CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eadc729e83c7271a7323b90/sepuluh-tahun-ambisi-yang-berakhir-patah-hati

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati

Quote:
Cinta. Penantian. Kesabaran. Harapan. Kenyataan. Tanpa mereka, patah hati tidak pernah seperih ini.

Halo gan sis, apa kabar? Semoga masih baik - baik saja ya. Walau sekarang pandemi belum berakhir dan menyusahkan saudara bahkan kita sendiri, tapi kalau masih ada cinta dan harapan mungkin setidaknya akan mengurangi kesusahan itu.

Ngomong - ngomong tentang cinta dan harapan, ane dulu pernah merasakan jungkir balik saat berurusan dengan dua hal itu. Ane pernah mencintai seseorang dan berharap ane jodoh dengan dia.

Jadi lewat thread ini, ane mau sedikit share apa yang ane lakukan dan ane rasakan selama ane berjuang mendapatkan hatinya, dan bagaimana hasil akhir dari perjuangan selama sepuluh tahun itu. Semoga tidak membosankan.

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://c1.peakpx.com/wallpaper/820/...er-preview.jpg

Jadi ceritanya begini. Dulu saat ane sekolah, ane punya teman namanya Shinta (disamarkan). Awalnya ane kenal dia karena kami sekelas saat SMA. Walau sekelas, ane gak berani menyapa dia karena kami begitu berbeda. Dia rapi, ane seadanya. Dia rajin, ane angin - anginan. Dia datang ke sekolah pagi - pagi, ane sering terlambat sehingga kena sanksi berkali - kali. Intinya kalau kami dipasangkan, malah kayak si cantik dan si buruk rupa (dan juga sikapnya). Jadi ane merasa gak berani buat menyapa apalagi mengajaknya ngobrol. Itu tahun pertama ane kenal dia.

Perbedaan tempat duduk kami juga semakin membuat kesempatan ane buat mendekatinya semakin berkurang. Ane, yang waktu itu masuk kelas unggulan karena keberuntungan, duduknya di belakang bersama teman - teman yang suka rame dan agak urakan. Sedangkan dia, walau ane tahu kalau kemampuan akademiknya biasa saja, duduknya di bangku paling depan, persis depannya meja guru. Jadi dia sering kumpul sama teman lain yang pinter - pinter, setidaknya tampak rajin dan disiplin di mata guru.

Tapi yang namanya kesempatan memang enggak kemana gan sis. Walau ane di kursi belakang dan dia jauh di depan, kesempatan itu datang juga. Ane enggak menghampiri dia, tapi justru dialah yang mendekati ane. Ceritanya sewaktu pelajaran kosong gak ada guru, anak - anak sekelas pada rame semua. Dia pindah dari kursi depan ke barisan belakang, duduk tepat di kursi samping ane. Ane pun memberanikan diri mengajak dia ngobrol. Kalau gak salah waktu itu kami ngobrolin lagunya Lobow yang berjudul "Salah".

Ngobrolnya sih cuma sebentar, tapi efeknya tahan lama, bikin inget - ingetan doi terus. Sejak saat itu keberanian ane meningkat. Ane mulai tanya nomor hapenya, trus ane sms-an sama dia. Ane juga add profil friendsternya, dan komen - komenan juga. Walau saat di sekolah kami jarang berkumpul, tapi saat di rumah kami sering sms dan chat lewat friendster. Kami tambah akrab. Itu tahun kedua pertemuan kami.

Tapi keakraban kami juga dicoba. Kayak di film - film romance, saat dekat - dekatnya hubungan kami malah dijauhkan lagi. Jadi ceritanya nilai rapor ane ada pelajaran yang di bawah standar, jadi ane di roling ke kelas non unggulan. Ane pindah ke kelas sebelah, sedangkan doi masih tetap di kelas unggulan. Ane gak terima sama keadaan itu, makanya ane coba konsultasi ke guru BK dan memohon jangan dipindah. Ane bilang kalau ane sudah terlanjur betah belajar di kelas itu. Padahal aslinya karena ane gak mau pisah kelas sama si dia. Tapi karena keputusan dewan guru sudah bulat, akhirnya dengan berat hati ane pindah kelas juga. Bayangan ane, dengan beda kelas maka kesempatan ketemu dia bakal berkurang. Tapi nyatanya tidak juga, malah keberanian untuk mendekatinya secara terang - terangan makin besar. Makanya ane sering main ke kelas lama ane, pura - puranya cari teman - teman yang dulu, padahal aslinya ane pengen ketemu dia. Semakin hari, ane semakin sering menemani dia, entah saat istirahat, saat kembali dari kantin dan saat les. Tapi ane masih gak berani menyatakan perasaan ane. Sampai kami lulus, dan kami kuliah. Itu tahun ketiga.

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://cdn.pixabay.com/photo/2017/0...03_960_720.jpg

Kami kuliah di universitas yang sama, tapi beda fakultas. Ane masih sering sms dia, tapi sangat jarang ketemu. Ketemu dia hanya saat pulang ke kampung halaman (karena kami kuliah di luar kota), yaitu saat naik kereta. Pernah suatu saat ane gak sengaja ketemu dia di kereta, dan kursi kami saling berhadapan. Jadi selama perjalanan kami ngobrol kesana - kemari, tertawa bareng sambil makan camilan bareng. Di tengah obrolan itu, dia sempat cerita kalau suatu hari dia ingin magang di tempat kerja yang diinginkannya. Kalau gak salah, saat itu di tahun keempat ane kenal dia.

Setelah pertemuan di kereta itu, ane lebih sering sms dan telpon dia. Apalagi saat ane mau magang di sebuah kantor buat tugas kuliah. Ane mencoba menawari dia untuk ikut ane magang bareng disana. Awalnya dia ragu karena sudah punya plan lain. Tapi beberapa hari kemudian dia mau karena plan nya gagal. Senangnya hati ane waktu itu enggak bisa dilukiskan dengan kata - kata. Bayangkan saja, selama empat tahun kenal dia, baru kali ini kemana - mana bareng. Mulai dari mengurus surat izin magang, pergi ke tukang foto, sampai saat magang di kantor tersebut. Selalu berduaan. Selama sebulan magang, kami lebih terbuka dengan kepribadian masing - masing. Kami sering bertukar cerita, mau kemana setelah lulus kuliah, mau menikah kapan, mau punya bisnis apa dan obrolan jauh lainnya. Kadang ane suka menggoda dia sampai dia merasa kesal. Dia juga mulai gak sungkan kritik penampilan ane yang sering tampil seenaknya. Dan kami melakukan itu semua dengan senang hati, yang akhirnya semakin mendekatkan kami. Tapi untuk menyatakan perasaan ane kepada dia, ane rasa itu bukan waktu yang tepat. Itu tahun kelima.

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://p0.piqsels.com/preview/850/1...people-sit.jpg

Setelah sebulan magang dengan banyak suka duka dan keluh kesahnya, hubungan kami mulai merenggang. Kami jarang sms apalagi telpon, karena sama - sama sibuk menggarap tugas akhir. Dia anaknya rajin, makanya tidak heran kalau dia yang lulus kuliah duluan. Walau saat wisudanya ane gak bisa datang, tapi ane hadir dan menunggunya saat dia ujian skripsi. Waktu itu dia juga memberi semangat kepada ane, agar ane gak keseringan tidur dan menyelesaikan skripsi ane yang belum jadi. Semangat ane pun tumbuh lagi, dan beberapa bulan setelahnya, ane menyusul kelulusannya. Itu tahun keenam hubungan pertemanan kami.

Lulus kuliah adalah awal baru. Baik ane dan dia sama - sama mencicipi berbagai macam pekerjaan, dari yang kasar sampai yang halus. Tapi karena dia lulus dengan nilai bagus, dia diterima bekerja di bank swasta. Sedangkan ane masih lamar sana - lamar sini, dan beberapa kali gonta - ganti pekerjaan. Walau begitu, karena ane sudah merasa mampu, ane bertekad untuk mengajak hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Ane berniat untuk segera melamarnya, walau berulang kali ane sudah diberitahu kalau dia sudah punya tunangan. Ke-keraskepala-an ane tidak didukung dengan upaya ane. Sms jarang. Telepon hanya sesekali. Ketemuan apalagi. Tapi ambisi ane terlalu kokoh untuk tidak mengejarnya. Bahkan ane berdoa setiap malam agar dijodohkan dengan dirinya. Semua ini, harapan tinggi yang tidak didukung kenyataan hidup, membuat ane mulai gamang, galau dan merana. Keraguan mulai muncul, apakah semua ini akan berakhir bahagia atau malah dengan tetes mata kecewa. Perasaan antara yakin dan tidak yakin inilah, yang ane rasakan selama tahun ketujuh dan kedelapan usia pertemanan kami.

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://i2.pickpik.com/photos/923/80...se-preview.jpg

Sampai akhirnya di tahun kesembilan, ane dipertemukan lagi dengannya saat ane ke bank tempat dia bekerja. Banyak yang berubah dari dirinya. Tubuhnya tidak se-proporsional dulu. Wajahnya tampak letih kurang tidur. Tapi keramahan dan kesopanannya memang masih terasa. Berkat pertemuan tak terduga itu, keraguan ane menipis, digantikan optimisme lagi. Ane pikir, itu salah satu tanda kalau dia memang ditakdirkan buat ane. Makanya sejak saat itu, ane kembali berjuang mendapatkan hatinya. Saat itu dia sudah jelas bertunangan, tapi ane tidak peduli karena merasa masih ada harapan untuk merebut hatinya. Kesombongan itu ane rasakan saat tahun kesembilan pertemanan kami.

Jadi ane mencoba lagi, sampai sejauh mana peruntungan ane mendapatkan dia. Maka di suatu hari di tahun kesepuluh, ane mencoba untuk berkomunikasi dengannya lagi. Ane coba kirim pesan lewat WA. Ane tanya kabarnya bagaimana, berbasa - basi sedikit dan mengiriminya beberapa lagu klasik. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk mencoba menarik perhatiannya.

Lalu datanglah hari itu. Dia mengirim pesan lewat WA. Hati ane senang karena sudah lama menanti balasan dari dia. Setelah ane buka, ternyata pesan WA itu berupa dua foto. Seumur - umur ane chattingan sama dia, baru kali ini dia kirim pesan non teks tapi berupa gambar. Saat itulah ane mulai curiga, kok tumben - tumbenan dia kirim foto segala, memangnya ada apa?

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://c0.wallpaperflare.com/previe...-hand-hold.jpg

Setelah rasa kurang enak itu perlahan memudar, ane memberanikan diri untuk membuka WA. Pesan dari teman dan orang lain tidak ane gubris. Yang ane pengen tahu cuma pesan dari Shinta. Lalu ane buka chatnya, dan ane download foto yang dia kirim ke ane (karena ane setting tidak mengunduh foto otomatis). Selesai diunduh, ane lihat foto pertama. Di foto itu ada gambar denah rumahnya. Dalam denah itu ada tanda yang bertuliskan lokasi. Saat ane melihat itu, perasaan ane mulai takut. Tapi karena sudah terlanjur membuka satu pesan, akhirnya ane buka juga pesan yang kedua. Dan ternyata apa yang ane takutkan selama ini terjadi. Di foto kedua itu, menampilkan gambar sisi dalam undangan pernikahannya. Dalam gambar undangan itu, tercantum namanya dan nama kekasihnya sejak zaman kuliah. Dia akan menikah hari Sabtu ini (waktu ane baca pesannya hari Rabu).

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://cdn.pixabay.com/photo/2015/1...979931_640.jpg

Bagaimana perasaan ane melihat undangan pernikahannya? Rasanya sumpek gan sis. Rasanya kayak dada ane dihimpit batu besar sampai - sampai ane gak bisa nafas. Lengket di dada.

Ada keinginan untuk menangis tapi air mata gak bisa keluar. Justru rasa sesak itu yang paling menjatuhkan mental ane.

Lalu ane pergi jalan - jalan ke pantai dekat rumah. Disana ane merenung dan mengingat - ingat pertemanan kami, usaha ane untuk merebut hatinya, dan undangan pernikahannya tadi. Ane gak bisa terima semua itu. Terlalu berat.

Ane menyesal kenapa ane gak dari dulu ngomong kepada dia kalau ane menyimpan rasa. Ane kecewa karena semua yang ane lakukan dari awal tidak menghasilkan apa yang ane inginkan. Penyesalan dan kekecewaan yang begitu perih itu membuat ane berpikir untuk mengakhiri hidup, karena ane rasa sudah tidak ada gunanya lagi hidup tanpanya. Tapi anehnya, rasa menyiksa itu perlahan memudar dengan sendirinya, lalu ane pulang ke rumah dan tidur.

Pesan WA dari dia hanya ane baca, belum ane balas. Waktu itu hari Kamis, tinggal dua hari menjelang pernikahannya. Dalam pesan itu dia mengundang ane untuk datang ke pernikahannya. Tapi ane terlalu malu dan terlalu takut untuk datang dan menyaksikan dia bersanding dengan suaminya. Sehingga ane memutuskan untuk tidak hadir, dengan alasan ada acara lain. Walau begitu, ane titip kado buat dia kepada seorang teman kami yang akan hadir di acara pernikahannya. Ane juga menulis pesan lewat WA, kalau ane sebenarnya punya rasa dan ingin melamarnya. Dia kaget membaca pesan ane, dan minta maaf karena dia tidak tahu perasaan ane. Di akhir chat itu, kami sama - sama sepakat kalau jalan kami sudah ditentukan berbeda, bahkan dari awalnya. Setelah itu, kami lama tidak berkomunikasi lagi.

Sepuluh Tahun Ambisi yang Berakhir Patah Hati
Sumber: https://cdn.pixabay.com/photo/2015/0...619195_640.jpg

Begitulah gan sis. Ambisi ane untuk merebut hatinya harus diakhiri kegagalan yang membuat ane patah hati. Butuh waktu sepuluh tahun untuk berusaha menyatukan hati ane dengan hatinya, dan hanya butuh waktu semalam untuk menghancurkan keinginan hati yang terdalam. Thanks for reading.
Diubah oleh telah.ditipu


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di