CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Jadi Ateis, Kesehatan & Percintaan Hawking Berujung Tragis
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ead4c78b84088174c22d8b3/jadi-ateis-kesehatan-amp-percintaan-hawking-berujung-tragis

Jadi Ateis, Kesehatan & Percintaan Hawking Berujung Tragis

Jadi Ateis, Kesehatan & Percintaan Hawking Berujung Tragis

Little Einstein, begitu Stephen Hawking muda dipanggil oleh guru-gurunya. Tentu hal ini bukan tanpa sebab selain memang sosok satu ini pintar luar biasa. Lahir di Inggris 73 tahun lalu, Hawking memang sepertinya diciptakan untuk jadi salah satu ilmuwan hebat. Seperti yang kita tahu, pencapaiannya di bidang akademis luar biasa. Hawking adalah orang yang menemukan banyak hal penting, mulai dari teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam serta masih banyak lagi yang lain.

Ya, kontroversial karena apa yang dikatakannya sangat berkebalikan dengan apa yang dipercayai banyak orang. Berikut adalah deretan statement unik yang pernah dilontarkan oleh si ilmuwan besar itu.

1. Tuhan Sejatinya Tidak Ada

Kita tentu mempercayai eksistensi Tuhan sebagai zat yang berkuasa atas apa pun di dunia ini, termasuk diri kita dan juga alam semesta. Namun, Stephen Hawking secara tersirat dalam bukunya tidak setuju dengan pendapat mayoritas ini. Ia mengatakan Tuhan tidak benar-benar ada.

“Apa yang saya maksud dengan kita akan tahu pikiran Tuhan adalah kita akan tahu segala sesuatu yang Tuhan akan tahu, jika Tuhan ada,” begitu salah satu penggalan pernyataan Hawking dalam bukunya A Brief Story of Time. Sebenarnya pernyataan ini tak begitu mengherankan mengingat kenyataan jika Hawking ternyata adalah atheis alias tak percaya Tuhan.

2. Bukan Tuhan yang Menciptakan Alam Semesta

Bagi kita yang memegang teguh ajaran agama, pasti sangat mempercayai jika sesuatu itu datangnya dari ketidakberadaan. Sama seperti alam semesta yang sebelumnya tidak ada lalu kemudian eksis. Termasuk pula yang mengatur sistem peredarannya, revolusi dan lain sebagainya, sudah barang pasti ada yang mengontrol semua itu dan Dialah Tuhan.

Namun lagi-lagi hal ini tak dipercayai Hawking. Menurutnya, alam semesta ini tercipta dengan sendirinya tanpa campur tangan Tuhan. “Karena hukum gravitasi, alam semesta dapat tercipta dengan sendirinya. Tidak perlu Tuhan untuk memicu pembuatannya dan mengatur segala isi di dalamnya,” ungkap Hawking di sebuah media elektronik Inggris. Sekadar informasi, orang-orang berotak brilian dan idealis seperti Kepler, Leonardo da Vinci, bahkan Einstein percaya jika Tuhanlah pencipta dan pengatur alam ini.

3. Surga dan Neraka Hanyalah Dongeng Semata

Kita sangat percaya jika ada yang namanya kehidupan setelah kematian. Bahkan keberadaan surga dan neraka juga bukan hal yang meragukan sebagai tempat terakhir manusia serta sebagai balasan dari perbuatan semasa hidup. Stephen Hawking menyangkal hal ini dan menganggap surga dan neraka hanyalah sebuah dongeng bagi mereka yang takut mati.

Hawking menganggap manusia yang sudah meninggal ibarat komputer yang rusak, dan menurutnya tak ada kehidupan lain apa pun untuk sebuah komputer yang tak berfungsi lagi. “Tidak ada surga atau kehidupan lain untuk komputer yang rusak, itu hanya cerita dongeng.” Ya, tentu saja pendapat ini juga dikecam banyak orang.

di balik sosok dirinya yang dikenal sebagai selebritis akademik serta teoritikus Fisika yang tersohor di dunia, ternyata kisah asmaranya memiliki sejumlah lika-liku sendiri.

Jadi Ateis, Kesehatan & Percintaan Hawking Berujung Tragis

Stephen Menikahi Jane Wilde Tahun 1965

Stephen dalam perjalanan hidupnya saat ini telah menikah sebanyak dua kali. Pernikahan pertamanya terjadi tanggal 14 Juli 1965. Ia menikahi Jane Wilde, seorang mahasiswi jurusan sastra yang dikenalnya saat menjadi mahasiswa S2 di Cambridge. Stephen mengenal Jane sebelum ia didiganosis menderita penyakit motor neurone.

Dalam sebuah artikel di Telegraph, Jane menuturkan bahwa saat Stephen didiagnosis menderita penyakit itu, mereka tidak benar-benar sedang berkencan. Hanya saja Jane sudah jatuh cinta padanya. “Dia memiliki mata yang indah dan selera humor yang menyenangkan, jadi kami selalu saja tertawa. Selain itu aku juga masih muda dan punya energi dan optimisme dan memang ada perbedaan. Tapi yang lebih penting dari segalanya adalah aku mencintainya dan ingin melakukan yang terbaik untuknya. Jadi kupikir akan mudah saja menghabiskan waktu dua tahun untuk membantu seseorang yang aku cintai, seseorang yang punya banyak potensi untuk mencapai ambisinya,” papar Jane.

Stephen Divonis Hidupnya Hanya Tinggal Dua Tahun Saat Akan Melangsungkan Pernikahannya

Saat baru saja di Cambridge, sebenarnya gejala penyakit sklerosis lateral amiotrofik (ALS) sudah dirasakan oleh Stephen. Ketika memeriksakan diri ke dokter, dokter memvonisnya kalau umurnya tinggal dua tahun lagi. Jane pun juga mengetahui hal ini, tapi ia tak berpaling dari Stephen. Ia justru menerima Stephen apa adanya.

Jane dengan latar agama sebagai seorang kristiani dan pernah bersekolah di Saint Albans High School khusus wanita (sekolah yang sebagian muridnya menjadi misionaris) berusaha untuk menguatkan dirinya bahwa ia punya kekuatan yang cukup untuk hidup bersama Stephen. Selain punya kekuatan mental dan batin yang cukup, Jane juga sudah terpesona dengan kecerdasan Stephen. Jane bukan seorang ahli matematika, juga tak jago soal fisika. Tapi Stephen selalu bisa menjelaskan banyak hal pada Jane. Terkadang Jane dan Stephen memandangi langit malam bersama dan menjelaskan semesta yang terus berkembang, bintang, dan lubang hitang. Jane merasa Stephen bisa menjelaskan semuanya dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Setelah A Brief History of Time Terbit, Jane Merasa Stephen Mengabaikan Keluarga

Di pernikahan pertamanya dengan Jane, Stephen dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama, Robert lahir tahun 1967. Anak kedua yang bernama Lucy lahir tahun 1967. Dan anak ketiga, Timothy lahir tahun 1979. Setelah A Brief of History terbit tahun 1988, Jane merasa kalau Stephen mulai menomorduakan keluarga. Ketenaran dan kepopuleran Stephen mulai membuat kehidupan jadi lebih rumit. Banyak orang yang mengenal mereka dan kehidupan pribadi mereka jadi ikut terusik. Tapi Jane berusaha untuk berpikir jernih. Dengan ketenaran tersebut, setidaknya Stephen bisa merasa diakui atas karya-karya dan kerja kerasnya selama ini.

Di tahun-tahun awal pernikahan, Jane tinggal di London untuk menyelesaikan kuliahnya. Di sela-sela itu, ia dan Stephen beberapa kali pergi ke Amerika Serikat untuk menghadiri konferensi atau acara-acara yang berkaitan dengan Fisika. Stephen sendiri dikenal sebagai orang yang jarang mau menceritakan penyakitnya atau meminta bantuan atas keterbatasan fisiknya.

4. Jane Jatuh Cinta Pada Pria Lain Saat Masih Berstatus sebagai Istri Stephen

Bulan Desember 1977, Jane bertemu dengan seorang pemain organ (organist) bernama Jonathan Hellyer Jones ketika bernyanyi di paduan suara gereja. Jonathan pun kemudian dekat dengan keluarga Jane, termasuk Stephen. Pertengahan tahun 1980, Jane dan Jonathan mulai ada rasa satu sama lain. Menurut pengakuan Jane, Stephen saat itu bisa menerima kondisi tersebut asalkan Jane juga masih akan terus mencintai dirinya. Dalam kurun waktu yang cukup lama, hubungan Jane dan Jonathan berada di ambang tak kepastian.

Tahun 80an itu juga, pernikahan Stephen dan Jane mengalami pasang surut. Kehadiran perawat dan asisten untuk merawat Stephen juga malah memperburuk situasi. Stephen dan Jane seolah makin terpisah satu sama lain. Kedekatan mereka jadi makin merenggang. “Tepat saat para perawat datang ke rumah kami untuk merawat Stephen, rumah tangga kami rasanya jungkir balik,” ungkap Jane. Puncaknya lagi adalah ketika Stephen jatuh cinta pada perawatnya sendiri, Elaine Mason.

Stephen dan Jane Akhirnya Bercerai Tahun 1995

Setelah bertahun-tahun hidup bersama, Stephen dan Jane akhirnya bercerai. Stephen pun sudah berpindah ke lain hati. Ia jatuh cinta pada Elaine. Bulan September tahun 1995, setelah bercerai dengan Jane, Stephen menikahi Elaine. Sementara Jane melanjutkan hidupnya dan menikahi Jonathan.

Hawking terkena semacam kelumpuhan, menyebabkan ia tidak bisa banyak bergerak. Alhasil, sepanjang hidupnya semenjak kelumpuhan tersebut, ia hidup di atas kursi roda mekanik. Bahkan untuk berkomunikasi, ia menggunakan sebuah alat khusus.

Bagi Jane sendiri, perceraian itu sangatlah sulit. Tadinya ia berusaha untuk tetap optimis dan melanjutkan pernikahannya bersama Stephen. Namun, keadaan sudah tak memungkinkan lagi. Tahun 1999, Jane menerbitkan buku Music to Move the Stars yang menceritakan kisah pernikahannya dengan Stephen. Buku itu jadi sensasi di dunia media. Sementara pada masa itu, Stephen tampak makin menjauh dari keluarga Jane. Ada dugaan juga Stephen mendapat kekerasan fisik dari Elaine. Tahun 2009, Stephen dan Elaine bercerai. Dan sejak saat itu hubungan Stephen mulai membaik. Bahkan kini ia sudah kembali dekat dengan Jane, anak-anaknya, dan cucunya.

http://www.boombastis.com/pernyataan...-hawking/48153
http://www.boombastis.com/pernikahan...-hawking/68525

sungguh ironis, udah lumpuh, trus dikuat2in pake rohani Kristen ama istrinya, malah jadi Ateis, ya jadinya diceraikan & sakitnya makin parah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aldysadi dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Novena.Lizi
ga ad hubungan ateis sm kesehatan & perceraian. trus org beragama yg sakit penyebabny ap ?
profile-picture
chandrakirana27 memberi reputasi
Ane dulu ngiranya ni orang sakit dari lahir.
profile-picture
chandrakirana27 memberi reputasi
Miris
profile-picture
chandrakirana27 memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Kenapa kita gak lihat sisi positifnya Stephen Hawking dengan penghargaan dan prestasinya di mata Internasional yang sampe sekarang masih sulit dipecahkan orang rohani, jika kita menilainya dengan keyakinannya yg "Atheist"????
profile-picture
chandrakirana27 memberi reputasi
Quote:

Kita?
Loe aja kali..emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
chandrakirana27 dan aslavinovic memberi reputasi
Ah masa sih


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di