CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Budaya /
Tuah Keris Nagasasra
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eafcef5349d0f7493117af1/tuah-keris-nagasasra

Tuah Keris Nagasasra

#Cerpen
#Fiksi

Asap putih membumbung di atas pembakaran. Bau kemenyan menyeruak seketika memenuhi ruangan. Sementara di sebelahnya tampak sebuah nampan dengan tumpeng kecil, kembang tiga rupa, juga uang recehan. Sebuah ritual akan segera dimulai.

Sepuluh jemari keriput itu gemetar, diiringi suara gumaman tidak jelas. Rupanya bibir menghitam itu tengah komat kamit merapal mantra.

Perlahan lelaki berkumis dan berjanggut putih itu meraih keris berlekuk sembilan yang terbalut kain beludru hitam. Ujung runcing dan gagangnya ia pegang secara horizontal dengan penuh rasa hormat. Setelah membungkuk takzim, ia menutup kedua matanya sambil kembali mulutnya membacakan mantra.

“Salam ngalaikum salam tuk pitu sumur pitu, gumilir ilining wawarih. Saking kulon, saking wetan. Saking ngandap, saking nginggil. Saking lor, saking kidul. Saking kiwo, saking tengen. Kabeh-kabeh dadi sambatan. Aweh daya urun jaya, saka keparenge Guru Alip. Raja ing ngalam pitu, daya jaya kumpul, manjing karomah saka kersaning ALLAH.”

Sang Empu memegang gagang keris, lalu membakar ujung bilah di atas tungku. Setelah besi memerah, keris itu dicelupkan dalam air bunga. Lima detik kemudian, lidah Empu Aryasuta yang terkenal sakti itu menjilat ujung keris sebagai penyempurnaan prosesi terakhir.

**

Aji Trenggono menapakkan kaki di halaman rumah separuh papan yang sederhana. Ia tak peduli pada penat, setelah hampir lima jam mengendarai mobil sport terbaru miliknya.

Langkahnya tegap melewati rumput jepang menghijau yang terhampar. Lelaki usia empat puluhan itu mengetuk daun pintu jati tebal yang tak berukir, diiringi ucapan salam.

Tak sampai ketukan ketiga, muncul sosok lelaki tua berambut putih dengan ikat kepala berwarna sama. Setelah mempersilakan tamunya masuk, lelaki tua itu menganggukkan kepalanya. Isyarat buat sang tamu untuk mengikutinya.

Tanpa banyak basa basi, Aji beranjak mengekor langkah tuan rumah, menuju sebuah pintu kayu yang terhubung dengan bagian belakang.

Rupanya halaman belakang rumah yang didominasi kayu itu berupa area terbuka. Berlantai kayu dengan amben bambu yang menghadap ke taman juga kebun yang cukup luas. Meskipun matahari bersinar terang, tapi udara sejuk di kaki gunung Kawi saat itu terasa nyaman.

Sejenak Aji terpana. Dari tempatnya mematung, tampak kebun sayuran yang subur dan hijau. Sementara tak jauh darinya, beragam bunga anggrek yang menggantung sedang mekar. Sangat indah menghiasi taman yang tertata dengan rapi.

“Itu semua kerjaan istriku,” ucap Pak tua sembari menunjuk bunga anggrek putih yang menempel di tiang kayu.

Empu Aryasuta mempersilakan tamunya untuk duduk di amben yang telah dipenuhi sajian makanan.

“Ayo, kita makan dulu. Bagaimana tadi perjalanannya, cukup melelahkan, bukan?” ucap lelaki itu sembari terkekeh.

“Terima kasih, Ki. Lumayanlah, sekalian refreshing buat saya,” balas Aji ramah.

Hidangan yang tersaji cukup sederhana. Wader goreng, sayur lodeh, dan sambal terasi sangat menggugah selera. Setelah isi kedua piring seng itu tandas, mereka beranjak menuju ruang depan.

Empu Aryasuta mengeluarkan kotak plastik berisi beberapa linting klobot, yaitu potongan tembakau yang dibungkus daun jagung kering. Satu ia sodorkan pada Aji. Pemantik api itu berdenting, saat ujung klobot yang terselip di bibirnya itu mulai terbakar.

Seketika asap membumbung dari kedua bibir mereka. Keduanya duduk berhadapan. Lelaki usia tujuh puluh tahun itu kemudian membuka sebuah kotak kayu penuh ukiran. Ia mengeluarkan suatu benda, terbungkus kain beludru hitam.

Wajah semringah Aji tak bisa disembunyikan, saat sang Empu menunjukkan benda yang selama ini ia dambakan.

“Ini adalah keris Nagasasra dengan ‘dhapur' naga ber-luk sembilan,” terang Pak Tua itu dengan bangga.

Ia mengeluarkan keris dari warangka, memandangnya lekat tanpa berkedip. Diusapnya pelan bagian gandik keris yang berbentuk kepala naga. Tanpa ragu, ia menyerahkan keris itu pada lelaki di hadapannya.

“Ini ... sangat indah, Ki.” Aji hampir tidak mengedipkan mata. Tangannya gemetar saat memegang keris di genggamannya. Perlahan jemarinya menelusuri bilah keris, dengan tatah yang berbentuk sisik badan ular yang sangat halus teksturnya.

“Apa yang kamu inginkan sebenarnya?” tanya Empu Aryasuta dengan lugas.

“Nuwun sewu, Ki. Terus terang, saya butuh keris Nagasasra agar sukses kembali pada pilkades tahun depan.” Tatapan Aji tidak beralih dari keris di tangannya.

“Buat apa lagi? Rupamu bagus, bicaramu cakap. Prestasimu juga sudah terbukti, bukan?” Empu Aryasuta terkekeh.

“Hati saya tidak tenang, Ki. Saya yakin, jika keris ini saya miliki, musuh-musuh dan saingan saya bakal mental semua.”

“Hehehe ... menungso iku pancen aneh. Ingat! Keris Nagasasra ini bukan sembarang keris. Kalau kamu kurang kuat, akibatnya bisa fatal. Sanggup?” Empu Aryasuta memandang Aji, seakan menilai kemampuan lelaki yang menunduk di depannya.

“InsyaAllah, Ki. Saya sanggup.”

“Baiklah. Pesanku hanya satu. Hati-hati dengan hati manusia. Jangan sampai kamu menyakiti atau mempermainkan siapa pun juga. Apa yang kau tabur itulah yang akan kau tuai.”

“Nggih, Ki. Matur suwun sanget."

Lelaki berkulit sawo matang itu meraih warangka jati yang mengkilap dan berukir indah. Ia masukkan kembali keris ke dalamnya, lalu membungkus benda itu kembali dengan kain beludru sebelum ditaruh dalam kotak kayu.

**

Riuh suara gamelan juga gelak tawa memenuhi pendopo desa, di malam syukuran terpilihnya kembali sang kepala desa. Para penari tayub atau ledhek dengan kebaya ketat dan kain jarik sepaha, lincah berlenggak-lenggok mengikuti irama.

Salah seorang yang paling menonjol penampilannya, juga lebih cantik di antara semua penari, menghampiri sang kepala desa yang sedang duduk bersama para pejabat lainnya. Ia kalungkan kain selendang ke leher lelaki yang berdiri sempoyongan dengan tuak di tangan, sambil tersenyum genit dan menggoda.

Mereka tidak menyadari, di suatu sudut pendopo, ada sepasang mata indah yang menatap tajam. Tatapan seorang wanita yang terluka. Beberapa saat ia memperhatikan tindak tanduk sang kepala desa yang tiada lain adalah suaminya. Ia tak tahan melihat tingkah liar sepasang manusia yang sedang menari di sana. Sebelum air matanya jatuh, ia segera meninggalkan tempat itu sendirian di tengah gelapnya malam.

**

“Tidur di mana semalam, Kang Mas?” tanya Sita pada sosok lelaki yang semalam telah membuat dirinya menangis.

“Siapkan air panas. Aku mau mandi,” jawab Aji, tanpa menoleh sedikit pun pada istrinya.

“Jawab dulu pertanyaanku!” Sita meradang.

“Aku mabuk semalam. Kepalaku pusing sekarang ... haruskah kita ribut gara-gara ini?”
Sorot mata Aji yang tajam membuat Sita gemetar.

Sita tak menjawab, ia segera beranjak menuju dapur sambil menahan kesal. Tak terasa sudut matanya mulai menghangat. Butiran bening itu luruh jua.

Setelah itu, hidup Aji dan Sita berubah. Aji semakin bersinar dalam kariernya. Bahkan ia digadang-gadang akan dicalonkan menjadi walikota. Kesibukan Aji tidak hanya seputar pekerjaan saja. Paras tampan, jabatan, juga harta yang berlimpah telah membutakan hatinya.

“Katakan, siapa perempuan itu, Kang Mas?” tanya Sita di suatu malam yang dingin. Hujan deras telah mengguyur sejak sore hari.

“Apa maksudmu? Bicaralah dengan jelas,” tanya Aji, berusaha sedatar mungkin, menyembunyikan gentar di dadanya.

“Aku tahu, sejak perayaan di pendopo ... kamu jadi semakin berubah." Sita duduk di pinggir ranjang.

“Apa maksudmu? Apa lagi yang kurang dariku? Bisakah kamu bersyukur sedikit saja, dan biarkan aku juga bersenang-senang,” balas Aji dengan suara lantang.

“Aku tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu sepak terjangmu di belakangku!” Raut muka Sita terlihat tegang menahan amarah.

“Baiklah, aku akui itu semua. Lagi pula, apa yang bisa kuharapkan dari perempuan mandul sepertimu, hah?”

Suara petir menggelegar, seakan menghunjamkan kepedihan di hati Sita. Perempuan cantik itu tak bisa lagi menahan sesuatu yang membuat sudut matanya kian menghangat. Air matanya berderai sudah.

“Mengapa baru kali ini kamu bicara seperti itu, Mas? Padahal kupegang semua perkataanmu dulu, bahwa cinta dan kebahagiaan tidak melulu tentang kehadiran anak.”

“Sekarang, aku berpikir beda.” Aji mengusap wajah dengan kedua tangannya.

“Aku mengerti. Semua karena ledhek genit itu, kan?” Suara perempuan itu melengking. Mengalahkan badai yang berkecamuk di luar.

Amarahnya semakin meradang saat membayangkan hal yang mungkin telah terjadi di antara suami dan sang penari. Sesuatu yang selama ini ia sangka.

"Kalian berdua membuatku muak!" jerit Sita semakin tak tertahan.

“Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita, jangan kamu libatkan dia!” tukas Aji tajam.

Sita terbahak-bahak, tapi kemudian berurai air mata. Perih, mengetahui bahwa suami yang dibanggakannya itu telah berkhianat. Ia hampir tak percaya, lelaki pujaan hatinya itu pun membela perempuan yang telah memorak-porandakan kehidupan rumah tangganya.

“Lalu, apa maumu sebenarnya, Pak Kades terhormat?” Suara seraknya terdengar lagi. Sita mengusap air mata yang tak henti meleleh di pipi dengan kedua tangannya.

“Aku akan menikahinya. Aku hanya ingin memiliki penerus keturunan."

Bagi Sita, suara bariton Aji mengalahkan gemuruh badai di luar sana.

Tubuh semampai itu luruh di pinggir ranjang, ketika sosok suaminya berlalu dari hadapan.

Mau tak mau, suka tidak suka, ia harus menerima kenyataan. Sulit baginya untuk menjalani rumah tangga seperti yang diinginkan suaminya.

Dengan perasaan hancur, perempuan berkulit putih itu membereskan seluruh pakaiannya dalam koper besar. Ia memutuskan untuk menyingkir saja. Tidak ada lagi kebahagiaan yang tersisa untuknya jika terus bersama Aji. Hati lelaki itu telah terbagi.

Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi dirinya, untuk angkat kaki dari rumah yang penuh dengan kenangan bersama sang kekasih. Bahkan sang kekasih sendiri, hanya memandang mobil sedan itu pergi di tengah rinai yang tiada henti.

**

Hangat mentari menyapa bunga anggrek putih di taman. Sita tengah fokus pada pekerjaannya, membuat desain baju pesanan sebuah butik ternama di kota.

“Nduk, lihat itu di televisi!”

Tergopoh-gopoh seorang perempuan tua berambut putih menyeret tangan Sita ke dalam rumah.

“Wonten menopo, Budhe?

Mata lentik itu terbelalak melihat sosok lelaki yang sangat dikenalnya di layar. Wajah tampan itu tertunduk dalam balutan baju oranye di antara kawalan para polisi.

Sementara itu di sudut ruang, seorang lelaki tua berambut putih tengah duduk terayun-ayun di kursi goyang. Matanya terpejam sambil mengisap klobot dengan nikmat, lalu tersenyum penuh makna.

End

Cibinong, 21 Maret 2020

Pic: Pinterest

Tuah Keris Nagasasra
profile-picture
profile-picture
sarkaje dan denbagoes01 memberi reputasi
Diubah oleh thiyan7
nyimak gan 😁
profile-picture
thiyan7 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di