CARI
KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eabbe38f4d6951eee75f806/aku-bukan-pelakor

(Cerbung Fiksi) Pelakor yang Tersakiti

Aku (Bukan) Pelakor
sumber gambar

Part 1 (POV Kyara)
Kembali

Berjalan di antara reruntuhan sisa kenangan memang menyakitkan, tapi setidaknya dari sini aku belajar arti kehilangan yang dipaksakan. Atau mungkin memang takdir yang sengaja mempermainkan perasaan.

Tanaman bunga melati masih tumbuh subur seperti terakhir kali aku keluar dari pintu rumah itu. Bahkan kini semakin wangi udara di sekitar karena tambahan bunga mawar merah yang sedang mekar. Ah, seandainya ...

Dari balik pagar besi aku mengagumi keindahan taman bunga di dalam, seperti aku masih mengagumi sang pemiliknya, Arga Jatmiko.

Pintu jati ukiran yang kita pesan dari Jepara sudah terpasang, pun jendela dengan ukiran senada juga turut serta menambah kesan elegan rumah itu. Rumah cita-cita kami dulu, minimalis, elegan, dengan hiasan taman di depannya. Bunga melati dan mawar mendominasi penghuni depan rumah. Air mancur mini dikelilingi bebatuan granit memanjakan mata bagi yang melihat.

Tidak lama pintu rumah terbuka, sesosok laki-laki dengan tatapan tajam keluar dari dalam. Di tangannya ada sebuah buku bersampul hitam dan kacamata. Ia berjalan ke arah air mancur, sesekali tangannya memetik melati mekar yang dilewatinya. Lalu duduk di kursi besi yang menghadap air mancur di depannya. Bunga berwarna putih diletakan persis di samping lelaki itu.

Ada rasa hangat menjalar di dada. Ingin berlari memeluk tubuh yang tengah duduk di sana, tapi akal sehatku masih berfungsi dengan baik. Tidak akan membuat panas suasana seperti dulu, karena kulihat dari teras seorang perempuan berdaster kuning tengah menuju ke arah laki-laki dengan membawa secangkir yang kutebak isinya pasti teh pahit tanpa gula.

Dari balik pagar berjarak dua puluh meter aku masih melepas kangen, cukup hanya melihatnya saja aku sudah lega.

Jujur, rasa ingin memiliki masih ada. Semakin hari semakin besar rasa untuk dia. Nyatanya jarak tidak membuat sesuatu yang orang sebut cinta itu padam, malah semakin menggelora.

"Mbak, mau cari siapa?" Sebuah suara perempuan mengagetkanku.

"Ah, gak kok, Bu. Ini cuma kebetulan lewat saja dan melihat bunga melati di sana," jawabku sambil senyum dan bergegas meninggalkan tempat itu.

Tatapan menyelidik perempuan setengah baya mengiringi kepergianku. Semoga ia tidak mengenaliku, wanita yang pernah menjalin kasih dengan anaknya.

________$42______

Malamnya, aku memutuskan mengaktifkan akun facebook lama lagi. Di mana semua foto ketika aku dan Arga ketika masih bersama semua rapi tersimpan di sana.

Sebuah foto di butik melempar ingatanku ke masa lalu, di mana aku dan Arga sedang fitting baju pengantin. Meskipun bukan aku yang akan jadi pengantinnya.

Dulu, dengan begitu polosnya aku bermain hati. Mencintai calon suami perempuan lain, dan dengan tangan terbuka ia membalas cinta ini.

[Hai, Ga.] Aku mengirim pesan ke facebooknya.

Sambil menunggu balasan, kucoba stalking wall Arga. Tidak banyak foto dirinya di sana. Hanya beberapa, itu pun sendiri. Tanpa istrinya. Malah foto kami berdua masih belum ia hapus dari galery facebook-nya.

[Kyara. Kamu gak kangen aku?]

[Ish, kepedean. Gak lah. Dosa ngangenin suami orang.]

[Tapi kalau suami orang kangen kamu gimana?]

[Dasar kamu. Gak berubah, ya.]

[Aku masih Argamu. Kemarin, hari ini dan semoga selamanya.]

Perasaan hangat melingkupi dada, membuat jantung memompa darah lebih cepat. Indah, sama seperti tujuh tahun lalu.

[Kamu di mana?]

[Aku masih di tempat biasa.]

Akunnya offline, tapi pesan terakhir yang aku kirim sudah ia baca.

Beberapa pasangan sudah beranjak pulang, aku masih betah menikmati moment nostalgia saat kami sering duduk berdua di kursi taman ini. Di bawah pohon bunga akasia, menghabiskan waktu saat-saat terakhir sebelum ia resmi menjadi suami wanita lain.

Bodoh memang, tapi bicara hati, siapa yang bisa menghentikan rasanya. Bahkan logika sudah tidak lagi bisa membuat batas untuk mencintai.

"Kamu masih Kyaraku?" Suara bariton yang kurindukan selama tujuh tahun memecah sepi.

"Memang apa bedanya?"

"Gak ada."

Dibenamkannya kepalaku di dada bidang Arga.

"Aku kangen," bisiknya.

Kami duduk berdampingan, tanganku masih digenggamnya.

"Apa kabar istrimu?" tanyaku memecang keheningan.

"Ngumpet di mana tujuh tahun?"

"Pertanyaanku belum kamu jawab."

"Sudah makan?"

"Ish. Bisa gak sih gak usah membelokan obrolan."

"Bisa gak sih, gak usah ngomongin orang lain saat kita baru lima menit ketemu"

"Aku mau pamitan," ujarku akhirnya.

"Dulu kamu pergi gak pamitan. Kenapa sekarang baru balik mau pamit?"

"Aku mau nikah."

"Kenapa harus kembali kalau cuma mau bilang itu."

"Maaf."

"Bisakah kamu menungguku sebentar lagi?"

"Untuk apa?"

"Aku akan menceraikan Dinda."

"Lalu?"

"Kembali padamu."

Aku tertawa miris.

"Sudah kuberi tujuh tahun, menghilang dari hidupmu. Berharap ketika kembali statusmu sudah berubah. Tapi aku juga ingin bahagia, Ga. Aku juga ingin membangun keluarga, punya anak. Umurku pun sudah gak lagi muda, harus berapa tahun lagi aku menunggumu?"

"Beri aku waktu sebentar lagi, Ki. Aku janji akan menceraikan Dinda dan kembali padamu. Tapi tolong! Jangan lagi pergi menghilang, tetaplah di sampingku."

"Ya, dan orang-orang akan membuat stempel baru padaku sebagai pelakor."

Kami diam, menghabiskan waktu dengan saling menata hati.

"Aku bodoh, ya, Ga?" Setetes air jatuh dari pelupuk mata.



_bersambung_
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 34 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shabira.elnafla
Kira-kira si "aku" mau lanjut apa mundur ya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shabira.elnafla
Lihat 3 balasan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh shabira.elnafla
mejeng dulu.
emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Mne selanjutnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
still waiting
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan

Part 1b (POV Kyara)

Akhirnya di sinilah kami, duduk berhadapan di kafe favorit kami dulu. Kafe yang dua puluh empat jam tidak pernah tutup, tempat paling di gemari anak muda ketika dikejar deadline skripsi. Free wifi dan nyaman, untuk menghabiskan malam.

Tatanan kafe ini sedikit berubah di bagian depan, yang tujuh tahun lalu masih berupa meja dan kursi kayu sederhana kini berubah mengikuti jaman. Di mana banyak spot foto yang cantik untuk di unggah ke insta story.

Aku pun tak mau ketinggalan, mengambil beberapa foto untuk koleksi pribadi. Dan sekaligus kenang-kenangan jika suatu saat aku merindukan si suami orang yang kini masih menggengam erat telapak tanganku.

Beberapa kali HP di kantongnya berdering, entah dari siapa, tapi tebakanku dari Dinda, istri Arga. Terlihat dari mimik wajah yang berubah jengah. Dan untuk yang ke sepuluh kali HP Arga berdering, ia segera menonaktifkan benda pipih itu.

"Ki, mau pesan apa?" tanyanya.

"Apa aja, ngikut kamu aja."

"Masih suka pisang keju?"

Aku mengangguk.

"Bagaimana kabarmu tujuh tahun gak ketemu?" tanyanya.

Arga menyruput teh tawarnya.

"Seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja. Lebih baik dari pada hari terakhir diusir Ibumu."

"Maaf soal itu. Sungguh aku nyesel, kalau bisa saja dulu aku gak egois."

"Semua sudah terlanjur."

"Maaf .... "

_________§42______
Tujuh tahun yang lalu.

Siang itu ....

"Dia selingkuhannya Arga, Bu. Orang yang akan mengagalkan pernikahanku dengan Arga." Dinda tampak menunjukku yang baru melangkah ingin masuk rumah Arga.

Semua mata memandangku sinis, termasuk ibu Arga.

"Bukankah, dia yang kemarin nganterin fitting baju pengantin, kan?" tanya Tantenya Arga.

Semua diam, tidak ada yang membelaku. Dan aku pun tidak minta itu.

"Maaf, saya ke sini mau mengantar undangan kalian. Tadi Arga minta tolong ngambilin, dia mau ngurus gedung katanya." Aku memberanikan diri menatap orang-orang di hadapanku.

"Hah, alasan. Mau cari muka kamu hah? Kamu kira dengan sok baik kayak gini Arga mau sama kamu? Mimpi jangan ketinggian."

"Gak kok, aku cuma berniat bantuin pernikahan kalian. Gak ada maksud lain."

"Kamu mau sabotase pernikahanku kan? Jujur aja deh!"

"Gak, Mbak. Aku gak ada niat sejelek itu."

"Oh ya? Kalau gak ada niat jelek kenapa masih mau pacaran sama calon suami orang. Pasti tahu kan kalau Arga sudah tunangan? Dan kamu, kamu diam-diam jalan berdua dengan tunanganku. Piknik ke pantai berdua, ikut camping bersama temannya Arga. Dan tanpa malu malah bangga dikenalkan ke semua orang kalau kamu pacarnya. Itu yang kamu bilang gak ada niat jelek?"

"Maaf, Mbak .... "

"Gak usah minta maaf sekarang, kemarin kemana saja? Baru ketahuan kayak gini saja kamu minta maaf. Mungkin kalau gak ketahuan kamu pasti masih menjalin hubungan meskipun Arga sudah jadi suamiku, kan?"

Dinda persis berada di depanku, dengan wajah memerah ia menunjuk mukaku.

"Mulai sekarang, kamu jauh-jauh deh dari Arga. Aku mau pun Arga dan semuanya gak butuh bantuan kamu."

Ibunya Arga berjalan ke arahku, ia tepat berada di samping Dinda.

"Saya kira kamu perempuan baik-baik, makanya saya terima kamu dengan baik ketika Arga mengenalkan pada ibu. Ternyata ini maksud kamu mendekati anak ibu? Saya gak nyangka kamu seperti itu, tega kamu mau merusak hari bahagia mereka. Sudah, sana pergi. Jangan menginjakan kaki di rumah ini lagi."

Hatiku luruh, sakit. Sangat sakit.

"Ini undanganya," aku letakan box yang berisi undangan di depan pintu, "kalau gitu saya langsung permisi."

"Pergi sana! Jangan ganggu Arga lagi."

Ya, aku memang salah.

Seharusnya aku tidak mencintai Arga. Seharusnya aku tidak menyandarkan hati pada tunangan orang.

Andai saja waktu bisa kuulang, aku memilih tidak mengenalnya.

_______§42________

Aku kembali ke kota ini untuk bertemu Arga tentu saja, tapi bukan itu prioritas pertamaku. Ada tujuan lain yang membawaku kembali membuka luka lama.

Lelakiku sudah di sana, tempat di mana kami semalam membuat janji.

"Ga .... "

Arga mendongakkan wajah, menatapku dengan senyum yang masih sama seperti tujuh tahun silam.

"Kenapa gak minta di antar calonmu sih? Masa harus aku yang ngantar."

"Jadi gak mau nih?" Aku pura-pura ngambek.

"Bukan gitu, nanti kalau calonmu salah paham gimana?"

"Paling nanti kamu ditonjok."

Kami berjalan beriringan menuju ruko tempat yang ingin kusewa untuk usaha.

"Nah, gimana menurut kamu?" tanyaku setelah sampai di depan ruko.

"Oke sih. Strategis juga."

"Jadi rencananya nanti aku mau buka warung makan harga mahasiswa. Menunya ayam sih, tapi harga di bawah sepuluh ribuan gitu. Gimana?"

"Aku sih oke, ya. Apa lagi itu cita-cita kamu dari dulu, kan?"

"Kamu masih ingat?"

"Aku gak akan lupa yang berhubungan dengan kamu, Ki. Termasuk senyumu."

"Elah, gombal. Ya, udah ayok bantuin beberes. Biar cepet launcing."

Arga melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Aku menunggu penuh harap.

"Harus sekarang? Gak bisa besok pagi gitu?" tanyanya.

"Aku maunya secepetnya buka. Emang kamu ada acara, ya, hari ini?"

Arga tampak berpikir sebentar, lalu diambilnya HP dari kantong dan mengetik sesuatu.

Kusungging senyum manis untuknya, tahu kalau Arga tidak akan bisa menolak permintaanku. Dari dulu sampai sekarang masih sama, aku yang akan jadi prioritas, meskipun Dinda yang memiliki raganya.

"Yuk! Jadi kita mulai dari mana?"

"Kamu gak ada acara beneran, kan? Kalau kamu sibuk biar aku sendiri saja. Sudah biasa kok."

"Ah, gak. Acaraku bisa ditunda. Yang terpenting sekarang kamu."

Yes! Bener, kan. Aku bilang juga apa.

Rencana pertama berhasil.

______§42_____

Bersambung ....

Uwuwuwuw. Hayo apa ya kira-kira yang direncanain Kyara?

Cerbung ini nanti ada dua POV yang mau ane tampilkan ya, baik dari sisi Kyra mau pun Dinda.

Oke sampai jumpa di Part 2 (POV Dinda).
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 6 lainnya memberi reputasi
duuh paling gemes baca kisah yang ada pelakornya tapi kok ya selalu penasaran juga ya wkwkwkk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 2 balasan
pelakor pelakor, pelakor aku gak msu hanyut dalam cerita pelakor. takut ngamuk
uhh mana sendal, tuh kan udah molai aku tuh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
miniadila dan 5 lainnya memberi reputasi
Lihat 4 balasan
Membaca kisah pelakor selalu membuat gemas dan greget, kira-kira dia bakal mundur? Semoga saja segera tersadar
profile-picture
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan 5 lainnya memberi reputasi
Kenapa harus ada pelakor, seharusnya ketika tidak bisa bersama harus punya satu keputusan yang tegas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan 4 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh uliyatis
sebagai wanita harusnya Kiara juga memposisikan diri, bagaimana seandainya dia adalah istri Arga,
profile-picture
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan 2 lainnya memberi reputasi
cinta boleh, tapi ya lihat-lihat dulu lah. Jangan sampai karena cinta, merusak kebahagiaan orang lain
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan miniadila memberi reputasi
Diubah oleh ilafit
Paling gemes kalo baca cerita berhubungan dengan pelakor. Dibaca ngeri-ngeri syedap, gak baca penasaran.emoticon-Ngakak
profile-picture
husnamutia memberi reputasi
ninggalin jejak
profile-picture
husnamutia memberi reputasi
Geregetan banget ya, kalau baca tentang pelakor.
profile-picture
husnamutia memberi reputasi
judulnya amazing 🤭
Post ini telah dihapus oleh KS06


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di