia harus bertanya pada siapa? Aneka pertanyaan timbul di benak Sumi, setiap waktu, setiap saat.
Sumi sering mencuri-curi lihat para ibu-ibu berkerudung yang berangkat ke pengajian, betapa mereka ceria-ceria tak seperti dirinya yang selalu di rundung duka, dan apa sebenarnya yang di teriak-teriakkan orang di tempat yang di sebut masjid, mengapa mereka meneriakkan sehari lima kali, dan tak ada bosannya. Sumi tak mengerti apa itu yang di teriakkan yang membuat hatinya tergetar selalu, di hatinya rindu dendam, cinta, ingin tapi tak tau rindu pada apa dan cinta pada siapa? Tak sadar dia menangis menengok hatinya yang teramat gelap, pengap, pekat, tak ada cahaya. Setetespun, ngilu dan sumpeg. Senja telah memasuki petang, orang-orang di masjid Annur, telah mau pulang dari sholat berjamaah, tiba-tiba di depan masjid ada suara gaduh dari para perempuan yang ikut jamaah di masjid dan sedianya mau pulang.
“hei perempuan lacur, sundal mau apa kau kesini?” kata perempuan bermukena menunjuk-nunjuk Sumi yang sedang berdiri ketakutan di pintu masuk utama masjid. Mendengar teriakan perempuan dan lelaki kemudian mengerubungi Sumi, yang makin mengkeret saja.
“iya kau lacur jangan mengotori masjid ini,..!” “ayo sana pergi., mau cari mangsa di masjid ini jangan harap ya?” kata perempuan-perempuan ramai terdengar.
Sebenarnyalah saat senja itu Sumi sudah tak kuasa menahan, rasa yang di dadanya membuncah, asmara dan cinta pada sesuatu yang ia tak tau, letupan-letupan pada dadanya tak bisa di tahan lagi, ingin rasanya dadanya meledak, maka tanpa di sadarinya dia berlari ke masjid Annur yang berjarak limaratus meter dari komplek, sambil bercucuran air mata, dia harus bertanya harus mencari jawaban dari apa? Dia sendiri tak tau. Maka ketika sampai di masjid itu, perempuan bermukena itu menyumpahinya. Karena mendengar ribut-ribut, Kyai Hasbi imam masjid Annur keluar,
“ada apa ini? Ada apa kok ribut?”
“ini pak, ada pelacur mau mencari mangsa di sini” jawab perempuan bermukena yang dari pertama memusuhi Sumi, “kamu mau apa nduk?” kata kyai berusia limapuluhan.
“di sini itu bukan tempat mencari mangsa, tapi tempat beribadah, apa kata orang nanti kalau kamu kesini, ayo sana pergi, jangan mengotori masjid ini, cari aja mangsa di tempat lain…” kata kyai Hasbi halus. Sumi segera beringsut mundur, lalu berlari sambil menangis.
Sumi terus berlari, nyai Gembuk yang lagi nyusur di depan pintu dengan menekan-nekan tembakau sebesar kepalan tangan, di tabrak tangannya sehingga tembakau masuk kemulut di luar samping giginya, jadi wajahnya jadi aneh kayak dakocan tapi dakocan yang udah tua. “anak setan, orang tua lagi nyusur di tablak, njaluk di ajar!” tapi ketika nenek tua itu sampai di kamar Sumi, pintu Sumi terkunci. Perempuan itu cuma bisa bengak-bengok tapi tak di urusi oleh Sumi, akhirnya lelah sendiri dan pergi.
Sejak kejadian Sumi di usir dari masjid itu, Sumi sudah jarang mau keluar kamar, bahkan tak mau lagi melayani tamu, semua orang tak bisa apa-apa karena kamarnya di palang dari dalam, Sumi hanya keluar saat suasana sepi, dia menyelinap tanpa ketahuan orang lain. Sebenarnya apakah yang selama ini di lakukan Sumi di dalam kamar? Malam itu jam telah menunjukkan pukul dua belas, tempat pelacuran masih ramai pengunjung para lelaki hidung belang. Di dalam kamar, Sumi bersimpuh, air matanya bercucuran, lidahnya bergetar mengucapkan kata yang lebih tepat terdengar seperti bisikan.

“Wahai engkau, yang aku tak tau namanya, wahai engkau yang aku tak tau tinggalnya, wahai engkau yang aku tak tau apa dan siapa, engkau pasti mendengar apa yang ku ucapkan, dan engkau pasti melihat, bagaimana keadaanku sekarang, mungkin aku tak perlu berkata banyak, pasti kau tau yang kuharapkan, aku tau dunia ini pasti engkau yang menciptakan, langit engkau yang membentangkan, dan keadaanku sekarang tentu telah engkau rencanakan, aku tau tidak jahat, buktinya matahari muncul di pagi hari waktunya tepat, ku minta padamu, tolong perdulikan aku.” Sumi sesenggukan, “tanganku yang tak berdaya ini lantinglah keluar dari lembah nista, jangan kau biarkan aku begini terlalu lama, sampai aku nanti tak mampu membersihkan dosa di sekujur tubuhku, aku malu menghadapmu, karena aku tak mengerti tata krama, maafkan aku…” Sumi bersujud. Air matanya sampai mengalir di ubin kasar. Tubuhnya bergetar. Begitulah yang selalu Sumi lakukan setiap hari, dia selalu meminta, berharap, menyanjung pada apa dan siapa, Sumi tak tau, tapi sesuatu itu ada, sesuatu itu kuasa, walau Sumi tak mengenalnya, dan tak ingin mengenalnya lebih dekat, karena dia sadar akan kotornya dirinya, akan ke masjid saja di usir, apalagi ini adalah sesuatu yang di sembah oleh orang-orang di masjid, tentu akan lebih mengusirnya karena kenistaannya, jadi Sumi memutuskan berdoa di kamarnya, karena Sumi tak tau harus berbuat apa lagi, sholat? Islam aja Sumi tak tau, yah begitulah Sumi seperti orang rimba yang tak tau tulis baca, tak ngerti agama.
profile-picture
profile-picture
cos44rm dan Bgssusanto88 memberi reputasi
Diubah oleh kiocatra919

LANJUTAN Hidup itu Sruput Kopi 7

Karena memang nyai Gembok tak pernah menyekolahkannya, sebab bagi nyai Gembok semakin Sumi bodoh maka akan semakin baik, bisa di jual seperti barang. Setelah Sumi sering berdoa maka derita yang di rasanya semakin berkurang, ketenangan dan keimanan mulai memancar dari batinnya membias pada wajahnya yang ayu. Tuhan tentu maha mengabulkan segala doa, tapi Tuhan selalu punya rencana yang tak di ketahui oleh kita manusia. Pagi masih belum jauh beranjak, kota Bojonegoro baru merangkak, memulai kehidupannya, walau baru jam sembilan, matahari sudah terasa demikian teriknya, para tukang becak yang bersliweran kelihatan mengucur peluhnya, kadang keringat itu di usap dengan handuk kecil yang di sampirkan di pundak. Di depan Bravo mini market, seorang tukang parkir, sibuk mengatur mobil yang datang dan pergi, sebuah mobil sedan soluna warca coklat susu metallic memasuki halaman parkir, seorang pemuda berkemeja lengan panjang kotak-kotak coklat tua keluar dari mobil.
Pemuda berperawakan tinggi gagah dan kelihatan bersahaja ini bernama Ulinnuha. Putra dari Kyai Hasby, yang baru pulang dari kuliah di Siria. Kebetulan baru kemaren dia pulang dan tak punya sabun mandi, sampo dan perlengkapan di Indonesia, jadi pagi ini dia memutuskan untuk pergi ke Bravo mini market. Pemuda itu segera masuk dan mendorong keranjang, lalu memilih barang yang akan di belinya, setelah sekitar setengah jam mengambil barang yang akan di belinya maka dia pun menuju kasir.
Tapi di depan kasir itu telah banyak orang antri menunggu kasir berbantahan dengan wanita cantik.
“tak bisa mbak, barang ini tak bisa mbak ambil, karena uangnya kurang.” kata kasir menjelaskan.
“tapi kalau kurang, kan bisa di potong, di ambil sebagian barangnya…”
“wah tak bisa begitu mbak…, karena ini adalah paket.”
“apa susahnya sih, kan mini market ini tak rugi..” kata wanita itu memaksa, sementara orang yang antri di kasir itu mulai tak sabar. “pokoknya tak bisa, ya tak bisa, sudahlah banyak yang menunggu…., sekarang kembalikan ke tempat embak ngambil tadi, atau saya panggilkan satpam…” kata gadis yang jadi kasir. Mengancam. Akhirnya perempuan itu beranjak mengembalikan satu paket alat kecantikan itu ketempatnya dia mengambil. Baru saja ia meletakkan barang itu, tiba-tiba, terdengar suara kasir yang mengagetkannya, karena ada di belakangnya.
“sudah mbak di ambil aja..” “di ambil?” kata perempuan itu heran. “jadi boleh, dan dipotong dengan barangnya, saya beli dengan uang saya?” “tidak, bukan begitu, tapi sudah ada yang membayari…” kata kasir itu tersenyum.“di bayari bagaimana?”
“ya mbak yang mengambil barangnya, dan orang lain yang mau membayari…” kasir itu menjelaskan. “mana orangnya mbak?’ tanya wanita itu menyerobot berlari diantara etalase.
“itu orangnya dah keluar..” kata kasir yang mengikuti dari belakang. “orang yang mana?”
“yang itu, yang mau masuk sedan soluna…pemuda yang gagah itu.”
Perempuan yang tak lain adalah Sumi ini, menatap pemuda itu, pemuda yang tak lain adalah Ulinnuha. Melihat Ulin masuk mobil, segera saja, Sumi memburu kearah mobil sedan itu. Sumi menunduk-nunduk, mengetuk kaca pintu mobil, kaca pun di turunkan, nampak wajah ganteng ulin.
“ada apa?” tanyanya. “saya mau mengucapkan terima kasih, karena telah di belikan alat kecantikan ini…” kata Sumi sambil menunjukkan seperangkat alat kecantikan yang di pegangnya.
“sudah, tak usah terima kasih…” kaca mobil di tutup lagi, dan mobil pun mundur, meninggalkan Sumi yang masih berdiri terpaku.
Hari mulai beranjak sore, jam telah menunjukkan pukul empat, di sekitar pasar panas masih menggarang, namun orang yang bermaksud belanja sore, telah berdatangan, sambil jalan-jalan cuci mata, di depan toko Dewi, toko pakaian nampak sedan soluna milik Ulin tengah parkir, pemuda itu tengah memilih kemeja.

Ketika ia mundur-mundur, melihat kemeja yang terpajang, tubuhnya menabrak seseorang, cepat dia menengok untuk minta maaf, tapi, ternyata perempuan yang dia bayari di Bravo mini market.
“lho kok kamu di sini?!..” tanya Ulin. “iya mas, saya pengen beli kain…” jawab Sumi.
“wah kebetulan kalau begitu, aku bingung nih, bisa gak kamu pilihkan kemeja yang cocok untukku..”
“wah saya tak berani mas..”
“tak berani bagaimana?”
“maksudnya saya gak ngerti seleranya mas, nanti malah salah…”
“kamu kasih pertimbangan saja, mana yang kira-kira cocok, oh ya siapa namamu?…kayaknya kita belum kenalan?” “Ulinnuha…” kata ulin tanpa menjabat tangan.
“Sumi…” kata Sumi, kaku. “cuma sependek itu namamu?” “iya mas…”
Mereka berdua pun sibuk memilih-milih baju, dan kelihatan mulai akrab. Dan ketika membayar, lagi-lagi, Ulin membayari kain yang di beli Sumi. “kamu ini orang dari daerah mana?” tanya Ulin, ketika mereka akan keluar dari toko pakaian.
“dari Kali ireng mas.”
“lho berarti kita tetangga kampung, aku ini dari pucang, kalau begitu bareng saja.” kata Ulin sumringah.
“wah saya ndak berani mas.”
“ah kamu ini bentar-bentar ndak berani.”
Karena Ulin memaksa maka Sumi pun mandah ikut juga, belum pernah Sumi seumur-umur naik mobil mewah, maklum dia jadi pelacur, hanyalah kelas teri. Jadi tak ada yang akan mengajaknya ke hotel atau naik mobil mewah. “mbak Sum, tinggal di sebelah mana?” tanya Ulin membuka simpul kebisuan.
“wah saya ini tinggal di komplek mas…” kata Sumi polos, tanpa ekpresi.
“lho kok berani tinggal di situ?”
“saya ini pelacur mas….” kata Sumi masih tanpa ekspresi.
Deeg…! ada hentakan keras di dada Ulin, dia menengok pada wanita di sampingnya, wajah wanita ini polos, tanpa ekspresi, matanya menatap lurus kedepan mobil, kata-kata yang di ucapkan barusan seakan bukan dari dirinya, bukan dari batinnya, tapi adalah kata milik dunia lain. “wah jangan bilang begitu mbak? Saya jadi tak enak.” kata Ulin jengah mengucapkan.
“lho kenapa harus di tutup-tutupi, lawong nyatanya begitu…, katanya bohong itu dosa, saya ndak tau besaran mana, dosanya saya jadi pelacur, ataukah saya berbohong mengaku tidak pelacur, tapi cukuplah dosa saya sebagai pelacur, tak usah saya tambahi dosa dengan kebohongan saya.”
“ya tidak seperti itu, walau bohong itu dosa, tapi dalam hal bohong ada yang tak berdosa, malah dapat pahala.” “wah saya ini soal agama, teramat buta mas. Sampai butanya tangan pun tak terlihat, sebenarnya saya ingin sekali belajar agama…saya juga pernah pergi ke masjid, tapi di usir…” “lho kok begitu?” tanya Ulin heran.

Sumi kemudian menceritakan pengalamannya di usir dari masjid, dia juga menceritakan bahwa ia berdoa tiap malam, tanpa sadar, Ulin mendengar kisah sedih Sumi, airmatanya berlinang, dadanya sesak penuh rasa iba dan kasihan. “mbak sumi kasihan sekali dirimu…kalau mbak mau, biar saya saja yang mengajari mbak….” kata Ulin dengan air mata masih meleleh. “yang benar mas..” tanpa sadar sumi menoleh.“hei kenapa mas menangis?”
“aku terharu mendengar kisahmu mbak…”
“ah maaf mas…”
“tak perlu minta maaf, biarlah nanti aku akan mengajarkan kepada mbak, tentang agama, tapi….”
“kenapa mas?”
“aku belum tau caranya, maksud saya di mana tempatnya….?” “memang menjadi masalah yang pelik. gini aja, maukah mbak ini keluar dari rumah pelacuran itu selamanya?” tanya Ulin mantap.
“ah itu jelas aku ingin mas, tapi teramat berat…”

“berat bagaimana?” “di samping aku ini telah terikat budi dengan nyai gembuk, pemilik komplek, aku juga dari mana mas untuk menghidupi diri…?” “begini saja. Kalau mbak ini ku nikahi bagaimana?” “ah mas, sampean ini jangan mengada-ada, ngoyo woro tak karuan, bermimpi pun saya ndak berani.” Sumi wajahnya mengerut. “maksudku begini lo mbak, aku ingin menolong mbak Sumi tak tanggung-tanggung, saya akan membawa mbak ini keluar dari komplek, lalu akan saya belikan rumah dan, akan saya ajari tentang agama, sambil nanti mencarikan pekerjaan bagi mbak Sumi. Nah, hal seperti itu tentu akan sulit di lakukan, kalau kita tak punya hubungan apa-apa, pasti akan ada yang curiga, nah kalau kita menikah resmi walaupun diam-diam, dan telah mengantongi surat nikah lengkap, tentu tak ada keraguan. Bagaimana?” “wah saya ndak ngerti mas, kalau itu untuk kebaikan saya, saya nurut saja….”
Begitulah dua insan ini saling berunding dalam mobil yang melaju di jalan. Di waktu yang di tentukan Sumi akan melarikan diri dari dunia yang selama ini di gelutinya. Pagi itu, matahari baru muncul dari peraduan, semua penghuni komplek kali ireng masih tertidur, setelah semalaman melayani tamu, Sumi tergopoh-gopoh menuju sumur membawa semua buntalan pakaiannya, seorang pelacur memergokinya menanyakan, betapa banyak cuciannya, kemudian perempuan itu sambil menguap masuk kekamarnya. Untung bagi Sumi semua penghuni komplek kalau pagi pada tidur mendengkur, bangun paling-paling jam sembilan, atau sepuluh pagi. Sumi segera melempar buntalan pakaiannya melewati tembok sumur, kebelakang kebun pisang, kemudian dia sendiri memutar kedepan melewati kios rokok, dan penjual sarapan yang masih sepi, dia segera mengambil bungkusan pakaiannya, berjalan melewati empat kebun dan sampai di jalan raya, di mana Ulin telah menunggu dengan mobilnya. Ulin membukakan pintu mobil dari dalam, Sumi pun masuk, dan mobil melaju.

Wajah Sumi tegang, keringat mengucur dari pelipisnya, napasnya ngos-ngosan. Sekali waktu ia menengok kebelakang, sudah tenang saja..!” kata Ulin karena melihat Sumi nampak tegang.
“ia mas…saya benar-benar takut ketahuan…takut celaka mas…”
“yang celaka itu kalau kamu tetap di komplek itu”
“sekarang kita kemana mas?”
“ketempat temanku di daerah Babat, nanti kita menikah di sana, dia telah ku minta menyiapkan segala sesuatunya, namanya pak Imam, dia orangnya baik.”
“pokoknya saya terserah aja mas…”
Sesampai di rumah Imam, memang semua telah di persiapkan, bahkan tamu undangan juga telah berkumpul, petugas pencatat pernikahan sekaligus seorang kyai yang akan memimpin ijab dan kobul juga telah menunggu. Setelah kedua mempelai datang acara yang teramat sederhana itupun di laksanakan. Dengan lancar tak kurang suatu apa, sampai acara selesai.
Setelah semua tamu undangan pergi, nampak tinggal pak imam, istrinya yaitu ibu zulaihah, Ulin dan sumi. “mas imam. Aku mengucapkan banyak terima kasih lo, rasanya tak tau lagi musti dengan apa membalas budi mas imam.”kata Ulin. “ah lin, kamu ini bagaimana to malah mas ini yang sampai sekarang belum bisa membalas budimu, kalau ingat dulu aku bangkrut dan tak punya apa-apa lagi, kemudian kau membantu lagi usahaku, mencarikan order, dan memberi pinjaman, tapi malah tak mau ku kembalikan, apa yang ku lakukan ini belum apa-apa…” Memang begitulah kenyataannya, Imam di tolong oleh Ulin, ketika mengalami kebangkrutan, dan sekarang Ulin yang membutuhkan pertolongan Imam. Waktu telah menunjukkan jam tiga sore, Ulin segera pamitan kepada Imam dan menuju ke sebelah barat pasar Babat, di tepian sungai berantas, yang menjadi batas antara kabupaten Tuban dan Lamongan. Ulin menggandeng tangan Sumi, yang merasa heran.
“ini mau kemana mas?” tanya Sumi.
“ketempat persembunyianmu, agar tak di temukan oleh nyai Gembuk.” jawab Ulin.
“iya, tapi kemana?”
“nanti kamu akan tahu, kamu gak apa-apa khan?”
“ya jelas tak apa-apa, aku siap kok mas bawa kemana saja” kata Sumi pasrah.
Mereka berdua pun menghampiri perahu-perahu kecil, bertenaga mesin yang berjejer-jejer menunggu penumpang, orang-orang yang pulang dari pasar. Di setiap perahu ada pengemudinya, mereka duduk menunggu, ada yang merokok duduk di tepian bengawan, ada yang duduk menggerombol main gaple, ada juga yang telah siap di perahu. Ulin menghampiri seorang pengemudi perahu setengah tua yang duduk di perahunya. Setelah berbicara sebentar dan mengatakan arah tujuannya, serta tawar menawar harga yang di sepakati, maka Ulin pun mengajak Sumi naik perahu kecil ramping memanjang itu. Mesin perahu segera di nyalakan, suara mesin yang berisik segera terdengar, dan perahu itu pun meninggalkan tepian sungai, menyibak aliran air, air yang tersibak meninggalkan gelombang kecil yang beriak. Perahu ini lumayan lincah dan cepat, tak berapa lama jembatan yang melintas di atas bengawan dekat pesantren langitan terlewati. “sampai di sana berapa jam, paman?” Ulin bertanya sekedarnya kepada tukang perahu yang memegang kemudi. Di belakang.
“ya sekitar tiga jam. Gus..” kata pengemudi itu menghormat.
“memangnya kita mau kemana to mas?”tanya Sumi yang sejak tadi diam.
“kesebuah desa. Yang cuma bisa di tempuh dengan perahu, supaya kamu aman.” kata Ulin meyakinkan.
Kembali mereka terdiam.
Berbagai pemandangan di pinggir sungai, silih berganti terlihat, dari beraneka macam pohon, orang yang memancing, orang yang buang hajad, sampai perempuan yang mencuci dan mandi dengan memakai kemben. Perahu melaju dengan kecepatan yang terjaga, terasa perahu bergoyang keras, ketika bersimpangan dengan perahu lain yang berlawanan arah, dan menimbulkan gelombang air dari kedua perahu bertemu. Sehingga terjadi percikan air yang memuncrat. Perahu pun menepi, berhenti pada undak-undakan kayu gelugu yang tersusun menyerupai tangga.
“sudah sampai gus..!” kata tukang perahu. Sembari mengikatkan tambang perahu.
Ulin segera turun, dan membantu Sumi melompat ke tepian sungai. Kemudian dia menyerahkan uang kepada pemilik perahu.
“wah tak ada kembaliannya gus..!” wajah tukang perahu itu mengerut.
“sudah bapak ambil saja, anggap saja itu rejeki bapak hari ini…”
“terima kasih gus…”
ulin kemudian menggandeng Sumi menyusuri tanggul kecil menuju sebuah desa yang masih teramat jarang penduduknya. Setelah melewati beberapa rumah sederhana, Ulin membawa Sumi ke salah satu rumah. Yang besarnya sedang, dan ubinnya dari plester yang halus. Ulin segera mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu, setelah mereka masuk.
“jadi aku nanti tinggal di sini mas?” tanya Sumi.
“iya, paling tidak untuk sementara.” jawab Ulin sembari duduk di kursi.
“wah tadi pakaian saya tak di bawa, masih di dalam mobil, bagaimana?” Sumi khawatir.
Ulin segera menggandeng tangan Sumi masuk kamar, dan membuka lemari kamar, nampak pakaian wanita tertata rapi.
“wah banyak sekali pakaiannya, bagus-bagus lagi, ini milik siapa mas?”
“ya milikmu, milik siapa lagi?” kata Ulin tersenyum.
Sumi menubruk Ulin dan menangis, “mas, engkau begitu baik padaku, bagaimana aku membalasmu….aku hanya seorang pel…” Ulin menutup bibir mungil Sumi, ” jangan kau katakan itu lagi…, sekarang kau adalah istriku, dan namamu bukan Sumi lagi tapi Lailiah, NURLAILIYAH, ingat itu, siapa namamu.?” tanya Ulin.

“Nurlailiyah…”
“bagus, karena itu yang tertera di surat nikah kita.”
“tapi mas, pernikahan kita bukannya pernikahan main-main saja?” tanya Sumi, ketika air matanya yang meleleh di pipi di hapus oleh Ulin. “heh…. Pernikahan main-main gimana? Ya sungguhan, kok main-main, kamu syah jadi istriku, ini bukan sandiwara, kalau kau bukan istriku, mana berani aku menyentuhmu…? “ kata Ulin serius. “jadi….jadi…uuu…” Sumi menubruk Ulin dan menangis di dadanya.
Ulin mengelus rambut Sumi, entah bagaimana Ulin pun tak tau mengapa ia berbuat sejauh ini terhadap Sumi, menikahi seorang pelacur, ya pelacur yang telah di jamah oleh beratus lelaki… Padahal pria setampan Ulin, kaya, keturunan orang terhormat, berpendidikan tinggi, mana gadis yang menolak atas pinangannya, tapi dia memilih seorang pelacur, yang betapa kotor rahimnya.
Pasti semua orang akan mengutuknya, karena pilihan yang dia tempuh. Tapi Ulin punya alasan sendiri, ini berawal ketika dia akan pulang ke Indonesia, maka dia menghadap kepada syaih mursidnya, Ulamak sufi. yaitu syaih syaifulloh al mutawally, guru yang membimbingnya itu berkata, “anakku, betapa manusia itu kebanyakan tertutup mata hatinya, karena penglihatan dhohir, maka belajarlah untuk tak terpaku kepada kulit, seperti orang bodoh yang terpaku menatap pada petani yang menanam jeruk, sungguh orang itu menyangka bahwa yang di tanam petani itu tentu yang akan di ambil manfaat adalah pohonnya, karena dia selalu melihat petani tiap hari merawat pohon jeruk, tapi setelah pohon berbuah, dan petani mengkhususkan merawat pada buah jeruk, maka… pendapatnya pun berubah, oo yang akan di ambil manfaat oleh petani itu adalah buahnya yang hijau, tapi setelah petani mengambil jeruk yang kuning maka pandangan dan pendapat si bodoh berubah lagi, dia mengira tentu yang akan di ambil manfaat adalah kulit kuning dari buah itu, buktinya bahwa yang khusus di ambil adalah buah yang kuning., maka si bodoh mengikuti petani sampai di rumahnya, si petani menyuruh istrinya membuat jus, sibodoh mengintip dan melihat kulit jeruk di kupas, berubahlah prasangkanya, ternyata yang akan di ambil manfaat adalah daging buahnya, karena di lihatnya kulit buah di buang. Tapi lagi-lagi prasangkanya berubah, ketika melihat daging buah di peras dan di ambil air sarinya. sekarang yakinlah si bodoh, setelah melihat petani meminum jus jeruk, dan dia tau sekarang yang sebenarnya di ambil manfaat adalah air sari jeruk itu sendiri.
Pikiran manusia kebanyakan akan mandeg di situ saja, padahal masih ada perjalanan panjang,
Karena air jeruk yang di minum oleh petani di dalam tubuh akan di olah dan di pisahkan antara sari dan intisari. Sari menjadi ampas dan intisari menjadi tenaga daging, urat, tulang dan darah, setelah itu akan menjadi bagian dari manusia itu sendiri. Nah setelah menjadi bagian dari manusia, maka tergantung pada manusia itu sendiri, di pake maksiat atau di pakai ibadah. Di pakai ibadah pun dengan secara ihlas atau tidak, kalau dalam ibadah ternyata tak ihlas, maka percumalah semua amal petani itu dari menanam jeruk sampai dia memetik buahnya.
Amal yang bertahun-tahun itu tiada gunanya sama sekali. Kecuali kenikmatan semu saja, tapi kalau dia menggunakan amal perbuatan itu ikhlas maka dari pertama petani itu menanam di hitung ibadah.” “ngger anakku, di jaman sekarang ini, orang lebih banyak omongnya dari pada perbuatannya, padahal lisannya amal itu lebih fasih dari pada lisannya mulut, banyak orang menggembar-gembor dalam masjid, berbicara mengajak pada kebaikan, sementara dia tak pernah melakukan apa yang di serukannya, menyerukan supaya menjauhi kemungkaran, padahal dia paling nomer satu dalam berbuat kejahatan, banyak orang menyerukan kebaikan hanya untuk menutupi aibnya sendiri. Orang menyeru bersedekah, tapi dia sendiri menutup mata pada orang-orang yang kelaparan. Memberi sedekah kepada satu orang lebih baik daripada menyeru bersedekah, tapi kau sendiri tidak melakukannya.

Menolong satu orang lepas dari lumpur dosa lebih baik, dari pada mencela dan memusuhi orang yang terjerumus dalam dosa, kadang menolong orang yang tenggelam kesungai, itu harus menceburkan diri kedalam sungai, walau tak mesti ikut-ikutan tenggelam, anakku, ada seorang yang di sayangi Alloh tapi dia masih tenggelam dalam kegelapan, maukah kau menolongnya…?” tanya syaih.
“jika aku mampu ya syaihi, aku akan berusaha dengan semampuku…” Kemudian syaih syafulloh almutawally menguraikan ciri-ciri Sumi kepada Ulin, itulah kenapa Ulin begitu melihat Sumi tanpa tanggung-tanggung menolong perempuan itu, dengan sepenuh jiwanya. Ulin mengecup penuh perasaan jidat Sumi, kemudian dia memegang kedua pipi yang penuh airmata itu dengan kedua tangannya, dan dia tengadahkan wajah lugu itu ke wajahnya.
“kamu rela kan menjadi istriku?….” tanyanya dengan suara bergetar. Sumi mengangguk.
“sekarang layani aku…?”
“mas menginginkan tubuhku?”
“aku lapar, kamu bisa masak khan?”
Sumi kembali mengangguk. Kemudian Ulin menuntun Sumi ke dapur dan memang rumah mungil ini telah di tata oleh Ubai sedemikian lengkapnya, sampai ke dapur-dapurnya.
...............
setiap orang punya hak yang sama mengenal Tuhan nya.............................................................
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bat4k0 dan 3 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh kiocatra919
Betul kang terkadang orang hanya melihat dzohirnya saja. Ini yg membuat saya muak dgn orang2 munafik spt ini. Wanita manapun tentu tdk mau menjadi pelacur, namun terkadang tuntutan perutlah yg memaksa mereka melakukannya.
profile-picture
profile-picture
bat4k0 dan indrag057 memberi reputasi
lanjutkeun gan emoticon-Bookmark (S)
profile-picture
bat4k0 memberi reputasi
Lanjutkan lagi kisah inspiratifnya Om


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di