CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ada Dinding Pemisah Antara Kau Dan Aku
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eab859ac0cad704ce37ebb9/ada-dinding-pemisah-antara-kau-dan-aku

Ada Dinding Pemisah Antara Kau Dan Aku

Ada Dinding Pemisah Antara Kau Dan Aku

Somewhere between your heart and mine.
[Di suatu tempat antara hatimu dan diriku]

There is a window that i can't see through
[Ada sebuah jendela yang tidak bisa kulihat]

There's a wall so high it reaches the sky
[ Ada tembok tinggi yang hingga mencapai langit ]

Bait demi bait lagu itu berputar syahdu di kafe ini. Sebuah senandung simponi lama yang masih enak untuk diperdengarkan. Aku tersadar arti lagu itu mengingatkan akan memori penuh kenangan antara dia yang telah pergi meninggalkanku. Tidak ... dia bukan pergi selamanya, tetapi lelaki itu masih bisa kulihat dari jauh walau dia bukan milik hati ini.

Ceritaku dimulai lima belas tahun lalu. Ya, di saat seragam putih dan biru masih kupakai saat itu. Aku sudah mengenalnya sejak masih kecil. Dia adalah tetanggaku sendiri. Awan namanya, dia pemuda santun dan bersahaja juga taat beribadah. Persahabatan jadi cinta, mungkin itu yang kurasa.

"Mel, besok aku jemput, ya."

Maklum jarak rumahku dengan dekat, hanya terpaut dua rumah saja. Ibunya akrab dengan Ibuku, mereka akan belanja ke pasar bersama atau sekedar berbagi resep masakan. Aku dan Awan memiliki persamaan yaitu tidak memiliki ayah. Ayah Awan bercerai dari ibunya sedangkan Ayahku meninggal.

Setiap hari Awan akan menjemputku ke sekolah lalu berjalan kaki. Jarak rumah ke sekolah tidaklah jauh. Kami memang tidak hidup di kota melainkan di desa. Seiringnya waktu, aku merasakan debar hebat di jantung dan kalau Awan sedang berdekatan dengan gadis lain ada rasa tidak suka. Aku tidak tahu jika perasaan itu dinamakan cemburu.

"Kamu suka sama Awan, ya, Mel?"

Nur teman sekelasku menggoda saat melihat Awan sedang mengajari teman kelas sebelah belajar. Aku tidak menyangka jika diri ini memiliki perasaan suka padanya. Tadinya kukira dia akan menjadi sahabatku saja. Aku tidak bisa menolak gejolak rasa di dada. Di usia muda, jatuh cinta pada lawan jenis sudah hal wajar di desa. Bahkan ada yang menikah terlebih dulu.

Awan tidak pernah mengungkapkan rasa sukanya padaku dan itu membuatku sangsi. Karena cara dia memberi perhatian seperti seorang kekasih. Saat aku butuh tempat curhat, dia senantiasa mendengar juga memberi saran. Saat aku pulang malam jika les, dia akan menjemput. Sungguh, aku tidak paham dengan sikapnya.

["Sudah makan, Mel? Cepat makan, ya. Nanti sakit."]

["Aku sudah di luar tempat lesmu. Aku jemput kamu."]

Cara dia memberi perhatian membuat diriku memendam perasaan sampai enam tahun lamanya. Aku terlalu malu untuk mengungkapkannya kala itu. Di usia yang menginjak usia dua puluh satu tahun dan kami tetap bersama walau Awan bekerja di kota. Akhir pekan, dia akan pulang mengunjungi ibunya.

"Mel, aku pengen mengatakan sesuatu," katanya saat dia mengunjungiku waktu libur kerja.

"Ya, sudah bicara saja."

Andai waktu itu dapat berputar kembali, aku tidak akan pernah mengatakannya kalimat tersebut. Namun, nasi sudah menjadi bubur yang tidak mungkin bisa kembali.

"Aku tahu sejak kita remaja, kamu suka denganku."

Aku terbatuk mendengarnya, tak menyangka jika Awan jujur dalam berkata.

"Ah, kamu tahu dari mana?" Aku menampik perkataannya.

"Tentu saja aku tahu, Mel. Jangan bohong padaku, deh."

Aku merasakan panas dingin di sekujur tubuh seperti ketahuan telah berbohong.

"Iya aku suka sama kamu dulu." Aku malu menjawabnya.

Awan terdiam dan hanya tersenyum masam.

"Andai dulu aku berani mengungkapkannya, mungkin saja kita bisa menjadi sepasang kekasih. Tapi kini aku tidak bisa menyukaimu, Mel."

"Memang kenapa?" Ada gurat kecewa pada diriku, ingin rasanya menangis.

"Aku akan menikah dengan putri angkat pakde, Mel. Kamu tahu kan selama ini yang membiayai kehidupanku dan ibu adalah pakde."

"Kamu menyukainya?" Pertanyaan bodoh yang kuutarakan.

"Kalau kamu tidak setuju, aku bakal membatalkan pernikahan ini. Bagaimana?" Sorot matanya mengatakan jika aku harus menjawab jujur. Namun, aku tidak bisa.

"Buset deh kamu, Wan. Apa kamu tidak kasihan sama ibumu nantinya? Bagaimana kalau keluarga pakde kamu tidak suka dengan caramu itu? Tidak, aku tidak mau menjadi penghalang."

Seharusnya aku mengatakan 'iya' saat itu. Akan tetapi aku tidak mau menjadi orang egois atau jahat. Awan adalah kebanggaan sang ibu. Dia berhasil menjadi sarjana hukum. Beda denganku yang hanya lulusan SMK. Kami bagaikan langit dan bumi.

"Tapi aku tidak mencintainya atau menyukai gadis itu, Mel."

"Semua ada waktunya, Wan. Mungkin hari ini kamu tidak suka atau cinta. Tapi siapa tahu seiringnya waktu kalian bersama, ada cinta di hatimu." Aku sok bijak padahal perasaanku bagai es campur. Sedih, kecewa dan marah pada diri sendiri.

"Aku berharap itu tidak terjadi," sanggahnya penuh percaya diri.

"Hei ... kok kamu bicara seperti itu, Wan? Tuhan sudah mengaturnya yang terbaik untukmu."

Jujur cerita kisah cintaku bagai sebuah novel yang benar terjadi. Akhirnya Awan menikah dengan putri angkat pakde-nya. Aku tidak mau menjadi penghalang cita-citanya membuka praktek hukum sendiri ( Pengacara ). Biaya kuliah dan pembangunan kantornya semua dibiayai oleh pakde-nya.

Pict


*****

Kini aku berada di sebuah kafe yang berseberangan dengan kantornya. Sudah hampir sepuluh tahun aku memutuskan kontak dengannya hanya waktu hari raya saja, kita bertemu. Itu saja cuma bersalaman saja. Aku tidak mau kehadiranku akan menjadi penyebab masalah dalam rumah tangganya.

"Melamun saja kerjaanmu, Mel."

Nur yang menjadi pemilik kafe ini selalu tahu jika aku sedang berada di tempatnya tak lain adalah dapat memandang wajahnya dari jauh. Aku sungguh merindukan tawa dan caranya memberiku perhatian.

Aku masih tidak menikah hingga sekarang, entahlah sampai kapan perasaan suka ini padanya pudar. Bagi semua orang di dunia ini tidak ada yang kenal dengan namanya cinta pertama. Begitu juga dengan diriku. Awan akan tetap menjadi cinta pertamaku hingga ada seseorang yang akan mendampingiku.

=Selesai=

Surabaya, 1 Mei 2020



profile-picture
noprirf memberi reputasi


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di