CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Subuh Ramadhan tak Terlupakan
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eb369bdfacb9536a939842e/subuh-ramadhan-tak-terlupakan

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Halo agan/aganwati, pembaca semuanya. Ingatkah dulu dijaman gadget masih dikit dan bermain di lapangan adalah hal yang sangat menyenangkan?.

Hehe, disini penulis mau membawa agan untuk bernostalgia di subuh hari bulan ramadhan, ya kebetulan patokannya 10 tahun yang lalu jadi tahun 2010 aja ya hehe emoticon-Big Grin . Padahal 2008, 2009, 2011, dsb deketan.

Ok langsung saja, nikmatin ceritanya gan

======= SUBUH RAMADHAN DIMASA KECIL=======

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Kala itu sehabis sahur dan sholat subuh sudah selesai aku keluar dari rumah dengan membuka terali yang masih terkunci. Diluar angin terasa sangat sejuk membuat tubuh menjadi ingin direnggangkan. Aku melihat kedamaian di arah langit yang saat itu masih berwarna biru gelap seperti bisa menghipnotis dengan garis-garis awan berwarna abu-abu.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Lalu aku mengarahkan pandanganku ke lampu jalanan dan terlihat juga embun-embun tipis yang masih berupa kabut air membuat hidung terasa dingin. Sayup-sayup terdengar suara pengajian pagi dari masjid yang jaraknya sekitar 300 meter dari tempatku.

Tak lama kemudian, ada bunyi petasan dari jalanan yang arahnya berlawanan dari masjid. Niatku awalnya mau mengajak teman-teman tetangga untuk berjogging santai, olahraga pagi. Tetapi suara petasan yang semakin ramai dengan gemuruhnya membuatku penasaran dan ingin melihat dari dekat.

Aku berjalan menyusuri rumah-rumah tetangga yang lampu depannya sudah dimatikan. Tak lama kemudian, aroma asap yang khas dari kembang api tercium di ujung jalan perumahan. Aku pun berbelok menuju jalan utama.

Sesampainya disana aku lihat beberapa temanku rupanya sudah sedari tadi melihat perang percon ini di sebuah bengkel motor pinggir jalan yang belum buka. Mereka ada yang duduk di batu besar pinggir jalan dan ada juga yang berdiri menyender di tiang kayu bengkel motor tersebut.

Aku pun menyapa mereka yang tampaknya tidak mau melihatku, mungkin karena sudah terlalu fokus melihat kearah perang percon dan meriahnya kembang api itu. Akhirnya aku juga duduk didekat temanku menyaksikan tontonan asik itu sambil bertanya iseng mau ikutan kesana atau tidak.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Jarak kami lumayan jauh dari sumber keributan anak-anak pemain percon itu. Kira-kira mereka di 200 meter kearah kanan, karena kami disebelah kiri dan kanan adalah kampung yang berbeda.

Kami bersenda gurau apabila anak-anak kampung sebelah bakalan menang perang percon ini dan menembakkan perconnya ke arah bengkel di dekat kami. Namun, setelah itu kami lihat, malahan anak kampung kami yang lebih garang karena perconnya lebih banyak. Tapi setelah mereka mendorong anak kampung sebelah sekitar 100 meter dan perconnya mulai habis, giliran anak kampung sebelah yang mendorong ke arah kami. Sampai-sampai kami yang didepan bengkel juga ikut berlari masuk ke arah perumahan.

Kami pun duduk di depan pagar rumahku sambil tertawa bersama tanpa ada alasan yang jelas. Lalu setelah keadaan mulai menenang, kami kembali ke jalan utama. Dan kami lihat disana asap mengepul banyak sekali, sehingga yang bisa kelihatan dengan jelas hanyalah lampu jalan yang berwarna kuning.

Tidak lama kemudian, terdengar suara motor 2tak yang bergerak dari arah kampung sebelah. Motor itu lalu menembus kepulan asap dengan kecepatan yang gila, sampai sampai telinga kami tutup karena suaranya lumayan menyakitkan.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Ketika mereka kembali, salah seorang temanku melemparkan percon korek kecil ke arah motor itu. Lantas kami langsung berlari pulang ke rumah masing-masing.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Tak terasa hari sudah mulai terang, asap yang tadinya dijalan kini sudah bertebar di rumah-rumah sekitar. Aku yang masih ingin merasakan sejuknya pagi kini merasa letih di kaki. Ya, mungkin aku harus pulang juga untuk menonton kartun favoritku yang akan tayang di tv.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Aku masuk kerumah, keadaan sunyi sekali seakan tak berpenghuni, mungkin karena kakak adiku masih tertidur dan ayah ibuku duduk di ruang tamu hanya mengobrol berdua.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Aku masuk ke kamar mandi, mencuci bersih wajahku kemudian tangan dan kaki dengan air keran. Lalu aku pergi ke ruangan tengah yang gelap hanya ada cahaya dari tv yang sedari tadi belum dimatikan. Aku duduk diam didepan tv itu dengan nafas sedikit terengah, dan akhirnya nyaman tersenyum bahagia.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Pagi yang panjang, menegangkan, mengasyikan, dan membawa ingatan manis masa kecilku.

==================   E N D ===================

Kalo diingat-ingat lagi, perang percon ini sebenarnya berbahaya. Karena dapat merusak indra pendengaran dan penglihatan, serta beresiko mengakibatkan kebakaran jika percikan api terkena barang-barang yang mudah terbakar.

Selain perang percon, biasanya penulis berjalan santai atau jogging dengan teman-teman masa kecil ke jalan-jalan luar perumahan. Karena dulu masih banyak jalan setapak yang kalo pagi sangat sejuk udaranya, sebab dulu lahan-lahan masih kosong. Oh indahnya masa kecil.

Subuh Ramadhan tak Terlupakan

Ya segitu dulu pengalaman masa kecil penulis di subuh hari ramadhan. Nah, pengalaman agan mana nih? Tulis di kolom komentar ya gan!

Semoga Bermanfaat, dan
Terima Kasih

*gambar illustrasi dari google
profile-picture
profile-picture
yuki26 dan darmawati040 memberi reputasi
Diubah oleh rizapadlevi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di