CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eadfeb610d29565097f9b48/ambyar

AMBYAR (Cerpen)

Besok saja. Saya ada urusan.

Fajar sedang di kantin saat pesan Whatsapp itu datang. Setelah menunggu sampai sore, bimbingan itu kembali ditunda. Seenaknya.

Entahlah dengan sang dosen pembimbing. Namun Fajar ingat jika jauh sebelum ia menempuh penyusunan skripsi mereka sempat beberapa kali berselisih. Niat Fajar sebenarnya baik saat mengkritik, caranya saja yang mungkin sedikit tak patut. Dan lagi, tidak ada orang yang ingin terlihat tidak becus bekerja terutama di depan khalayak. Berangkat dari situ Fajar menyimpulkan ada yang belum selesai di antara mereka. Fajar sempat ingin menyinggung hal tersebut. Namun ia khawatir hal itu justru akan semakin mempersulit skripsinya.

Belakangan ini hari-harinya memanglah teramat kusut. Dimulai dari dosen pembimbingnya yang seperti laki-laki yang juga ikut mengalami siklus menstruasi, lalu orang-orang di sekitarnya entah mengapa begitu memuakkan, belum lagi asmaranya yang belum lama ini kandas. Ambyar.

Pulangnya Fajar menaiki angkot yang sama ketika berangkat. Tersisa bangku sebelah supir yang mana membuatnya sedikit kurang beruntung. Mengapa demikian, pasalnya si supir gemar sekali mengoceh tentang para perempuan yang merupakan penumpangnya; Mirna yang turun di perempatan Jl. Iskandar Muda, Sofi yang bekerja di swalayan dan beberapa hari ini pulang malam, ada juga Dila siswi SMA yang sayangnya sudah tak sendiri lagi. Si supir selalu menceritakannya dengan rasa bangga, seolah-olah mengenal mereka adalah torehan luar biasa untuk hidupnya.

“Pacar kamu siapa, Jar?”

“Enggak ada, Bang. Sudah putus.”

“Cari lagilah.”

Fucek!

Berjalan kaki dari sana justru lebih dekat karena dengan angkot justru mereka harus memutar. Fajar sudah berada di daerah pasar. Indekosnya berada di belakang persis. Fajar menyusuri trotoar, bersisian dengan jalan yang akan menguji kesabaran dengan “goblok”, “tolol”, “anjing”, atau “babi”. Tak peduli berapa derajat celsius, orang-orang selalu jadi beringas ketika di jalan.

“Pak, kasihan, Pak.”

Orang itu tak seperti beberapa pengamen dengan ukulelenya atau penjual koran yang seringkali memiliki keterbatasan fisik. Dengan akalnya, Fajar merasa cukup cerdas untuk bisa membedakan mana yang gembel dan mana yang dibuat seperti gembel. Kulit orang itu dibuat legam setelah digosok entah apa, giginya putih rapi, dan bajunya-adalah trik terbodoh-tidak compang-camping dengan alami, garis sobekannya tegas, habis dipotong.

Fajar melihati sekelilingnya. Seorang komplotannya pasti merekam dari kejauhan. Mungkin menyamar, mungkin juga diam di dalam mobil. Wajah orang itu ia amati lagi baik-baik. Fajar tak mengenalnya. Entahlah, ia tak pernah peduli dengan omong kosong seperti itu.

“Enggak penting goblok.”

Melintas di daerah itu membuat Fajar melihat tempat itu lagi; ruko fotokopi 'Wijaya'. Dan tempat itu menyimpan kenangan. Sekali waktu mereka berlindung dari hujan di sana. Yang mereka lakukan hanyalah bergandengan tangan memandangi satu sama lain dan itu sudah lebih dari cukup. Fajar amat menyayangi perempuan itu. Perempuan itu hadir menyempurnakan hari-harinya.

Ah, saat-saat seperti iniembuat Fajar merindukan ayahnya untuk menguatkan, juga ibunya untuk memasakkan pempek. Karena ia kebetulan juga dalam keadaan lapar, maka singgahlah Fajar di situ, gerai makanan khas di dekat daerah pasar. Dipesannya seporsi pempek kapal selam, segelas es teh manis, juga semangkuk es kacang merah.

Fajar dan mantannya juga pernah makan di situ. Perempuan itu mengaku tahu pempek dari dulu, namun baru kali itu ia memiliki kesempatan untuk mencoba. Menjadi kekasihnya seperti satu-satunya pintu masuk untuk mewujudkan sesuatu, dan mengetahui itu rasanya benar-benar menyenangkan.

Sialan, pikirnya. Singgah di sana tak membuatnya bertambah tenang.

Saat akan membayar seorang pengamen masuk. Tak ada yang aneh, sampai kemudian pengamen itu mulai bernyanyi.

Sebentar, pikir Fajar. Ia bukanlah ahli, namun ia mampu membedakan mana yang sumbang alami dan mana yang sumbang dibuat-buat. Dan percaya atau tidak, berpura-pura sumbang secara alami justru sulit untuk dilakukan. Orang-orang hanya tak memperhatikannya saja.

Fajar memindai sekeliling. Kembali dirasakkanya kecurigaan seperti saat melihat pengemis tadi. Apa dia punya komplotan? Adakah di antara mereka yang merekam situasi itu? Ah, iya. Kalaupun ada, belum tentu juga. Bisa jadi hanya warganet biasa. Tapi satu hal yang pasti, ia tak ada waktu menunggu suara asli si pengamen keluar. Fajar pun berlalu.

“Ngehe!”

Tidak ada perempuan yang menolak dinyanyikan. Begitu juga perempuan itu. Fajar dengan gitar butut dan kemampuan seadanya itu kerap menyanyikan lagu, dan perempuan itu tak pernah absen memuji, meski Fajar tahu perempuan itu hanya ingin menghargai usahanya saja. Itulah yang Fajar senangi, perempuan itu terkadang memikirkan hal-hal kecil.

Seseorang dengan sengaja menabrakkan bahunya saat mereka berpapasan. Fajar tahu ia tidak melakukan apapun. Sementara orang aneh ini justru memarahinya. Fajar tak ambil pusing, namun orang itu seperti tak ingin melepasnya dengan mudah. Fajar kenal beberapa preman pasar, orang pinggiran dengan kehidupan yang keras. Sementara orang ini, tampangnya tidak seperti orang yang suka berbuat ulah.

Apalagi ini, pikir Fajar. Sebegitunyakah orang-orang ini? Mengerjai orang-orang semata-mata untuk mengais keuntungan? Apapun itu, Fajar tak sudi ambil bagian, ia tinggalkan orang itu meski akan sangat bagus memberi salam perpisahan langsung ke rahangnya.

Fajar tak suka kekerasan. Tapi ia tak pernah menghindari konflik. Jika ingin ketenangan, konflik terkadang diperlukan. Tidak jauh dari sana, dulu, ia dan perempuan itu mengalami kejadian tak menyenangkan. Dua orang cecunguk menggoda perempuan itu. Mereka hampir berkelahi sebelum dihentikan si abang ketua. Si abang dengan rendah hati meminta maaf dan menegur anak buahnya. Ia tahu yang namanya cecunguk hanya bisa ngomong. Di sisi lain, ia senang melihat Fajar menjaga perempuan itu.

Hari sudah gelap, Fajar berjalan pulang, semakin dekat dengan indekosnya. Daerah belakang pasar ada banyak indekos murah yang sebanding dengan fasilitas. Sesekali ia meratap, tapi ia sadar harus pintar mensiasati keuangannya.

Fajar akan melintasi rerimbunan bambu setiap kali pulang. Tidak terlalu gelap tempatnya. Di situ sinyalnya bagus. Makanya titik itu kerap ramai ditongkrongi bocah-bocah yang kepingin mabar. Beberapa hari ini Fajar tak melihat mereka lagi. Mungkin itulah penyebabnya, sesosok bayangan yang memunculkan dirinya di ujung sana. Putih. Wajahnya pucat.

“Anjing,” Fajar terkejut. Dan keterkejutan itu membuatnya pitam. Biasanya ia akan gentar. Tapi tidak saat itu. Mau orang mau setan, tunggu. Fajar cari peluru dan langsung mendapatkan batu sebesar kepalan tangan. Lengannya sudah akan mengayun. Tapi alangkah kesalnya ia ketika mendapati bayangan tersebut raib. Fajar tak tahu apa yang membuat emosinya seperti mendidih. Apa karena tak bisa membuktikan, atau karena tak sempat untuk memberi pelajaran.

Hal yang juga diingat dari perempuan itu adalah indera keenamnya. Ada saja yang diungkapkan perempuan itu tiap kali mereka pergi berkencan. Sosok apa yang menunggu di rumah sebelah, di pohon dekat indekosnya, di gudang beras, atau juga di jembatan. Tapi Fajar melihatnya sama seperti perempuan lain. Fajar tak peduli apa itu dikategorikan sebagai kelebihan atau kekurangan. Fajar menyayangi perempuan itu. Itu saja yang perlu ia tahu.

Sedikit cahaya membantu Fajar meraba. Tangannya ke atas sebelum menarik tali yang terhubung ke bohlam. Menyala, pendar keperakan menerangi sebisanya kamar itu. Tiga kali dua setengah meter.

Fajar menghempaskan tasnya ke lantai. Berikut ia menindih kasurnya, matras mendaki gunung dengan beberapa bekas bakaran api rokok. Guling bantal ia susun padat, menopang punggungnya senyaman mungkin.

Hari ke minggu Fajar masih merasa sengsara. Ada saat di mana ia memberi nasehat kepada temannya yang kesusahan, tapi ia prinadi juga bukanlah seorang biksu yang bisa menjinakkan diri secara sempurna. Bebayang si perempuan masih melekati benak. Apa-apa terasa sulit. Apa-apa terasa mencurigakan.

Tapi bagaimana jika ia salah? Setidaknya satu saja dari semua kecurigaannya hari ini. Bagaimana jika pengemis tadi memang benar-benar belum makan seharian? Bagaimana jika pengamen tadi memang memiliki kelainan pada pita suaranya? Bagaimana jika keparat tadi memang seharusnya dibogem? Dan bagaimana jika sosok tadi memang penunggu pohon bambu?

Ah, persetan. Kelakuan orang sekarang membuatnya serba bingung.

Quote:


Jantungnya berdegup. Rasa panas seakan menyeruak keluar. Mengingat kalimat itu selalu membuat Fajar menarik nafas panjang, gairah serupa ketika diintimidasi oleh musuh. Tak ada satupun yang bisa ia cerna. Alasan tahi semacam itu sungguh paling tahi dari segala tahi. Bisa dibilang induk tahi.

Fajar meringkuk ke samping seperti bayi dalam kandungan. Kembali, mentalnya ambruk, sesenggukan seperti anak kecil habis dibentak.

“Bajingan!”

Sakit rasanya kala mengingat perselingkuhan itu. Mereka senang mempermainkan orang-orang, mereka semua manusia brengsek.


End


AMBYAR
profile-picture
muyasy memberi reputasi
Diubah oleh kawmdwarfa


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di