CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eaef8e6349d0f21480566f8/segenggam-luka

Segenggam Luka

Segenggam Luka

Cari siapa?" kataku dengan senyum terkembang setelah membuka pintu. Tampak seorang wanita cantik

"Kamu, Mayang?" Wanita itu bertanya dengan sinis. Entah kenapa, tiba-tiba dada berdesir mendengar dia menyebut namaku.

"Ya, saya Mayang. Maaf, mbak siapa, ya? Sepertinya kita belum kenal." Dia memandangiku dari atas ke bawah.

"Oh, jadi ini istri simpanan Mas Arya. Hm, cantik, tapi ... kampungan!"

Aku mengernyit. Tak paham.
"Apa? Simpanan? Maaf, mungkin Mbak salah orang." Aku masih berusaha bersikap manis, walau aku sedikit terkejut dengan kalimat wanita berlesung pipit itu.

"Hei, perempuan murahan! Dengar, aku Ratna, istri Arya. Istri sah Arya! Kuperingatkan, jangan pernah mengganggu suamiku lagi!"

Bagai petir di siang bolong kalimat yang baru saja kudengar. Lututku seakan goyah.

"M-maksud, Mbak?"

"Kamu budeg, ya? Arya sudah memiliki istri. Tinggalkan Arya sekarang juga! Kalau tidak, kau akan tahu akibatnya!"

Perempuan itu meninggalkan kontrakanku. Segera kututup pintu, lalu menangis di baliknya. Apa aku tak salah dengar? Mas Arya sudah punya istri dan anak? Lalu, bagaimana nasib bayi di perutku?

Segera kuambil ponsel. Sial, Mas Arya tak menjawab.

***

"Mas, aku mau bicara."

"Bicara apa, Sayang? Sini, mendekat sama Mas," ujarnya seraya merengkuhku ke dalam pelukan.

"Siapa Ratna?"

Dalam pelukan lelaki yang menikahiku enam bulan lalu itu, bisa kudengar detak jantungnya yang menjadi lebih cepat, berlomba dengan degub jantungku sendiri saat kutanyakan nama itu.

"Ratna siapa? Kenapa kamu tanyakan hal itu?"

"Tadi siang, ada perempuan bernama Ratna datang kemari. Dia datang bersama Dean, mengaku sebagai istrimu." Air mataku tumpah, mengingat kejadian siang tadi.

Mas Arya memelukku kian erat, mungkin mencoba menenangkanku.

"Sudah, tak usah kau pikirkan."

"Aku hanya butuh kejujuranmu, Mas. Benarkah dia istrimu?" Lelaki berkulit kuning itu menarik napas panjang.

"Maafkan aku, Mayang. Memang benar, dia istriku."
Aku yang sempat berharap Mas Arya mengatakan bukan, seperti hilang pegangan. Pandanganku mengabur, lututku kembali goyah.

"Kamu tega, Mas. Tega!" Aku berteriak, lalu berlari ke kamar. Kutumpahkan tangisku di atas bantal.
Tak lama kurasakan tubuh lelakiku mendekap erat.

"Maafkan aku, Mayang. Maaf. Aku tak bermaksud membohongimu."

"Lepaskan aku!" Kucoba melepaskan diri dari pelukannya. Aku merubah posisi, dari tidur menjadi duduk. Mas Arya tak kalah sigap, kembali memelukku, kali ini lebih erat.

"Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu."

"Omong kosong!"

"Tidak, Mayang, aku jujur. Hanya kamu yang kucintai."

"Cukup, Mas, cukup!"

"Ratna adalah perempuan yang dipilihkan orang tuaku. Aku tak pernah mencintainya."

"Tak mencintainya bukan alasan untuk mengkhianatinya kan Mas?!"

"Aku tak berniat mengkhianatinya. Salahkah kalau rasa ini berlabuh padamu, Mayang? Kamu bagai oase yang hadir di padang pasir. Kamu ...."

"Aku benci kamu, Mas. Aku benci kamu!" Aku meronta, tapi Mas Arya tak melepasku.

"Pergi kamu, Mas. Pergi!"

"Tidak akan, Mayang. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan wanita yang kucintai?"

Tuhan, bagaimana ini? Sungguh, aku tak tahu kalau Mas Arya sudah menikah. Kalau aku tahu, pasti akan kutolak ajakannya untuk menikah. Ah, mataku terlalu dibutakan oleh cinta. Atau mungkin, aku yang terlalu lugu, sehingga Mas Arya dengan mudah membohongiku?

"Aku akan menceraikan Ratna, bila itu maumu."

"Tak perlu, Mas. Biar aku yang pergi."

"Aku tak akan pernah melepaskanmu, Mayang," katanya seraya mengeratkan pelukan.

***

Untuk pertama kalinya, kuinjakkan kaki di kota kembang. Langkah kaki membawaku ke sini, setelah bapak mengusirku dari rumah. Aku tak bisa menerima bapak yang akan menikah lagi, setelah kepergian ibu. Aku baru mengagumi keindahan kota yang kutuju tersebut. Tiba-tiba, seseorang menarik tasku dengan paksa.

"Copet .... Copeeet!" Spontan aku berteriak sambil mengejar lelaki itu. Dari arah berlawanan, muncul sesosok pemuda, dengan sigap menjegal kaki si pencopet, lalu merebut tasku. Saat hendak mengejarnya, komplotan copet itu sudah menjemput temannya dengan sepeda motor. Aku terengah saat sampai di hadapan lelaki itu.

"Ini milikmu?"

"Iya, Mas. Terima kasih." Kuterima tasku, lalu memeriksa isinya.

"Lain kali hati-hati."
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Kamu bukan orang sini?" tanya lelaki itu lagi.

"Iya, Mas. Saya dari Jogja. Saya mau cari pekerjaan di sini."

"Hm, mau kerja apa?"

"Apa aja, Mas, asal halal."

"Kalau begitu, ayo ikut aku."

"Ke mana, Mas?"

"Katanya mau cari kerja?"

Entah kenapa, aku menurut saja. Sepertinya dia lelaki baik-baik. Buktinya, dia menyelamatkan tasku tadi.

Lelaki itu bernama Arya. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dia memberikan pekerjaan untukku di sebuah toko. Tak hanya itu, aku pun dicarikannya tempat tinggal.

Kami sering bertemu, sehingga nada cinta mulai berdenting di hati kami.

"Mayang, aku sayang padamu. Bagaimana kalau kita menikah saja?"

Aku yang sedang menyeruput teh panas hampir menyemburkan minuman itu.

"Menikah, Mas?"

"Ya, kita ke Jogja. Akan kuminta kamu di depan ayahmu." Aku menghela napas panjang.

"Tapi, Mas, aku sudah tak dianggap anak oleh bapak."

"Kalau begitu, kita menikah siri saja. Yang penting sah secara agama. Aku takut kita terjerumus ke lembah dosa."

Perlahan, bulir bening terjatuh dari mataku. Meskipun ada kesempatan, tak pernah Mas Arya berbuat kurang ajar. Berbeda dengan kebanyakan lelaki yang mengaku cinta, tapi tak bisa menahan hasratnya, dia benar-benar menjaga. Maka kuputuskan untuk menerima pinangannya.

***
Pintu rumahku digedor dengan keras.

"Mana Arya?"

"Mbak Ratna?"

"Mana Arya, Jalang!" Didorongnya tubuhku hingga terjatuh.

"Mas Arya tidak di sini, Mbak."

"Arya, di mana kamu?" Perempuan itu merangsek masuk ke kamar tidurku, lalu ke dapur, juga kamar mandi.

"Kau sembunyikan di mana dia?"

"Mas Arya tak di sini, Mbak. Dia keluar kota."

"Arya, keluar kamu!"

Tiba-tiba, terdengar tangisan bayi. Aku segera masuk ke kamar, mengambil Anjani, anakku.

"Oh, kamu sudah punya anak rupanya."

"Kami sudah menikah, Mbak."

Kulihat air muka perempuan itu berubah. Mulai tampak kaca-kaca di matanya. Perlahan, menetes kristal bening di pipi mulusnya.

"Apa? Menikah?"

"Ya, saat Mbak Ratna kemari untuk yang pertama kali, kami sudah menikah."

"Beraninya kamu. Dasar pelacur murahan!" Telapak tangan kanannya secepat kilat mendarat di pipiku, meninggalkan bekas kemerahan. Namun, hatiku lebih perih.

"Aku bukan pelacur, Mbak ...."

"Tutup mulutmu! Apa yang kau berikan pada suamiku hingga dia rela meninggalkan aku? Apa?"

"Maafkan aku, Mbak. Aku tidak tahu Mas Arya sudah beristri. Kalau tahu, aku pasti akan menolak lamarannya."

Aku menangis, bersimpuh di kaki perempuan itu. Tubuh Mbak Ratna gemetar, mungkin menahan amarah.

"Kau mencintainya?" tanyanya datar. Aku hanya diam, tak berani menjawab.

"Kau mencintainya, Mayang? Jawab aku!" Dia menaikkan intonasinya.

Aku hanya mengangguk. Ya, aku mencintai suamimu, sangat mencintainya! Ingin kuteriakkan kalimat itu di telinganya, tapi lidahku kelu.

"Kalau begitu, tinggalkan dia. Biarkan dia bahagia bersamaku. Aku istri sahnya."

Apa, meninggalkan Mas Arya? Aku bisa mati!

"Apa Mbak Ratna tega memisahkan seorang anak dengan ayahnya?"

Sedetik kemudian, Anjani telah berpindah ke tangannya.

"Pergi kamu dari sini! Tinggalkan suamiku, tinggalkan kota ini! Atau kubunuh bayimu!"

"Jangan, Mbak, saya mohon."

"Cepat, kemasi barangmu, atau ...." Tangan Mbak Ratna sudah berada di leher Anjani.

"Jangan celakai anak saya, Mbak. Saya mohon. Saya akan turuti semua kemauan Mbak Ratna."

Dengan berlinang airmata, kubereskan pakaianku dan Anjani. Tangisan anak itu semakin menambah pilu hati.

"Pergilah, dan jangan pernah kembali!" Wanita itu menyerahkan Anjani setelah kami keluar dari rumah.

***

Stasiun Tugu. Akhirnya aku sampai kembali ke tanah kelahiranku. Aku pulang, membawa luka yang mendalam. Harus merelakan kekasih hati, demi sang jabang bayi. Dengan langkah gontai aku berjalan keluar dari stasiun, lalu mencegat becak yang lewat. Entah bagaimana akan kujalani hidupku setelah ini.

Karma datang menghampiri, seolah mengejek dan menghakimi. Aku yang pernah marah besar karena bapak main belakang, kemudian menikah dengan selingkuhannya setelah ibu meninggal, sekarang harus menjadi istri kedua. Ironis. Mungkin memang benar, bahwa karma adalah sejarah yang terulang.

***

"Pak." Kucium tangan bapak penuh takzim, lalu tubuhku meluruh, bersimpuh di depan kaki beliau. Bapak bergeming. Air mataku tak terbendung. Ibu tiriku mengelus-elus punggung bapak, seakan meredakan kemarahan bapak.

"Maafkan Mayang, Pak." Bapak masih terdiam, tanpa mau melihat sedikit pun ke arahku.

***

Gadis kecil berkuncir dua itu berlarian di taman, mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Cantik sekali dia. Tiga tahun sudah dia menghirup udara dunia.
Tak lama dia berlari ke arah lelaki yang rambutnya mulai memutih, lalu memeluknya manja.

"Cantiknya cucu Kakek." Bapak mengayun Anjani dengan penuh cinta, sehingga gadis kecilku tertawa renyah. Sebuah rangkulan mendarat di bahuku.

"Bapak bahagia sekali dengan kehadiran Anjani."

"Iya, Bu. Mayang senang, bisa membahagiakan bapak di usia tuanya."

Wanita yang kupanggil ibu itu tersenyum. Ya, wanita yang dulu kubenci setengah mati, kini menjadi tempat curahan hati. Wanita yang kukira akan merebut cinta kasih bapak, ternyata memberikan warna tersendiri untuk rumah kami. Dia yang berjuang melunakkan hati bapak hingga mau menerimaku dan Anjani. Kami berdua berpelukan. Aku tahu, bagaimana rasanya menjadi dia sekarang. Status kami sama, seorang istri. Istri kedua.

"Maafkan Mayang, Bu. Mayang banyak salah ama ibu."
Ibu hanya menepuk punggungku.
"Ibu juga minta maaf. Ibu banyak salah sama kamu, juga ibumu. Andai saat itu ibu tahu kalau bapak sudah punya istri, ibu ...."
"Sudah, Bu. Tak perlu menyesali yang telah terjadi. Semua sudah takdir. Kejadian yang menimpa Mayang telah membuka mata Mayang dan bapak. Tak perlu memulas masa lalu. Yang terpenting, sekarang kita merenda masa depan. Terima kasih telah merawat bapak, Bu." Perlahan air mataku menetes. Kami berpelukan.

Kupandang kembali cucu dan kakek itu.

Ah, Dewi Anjani. Wajah itu mirip sekali dengan wajah lelaki yang menggenggam hatiku. Arya Mahesa. Sudah tiga tahun aku meninggalkannya tanpa pesan. Mas Arya, lihat gadis kita. Semakin besar, dia semakin mirip denganmu. Apa kau tak rindu?

Ya, tiga tahun aku berjuang untuk melupakan Mas Arya, tapi tak bisa. Berpisah dari Mas Arya bukan hal yang mudah. Anjani adalah satu-satunya alasanku untuk bertahan.

Bukan aku tak cinta Mas Arya. Sungguh, aku mencintainya, dengan segenap jiwa raga. Namun, aku tak mampu menari di atas luka wanita lainnya. Adakah wanita yang bisa menyakiti hati wanita lainnya? Aku tak berhak atas Mas Arya, karena ada wanita yang telah menggenggam hatinya lebih dulu.

Selama tiga tahun ini, aku membatasi pergaulan dengan lelaki. Banyak yang ingin menyuntingku, walau mereka tahu aku punya Anjani. Aku masih bertahan sendiri, karena bagiku, aku masih seorang istri. Istri kedua ....


Jogjakarta, 3 Mei 2020
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 25 lainnya memberi reputasi
pejwanin duluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
monggo yang mau sharing
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
monggo disimak GamSist
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
semangat sis👍
profile-picture
profile-picture
profile-picture
liee dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
storynya kece.

btw sayang banget ya ke post pukul 00:01, berharap momod bisa masukin ke list kompetisi.
emoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
semenit lebih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
😭ini cerita bikin meleleh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
sayang banget telat semenit, semoga admin berbaik hati
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 2 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Ceritanya nyesek beud, ane jadi sedih bacanya. Semangat ya, Sista.
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan mayyarossa memberi reputasi
Lihat 3 balasan
keren, semoga dapat pengganti yang lebih baik
profile-picture
profile-picture
miniadila dan mayyarossa memberi reputasi
Lihat 3 balasan
sedih banget 😰
profile-picture
profile-picture
mayyarossa dan miniadila memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Bikin meleleh baca kisah ini 😭
profile-picture
mayyarossa memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Air Mata di Kili Suci

Air Mata di Kili Suci

Matahari hampir tergelincir ke barat saat kabut mulai turun. Di air terjun Kembang Soka, tampak seorang gadis sedang memainkan pedangnya. Gerakannya gemulai, terlihat seperti menari. Sesekali dia melompat, lalu melayang di udara.

Tak lama, datang seorang pemuda. Dia menyerang sang gadis. Dengan tangkas, gadis berkulit kuning langsat itu menghadapi serangan sang pemuda. Mereka tampak seimbang. Namun, beberapa saat kemudian, sang gadis tampak kewalahan. Dia terkunci di lengan kokoh sang pemuda.

"Kangmas, lepaskan aku!" Gadis itu meronta.

"Mengaku kalah dulu."

"Lepaskan aku, Kangmas!"

"Ilmu pedangmu sudah cukup bagus, tapi kamu belum bisa menahan seranganku." Pemuda bertubuh tegap itu tersenyum mengoda.

"Tidak! Aku ndak kalah, Kangmas curang." Kini, tak hanya meronta, mulutnya mengerucut.

"Kalau mrengut begitu, kamu semakin cantik, Ndhuk."

Gadis itu menoleh. Tatapan keduanya bersirobok. Dada gadis itu berdebar, seiring pipinya yang memerah. Sang jejaka yang tadi menggoda pun, tak dapat mengendalikan degup jantungnya. Sesaat, dunia seakan terhenti. Keduanya merasa kikuk. Arya, pemuda yang dipanggil Kakang tadi, melepaskan Seruni, gadis yang memainkan pedang.

"Sudah sore, Runi. Ayo kita pulang. Aku ndak mau membuat Bopo dan Simbok khawatir."

"Iya, Kangmas."

Arya bersiul. Seekor kuda hitam mendekat. Dengan sigap pemuda berbadan tegap tadi menaiki kuda, kemudian menyambar pinggang ramping Seruni. Duduk di atas satu pelana, debar di dada keduanya kembali menggelora.

***

Seruni memandang langit-langit kamar. Debar halus di dadanya kembali hadir, saat dia mengingat menaiki kuda bersama Arya tadi. Dia merasa pipinya menghangat, saat mengingat kebersamaannya dengan Arya Panjalu, putra Bopo Waskitho, pemilik padepokan Kili Suci.

"Ndhuk, kamu kok mesam mesem sendiri tu kenapa to? Dari tadi Simbok perhatikan, kamu kok kaya wong gendheng." Mbok Randu yang tidur di sebelah Seruni bertanya pada anak gadisnya.

"Ndak papa, kok, Mbok."

"Ndak usah bohong sama Simbok."
Seruni tersenyum, lalu menghadap simboknya.

"Mbok, bagaimana saat dulu Simbok jatuh cinta sama Bapak?" tanya gadis itu polos.

Mbok Randu menatap putrinya.

"Ooo, kamu sedang jatuh cinta, ya?" Mbok Randu menjawil hidung Seruni.

"Apa yang membuat Simbok jatuh cinta sama Bapak, Mbok?"

"Kenapa kamu tanya hal itu, Ndhuk?"

"Ya, pingin tahu aja, Mbok. Mbok, Kangmas Arya itu baik, ya, Mbok." Seruni lagi-lagi tersenyum.

Mbok Randu mulai menyadari satu hal. Jangan-jangan, Seruni mulai jatuh cinta pada Arya Panjalu!

"Ndhuk, dengarkan Simbok, ya. Jangan terlalu dekat dengan Den Arya. Dia itu ...."

"Ganteng 'kan, Mbok?"

Mbok Randu menepuk jidatnya sendiri.

"Ndhuk. Kita harus sadar diri. Kita itu hanya rewang, babu. Ndak pantes mengharapkan kasih sayang seorang Ndoro, seperti Den Arya."

"Tapi, Mbok, Bopo pernah bilang, kalau derajat kita itu sama, Mbok. Ndak boleh melihat orang dari status sosial, keturunan, atau hartanya saja, Mbok. Dan Kangmas ...."

"Dan jangan panggil dia Kangmas lagi, Ndhuk. Kamu harus membiasakan diri memanggilnya Den Arya."

"Dia melarangku, Mbok. Kami semua disuruh memanggilnya Arya. Tak ada yang memanggilnya Raden."

Mbok Randu mulai kehilangan kata.

"Kalau kamu mengharap kasih sayang dari Arya, lupakan!" Mbok Randu berbalik, memunggungi Seruni. Tanpa dia sadari, air mata menetes membasahi bantalnya.

***

Kabut masih menyelumuti desa Kali Kuning, saat padepokan Kili Suci dihebohkan dengan kedatangan rombongan dari kerajaan Tanjung Anom.

Tampak Raja Sasmita sedang berbincang dengan Bopo Waskitha.
Seruni keluar, menghidangkan teh untuk para tamu agung itu. Saat mempersilakan para tamu minum, tak sengaja matanya bersitatap dengan mata Sang Nata. Entah mengapa, dadanya berdebar.

"Mbok, kenapa raja datang sepagi ini, ya, Mbok?"

"A-apa, Ndhuk?" Mbok Randu tergagap menjawab putrinya.

"Mengapa raja datang sepagi ini? Seperti ada yang penting."

"Itu bukan urusan kita, Ndhuk." Mbok Randu pergi ke belakang, meninggalkan Seruni yang masih penasaran.

***

Ternyata, raja ingin berburu di hutan. Dia meminta Arya menemani. Penasaran, Seruni menguntit mereka.
Sampai di hutan, Raja melihat seekor rusa.

"Anakku Arya, ibumu ingin makan daging rusa. Bawa dia padaku."

"Injih, Romo. Sebaiknya Romo menunggu di padepokan, biar aku urus rusa itu."

Arya segera mengendap setelah raja kembali ke padepokan, tanpa sadar bahwa Seruni mengikutinya.

***

"Jadi, selama ini kamu tinggal di sini?" Raja mengamati kamar Mbok Randu. Sebuah kamar yang hanya berdinding anyaman bambu.

"Iya, Denmas." Mbok Randu menunduk.

"Setelah menikah, aku kembali ke desa Dadapan, dan tak menemukanmu di sana. Aku nyaris gila, Wulan. Setiap hari, aku ke air terjun, berharap dapat menemukanmu di sana."

"Maaf, Denmas."

Raja Sasmita melangkah, berhenti selangkah dari Mbok Randu, lalu menempelkan telunjuknya di bibir perempuan itu.

"Kangmas, bukan Denmas. Lahirnya Arya Panjalu sedikit menghiburku. Sesuai tradisi, dia kutitipkan di padepokan ini. Aku tak menyangka, kau ada di sini. "

Mbok Randu berbalik.

"Wulan, aku sangat merindukanmu."

Raja Sasmita memeluk Mbok Randu dari belakang. Mbok Randu yang bernama asli Wulansih itu tak membalas, tapi juga tak menolak.

"Denmas ...."

"Kamu lupa, jika kita sedang berdua, kau tak perlu memanggilku Raden. Panggil saja aku Kangmas."

"Tidak, Denmas."

"Wulan, tolong. Aku rindu dengan panggilanmu itu, Cah Ayu."

Mbok Randu mencelos. Sungguh, dia juga merindukan lelaki itu.

"Untuk apa Kangmas datang?" Mbok Randu mencoba bicara dengan nada datar.

"Aku rindu putraku. Aku juga rindu kamu." Raja mencium tengkuk Mbok Randu. Sekelebat bayangan masa lalu menari dalam benak Mbok Randu.

"Denmas, tolong lepaskan," pinta Mbok Randu, walaupun hatinya tak ingin pria itu menghentikan aksinya.

"Wulan, selama putraku di sini, baru kali ini kita bisa kembali berpelukan. Apa kau tak merindukanku, hm?"

"Rindu atau tidak, sudah tak ada artinya, Kangmas."

Mbok Randu melepaskan pelukan, lalu duduk di atas amben. Sang raja menyusul, kemudian berjongkok di depan Mbok Randu.

"Maafkan aku, Wulan. Maaf. Aku tak berdaya menolak keinginan ayah dan ibu. Aku terpaksa menikah dengan Niken Arum. Seharusnya, saat itu aku berterus terang pada mereka, kalau aku mencintaimu. Seharusnya, kau tinggal di istana, menjadi permaisuriku, pendampingku, juga menjadi ibu dari anak-anakku." Raja Sasmita tergugu.

"Sudah, Kangmas. Tak ada yang perlu disesali. Saya ini cuma babu. Kangmas pantas mendapatkan Den Ayu Arum. Dia perempuan yang cantik, baik, dan sederajat dengan Kangmas."

Mbok Randu membantu Raja Sasmita berdiri. Raja tak dapat menguasai diri. Ditariknya perempuan itu ke dalam pelukannya. Mbok Randu atau Wulan pun sama. Dia memeluk erat pujaan hatinya.

Setelah tangis keduanya reda, Raja Sasmita mengungkapkan tujuannya datang ke padepokan.

"Sebenarnya, aku diminta Arya untuk melamarkan seorang gadis." Mbok Randu mulai berdebar.

" Wah, bagus kalau begitu Kangmas."

"Ya, aku berharap, setelah dia dilantik menjadi Putra Mahkota, dia segera menikah."

"Lalu, siapa pilihan hati putramu? Gadis dari kerajaaan mana yang akan dipilih untuk mendampinginya?"

Raja menerawang.

"Dia bukan anak bangsawan. Dia gadis biasa. Murid padepokan ini juga. Namanya Seruni."

Bagai digodam dada Mbok Randu mendengar penjelasan raja.

"Kau mengijinkan, Kangmas?"

Raja Sasmita menarik napas panjang.

"Aku tak ingin mengulang kesalahan. Dia berhak bahagia. Kubebaskan dia memilih."

"Tapi, itu tetap tidak boleh, Kangmas." Mbok Randu mulai terisak.

"Hei, jangan menangis, Wulan. Kenapa tak boleh?"


"Karena ... karena ...."

Mbok Randu tak kuasa meneruskan. Dia kembali berlinang air mata.
Raja kembali memeluk wanita itu.

"Katakan, jangan membuatku bingung begini, Wulan."

"Mereka ... mereka ... sedarah, Kangmas." Mbok Randu semakin tergugu di pelukan Raja Sasmita.

"M-maksudmu?" Raja mendongakkan kepala Mbok Randu, menatap matanya, mencari kebenaran di sana.
Mbok Randu mengangguk. Raja mengusap wajahnya kasar, kemudian menumpukan wajah di telapak tangan.

"Jadi ... Seruni anakku?"

Tepat saat itu, pintu kamar dibuka dari luar. Tampak Arya Panjalu dan Seruni bergandeng tangan.

"Apa maksud semua ini, Romo? Mbok, apa maksud semua ini?" Arya menatap kedua orang tua itu bergantian, matanya berapi-api. Sedangkan Seruni hanya bisa menangis.

"Maafkan Simbok, Runi, Den Arya. Seharusnya, Simbok mengatakan sejak dulu. Seharusnya, simbok menjauhkan kalian berdua.

"J-jadi, benar dia ayahku, Mbok?" Seruni menunjuk Raja Sasmita. Mbok Randu tak sanggup menatap anaknya.

"Ti-tidak mungkin. Tidaaak!" Seruni berlari keluar rumah, disusul oleh Arya Panjalu. Di belakangnya, Mbok Randu juga menangis, kemudian ambruk. Raja Sasmita memapahnya masuk.

Seruni terus berteriak dan menangis. Andai Simbok bercerita, dia tak akan membiarkan perasaannya sampai sejauh ini. Langkahnya sampai di air terjun Kembang Soka. Saat akan menceburkan diri ke dalam air terjun, kakinya terantuk batu besar. Dia terjatuh, kemudian, semuanya gelap.



Jogjakarta, 29 Januari 2020

Catatan kaki
- Ndhuk: sebutan untuk perempuan
- Mrengut: cemberut
- Cah ayu: anak cantik
- Ndak: tidak
- Mesam mesem: senyum-senyum
- Wong gendheng: orang gila


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di