CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
(A Thriller, Horror Story) E MINOR
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eb594ec82d4951fd27c5650/a-thriller-horror-story-e-minor

(A Thriller, Horror Story) E MINOR

Quote:



(A Thriller, Horror Story) E MINOR


Part 1


"Krieeeeeeeet ..."

Pintu bercat warna putih yang hampir memudar itu, terbuka sedikit demi sedikit. Aku pun menyadari akan ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan ini. Segera kusembunyikan tubuhku diantara satu set drum yang terletak di sudut ruangan ini. Tidak boleh ada yang tahu bahwa aku bersembunyi di dalam sini.


Suara derap kaki semakin lantang terdengar ke telingaku, aku segera menyamankan posisi dudukku, agar aku tak membuat suara berisik yang dapat membuyarkan persembunyianku.


Seorang gadis berseragam sekolah dengan postur tubuh sintal, tampak masuk membawa sebuah gitar akustik. Ia terlihat memandangi sekeliling ruangan, lalu memeriksa layar handphone miliknya. Aku pun berusaha menundukkan kepalaku lebih rendah agar tak terlihat olehnya, lalu melebarkan pandanganku dan menjarahi segala gerak - gerik dan penampilan gadis itu.


"Hmmm, lumayan cantik sih, badannya juga bagus... tapi menurutku tetap akulah yang lebih cantik darinya," gumamku dalam hati.


"Dia kesini mau ngapain sih? Ini kan waktu berduaku dengan Pak Bastian," gerutuku lagi.


Tak lama aku menggerutui si gadis asing itu, sayup - sayup terdengar langkah kaki lain yang berjalan masuk ke dalam ruangan ini.


"Wah, Manda, sudah datang rupanya!" seru sebuah suara yang tak asing sekali di telingaku. Detak jantungku seketika berdenyut keras sekali, lantas kupastikan benar - benar siapa lelaki itu.


Jangan - jangan itu suara Pak Bastian? Semoga ... semoga bukan.


"Ah, saya juga baru datang kok, Pak, hehehe," ujar gadis yang kudengar bernama Manda itu. Wajahnya terlihat merona dan malu - malu.


"Manda, sudah siap les gitarnya? Kita mulai saja ya, takutnya keburu sore."


Les gitar? Berdua saja?
Entah kenapa hatiku terasa ngilu meskipun aku belum memastikan siapa gerangan lelaki itu.
Sosok pria itu pun beringsut di depan sang gadis. Postur tinggi nan atletis, dengan balutan kemeja berwarna merah membuatku semakin yakin bahwa dia adalah Pak Bastian.


Gadis itupun duduk di sebuah kursi kayu dengan memeluk gitar berwarna merah miliknya. Sepertinya gitar itu terlihat masih sangat baru, cara memegangnya pun masih sangat kaku, aku yakin dia sama sepertiku. Sama - sama tak bisa bermain gitar.


Lelaki itu seketika berdiri di belakang gadis itu, dan benar saja ... dia adalah Pak Bastian. Sontak leherku terasa sangat sesak, hatiku pun terasa sakit sekali. Tak kusangka Pak Bastian memiliki incaran gadis lain selain aku.


"Manda, kita mulai belajar dari chord yang gampang dulu ya." Pak Bastian mendekatkan tubuh dan tangannya pada gadis itu. Wajah gadis itu tampak berbunga - bunga, membuat api cemburuku semakin berkobar.


"Coba tekan senar nomor dua dan tiga dari atas, di fret yang kedua!"


"Emm, Manda nggak ngerti, Pak, bisa dicontohin nggak?" ujar gadis itu dengan gaya centil yang terselubung.


Pak Bastian tampak tersenyum, ia memeluk leher gitar itu, sembari meletakkan jemarinya pada dawai gitar sang gadis. Otomatis dada bidangnya memeluk tubuh sintal gadis itu. Emosiku semakin meninggi, ingin rasanya kulempar kepala gadis itu dengan stik drum yang ada di depanku. Tapi, aku harus berusaha bertahan dalam diam, aku masih berharap mereka tak ada hubungan spesial layaknya hubunganku dengan Pak Bastian. Hanya akulah satu - satunya wanita yang layak dimiliki Pak Bastian. Hanya aku!


"Ini namanya E minor, coba kamu bunyikan gitarmu, Manda."


Gadis itu pun mengangguk dengan senyum lebarnya, lalu jemari kanannya mengayun merambahi keenam dawai hingga mendengungkan suara merdu gitar miliknya.


Tidak mungkin!
Cara yang Pak Bastian lakukan dengan gadis itu sama persis dengan apa yang Pak Bastian lakukan kepadaku dulu.
Seketika buliran bening membasahi kedua pipiku. Segera kuusap - usap keduanya dengan telapak tanganku, agar tangisku segera berhenti.


Keromantisan mereka semakin menjadi, tatkala Pak Bastian memegang tangan gadis itu, mengarahkan jari - jemarinya ke posisi yang benar, hingga tubuh mereka semakin berdekatan. Aku pun hanya bisa menangis tersedu melihat senyum kemenangan sang gadis yang terlihat sangat menikmati les privatnya itu.


Aku marah, aku kesal, aku benci penghianatan ini. Aku harus segera keluar dari persembunyianku, aku tak terima Pak Bastian memiliki gadis lain selain aku. Bukankah selama ini dia bilang hanya akulah wanita yang paling istimewa dihatinya? Aku kecewa padamu Pak Bastian! Kau memang lelaki brengsek!


Kuambil dua stik drum yang tergeletak di depan bass drum tempatku bersembunyi. Aku pun berdiri, lalu keluar dari persembunyianku. Dua stik drum yang kugenggam, segera kulempar dengan sekuat tenaga ke arah mereka berdua.


"Braaaaaak!" Stik itu terpental mengenai kursi duduk sang gadis, sialnya lemparanku terpeleset. Sontak terdengar suara teriakan sang gadis yang tampak kaget. Sialnya lagi, dengan lancangnya, ia berani - beraninya memeluk Pak Bastianku.


"Pak, kok ada yang melempar stik ini tiba - tiba? Manda takut, Pak!" teriak gadis itu dengan suara bergetar.


Pak Bastian tampak memasang wajah awasnya, sembari memperhatikanku. Tapi, bola matanya seperti tak fokus memandangiku yang sedari tadi tengah berdiri di depannya.


"Dasar lelaki brengsek!" Kumaki dirinya dengan amarah yang tak bisa kutahan lagi. Namun, lagi - lagi tak ada respon dari mereka.


"Tenang, Manda, bisa jadi itu tadi perbuatan tikus. Gudang di ruang musik ini memang sudah lama belum dibersihkan, emm, kalau gitu, kita pulang aja, yuk! Manda pulang sama siapa? Bapak antar mau?" tawar Pak Bastian sembari mengelus punggung gadis itu.


"Bastian brengsek! Kau mengacuhkan aku, hah!" teriakku lagi sembari berlari mendekat ke arah mereka.


Mereka berdua sama sekali tak menghiraukanku, membuatku semakin ingin mengamuk saja. Kuteriaki terus - menerus nama Pak Bastian dengan makian, namun mereka masih saja tak menggubrisku.


Ruangan musik pun terkunci, menyisakan aku yang masih terjebak di dalamnya. Kuintip raga keduanya yang saling bergandeng tangan, saling melempar senyum dan hal itu membuatku semakin geram.


"Aaaarrgh! Tunggu saja pembalasanku, Bastian!"


*****

Bersambung..


Next
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 56 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
Halaman 1 dari 2

INDEX CERITA

profile-picture
profile-picture
profile-picture
chomimi93 dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
profile-picture
profile-picture
a12s dan Akucantik194 memberi reputasi
Hai Gaesnya, thread ini adalah thread iseng2 ane, yang pengen bikin cerita ala2 thriller psycho dengan sedikit sentuhan horror, dengan episode yang nggak terlalu banyak.
Mohon krisannya ya ❤
profile-picture
profile-picture
a12s dan Akucantik194 memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
Lanjut sis
Ane demen sama genre dark beginiemoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
a12s dan dwyzello memberi reputasi
Lihat 3 balasan
Ijin nenda ahhh...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a12s dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ditunggu kelanjutannya gan emoticon-thumbsup
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a12s dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh danielwm
Lihat 1 balasan

Part 2

(A Thriller, Horror Story) E MINOR
Source : pinterest


*****

5 Mei 2017


Sedari tadi mataku tak bisa lepas memandangi sesosok pria yang entah kenapa sangat menarik perhatianku. Mata sipitnya, hidung mancungnya, dada bidangnya, badan atletisnya, ah, semuanya ... semuanya begitu menggairahkan.


Hal itu membuatku semakin tak fokus memahami mata pelajaran yang ia jelaskan di depan kelas. Semua yang ada dalam dirinya, telah berhasil membuyarkan konsentrasiku. Sebenarnya aku sadar bahwa, mungkin tak hanya aku siswi di kelas yang tak berhenti memandang wajah tampannya. Tapi tak apa, sudah cukup bagiku untuk mengagumi dirinya secara sembunyi - sembunyi.


Pak Bastian, nama yang sangat sesuai dengan perawakan sempurnanya bak model majalah pria itu. Dia adalah guru honorer baru di sekolahku, dengar - dengar dia baru lulus sarjana pendidikan musik di salah satu universitas di Yogyakarta. Tak heran, saat pertama kali memunculkan wajahnya di sini, seisi sekolah heboh dengan guru tampan yang kabarnya sangat jago bermain alat musik tersebut.


Di saat semua murid sedang antusias mendengarkan materi darinya, lantas aku pun hanya melamun sembari berimajinasi menjadi wanita teristimewa bagi dirinya.


"Hmm ... pasti menyenangkan," bathinku sembari tersenyum - senyum sendiri.


Lamunanku pun terhempas saat namaku tiba - tiba dipanggil oleh guru tampan itu.


"Lena Andriana!"

"Lena Andriana!"


Sontak semua murid menoleh ke arahku yang memang duduk di bangku paling belakang.


"Woy, Budi! Giliranmu tuh!" teriak Sherly, yang saat itu tengah duduk di depanku.


"Budi? Aku maksudnya?" tanyaku bingung.


"Iyaaaaa Budi alias budeg dikit, cepat sana, giliran kamu tuh yang ikut tes praktek!" bisiknya dengan intonasi penuh penekanan.


Praktek? Hah? Praktek apa? Aku bingung ...
Dengan langkah lunglai, aku pun berjalan menuju ke depan kelas. Rasanya sungguh luar biasa berdebar, maksudku berdebar bukan karena aku takut tak bisa lulus tes. Tapi, berdebar karena aku benar - benar akan berada tepat di samping Pak Bastian.


"Silahkan duduk, Lena," perintah Pak Bastian kepadaku yang saat itu benar - benar tak tahu apa - apa.
Aku pun menuruti perintahnya untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan di depan kelas.


"Coba tekan jarimu di kunci E minor!" seru Pak Bas yang tengah menenteng absent penilaian di tangannya. Rasanya seperti anak ayam yang kehilangan induk, aku pun segera mengambil gitar berwarna merah yang telah disiapkan oleh Pak Bastian untuk tes ini.


Tanganku hanya bisa bergetar meraba - raba leher gitar yang sama sekali tak kumengerti itu. Rasanya grogi bukan main!


"Kamu lupa? Atau masih belum mengerti, Lena?" tanya Pak Bas yang semakin membuat dadaku bergemuruh.


Seisi kelas sontak menjadi sedikit riuh. Mungkin mereka heran, kenapa hanya akulah satu - satunya yang tak bisa melakukannya, padahal bisa dibilang tes ini sangat mudah bagi mereka.


"Oke, kalau begitu nilaimu saya kosongkan, lain kali jangan melamun kalau saya sedang menjelaskan!"


Rona wajahku pun memerah, bukan karena malu karena aku tak lulus tes. Lebih tepatnya, bagaimana bisa Pak Bas menyadari kalau aku melamun saat ia mengajar? Ah, suara seksinya semakin membuat perasaanku tak karuan. Ya Tuhan, bagaimana jika nanti malam aku tak bisa tidur karena memikirkannya?


*****

Pelajaran seni musik telah berakhir, dan benar saja, akulah satu - satunya siswa yang memiliki nilai kosong. Tak heran, olokkan demi olokkan dari teman - temanku datang silih berganti, hingga beberapa diantara mereka memanggilku dengan sebutan "Budi". Aku hanya cuek saja menanggapinya, toh Pak Bastian sudah mulai mengenaliku.


Waktu istirahat telah tiba, semua murid - murid pun berpencar keluar kelas kecuali aku. Aku memang tergolong siswi yang tak begitu berbaur dengan yang lain. Mungkin belum menemukan teman yang klik saja denganku. Jadi ... yah, aku berteman seperlunya saja.


Kurebahkan kepalaku menghadap ke jendela kelas, sembari memandangi pepohonan dan iseng - iseng menghitung jumlah burung yang tengah berkunjung ke atas pepohonan itu. Tiba - tiba mataku silau dengan pemandangan luar biasa yang muncul di jendela.


"Pak Bastian," gumamku salah tingkah. Ia pun menorehkan senyumnya yang tak terduga. Sumpah! Rasanya tubuhku seperti membeku. Lalu, entah kenapa, ia terlihat sedang berjalan dan masuk ke dalam kelas yang hanya terdapat aku di dalamnya.


Gila ... gila ... gila, ternyata ia mendatangiku. Kutegakkan dudukku seketika, lalu menundukkan kepalaku saat ia tengah berdiri tepat di hadapanku.


"Kamu yang nilainya masih kosong tadi kan?"


Aku hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap wajahnya.


"Nggak sopan, kalau bicara dengan orang lain sambil menunduk gitu!" serunya tanpa basa - basi.


Dengan perasaan yang tak menentu, kuberanikan menatap wajahnya.
"Ma .. maaf, Pak!" jawabku seraya menguliti kulit kering di sekitar jari telunjukku.


"Namamu Lena kan? Kamu mau perbaiki nilaimu?" tanyanya seraya memperhatikan jari - jemariku.


"Ma ... mau, Pak."


"Baik, kalau gitu mulai besok datanglah ke ruang musik yang letaknya di sebelah aula sekolah. Temui saya di sana jam empat sore," pintanya sembari menatap mataku tajam.


Jantungku rasanya seperti mau lepas dari tempatnya, kegrogianku membuat kebiasaanku menguliti kulit kering, semakin menjadi. Hingga menimbulkan rasa perih di sekitar jemariku.


Spontan kurasakan tangan Pak Bastian meraih jemariku tanpa aba - aba. Ia bahkan menyentuhnya dengan lembut, lalu menyibak sedikit darah di jariku dengan ibu jarinya.


"Kamu punya kebiasaan begini ya, Lena?" tanyanya dengan tatapan yang sangat seksi.


"Cup ..." Ia membasuh luka jariku dengan bibirnya.


"Jangan lupa janjimu, Lena. Datanglah tepat waktu besok, aku tunggu," bisiknya sembari memberikan tatapan memikat yang membuatku semakin terpesona.


Ya Tuhan?
Aku mau pingsan!


*****

Bersambung..


Next
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
Wah, rajin bgt kalo nulis, emoticon-Maluemoticon-Malu

Kayaknya bakalan bagus nih ceritanya.. emoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
a12s dan dwyzello memberi reputasi
Lihat 14 balasan

Part 3

(A Thriller, Horror Story) E MINOR
Source : pinterest


*****

Derap langkah kakiku sengaja kupercepat sembari menatap jam digital yang terbelit di pergelangan tanganku.


"Sial, aku hampir terlambat!" umpatku kesal.


Langit pun mulai tak bersahabat, entah kenapa tiba - tiba ia memuntahkan titik - titik air yang semula tak ada tanda - tanda datangnya awan hitam. Aku terus berlari menerobos kelas demi kelas dan bergegas menuju ruang musik yang letaknya berada paling ujung, diantara bangunan - bangunan sekolah lainnya.


Sekolah benar - benar sepi, mungkin karena di jam - jam ini, segala aktivitas sekolah semacam kegiatan ekstrakurikuler telah berakhir. Napasku pun tersengal, berlari mengejar waktu sungguh menghabiskan peluh. Akhirnya, aku sampai juga di ujung sekolah.


"Ruang musik, mana ya?" Mataku awas melirik beberapa bangunan di sekitar aula sekolah. Ah, di sini ternyata.


"Lena!" panggil seorang lelaki yang spontan membuat dadaku bergetar. Aku pun menoleh pada sumber suara itu, kaget bukan main rasanya melihat Pak Bastian yang terlihat tampil kasual tanpa seragam guru layaknya hari - hari biasanya itu. Tanpa terkontrol, aku pun terkesima memandangi raga sempurnanya hingga tak merespon panggilannya.


"Budi!" panggilnya lagi hingga membuatku terkejut.


"I ... iya ... Pak!" jawabku panik.


"Tuh kan, kalau dipanggil Budi aja nyahut, hahaha," ledeknya sembari mengibaskan rambut cepaknya yang basah karena air hujan.


"Sumpah ya, kenapa sih orang ini cakep banget! Nggak capek apa cakep terus! Bikin aku nggak kukuuuuu," bathinku meronta.


"Ma .. maaf saya telat, Pak! Saya janji besok - besok saya akan lebih tepat waktu," kataku lirih.


"Aduh, nggak apa - apa kok. Lagian cuacanya juga nggak mendukung, ayo masuk!" perintahnya sembari membawa seonggok kunci yang tergenggam di tangannya. Lantas kuikuti saja dirinya dari belakang hingga pintu ruangan itu terbuka.


Badan tegapnya itupun segera menerobos pintu masuk, aku pun ikut - ikutan masuk. Sungguh, baru kali ini aku masuk ke dalam ruang musik di sekolah ini.


"Baru pertama kali masuk ke sini ya?" tegur Pak Bastian yang mungkin telah menyadari ekspresi keherananku saat menatap penjuru ruangan yang penuh peredam suara itu.


"Hehehe." Aku meringis canggung, lagi - lagi jari - jemariku saling beradu. Sungguh, kebiasaan buruk sejak lama apabila aku sedang grogi, gelisah atau semacamnya.


"Bajumu basah, kamu nggak kedinginan?"


Sontak akupun memeriksa pakaianku, basah memang, tapi tak apalah, lagian aku sudah biasa hujan - hujanan.


"Nggak kok, Pak," jawabku malu - malu.


"Tunggu sebentar." Seulas senyum ia hadirkan di kedua ujung bibirnya. Hal itu semakin membuat syok terapi di organ jantungku. "Sumpah ya, bisa nggak sih, gantengnya disimpen dulu!" kataku dalam hati.


Lantas ia pun tampak keluar dari gudang kecil yang letaknya bersebelahan dengan ruang musik ini. Tangan kanannya terlihat menenteng sesuatu.


"Pakailah ini," pintanya seraya menyerahkan lipatan kaos berwarna merah. Aku hanya bergeming, tak berani mengambil kaos merah itu dari tangannya.


"Tenang aja, ini bersih kok, lagian baju kamu terlalu basah, aku nggak mau kamu belajar dengan tak nyaman."


Aku pun menuruti pintanya, lantas mengambil kaos itu dari genggamannya.
"Gantilah di gudang sebelah, aku tunggu ya," ujarnya lagi.


"Makasih, Pak."
Aku pun beringsut menuju ke gudang yang terletak pas di sebelah ruang musik. Aku hanya perlu menerobos pintu yang terletak di belakang satu set drum, lalu mengganti pakaian basahku dengan kaos pemberian Pak Bastian.


Ada perasaan aneh yang terpikir olehku, bagaimana bisa kaos ini sangat pas dengan badanku, apakah ini kaos untuk ukuran perempuan? Entahlah, masa bodoh dengan hal ini. Yang penting hari ini aku sangat beruntung, kapan lagi bisa bercengkerama langsung dengan pemilik wajah tampan itu.


"Sudah?" tegurnya saat melihatku sudah selesai berganti pakaian. Kubalas pertanyaannya dengan mengangguk perlahan. Ia pun terlihat memandangi sekujur tubuhku, lalu mengulas senyum manisnya hingga membuatku semakin gugup.


"Kita mulai ya, duduk sini, Lena!" Aku pun segera menuruti pintanya, lalu duduk di kursi yang terletak di sebelahnya.


Pak Bastian pun mengambil salah satu gitar akustik yang tergeletak di sana, lalu memberikan penjelasan tentang bagian - bagian gitar yang selama ini tak kumengerti. Yaiyalah, lagian saat pelajaran Pak Bastian, pekerjaanku kan hanya melamun! Bodohnya aku.


"Kita belajar dari chord yang mudah dulu ya, ambil gitar itu, Lena," Kuambil gitar berwarna merah yang ia tunjukkan kepadaku, lalu kuikuti pengarahannya yang sedari tadi ia jelaskan.


"Ini adalah salah satu chord dasar yang paling mudah Lena, kamu cukup menekan dua senar saja, jari telunjukmu di sini, lalu jari tengahmu di senar ini."


Kutarik napas dalam - dalam untuk menegakkan konsentrasiku, gila memang, ketampanan Pak Bastian semakin lama membuatku tak berdaya. Dasar aku!


"Hmm, posisi tangannya bukan begitu, Lena, sini aku bantu."


Aroma menyegarkan dari tubuh Pak Bastian semakin membuatku melayang, ia tengah berdiri setengah jongkok di belakangku, lalu memegang jemariku dan membetulkan posisinya pada senar yang dimaksud oleh Pak Bastian tersebut.


"Nah, begini baru benar, lemaskan saja jarimu, lalu coba genjreng gitarmu."


"Jreng ..." Suara genjrengan tak sempurna sontak membuat Pak Bastian tertawa, hal itu membuatku semakin malu.


"Jadi, selama ini kamu ngapain sih? Kamu tidur ya, saat mata pelajaranku?" tanyanya seraya tertawa renyah. Aku pun semakin kelimpungan, ditambah lagi wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahku.


"Emm, kalau begitu tekan terus senarnya sampai benar, ini sebagai hukuman dan latihan agar kamu cepat bisa, kalau belum benar, kamu nggak boleh pulang," ujarnya lagi yang masih awet dengan tawanya.


"I .. iya, maaf, Pak."


"Duh, Pak, please jauhkan wajahmu itu ... itu bikin aku nggak konsen, Pak!" gerutuku dalam hati.


Kukuatkan niatku untuk terus mencoba menyempurnakan chord menyebalkan yang juga membuatku senang itu. Namun, semakin ke sini, kedua jariku, terutama jari telunjukku semakin terasa sakit. Ditambah lagi kebiasaan burukku mengelupasi kulit, semakin menambah sakit di kulitku.


"Tahan Lena, kali ini aku harus bisa," ungkapku dalam bathin.


"Aaaaaaah!" jeritku tak tahan lagi. Jari telunjukku berdarah karena tergores dawai gitar.


Pak Bastian dengan sigap segera meraih tanganku, lalu ia mengamati jari telunjukku dengan seksama. Aku hanya bisa meringis karena sedikit perih.


Detak jantung semakin bergemuruh, mata Pak Bastian terlihat tak berkedip memandangiku yang terlihat menahan rasa perih. Entah kenapa pandangan matanya berangsur - angsur mengarah ke tubuhku.


Lantas, ia pun menyentuh lembut tangan kananku, lalu melakukan hal yang sama saat aku berada di kelas waktu itu. Ia menyibakkan darahku dengan jemarinya, lalu mengecup lembut dalam bibirnya.
Aku hanya membisu, membisu karena aku terlena dengan apa yang dilakukan Pak Bastian. Aku terlalu lemah dengan daya pikatnya.


"Kamu seksi ..." gumamnya lirih dengan tatapan yang semakin tajam.


"Apa? Pak?"


*****

Bersambung..


Next
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
Lanjutttt sis. W kasih cendol biar zemangat emoticon-Toast
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan
lanjutttkeunnnnn
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Asik ada cerita baru.. Mantap gan nitip jejak dimari

emoticon-Ngacir2
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 4

(A Thriller, Horror Story) E MINOR
Source : pinterest


*****

"Kamu seksi ..." gumamnya lirih dengan tatapan yang semakin tajam.


"Apa? Pak?"


Apa? Aku seksi? Jangan - jangan aku yang salah dengar! Arrgh, sepertinya telingaku perlu diperiksakan ke THT.


Jantungku pun semakin menabuh genderangnya, entah kenapa mata Pak Bastian tak berkedip memandangiku. Bahkan, jemariku pun masih tergenggam erat di tangannya. Aku pun ikut - ikutan membisu tanpa bersuara. Selain karena bingung harus berkata apa, rasa grogi membuatku tak bisa berkutik.


"Lena, badanmu sebagus ini karena keturunan ya?" bisiknya diantara suara hujan yang semakin menderas.


"Ma ... maksudnya apa ya, Pak?" tanyaku kebingungan.


Sontak mata Pak Bastian berpaling, dalam sekejap, ia melepaskan genggaman tangannya.


"Sudah, lupakan saja, jarimu masih sakit?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.


"Eng, Enggak apa - apa kok, Pak. Hanya luka kecil, di kasih plester juga lama - lama sembuh, hehehe, " jawabku memecah kecanggungan.


"Bagus lah," pungkasnya singkat seraya memalingkan pandangan wajahnya ke arah yang lain.


"Anu, maaf Pak, senar gitarnya terkena darah saya, akan saya bersihkan segera." Dengan sigap, kuambil tisyu dari dalam tas selempangku, untuk membersihkan bekas darah yang tak sengaja berbekas di gitar itu.


"Hentikan!" teriak Pak Bastian tiba - tiba.
Betapa kagetnya aku saat mendengar larangannya itu. Lantas, tangan Pak Bastian menepis tanganku yang hendak membersihkan dawai gitarnya. Aku hanya bisa terperangah lalu melepaskan dua lembar tisyu itu dari genggamanku.


"Maaf, Lena, bukan maksudku mengagetkanmu. Kamu tak perlu repot - repot membersihkannya, kasihan jarimu pasti masih sakit," tuturnya dengan nafas yang terlihat sedikit tersengal.


"A ... ooo, iya Pak, maaf. Emm anu, ngomong - ngomong Bapak sepertinya suka sama warna merah ya?" tanyaku berbasa - basi diantara rasa bingungku atas perilaku Pak Bastian yang terlihat aneh hari ini.


Ia pun kembali menatap kedua netraku, lekat sekali. Lalu kedua tangannya menyangga gagang kursi tempat dimana aku duduk, dan membungkukkan badannya tepat di depanku. Lagi - lagi aku tak kuat dengan pesonanya.


"Kamu itu peka ya? Aku memang suka dengan warna merah, bahkan sangat suka." Ia menyunggingkan senyum simetris di bibirnya, dan semakin memajukan badannya ke arahku.


"Kamu tahu? Aku juga tertarik padamu, Lena," gumamnya meledakkan bom atom di dalam jantungku.


"Pak, jantungku ... jantungku mau copot," ungkapku jujur dengan nada bergetar. Sontak suara tawa renyah hadir dalam senyum Pak Bastian.


"Hahahahaha, kalau begitu jujurlah Lena, kenapa di setiap pelajaranku kamu terlihat selalu melamun? Hmm."


"OMG ... OMG! Benar - benar Pak Bastian sedang menguji nyaliku! Dia kenapa sih, suka banget bikin aku kelimpungan begini," gerutuku dalam hati.


"Emm, itu ... anu ... aku ... aku ..."


"Kamu bikin aku semakin gemas denganmu, Lena! Jujurlah, biar aku paham apa yang membuatmu tak bisa fokus dalam pelajaranku, kamu nggak mau nilai senimu jelek kan?" tanyanya dengan wajah maskulin yang kian mempesona.


"Bapak ganteng soalnya, huhhh," jelasku dengan rasa malu yang tak terkira, segera kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku, seraya menunduk menghindari tatapan mematikan dari Pak Bastian.


Kedua pinggangku tiba - tiba terasa hangat karena ada dua telapak tangan yang menyentuhnya. Tremor badanku semakin tak terkendali.


"Buka wajahmu, Lena, kamu cantik sekali dengan kaos merah itu," pintanya seraya mengambil kedua tanganku.


"Pak? Hentikan, aku nggak kuat!" ujarku sejujur - jujurnya. Lantas ia pun tertawa kembali, kemanisan senyumnya sungguh tak tertandingi.


"Lena, bagaimana kalau kita sering bertemu? Nggak apa - apa kan, kalau kamu les gitar denganku setiap hari di jam yang sama?"


"Mau ... mau!" seruku secara spontan nan bersemangat. "Ah, dasar aku! Jangan bikin malu bisa nggak sih, Lena?" ungkap bathinku yang sedari tadi sedang simpang siur.


"Tapi, boleh aku minta perjanjian denganmu?"


"Apa itu, Pak?" tanyaku penasaran.


"Jangan sampai ada yang tahu pertemuan kita di sini ya, cukup aku dan kamu saja yang tahu. Lalu? Pakailah baju merah, warna itu cocok sekali denganmu, Lena."


Baju warna merah? Oke, aku punya beberapa di rumah. Lalu? Tak boleh ada yang tahu? Ah, entahlah aku bingung.


"Eng ... kalau ada yang curiga gimana Pak? Atau misalnya aku keceplosan gitu?"


Seketika sentuhan halus terasa mendebarkan di sela - sela urai rambutku. Lalu sentuhan halus kembali menjalar dalam jari - jemariku, hingga kecupan lembut ia benamkan pada jariku yang terluka.


"Kamu akan dapat hukuman," pungkasnya misterius.


Aku hanya tertegun dengan perangainya hari ini, tapi, aku tak peduli dengan itu semua. Hatiku hanya bisa beriak mengatakan bahwa aku benar - benar sangat beruntung.


"Cup ..."


Sebuah kecupan lembut dibenamkan di pipi kananku, sungguh hangat dan mendebarkan.


"Sampai bertemu besok, Lena!"


*****

Bersambung..

Next
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
nyaman ni dibacanya dan ceritanya juga bikin penasaran... lanjut sis emoticon-Cendol (S)
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Bagus ceritanya.. nunggu lanjutan lagi.

emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Ga ada-lah cerita abal2 sist. Susah bikin cerita yg buat penasaran kaya gitu...

emoticon-Salam Kenal
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan

Part 5

(A Thriller, Horror Story) E MINOR
Source : pinterest


*****

Pak Bastian, pria misterius itu telah membuatku semakin jatuh hati. Dia yang semalaman sudah berhasil membuatku tak nyenyak tidur, dan dialah yang membuatku menjadi jengah dengan jam pelajaran sekolah. Serius, aku bahkan berharap ada alat yang bisa mempercepat laju waktu, agar aku bisa lekas bertemu dengan pria penggetar jiwa itu.


Ah, Pak Bastian. Gara - gara terlalu bersemangat untuk bertemu dengannya di waktu les selanjutnya, aku harus membongkar isi lemariku untuk mengumpulkan semua baju berwarna merah yang aku punya. Entahlah, separuh hidupku serasa sudah menjadi miliknya.


Kukenakan baju terbaik pilihanku semalam, yaitu terusan berwarna merah sepanjang lutut dengan kombinasi warna hitam di bagian bawahnya. Sedikit ketat, tapi masih terasa nyaman di badanku. Lalu, aku tak boleh terlihat pucat hari ini, sedikit berdandan mungkin bisa menambah daya tarikku kepadanya. Lantas, kububuhi sedikit lipstik berwarna coral di sekitar tulang pipiku lalu meratakannya perlahan agar pipiku terlihat lebih merona.


"Ah, jangan - jangan hari ini Pak Bas mau menembakku!" pikirku dengan segala perasaan yang membuncah. Seketika pikiranku kembali mengawang kejadian manis kemarin sore. Ciumannya benar - benar membuatku dimabuk kepayang, spontan, hangat dan mendebarkan. Aura seksinya sungguh tak terbantahkan, meskipun ada beberapa hal aneh yang kudapati dari perangainya. Aaargh! Masa bodoh dengan hal - hal aneh itu. Bisa dekat dengan Pak Bastian saja, sudah membuatku senang bukan main.


*****

Angka - angka pada jam tanganku terus berkedip menunjukkan waktu. Sengaja aku datang lebih awal, agar Pak Bastian tidak terlalu lama menungguku. Namun, ternyata aku salah. Dia sudah duduk manis di ruang musik sembari menggemakan musik klasik dari dawai gitarnya. Kuintip raganya dari celah pintu, seraya menikmati sosok rupawan yang semakin memikat tatkala ia bersanding dengan bakatnya itu.


"Kamu ngapain ngintip - ngintip gitu?" serunya mengagetkanku. Sontak kutegakkan badanku segera, lalu menyunggingkan senyum canggung karena rasa malu tak terkira.


"Ma ... maaf, Pak, takut ganggu Bapak soalnya, hehe," ujarku malu - malu.


Pak Bastian terlihat berdiri dari duduknya, lalu membuka pintu yang tadinya hanya tertutup setengahnya. Pintu pun terbuka, matanya terlihat awas memandangiku dari atas ke bawah dengan seksama dan tanpa kata, aku hanya diam merasa bingung. Apa jangan - jangan dandananku terlalu berlebihan?


"Kenapa ngeliatinnya gitu, Pak? Ada yang aneh ya?" tanyaku sembari menundukkan kepalaku.


"Enggak, aku suka kok, kamu keliatan lebih menarik," jawabnya membuat perasaanku semakin tak karuan.


"Ayo, masuk, kita mulai lesnya." Efek kejut terjadi secara mendadak karena Pak Bastian menggandeng pergelangan tanganku kananku dan membawaku masuk ke dalam ruang musik.


Seperti kemarin, Pak Bastian menjelaskan ulang mengenai materinya, namun tatapan matanya lebih awas memandangiku kali ini. Berkali - kali mata kami saling beradu, dan entah kenapa Pak Bastian terlihat lebih berkeringat. Padahal, cuaca tidak sedang panas, dan pendingin ruangan cukup terasa menusuk kulit.


"Butuh tisu kah, Pak?" tanyaku berbasa - basi karena peluhnya terlihat sangat kontras membasahi kemejanya.


"Emm, boleh," jawabnya singkat.


Segera kuambil satu kotak kecil tisu dari dalam tasku, lalu menyerahkannya. Ia pun mengambilnya, lalu mengelap wajahnya yang sedari tadi terlihat membasah.


"Bapak sakit?" tanyaku, dan ia hanya menggeleng.


"Lena, bolehkah aku melepas bajuku?"
Aku hanya ternganga, sungguh pertanyaan mencengangkan yang entah bagaimana harus kujawab.


"Si ... silahkan, Pak."


Satu hal yang kurasakan kali ini. Gugup! Aku harus bagaimana? Pura - pura tak melihatnya melepas baju? Atau bersikap biasa saja? Sayangnya aku bukan tipe orang yang pandai berpura - pura.


"Lena, ada yang ingin kutanyakan," ungkapnya seraya melepas kancing bajunya satu per satu.


"I ... iya, Pak," jawabku sembari meredupkan pandangan mata, karena takut silau akan sesuatu di hadapanku.


"Laki - laki yang mengobrol denganmu di ruang lab kimia itu siapa?"


Laki - laki? Siapa? Di ruang lab? Rasa gugupku benar - benar membuatku tak bisa berpikir jernih. Kucoba mengingat - ingat dengan sekuat tenaga, mengenai lelaki yang dimaksud Pak Bastian itu.


Suara detak jam dinding di ruang ini seketika terdengar lebih keras karena keheningan yang tiba - tiba hadir diantara kami. Lambat laun, aku teringat Vio, teman seangkatanku yang duduk di kelas lain. Kami memang cukup dekat sebagai teman sekaligus tetangga, karena rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahku.


"Maksudnya Vio, Pak?"


"Mungkin, dia suka kamu?" Suara barithonnya terdengar sedikit menggertak.


"Bu ... bukan begitu, dia hanya teman dan tetangga rumah saja kok," jawabku dengan perasaan yang masih setengah bingung. Samar - samar terlihat Pak Bastian sudah tak mengenakan kemejanya, dan aku masih bertahan dengan menundukkan pandanganku.


Tiba - tiba kedua tangan kekarnya mencengkeram pundakku, meskipun tak begitu kuat. Aroma keringatnya yang khas dan menyegarkan semakin menusuk hidungku.


"Aku nggak suka kamu dekat dengan lelaki manapun kecuali aku, Lena, kamu paham?" gertaknya dengan intonasi suara yang ditekan.


Kegugupanku semakin bertambah, bukan rasa takut karena gertakannya, akan tetapi posisi badan kami yang saling berhadapan.
Pak Bastian menarik perlahan daguku, lalu membisikkan kata yang membuatku semakin melayang.


"Kamu cuman punyaku, mengerti?"


Aku yang semula menutup mataku rapat - rapat akhirnya tak sanggup melanjutkannya. Kubuka mataku perlahan hingga kemudian mata kami saling menatap, lalu ia pun mengusap pipiku perlahan dengan jari - jemarinya.


Aku juga heran dengan tubuh dan isi otakku, kenapa aku begitu patuh dengan pintanya? Entahlah, mungkin karena aku sudah dimabuk asmara.


"Iya," gumamku luluh.


Ada rasa buncahan bahagia yang tak terkira, karena aku pikir Pak Bastian sudah menyatakan cintanya kepadaku meskipun dengan bahasa yang berbeda.


"Hai semesta! Aku sekarang jadi pacar Pak Bastian! Huaaaaaaaaa," teriakku dalam hati.


Wajah tampan itu semakin mendekat, lantas ia memejamkan matanya, aku pun begitu hingga kedua indera pengecap kami saling beradu.


"Aaaah!" teriakku karena aku merasakan sesuatu telah menusuk kulit tanganku.


Aku mendorong perlahan bahu Pak Bastian yang hendak mencumbuku, lalu dengan segera aku memeriksa sumber sakit yang tiba - tiba kurasakan di tanganku.


"Darah?"


*****

Bersambung..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dwyzello
ijin nenda dimarih ganss
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:


Sami - sami.

emoticon-Jempolemoticon-Salaman
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
lanjuttt bosss...kirain darah apaan..😃😃😃😃
profile-picture
dwyzello memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 2


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di