CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / B-Log Personal /
◄ஜ۩۞۩ Relevansi Gelora ۞۩ஜ►
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eb370fe8d94d017ce11644e/relevansi-gelora

◄ஜ۩۞۩ Relevansi Gelora ۞۩ஜ►



Relevansi Gelora



Ada seseorang yang terbiasa sendirian dalam sepi, jadi terbiasa menahan golakan jiwa yang meracau. Sendirian. Seperti aku.

Ada saat di mana aku butuh pelarian ketika kecemasan datang kembali. Seperti saat seseorang datang, siapapun. Hanya untuk sekadar teman bicara. Suasana bisa berubah seketika. Menghasilkan euphoria tersendiri.

Aku sangat suka berada di tempat sepi, yang hanya ada aku. Tapi aku mulai takut, jika kesepian itu ternyata merenggut rasa amanku sendiri. Itu terjadi tanpa bisa kucegah.

Tidakkah seseorang mengerti, bahwa kesendirian tidak akan membuat perasaan nyaman selalu. Aku ingin seperti mereka. Tapi, faktanya aku sungkan. Ini salah siapa? Kebiasaan itu akhirnya jadi mengurung diri sendiri. Bagai berada dalam penjara. Jikapun aku berusaha pergi, tidak akan mudah.

Semua perasaan itu dilalui sendiri, tanpa teman cerita. Tidak tahu harus cerita bagaimana. Semuanya mungkin hal kecil, tapi kerap kali aku merasa tak tahan berdiri lagi. Berpikir, harus kuapakan napasku yang hambar ini

Aku mencari tempat untuk melepaskan kegilaan di kepala, untuk diisi dengan hal-hal yang lebih menyenangkan, juga menenangkan. Jiwaku pun hanya butuh pelarian. Dimensi rasa yang berbeda, berpadu pada asa yang ditemani dengan secangkir kopi hitam. Yang bebas dapat aku pilih, ingin rasa pahit atau sesendok gula sebagai temannya.

Pada masa lalu,,
Tahukah kamu isi hatiku saat ini? Isi hatiku saat ini, ingin sekali tersenyum bersamamu dan mengisi hari dengan penuh warna hidup. Maksudku aku ingin kembali pada masa lalu. Masa dimana aku merasakan benar-benar hidup bahagia dan tersenyum menghayati nikmatnya hidup. Untuk saat ini, aku hanya bisa bernostalgia dengan apa yang pernah terjadi. Maaf jika aku masih menetap pada masa laluku. Terimakasih telah berkunjung pada kehidupanku. Jangan lupakan aku yang pernah menjadi alasan untuk melekukkan bibirmu saat itu.

Saat ini dan kedepannya, inilah rumahku, tempatku nyaman untuk berkesah segala apa yang ada dibenakku ataupun sebagai telaga penyejuk jiwaku yang dahaga. Jika ada yang ingin berkenan singgah, aku ucapkan selamat datang pada dunia sepiku, dan aku mohon untuk menjaga sikap layaknya tamu kehormatan yang sedang dijamu dengan segala kabaikan, tanpa adanya penolakan-sekian.



Notes: Thread ini dibuat hanya sebagai wadah bersenang-senang bagi TS untuk menuangkan tulisan yang di anggap menarik tanpa adanya tujuan komersial atau mengharapkan interaksi apapun dari semua tulisan di sini, sekarang, nanti dan selamanya.


■ Berbahagialah mereka yang bisa menghargai waktu ■


Untuk perhatiannya
TS ucapkan setulus hati, Terimakasih.




《《《《 ☆☆☆ °~♡~° ☆☆☆ 》》》》





profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 26 lainnya memberi reputasi
Halaman 1 dari 7
emoticon-Paw
emoticon-Paw
Kusebut kita calon masa depan, ketika rasa ini kurasa saling berbalasan. Namun itu telah menjadi masa lalu. Sebab kini, yang ada tetap saja aku dan kamu tanpa ada rencana lagi menjadi ‘kita’ di situ. Kita pernah hampir bersama, kemudian takdir ternyata tak berjalan sebagaimana mestinya. Dan sedih adalah usaha yang percuma, sebab air mata nyatanya tak cukup kuat memanggil sebuah nama; namamu. Kukira kalenderku akan penuh dengan cerita-cerita yang terisi oleh kita. Tapi nyatanya terlewati begitu saja tanpa sebuah kata bernama kita. Hanya kenangan tersisa sebagai kota lama, tanpa bisa lagi kuracik jadi buah tangan untuk masa depan.
Di timur, justru ada koleksi luka yang berbujur. Cukup, aku malas membaur.

Di barat, sosok yang kucari tak terlihat. Hati mulai sekarat. Hujan kecewa mulai terasa lebat.
emoticon-Paw
Di utara, hanya ada sepenggal kisah dan kenangan yang tersisa.



Sepertinya aku kelelahan jika harus pergi lagi ke selatan. Bagaimana jika rindu tak bisa terpulangkan? Bagaimana jika aku tersesat di tengah jalan? Lalu kemana aku harus pulang? Mana jawaban? Mana hadiah dari perjalanan? Pertanyaan-pertanyaanku seperti bertepuk sebelah tangan, mungkin hanya aku yang boleh menentukan jawaban dari setiap isi pertanyaan. Aku pun hanya bisa menyetujui hasil diskusi pikiran dan hati. Hati menang lagi. Suaranya selalu bisa membuat logika terpeleset jatuh, hingga gengsi dan perasaan-perasaan pengganggu lainnya runtuh. Jika mata angin memang benar hanya ada empat, selatan maka akan jadi tempat terakhir yang akan kupijaki.

Aku tiba, tapi tidak ada apa-apa.
Lihat 1 balasan

Tiba-tiba rindu bergerak dari tempat yang kukira sudah retak, mataku terbelalak. Ini Selatan, objek itu hanya bersembunyi pada tempat yang tak kelihatan. Dia ada, rindu bahagia. Hati tak usah ditanya. Mata angin terakhir, membuat tak ingin pertemuan ini berakhir. Aku tak ingin pulang, aku tak ingin tahu caranya pulang. Aku ingin tersesat disini saja, dimana objek itu berada.
Diubah oleh Thivay
Di selatan, aku telah menemukan. Perlu waktu untuk mataku tersadarkan, perlu waktu untuk tetap sabar menunggu.
Ini perjalanan. Jika kamu belum menemukan, jangan terburu-buru untuk segera pulang. Seperti aku, mungkin terlebih dulu harus mengikuti alur agar tahu bagaimana caranya sabar terulur. Nanti jika waktu sudah tahu caranya menunjukkan jalur, rindu pun akan segera terkubur. Mata anginmu tersebar luas, bergegaslah berpergian mencari tempat agar rindu bisa terlepas.
emoticon-Paw
emoticon-Paw
emoticon-Paw


Ada segaris panjang hela menyusup lewat dada.

Ada jeda yang terlahir sempurna sebagai perantara.

Ada protes panjang telinga yang menganggap ini hanya keonaran saja.

Ada musikalisasi bebunyian kecewa dari kita yang berpura baik-baik saja.

Ada bias-bias luka yang mulai hadir seperti kaca disaat kaki melangkah kemana saja.

Ada tiada yang di agung-agungkan mereka, tentunya karena cemburu pada kebersamaan kita.

Aku hanya terdiam, begitu pun kamu yang bungkam.

Jika lebih baik menyeka tangis sendiri-sendiri, bahagia yang pernah kau pernah berikan dulu hilangkah di sakuku? Kemana mereka? Ada apa dengan kita?

E n t a h

Menghilang adalah salah satu jurus untuk dirindukan. Tapi lama-lama menghilang justru bisa membuatmu lama-lama tersingkirkan.
Diubah oleh Thivay


Aku baru saja memimpikan kita. Kuharap itu bukan sekedar asa, tapi cita-cita yang nantinya akan berubah menjadi nyata.
Lihat 1 balasan

Tak-tik semestakah ini?

Rindu memang pintar merayu, tapi rasanya mustahil jika ia bisa menghadirkan objek pengisi hati yang tahunan absen dalam temu. Ya, kamu. Mataku seperti de-javu berkali-kali melihatmu disini. Kelilipan bayangmu kah? Atau mesin waktu memang benar ada di jamanku? Mungkin ini ilusi, mimpi atau minus mataku terlalu tinggi. Mungkinkah dulu tembok hatiku terpenuhi oleh pigura gambarmu, hingga kini susah untuk menyapu detil-detil kecil tentangmu dari korneaku?
Diubah oleh Thivay

Jawabku hanya satu. Tidak tahu.

Tanpa suara, tanpa kedipan mata, tanpa nafas bahagia, tanpa gerak, kau seakan berdiri di depan kornea tanpa nyawa. Aku pun hampa. Lebih hampa dari biasanya, dari sebelum hatiku selesai menata semuanya lalu kau tiba disini seperti bagian dari ilusi. Mungkin, aku pernah bilang takkan bertanya “Kemana saja kau selama ini?” jika kau tiba disini. Tapi sepertinya selain menculikmu, waktu telah menculik sesosok baru sebagai penggantimu. Rindu masih ada. Tapi bukan berarti dengan oleh-oleh wajah tak bahagia dengan sendumu, hati akan kembali iba. Tidak kembali adalah tombol utama pencegah sakit hati. Aku tak mau hanya jadi sementara layaknya rel kereta yang kau lalui saat belum tiba di stasiunmu.Aku punya dia yang harus kujaga hatinya, setidaknya aku tak ingin berkarma dengan melukainya. Semoga cinta tetap berjalan pada porosnya.

Diubah oleh Thivay


Selamat menutup hati-aku, selamat pergi ke tujuan baru-kamu.

Dari perbatasan ilusi, aku sadar hati telah benar-benar menyembuhkan diri dan bebas dari penyangkalan saat ia mengerti harus menolakmu untuk kembali.

Diubah oleh Thivay


《《《《 ☆☆☆ °~♡~° ☆☆☆ 》》》》
Diubah oleh Thivay
Halaman 1 dari 7


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di