CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eaedfec9a972e01ca3c93b3/jangan-pisahkan-kami-ayah-ibu-dialah-permataku

Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku

Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku

Cinta adalah anugerah dan siapapun pasti suatu saat akan merasakan. Tetapi, berbeda cara mendapatkannya.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Setiap orang pasti berharap suatu hari nanti bisa bersanding dengan pujaan hati. Membangun satu keluarga kecil yang dilandasi dengan saling memiliki rasa kasih sayang dan cinta. Bahagia dengan pilihannya.

Namun, agaknya itu tak mungkin terjadi. Sekarang kamu sudah bersamanya pilihan orang tuamu. Begitu juga, dengan ane bersama pilihan ane. Meskipun, dia hanyalah sebagai pelipur lara semata.

###

Aku mengenalnya tak sengaja sebut saja Bram. Cowok jangkung dengan rambut dibelah tengah dengan rambutnya yang lurus jadi terlihat rapi saat geleng-geleng kepala.

Aku mengajar mengaji di masjid sore itu seperti biasanya. Mengajar mengaji TPA bersama dengan Mas Edy dan Mbak Rukini.

Sepulang dari mengajar mengaji dengan berjalan kaki, langkah kecilku diberhentikan oleh sesosok cowok kurus tinggi dengan wajah cubby.

"Dik, pulang ngaji?" tanya dia berbasa-basi sambil menjajari langkahku.

Aku mengangguk tanda mengiyakan dan masih memperhatikannya. Seakan Bram sudah lama mengenalku. Tetapi, aku yang terlalu cuek atau memang tak pernah tahu jika memiliki tetangga seperti dia.

Padahal rumah Bram persis di depan masjid jarak dari masjid ke rumah hanya 100 meter. Aku mengira usia Bram seusia dengan kakak sepupuku. Masa bodoh akhirnya kubebaskan pikiran tentang Bram.

"Temannya Wahyu 'kan? Nitip salam dong, Dik?" tanyanya lagi. Aku mengernyitkan dahi karena ada dua nama Wahyu di kelasku.

"Wahyu?"

"Iya, Wahyu Hermawati," jawabnya sambil menoleh dan masih di berjalan di sampingku.

"Okey."

Akhirnya kami berpisah di perempatan jalan sebelum masuk ke jalan rumahku. Dia bergabung dengan teman-temannya yang asyik ngabuburit. Sedangkan aku melanjutkan perjalanan pulang.

Keesokan harinya saat di sekolah aku bertemu dengan Wahyu dan menyampaikan salam untuknya. Betapa kagetnya aku ketika Wahyu memalingkan muka dan mendorong tubuhku hingga terjatuh.

Sebenarnya ada apa ini aku kejar Wahyu dan mencoba membuka percakapan dengannya.

"Eh, bentar Yu. Kenapa kamu mendorongku? Apa salahku? Aku hanya menyampaikan amanah."

"Dasar benalu, pura-pura menjadi teman akhirnya kau menikung kami," jawab Wahyu ketus yang akhirnya tumpah juga air matanya. Membuat aku makin tak mengerti, sebenarnya ada apa di balik semua ini

"Aku, aku baru tahu dia itu namanya Bram. Kalau bukan amanah tak mungkin aku susah payah menyampaikan untukmu."

"Kamu itu dodol atau memang pura-pura. Dia itu memperlihatkanmu dari dulu. Sok alim." Wahyu kian ketus ucapannya. "Padahal, aku yang lebih dahulu menyukainya," sambungnya lagi.

"Loh, atas dasar apa? Aku tak mengenal Bram."

"Dasar sok alim, benalu!" Wahyu berlalu pergi meninggalkan aku yang masih belum memahami apa yang sedang terjadi.

Tak aku hiraukan kata-kata Wahyu dan seperti biasanya aku berangkat mengajar mengaji. Perasaanku gusar seperti ada mata yang sedang memperhatikanku. Kucari-cari dan akhirnya mata kami bertemu. Bram memperhatikan aku dari teras depan rumahnya.

"Jadi risih gini," gumamku jadi serba salah. Akhirnya waktu pun berlalu. Seperti biasa seusai sholat Magrib baru pulang aku dan berjalan sendiri.

Bram menjajari langkahku, "Sudah tersampaikan salamku?'

Aku mengangguk tanpa melihatnya ada rasa sebal memenuhi dadaku mengingat tadi pagi aku didorong Wahyu.

"Bagaimana katanya?"

"Kalian, sebenarnya ada masalah apa? Kalau memang kalian saling suka jangan bawa-bawa aku."

"Eh, ko jadi marah-marah, Dik?"

"Habisnya kalian jadikan aku permainan. Pergilah jangan ganggu aku!" Aku mempercepat langkah kaki kecilku meninggalkan Bram yang berhenti di pertigaan.

"Cie, PDKT nih," terdengar suara teman-temannya menggoda Bram.

Sesampainya di rumah aku mendapatkan amarah dari kakak sepupu untuk tidak menjalin hubungan dengannya. Kakakku ternyata teman sekolah dari kecil. Jadi, paham betul dengan Bram.

Aku makin bingung dengan semua ini. Jadi, akhirnya semalaman aku gak bisa tidur. Nyesek 'kan?

Seminggu tak bertemu entah ke mana perginya. Ada perasaan aneh yang mulai hinggap. Aku kerap kali curi-curi pandang memperhatikan rumahnya. Namun, aku tak mendapatkannya.

Hingga akhirnya Ramadhan usai biasanya diakhiri dengan membawa obor berarak keliling kampung. Kami melakukan hal sama. Malam itu Bram mengutarakan hatinya. Aku belum bisa menjawab dan dia memberikan waktu untukku.

Setelah 3 bulan akhirnya aku menerima Bram menjadi kekasihku. Makin hari hubungan ini makin sulit.

Aku dan dia masih sekolah jadi kami merahasiakan hubungan ini. Kami takut dimarahi dan tidak diperkenankan untuk bertemu.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Akhirnya tercium juga oleh orang tuaku.

Hingga kami di dudukan dalam satu meja.

"Kalian masih sekolah, jadi lebih baik kalian sekolah yang benar. Jangan sampai ada masalah dikemudian hari karena kita ini tetanggaan. Jadi, mulai sekarang kalian harus mengakhiri hubungan cinta monyet ini!" suara Ibu menggelegar membuatku menangis dan tak kuasa menahan air mata. Sedangkan, Bram hanya tertunduk lesu di kursi panjang bersampingan denganku.

Seminggy kemudia aku diberangkatkan ke Jakarta untuk bersekolah di sana menemani Bu Dhe. Lengkap sudah perpisahan ini.

Anugerah cinta datang pas sayang-sayangnya dan harus direnggut paksa dengan perpisahan.

Hubungan kami pun terhenti di sini. Sampai dua tahun pas lebaran aku pulang kampung. Kami diketemukan kembali dengan situasi dan kedewasaan masing-masing. Betapa bahagia kami bisa bertemu kembali. Cinta pun mulai bersemi setelah sekian tahun kering lelayu.

Dia makin tampan dengan body atletiknya ternyata dia hendak memasuki bintara. Sedangkan aku sendiri harus menyelesaikan sekolahku di Jakarta. Bertemu baru sekali selepas sholat Magrib orang tua Bram mengundangku.

"Kalian sudah dipisahkan dan jangan sekali-kali berhubungan. Bram akan mendaftarkan diri menjadi prajurit. Jangan sampai hubungan kalian menghalangi masa depan Bram!"

Astaghfirullah hatiku teriris untuk menjalin cinta saja kenapa begitu susahnya. Padahal cinta itu anugerah milik siapapun juga.

"Berjanjilah kau akan menungguku! Meskipun, kita sekarang dipisahkan! Aku akan menjemputmu setelah diterima menjadi prajurit." Itu kata-kata Bram ketika mengantarkan aku pulang. Sampai kami benar-benar hilang kontak kembali.

"Sabar hingga waktunya." Satu kalimat yang selalu bisa menekan ketika rindu menyeruak di dada. Menguatkan hati yang terus bergejolak. Menepis keraguan karena jarak yang terbentang memisahkan kita.

Namun, hati ini dituntut untuk bisa menjaga dan memahami satu kata yaitu setia. Berbekal kesetiaan, jujur, dan kepercayaan kita berkomitmen untuk saling menjaga dan menghormati keluarga masing-masing.

Entah esok disatukan atau bahkan dipisahkan, hanya Tuhan yang Maha Tahu akan semua yang terjadi nanti.

Layaknya seorang pemuda dan pemudi kita juga punya naluri kasih sayang. Mengikat janji dan sumpah untuk bisa bertemu dan menjalin kehubungan yang lebih serius. Tapi, jika restu orang tua menghalangi tak mungkin kita bisa bersatu.

Orang tua pasti ingin yang terbaik untuk putra dan putrinya begitu juga dengan kita. Dengan segala upaya ingin memisahkan cinta yang sudah terbina selama 7 tahun.

Akhirnya undangan di meja menjadi kenyataan. Bram menikah dengan pilihan orang tuanya dan aku harus merana. Dia melupakan janji yang pernah dia buat.

Namun, inilah kehidupan. Kita harus bisa menerima kenyataan. Bersatu atau berpisah peran serta keluarga selalu mendominasinya.

Sedikit pesan moral untuk orang tua, jangan memisahkan hati yang sama-sama mencintai karena sakit dan luka itu tak akan tersembuhkan oleh waktu.


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Ngawi, 03 Mei 2020

Bukti ss

Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku

Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku

Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku

Jangan Pisahkan Kami Ayah Ibu, Dialah Permataku



profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh amorycix509
Kami salaing mencintai. Namun, rasanya sakit jika tak mendapat restu dari orang tua
profile-picture
profile-picture
putrateratai.7 dan darmawati040 memberi reputasi
kita tahu orang tua segalnya. Namun, cinta adalah hak dari kita
profile-picture
profile-picture
putrateratai.7 dan darmawati040 memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di