CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eae951410d2952b37022421/ketika-iman-dan-hati-sejalan-begitulah-seharusnya-cinta

Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Halo, Gansis. Kembali lagi nih di thread ane. Di kesempatan kali ini ane bakal menceritakan pengalaman ane selama jadi remaja madyayang tentunya punya kisah asmara.

Oke, dengan penuh sesak ane akan bercerita! Let's go!


Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Seperti yang kita tahu ya kalau masa SMA adalah masa paling indah. Ya setidaknya untuk sebagian orang. Masa SMA adalah masa di mana seorang remaja lagi gencar banget mencari jati dirinya. Mulai dari kemana minatnya, bagaimana cara bermainnya, harus bagaimana menjadi pribadi yang baik. Dan tentunya, dalam hal menggaet lawan jenis. Ehem.

Kisah cinta tentulah indah. Tapi ngga sedikit yang berujung kesedihan atau penyesalan semata. Dan sialnya, ane punya pengalaman itu wkwk.

Kala itu ane menginjak kelas 10 SMA. Ane bersekolah di salah satu sekolah swasta. Pribadi ane yang banyak orang bilang ngga bisa diem dan humoris membuat ane gampang mendapat temen. Untungnya aja Tuhan maha baik. Ditengah bentuk wajah ane yang menengah kebawah dan kulit ane yang coklat. Ane cukup beruntung bertemu beberapa gadis. Salah satunya adalah Fi (Nama Samaran).

Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Fi adalah anak IPA di sekolah ane. Tepatnya IPA 1. Karna IPA di sekolah ane ada 5. Maklum, sekolah kecil.

Ane bertemu Fi ini ketika dekorasi kelas untuk lomba menghias kelas sewaktu perayaan 17 Agustus. Ane ngga merasakan apa-apa karna emang dari dulu ane ngga terlalu berharap sama cewek yang ane rasa levelnya di atas ane. Ya, Fi adalah cewek yang bisa dibilang Perfect untuk standar cewek kala itu. Kulit putih, bibir bak Angelina Jolie, badan ramping, pintar memilih style dan yang pasti asik.

Ane melihat Fi bagaikan setangkai mawar. Wangi dan enak dipandang. Ketika ane berpikit bahwa Fi ini adalah gadis high class, yang pastinya bukan level ane sebagai anak kentang. Pada suatu waktu ane yang bertugas sebagai ketua kelas disuruh untuk minjam selotip ke anak IPA, secara lokal ane sebelahan sama lokal IPA yang juga adalag lokal Fi.

Asli dah, mager parah harus ketemu anak IPA yang belum banyak kenal. Ketika ane ke kelasnya, ane menggedor dengan sopan diawali salam. Orang pertama yang ane lihat adalah Fi itu sendiri. Dia lagi melipat origami untuk ditempel di dinding.

"Maaf nih, ada yang punya selotip kagak?"gumam ane.


Salah satu anak IPA membantu mencarikan. Dan Fi masih terus fokus pada kerjaannya. Lalu ane mendapatkan selotip itu. Dan kembali ke kelas ane.

Beberapa hari kemudian ane ngga balikin lagi tuh selotip, wkwk, jahat banget. Tapi ada anak IPA yang nagih ke ane. Katanya disuruh balikin atau ganti. Duh. Dia bilang urus itu sama Bendahara mereka, dan ane bingung karna ane ngga kenal sama bendaharanya. Eh tapi ... Bendaharanya itu Fi!!!

Ane bingung harus gimana. Tapi karna ane orangnya ngga punya malu di sekolah. Ane berusaha se-pede mungkin menghadapinya.

Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Ketika jam pulang sekolah tiba, ane berdiri dibawah ring basket. Menunggu Fi. Dan akhirnya dia lewat, lalu dengan gobloknya ane, ane hadang dia tanpa basa-basi. Dan tahu responnya gimana?

TAKUT. Wkwkwk ya iyalah.

Ane berusaha meminta maaf dan dimaafin. Ane to the point aja ke dia. Dan bukannya ngasih uang sebagai ganti rugi, ane malah mengeluarkan HP ane. Ane sadar kalau ane salah ngambil barang. Ketika ane mau masukin, Fi tiba-tiba ngomong, "0812 ..." Ane yang bediri di situ bingung. Terus dilanjutkan oleh si Fi, "Ayo cepet catat. Nomor WA kan? Nanti WA aja kalau uangnya ada. Biar kucatat di kas kelas."

Di saat itu ane ngga tau harus senang atau bingung. Ini adalah kesalahpahaman yang indah. Ane hanya tersenyum tipis dan berkata, "Oh oke. Be—berapa tadi?" Ane ngetiknya gemeteran.

Dengan lembutnya dia menyebutkan setiap angka. Mata kami berdua sesekali saling pandang. Fi sebenarnya berperawakan jutek. Tapi itu yang menambah kesan lucunya karna dia berpipi chubby.

Dan, yes! Nomornya ane dapat dengan cara tidak sengaja😂.

Dari situ ane sering SKSD sama Fi. Tapi Fi orangnya open banget! Kita sering tukar-tukaran cerita mengenai hobi. Ane ngga tahu apakah si Fi bakal mengira bahwa ane naksir sama dia walaupun sejatinya ane ngga berharap. Ya karna itu tadi. Ane merasa ngga pantes.

Lambat laun dia tahu perasaan ane. Dia mulai sesekali ngomelin ane kalo ketahuan pulang malem main futsal. Maklum gan, waktu itu lagi boomingnya aksi pembegalan. Dia sering banget minta nanyain ane udah makan apa belum (Hahahaha pertanyaan sejenis yang gampang ditebak arahnya kemana!) Tapi ane masih belom berani mengakui kalo ane suka sama dia. Bisa aja dia emang baik ke semua orang.


Tapi ...


Tenyata Fi tahu, Gan! Hal yang membuat ane pengen terbang keliling dunia ghaib! Ane udah bersiap buat nembak dia hari itu juga. Tapi dia bilang, "Dan, aku mau. Sebelum kamu ngomong aku udah mau. Aku terkesan dengan sikap kamu yang sabar ini. Tapi kita jangan pacaran ya. Aku ngga mau putus sama kamu."

AAAAAAAAAAA

Ane mengiyakan apa yang diucapkan Fi. Dan keesokan harinya kami terbangun dengan perasaan dan status berbeda. Status yang aneh. Pacar bukan, teman bukan, tapi saling sayang. Memasuki gerbang sekolah langkah ane cukup berat. Sangat sulit untuk mengetahui bahwa salah satu gadis tercantik di sekolah ini, mencintai ane dengan tulus. Saat semua orang mengetahui kedekatan ane dengan Fi yang semakin mesra. Satu sekolah geger. Pertanyaan yang pertama mereka layangkan adalah:


Quote:


Senang? Jelas. Bangga? Pasti. Bahagia? Bukan lagi.

Hal itu yang membawa kami sampai sepuluh bulan kedepan. Untuk kisah cinta anak SMA, kami terbilang dewasa karna ngga pernah mau menyebarkan hubungan dengan memposting foto masing-masing. Ngga pernah mau manggil-manggil sayang karna kita tahu itu, hmm, ngga lah ya. Bucin kami sebatas kami menertawakan pengalaman hari ini. Sungguh unik. Maklum, masih SMA.


10 Bulan Kemudian . . .


Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Hubungan kami mulai tergoyangkan oleh banyak hal. Bukan karna sifat posesif, egois, cemburu, naif, namun hal lain. Pada suatu waktu ponsel Fi rusak. Dan kami ngga bisa berhubungan. Ngga tanggung-tanggung, saat Ramadhan itu, dalam sebulan kami hanya bertukar kabar sebanyak 4 kali. Ya! 4 kali. Yang artinya seminggu sekali. Kebetulan kala itu kami libur kenaikan kelas. Gue ngga mau main kerumahnya karna Ortunya sangat melarang Fi pacaran. Secara Fi adalah anak pintar nan mempesona.

Ketika Iman Dan Hati Sejalan. Begitulah Seharusnya Cinta

Kami mulai meragukan satu sama lain. Walaupun begitu, perasaan kami tetap kuat. Fi terus-terusan berkata bahwa dia takut ane pergi. Hal yang ngga pernah ane dapat saat bersama yang lain sebelumnya. Ane juga terus menerus menyakinkannya bahwa ane ngga akan kemana-mana.

Malam itu pukul 22.00 WIB. Ane mempersiapkan alat tulis untuk melanjutkan tugas yang diberikan guru. Lalu tiba-tiba ada bunyi dari ponsel ane. Disitu Fi menghubungi ane. Hal yang membuat ane kaget karna ngga biasannya di nelpon.

Kami akhirnya bercakap-cakap hingga ane melupakan tugas ane. Dia mulai mengatakan banyak hal soal rindu dan jarak. Dia mulai berani memanggil ane "sayang." Ane ngga berpikiran aneh-aneh karna ane pikir, "Ya mungkin dia udah nyaman."

Tiga hari berikutnya kami janjian untuk bertemu. Disebuah Kafe langganan di mana kami sering mampir setelah pulang sekolah. Suasana seperti biasa, dengan kehangatan yang kami rasakan satu sama lain. Lalu Fi berkata dengan teramat lembut. Sebuah suara yang ngga akan bisa ane lupakan sampai saat ini. Dia tersenyum bangga, katanya. Lalu dia mulai mengatakan satu hal,

"Dan, makasih untuk 10 bulannya. Kamu udah ngejaga aku dan ngasih aku banyak banget momen untuk aku inget."

Disaat Fi itu perasaan ane mulai berbeda. Lalu ane tanyakan kepadanya, "Fi? Kamu kenapa haha. Udah jago ya ngegombal," mukul kepalanya pake menu. Kami kembali ketawa dengan lepas. Tapi lagi lagi Fi berucap.

"Dan, hei. Aku mau ngomong sesuatu. Aku udah mikirin ini masak-masak. Saat ramadhan kemarin aku sering datang ke pengajian sama Mama. Mengisi waktulah selama ngga kabaran sama kamu."

Ane masih ingat jelas apa yang Fi katakan. Ane yang saat itu sangat khusyuk mendengarkan perkataannya mulai kembali bertanya, "Baguslah gitu Fi. Jadi udah jadi ibu-ibu pengajian nih ya, hahaha."

Lalu Fi langsung megang tangan ane GAN!

"Dan, hei. Ini terakhir kalinya aku megang tangan kamu." Saat itu juga ane terdiam. Yang tadinya girang bukan main mendadak keringat dingin.

"Aku udah mutusin, aku bakal hijrah. Aku mau jadi wanita yang lebih baik lagi luar dalam. Tapi aku ngga pake cadar kok. Aku mau jadi yang lebih baik lagi."

Ane dengan cepat membalas dan meminta jawaban darinya apakah hubungan ini berkakhir? Dia menjawab, ya.

Sakit? Pasti. Sesak? Wajib! Perih? Rasain aja sendiri. Ane cuma menghela nafas tanda terima. Tanda bahwa ane memang harus dewasa untuk menerima segala keputusan. Sesakit itukah? Apakah ane bakal marah-marah lalu menuduh dengan seribu jurus? Terus pergi meninggalkan bill? Oh tentu tidak. Justru Fi mengatakan satu hal yang membuat ane terharu lalu bahagia.

"Aku udah mikirin semuanya. Papa sama Mama mau bawa aku ke Padang. Aku bakal tinggal di sana sampai lulus, baru bakal balik lagi.

Dan, aku begini untuk kamu. Kenapa? Karna aku ngga mau jadi wanita yang kurang ilmu batin. Kamu juga harus. Aku cuma mau kamu jadi suami sah aku. Setelah kita kerja nanti, janji sama aku untuk ngelamar aku.

Apapun kata kalian. Ane bener-bener tersenyum haru. Lagi-lagi dengan sebuah menu, ane menepuk kepalanya. "Aku janji. Aku usahakan ya."

Pada akhirnya kami resmi mengakhiri hubungan ini walau tanpa status. Dengan damai dan tenang. Kami kembali kerumah masing-masing. Ane duduk diam di atas kasur. Memandangi foto Fi yang telah ane pajang sejak pertama kali berhubungan. Ane berusaha ngga menangis. Tapi air mata ane tetap jatuh.

Ane yakin bisa melakukan itu. Kerja dan kembali lagi padanya. Sampai pada akhirnya kami tidak lagi berkomunikasi untuk menjaga agar Fi tetap istiqomah. Dan ya, Fi pergi ke Padang. Temannya memberitahu ane bahwa dia salam dengan Ane. Menunggu janji yang kami buat.


Semoga ane bisa menepati janji itu! Aamiin.



Quote:



Source : Google

profile-picture
profile-picture
profile-picture
infinitesoul dan 3 lainnya memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di