CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Aku Merelakanmu Saat Doa Kita Tak Lagi Menyatu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ead7f39b84088210d7480ea/aku-merelakanmu-saat-doa-kita-tak-lagi-menyatu

Aku Merelakanmu Saat Doa Kita Tak Lagi Menyatu

Aku Merelakanmu Saat Doa Kita Tak Lagi Menyatu

Aku Merelakanmu Saat Doa Kita Tak Lagi Menyatu

sumber : di sini
Entah mengapa, kali ini aku tertantang memilih jalan yang cukup terjal. Mungkin ini yang dinamakan soal hati yang tak kenal kompromi. Perkenalanku dengannya sudah cukup lama sebenarnya, sudah sejak jenjang SMP saat kita bertemu di sebuah bimbingan belajar. Namun saat itu kenal hanya sebatas kenal dan tidak intens berkomunikasi. Hingga waktu terus berjalan dan terbesit niatanku untuk mendekatinya. Dengan yakin dan terus berdoa, perbedaan ini tak akan jadi penghalang bila memang Tuhan dan semesta merestui langkah kita.

Saat itu, dia sudah menjadi seorang mahasiswi semester 4 di sebuah universitas swasta jurusan pendidikan matematika. Nampaknya otaknya yang encer dan jiwa sosialnya yang tinggi ingin dia persembahkan untuk banyak orang dengan mejadi seorang guru. Wajahnya sudah banyak berubah, semakin cantik berseri dengan balutan make up tipisnya yang sederhana. Keceriaan dan senyum manisnya semakin memberikan magnet yang tidak bisa kutolak. Akupun tak pernah absen stalking instagramnya dan intens chat dengannya.

Nampaknya gayung bersambut dan kamipun resmi menjadi sepasang kekasih meski ada rasa pesimis yang terselip di dada karena perbedaan agama. Pikirku, masih ada banyak waktu untuk mengkompromikan itu dan bisa kulakukan sambil menjalani rasa ini. Masih ada banyak waktuku untuk membuka hati dan pikirannya agar nantinya kami memiliki agama yang sama dan hidup penuh kebahagiaan. Aku akan tetap memperjuangkannya walaupun aku tahu bahwa dia berasal dari keluarga yang kuat agamanya. Namun siapa tahu Tuhan membukakan jalan untuk kami bersatu.

Weekend adalah agenda wajib yang selalu kami tunggu untuk bertemu, jalan-jalan dan bertukar cerita. Berkeliling kota Jogja untuk mencari angin, cuci mata di mall, nonton, shopping, jajan atau berwisata. Masih teringat sekali perjalanan kala itu ke pantai Gunungkidul, menghabiskan waktu bersamanya seharian rasanya kurang. Ya, aku ingin hidup bersamanya selamanya. Diapun memiliki doa yang sama agar kami dapat hidup bersama selamanya.

Setiap ulang bulan kami selalu merayakannya dengan bertukar kado. Tak jarang aku membelikannya rangkaian bunga yang sangat disukainya. Mungkin terlihat agak lebay ya dengan kebiasaan kami ini, namun itu salah satu cara kami merawat cinta. Tak hanya itu saja, di moment ulang tahunnya aku juga memberikan banyak kado yang sengaja aku berikan sesuai dengan harapannya. Entah kenapa aku tak pernah menyayangkan uangku yang kubelanjakan untuknya.

Waktu berganti dan akupun ingin lebih mantap menata masa depan. Dengan berat hati aku harus pergi ke perusahaan tambang di luar Jawa agar nantinya bisa memberikan kehidupan yang layak untuknya. Dia mengantarkanku ke bandara dengan isak tangis. Pedih memang, tapi aku yakin jarak bukanlah penghalang dan aku percaya dia dapat menjaga kesetiaan saat aku jauh disana.

Aku Merelakanmu Saat Doa Kita Tak Lagi Menyatu
sumber : di sini

Walaupun aku tak dirumah, namun dia masih sering datang ke rumah untuk mengajari adikku belajar matematika. Ya, itu untungnya aku punya pacar seorang calon guru matematika. Yang lebih menyenangkan lagi, keluargaku juga sempat bertamu ke rumahnya walaupun aku jauh merantau. Rasanya harapan kami untuk bersatu semakin besar dan sungguh kebahagiaan membuncah di dalam dada.

Namun beberapa bulan kemudian aku mulai merasa ada yang berbeda diantara kita berdua. Dia sudah mulai jarang menghubungiku dan membalas whatsapp ku. Obrolan kami di telepon juga mulai terasa membosankan karena dia yang cuek dan tak lagi banyak bercerita seperti dulu. Tuhan, aku tak tahu apa yang terjadi disana. Aku jauh merantau di seberang pulau. Lalu kucoba meminta bantuan pada beberapa temanku untuk mencari tahu tentangnya yang mulai berubah. Aku mencoba menepis pikiranku yang mulai berfikir ada lelaki lain yang menyusup dalam hubungan kami ini.

Aku Merelakanmu Saat Doa Kita Tak Lagi Menyatu
sumber : di sini

Bagai tersambar kilat, aku terkejut saat tahu bila ternyata dugaanku benar. Dia telah dijodohkan dengan seorang laki-laki yang seagama dengannya. Kuminta penjelasan padanya dan dia mengiyakan hal tersebut. Dia berat bila harus meninggalkan agamanya dan membuat orang tuanya bersedih. Akupun hanya bisa terkulai lemas memandangi foto demi foto kenangan kami.

Sudahlah, aku mengikhlaskannya. Dia menyerah, mengapa aku harus mengajaknya berlari bila dia sendiri sudah memilih duduk ditempat nyaman yang dia pilih. Sudah saatnya aku bangkit untuk memulihkan lukaku. Aku tak mendendam, aku terima semuanya dengan lapang dada demi melihatmu bahagia. Hingga saat ini aku masih saja sendiri, masih sering teringat dirimu dan kenangan yang telah lalu. Perih, namun apa dayaku saat doa kita tak lagi bisa menyatu.


Diubah oleh haqqisyauqi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di