CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Sebuah Kisah Dari Sepotong Apel
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5eab30f1f4d69569e2794431/sebuah-kisah-dari-sepotong-apel

Sebuah Kisah Dari Sepotong Apel

Sebuah Kisah Dari Sepotong Apel

Sepotong Appel

Cerita ini mungkin terdengar tragis dan menyedihkan namun inilah ceritaku yang sebenarnya.

Sebuah Kisah Dari Sepotong Apel


Pagi itu dia menunggu di depan pintu kelas, ia teman kecilku Hasan begitulah ia kerap di panggil. Sudah menjadi sebuah kebiasaan dari semenjak bangku sekolah dasar hasan menunggu ku di depan kelas seperti itu, terkadang aku kerap kehilangan hasan bila ia tak berdiri pagi pagi sekali di depan kelas, berbagai pertanyaan langsung bermunculan apakah hasan sakit sehingga ia tak datang ke sekolah atau mungkin dia datang terlambat.

Quote:


Hasan hanya tersenyum melihatku berlari menuju tempat duduk, aku dan Hasan memang begitu dekat, itu semua berawal dari pertengkaran Dewi dan Mita ketika kami duduk di bangku sekolah dasar. Dewi dan Mita berteman cukup baik sampai suatu hari pertengkaran hebat terjadi sampai seisi kelas di hebohkan dengan terikan keduanya. Bu sari memisahkan keduanya dan merencanakan bahwa perempuan dan laki laki akan duduk sebangku demi kelancaran belajar mengajar dan menghindari pertengkaran seperti yang terjadi kepada Dewi dan Mita.

Quote:


Meski kini kami sudah duduk di bangku menengah atas kebiasaanku tak pernah berubah terhadapnya. Entah itu kebiasaan buruk atau pun kebiasaan baik, tapi hasan tetap saja bias menerimaku sebagai sahabat baiknya. Bukan hanya kami yang berteman baik tapi kedua orang tua kami pun berteman baik. Hasan adalah anak tunggal aku rasa wajar apabila tante Mery menganggap ku seperti anaknya juga.

Tap tap tap suara sepatu Pak Bandi sudah mulai terdengar,ini artinya Pak Bandi sudah semakin dekat ,detak jantungku makin tak karuhan saja bunyinya. Bagaimana tidak Pak Bandi adalah seorang guru yang tegas, terbayanglah jika aku ketauan sedang menyalin tugas milik Hasan.

Quote:


Semenjak kedatanggannya semua mata teralih pada Adit, menurut gosip yang beredar dia pindah ke Bandung karena mengikuti ayahnya yang pindah kerja ke Bandung. Gosip tentang adit begitu cepat beredar mungkin itu karena parasnya yang begitu memikat kaum hawa. Aku akui Adit memang mempesona tapi gossip yang beredar di sekolah terlalu berlebih lebihan, pagi itu aku selamat dari Pak Bandi karena tenyata hari itu aka nada rapat guru.

Quote:


Aku meninggalkan Adit di lorong loker sekolah, kesan pertama kami bertemu mungkin tak seindah di novel-novel, tapi ini lah apa adanya diriku aku tak bias menahan diri untuk menunjukan rasa tak suka ku kepada Adit.

Quote:


Adit menarik tanganku dan memberikan payung miliknya. Apa ini artinya, apa dia seorang yang memang benar benar baik. Adit pulang tanpa payung, dia pasti pulang ke rumah dengan keadaan basah kuyup. aku sendiri pun tak tau kenapa aku begitu tak menyukainya.

Adit Adit Adit beberapa hari ini nama adit selalu terbayang mungkin ini karena rasa bersalahku terhadapnya, sudah beberapa kali aku meyakinkan diri untuk bertemu dengannya tapi tetap saja kakiku tak mau berhenti bergetar.

Sore itu aku memberanikan diri bertemu dengan Adit sekedar hanya ingin mengucapakan rasa trimakasih atas pinjaman payungnya.

Quote:


Kami duduk di kantin sekolah yang sudah mulai sepi karna hari sudah makin sore hanya tersisa anak anak kelas 3 yang sedang belajar untuk ujian nasional dan anak olimpiade.

Sudah beberapa hari ini aku tak banyak bertemu dengan Hasan dia sibuk dan aku mencoba mengerti dengan keadaanya saat ini. Sore itu kami membicarakan banyak hal, Adit begitu terbuka menceritakan kehidupannya denganku aku pun mulai bisa mengerti kenapa perempuan perempuan sekolahku begitu mendambaakan Adit menjadi kekasih mereka.

Kedekatanku bersama Adit berawal dari sore itu, kini tak hanya sekedar makan bersama, jalan- jalan bersama dan mengerjakan tugas bersama namun aku mulai kehilangan sosok Adit jika dia tak berada di sampingku satu hari saja, bersamanya hatiku menghangat mendapati kenyamanan seperti bersama Hasan. Ah Hasan mengingatnya seminggu lalu Hasan sudah pergi ke Kalimantan untuk olimpiade yang dia dambakan itu.

Dua Minggu berlalu, dan hari ini adalah hari Senin hari yang paling membosankan, upacara bendera adalah hal yang paling membosankan menurutku bukannya tak menghargai pahlawan tapi aku rasa denggan mendoakan para pahlawan itu sudah cukup, hari senin makin di buat bosan denggan pelajaran pertamanya.

Pelajaran yang menurutku susah ya apa lagi kalu bukan matematika, di pintu berdiri tegak seorang pria dengan sebuah senyuman manis di pipi sebari mengangkat tropi kemenangan. Hasan pulang akhirnya setelah satu minggu di Kalimantan Hasan pulang denggan membawa kemenangan. Pipiku membalas senyuman manis Hasan, aku begitu senang Hasan bisa pulang lebih awal.

Quote:


Hari tak terasa cepat berganti seiring dengan pergantian siang dan malam yang begitu singkat. Matahari seakan tak pernah letih menjalankan tugasnya untuk menyinari bumi disiang hari. Bulan dan bintang juga seakan berlomba-lomba untuk menampakkan kilauan cahayanya dimalam hari. Anugerah Tuhan untuk alam semesta yang begitu indah nanagung, mencerminkan sejuta pesona dari Sang Khalik.

Malam ini malam minggu tak seperti anak muda pada kebanyakan, malam ini aku hanya terdiam diri di rumah bukan karena tak di bolehkan keluar rumah hanya saja perutku sedang di landa rasa sakit. Fikiranku melayang layang melirik handphone yang sedari tadi sunyi.
layar handpone ku tiba tiba saja menyala.

Quote:


Adit benar-benar datang ke sini menemuiku, tapi untuk apa dia datang di malam minggu seperti ini tau dari mana dia rumahku, kami memang dekat tapi aku belum pernah sekalipun memberi tau dimana rumahku kepadanya. Seikat bunga yang di letakan di atas meja, dan obat sakit perut, pertanda apa ini. Ah berfikir apa aku ini wajar saja adit perhatian kepadaku dia sahabatku, aku pun harusnya melakukan hal yang sama jika adit yang sakit namun apa arti dari seikat bungga itu. Adit terlihat begitu akrab denggan kedua orang tuaku, terlihat dari bagaimana atusiasnya ayah ketika mengobrol dengan Adit
Tulalit …tulalitt..tutut..tulalit… tulalit…tutut . Hasan begitulah telpon yang masuk.

Quote:


Ada apa denganyyaa tak basanya dia memutuskan telepon seperti ini. Malam minggu ini terasa beda aku tak bisa menyeimbangkan perhatian ku terhadap hasan dan adit.

Hasan bener-bener aneh. Tingkah lakunya berubah semenjak malam minggu itu. Dia lebih sering menjauh dariku. Apakah yang terjadi Tuhan ? apa salahku terhadapnya ? apa dia cemburu dengan adit ? Aaahh, rasanya tidak mungkin. Wajar saja bukan jika seorang sahabat berkunjung ketika sahabatnya sakit ? berbagai pertanyaan terus berputar mengisi kepalaku. Aku sangat tak suka dengan keadaan ini.

Hasan duduk di sudut taman, aku merasa kesepian tanpa Hasan meski aku bersama dengan adit, di malam minggu itu Hasan meminta ijin kepada kedua orang tuaku dapat mengenalku lebih jauh dan aku meniyakan kuharap tak ada yg salah dengan jawabannku dan aku ingin membagi ceritaku ini kepada Hasan, aku ingin dia tau . Tapi kini hasan menjauh rasanya sangat mustahil melakukan hal itu sekarang.

****


Malam ulang tahunku tiba, sudah 8 tahun aku dan Hasan bersahabat tapi Hasan tak pernah menjauh dariku seperti ini apa lagi lupa dengan hari ulang tahunku. Aku mencoba menhubungi Hasan, entah apa yang terjadi tapi suara Hasan di ujung sana sangat mengkhawatirkan

Quote:


Hasan hanya menghela nafas dalam-dalam, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku senang Hasan datang,namun ia hanya duduk di pojok ruangan seorang diri berbeda dengan Adit dan teman-teman yang lain, mereka asik ngobrol aku coba untuk mendekati Hasan

Quote:



Semenjak kejadian itu hariku sepi semuanya terasa kelam, tidak ada sosok yang menungguku di depan pintu kelas lagi tidak ada canda tawa dan rayuan ketika aku memiliki masalah. Hati kecilku berktaa aku butuh hasan walapun kini aku memiliki Adit.

Quote:


Aku tersenyum mendengar ajakan Adit, aku tau aku tak salah memilih adit sebagai Pacarku dia selalu tau cara menghiburku.
Iringan music klasik menemani makan malamku bersama adit, aku tak bisa membohongi diri sendiri meski sekarang yang ada di hadapanku adit namun aku tetap memikirkan perkataan Hasan, melihat jus appel fikiranku langsung teringat dengan hasan, hasan suka sekali dengan jus appel terlebih dengan buah appel, ketika kami masih di sekolah dasar Hasan selalu membaw bekal dan isinya tak luput dari buah appel.
di fikiranku dia bagaikan Enstein yang tak hanya pintar, lugu tapi dia juga suka appel.
bedanya hasan dengan yang lain adalah ketika itu tanggal 14 Februari hari valentine, ketika perempuan perempuan di sekolah mendapat coklat aku mendapatkan sepotong appel ya hanya sepotong walaupun bagiannya besar dia masih tak rela membagi semuanya, katanya sepotong yg ia beri adalah bagian dari dirinya. hasan adalah orang yang susah di tebak ada saja tingkahnya yang membuatku tersenyum.
terbangun dari lamunanku Adit sedang pergi ke kamar mandi.

Handphone milik Adit, dering dan bergetar namun mataku menangkap sesuatu yang salah, di layar handphone itu panggilan dari seseorang bernama Putri dengan simbol bunga di belakang namanya menandakan seorang yang sepesial namun kenapa foto wanita itu mirip sekali dengan diriku. Aku kembali lagi memikirkan hal yang tidak tidak apakah itu telpon dari mantan pacar Adit. Ahhh.. berfikir apa aku ini.
Quote:

Aku terdiam tanpa membalas tanpa memberikan pembelaan, karena tidak mudah untuk melupakan kenangan 8 tahun kami begitu saja.

***


Sinar matahari menyilaukan mata burung burung membisikan bahwa hari sudah semakin siang dan saatnya pergi ke sekolah, seisi sekolah di gegerkan dengan kedatangan seorang perempuan berparas cantik namun mirip sekali denganku. Ya dia Putri wanita yang ada di hanphone Adit namun tempo lalu, untuk apa dia kesini apa dia inggin mengulang kisah cintanya bersama Adit

Quote:


Apa katanya meminjamkan, setelah dia menjanjikan dunia kepadaku dia merenggutnya kembali. Setelah di campakan oleh si putri putri itu dia tetap memilihnya dan meninggalkan ku,dasar pengkhianat. Semuanya tersa perih dan menambah luka,Hasan benar Adit bukan laki laki baik. Aku menyesal tak mendengarkannya.

Seminggu berlalu namun bau penghianatan itu masih kental terasa, Hasan sudah pergi tanpa pamit dia sudah tidak ada lagi di sekolah kami. Ya dia pindah, Hasan pindah sekolah. Sekarang aku sesali karena keputusanku tak memperjuangkan Hasan dan percaya janji janji manis Adit. Dulu aku masih bahagia dengan adit dan cintanya, tapi sekarang aku sadari yang aku butuhkan hanyalah hasan. Aku menyesali semuanya karena hanya hasan yang sempurna yang menyayangiku apa adanya dengan cara yang sederhana.

Sesekali dalam lamunan aku teringat suara tawamu meski berakhir dengan pudar . Namun aku mencoba tegar menghadapinya. Yang aku lakulan kini hanya membuka lembar Lembaran album tentang kita. Aku akan mengenang dan selalu menunggu kepulangan mu hasan aku yakin kamu pulang Hasan aku yakin kamu tak akan lupa tentang kita, aku kini menyadari kisah kita yang belum selesai ini berawal dari sepotong appel.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 20 lainnya memberi reputasi
menarik.. sepotong apel yang sangat berkesan
profile-picture
Irmarhhm25 memberi reputasi
Lihat 1 balasan


GDP Network
© 2020 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di