CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eaef710349d0f72cb13e89d/cintaku-terhalang-bentuk-tubuh

Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh

Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh

[Event Kaskus Kreator] Benarkah cinta itu harus selalu sempurna?

Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh


Ini kisahku 2 tahun lalu, saat pertama dan terakhir kalinya berhubungan dengan seorang lawan jenis. Sebut saja Yudo, yang dikenalkan oleh sepupu nenekku padaku atas permintaan sahabatnya.

Nenek Shofia dan Dedeh, ibu kandung Yudo merupakan sahabat lama yang sudah menjalin kedekatan sejak 4 tahun lalu. Bu Dedeh merasa khawatir pada Yudo, karena setiap punya kekasih tak pernah sesuai dengan keinginannya.

Ada yang matre, suka pakai baju ketat sampai hobi peluk-peluk Yudo dengan mesra. Wajarlah yang berpacaran begitu, tapi entah apa yang diinginkan Bu Dedeh untuk calon pasangan anaknya.

Nenek Shofi yang sangat ingin membantu, tiba-tiba saja ingat aku, yang dikenal masih jomlo. Bukan karena pemilih atau merasa diri ini lebih mulia dari yang lain. Aku merasa takut saja, bila harus memulai hubungan dengan seseorang.

Latar belakangku yang merupakan orang tak punya, ditambah punya paman dan bibi yang mempunyai kelainan sejak lahir, membuat diri ini mustahil ada yang naksir.

 Singkat cerita, tiba-tiba suatu sore Nek Shofia dan Yudo datang ke tempat kerjaku, tanpa sempat memberi tahu. Kebetulan saat itu, aku sedang beres-beres di kantor bagian dalam, tak tahu kedatangan mereka.

Sampai akhirnya, seorang teman memberi tahu dan langsung saja ku temui mereka. Nek Shofia yang ku kenal sebagai wanita yang heboh, teramat antusias mengenalkan kami.

Aku berusaha menghormati, dengan mengulurkan tangan pada Yudo, yang melirikku dari ujung kaki hingga kepala. Jujur, aku risih juga kesal, sadar kok kalau badan ini melar dan enggak ada bentuknya!

Pandangannya seolah meremehkan entah takjub, membuat aku mempunyai pemikiran jika hubungan ini bakal ada kendala.

Segera saja ku tegur, eh dia sepertinya terkejut dan terkesan geragapan, mungkin menyesal karena gadis ini tak sebahenol bayangannya.

Namun jangan salah, biarpun gemuk begini, badanku termasuk tinggi dan pas untuk ukuran orang gendut normal.

 Awalnya, aku kira dia merasa jijik dan setelah itu tak mau menghubungiku lagi tapi ternyata tidak. Dia masih sering ngobrol lewat WA, meskipun tak pernah memberi tahu alamat jejaring sosialnya yang lain.

Dari cara bicaranya, aku sudah merasa yakin dan ingin menjadikan dia pasanganku. Meskipun aku kesal juga, karena harus terus memancing dia untuk mengobrol tanpa ada inisiatif dari Yudo.

Seminggu sudah, kami saling menyapa lewat whatsapp, hingga suatu hari dia berencana datang ke rumahku.

Ibuku yang teramat girang karena anaknya didatangi seorang pria, mendadak membuat pecel dan makanan lainnya. Aku maklumi saja, mungkin itu rasa bahagianya karena aku akan segera memiliki pasangan hidup.

Sayang, Ibuku enggak tahu jika sebenarnya ada yang masih mengganjal di hati. Terlebih sikap Yudo yang seperti terpaksa bertemu denganku, tapi kuabaikan demi kebahagiaan ibu dan keluarga.

Pagi itu, sekitar jam 09 pagi dia pun tiba di rumahku, membuatku mendadak berganti baju dan pakai kerudung.

Ternyata saat bertemu langsung, kita berdua justru lebih menyambung, setidaknya paham ap yang sedang ku bicarakan.

Tiba-tiba di tengah asyiknya berbicara, dia meminta satu hal yang membuatku terperenyak, bertemu orang tuanya.

Entah kenapa, mendadak ada perasaan tak enak dalam hati, seolah ini adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan keluarga Yudo. Berbekal ucapan basmalah, berangkatlah kami menuju rumah Yudo yang hanya berbeda kecamatan denganku.

Sambil membawa makanan buatan ibuku, aku harap ibunda Yudo persis seperti yang diceritakan Nek Shofia, baik dan ramah. Sampailah kami di rumahnya, tapi sebelum itu aku dikenalkan pada sanak saudara lain Yudo.

Dari cara mereka merespon dan tak memandangku rendah, cukup membuktikan bahwa diri ini sudah sangat diterima dengan baik. Namun uwaknya Yudo mewanti-wanti agar aku berdoa, supaya diterima oleh ibunya Yudo.

Melihat sepak terjang ibunya Yudo yang sering menolak calon menantunya membuatku pesimis.

Pakai baju seksi saja, kata Nek Shofia dia menolak mentah-mentah, gimana aku yang tak ada bentuk ini? Lagi-lagi para ipar sepupunya meyakinkanku untuk berani, bukannya membantu menemukan cara untuk menaklukan sang wanita.

Minta bantuan Yudo? Rasanya tak mungkin, mengingat dia itu anak Mami yang luar biasa penurut. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah pada Allah semata. Yudo mulai mengajakku ke rumahnya, lalu beruluk salam pada penghuni rumah.

Terdengar suara seorang ibu, yang aku yakin adalah ibunya Yudo. Begitu dibuka, wajah wanita itu mendadak cemas dan mencium kedua pipi anaknya.

Bahkan menanyakan apakah sudah makan atau belum, membuat aku syok menyaksikan kejadian itu.

Seorang berumur 29 tahun diperlakukan layaknya anak-anak? Enggak salah? Seketika aku sadar dan paham, mengapa hati ini tak berhenti berkecamuk.

Ternyata Yudo seorang anak yang terlampau dimanja ibunya, apapun yang perintahkan sudah pasti dituruti. Kalau aku jadi istrinya, alamat harus berbagi Yudo dan banyak-banyak bersabar.

“Udo, darimana saja? Ayo cepet sholat dan makan, nanti perutmu sakit,” begitulah kira-kira yang diucapkan Bu Dede, ibunya Yudo.

“Iya Mah, Udo bentar lagi sholat dan makan, kok. Pan Udo teh habis dari rumahnya Devi, untuk ajak dia kesini,” terdengar suara Yudo menyebut namaku, tak pelak membuatku bergetar karena akan bertemu calon mertua.

“Mana, kenapa enggak diajak masuk?”, sambutan Ibu Yudo cukup baik, saat ku lihat senyum tulus disana.

“Ada ini, Mah. Neng, ayo kesini,” tiba-tiba Yudo memanggilku dengan sebutan Eneng lalu menyuruhku menyalami Bu Dede.

Apakah wajah Bu Dede masih sama? Sikapnya juga apakah tetap heboh, setelah melihat wujud asliku?

Ternyata tidak, seketika raut wajahnya berubah masam dan tak seramah tadi, meski tetap mengajakku masuk.

Saat ku berikan makanan buatan ibuku, dengan agak ketus dia menjawab,” Aduh tak usah repot-repot atuh, kasihan Mamanya. Enggak bawa bingkisan juga tak apa.”

Kalau orang biasa mungkin menganggap biasa kalimat itu, tapi aku tidak. Dari kalimatnya, ku akui ada ketidaksetujuan dalam diri Bu Dede.

Mulai dari duduk berjauhan, hingga sikapnya yang mengambil salep otot, makin menambah rasa tak enak di hati.

Dia pun mulai bertanya-tanya tentang diriku dan keluarga, yang apesnya membuat mulut ini berkata polos.

Menceritakan semua keadaan keluargaku tanpa terkecuali, di saat itulah Bu Dede langsung menjauhiku.

Dari mendadak membelakangi, hingga berkali-kali mengoleskan salep pada kakinya.

Saat itu, aku terlalu naif, berpikir penampilan tak masalah, yang penting saling cinta. Setelah Yudo makan, tiba-tiba dia dipanggil dan disuruh menemu ibunya. Aku pun memilih diluar menunggu.

  Tiba-tiba setelah berbincang ibunya, Yudo meminta aku pulang dengan alasan takut kesorean.

Meskipun curiga, aku lagi-lagi tak ingin banyak bertanya. Seminggu kemudian, Yudo tak ada tanda-tanda memghubungiku kembali.

Setiap aku mengirim pesan tak pernah direspon. Tanteku berinisiatif menghubunginya di whatssap, menanyakan mengapa Yudo tak lagi datang.

Pernyataannya sungguh membuatku sakit hati juga sedih, ibunya tak suka wanita gendut mirip tempayan air. Ditambah ketakutan ibunya yang takut keturunan kami, ada yang mirip saudara-saudara ibuku yang autis.

Astaghfirullah, ku lafadzkan dzikir, kala mendengar kejujuran Yudo pada Uwak. Kenapa dia tak mengabariku? Apakah diriku ini teramat menjijikan, hingga tak layak untuk diberi tahu.

Lalu ku beranikan menanyakan lewat Yudo, tapi jawabannnya sungguh di luar ekspetasi. Dia berpikir aku mau banget, minta akses darinya tanpa terkecuali, padahal niat hati menghubunginya secara baik tanpa ada maksud tertentu.

Akhirnya ku luapkan emosi, berkata jika dia tak tahu tatakrama, terhadap hubungan kami hingga ku putuskan menghapus nama pria itu selamanya dari hidup ini.

Hingga sekarang, aku belum bisa menemukan pria sejati yang bisa ku jadikan teman sampai surgaku. Rasa takut akan penghinaan pada tubuhku, keluargaku dan kondisi ekonomi tak begitu bagus, menjadi penyebabnya.

Mungkin Yudo bukan pria yang pantas untukku, kedatangan dia dalam kehidupanku adalah ujian hidup yang paling berat.

Tak terbayang, bila aku benar-benar harus hidup dengan mertua bermulut kasar dan tajam, plus suka body shamming.

Semoga ceritaku, bisa membuat yang membaca terinspirasi dan tetap semangat mencari calon pasangan hidup.
 
***Tamat***

Ciamis, 03 Mei 2020

Dephie


Sumber Gambar : Kompasiana
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lurika dan 37 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dchantique
38
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 2
Akhirnya, ku tulis pula kisah mengerikan ini, meski enggak lolos tak apa. Asal unek-unek di hati, hilang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 8 lainnya memberi reputasi
hadeuh neng masf, kenapa parageafnya rapet sekali? jadi pusing bacanya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Akhirnya buat juga. Hehe.

Waah dah kenal keluarga ya, hiks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 6 lainnya memberi reputasi
Ya udah, Sista, ikhlasin aja. Allah memberikan petunjuk melaluinya Ibunya yang bermulut tajam. Berarti anaknya bukan jodoh yang terbaik untukmu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 6 lainnya memberi reputasi
Semoga Allah ganti dengan seseorang yang bisa menerima kita apa adanya dan yang tulus mencintai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 6 lainnya memberi reputasi
Shitt!

andai mereka dah baca buku finn😢
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 5 lainnya memberi reputasi
Terima kasih, Alhamdulillah belum pernah ketemu lagi sampai sekarang. Ini bikin aku trauma, kalau disuruh datang ke rumah camer, teh.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 3 lainnya memberi reputasi
sekarang gimana pean, Mbak?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Semangat selalu ya , hidup dengan mertua banyak suka dan duka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 3 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan

[Kumpulan Cerpen] Segalanya Tentang Cinta

profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dchantique
Inshaa Allah, ini trit pengganti yang sudah dirapihkan. Beberapa thread lainnya, yang acak-acakan akan di hapus.

🙏🙏🙏🙏
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dchantique

[Cerpen] Mengejar Hilal Cinta

Doa adalah salah satu komunikasi, agar Tuhan segera mendekatkan semua harapan kita.

#Jodoh #hilal #cinta #pasangan #temansampaisurga #yudo #devi


Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh


Sepasang muda-mudi tengah duduk dalam sebuah  menara, menghadap lautan lepas yang  terbentang luas. Salah satunya seorang pria, yang memasang wajah sendu seraya memegang segelas air. Di sampingnya perempuan cantik berhijab, terus berusaha menghiburnya agar sang pria melupakan kesedihannya.

Pasalnya ia memiliki perjanjian, jika sepulang dari perantauan orangtuanya akan menjodohkannya dengan seorang wanita, dan Yudo harus menurutinya. Sedangkan di dalam hati, sederet nama sudah terpatri dengan kuat, menghiasi alam mimpinya selama bertahun-tahun.

Sosok terdekatnya selama ini, setelah ia terpaksa harus pergi karena menghindar dari kecemburuan ketiga saudarinya, akibat rasa sayang yang berlebih untuknya. Secara kebetulan, ia dan Devi mendapat beasiswa di salah satu lembaga amil zakat, yang memaksa keduanya hijrah dari kota kelahiran mereka.

“Devi, aku punya ide. Kita cari hilal cinta masing-masing. jikalau tak ketemu, berarti hilalnya itu sudah dekat dan kemungkinan ada diantara kita, ” usul Yudo.

“Aduh, Kang Yudo bercanda nih, buat apa cari hilal segala, kayak menentukan puasa dan lebaran saja,” timpal Devi.

“Ini juga sama tapi beda judul, hilal yang ini, namanya Hilal Cinta alias petunjuk cinta sejati berada. Tapi aku yakin, kalau kamulah hilal cintaku!” kata Yudo percaya diri.

“Baik Kanda, aku setuju usulanmu. Kita cari hilal cintanya, kalau sampai gagal itu berarti hilalnya bukan diantara kita,” seru Devi.

“Aku setuju Dev, Allah tak akan mungkin, menunjukkan Hilal Cinta yang salah kepada kita,” ujar Yudo.

“Akang juga harus terima, jika seandainya Allah tak menakdirkan kita untuk merajut asa bersama, jangan sampai hal itu membuatmu membenci keluargamu, terlebih para kakakmu,” pinta Devi.

“Aku tak tahu, Dev. Meskipun ku akui itu adalah bentuk rasa sayangnya padaku, kendati kenyataannya aku berasal dari sosok yang ia benci,” keluh Yudo, membuat Devi ikut bersedih.

“Kamu beruntung, masih tahu siapa orang tuamu, Aku malah tak tahu dan apa alasan mereka membuangku. Terkadang, rasa ingin memprotes itu ada tapi aku kembali istighfar, toh ini sudah jadi kehendak Allah,” ucap Devi.

“Subhanallah, hijrahku belum sempurna, percuma belajar ilmu agama 10 tahun tapi aku tetap menyalahkan Allah,” keluh Yudo seraya menelungkupkan wajah.

“ Sudahlah, Akang jangan dipikirkan lagi,” hibur Devi.

Yudo akhirnya mengajak Devi pulang, setelah berhasil menghilangkan kegundahannya.

Yudo sudah menyayangi Devi, sejak pertama kali keluarga mereka pindah ke pesantren, karena Ibu Devi yang bekerja sebagai dokter atas rekomendasi sepupu kakeknya.

Devi bukannya tak paham atau tak peduli, tapi hatinya menjadi galau. Terutama saat memandang seraut wajah, yang selalu menghiasi harinya. Sang Gadis mengira cuma hatinya yang mencinta, namun saat mendengar curhatan Yudo pada salah seorang ustadz, ternyata perasaannya berbalas.

Dirinya tahu diri, bagaimana mungkin seorang pungguk, berani menginginkan bulan. Devi hanyalah seorang bayi malang, dengan latar belakang tak jelas, yang tergolek lemah di dalam tumpukkan sampah.

Beruntunglah, bayi malang itu mendapatkan orang tua yang sangat baik, memberinya kasih sayang melebihi anak sendiri.
Meski awalnya, keluarga besar Painem dan Paijo, menentang kehadiran Devi, tapi atas kebaikan hati Ponirah, budenya akhirnya sang bayi mendapatkan tempat.

Bahkan Ponirah yang saat itu sedang menyusui, menawarkan diri untuk mengasuh Devi, hingga usia dua tahun. Wanita itu teringat anak perempuannya, yang meninggal saat dilahirkan.

Saat lahir, bayi malang itu terkena campak dan membutuhkan sejumlah uang untuk berobat. Baik keluarga Ponirah dan suami, tak ada satupun yang mau membantu, agar anaknya sembuh.

 Hal itu karena, pernikahan mereka tak mendapat restu, hingga kedua keluarga memutuskan untuk menganggap mereka tak ada. Bayi bernama Devita itu, akhirnya wafat, menimbulkan nestapa yang begitu dalam.

Beberapa tahun kemudian atas ijin Allah, lahirlah Dirga, membawa warna baru dalam hidup mereka. Kedua keluarga akhirnya menyetujui hubungan mereka, hingga akhirnya 3 tahun kemudian Devi hadir di keluarga Painem.

Ponirah sendiri yang memberikan nama Devi Sasikirana pada keponakannya, untuk mengenang sang anak.
Kali ini, beliau sengaja datang ke rumah sang keponakan, untuk merayakan keberhasilan Devi.

Bahkan Nickhun dan Dirga, suami dan anak Ponirah ikut bersamanya, membuat Devi bahagia.  Gadis itu sengaja bangun pagi sekali, demi memasak makanan kesukaan mereka.

Paijo dan Painem tak hentinya tersenyum, melihat sang anak sulung tampak ceria, berbeda dari saat pertama kali kembali. Mereka tahu, jika putrinya sedang jatuh cinta, sayang sosok yang dipuja serasa tak mampu diraih.

Nasehat Ponirah membuka mata hati mereka, agar menyerahkan segala sesuatunya, kepada Allah SWT. Hilal cinta itu tak bisa diatur manusia, dicari menggunakan alat layaknya mencari hilal, saat menentukan awal Ramadhan dan Syawal.

Hilal yang ini bisa dicari, hanya dengan memintanya kepada Allah, di waktu sepertiga malam. Seolah mendapat pencerahan, Devi kembali memiliki asa, untuk memperjuangkan cintanya.

 Beberapa hari kemudian, di Yayasan Al-Bira sudah terjadi kehebohan, tampak ruangan sudah disulap seindah mungkin. Ketiga putri yakni Ayu, Cantika dan Jelita Trihatmodjo merasa tak aneh, meyakini ini dibuat untuk menyambut kedatangan si bungsu paling tampan.

 Mereka tak sangka, Embun Mayangsari yang pernah tak suka anak lelakinya, sekarang begitu menyayanginya. Konon demi mendapatkannya, sang suami terpaksa mendua, tanpa izin lebih dulu.

Mayangsari mengetahuinya, saat Bambang berkata, jika ibu kandung sang bayi wafat. Hati istri mana yang tak remuk, di saat yang bersamaan harus menerima kenyataan sang suami telah mendua, membawa bayi yang bukan darah dagingnya.

Seiring berjalannya waktu, bayi yang kemudian diberi nama Prayudo Trihatmodjo itu, memberikan warna  dalam kehidupan keluarga Trihatmodjo.

      Hal itu, menimbulkan kecemburuan, dalam hati anak perempuamnya, karena Yudo begitu diistimewakan. Kendati Buya Bambang sudah menasehati, tetap saja ketiganya bebal dan susah diluruskan.

Puncaknya, saat Yudo beranjak dewasa, mereka  mulai mengungkap jati diri sang adik.
Tak tahan dengan semua itu, Yudo memutuskan merantau, sembari mengajak Devi untuk menemaninya.

Selama sang adik menjauh, Ayu sang kakak pertama, menyesal sudah membuat pria itu tak betah. Sungguh tak ada niat dalam hati, menjauhkan si bungsu dari rumahnya.

Kabar kepulangan Yudo, membawa kembali keceriaan, ketiga saudari itu  takut, jika sang adik masih membencinya. Mereka sepakat, untuk memohon maaf.

Pria itu sedikit terkejut, saat ketiga kakaknya tiba-tiba datang dengan berderai air mata, lalu mendekap erat tubuh kekar itu. Ayu, mewakili ketiganya dengan tulus mengakui kesalahan, meminta Yudo memaafkannya.

Yudo yang terharu, mendengar ucapan kakaknya, merasa bahagia saudaranya mau menerimanya. Setelahnya, ketiga saudari berencana pergi ke rumah Devi, untuk kebahagiaan Yudo.

Dikisahkannya, harapan dan keinginan untuk menyatukan Yudo dengan Devi.  Mereka melihat, Paijo tampak ragu, mengingat  Devi hanyalah anak angkatnya.

“Mbak Ayu, bagaimana mungkin Pak Haji dan Bu Haji bisa menerima Devi? Dia hanyalah anak yang kami temukan di dekat dermaga dan kami rawat selayaknya anak kami. Bukankah, jodoh itu haruslah jelas asal-usulnya?” tanya Paijo sedih

“Om Paijo jangan khawatir, Allah sudah menentukan, bahwa hilal cinta Yudo ada disini. Kami sadar, ternyata Devi orangnya,“ jelas Aminah.

 “Jika itu takdirnya, tentunya kami, akan sangat bahagia,” jawab Paijo seraya melirik sang anak, yang tersipu malu.

   Sementara itu Buya Bambang dan Embun Mayang menahan senyum, saat Yudo kembali menolak, perjodohan. Meski alasan yang dikemukan masih sama, mereka tahu jika itu hanya pengalihan semata, demi mempertahankan cinta.

Mayang akui, pernah salah menilai sosok Devi, ia hanyalah anak yang dibuang tapi sikapnya menggugah hati. Sungguh, ia Ialut pada orangtua yang telah mendidik gadis ini, hingga menjadi sosok yang sholehah.

 Buya Bambang dan Embun Mayang bersepakat, untuk menyerahkan urusan jodoh Yudo kepada Allah SWT.

“Embun, Buya, janganlah melakukan perjodohan lagi. Bukannya aku nggak mau, tapi belum dapat hilalnya," ujar Yudo.

“Masa sih belum ketemu, kamu nggak meminta di waktu sepertiga malam? ” tanya Buya Bambang.

    Kemudian Yudo pun mengungkapkan, jika sudah ada sosok seseorang dalam mimpinya. Hal itu, membuat mereka pun akhirnya mengambil keputusan.

Siapapun pilihan Yudo, akan disetujui, sudah pasti gadis itu sholehah. Rencana Allah tak ada yang tahu, begitupun yang terjadi pada kisah dua insan ini.

Beberapa bulan kemudian, tepat di tanggal cantik 19-09-19, tiba-tiba ketiga kakak kembarnya menyuruh bersiap.

Kebetulan hari itu jadwal kerja Yudo sedang libur, serta pria itu tengah galau,  mendengar kabar Devi yang akan dilamar seseorang. Ditambah hari ini, keluarganya malah mengajak ke rumah sang sahabat, membuat hati begitu nestapa.

Beberapa orang menyambu, seolah dirinyalah sang aktor utama. Padahal tidak, karena Yudo yakin, orangtua Devi sudah menentukan masa depan sang puteri.

   Acara yang berlangsung khidmat, membuat wajah Yudo semakin tak bergairah, hingga menarik perhatian Dirga yang sedang mendampingi Devi.

Dirga pun melirik pada Ayu, menyuruh sang gadis pujaan menyadarkan calon adik iparnya, yang jiwanya seolah melalangbuana.

Ayu segera menyadarkan Yudo, yang langsung mengerutkan kening, saat sang bunda menarik tangannya, seraya memberikan sebuah tempat cincin berwarna biru.

Barulah ia sadar jika Allah sudah menentukan hilal cintanya, saat Devi dengan senyuman malu-malu sudah ada di hadapannnya, membawa kelegaan di relung hatinya.

Kini segala kebencian, iri hati dan amarah seolah luruh, tak kala kedua insan yang saling mencintai, akhirnya bersatu dalam ukhuwah syahdu.  
 
“ Hanya  cinta yang bisa mendamaikan benci, hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh”
 
_Hanya Cinta Yang Bisa-Agnes Monica Feat Titi DJ_
 
 Ciamis, 09 Mei 2020.

Terima kasih dan jangan lupa, dicendolin juga beri rating, ya Gansis!

Sumber gambar : Pixabay

Sumber Cerita : Kisah beberapa sahabat yang dimodifikasi.

Dephie Cantique
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dchantique
10
Lihat 1 balasan
Alhamdulillah, tayang lagi nih, cerpen baru di rumah baru. Semoga perpindahan ini, menjadi berkah....aamiin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 7 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
Tidak ada manusia yang sempurna, cinta adalah saling menggenapi untuk sempurna, bukan saling menuntut.

Cinta itu memang unik dan penuh misteri? Entahlah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 6 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan

[Cerpen] Lika-Liku Cinta Sang Kera

Masa sma adalah masa yang paling indah


Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh

 
“Aduh..aduh sakit penyakit cinta"...lagu itu sangatlah menggambarkan perasaan Devi.

Secara tiba-tiba, hatinya tersentuh pada kepintaran Ali dan rajinnya seorang Budi Pekerti, dua orang teman satu angkatannya.

Jika Budi teman satu ruangan, Ali ada tetangga kelasnya, namun itu belum dapat dikategorikan sebagai cinta.

Bagi remaja usia 13 tahun, Devi bisa dibilang seseorang yang mengagumi dan menjadikan kedua orang itu sebagai inspirasi.


Sebab saat Ali mulai membina hubungan dengan Riana yang juga teman se-asramanya, juga Budi yang diam-diam naksir Cahyaningsih, tak rasa sakit hati.

Adanya rasa iri, mengapa orang lain bisa merasakan indahnya pandangan pertama, sementara Devi tidak.

Padahal ia dan Riana, sama-sama anak pesantren dan tinggal di asrama pula, tapi nasibnya dengan pemilik nama Riana Mutmainnah itu berbeda.

Mungkin yang menjadi kemalangannya, tak ada satupun cinta yang ia dapatkan, kendati dirinya sering bersikap baik.


Jangan salahkan mata Ali dan Budi, karena mereka hanya sedang ingin bercinta, tentu saja daya tarik dari seorang wanita adalah yang paling utama.

Mungkin di mata mereka, bentuk tubuh tambun tak ada magnet yang bisa menarik hati. Jikapun ada, maka itulah yang dinamakan cinta sejati.

Untuk melupakan kekagumannya pada Ali, itu perkara mudah, tapi melupakan Budi sungguh berat.

Pasalnya rumah mereka satu kota, jika ia sedang pulang kampung, terkadang mereka suka naik angkutan yang sama.


Bukanlah Cinta, jika hanya karena sebuah kekaguman semata. Cinta Kera, adalah nama dari rasa yang dialami para remaja yang masih bau kencur.

Depika pun memutuskan menjalani masa sekolah menengah dengan tenang, tanpa mengingat rasa patah hati.

Cinta yang sebenarnya, ia rasakan kala bertemu Prayudo, di bangku SMA.
 
Sejak itu, Devi mulai merasakan cinta bukan karena wajah tampan yang dikagumi ribuan wanita.

Sosok sholeh yang mampu menggetarkan hati, lewat untaian ayat cinta dari bibir pink alaminya, membawanya pada rasa damai dan tentram.

Meskipun wajahnya tak tampan, namun Iman memiliki raut wajah yang manis, mirip orang china.

Jika diibaratkan artis, pria itu mirip Nicholas Tse, aktor hongkong favoritnya. Hampir setiap hari, sepanjang hampir 3 tahun, mata Devi tak pernah terlepas darinya.

Sayangnya, sikap Devi menjadi tak terkontrol, saat ia dengan sengaja melempar sebuah batu ke dalam kelas.

Ia tak tahu, batu terebut mengenai tubuh Rossiana, yang menjadi sumber rasa cemburunya, hanya karena gadis itu terlihat akrab dengan Iman.

Padahal tanpa ia tahu, Iman sudah mempunyai seseorang yang disukainya, teman masa kecilnya yang memilih sekolah di Madrasah Aliyah Negeri.

Dibandingkan Sarah Nurfadillah, teman dekat Iman, sudah pasti Depika kalah saing.

Pasalnya sang gadis adalah anak pintar dan berprestasi, jauh sekali dengannya, yang banyak sekali memiliki kekurangan.

Sudah dipastikan, pria sholeh itu akan semakin tak suka padanya, bahkan melabelinya sebagai wanita kejam.

Menjelang kenaikan kelas, tepatnya saat memasuki kelas XII, sekolah Devi mempunyai kegiatan yang sangat mirip dengan KKN.

Kegiatan itu bernama Program Latihan Khidmat Jam'iyyah (PLKJ), setelah mereka sebelumnya disuruh membuat paper, karya tulis seperti skripsi.

Tetap saja Yudo, si cuek bebek berpura-pura, seolah tak paham niat Devi.


Yudo sengaja menyuruh Devi untuk memilih, mata pelajaran apa yang hendak ia ajarkan, sampai dimana ia akan melakukan pengajian bersama ibu-ibu.

Sebagai orang mencinta, Devi senang bukan kepalang, saat Yudo merasa membutuhkan dirinya.

Padahal semua itu dilakukan karena tanggung jawabnya sebagai ketua kelompok yang mengarahkan anak buah.

Tampaknya, Yudo sengaja agar gadis itu semakin tersipu. Pria itu menyuruh Devi dan seorang temannya, Nana untuk membeli susu murni di peternakan Pak Wiryo.

Setelah keduanya kembali ke pondok tempat peserta wanita, Iman menyuruh untuk memasak susu tersebut.

 Devi yang mendapat perintah, bingung karena dia tak pernah sekalipun menyentuh kompor.

Nayla, yang tak tega membiarkan Devi sendiri, memutuskan untuk menemaninya, membiarkan Nana mengikuti yang lainnya.

Sore itu, mereka diundang untuk menghadiri syukuran khitanan, Pak RT sebagai pemilik acara, meminta perwakilan peserta PLKJ, untuk menghadirinya. 

Devi yang tak tahu, cara menghidupkan kompor minyak, bingung sendiri. Sementara Nayla, memang tak paham, karena di rumahnya ia sudah memakai kompor gas.

Akhirnya, salah satu tetangga yang mendengar keluh kesah Devi, datang lalu membantunya menyalakan kompor.

Singkat cerita, susu tersebut akhirnya matang, lalu ditambahi gula oleh Devi.

Saat hari beranjak siang, para teman-teman mulai kembali ke pondok itu, sang ketua kelompok mulai menanyakan susu yang telah dimasak tadi.

Devi yang kesal, karena tangannya melepuh, berkata dengan ketus jika susu sudah siap diminum.

Dirga yang berada di dekat Yudo, menggodanya dengan berkata, jika Devi yang harus melayani mereka.

Meskipun kesal, tak dipungkiri hati Devi senang, karena bisa dibutuhkan oleh sang cinta pertama.

 Menjelang kepulangan PLKJ, salah satu temannya menyampaikan kabar, yang membuat hati Devi sesak dan merasa terancam.

Safira Illyani atau Finny, adik dari Ustadzah Syahira Maulida, ternyata menyukai pria yang sama. Devi rapuh, tak berani menyaingi Finny, yang juga santri teladan dengan hafalan Al-Quran yang mumpuni.

Jika bersanding, Yudo dan Finny seolah Umi Pipik dan Ustadz Jefri Al Bukhori.

Bahkan muncul  ungkapan, jika mereka bertiga ibarat pemeran di film "Ayat-Ayat Cinta".

Dimana mereka diasumsikan sebagai Fahri, Aisha dan Maria, oleh para penghuni sekolah.

Devi kesal karena secara terang-terangan, para temannya mencoba mengasihaninya seolah dia ada di posisi Maria.

 Namun sayang, hingga mereka lulus, Devi tak sempat mengatakan perasaannya, secara langsung pada Yudo. Ia yakin, sang pria sudah tahu perasaannya.

Akhirnya, di tahun 2012 mereka bertemu kembali di pernikahan temannya, Danar.

Devi yang sudah mulai melupakan Yudo, kembali bergetar kala pandangan matanya mengarah pada sosok yang dirindukan.

Walau hati kembang kempis, tapi Devi tahu Yudo tak seantusias dirinya, yang senang sudah dipertemukan kembali.

Bahkan ia juga bertemu Ali, mantan idolanya yang baru ia ketahui baru saja putus dengan Riana, yang berpaling pada pria lain.

Mungkin bertemu Ali, adalah hal biasa bagi Devi, berbeda dengan pertemuannya bersama Yudo, yang masih menimbulkan getaran di hati.

Para temannya menggoda, karena setelah 5 tahun lulus, Devi tak berubah sama sekali terutama bentuk tubuhnya.

Setelah pertemuan itu, Devi sudah yakin akan melupakan perasaan cinta pada Yudo, agar pria itu mau berakrab ria  layaknya seorang teman.

Ia bukan lagi kera haus cinta, melainkan manusia yang berharap cinta sejati, dengan seizin Allah SWT.

Tujuh tahun berlalu, pada tahun 2018 awal, Devi mendapat kabar jika Yudo akan menikah dengan seorang gadis bernama Nur.

Entah karena sudah beberapa lama tak bertemu, Yudo mengundangnya datang ke pernikahan.

Sayangnya, karena lokasi pernikahan jauh dari rumahnya, Devi memohon maaf tak bisa menghadiri.

Meskipun alasannya jelas, tetap saja para teman menggodanya. Mereka berseloroh, jika Devi tak datang, akibat patah hati mantan gebetan menikah.

Kalau biasanya Devi menggelak, kali ini ia hanya tersenyum saja.

Masa lalu itu, saat dimana dia berpetualang, seolah kera yang mendamba disentuh cinta.
Berharap, jika kelak sang cinta pertama, menjadi suaminya.

Jika Chu Pat Kai berkata, " Beginilah Cinta Deritanya Tiada Akhir", maka Devi lain.

Ucapan inilah yang akan dia katakan, "Raihlah Cinta Sang Khalik, sebelum kau mendapat cinta Makhluknya.

Cinta itu bukanlah paksaan, tapi rasa yang tumbuh dari lubuk hati yang terdalam".

Satu pesan untuk semua pecinta, jika kau menyukai seseorang, cukuplah meminta pada dzat yang mahakuasa, supaya hati orang yang kau cinta segera luluh padamu.

Ataupun tikunglah dia, dengan tahajjud cinta, supaya keinginanmu segera tercapai dan ada dalam ridho Allah SWT.
 
Ciamis, 30 Agustus 2019

Sumber Gambar : Pinterest


Yuk, dibaca lagi, di lapak baru. Oh ya, namanya sengaja diganti, soalnya takut keinget terus ke si dia. Bahaya, suami orang itu...hehehe

Salam

Dephie Chantique
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi
Namanya diganti disini, trit sebelah mau dibersihkan dulu, sebelum dihapus. Kacau itu, ulala...🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi

[Cerpen] Dua Ojek

Kala ojek daring menjadi menantu ojek pangkalan.



Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh




Pria berusia muda dan sayangnya manis itu mengenggam jemari wanita di sampingnya dengan kuat, seakan mencoba menguatkan kegelisahannya.

Di depan mereka sesosok pria paruh baya menatap dengan tajam, seolah menelanjangi keduanya.


Tatapan mengancam yang dilancarkan tidak membuat pria itu goyah, justru senyuman manis ia persembahkan menambah kesal hati bapak-bapak di depannya.

Niatnya untuk mengintimidasi tidak bisa  mempengaruhi pihak pria tetapi menimbulkan kegelisahan di raut wajah pihak wanita.

Kesal karena malah dirinya yang terintimidasi, pria bernama Sholehuddin itu memilih bertanya langsung pada pria yang sudah 6 bulan ini berada di rumahnya.

“Sebenarnya apa pekerjaanmu teh? mengapa setelah pulang kau kembali pergi di sore hari?” tanya Sholeh.

“Saya mencari tambahan untuk biaya kehidupan keluarga kita, apalagi 3 bulan dari sekarang akan hadir anggota baru di rumah ini. Kenapa Abah begitu khawatir?” tanya si Pemuda bernama Yudo atau akrab disapa Ujang.

“ Kamu kira aku tak bisa membiayai kebutuhan keluarga ini? Atau kamu memang mempunyai pekerjaan lain dan mencoba menghianati kami?” tanya Sholeh penuh amarah.

“ Aku teh sangat menyayangi kalian, bagaimana mungkin Abah bisa berpikir begitu?" tanya Ujang berusaha untuk tidak gugup dan mencoba mengalihkan perhatian sosok didepannya ini.

“ Kalau kamu teh memang peduli, kenapa tidak memberi tahu apa yang dilakukan dari pagi sampai malam jika benar tidak berselingkuh?” mata Sholeh menatap tajam.

“Aku jadi pegawai honorer di cabang klinik pamanku dan mengantarkan pesanan barang milik beberapa teman kerja yang dipesan lewat media sosial. Selebihnya tak ada lagi, Bah,” jawab Ujang.

“ Benarkah? Atau jangan-jangan kamu juga daftar menjadi ojek aplikasi itu?  Abah mah sudah merasa curiga sejak kamu menolak menjadi armada ojek,” tanya Sholeh seraya menyelisik.

“ Aduh, Aa gimana atuh, pasti sebentar lagi bakal ketahuan geura,” seru Devi alias Eneng sudah panik duluan, seraya berbisik dan membuat makhluk dalam perutnya ikut gelisah.

“ Tenang atuh Neng, Aa yakin nggak bakal ketahuan ( berbisik). Enggak atuh Abah ..aku mah jujur emang itu kerjaanya,” ujar Ujang menenangkan istri dan  mertuanya.

“ Baik, Abah percaya. Tapi kalau bohong, siap-siap we kehilangan si Eneng!” bentak Abah Sholeh.

“ Iya Abah. Ujang teh janji bakal jaga amanat Abah,” ujar Ujang seraya memeluk Istrinya semakin erat.

“Abah kok kitu, masa Aa Ujang mau diusir? Abah mau anak kami jauh dari bapaknya? Tega pisan, mereka ada 5 ini. Bagaimana kalau aku kewalahan," kata Eneng marah membuat Sholeh gelagapan juga syok.

Tak disangka cucunya ada 5, dan itu ulah sang menantu yang sering beribadah bersama anaknya seperti halnya minum obat yakni 3 kali sehari.

“Maaf Neng, Abah mah canda atuh. Masa iya, Abah biarin suamimu yang rese ini tinggalkan kamu dan kelima anakmu. Walaupun sebenarnya Abah kesal kenapa dia sering sekali beribadah denganmu,” timpal Abah seraya mendelik tajam pada Ujang, yang tersipu.

“Pokoknya kalau kalian berdua teh begini bae, aku mogok makan, bangun dan gerak...titik!” ancam Eneng seraya masuk ke kamarnya.

“Neng maaf atuh, jangan tinggalkan Aa disini. Itu jalannya jangan cepet-cepet, karunya si dedek bayi," kata Ujang panik seraya beranjak menyusul istrinya, Sholeh menghela napas melihat sang anak selalu  merajuk sejak hamil cucu-cucunya.


Satu Tahun Lalu

Abah Sholeh memang bukanlah ojeg biasa, bukan pula ojeg yang saat ini terkenal dengan sebutan Ojek Daring alias OJOl.

Beliau adalah pemilik usaha JekLeh yang merupakan suatu bisnis ojek kampung yang menyewakan motor sekaligus merekrut para pengangguran di sekitar kampungnya supaya punya kegiatan.

Sholeh berpikir daripada nokrong tak jelas dan jadi sasaran amarah istri dan ibu masing-masing, lebih baik jadi armada JekLeh saja.

Namun meskipun posisinya sebagai bos, Sholeh terkadang juga ikut membantu dengan menjadi tukang ojek saat para personil tengah kekurangan.

Berkat idenya banyak warga yang berterima kasih kepada beliau. Beberapa bulan lalu baru saja mendapatkan penghargaan dalam bidang usaha kecil dan menengah.
Eneng sebagai anaknya merasa sangat bangga, dengan sosok cinta pertama para anak perempuan itu.

Terkadang wanita itu merasa takut, sang ayah tahu jika ia memilih naik Ojek Daring daripada menelpon salah satu armada ayahnya.

Entah kenapa si Abah fanatik sekali dengan para pelaku usaha sama dengan cara berbeda itu. Mungkin dirinya merasa jika mereka sudah menjajah wilayah usahanya.

Padahal yang namanya ojek daring itu tidak pernah mangkal di satu tempat sepertinya halnya Ojek Biasa.

Bahkan mereka lebih sering berpindah-pindah bahkan berada di pusat kota.

Tanpa harus mendekat kepada pelanggannya, mereka sudah terhubung melalui sebuah aplikasi di ponsel pintar. Sehingga tak harus membuat letih penumpangnya.

Kendati sudah beruasaha didamaikan dengan membagi wilayah kerja, ada saja ojek biasa yang iri dan terprovokasi membenci para pengendara ojek daring sebagaimana halnya.

Eneng sendiri sudah menggunakan ojek daring sejak tahun lama dan merasa nyaman. Meskipun harus menunggu tapi tidak sia-sia, sebab lewat aplikasi ia bisa mengetahui dimana posisi sang driver.

Sayangnya dia harus berkorban lebih dulu untuk berjalan sedikit ke jalan raya yang biasa dilewati angkot.

Sebab jika dia nekat memesan ojol di jalan depan rumahnya niscaya para pegawai JekLeh akan tahu dan melaporkannya pada sang ayah.

Syukurlah selama  satu tahun setengah dia sama sekali tidak pernah ketahuan apalagi dicurigai Abah. Sayangnya, akhir-akhir ini sang ayah sudah berada di ruang tamu, menyongsong sang putri dengan mata penuh teka-teki.

Belum lagi sang calon suami yang bekerja di sebuah klinik swasta pun terkadang suka menyambi sebagai ojek online, di hari sabtu dan minggu.

Awalnya mereka tidak saling mengenal karena tidak setiap hari Eneng memakai jasanya, kecuali pada hari sabtu saja.

Gadis itu mengakui jika pada awal ia mencoba layanan ojek online itu, sikapnya sungguh keterlaluan.

Bersikap judes, mencela sang driver bahkan membatalkan pesanan hanya orang yang bertugas tidak sampai ke lokasi dirinya berada.

Akibatnya dia hampir saja dimusuhi oleh drivernya karena setiap ia sedang butuh, yang menjawab pesanannya tiba-tiba membatalkan sembari mengucapkan kata-kata yang kasar.

Awalnya Eneng kesal tapi setelah ia berkonsultasi dengan tantenya barulah dirinya sadar jika itu memang kesalahannya.

Sungguh Beruntung sosok yang dia perlakukan salah dan harus ia datangi untuk meminta maaf adalah calon suaminya.

Ujang, yang tak disangka Eneng sering berkirim pesan dan menjalin hubungan seperti sekarang.

Di saat Eneng sedang dipusingkan dalam mencari jodoh, Ujang datang sebagai jawaban dari Allah untuk mengubah seluruh hidupnya.

Meski usia Ujang itu lebih muda, tapi pria itu sangatlah dewasa. Bahkan dialah yang menasehati Eneng untuk optimis dan menemukan jodoh.

Tanpa disangka 2 bulan kemudian, tepatnya saat munggahan tiba pria itu datang, dengan ditemani paman dan bibinya untuk melamar Eneng.

Gadis 28 tahun itu terkejut bahkan tak percaya, disangkanya ucapan Ujang itu hanyalah lelucon semata. Pasalnya, setiap kali order pria itu sering sekali bercanda.

Paman dan Bibi Ujang ternyata sosok yang sopan dan sederhana, kendati mereka itu merupakan apoteker dan suster yang bekerja di rumah sakit elit di Kota Bandung.

Bahkan Abah Sholeh sempat menyangka jika Ujang dan Bibinya itu non muslim, karena wajah mereka yang oriental berbeda dengan pamannya.

Setelah mendapat penjelasan dari Amran, paman Ujang barulah pria itu mengerti.

Diam - diam dalam hatinya ia kagum pada Ujang kendati pria itu masih merahasiakan pekerjaannya. Sayang, rasa curiga jika sang calon menantu adalah pengendara ojek online, masih tak dapat lenyap dari pikirannya.

****
Ujang masih saja berusaha membujuk Eneng untuk tak lagi ngambek. Sejak sore wanita itu belum juga memakan makanannya, akibat pertengkarannya dengan sang ayah karena selalu saja meragukan suaminya.

Sebenarnya Sholeh tak akan marah, jika memang benar Ujang bekerja sebagai ojek daring. Asalkan kebutuhan kelima cucunya yang sebentar lagi akan lahir, bisa terpenuhi dan tidak kekurangan.

Demi cucunya itu, Abah memesan kue balok dari ojek daring supaya Eneng mau memaafkan kesalahannya. Padahal tadi pagi sang anak sudah memakan martabak manis, yang sengaja Abah Sholeh buat sendiri.

Entahlah, mungkin itu adalah resiko wanita yang hamil lebih dari satu janin, kebutuhan makanannya pun berbeda. Suara pesan di ponsel pintarnya memberi tahu, jika pesanannya sebentar lagi sampai.

Namun Abah Sholeh tak berani mengambilnya sendiri, takutnya teman-temannya di ojek pangkalan akan berbuat yang tidak-tidak pada si ojek daring.

Terlintas di pikirannya untuk menyuruh sang menantu, supaya kue balok pesanannya selamat. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Ujang baru saja keluar dari dalam kamarnya setelah sang istri merengek ingin dibelikan es krim.

Mendadak jantungnya berdegup, kaget melihat Abah Sholeh yang seperti sedang menungggunya.

“Jang, mau kemana kamu teh?” tanya Abah Sholeh.

“Mau ke Albamart, Bah. Eneng Devi katanya mau es krim magmun,” jawab Ujang membuat Abah Sholeh pusing memikirkan anaknya, yang begitu rakus.

“Abah nitip nya, nanti serahkan uang ini ke ojek daring di jalan raya sana, barusan Abah pesan kue balok buat si Eneng. Kalau Abah keluar, kasihan si ojeknya nanti diserbu anak JekLeh,” kata Abah membuat Ujang takjub.

“Iya Bah, nanti aku yang bawa pesanannya, “ Ujang menyanggupi seraya keluar dari rumah.

Setibanya di luar, pria itu mulai menghubungi teman-temannya sesama ojek daring. Menanyakan siapa yang hari ini mendapat pesanan, dari ayah mertuanya. Sembari menunggu info dari temannya, Ujang segera menjalankan motor menuju jalan raya.

Saat itu, ojek yang membawa pesanan takut, karena ia tahu jika ini adalah wilayahnya para ojek pangkalan. Ojek daring bernama Rahmat itu lega, saat tahu yang mengambil pesanan adalah Ujang.

Pria itu menceritakan  bahwa tadinya ia tak ingin mengantarkan, tapi karena istri temannya sedang hamil terpaksa ia menyanggupi.

Setelah  membawa pesanan Istri dan anaknya, Ujang masuk dan disuguhkan adegan seorang ayah yang diomeli putrinya.

Eneng marah, Abahnya berbohong tentang ponsel pintar yang dimikinya. Melihat itu, Ujang mencoba meluruskan, ia tak mau  ada pertengkaran di dalam keluarganya.


“Sudahlah Neng, mau sampai kapan kaya begini terus?" tanya Ujang.

“Habis, nyebelin pisan. Abah, katanya teh nggak pake ponsel pintar eh pake juga," jawab Eneng.

“Neng Devi, Ujang Yudo, Abah teh minta maaf sudah membuat kalian kesal. Ini hanya rasa khawatir berlebihan seorang Ayah pada putrinya.” kata Abah Sholeh.

“Iya aku mengerti, tapi jangan begitu lagi atuh. Pan aku teh kesal,” keluh Eneng.

“Terima kasih Abah, aku mah sudah memaafkan Abah dari dulu,” sahut Ujang.

“Kamu teh nggak perlu sembunyi lagi, Jang. Abah mah tahu kok kalau kamu teh ojek daring, jadi lakukanlah apa yang kamu sudah mulai. Jangan sampai cucu-cucuku kelaparan?" kata Sholeh membuat Eneng dan Ujang tersenyum lega.

“Hatur Nuhun, Abah,” jawab Keduanya.

Sejak hari itu Abah tak pernah lagi mempersalahkan antara ojek daring dan ojek pangkalan.
Baginya, lebih baik hidup berdampingan antar sesama itu lebih baik daripada permusuhan.
 

Ciamis, 16 April 2020

Dephie Chantique

Sumber Gambar : Pinterest Dan Google ( sebelum dimodifikasi)

Sumber Cerita : Kisah para driver ojol

Terima kasih, atas kunjungannya...🥰🥰🥰
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan miniadila memberi reputasi
Maaf ya, terganggu di notifikasinya masing-masing. Maklum, lagi sibuk pindahan sebelum yang lama dihapus. Nanti disini saja, bacanya wahai teman-teman yang baik...🥰🥰🥰🥰
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan miniadila memberi reputasi

[Cerpen] Best Friend Forever

Sahabat adalah orang yang selalu ada, dalam keadaan apapun. Bukannya sosok yang datang, saat butuh saja dan setelah pergi setelah mendapat keinginannya


Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh

Beginilah ternyata rasanya jatuh cinta, hati bagaikan permen warna-warni. Bertabur gula manis dengan kemasan menarik.

Begitulah Devi, anak 17 tahun yang baru mengenal cinta. Semua berawal dari pertemuan dengan sosok kakak kelas yang menyinari hari-harinya hingga lupa menginjak bumi.

Yudo, yang selalu menjadi mimpi masa remaja sang gadis, menggetarkan seluruh nadi. Pria yang tanpa sadar telah menembus hatinya, hingga tak menyisakan satupun ruang untuk yang lain.

Sayang, Yudo tak memiliki perasaan yang sama karena hatinya disematkan pada Kaira, sahabatnya. Gadis yang kesehariannya selalu berhijab itu, mampu membuat semua pria terpesona.

Tutur katanya yang lembut, seakan mampu menembus ruang-ruang kosong di hati para pemuda.
Devi iri, Kaira mampu menaklukan semua pria dengan pesonanya tanpa disadari.

Sementara dia bersusah payah agar terlihat oleh sang pujaan hati. Untung saja, ada Yoga, yang tetap memberikan semangat. Pria yang merupakan kembaran Yudo ini, sedari dulu menyimpan rasa suka pada wanita blasteran china, korea dan arab itu.

Meski Devi bukanlah sosok jilbaber sebagaimana kawan-kawannya di rohis, tapi kesantunannya patut diacungi jempol. Di saat para gadis lain beramai-ramai memendekkan seragam dan roknya, justru pakaian panjang beserta rok panjang yang dipilih Devi.

Banyak para gadis iri padanya, karena hanya ia dan Kaira yang bisa begitu dekat dengan si kembar. Termasuk Fristi yang begitu memuja sosok Yudo, sejak masih berseragam merah putih.

Fristy tak terima seorang Devi berhasil mengalahkan pesonanya. Oleh karena itu, dia berencana mengerjai sosok wanita, yang dianggap sebagai musuh itu.

Mulailah ia mengirim surat pada Yudo, dengan menuduh Devi sengaja membuat Kaira tak menerima cinta, karena ingin memiliki hatinya.

Pada Yoga, ia menuliskan jika Devi berteman dengannya, agar bisa lebih dekat dengan Yudo. Mereka  tahu, jika Fristi mampu meniru tulisan mereka semua.

Benar saja, Yudo dan Yoga kaget menerima surat yang dikiranya dari Devi. Begitu pula Devi, yang berniat melupakan dan menganggap perasaannya itu hanya selingan sesaat.

Melihat surat ini, hatinya bingung sekaligus curiga sebab tak yakin itu tulisan si kembar. Gadis 18 tahun ini yakin, ada yang hendak membuat mereka berselisih, karena itu dia bertekad menyelidikinya.

 Beberapa hari kemudian, Devi dan Kaira dikejutkan dengan kedatangan si kembar. Jika Yoga menunjukkan wajah ramah berbeda dengan Yudo, pria itu tampak kesal dan bingung.

Meski Devi tahu apa penyebabnya, namun tak berani berasumsi. Dia takut menyinggung Kaira, yang merasa tak enak hati karena menolak perasaan Yudo.

Benarlah apa yang disangkakan, kedua kembar mempertanyakan surat yang mengatasnamakan dirinya.

Devi pun tak mau disalahkan atas perbuatan yang tak pernah dilakukan, diserahkannya kedua surat yang dikirimkan atas nama Yudo dan Yoga.

Seketika mereka semua yakin, ada orang yang berniat merusak jalinan persahabatan mereka.

"Ini bukan tulisanku, mana mungkin tulisanku sejelek ini," kata Yudo.

"Aku juga tak mungkin, lagipula hari gini pake surat-suratan,"timpal Yoga.

"Aku juga nggak mungkinlah kirim surat pada kalian," tambah Devi.

"Kai bukan mau menuduh, tapi waktu keluar dari toilet.

 Terdengar suara Kak Fristi mengaku sudah meniru tulisan orang lalu mengirim surat, pada temannya itu," kata Kaira membuat ketiganya terkejut.

"Pantes, aku memang dari awal sudah tak respek padanya. Sudah wajah mirip ondel-ondel, kelakuan mirip syetan yang hobi menghasut," keluh Yudo seraya meremas kertas surat.

"Sudahlah, jangan jadi terbawa nafsu. Mending kita cari solusinya," bujuk Yoga.

"Kamu pura-pura dekati dia, Kak. Kali kalau ditanya sama kamu, dia mengaku," saran Devi seraya menunjuk Yudo.

"Kok kamu menyuruhku, kenapa enggak Yoga saja? Toh, wajah kami sama," Yudo tak terima.

"Kak Yudo, dia juga sukanya dirimu bukan Kak Yoga. Dia bisa membedakan kalian," kata Kaira memberi tahu.

"Sudahlah, nanti aku bantu rekam. Kamu tugasnya buat dia kehilangan fokus, biar nggak curiga,"tawar Yoga.

"Terima kasih, Bro." Yudo merasa sangat tertolong.

"Aku nggak mau, ya. Namaku tercemar," protes Devi.

"Tenang, kamu jangan cemas. Kang Mas Yudo dan Abang Yoga bakal disampingmu," goda Yudo.

"Lebay banget panggilannya." Devi bergidik.

"Fokus...fokus, kita ini harus kompak menyelesaikan kemelut yang terjadi!" seru Yoga mengingatkan.

"Terima kasih, Kaira. Entah apa yang terjadi jika kita tak tahu yang sebenarnya," kata Yudo.

"Sama-sama, Kak Yudo. Kaira cuma tak mau hubungan kita semua hancur karena fitnah." sahut Kaira.

"Oke,Teman-teman. Misi kita mulai besok dan kalian bertiga harapanku," Devi memberi semangat.

Yudo sebenarnya alergi terhadap kegenitan, tapi semua itu ia lakukan demi memperbaiki kesalahpahaman.

"Ti, kok bisa Devi diam-diam kasih surat ke kamu? Kenapa nggak ngomong langsung saja?" pertanyaan Yudo sedikit membuat Fristi terkejut.

"Entahlah, aku juga heran. Tahu-tahu menitipkan surat tanpa bilang isinya apa," elak Fristi.

"Beneran? Kalau itu kamu, pasti aku terima," pancing Yudo.

"Ah masa, sih? Tahu begitu mah buat apa aku tulis suratnya atas nama Devi?

Kalau tahu Kakak mau terima cinta ini," tanpa sadar Fristi menceritakan semua tanpa ada yang ditutupi.

Yudo dan Yoga puas karena akhirnya kesalahpahaman akan berakhir.

Saat pagi kembali menjelang, tiba-tiba Lion meminta semua orang berkumpul di lapangan.

Sebagai ketua osis yang hendak lengser, Yudo tak mau di akhir masa jabatannya mempunyai kasus atau gossip buruk.

Tadinya ia hendak memamerkan bukti video yang telah direkam, namun Devi meminta agar sang pelaku dirahasiakan.

Mendengar itu, Fristi menyadari kesalahannya dan mengaku melakukan perbuatan tersebut akibat iri.

Devi mengatakan jika mereka semua adalah temannya, tak mungkin dia harus terus-menerus membenci dan tak memaafkan Fristi.

"Memangnya kamu nggak ada perasaan padaku atau Yudo?" Yoga penasaran.

"Masa nggak ada satupun yang membuatmu tertarik," tambah Yudo.

"Pernah, tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya aku lebih cocok temenan sama kalian, kalau pacaran kan nantinya putus dan kita bakal musuhan." jawab Devi.

"Bisa dibilang, aku setuju apa yang Devi katakan. Kita cocoknya jadi sahabat, geng penumpas kejahatan," ujar Yudo.

"Sahabat itu maknanya luas. Teman yang membawa kebaikan, menjauhkan dari keburukkan." timpal Yoga.

Mulai sekarang, kita adalah The Best Friend Forever. Teman yang selalu ada saat suka ataupun duka," ujar Devi seraya mengulurkan kepalan tangan ke depan, lalu diikuti yang lain.

Akhirnya Devi sadar cinta itu bukan hanya perasaan antara wanita dan pria semata, tapi rasa kebersamaan dan kehangatan bersama teman-temannya.

Ciamis, 02 Desember 2019

Salam

Dephie Cantique

Sumber Gambar : Disini Saja

Terima kasih, atas kunjungannya! 🥰🥰🥰
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 2 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh dchantique
Lihat 1 balasan
Inshaa Allah, lagi runtuhnya rumah lama. Aku pun, tak nyaman bacanya disana.
profile-picture
profile-picture
makola dan miniadila memberi reputasi
Diubah oleh dchantique
Halaman 1 dari 2
GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di