CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eaed97d65b24d677054a74f/diadem-tiara

Diadem Tiara

Diadem Tiara

"Sometimes the grass is greener because it's fake"


Actually, gue literally tidak mengerti korelasi antara kutipan yang gue tulis sebagai pembuka cerita dengan isi cerita yang akan gue tulis. But I think dengan menyisipkan itu sebagai pembuka cerita ini gue akan terlihat lebih kece. Honestly gue ragu jika itu worth it. Ohh ghost it's really really doesn't work!!
Oke, Bye!!


Diadem Tiara


Nama gue Fattah, Abdul Fattah lengkapnya. Gue lahir dan besar di Selatan Jakarta. Oleh sebab karena itu, karena gue tumbuh dan berkembang di Jakarta Selatan; yang notabenenya terkenal dengan bahasa dan anak-anak Gahoelnya. Gue merasa nama Fattah tidaklah menggambarkan gue sebagai anak "Jaksel" maka dari itu gue menyamarkan nama gue dengan alias "Potex". Yes, Potex! Jangan lupa pakai X!!

"Ahh…Bung, yang benar saja. Itu sama sekali tidak terdengar gaul, justru terdengar seperti… You know like emmm Jamet." 

"Lo pikir gue perduli? Aiiiiiii don ker!!" 

Stop! Mari kita tinggalkan perdebatan yang tidak penting anatara gue dan gue yang lainnya. 

What!?

Ya, silahkan nilai diri gue gila atau mengidap gangguan jiwa seperti bipolar atau apalah semacamnya. Jika mungkin kalian jujur pada diri sendiri. Perdebatan semacam itu; perdebatan dengan diri sendiri, pasti pernah juga kalian alami. PASTI!

Gue lahir pada pertengahan tahun 1992 yang dalam artian pada tahun 2020 ini usia gue hampir mendekati angka 28. Gue belum pernah menikah dan saat ini gue sedang tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun alias gue jomblo. (oke Mblo!) Gue sudah menjomblo sekitar… "Hemm sebentar… karena terlalu lama di rumah gue sedikit lupa sudah berapa lama gue menjomblo. Anya, Tania, Bella, Dea, Alisya…"

"Wih banyak juga mantan lu, Tex?"

"Mantan? Emang gue bilang itu mantan gue? Gue cuma lagi sebutin nama Selebgram yang gue follow."

"Ergghhhhhhh…"

Dan akhirnya gue ingat sudah berapa lama gue menjomblo. Gue sudah menjomblo hampir sekitar selama 28 tahun. 

"Kenapa? Ada yang salah? Ehh… Tolong itu Agan yang kumisnya tipis-tipis tebel cuma di samping, tolong liatnya biasa ajah. Gue masih normal! Gue masih nafsu liat Pevita, gue juga masih gelisah kalo liat goyang Mamah Muda. Jadi please, sekalai lagi please gue mohon sabar nunggunya, Mas. Ehh…"

Gue serius saat mengatakan kalau gue sudah menjomblo selama itu. Gue sudah menjomblo dari awal gue lahir hingga detik kalian membaca cerita. Namun sekali lagi gue menjomblo bukan karena gue homo apalagi karena gue ikut suatu aliran sekte yang mengharuskan pengikutnya menjomblo seumur hidupnya. Alasan gue masih sendiri adalah karena gue terlalu lama menatap ke suatu arah hingga gue lupa bagaimana menatap ke arah lainnya.

"Aaahhheemmm… Sorry Bung Fiersa. Bisa geseran sedikit?"



Aku dan kamu itu antitesis yang manis
Yang tidak bisa bersatu namun saling butuh
Yang tidak bisa berpadu namun saling rindu


Dia bernama Tiara, wanita yang mungkin paling mengerti mengapa hingga sampai saat ini gue masih sendiri. Seperti namanya, Tiara, adalah sesuatu yang sangat berharga, simbol kekuasaan, simbol kecantikan, simbol keagungan, dan simbol kebertundukan; dalam hal ini bagaimana gue bertunduk, berlutut, mencurahkan segala perasaan gue hanya untuknya. Dan teruntuk gue pribadi Tiara bukan hanya simbol-simbol feminisme atau kekuasaan (yang menguasai seluruh perasaan di dalam hati gue) lebih dari itu Tiara adalah sebuah keindahan. Gue menyukainya… Ahh, Tidak! Gue mencintainya, sungguh-sungguh mencintainya. Tiara adalah sebuah kesempurnaan.

Tiara adalah seorang wanita yang sempurna. Sekali lagi sempurna; gue tidak peduli kelakuan absurdnya yang selalu mencium kaos kakinya setiap kali dia melepaskannya. Gue tidak peduli setiap kali dia membersihkan hidung, dia selalu meletakan kotorannya di bawa mejanya. Gue juga tidak peduli bagaimana suaranya saat tertawa yang bahkan bisa terdengar hingga radius belasan meter. Gue juga tidak peduli suara falset nya yang mememik di telinga saat menyanyikan sebuah lagu dan gue benar-benar tidak peduli pada kenyataanya suara falset itu keluar bukan hanya saat dia bernyanyi bahkan saat dia berbicara. Gue mencintainya, dan semua itu sama sekali bukan sebab untuk tidak menganggapnya seorang wanita yang sempurna. Ya, karena gue mencintainya.

Gue mengenal Tiara sudah lebih dari setengah umur gue. Kami satu sekolah sejak dari TK, SD, SMP, SMA, kami berada dalan satu Universitas yang sama meski berbeda fakultas, bahkan kami bekerja pada perusahaan yang sama walau berbeda divisi.

Manis bukan hubungan gue dengan Tiara? Selalu berada dalam satu lingkungan dari Taman Kanak-Kanak, beranjak dewasa dan kini sudah bertanggung jawab atas hidupnya. Dengan benih-benih cinta yang tumbuh… "Ah, rasanya sulit dibayangkan betapa manisnya hubungan gue dan Tiara." 

Ya, jika dibayangkan seperti itu memang sangat manis kisah diantara gue dan Tiara. Namun pada kenyataanya hubungan gue dan Tiara tidaklah semanis itu. Memang gue mengenalnya sedari kami masih kanak-kanak. Tapi meski begitu gue dan Tiara sama sekali tidak pernah akrab satu dengan lainnya. 

Hubungan gue dan tiara mungkin hanya bisa dikatakan "Sebatas kenal." Ya, gue mengenalnya sejak lama, begitu juga sebaliknya. Sebatas itu! Hanya sebatas itu. Bahkan, gue dan Tiara tidak pernah berada di dalam satu percakapan yang lebih dari 2 menit. Gue dan Tiara mungkin berada di dalam satu habitat yang sama, namun gue dan Tiara adalah dua spesies yang berbeda yang tidak memiliki suatu alasan untuk berkomunikasi lebih dalam selain menyelamatkan diri dari pemangsa.



Hari itu matahari bersembunyi di balik tebalnya awan penghujan di pagi hari. Pagi yang sangat mendukung untuk tetap bergelut di balik selimut, pikir gue kala itu. Namun apa daya suara lembut yang terdengar di awal, mencoba membangunkan gue seketika berubah menjadi suara yang sangat kerasa. Bahkan gue merasa suara itu lebih keras dibandingkan suara Kapten Leonidas.

"FATAAAAAAHHHHH SUDAH JAM SETENGAH TUJUH!!!!" Suara Nyokap gue terdengar begitu menggelegar.

"Iyah, Mah. Lima menit." Sahut gue karena gue tahu saat itu waktu baru menunjukan pukul 05.40 waktu di handphone poliponik gue. (Oh, Mom… I love you)

Baru saja hendak melanjutkan tidur, suara sodet yang beradu dengan penggorengan terdengar nyaring di samping telinga gue yang akhirnya memaksa gue untuk segera bangun dan pergi ke kamar mandi. Ya, nyokap gue merangsek masuk ke dalam kamar dan membangunkan gue dengan cara yang barbar. 

Dengan penuh rasa malas akhirnya gue mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah dan berangkat pukul 6 lewat 20 menit. Dan adegan seperti itu selalu menjadi kebiasaan gue di setiap pagi. Gue berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum. Walaupun sebenernya bokap gue selalu menawarkan diri untuk mengantar gue ke sekolah, namun gue enggan pergi diantar oleh bokap 

Gue. Bukan maksud gue tidak ingin merepotkan orang tua gue, bukan. Gue tidak sebaik itu dalam berpikir, gue berpikir kalau gue berangkat ke sekolah diantar oleh bokap gue. Gue tidak bisa berbelok arah ketika rasa malas ke sekolah menghinggapi diri gue. Yap, gue tidak bisa Madol, kasarnya.

Seperti biasanya, hari itu gue naik angkutan umum mikrolet dari jalan raya dekat rumah gue. Entah kebetulan Semesta atau memang ini sudah kebiasaan, hampir setiap pagi gue mendapat supir yang sama yang sudah agak gue kenal. Bagaimana tidak, hampir setiap pagi selama gue sekolah di tingkat SMP gue sering sekali naik angkotnya Bang Lae, gue memanggilnya.

"Ahh bosan kali aku melihat kao pun setiap pagi." Canda Bang Lae kala itu dengan logat bataknya yang khas sekali.

"Lah sama Bang, Ogut juga bosen, hahaha."

Bang Lae mulai melajukan mikroletnya sementara gue duduk di samping Bang Lae. Untuk membunuh bosan, gue mengeluarkan handphone gue dan memainkan game Bounce yang ada di handphone gue. Sesekali Bang Lae berhenti untuk mengangkut penumpang. Hingga sampai Bang Lae kembali menghentikan laju dengan sangat kasar, Bang Lae menyuruh gue untuk sedikit menggeser tempat duduk.

"Cil, Bergeser lah kao sedikit, biar muat itu nona cantik duduk di samping kao." Ucap Bang Lae.

"Lah penuh." Sahut gue sambil melihat kebelakang yang ternyata sudah sangat padat penumpang.

"Eh Potex." Suara renyah seorang perempuan memaksa gue untuk mengalihkan seluruh kesadaran gue padanya dan perempuan itu ternyata Tiara.

"Eh Ra, tumben." Sahut gue sambil bergeser untuk memberikannnya ruang untuk duduk.

"Iyah nih, bokap gue engga bisa nganter."

Dan saat itu Tiara pun duduk di samping gue. Untuk pertama kalinya gue duduk dengan Tiara begitu dekat hingga gue bisa menghirup aroma parfumnya. Begitu dekat hingga gue bisa merasakan bahunya yang sedikit mengangkat saat dia bernafas. Begitu dekat hingga gue bisa melihat dengan jelas bola matanya yanh ternyata berwarna coklat. Dan begitu dekat hingga nafas gue seketika tersekat-sekat sampai kening gue sedikit berkeringat hingga gue merasakan sesuatu perasaan yang membuat jantung gue lebih cepat berdetak.

"Entah itu sebuah kesialan atau sebuah keberuntungan. Hampir 9 tahun saling mengenal namun aku baru tersadar, Kamu begitu menawan."


Sekitar 20 menit akhirnya angkot berhenti di suatu persimpangan, gue tiba sudah tiba di tujuan. Tiara membayar ongkos perjalanan kemudian turun dari angkot. Sementara gue masih diam duduk bersansar.

"Eh Cil Madol lagi kah kao!?" Tanya Bang Lae.

"Tex, elo ga turun?" Tanya Tiara dari luar angkot.

"Oh… Ah… Gue belom ngerjain tugasnya Bu Risma, keknya gue cabut deh." Jawab gue tanpa melihat ke arah Tiara.

"Ih kebiasaan!" Sahut Tiara kemudian gue sedikit melirik ke arah dia yang ternyata sudah agak berjalan beberapa langkah menuju ke sekolah.

Setelah hari itu gue tidak pernah lagi berada satu angkot bersama Tiara. Namun sialnya bayangan Tiara selalu tertinggal di dalam angkot itu dan suara Tiara yang mengucapkan kata "Kebiasaan" selalu terngiang-ngiang di kepala gue. Memicu pertanyaan besar di dalan hati gue. "Apakah itu hanya sebuah basa-basi? Atau Tiara memperhatikan KEBIASAAN gue selama ini?" 

"Entah, itu cuma basa-basimu atau… ah, entahlah. Namun satu kata 'kebiasaan' yang keluar dari mulut kamu yang akhirnya membuatku setelahnya menjadi kebiasaan memperhatikan segala gerak-gerik kelakuanmu."



Orang bijak berkata: "Sebuah cinta memang harus diungkapkan karena tidak pernah ada cinta yang disembunyikan, kecuali oleh seseorang yang terlalu mencintai dirinya sendiri." 

Jika merunut perkataan orang bijak sebuah cinta harus diungkapkan. Anggaplah gue bukan orang yang bijaksana. Namun gue ingin melempar protes pada orang bijak tersebut, musabab tidak selamanya cinta yang tidak diungkapkan itu karena seseorang lebih mencintai dirinya sendiri; Karena ada kalanya sebuah cinta memang tidak untuk diungkapkan; saat sebuah kenyataan yang terlihat di awal sudah sangat menyakitkan; ada cinta yang memang ditakdirkan untuk tidak dipersatukan.

Semenjak hari itu ada kebiasaan baru dalam hidup gue yaitu memperhatikan dari jauh tingkah laku Tiara. Gue sebenarnya menyadari jika gue merasa jatuh hati namun gue memutuskan untuk berdiam diri. Ada hal yang membuat gue enggan untuk mengatakan atau sekedar menunjukan apa yang gue rasakan. 

Dan waktu terus berputar, pagi terus bergerak hingga tergantikan malam. Gue masih memendam perasaan di dalam diam. Mencoba mengelak apa yang gue rasakan namun semakin mengelak perasaan semakin tidak terbantahkan. Hingga sampai hari terakhir gue berada di tingkat sekolah menengah pertama, gue berniat untuk mengungkapkan apa yang gue rasakan. Karena gue berfikir mungkin ini kali terakhir gue bisa bertemu dengan Tiara. Namun niat itu gue urungkan, mengingat kembali apa yang membuat gue selama ini hanya memendamkan perasaan.



Setelah lulus SMP gue melanjutkan pendidikan di sebuah SMA swasta yang ada di Jakarta Selatan. Entah kebetulan atau memang itu semua adalah takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Tiara masuk di SMA yang sama, gue bertemu dengannya saat briefing calon siswa/i baru sebelum memasuki masa orientasi siswa.

Namun kenyataan itu juga tidak membuat segalanya berubah. Gue dan Tiara tetap berada di dalam satu habitat tetapi gue gue dan Tiara tetaplah dua spesies yang berbeda. Gue tetaplah menjadi gue yang terkadang cabut sekolah demi memanen gold di Ether dan mengikuti WAR siang dalam permainan RF online dan Tiara tetap menjadi "Tiara" yang selalu dipuja oleh khalayak pria dan selalu menjadi Diadem pembeda bagi siapapun yang berhasil meraih cintanya.

Kondisi seperti itu terus berlanjut hingga periode masa gue dan Tiara menjadi mahasiswa. Gue dan Tiara kembali berada di dalam lingkungan yang sama namun gue dan Tiara tetap tidak berada di dalam lingkaran hidup yang sama. Namun karena hal itu pula, karena gue selalu berada di dalam lingkungan yang sama sehingga gue masih bisa menatap ke arah yang sama dan sialnya dengan perasaan yang juga sama bahkan harus gue akui terkadang dibumbui cemburu yang tidak seharusnya. 



Setelah gue lulus kuliah, gue langsung berkerja di salah satu perusahaan retail. Gue bekerja di salah satu gudang penyimpanan barang dagangnya. Selama satu tahun menjadi staff di gudang entah kenapa gue merasa itu satu tahun terhampa yang pernah gue lalui. Entah karena tekanan pekerjaan yang terkadang membuat gue ingin salto sambil juggling atau karena selama setahun itu gue tidak pernah melihat apa yang selama hampir 17 tahun kebelakang selalu gue lihat setiap hari. Entahlah, sepertinya alasan kedua adalah alasan terjujur yang keluar dari dalam hati gue.

Memasuki tahun ke dua, gue dipindah tugaskan ke kantor pusat di divisi retail. Gue begitu terkejut saat hari pertama gue menjadi "Orang kantoran" orang yang pertama kali gue temui saat memasuki area gedung kantoe gue berada adalah Tiara. Gue sempat mengelak jika itu adalah Tiara. Namun saat dia melihat gue yang sedang berdiri mematung karena melihatnya, Tiara menghampiri gue.

"Heyy Tex, Potek kan?" Tanya Tiara memastikan.

"Iya, Tiara?" Tanya gue dengan konyolnya.

"Kamu ngapain, Tex?" 

"…" Gue sedikit terdiam karena Tiara menggunakan kata "Kamu".

"Aaa…Iii… Ini aaakk… gue dipindah tugasin ke sini." Jawab gue akhirnya dan terlihat bodoh pastinya.

"Oh ya? Dimana ?" Tanya Tiara.

"PT. *** " Jawab gue singkat.

"Serius? Berarti selama ini lo kerja di PT. ***?" Tanya Tiara seperti memastikan.

"Iya, udah setahun, kemaren di gudang, sekarang dipindahin kesini."

"Udah setahun?" Sambar Tiara seolah tidak percaya.

"Iya, kenapa sih?" Tanya gue.

"Hahaha. Gapapa." Jawab Tiara lalu tersenyum. "Oh iya sekarang lo pindah ke bagian apa?" Lanjut Tiara.

"Divisi Retail nih." 

"Oh, itu ada di lantai 10." Sahut Tiara.

"Kok tau?" 

"Hahahah, gue juga udah satu tahun, lho. Kerja di sini." Sahut Tiara kemudian melangkah menuju ke depan pintu lift. Sementara gue kembali diam mematung.

"Kebetulan macam apa ini?" Gue berbicara sendiri di dalam hati.

Sebulan pertama gue menjadi "orang kantoran" kegiatan gue lebih banyak didominasi oleh proses adaptasi gue dengan lingkungan kerja yang baru. Biar bagaimana pun, bekerja di gudang dan di kantor itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Gue hanya bertemu Tiara sesekali, sesekali saat jam makan siang, sesekali saat hendak beranjak pulang. Ya, gue hanya sesekali melihatnya setiap hari. Lebih tepatnya gue selalu mencari untuk waktu yang sesekali itu setiap hari. 

Berlanjut di bawah
⬇⬇⬇
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 28 lainnya memberi reputasi

Lanjutan

Jakarta, Mei 2018

Pukul 11.50 gue melihat jam yang ada di layar monitor PC kerja gue. 10 menit lagi menjelang makan siang namun gue memutuskan untuk turun membeli makan. Gue turun ke lantai dasar, setelah itu berjalan menuju sebuah minimarket yang letaknya tidak jauh dari gedung kantor gue. Gue membeli 1 buah roti sobek, satu buah kopi instans kemasan botol, serta satu bungkus rokok. 

"Koreknya sekalian, Kak?" Kasir mimarket menawarkan dagangannya.

"Yah elu ketemu gue saben hari masih nawarin gue korek aje, korek yang kemaren gue beli ajah belom abis." Celetuk gue pada Dewi yang memang gue sudah mengenalnya karena hampir setiap hari gue bertemu dengannya di minimarket ini. 

"Namanya juga kebiasaan, Bang. Lu lagian protes mulu kaya mahasiswa." 

Gue tertawa mendengar Dewi mengeluh atas keluhan gue. Setelah selesai melakukan pembayaran gue bergegas kembali. Gue tidak kembali ke meja kantor gue, gue kembali ke tangga darurat di lantai 10 tempat kantor gue berada.

Gue memang lebih sering menghabiskan jam makan siang gue di sini dan seperti ini. Dalam seminggu terkadang gue hanya satu kali makan di luar bersama rekan-rekan kerja gue bahkan terkadang dalam seminggu, gue sama sekali bisa tidak makan di luar. Gue bukannya sedang dalam program penghematan tapi gue adalah orang yang paling malas untuk mengantri hanya untuk membeli sebuah makanan. Seenak apapun makanan yang dijual, jika gue melihat ada sebuah antrian yang tidak wajar gue akan lebih memilih menelpon Donal.

Selesai menghabiskan satu sobekan roti sobek dengan sangat cepat, gue menyulut sebatang rokok. Entah kenapa gue terbayang ucapan Dewi di minimarket tadi.

"Kebiasaan yah." Gumam gue dalam hati. Saat sedang bergumam sendiri tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka yang disusul suara langkah kaki seseorang yang terdengar mendekat. Gue menanti siapa pemilik suara langkah kaki itu.

"Eeh buset maen comot-comot ae lu." Protes gue pada Tiara yang saat tiba dia langsung mengambil roti gue.

"Kwann mmang oo geli bwat bergu, an!?" Sahut Tiara dengan mulut yang sambil mengunyah.

"Telen dulu keselek ae lu." 

"Uhuuuuukkk uuuu aaaa, aaaeerre." Benar saja Tiara tersendak dan langsung mengambil kopi instans milik gue.

"Naah kan es teruss bocah!" Ledek gue sambil melihat ekspresi Tiara yang begitu sulit untuk gue jelaskan yang akhirnya membuat gue sedikit tertawa.

"Kenapa lo ketawa!?" Tanya Tiara sambil meletakan kembali kopi instans gue ke tempat semula.

"Gapapa, gue cuma inget pas pertama ketemu lo di sini ajah, AKU." Sahut gue.

"Ihh rese' yah gue kan mencoba ramah." Sambar Tiara sambil meletakan dua lembar kertas untuk alasnya duduk di samping gue.

"Berarti sekarang lo engga ramah, dong?" 

"hemmm gimana yah, abis lo makin lama makin nyebelin jadi gue engga ramah lagi, deh. Hahahaha." Sahut Tiara sambil membuka tumbler berisi air yang dia bawa. Melihat itu sontak gue langsung sedikit menjitak kepalanya dengan sangat pelan.

"Elu bawa tumbler isinya aer ngapa lu keselek tadi kopi gue lu kokop jamblang!" 

"Eh iya yah gue bawa air. Lupa gue."

"Bodo amat!!!!" 

"Hahaha." Tiara tertawa lalu meminum air dari tumblernya.

"Tek…" 

"Pake X" Celetuk gue mengkoreksi.

"Iya potexssss, lagian kenapa pake x sih, jamet!"

"I don ker! Lagian gue bukan orang Jawa." 

"Iyaa iya Bemet, Betawi Metal, hahahaha." Celetuk Tiara.

"O aaaaa zzzaaahh."

"Pake Z banget, hahaha." 

"…" Gue menirukan gesture bicara Tiara untuk meledeknya.

"Ih rese, hahaha". Timpal Tiara sambil menyenggol bahu gue dengan bahunya. "Tex, kita ini aneh ga, sih?" Lanjut Tiara entah apa maksudnya.

"Lo, iya! Gue, engga." 

"…" Tiara diam sambil menggelembungkan pipinya memasang mimik seolah dia sedang merajuk.

"Dih ngambek" Sahut gue sambil menghembuskan asap rokok yang sebelumnya gue hisap. "Lagian aneh kenapa sih?" Tanya gue lalu kembali menghisap kembali rokok gue.

"Ngerokoknya pelan-pelan, Tex." Sahut Tiara. "Iya aneh, kita udah saling kenal berapa tahun coba, kita kenal dari TK lho, Tex. Tapi kita baru deket setahun belakangan ini." Lanjut Tiara.

"Durasi belom tentu menentukan kualitas, kan." Sahut gue.

"Iya, sih. Lagian lo pas sekolah juga cabut melulu gimana kita mau ngobrol terus deket."

"Emang kalo gue engga pernah cabut terusnya bakal menjamin kalo dulu kita bakal ngobrol? bakal deket? Engga juga, kan? Gue cabut juga engga setiap hari lho, Ra." 

"Iya juga sih, ya. Terus kenapa kita dulu engga pernah ngobrol sedeket ini, yah?"

"Laaahh au, kalo gue tanya begitu sama lo. Jawaban lo apa?" Tanya gue.

Lucu memang gue dan Tiara sudah saling mengenal hampir 20 tahun, bahkan itu sudah sangat melebih setengah usia masing-masing dari gue dan Tiara. Tapi gue dan Tiara baru bisa saling berbicara banyak dan mengenal lebih dekat satu dengan lainnya setahun belakangan ini. Setahun kebelakang ini gue sering menghabiskan waktu bersama Tiara di luar jam kerja. Karaoke bersama rekan-rekan kerja kami lainnya. Jalan-jalan di akhir pekan. Atau sekedar hang out berdua selepas pulang kerja, gue baru bisa melakukan itu semua setelah 19 tahun hanya saling mengenal. 

Jika ditanya kenapa bisa seperti itu, gue bukannya tidak tahu kenapa alasannya. Hanya saja, jika yang bertanya bukan Tiara. Gue pasti akan menjawab yang sebenarnya-benarnya alasannya; Tentang selama ini sebenarnya gue memiliki perasaan lebih kepada Tiara. Perasaan itu bukanlah sebuah kesalahan. Gue sadar jatuh cinta bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Kita bisa berencana memiliki hubungan dengan siapa saja, tapi kita tidak pernah bisa berencana pada siapa hati ini menjatuhkan cintanya. Jatuh cinta pada Tiara juga bukanlah sebuah kesalahan. Bagaimana, pun. Cinta tidak pernah salah. Hanya saja terkadang ada batasan-batasan tertentu yang jika tidak diindahkan justru akan menjadi halangan dibelakang. Dalam kehidupan terkasang ada hal-hal yang sebaiknya tidak perlu diperjuangkan. 

Dan sekali lagi, waktu kembali menunjukan jika ada banyak hal di dunia ini yang sama sekali tidak bisa kita lawan.


Jum'at 12 April 2019

Gue masih di dalam posisi takhiyat akhir, sedikit menundukan kepala dan memejamkan mata. Gue mengkhusyukan diri di dalam doa.

"Ya Alloh, sesungguhnya hanya Engkau yang paling mengerti apa yang saat ini hamba rasakan. Ya Alloh, jadikan ketetapan-Mu akan hidup hamba menjadi sesuatu jalan yang paling baik untuk hamba terus melangkahkan kaki ke arah yang lebih baik. Sesungguhnya saat ini tidak ada yang bisa hamba pinta. Hanya Alhamdu'lillah yang bisa hamba ucapkan sebagai doa. Alhamdu'lillah… aamiin." 

Selepas berdoa gue lalu berdiam sejenak memandangi ukiran lafaz Alloh yang terukir megah di belakang mimbar masjid yang biasa gue melaksanakan sholat jum'at. Selesai melaksanakan ibadah sholat jum'at gue bergegas melangkah keluar masjid ini. Menghampiri seorang perempuan yang sedari tadi setia menunggu gue melaksanakan ibadah sholat jum'at.

"Ihh, aku tuh selalu seneng deh liat kamu kalau abis sholat. Kaya lebih ganteng." Ucap Tiara saat gue menghampirinya.

"Iya iya. Yaudah yuk! Kamu yakin engga makan dulu?"

"Fattah alias potex pake x. Kalo aku makan, nanti ngukur badan akunya pas fitting bisa berubah. Nanti ukurannya engga tepat. Kamu mau liat nanti gaun pengantin aku kegedean…" Tiara terus mengoceh tanpa henti mengatakan hal-hal yang bisa terjadi jika dia makan terlebih dahulu sebelum melakukan fitting gaun pengantin. Gue hanya menggelengkan kepala lalu sedikit menarik bibirnya supaya dia berhenti berbicara.

"Lebay!!!" Celetuk gue sambil melepaskan jari gue dari bibirnya.

"Ihhhhh… bukanya lebay… tapi tuh…"

"Iya iya, yaudah hayoo cepet, nanti kalo ada yang liat nanti kita ketauan bohong sama yang lain." Celetuk gue karena gue beralasan untuk mengecek beberapa toko yang sedikit bermasalah.

40 menit kemudian gue dan Tiara sudah berada di sebuah wedding boutique yang berada di Jakarta Pusat. Sesampainya di butik ini Tiara terlihat begitu semangat melihat pernak-pernik pernikahan, sesekali dia menanyakan pendapat gue dan gue hanya meresponnya dengan kata "Bagus. Iya itu juga bagus. Itu juga bagus. Bagus kok. Bagus banget. BAGUS!!!!!" Hingga tiba waktunya untuk Tiara melakukan fitting untuk gaun pernikahannya. 

Tiara masuk ke dalam sebuah ruangan, sementara gue duduk di sofa sambil menunggunya. 10 menit kemudian Tiara keluar mengenakan gaun pengantin berwarna putih, rambutnya masih tergerai. Tiara cantik sekali sehingga gue hanya bisa terdiam memandangi.

"Ra… Sumpah, kamu cantik banget." Ucap gue lalu menghampirinya.

Di sebelah Tiara berdiri ada sebuah meja rias, di atas meja tersebut gue melihat sebuah aksesoris seperti mahkota. Tiara lebih tepatnya. Gue mengambil Tiara tersebut lalu mengenakannya diatas kepala Tiara.

"So wonderful." Bisik gue ditelinganya.

Diadem Tiara
Gambar Ilustrasi by Bridal Musings


Tiara langsung menarik baju gue, menarik sedikit badan gue hingga lebih mendekat dengan tubunya, lalu melingkarkan sebelah tanggannya dipinggang gue. Sehingga gue bisa semakin jelas melihat matanya yang coklat dengan sedikit air mata yang membuat itu seperti berkaca-kaca.

"Sekarang kamu tolong cobain gaun prianya, yah." Bisik Tiara seketika air mata yang mengembang itu jatuh membasahi pipinya. "Nanti abis itu kita langsung ke gereja." Lanjutnya kemudian melepaskan sebelah tangannya yang sebelumnya melingkar di pinggang gue lalu gue melakukan fitting untuk pakaian pengantin pria karena ukuran badan calon suami Tiara sama persis dengan ukuran badan gue.

Selesai melakukan fitting pakaian pernikahannya. Gue mengantar Tiara ke Gereja yang biasa dia kunjungi untuk melaksanakan peribadatannya. Tidak ada pembicaraan sepanjang perjalanan dari butik hingga menuju ke Gerejanya. Bahkan setelah Tiara selesai dengan urusannya di Gereja. Keheningan masih menghinggap diatara gue dan Tiara hingga sampai gue mengantarnya hingga ke depan rumahnya.

"Sampe nih." Ucap gue memecah keheningan dan mencoba mencairkan suasana. Tiara hanya bergeming, beberapa detik kemudian Tiara terlihat menangis. Kini berganti gue yang bergeming. Gue menyandarkan posisi duduk sambil memegangi kening, gue bingung bagaimana harus menyikapi ini.

"Kamu kenapa engga pernah ngomong, sih. Tek?" Tanya Tiara sambil menyeka air matanya.

"Alasannya sama seperti kamu yang juga engga pernah ngomong, kan." Sahut gue yang mengerti arah pembicaraan ini. "Lagi pula, tanpa perlu aku ngomomg. Kamu tau perasaan aku sama kamu, Ra." Lanjut gue.

"Bukan itu, Fattah bukan itu…"  Sahut Tiara, tangisnya pecah.

Gue membiarkan Tiara menangis sepuas-puasnya, gue sengaja membiarkan Tiara meluapkan semua emosinya dengan air mata. Gue bukan berbesar kepala menganggap Tiara menangisi perasaannya kepada gue yang tidak bisa tersampaikan. Kenyataanya waktu membuat hubungan gue dan Tiara semakin dekat. Bukan dekat seperti dua orang yang sedang bersahabat; gue dan Tiara menyikapi hubungan ini selayaknya kekasih walau tanpa prosesi pengakuan masing-masing diri. 

Mungkin orang lain melihat keakraban diantara gue dan Tiara adalah keakraban dua orang sahabat yang sudah salinh mengenal semenjak masih anak-anak. Nyatanya, haruskah gue bertanya "Apakah ada dua orang sahabat yang memasuki gedung bioskop hanya untuk berciuman? Apakah ada dua orang sahabat yang berbohong pada kekasih dan keluarganya mengikuti gathering perusahaan yang pada kenyataannya hanya untuk gue dan Tiara bisa berlibur berdua? Apakah ada? TIDAK!" 

Gue dan Tiara memang tidak saling mengungkap perasaan lewat ucapan namun sikap dan perlakuan sudah jelas menunjukan ada dua perasaan yang diam-diam diwujudkan.

Tangis Tiara perhalan mereda. Dia mengambil tissue yang ada di atas dashboard mobil gue kemudian menyeka air dan membersihkan bekas air matanya. Gue lalu mengusap-usap rambutnya guna menenangkannya. 

"Ra, kamu tau berapa lama perasaan ini ada di sini?" Ucap gue sambil memegang dada gue dengan tangan lain gue. Sementara Tiara kembali bergeming. "Kamu inget pas kita satu angkot waktu SMP?" Lanjut gue.

Tiara lalu mengambil tangan kiri gue yang berada di atas kepalanya, kemudian menggenggamnya dengan tangan kanannya. "Fattah, kamu tau udah berapa lama perasaan ini ada di sini?" Tanyanya sambil mengarahkan tangan gue ke dadanya. Lalu dengan tangan kirinya Tiara mengeluarkan bandulan kalungnya yang berbentuk malaikat kecil dengan Tiara dikepalanya kemudian Tiara meletakan bandulan kalungnya itu di telapak tangan gue dan Tiara merapatkan kedua telapak tanganya membentuk gesture seperti dia sedang berdoa dengan telapak tangan gue berada diantara telapak tangannya.

"Mungkin kamu lupa ini, tapi buat aku ini engga pernah terlupakan. Ini kalung pemberian mendiang Mamah kandung aku. Kalung ini selalu ngebuat aku merasa Mamah selalu meluk aku. Aku selalu jaga kalung ini bahkan kamu tau aku menjaga ini melebihi aku menjaga kehormatan aku." Ucap Tiara. Gue mengangguk memang selama ini gue sudah mengetahui perihal kalung itu.

"Kamu tau kalung ini dulu pernah hilang satu kali, saat kalung ini hilang aku merasa sedih banget. Aku engga mau makan, aku engga mau sekolah, aku engga mau ngapa-ngapain selain nangis…" Lanjut Tiara.

"Tunggu…" Selak gue teringat sesuatu.

"Iyah, sampai akhirnya kamu sama temen-temen TK kita dulu dan Ibu Lis juga waktu itu dateng ke rumah aku karena aku udah beberapa hari engga sekolah…"

"Aku inget, kita takut kamu kenapa-napa waktu itu, mangkanya kita semua ke rumah kamu buat memastikan." Celetuk gue.

"Iyah, pastinya kalian khawatir sampe akhirnya waktu itu papah kasih tau Ibu Lis alasan aku engga masuk dan Ibu Lis nanya sama kalian semua apa ada yang ngeliat kalung aku dan kamu satu-satunya orang yang langsung berdiri yang nanyain 'apa ini kalungnya?'" Tiara menirukan suara gue saat masih TK.

"Tunggu, jangan bilang?…"

Tiara menganggukan kepala. "Iyah Fattah, saat itu aku nganggep kamu sebagai penyelamat aku. Mulai dari situ aku selalu memperhatikan kamu setiap di sekolah. Dan… entah sejak kapan kebiasaan itu akhirnya menumbuhkan perasaan yang beda, haaaa" Tiara sedikit menghela nafas. "Kamu tau, perasaan aku saat diangkot dulu. Aku seneng banget bisa duduk deketan sama kamu. Di titik itu perasaan aku udah besar banget buat kamu. Aku tahu setelah kejadian diangkot itu kamu selalu memperhatikan aku, aku engga kepedean tapi aku beneran tau. Sebenernya aku selalu nunggu kamu nyamperin aku. Tapi kamu engga pernah mulai buat deketin aku…"

"Kamu tau alesan aku engga pernah memulai itu, Ra" Sambar gue.

"Iyah Fattah aku tau. Aku paham banget itu. Aku paham kamu pasti mikirnya karena kita beda, kan?" 

Gue menganggukan kepala. "Aku dilahirin dan dibesarin di dalem keluarga yang agamanya kentel, Ra. Nyokap aku kamu tau sendiri, bokap aku juga kamu tau kan, Ra? Yah walaupun dalam beragama aku engga sekentel mereka dan aku banyak teracun sama konsep-konsep atheisme dan pluralisme tapi keyakinan aku tetep beryakin pada Tuhan aku, Ra. Dan di keluarga aku engga ada toleransi untuk pernikahan dengan perbedaan ini." Ucap gue.

"Iya, aku tau kok Tah, Ibu kan ustazah babeh juga aktif di masjid. Mangkanya aku engga pernah menyinggung tentang pembahasan tentang perasaan sama kamu. Yah, walaupun aku juga sepertinya harus meminta maaf selama dua tahun belakangan ini aku engga bisa menahan perasaan."

"Engga usah minta maaf begitu, Ra. Toh aku juga engga bisa menahan sikap aku atas perasaan aku dan aku menikmati dua tahun sebagai bayangan calon suami kamu. Harusnya aku kali yah yang minta maaf, sama calon kamu, hahahaa." Gue mencoba mencairkan suasana.

Sejenak kami sama-sama terdiam dan hening kembali menghinggap diantara gue dan Tiara. Sampai beberapa menit berpeluk hening akhirnya gue dan Tiara kembali berbicara, mengungkapkan yang selama ini tidak terungkap dan mengulas semua kembali apa yang terjadi dengan sesekali bumbu canda tanpa angan-angan andai dan jika.

Dan di hari itu kami sepakat untuk mengakhiri hubungan (sebagai apapun kami) kami memang saling mencintai, namun kami tidak membiarkan nafsu untuk memiliki menguasai. Karena gue dan Tiara sepakat cinta kami hanyalah sebuah perasaan-perasaan yang menyarang di dalam dinding hati. Kami hanya perlu membersihkan sarang-sarang itu secepatnya kami mau. Karena gue dan Tiara sepakat cinta bukan hanya urusan aku dan kamu menyatu tapi akan banyak hidup yang akan bertemu saat sebuah cinta bersatu; dan teruntuk itu akan ada banyak yang menentang jika egois ini kami paksa diperjuangkan.



Mungkin aku dan kamu diciptakan bukan untuk saling memenangkan
Namun aku dan kamu sepakat sebuah Tiara tidak melulu untuk pemenang
Setiap orang berhak mengenakan Tiara
Setiap orang berhak memiliki cinta
Namun cinta harusnya tidak menjadi alasan
Untuk melupakan kepada siapa kita memanjatkan doa dan harapan




Dan Tiara tetap akan menjadi diadem suci
Cinta tidak selamanya harus memiliki
Dan jika saat ini aku masih sendiri
Hanya "diadem" ini yang mengerti


-End-
profile-picture
profile-picture
ded3drmwn dan Lighthopper memberi reputasi
Nama tokohnya seperti tidak asing lagi, tapi siapa 🙄


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di