CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eaf735e10d2953952595505/bab-52

Bab 52

Bab 52 : Pembicaraan Serius Bag. II

🌸🌸🌸

Karena pihak hotel mengizinkan mereka untuk memasak makanan mereka sendiri. Jadi Jinhyuk sudah membeli bahan-bahan memasak dan memastikannya cukup untuk mereka makan sampai malam nanti.

Lily bertugas memasak makanan Indonesia, sementara Jinhyuk dan Ha Neul memasak masakan Korea. Delta, Aciel dan si kecil Mevin kebagian tugas membuat desert.

Mereka memutuskan memasak berbagai makanan Korea dan Indonesia, lalu berdiskusi panjang soal makanan dan cara memasak, bahkan membedah resep rendang Padang dan membandingkan jenis-jenis rendang di tiap-tiap daerah di Indonesia.

Mocca hanya duduk di sana mendengarkan, mengerti kalau rasa semua makanan itu enak, tapi tidak tertarik untuk mempelajarinya. Toh, suaminya Jinhyuk bisa memasakkan apa saja untuknya.

Setelah diskusi panjang hampir setengah jam, keputusan untuk bakar-bakaran ayam, dan bikin sate Padang malah keluar sebagai pemenang. Nggak ada sama sekali hubungannya dengan rendang.

Jinhyuk dan Ha Neul membuat Samgetang dan dokbokki, Lily menyiapkan tusuk sate dan membuat bumbu sate Padang, sementara Mocca hanya di suruh jadi asisten (tukang ambilin sendok sama bagian icip-icip).

Mocca berniat membantu Delta membuat minuman, tapi ia di usir setelah salah memasukkan garam dan membuat minuman yang harusnya manis itu menjadi rasa air laut.

"Ma'af…tadi Mevin salah meletakkan tutup toplesnya jadi, bunda nya Mevin….

"Tidak apa-apa." Lily tersenyum sambil mengelus kepala anak kecil itu. Mocca yang membuat kesalahan hanya tersenyum malu. "Aku sudah bilang kan kalau aku, agak kurang konsentrasi kalau di dapur. Hehehe…....ma'af."

Jinhyuk datang setelah mencuci ayam. Ia langsung mengerti ketika mendengar istrinya itu minta ma'af, seperti biasa, Mocca pasti membuat kekacauan di dapur. "Varo sepertinya kesulitan mengganti popok Jeno, bagaimana kalau kamu membantunya."

Mocca mengangguk setuju dan beberapa saat kemudian dia sudah bergabung dengan para suami.

Jinhyuk tersenyum ke arah anaknya yang tadi meminta ma'af. Ia tau Mevin tak mungkin salah meletakkan tutup toples, si kecil itu hanya berbohong untuk melindungi ibunya. "Mevin tolong bantu tante Delta dan Kak Ciel bikin kue ya!."

Anak kecil itu mengangguk lalu pergi membantu Delta dan Aciel.

"Mevin, benar-benar bersikap terlalu dewasa untuk anak seusianya. Ia bahkan tau cara melindungi ibunya. Kamu pasti bangga." Ungkap Lily yang langsung membuat senyum di wajah Jinhyuk mengembang.

"Dia mirip ibunya."

Pernyataan itu membuat Lily terdiam. Mirip......dari mananya???

"Mereka berdua cendrung meminta ma'af atas kesalahan yang orang lain buat." Jinhyuk menjelaskan pertanyaan di kepala Lily.

Wanita itu mengangguk mengerti. Lalu menyunggingkan senyum, Mevin mengingatkannya pada Arion.

"Senang melihat mu tersenyum dan sehat lagi." Tiba-tiba pria itu berkata sambil menepuk bahu Lily.

"Varo sudah seperti mayat hidup selama 7 tahun ini. Ia bahkan jarang tersenyum di depan anak-anak. Lebih dingin lagi di depan orang lain. Untungnya sekarang dia sudah kembali normal, bahkan rasa cemburu dan tatapan menyebalkan yang ia arahkan padaku, membuat ku merasa lega."

Lily tersenyum. Ia melihat Varo yang entah mendebatkan apa dengan istri Jinhyuk bersama dengan para suami yang lain. Varo memang terlihat lebih ceria dan banyak bicara dari sebelumnya, ia bahkan sudah memiliki teman bisnis yang juga bisa jadi teman diluar pekerjaan.

"Bagaimana dengan Arion??, Dia sekarang sudah 10 tahun dan tidak mungkin kalau kalian akan membiarkannya tetap di rumah. Arion juga sepertinya tidak tertarik menjadi koki, dia tidak ada disini sekarang untuk membantu kita memasak dan aku pikir….dia tidak tertarik dengan berlian."

Lily mengangguk setuju. "Dulu…karena dia masih kecil, agak susah menentukan apa yang Rion inginkan. Sekarang setelah usianya 10 tahun, dia juga tidak banyak menuntut. Varo membelikannya mainan, membelikannya laptop, mengajaknya olahraga bahkan mengajaknya kerja. Tapi Rion…hanya mengikutinya saja dan tersenyum simpul. Kami tidak tau apakah ia tertarik dengan salah satu dari hal-hal itu."

Lily menghela nafas dalam. "Kami sebenarnya berencana mengikutinya homeschooling. Tapi….Arion hanya akan menjadi pribadi yang semakin tertutup dan takutnya dia akan jadi seperti Varo waktu kecil, merasa terkekang. Jadi mungkin….meski harus mengeluarkan banyak uang, Arion akan kami sekolahkan di sekolah swasta yang menerima dan mau mengajarinya dari awal."

"Atau ia di sekolahkan di tempat yang sama dengan Dafa. "Delta menyela pembicaraan mereka berdua. "Ha Neul bilang, pangganganya sudah siap."

Jinhyuk yang bertugas memanggang, akhirnya pindah dan membantu Ha Neul sementara Lily menusuk daging ke tusuk sate.

Karena tugas membuat kue Delta sudah selesai, ia membantu Lily. Sedangkan Aciel dan Mevin setia di depan panggangan sambil mengobrol.

"Kemampuan berbahasa Inggris Arion bagus, ia bahkan bisa bicara fasih dalam bahasa Korea. Kalau kamu masih ragu menyekolahkannya di Indonesia, kamu bisa minta bantuan Taek Won, mungkin dia bisa sekolah di tempat yang sama dengan anak perempuannya." Delta memberikan saran.

"…….Rion…..bisa ngomong bahasa Korea??, Sejak kapan???...tunggu dulu....Rion....bisa ngomong bahasa Inggris???."

"……Apa....kamu benar-benar nggak tau??!." Delta lebih terkejut lagi melihat reaksi Lily. "Anak-anak mengobrol dalam bahasa Inggris karena Yong Ji dan Min Ji tidak mengerti bahasa Indonesia. Bahkan Arion bicara dalam bahasa Korea sesekali."

"Itu....bagaimana mungkin??. Aku...tidak pernah mengajarinya...maksudku....Rion koma ketika umurnya 3 tahun. Dulu dia memang sering nonton kartun berbahasa Inggris, Korea, Jepang dan China, tapi tidak mungkin hanya gara-gara itu lantas Rion jadi begitu fasih." Kerutan di dahi Lily bertambah.

Jinhyuk datang meminta sate yang siap untuk di panggang.

"Kenapa??." Tanya Jinhyuk bingung ketika melihat Lily.

"Apa....kamu pernah mengajari Rion bahasa Korea??." Hanya Jinhyuk yang terlintas di kepala Lily, jika itu berhubungan dengan Korea.

Namun Jinhyuk menggeleng.

"Tapi....Rion pernah menelpon ku, meminta di kirimi video kartun dari berbagai bahasa dengan subtitle bahasa Inggris. Dia juga minta dikirimi soft file kamus bahasa Korea, Jepang, China dan Inggris dan Prancis. Itu....3 hari setelah kalian keluar dari Rumah Sakit."

"Apa?!!."

Mevin datang sambil membawa 3 buah cupcake yang baru matang. Ia menunjukkannya pada Jinhyuk.

Jinhyuk mencicipi cupcake itu dan tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. "Enak sekali!."

Mevin tersenyum lalu meminta Lily dan Delta mencicipi cupcake buatannya.

"Aku rasa...Arion mempelajari semuanya secara otodidak." Delta menarik kesimpulan dari penjelasan Jinhyuk.

Lily mengangguk. Ia tersenyum sambil mengelus kepala Mevin. "Tante suka cupcake nya. Terima kasih."

"Ah...aku jadi iri kalian punya anak yang jenius." Jinhyuk mengeluh. Tapi detik berikutnya langsung menggeleng. "Tidak!!!, Aku juga sudah punya si jenius di sini."

"Mevin si golden hand. Bisa membuat apa saja hanya dengan sekali cicip dan lihat tutorialnya. Anak Appa (ayah dalam bahasa Korea) yang paling hebat selain Jeno."

Lily, Jinhyuk dan Delta tersenyum saat melihat semburat merah di pipi anak kecil itu. Imutnya~.

Suasana hangat itu tiba-tiba menjadi dingin ketika seorang pria datang dan mengambil nampan kosong di tangan Mevin.

Varo menatap anak kecil itu lama sebelum akhirnya menoleh ke arah Lily lalu mengambil cupcake di tangan istrinya itu.

"Terlalu kecil. Buatkan om cupcake yang lebih besar, om pesan 100 cupcake dengan topping strawberry."

Mevin mengangguk lalu segera pergi dengan perasaan sangat senang. Sementara Lily, Delta dan Jinhyuk melongo.

"Kenapa masih di sini??!!. Berhenti tebar pesona dan sana pergi bantu anak mu kerja!!. Menyebalkan!!!."

Varo mengatakannya dalam bahasa Korea dan membuat Jinhyuk langsung tertawa ngakak.

Begitu Jinhyuk pergi, Varo langsung memarahi Lily. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan tersenyum pada pria lain selain aku."

Lily, "......"

Delta, "....." Wanita itu mengerti kenapa Alfa dan Varo bisa berteman sekarang. Mereka berdua punya terlalu banyak kesamaan sifat. Terutama bagian kecemburuan abnormal seperti ini.

Delta turut prihatin dengan Lily. Ia tau perasaan harus bersabar menghadapi pria seperti itu.

Lily yang malang.

🌸🌸🌸
Bab selanjutnya :

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d1954ae846aaca
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sales.mobil1 dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh cicimasni
Thread sudah digembok
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di