- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Pedagang di Labuan Bajo Akan Jualan Bergantian Demi Cegah Penyebaran Covid-19
TS
chemical.sapto
Pedagang di Labuan Bajo Akan Jualan Bergantian Demi Cegah Penyebaran Covid-19
Pedagang di Pasar Rakyat Batu CerminLabuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) akan diatur untuk berjualan secara bergantian, Senin (4/5/2020).
Hal tersebut dilakukan agar para pedagang dapat menjaga jarak (physical distancing) demi pencegahan penyebaran virus Corona ( Covid-19) di daerah itu.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Mabar, Frans Sukur saat melakukan penertiban di pasar tersebut.
• PKK Belu Bantu Logistik dan APD Bagi Petugas Posko Covid-19
"Kami rencananya pakai shift. Jadi yang jual bergantian, sehingga menjaga jarak," katanya.
"Kami akan identifikasi mereka (pedagang), yang jual hari ini di sini, besok jangan lagi," jelasnya saat ditanya komentarnya terkait keluhan para pedagang yang takut terkena virus Corona karena berjualan secara berdekatan.
Menurutnya, penertiban yang dilakukan agar menata pasar tradisional itu lebih tertata secara baik.
• Bupati Niga Dapawole Turun Lapangan Bila Pelaku Perjalanan Membandel Jalankan Karantina
Terlebih di saat wabah virus Corona (Covid-19) yang telah melanda Kabupaten Mabar.
Berdasarkan data yang dimilikinya, terdapat sebanyak 417 pedagang diPasar Rakyat Batu Cermin.
Selanjutnya, terdapat juga lapak jualan yang disediakan sebanyak 175 lapak bagi pedagang.
Namun demikian, mayoritas pedagang lebih memilih untuk berjualan di bagian luar sehingga pihaknya pun harus turun lapangan bersama instansi lainnya untuk melakukan penertiban.
"Dilema, karena yang jualan itu para penjual di bagian dalam, sehingga kami arahkan Mereka ke dalam," jelasnya.
Menurutnya, para pedagang dinilai kurang patuh dengan arahan pemerintah.
Salah satunya adalah Pasar Tumpah yang diizinkan beroperasi hingga pukul 09.00 Wita, namun fakta di lapangan para pedagang berjualan hingga sore hari.
"Pasar Tumpah itu hanya di pasar baru. Dan idealnya mereka hanya di sana dan dari sini beli hasil di sana, baru jual di sini," katanya.
Pihaknya pun akan melakukan pendataan sehingga para pedagang yang belum mendapatkan lapak akan diarahkan berjualan di pasar baru.
Diberitakan sebelumnya, penertiban para penjual di Pasar RakyatBatu Cermin Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), menuai protes para pedagang, Senin (4/5/2020).
Para pedagang berdalih enggan berjualan di lapak yang berada di dalam gedung pasar karena takut terkena virus Corona (Covid-19).
Dalam gedung pasar, ratusan lapak yang disediakan secara berdampingan dengan ukuran 1 meter.
Para pedagang ingin menerapkan physical distancing seturut keinginan pemerintah, namun tempat jualan tidak memungkinkan.
"Kami bisa kena penyakit karena tertampung di sini. Makanya kami jualan di luar," kata seorang pedagang, Salestiana Miana saat ditemui POS-KUPANG.COM.
Selain itu, lapak yang tersedia dirasakan tidak menampung barang dagangan yang ada dan pasca Covid-19, lanjut Miana, penghasilan para pedagang turun drastis.
"Kalau kami di sini, bisa cepat sekali kena Corona Covid-19 karena tertampung di dalam. Kan kami tidak tahu apakah pedagang lainnya ini kenaCorona atau tidak. Makanya kami minta selagi Corona ini jualannya di luar saja biar tidak kena Corona," tandas Miana.
Dikesempatan yang sama, pedagang lainnya, Maria Seniman (41) mengatakan, pemerintah pun harus tegas dalam menindak para penjual yang datang dari luar Kabupaten Mabar seperti dari wilayah Ruteng, Borong, Bajawa dan Bima.
Pasalnya, kehadiran para pedagang yang juga berjualan di pasar tumpah mengakibatkan pengunjung pasar hanya membeli kebutuhannya di area pasar tumpah yang berada di luar gedung pasar.
"Kalau kami sudah di dalam, atur pasar tumpah, karena di situ dijual murah dan pembeli tidak sampai di bagian dalam. Bagaimana kami mau hidup, saya kehilangan modal Rp 2 juta saat jualan di dalam selama 1 bulan. Dan tidak ada keuntungan. Padahal saya ikuti imbauan pemerintah," kaluhnya diamini sejumlah rekan penjual lainnya.
Diakuinya, tempat jualannya pun dinilai tidak strategis karena sangat sempit dan sepi pembeli.
"Akses di gedung ini sangat tidak memenuhi syarat untuk kita mau jualan. Semua pedagang di sini menangis dengan air mata darah, karena hasil penjualan tidak sesuai dengan target, bukan kami tidak mengindahkan fasilitas yang diberikan pemerintah, tapi kami merasa tidak hidup," katanya.
Menurutnya, pasca merebaknya wabah virus Corona, penghasilan yang didapat para pedagang di Pasar Rakyat Batu Cermin sangat menurun drastis.
"Penghasilan sangat berkurang, apalagi jika hanya jualan dan ada pasar tumpah di luar. Hotel dan restoran ditutup juga sehingga penghasilan kami sangat berkurang," ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah pedagang di Pasar Rakyat Batu Cermin Labuan Bajo, ditertibkan oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Senin (4/5/2020).
Penertiban dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Mabar bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Mabar, Dinas Perhubungan Mabar, Dinas Kesehatan Mabar dan Badan Lingkungan Hidup Daerah Mabar.
Penertiban ini juga dilakukan dalam rangka penanganan penyebaran Covid-19 di daerah itu.
Sebab, para pedagang berjualan di bagian luar gedung yang telah disediakan lapak jualan.
Para pedagang berjejer menjajakan dagangannya pada bagian luar gedung yang bersebelahan dengan jalan utama.
Sempat terjadi adu mulut antara pedagang yang enggan untuk ditertibkan.
Para pedagang beralasan karena dagangan mereka tak kunjung laku jika dijual di dalam lapak jualan di dalam gedung.
Namun demikian, para pedagang secara perlahan membawa dagangan mereka untuk dijual di dalam lapak bagian dalam gedung.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Mabar, Stefanus Salut mengatakan, penertiban tersebut dilakukan menindaklanjuti surat dari Menteri Perdagangan kepada Perindagkop Mabar.
"Karena dilarang, semua yang di sini, karena ada 400 lapak di dalam," ungkapnya.
Diakuinya, para pedagang menggunakan lahan yang bukan diperuntukkan untuk berjualan. Bahkan, kata dia, ada tempat yang digunakan untuk tidur siang.
Usai melakukan penertiban, selanjutnya bersama dinas terkait lainnya akan membangun posko Covid-19 di area pasar.
Sementara itu, salah satu pedagang, Maria Asil (45) mengaku kecewa dengan penertiban yang dilakukan pemerintah.
Menurutnya, alasan para pedagang berjualan di luar gedung yang disediakan karena penghasilan yang tidak maksimal di area lapak di dalam gedung dan takut terkena Covid-19.
"Jadi kalau ini untuk mengimbau alangkah baiknya tutup (pasar) total saja," ungkapnya.
Selain itu, pihaknya tidak sepakat berjualan di lapak yang disediakan karena tidak dapat mengatur jarak (physical distancing) dengan orang lain.
"Saya dengar harus kena matahari juga. Saya mau ke ke dalam tapi di dalam itu berkerumun. Kami sudah rasakan," paparnya.
Diakuinya, pasca mewabahnya Covid-19, penghasilan dari berjualan sayur di pasar menurun drastis.
Hal tersebut mengakibatkan ia pun sulit memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Assale Viana)
https://kupang.tribunnews.com/2020/0...id-19?page=all
Semoga wabah ini cepat berlalu
Hal tersebut dilakukan agar para pedagang dapat menjaga jarak (physical distancing) demi pencegahan penyebaran virus Corona ( Covid-19) di daerah itu.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Kabupaten Mabar, Frans Sukur saat melakukan penertiban di pasar tersebut.
• PKK Belu Bantu Logistik dan APD Bagi Petugas Posko Covid-19
"Kami rencananya pakai shift. Jadi yang jual bergantian, sehingga menjaga jarak," katanya.
"Kami akan identifikasi mereka (pedagang), yang jual hari ini di sini, besok jangan lagi," jelasnya saat ditanya komentarnya terkait keluhan para pedagang yang takut terkena virus Corona karena berjualan secara berdekatan.
Menurutnya, penertiban yang dilakukan agar menata pasar tradisional itu lebih tertata secara baik.
• Bupati Niga Dapawole Turun Lapangan Bila Pelaku Perjalanan Membandel Jalankan Karantina
Terlebih di saat wabah virus Corona (Covid-19) yang telah melanda Kabupaten Mabar.
Berdasarkan data yang dimilikinya, terdapat sebanyak 417 pedagang diPasar Rakyat Batu Cermin.
Selanjutnya, terdapat juga lapak jualan yang disediakan sebanyak 175 lapak bagi pedagang.
Namun demikian, mayoritas pedagang lebih memilih untuk berjualan di bagian luar sehingga pihaknya pun harus turun lapangan bersama instansi lainnya untuk melakukan penertiban.
"Dilema, karena yang jualan itu para penjual di bagian dalam, sehingga kami arahkan Mereka ke dalam," jelasnya.
Menurutnya, para pedagang dinilai kurang patuh dengan arahan pemerintah.
Salah satunya adalah Pasar Tumpah yang diizinkan beroperasi hingga pukul 09.00 Wita, namun fakta di lapangan para pedagang berjualan hingga sore hari.
"Pasar Tumpah itu hanya di pasar baru. Dan idealnya mereka hanya di sana dan dari sini beli hasil di sana, baru jual di sini," katanya.
Pihaknya pun akan melakukan pendataan sehingga para pedagang yang belum mendapatkan lapak akan diarahkan berjualan di pasar baru.
Diberitakan sebelumnya, penertiban para penjual di Pasar RakyatBatu Cermin Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), menuai protes para pedagang, Senin (4/5/2020).
Para pedagang berdalih enggan berjualan di lapak yang berada di dalam gedung pasar karena takut terkena virus Corona (Covid-19).
Dalam gedung pasar, ratusan lapak yang disediakan secara berdampingan dengan ukuran 1 meter.
Para pedagang ingin menerapkan physical distancing seturut keinginan pemerintah, namun tempat jualan tidak memungkinkan.
"Kami bisa kena penyakit karena tertampung di sini. Makanya kami jualan di luar," kata seorang pedagang, Salestiana Miana saat ditemui POS-KUPANG.COM.
Selain itu, lapak yang tersedia dirasakan tidak menampung barang dagangan yang ada dan pasca Covid-19, lanjut Miana, penghasilan para pedagang turun drastis.
"Kalau kami di sini, bisa cepat sekali kena Corona Covid-19 karena tertampung di dalam. Kan kami tidak tahu apakah pedagang lainnya ini kenaCorona atau tidak. Makanya kami minta selagi Corona ini jualannya di luar saja biar tidak kena Corona," tandas Miana.
Dikesempatan yang sama, pedagang lainnya, Maria Seniman (41) mengatakan, pemerintah pun harus tegas dalam menindak para penjual yang datang dari luar Kabupaten Mabar seperti dari wilayah Ruteng, Borong, Bajawa dan Bima.
Pasalnya, kehadiran para pedagang yang juga berjualan di pasar tumpah mengakibatkan pengunjung pasar hanya membeli kebutuhannya di area pasar tumpah yang berada di luar gedung pasar.
"Kalau kami sudah di dalam, atur pasar tumpah, karena di situ dijual murah dan pembeli tidak sampai di bagian dalam. Bagaimana kami mau hidup, saya kehilangan modal Rp 2 juta saat jualan di dalam selama 1 bulan. Dan tidak ada keuntungan. Padahal saya ikuti imbauan pemerintah," kaluhnya diamini sejumlah rekan penjual lainnya.
Diakuinya, tempat jualannya pun dinilai tidak strategis karena sangat sempit dan sepi pembeli.
"Akses di gedung ini sangat tidak memenuhi syarat untuk kita mau jualan. Semua pedagang di sini menangis dengan air mata darah, karena hasil penjualan tidak sesuai dengan target, bukan kami tidak mengindahkan fasilitas yang diberikan pemerintah, tapi kami merasa tidak hidup," katanya.
Menurutnya, pasca merebaknya wabah virus Corona, penghasilan yang didapat para pedagang di Pasar Rakyat Batu Cermin sangat menurun drastis.
"Penghasilan sangat berkurang, apalagi jika hanya jualan dan ada pasar tumpah di luar. Hotel dan restoran ditutup juga sehingga penghasilan kami sangat berkurang," ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah pedagang di Pasar Rakyat Batu Cermin Labuan Bajo, ditertibkan oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Senin (4/5/2020).
Penertiban dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Mabar bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Mabar, Dinas Perhubungan Mabar, Dinas Kesehatan Mabar dan Badan Lingkungan Hidup Daerah Mabar.
Penertiban ini juga dilakukan dalam rangka penanganan penyebaran Covid-19 di daerah itu.
Sebab, para pedagang berjualan di bagian luar gedung yang telah disediakan lapak jualan.
Para pedagang berjejer menjajakan dagangannya pada bagian luar gedung yang bersebelahan dengan jalan utama.
Sempat terjadi adu mulut antara pedagang yang enggan untuk ditertibkan.
Para pedagang beralasan karena dagangan mereka tak kunjung laku jika dijual di dalam lapak jualan di dalam gedung.
Namun demikian, para pedagang secara perlahan membawa dagangan mereka untuk dijual di dalam lapak bagian dalam gedung.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Mabar, Stefanus Salut mengatakan, penertiban tersebut dilakukan menindaklanjuti surat dari Menteri Perdagangan kepada Perindagkop Mabar.
"Karena dilarang, semua yang di sini, karena ada 400 lapak di dalam," ungkapnya.
Diakuinya, para pedagang menggunakan lahan yang bukan diperuntukkan untuk berjualan. Bahkan, kata dia, ada tempat yang digunakan untuk tidur siang.
Usai melakukan penertiban, selanjutnya bersama dinas terkait lainnya akan membangun posko Covid-19 di area pasar.
Sementara itu, salah satu pedagang, Maria Asil (45) mengaku kecewa dengan penertiban yang dilakukan pemerintah.
Menurutnya, alasan para pedagang berjualan di luar gedung yang disediakan karena penghasilan yang tidak maksimal di area lapak di dalam gedung dan takut terkena Covid-19.
"Jadi kalau ini untuk mengimbau alangkah baiknya tutup (pasar) total saja," ungkapnya.
Selain itu, pihaknya tidak sepakat berjualan di lapak yang disediakan karena tidak dapat mengatur jarak (physical distancing) dengan orang lain.
"Saya dengar harus kena matahari juga. Saya mau ke ke dalam tapi di dalam itu berkerumun. Kami sudah rasakan," paparnya.
Diakuinya, pasca mewabahnya Covid-19, penghasilan dari berjualan sayur di pasar menurun drastis.
Hal tersebut mengakibatkan ia pun sulit memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Assale Viana)
https://kupang.tribunnews.com/2020/0...id-19?page=all
Semoga wabah ini cepat berlalu
0
398
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan